<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411</id><updated>2012-02-12T23:44:18.534-08:00</updated><title type='text'>KHUSUS MAHASISWI KEBIDANAN</title><subtitle type='html'>Ini khusus bagi mahasiswi kebidanan untuk mencari informasi kami menyediakan Makalah, Artikel dan Karya Tulis Ilmiah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>218</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4140692570137984978</id><published>2012-02-12T23:44:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T23:44:18.549-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN NEW : GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 0-12 BULAN</title><content type='html'>&lt;b&gt;Mau lebih lengkap HUB Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;&lt;p align="center"&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;/p&gt;&lt;p&gt;A. LATAR BELAKANGDerajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan tersebut, masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan atau penataan pembangunan bangsa (Hidayat, 2009; h.2)&lt;span class="fullpost"&gt;Angka Kematian Bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. WHO mencatat sebanyak 4,5 juta kematian dari 10,5 juta per tahun terjadi akibat penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi. Seperti pneumococcus (28 %), campak (21 %), tetanus (18%), rotavirus penyebab diare (16%), dan hepatitis B (16%). Dari data WHO ini diperkirakan setidaknya 50% angka kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi dan Indonesia termasuk sepuluh besar negara dengan jumlah terbesar anak tidak tervaksinasi ( WHO, 2010).Tingginya Angka Kematian Bayi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor penyakit infeksi dan kekurangan gizi. Beberapa penyakit yang saat ini masih menjadi penyebab kematian terbesar dari bayi, diantaranya penyakit diare, tetanus,gangguan perinatal, dan radang saluran napas bagian bawah (Hidayat, 2009; h.2)Penyebab kematian bayi yang lainnya adalah berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi, seperti tetanus, campak, dan difteri. Hal ini terjadi karena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberi imunisasi pada anak. Kematian pada bayi juga bisa disebabkan oleh adanya trauma persalinan dan kelainan bawaan yang kemungkinan besar dapat disebabkan oleh rendahnya status gizi ibu pada saat kehamilan serta kurangnya jangkauan pelayanan kesehatan dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (Hidayat, 2009; h.2)Pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dicapai secara optimal apabila orang tua melakukan berbagai upaya, memberikan nutrisi yang adekuat, memfasilitasi kegiatan bermain dan melakukan upaya pemeliharaan kesehatan. Salah satu upaya pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit adalah pemberian imunisasi. (Hidayat, 2009; h.54)Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit. Pemberian imunisasi penting diberikan pada tahun pertama usia anak karena pada awal kehidupan, anak belum mempunyai kekebalan sendiri, hanya Immunoglobin G yang didapatnya dari ibu dan setelah usia 2 sampai 3 tahun, anak akan membentuk Immunoglobin G sendiri. Beberapa hal penting terkait dengan pemberian imunisasi pada anak adalah status kesehatan anak saat akan diberikan imunisasi, pengalaman yang lalu terhadap imunisasi, pengertian orang tua tentang imunisasi, dan kontraindikasi pemberian imunisasi apabila ada. (Hidayat, 2009; h.54)Pemerintah setiap tahun terus berupaya untuk menurunkan angka kejadian penyakit seperti Poliomyelitis (kelumpuhan), Campak (measles), Difteri (indrak), Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari), Tetanus, Tuberculosis (TBC) dan Hepatitis B dengan menggalakan program pencegahan penyakit yaitu imunisasi pada bayi dan anak. (Hidayat, 2009; h.54)Dengan melakukan imunisasi terhadap seorang anak, tidak hanya memberikan perlindungan pada anak tersebut tetapi juga berdampak kepada anak lainnya karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan mengurangi penyebaran infeksi. Sangat penting bagi para profesional untuk melakukan imunisasi terhadap anak maupun orang dewasa. Dengan demikian akan memberikan kesadaran pada masyarakat terhadap nilai imunisasi dalam mencegah penyakit yang berat. (IDAI, 2008; h.1)Dalam catatan internasional, pada akhir tahun 1990-an, Indonesia memiliki reputasi pencapaian program imunisasi yang mengesankan, berkat sistem pelayanan yang efektif seperti posyandu, pencacatan pelaporan, dan sistem distribusi vaksin ke daerah-daerah. Pemerintah secara nasional melakukan kontrol terhadap pelaksanaan imunisasi. Namun sejak dimulainya desentralisasi tampak adanya gambaran penurunan di beberapa daerah, terutama bagi daerah atau wilayah sulit komunikasi dan transportasi di luar jawa. Daerah ini umumnya kesulitan dana operasional, seperti membawa vaksin dari kabupaten ke desa-desa, membiayai juru imunisasi desa dan penyimpanan vaksin. (Deni, 2008).Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan 1,7 juta anak Indonesia meninggal karena tidak mendapat imunisasi lengkap. Jumlah 1,7 juta itu merupakan seperlima dari balita di Indonesia. (Deni, 2008).Berdasarkan data Puskesmas Bulu Kabupaten Rembang dari jumlah bayi usia 0-12 bulan pada tahun 2009 angka bayi yang tidak mematuhi imunisasi dasar menurun menjadi sekitar 74 (19,8%) bayi dari 372 bayi. Sedangkan pada tahun 2010 angka bayi yang tidak mematuhi imunisasi dasar menjadi 70 (20,4%) bayi dari 342 bayi.Berdasarkan hasil pengamatan sementara (studi pendahuluan) pada tanggal 23 Desember 2010 dan 23 Januari 2011 di Desa Lambangan Wetan, Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang didapatkan data jumlah bayi usia 0-12 bulan sebanyak 32, yang mendapatkan imunisasi dasar sebanyak 12 bayi (37,5%), ada sekitar 20 (62,5%) bayi yang belum mendapat imunisasi dasar. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal yang diantaranya adalah ibu tidak tahu tentang imunisasi dasar baik manfaat imunisasi dan jadwal imunisasi dasar. Selain itu dampak dari tidak imunisasi dasar yaitu bayi akan mudah terkena penyakit.Dari latar belakang inilah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Ibu Tentang Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 0-12 bulan di Desa Lambangan Wetan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.”B. RUMUSAN MASALAHBerdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Ibu Tentang Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 0-12 bulan di Desa Lambangan Wetan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang?”C. TUJUAN PENELITIAN1. Tujuan UmumMengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Ibu Tentang Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 0-12 bulan di Desa Lambangan Wetan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.2. Tujuan Khususa. Mengetahui jumlah bayi usia 0-12 bulan yang mendapat imunisasi dasar.b. Mengetahui jumlah bayi usia 0-12 bulan yang tidak mendapat imunisasi dasar.c. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan.d. Mengetahui perilaku ibu tentang pemberian imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan.D. MANFAAT1. Bagi PemerintahSebagai masukan atau pertimbangan pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dalam membuat kebijakan dalam praktik pelayanan guna menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui tindakan preventif yaitu dengan lebih menggalakkan program imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-12 bulan.2. Bagi MasyarakatDapat menambah pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat umumnya, ibu dan keluarga khususnya tentang pentingnya imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan.3. Bagi Tenaga KesehatanSebagai masukan dan informasi yang berguna untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi dasar.4. Bagi Penulis a. Mengembangkan pengetahuan dan menambah wawasan penelitib. Menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya.E. KEASLIAN PENELITIANPenelitian yang pernah dilakukan sebelumnya adalah : 1. Kamidah (2003) dengan judul “Hubungan antara tingkat pengetahuan imunisasi dengan perilaku ibu terhadap imunisasi bayi di Puskesmas Gondokusuman II Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan non eksperimental dengan pendekatan cross sectional, dengan populasi semua ibu yang berkunjung di puskesmas Gondokusuman untuk imunisasi dengan sampel ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan. Analisa data yang digunakan dengan analisa data statistik nonparametrik teknik bivariat dengan uji Kendel Tau. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan imunisasi dengan perilaku ibu terhadap imunisasi bayi.2. Rina Fatmawati (2006) dengan judul “Determinan yang mempengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap balita usia 1-2 tahun di wilayah Puskesmas Tegalrejo”. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional analitik, dengan populasi semua ibu yang mempunyai balita 1-2 tahun dan sampel penelitian yaitu ibu yang mempunyai balita 1-2 tahun yang diambil dengan menggunakan sistem cluster sampling design. Analisa data yang digunakan adalah secara kuantitatif dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan imunisasi di puskesmas Tegalrejo tidak berhubungan dengan nilai sikap, karakteristik ibu dan karakteristik balita.Perbedaan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis mengacu pada tujuan yang dicapai yaitu mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan perilaku ibu tentang pemberian imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan di desa Lambangan Wetan kec. Bulu kab. Rembang. Perbedaan yang lain terletak pada variabel terikatnya yaitu dalam penelitian ini adalah imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan. Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan dengan sampel ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan. Analisa data adalah kuantitatif dengan teknik deskriptif. BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. TINJAUAN TEORI1. ImunisasiMasa bayi berlangsung selama 2 tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama 2 minggu. Masa bayi sering dianggap sebagai keadaan tidak berdaya dimana bayi setiap hari belajar untuk semakin mandiri, sehingga di akhir masa bayi dikenal sebagai anak kecil yang baru belajar berjalan. Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak – anak merupakan masa dasar. (Proverawati, 2010; h.11)Asuhan bayi usia  2 – 6 hari adalah 1) minum, 2) defekasi/BAB, 3) berkemih/BAK, 4) tidur, 5) kebersihan kulit, 6) keamanan, 7) tanda – tanda bahaya, 8) penyuluhan pada ibu dan keluarga sebelum bayi pulang tentang perawatan tali pusat, pemberian ASI, menjaga kehangatan bayi, imunisasi dasar bagi bayi, perawatan sehari – hari, pencegahan infeksi dan kecelakaan. (Vivian, 2010; h.27-31).a. Definisi konsep dasar imunisasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:1) Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit.(IDAI, 2008; h.10)2) Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin : BCG, DPT, dan Campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio). (Hidayat, 2009; h.54).3) Imunisasi adalah suatu program yang dengan sengaja memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi keluar sehingga tubuh dapat resisten terhadap penyakit tertentu. (Proverawati, 2010; h.8) Dengan banyaknya analisa dari para ahli, peneliti mengambil kesimpulan bahwa imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada anak atau seseorang terhadap penyakit tersebut.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4140692570137984978?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4140692570137984978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2012/02/kti-kebidanan-new-gambaran-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4140692570137984978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4140692570137984978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2012/02/kti-kebidanan-new-gambaran-tingkat.html' title='KTI KEBIDANAN NEW : GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 0-12 BULAN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2534008037105627700</id><published>2012-02-12T23:36:00.001-08:00</published><updated>2012-02-12T23:36:49.650-08:00</updated><title type='text'>KTI/ SKRIPSI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PROMOSI PEMBERIAN SUSU FORMULA OLEH BIDAN TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSLUSIF</title><content type='html'>&lt;b&gt;MAU LEBIH LENGKAP HUB : 081 225 300 100 Murah &lt;/b&gt;&lt;p&gt;BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangKebijakan program upaya kesehatan dalam rangka panjang salah satu  tujuanya adalah meningkatkan status kesehataan reproduksi bagi wanita usia subur termasuk anak, remaja, ibu hamil dan ibu menyusui dengan kegiatan pokok melaksanakan upaya kesehatan reproduksi disemua unit pelayanan (Dinas Kesehatan, 2006).&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak seorang wanita memasuki kehidupan berkeluarga didalam diri telah tertanam suatu keyakinan “saya harus menyusui bayi saya” karena menyusui adalah suatu realisasi tugas yang wajar dan mulia dari seorang ibu. Tetapi keyakinan tersebut telah luntur karena adanya kecendrungan masyarakat untuk meniru suatu yang dianggap modern yang berasal dari Negara maju dan kota besar di Indonesia (Soetjiningsih, 2007).Menyusui adalah sesuatu hal yang alami dan harus dilaksanakan oleh seorang ibu untuk menyusui bayinya. Tetapi pada kenyataanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif pada bayi terdapat perasaan negative yang mengoyahkan rasa percaya diri pada ibu. Terutama pada ibu yang baru pertama kali punya bayi. Dimana perasaan ibu sangat sensitif bila menyangkut buah hatinya. Sehingga ibu sangat rentan terhadap provokasi maupun persuasi terhadap berbagai komentar tentang ASI yang diperoleh dari keluarga maupun orang-orang terdekat disekitarnya (Soetjiningsih, 2007).Bagi bayi, ASI merupakan makanan terbaik yang mengandung semua gizi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. (Bari Saifudin, 2002). Dimana pada usia usia 6 bulan menjadi peningkatan jumlah sel otak pada bayi. Bila pada periode tersebut bayi kekurangan gizi, maka akan terjadi penurunan jumlah sel otak sebanyak 15-20% yang berpengaruh pada IQ (intellgency Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) anak. Karena dalam proses menyusui timbul kedekatan antara ibu dan bayi yang membuat anak merasa aman dan disayang, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak (DepKes RI, 2001).Menurut WHO masa pemberian ASI diberikan secara Ekslusif pada 6 bulan pertama, kemudian dianjurkan untuk tetap diberikan setelah 6 bulan bersamaan dengan makanan pendamping ASI sampai anak 12 tahun (DepKes RI, 2001). Pemberian ASI Ekslusif selain bermanfaat bagi bu, beberapa diantaranya adalah dapat mencegah perdarahan pasca persalinan, dan mencegah anemia. Sedangkan manfaat pemberian ASI ekslusif bagi bayi dapat membantu mempercepat penurunan angka kematian bayi sekaligus meningkatan status gizi balita (Suradi, 2004).Melihat banyaknya manfaat Air Susu Ibu secara Ekslusif maka tidak alasan bagi ibu untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya, namun kenyataan yang ada saat ini justru kebalikanya. Banyak ibu yang tidak manyusui bayinya terutama secara Ekslusif (Roesli, 2000).Menurut hasil penelitian Khairunniyah (2004), pemberian ASI ekslusif berpengaruh pada kualitas kesehatan bayi. Semakin sedikit jumlah bayi yang mendapat ASI ekslusif, maka kualitas kesehatan bayi dan anak balita akan semakin buruk.Setelah diteliti lebih mendalam ternyata faktor penyebab utama terjadinya kematian pada bayi baru baru lahir dan balita adalah penurunan angka pemberian inisiasi menyusui dini dan ASI ekslusif. Dari 22% menjadi 8 %ibu memberikan ASI pada bayinya segera setelah bayi lahir. Dijakarta durasi rata-rata pemberian ASI ekslusif hanya berlangsung selama 18 hari. (Wahana, 2007).Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2008) AKI di Jawa Tengah tahun 2007 tercatat 116,3/100000 kh, sedangkan AKB di Jawa tengah adalah 10,9/1000 kh. Cakupan ASI ekslusif pada tahun 2007 diJawa Tengah telah mencapai 29,9% dari target yang diharapkan yaitu 80%. Di kota Semarang pada tahun 2007 cakupan ASI ekslusif sebanyak 28,08%. Dan pada tahun 2009 cakupan ASI ekslusif justru turun menjadi 24,53% (DKK,2009).Jumlah bayi 0-6 bulan yang berada diwilayah kerja puskesmas Kedung Mundu Kecamatan Tembalang tahun 2009 adalah sebanyak 471 jumlah bayi. namun hanya 103 bayi (22%) yang diberikan ASI eksklusif oleh ibunya. Dapat terlihat dengan jelas dari data- data tersebut bahwa masih belum tercapainya target cakupan ASI sesuai dengan Kebijakan yang ditempuh dalam program peningkatan pemberian ASI di Indonesia yaitu menetapkan 80% dari ibu dapat memberikan ASI secara ekslusif. Berdasarkan study pendahuluan yang telah dilakukan penulis di wilayah kerja Puskesmas Kedung Mundu Kecamatan Tembalang dari 10 ibu menyusui bayi 0-6 bulan terdapat 70% ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif. Sikap positif ibu tentang ASI eksklusif 40% dan 60% sikap negatif. Sebagian besar ibu memiliki sikap negatif tentang ASI ekslusif  disebabkan oleh beberapa faktor yaitu jika bayi hanya diberikan ASI tidak akan cukup tanpa diberi makanan pendamping seperti susu formula, anggapan ASI tidak terlalu penting, serta masalah- masalah yang sering timbul dalam menyusui seperti putting susu datar atau terbenam, putting susu lecet dan bendungan ASI.Masih rendahnya angka keberhasilan pemberian ASI ekslusif dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu adanya perubahan sosial budaya seperti ibu bekerja, sehingga bayi diberikan MP-ASI sebelum usia 6 bulan, dan kepercayaan bahwa susu botol lebih bergensi dari pada ASI. Faktor lain yang mendukung adalah kurangnya dukungan dari tenaga kesehatan  yang menyediakan fesilitas pelayanan informasi tentang ASI ekslusif  dan pada saat bersalin rata-rata tenaga kesehatan memberikan susu formula terhadap bayi, serta kurangnya sarana manajemen laktasi, dukungan masyarakat seperti kader posyandu dan ibu PKK serta dukungan suami (Rahma, 2008).Salah satu hak bayi yang selama ini sering dilupakan oleh para ibu, yakni hak untuk memperoleh ASI. Yang sering mudahnya digeres oleh susu formula. Menurut survey menyebutkan hanya 14% bayi di Indonesia yang disusui secara Ekslusif oleh ibunya hanya sampai usia bayi 4 bulan, pemasaran yang agresif dari produsen susu pengganti ASI merupakan salah faktor penghambat pemberian ASI di Indonesia. Pemberian susu Formula kepada bayi yang semestinya mendapat ASI ekslusif menjadi gaya hidup saat ini . berdasarkan survey pada tahun 2000 bayi di Indonesia rata-rata memperoleh ASI Ekslusif hanya sampai usia 1,7 bulan dan kemudian langsung diberikan susu formula.Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 1997 sampai 2002 menunjukan bahwa pemberian ASI kepada bayi satu jam setelah lahir menurun dari 8% menjadi 3.7%. pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan menurun dari  42.2% menjadi 39.% sedangkan pemberian susu formula meningkat 3 kali lipat dari 10.8% menjadi 32.5%.Pemberian ASI Ekslusif perlu motivasi dan dukungan dari keluarga dan  tenaga kesehatan, tenaga kesehatan  juga berperan penting dalam memotivasi ibu untuk selalu memberikan ASI, selain itu  tenaga kesehatan juga berperan penting dalam memberikan informasi kepada ibu menyusui tentang pentingnya ASI bagi bayi. Berbagai persepsi yang salah terkait pemberian ASI, selama ini banyak berkembang dimasyarakat. Tak jarang, hal itu menjadi beban tersendiri bagi ibu menyusui, sehingga proses menyusui terganggu. Sebagian masyarakat kita masih beranggapan salah, mengira menyusui hanya merupakan urusan ibu dan bayinya, padahal, peran keluarga dan tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI Ekslusif sangat besar, terutama terhadap motivasi, persepsi, emosi dan sikap ibu menyusui. (Syafrudin, 2009).Promosi kesehatan dapat membangkitkan motivasi ibu menyusui untuk terus menyusui bayinya secara teratur sampai usia bayi 6 bulan, tenaga kesehatan merupakan peran penting untuk mendukung ibu dalam proses menyusui bayinya. Namun pada kenyataanya masih ada beberapa tenaga kesehatan yang masih memberikan susu formula pada saat bayi baru dilahirkan atau satu jam pertama saat bayi dilahirkan, dengan alasan air susu ibu tidak keluar. Sehingga aspek ini membawa pengaruh terhadap banyak ibu untuk tidak menyusui bayi mareka. (Syarifah Rosyita, 2000)Susu formula merupakan susu untuk bayi yang berasal dari susu sapi, yang berfungsi sebagai pengganti Air Susu Ibu selama 4-6 bulan pertama kehidupan. Susu formula yang disesuaikan dan disusun agar komposisi dan kadar nutrisinya dapat memenuhi kebutuhan bayi secara fisiologis serupa dengan komposisi ASI. namun meskipun Susu formula dibuat menyerupai ASI, tetap saja ASI merupakan contoh ideal gizi yang mengandung prebiotik. Berdasarkan hasil Penelitian Syarifah, (2008) mengatakankan tinja bayi yang ASI didominasi oleh Bifidobakteria karena ASI mengandung faktor bifidus, membuat bayi ASI jarang terkena Diare dibandingkan yang minum susu Formula. Sehingga peran ASI sangat penting bagi bayi. (Syarifah, 2008).Tingkat pengetahuan ibu juga menentukan keberasilan pemberian ASI secara Ekslusif. Ibu yang dapat memberian ASI secara Ekslusif kepada bayinya, tidak hanya memberikan begitu saja kepada bayinya. Melainkan ibu harus benar-benar memahami tentang ASI ekslusif dan manfaat ASI Ekslusif  untuk ibu dan bayinya. Sehingga ibu dapat memberikan ASI Ekslusif kepada bayinya sampai usia 6 bulan (Rahma, 2008).Dari uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan pemberian susu formula oleh Bidan terhadap perilaku pemberian ASI Ekslusif.B. Perumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan dan rumusan masalah “ Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan ibu dan Pemberian susu formula oleh bidan terhadap prilaku pemberian ASI Ekslusif di Kelurahan  Kedung Mundu dan Sambiroto Kecamatan Tembalang Semarang?C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumPeneliti ingin mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu dan promosi susu formula oleh bidan terhadap perilaku pemberian ASI Ekslusif  di xxxx dan xxxx Kecamatan xxxxxx xxxxxxxx.2. Tujuan Khususa. Mendeskripsikan karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan, dan pekerjaan di xxxx dan xxxx Kecamatan xxxxxx xxxxxxxx.b. Menjelaskan  hubungan tingkat pengetahuan ibu perilaku pemberian ASI Ekslusif di Kelurahan xxxx dan xxxx Kecamatan xxxxxx xxxxxxxxc. Menjelaskan Hubungan Promosi Pemberian susu formula oleh bidan terhadap perilaku pemberian ASI Ekslusif di Kelurahan Kedung Mundu dan Sambiroto Kecamatan Tembalang SemarangD. Manfaat Penelitian1. Bagi Dinas Kesehatan kota xxxxHasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam kebijakan program kesehatan ibu dan anak.2. Bagi PenelitiHasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperluas wawasan dan pengalamannya belajar dalam melakukan penelitian serta dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan.3. Bagi Institusi PendidikanHasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur tingkat pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah yang diajarkan diakademi dan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan memberikan informasi bagi dunia pendidikan tentang hubungan pemberian susu formula terhadap prilaku pemberian ASI Ekslusif.E. Keaslian Penelitian1. Hubungan Antara Sikap Ibu Tentang ASI Eksklusif Terhadap Perilaku Pemberian ASI eksklusif Di RB Kartini Panjang Kecamatan Panjang Utara Kota Bandar Lampung Tahun 2010. (Kiki Purnama, 2010).Desain penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatn cross sectional. Kesimpulannya X2 hitung &gt; dari X2 maka tabel Ha diterima dan Ho ditolak, jadi ada Hubungan Antara Sikap Ibu Tentang ASI Eksklusif Terhadap Perilaku Pemberian ASI eksklusif Di RB Kartini Panjang Kecamatan Panjang Utara Kota Bandar Lampung Tahun 2010 ( Kiki Purnama, 2010).2. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu dan Dukungan Suami Terhadap Perilaku Pemberian ASI Ekslusif  Di BPS Ny. Erlinda Surya Anis Semarang (Andini Indri, 2009).Jenis penelitian study deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Kesimpulannya : Dengan  menggunakan uji chisquare, bila mengandung expected value &lt; 5 atau tidak &gt; 20%, dan bila &lt; 5 tetapi &gt; 20% menggunakan uji fisher Jadi ada hubungan antara pengetahuan ibu dan dukungan susmi terhadap prilaku pemberian ASI Ekslusif.BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Tinjauan Teoritis1. Pengetahuana. PengertianPengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman , rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan dan telinga. Pengetahuan dapat diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Sifat khas dari pengetahuan adalah memperoleh sesuatu yang baru, yang dulu belum ada sekarang diperoleh, yang dulu belum diketahui sekarang diketahui, yang dulu belum dimengerti dan sekarang dapat dimengerti ( Notoatmodjo, 2003).b. Tingkat PengetahuanPengetahuan   yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoadmojdo, 2003), yaitu:1) Tahu  (Know)Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termaksuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “ Tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antar lain : menyebutkan, menguraikan , mengidentifikasikan, menyatakan dan sebagainya.2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan meteri tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainyaterhadap objek yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan-makanan yang bergizi.3) Aplikasi (application)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi yang rill (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan aplikasi atau penggunaanhukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunkan rumus statistic dalam penghitungan-penghitungan hasil penelitian. Dapat menggunkan prinsip-prinsip siklus pemecahan maslah (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus-kasus yang diberikan.4) Analisis (analysis)Merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sma lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihar dari penggunaan kata kerja : dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan , memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.5) Sistensis (synthesis)Sistensis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya adapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya.6) Evaluasi (evaluation)Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunkan criteria-kriteria yang telah ada. c. Cara meperoleh pengetahuanUntuk memperoleh pengetahuan ada berbagai macam cara yang telah digunakan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu:1) Cara tradisional atau non ilmiahCara ini dipakai untuk memproleh kebenaran pengetahuan sebelum menemukan metode secara sistematik dan logis. Metode ini meliputi :    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2534008037105627700?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2534008037105627700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2012/02/kti-skripsi-kebidanan-2012-hubungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2534008037105627700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2534008037105627700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2012/02/kti-skripsi-kebidanan-2012-hubungan.html' title='KTI/ SKRIPSI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PROMOSI PEMBERIAN SUSU FORMULA OLEH BIDAN TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSLUSIF'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5801339355490086592</id><published>2011-12-28T06:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T06:25:06.678-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI DESA</title><content type='html'>&lt;b&gt;UNTUK LEBIH LENGKApP BAB I-V MURAH : HUB HP : 081 225 300 100&lt;/b&gt;&lt;p&gt;BAB IPENDAHULUAN&lt;/p&gt;A. Latar belakangKehamilan, persalinan dan melahirkan merupakan suatu proses yang akan dilalui oleh setiap wanita. Dalam kehamilan seorang wanita akan mengalami perubahan-perubahan, salah satunya adalah perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis tersebut terjadi pada awal kehamilan sampai berakhirnya trimester ke tiga. Perubahan fisiologis tersebut akan mempengaruhi kondisi psikologis ibu. Sebagian ibu akan menyambut kehamilannya dengan perasaan bahagia, di sisi lain ibu juga merasakan kecemasan dan ketakutan akan perubahan fisik dan kondisi janinnya, terutama pada saat akan memasuki proses persalinan. &lt;span class="fullpost"&gt;Proses persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu (Prawirohardjo, 2005; h. 180). Perasaan bahagia akan dirasakan oleh ibu saat melihat bayinya lahir dengan keadaan normal dan sehat.Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Sebelum wanita hamil memasuki proses persalinan atau saat memasuki kehamilan trimester tiga, hendaknya sudah memikirkan tentang pemilihan tenaga penolong persalinan. Seorang wanita hamil dalam memilih tenaga penolong persalinan akan mempertimbangkan beberapa aspek, salah satunya dipengaruhi oleh kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat. Menurut beberapa penelitian menunjukkan masih tingginya persalinan dengan bantuan dukun disebabkan rendahnya  pendidikan dan pengetahuan ibu maupun keluarga, rendahnya pendapatan, jarak yang sulit terjangkau, sulitnya birokrasi dan administrasi serta mahalnya  biaya persalinan. Maka dari itu, sejak awal kehamilan perlu dipertimbangkan pemilihan tenaga penolong persalinan. Setiap wanita berhak untuk menentukan kapan ia akan melahirkan, berapa jumlah anak dan jarak anak yang dilahirkan. Maka dari itu perlu diperhatikan tentang kesehatan reproduksi. Kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya sangatlah penting, sehingga dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko. WHO memperkirakan kesehatan reproduksi yang buruk berjumlah 33% dari jumlah total beban penyakit pada wanita dibanding dengan pria pada usia yang sama yang hanya 12,3%. Setiap tahunnya sekitar 4.500.000 wanita melahirkan di Indonesia dan sekitar 15.000 mengalami komplikasi yang menyebabkan kematian. Menurut data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), pada tahun 2003 AKI sebanyak 307/100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007 AKI menjadi 228/100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2008 sekitar 4.692 ibu meninggal pada masa kehamilan, persalinan dan nifas. Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa AKI mengalami penurunan.Dewasa ini Indonesia telah ikut menyepakati sasaran-sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Salah satu sasaran MDGs adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi  102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Salah satu yang menjadi penyebab kematian ibu adalah terjadinya perdarahan karena pertolongan yang salah.  Untuk itu analisis terhadap penolong persalinan penting karena salah satu indikator dalam program safe motherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya oleh tenaga kesehatan. Semakin tinggi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan semakin rendah risiko terjadinya kematian. Fakta di lapangan juga menunjukkan masih  banyak persalinan khususnya di pedesaan masih ditangani oleh penolong persalinan tidak terdidik, seperti dukun bayi.  Berdasarkan Profil Kesehatan RI  2000 cakupan pertolongan persalinan oleh  tenaga kesehatan  hanya 4 propinsi yang telah mencapai  sasaran  ≥ 75%, yaitu  Propinsi Bali (94,9%), D.I. Yogyakarta (84,9%), Jawa Timur (80,1%), dan Sulawesi Tenggara (75,1%). Pada tahun 2003 Propinsi Jawa Tengah, cakupan  pertolongan persalinan oleh  tenaga kesehatan yaitu  sebesar 64,6 %, sedangkan pada tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 73,06%, namun hal ini masih jauh dari target  cakupan  pertolongan persalinan oleh  tenaga kesehatan yaitu sebesar 80%. Target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan untuk Kabupaten Semarang adalah 90%, sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Renstra Depkes 2005-2009 dan Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu sebesar 90%. Dari data yang telah dilaporkan, pada tahun  2005 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Semarang sebesar 81,36%, dan ditolong oleh dukun terlatih sebesar 18,64%, sedangkan pada tahun 2007 cakupan petolongan persalinan untuk Kabupaten Semarang sebesar 87,64% (Henry Sofyan. Suaramerdeka.com//Senin; 28 Februari 2011).Penyebab kematian ibu diantaranya adalah perdarahan 45%, infeksi 15%, dan eklamsia 13%. Penyebab lain komplikasi aborsi 11%, partus lama 9%, anemia 15%, Kurang Energi Kronis (KEK) 30% . Komplikasi kehamilan dan persalinan sebagai penyebab kematian ibu dialami sekitar 15-20% dari seluruh kehamilan, hal tersebut dikarenakan kurangnya deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan dan komplikasi dalam persalinan yang tidak ditangani dengan tepat (Depkes RI, 2003). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Borangan Kelurahan Pringapus Kecamatan Candirejo pada tahun 2010 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih relatif rendah dibandingkan dengan target cakupan persalinan di Kabupaten Semarang yaitu sebesar 74,50% dan sebanyak 25,50% ditolong oleh tenaga non kesehatan (dukun bayi). Persalinan yang dilakukan dengan cara tidak aman yaitu oleh tenaga non kesehatan dapat menyebabkan komplikasi selama persalinan. Dari data persalinan yang mengalami masalah selama tahun 2010 ditemukan beberapa kasus, diantaranya : 2 kasus perdarahan, 1 kasus kematian bayi dalam kandungan dan 4 kasus partus lama. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui tentang HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI DESA Borangan.B. Rumusan masalahBerdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di Desa Borangan?”.C. Tujuan penelitian1. Tujuan umumUntuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di Desa Borangan.2. Tujuan khususa Untuk mengetahui distribusi frekuensi tingkat pengetahuan respondenb Untuk mengetahui distribusi frekuensi pemilihan tenaga penolong persalinanc Untuk menganalisis tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan.D. Manfaat Penelitian1. Bagi PenelitiMemberikan pengalaman dan pengetahuan baru tentang penelitian ini serta dapat mengaplikasikan ilmu yang di peroleh selama perkuliahan.2. Bagi Tenaga KesehatanHasil penelitian ini dapat memberikan masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dalam pemilihan tenaga penolong persalinan yang aman.3. Bagi Institusi PendidikanHasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan kajian pustaka bagi kemajuan ilmu pengetahuan.4.  Bagi MasyarakatUntuk memberikan informasi kepada responden tentang persalinan dan pemilihan tenaga penolong persalinan.E. Keaslian penelitian Penulis mencatat terdapat penelitian serupa terkait dengan penelitian yang sedang penulis lakukan, yaitu :1. Endang Rahmawati, (2009) dengan judul “Hubungan tingkat sosial ekonomi dengan persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan di Desa Sekuro kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara”. Metode yang di gunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross secsional, variabel indepandent adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan variabel dependent adalah sosial ekonomi data di ambil dengan metode kuesioner. Hasilnya tidak ada hubungan yang signifikan  antara sosial ekonomi responden dengan persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan. Sehingga perbedaan antara penelitian Endang Rahmawati dengan penelitian ini adalah pada subjek penelitian, lokasi, waktu dan metode penelitian. Sedangkan persamaan penelitian Endang Rahmawati dengan penelitian ini adalah pada desain penelitian, yaitu menggunakan cross sectional.2. Anik Dwi Jayanti, (2010) dengan judul “Gambaran karakteristik ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan di Desa Sitirejo Kecamatan Tunjungan Blora”. Dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, variabel dalam penelitian adalah karakteristik ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan dengan sub variabel pada penelitian meliputi : usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dan tingkat pengetahuan.Sehingga perbedaan antara penelitian Anik Dwi Jayanti dengan penelitian ini adalah pada subjek penelitian, lokasi, waktu dan metode. Sedangkan persamaan penelitian Anik Dwi Jayanti dengan penelitian ini adalah pada desain penelitian, yaitu menggunakan cross sectional.BAB IITINJAUAN PUSTAKAA Konsep Dasar Persalinan1. Pengertian persalinanPersalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Prawirohardjo, 2005; h. 180).Persalinan dan kelahiran adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Syaifuddin, 2006; h. 100).Persalinan normal adalah proses lahirnya janin dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayinya yang pada umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Ujiningtyas, 2009; h. 1). Menurut Mutayan, (2009; h. 62) Intranatal adalah suatu proses terjadinya pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5801339355490086592?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5801339355490086592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/12/kti-kebidanan-2012-hubungan-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5801339355490086592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5801339355490086592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/12/kti-kebidanan-2012-hubungan-tingkat.html' title='KTI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI DESA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5337959338917514219</id><published>2011-12-28T06:19:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T06:21:02.721-08:00</updated><title type='text'>KTI-SKRIPSI KEBIDANAN : HUBUNGAN ANTARA KEAKTIFAN KADER DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN  BALITA KE POSYANDU BALAI DESA</title><content type='html'>&lt;b&gt;BUTUH KTI LENGKAP Hub : 081 225 300 100&lt;/b&gt;&lt;p&gt;BAB IPENDAHULUAN&lt;/p&gt;A. LATAR BELAKANGDi Indonesia, pada tahun 2007 terdapat sekitar 240.000 posyandu. Dengan jumlah kader sekitar ± 1.200.000 kader dan kunjungan balita ke posyandu pada tahun 2007 meningkat dari 43% menjadi 75%. Di Jawa tengah, pada tahun 2006 tercatat 46.388 posyandu dengan jumlah kader pada tahun 2010 yaitu 275.555 kader terdiri kader aktif 82%, sedangkan kader pasif 18,1% dan kunjungan balita ke posyandu tahun 2008 yaitu dari 38,98% menjadi 44,76%. &lt;span class="fullpost"&gt;Sedangkan di Demak, pada tahun 2010 terdapat 1212 posyandu dan 6060 jumlah kader (kader aktif 80% dan kader pasif 20% ) dengan kunjungan balita ke posyandu pada tahun 2009 yaitu dari 32,27% menjadi  59,63%.  (1,2,3,4,5,6) Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Karena kesehatan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, namun merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta. (7)Masyarakat yang mandiri dan berkeadilan merupakan visi rencana strategis Departemen Kesehatan tahun 2010 – 2014 dalam program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu periode kedua. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi pembangunan kesehatan antara lain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas, merupakan modal utama dalam pembangunan kesehatan. (1) Keberhasilan pembangunan kesehatan Indonesia tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. Salah satu peran aktif masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat yang diwujudkan melalui berbagai upaya yang dimana dimulai dari diri sendiri, keluarga sampai dengan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat (UKBM). Upaya kesehatan yang bersumber masyarakat inilah yang telah dikembangkan. Salah satunya adalah posyandu. (7)Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. (8)Keberhasilan kegiatan posyandu sangat bergantung pada partisipasi secara aktif dari kader yang bertugas di posyandu dengan sukarela mengelola posyandu di wilayahnya masing – masing. Kurangnya pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan keterampilan yang memadai bagi kader menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap tugas kader, lemahnya informasi serta kurangnya koordinasi antara petugas puskesmas dengan kader dalam pelaksananan kegiatan posyandu sebagai penyelenggara pelayanan professional untuk membimbing kader agar mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara optimal. (7)Permasalahan yang sering muncul adalah kegiatan posyandu sebagai kegiatan yang rutinitas penimbang balita, pemberian imunisasi sementara, kunjungan kerumah hampir tidak ada, komunikasi hanya terbatas antara kader dengan ketua tim penggerak PKK atau antara para ibu dengan petugas kesehatandan ketidak aktifan kader dalam kegiatan posyandu. (9)Sesuai dengan fakta yang ada di Demak pada tahun 2009 yang dimana lebih banyak posyandu pratama 36,00% dari pada posyandu mandiri 3,02%. Belum tercapainya posyandu mandiri disebabkan karena beberapa faktor  diantaranya sumber daya masyarakat yang masih sangat rendah, banyak kader posyandu yang masih drop out, sarana dan prasarana yang belum memadai, belum adanya penghargaan bagi kader yang berprestasi dan belum optimalnya kegiatan UKBM di tingkat desa termasuk krisis ekonomi yang berkepanjangan yang tak kunjung usai. (6)Dampak dari kurang aktifnya kader adalah jumlah kunjungan balita yang sangat rendah, karena masyarakat memandang posyandu sebagai suatu rutinitas biasa yang kalau dijalankan tergantung waktu luang karena tidak memberikan sebuah pengaruh yang signifikan jumlah kader yang bertugas di posyandu ada 5 orang tetapi dengan 1 orang setiap meja. (9)Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi kesehatan ibu dan anak, yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi kerja dan kinerja posyandu. Pelaksanaannya diselenggarakan dengan dukungan Lembaga Kesehatan Masyarakat Desa, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta sektor swasta . (7)Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan setiap keluarga dalam memaksimalkan potensi pengembangan kualitas sumber daya manusia diperlukan dalam upaya revitalisasi posyandu sebagai unit pelayanan kesehatan dasar masyarakat yang langsung dapat dimanfaatkan untuk melayani pemenuhan kebutuhan dasar, pengembangan kualitas manusia sekaligus sebagai satu komponen perwujudan kesejahteraan keluarga. (7)Kunjungan balita ke posyandu adalah datangnya balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti penimbangan, imunisasi, penyuluhan gizi. Kunjungan balita yang paling baik adalah secara teratur setiap bulan. Dalam hal ini kunjungan balita sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur balita, jumlah anak dalam keluarga, status pekerjaan ibu. (7) Sehingga dapat diidentifikasikan bahwa balita yang berumur 12- 35 bulan sangat berpengaruh terhadap kunjungan, kesenjangannya walaupun balita berumur 12 – 35 bulan ada juga yang tidak datang ke posyandu. Semakin besar jumlah anak dalam keluarga semakin sulit ibu mengatur waktu untuk hadir ke posyandu, kesenjangannya walaupun anaknya banyak tetapi ibu tetap akan hadir ke posyandu. Pada ibu yang bekerja maka waktu untuk berpartisipasi ke posyandu kurang, kesenjangannya walaupun ibu masih bekerja tetapi ibu tetap akan meluangkan waktunya untuk ke posyandu. Semakin rendah penghasilan seseorang maka akan menjadi penghambat batas seseorang untuk mengubah perilakunya.  (7,10,11)Kader posyandu bekerja di tempat pelayanan kesehatan yang dimana memiliki kegiatan baik di dalam maupun di luar posyandu. Kegiatan di dalam posyandu yaitu mempersiapkan alat dan bahan, mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu – ibu untuk datang ke posyandu; menghubungi pokja (kelompok kerja) posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa; serta melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas diantara kader posyandu baik untuk persiapan maupun untuk pelaksanaan kegiatan. Sedangkan kegiatan kader diluar posyandu yaitu melaksanakan kunjungan rumah, menggerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan posyandu dan membantu petugas kesehatan dalam penyuluhan dan berbagai usaha kesehatan masyarakat. (12,13)Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak pada bulan April tahun 2011 terdapat 4 Posyandu, dengan jumlah kader 20 orang (10 kader yang aktif dan 10 kader yang tidak aktif) sedangkan jumlah balita 237 balita. Dari 4 posyandu tersebut terdapat satu posyandu yaitu posyandu Balai Desa hanya 1 kader yang aktif dari 5 kader yang ada. Pada tahun 2009 bulan Mei – Desember, semua kader aktif dalam kegiatan posyandu dengan jumlah balita yang terdapat di posyandu Balai desa 54 balita dan kunjungan balita 81%. Pada tahun 2010 bulan Januari – Agustus, kader yang aktif 3 orang dengan jumlah balita 50 balita dan kunjungan balita 76%. Dan pada tahun 2010 bulan September – tahun 2011 bulan April, kader yang aktif 1 orang dengan jumlah balita 57 balita dan kujungan balita 71%. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak”. B. PERUMUSAN MASALAH Dari 4 posyandu  yang ada di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung kabupaten Demak terdapat satu posyandu yaitu posyandu Balai Desa hanya 1 kader yang aktif dari 5 kader yang ada. Pada tahun 2009 bulan Mei – Desember, semua kader aktif dalam kegiatan posyandu dengan jumlah balita yang terdapat di posyandu Balai desa 54 balita dan balita yang aktif 80%. Pada tahun 2010 bulan Januari – Agustus, kader yang aktif 3 orang dengan jumlah balita 50 balita dan balita yang aktif 76%. Dan pada tahun 2010 bulan September – tahun 2011 bulan April, kader yang aktif 1 orang dengan jumlah balita 46 balita dan balita yang aktif 71%.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti merumuskan masalah “ Adakah hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak?”C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.2. Tujuan Khususa. Mengetahui keaktifan kader posyandu di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.b. Mengetahui frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.c. Mengetahui hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.D. MANFAAT PENELITIAN1. Bagi KaderMeningkatkan wawasan kader tentang posyandu sehingga diharapkan dapat meningkatkan motivasi kader untuk aktif dalam kegiatan posyandu.2. Bagi PuskesmasHasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menemukan masalah yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu sehingga pelaksanaan posyandu dapat dilaksanakan secara optimal.3. Bagi MasyarakatHasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan kunjungan balita ke posyandu serta menambah wawasan tentang pemanfaatan posyandu dan memotivasi masyarakat untuk dapat memanfaatkan posyandu.4. Bagi Penelitia. Penelitian ini dapat menerapkan ilmu dan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan.b. Memperoleh tambahan wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman belajar yang nyata dalam melakukan penelitian dibidang kebidanan khususnya tentang hubungan antara keaktifan kader dengan kunjungan balita ke posyandu.5. Bagi Institusi Pendidikana. Memperkaya teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan khususnya yang terkait dengan posyandu.b. Sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu.E. KEASLIAN PENELITIANSepanjang pengetahuan penulis, penelitian lain yang terkait dengan Keaktifan kader dan Kunjungan balita sebagai berikut :Tabel 1.1 keaslian Penelitian1. Betrix Evi Trianes Judul : Studi deskriptif tentang faktor – faktor yang mempengaruhi terhadap kunjungan balita ke posyandu di Dusun Rejosari Desa Cukil. Metode studi kuantitatif bersifat deskriptif, dengan metode purposive sampling dengan menggunakan Kuesioner. Jumlah responden 51 orang. Hasil penelitian ini yang mempengaruhi kunjungan balita adalah tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan, sikap, keterjangkauan jarak posyandu.2. Wahyu Eka P  Judul : Hubungan antara ibu balita dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu di kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunung pati Semarang. Metode studi korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Dengan total sampling dan menggunakuan kuesioner. Jumlah responden 67 orang. Hasil penelitian ini mencakup peran kader meja 1, 2, 3, 4 dan 5.3. Rosita Candra DewiJudul : Study kualitatif ketidakaktifan kader posyandu balita di Desa Jlamprang Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo. Metode studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan kuesioner. Jumlah responden 5 orang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan yang tidak aktif dan pernah aktif menjadi kader lebih dari 1 tahun di Posyandu di Desa Jlamprang Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo. Hasil penelitian ini  yang mempengaruhi ketidakaktifan kader meliputi pengetahuan, kurangnya motivasi, cara pemilihan, kurangnya peran serta masyarakat, faktor umur, pekerjaan, kesibukan dan kejenuhan menjadi kader.4. Afni Sundari (2011)Judul : Hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak tahun 2011. Metode studi Study Korelasi dengan pendekatan cross sectional, dengan menggunakan kuesioner. Jumlah responden 36 balita.  Hasil penelitian ini mencakup keaktifan kader dalam kegiatan posyandu baik di dalam maupun diluar yang dimana keaktifan kader mempengaruhi kunjungan balita ke posyandu.Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terletak pada metode, waktu, tempat , subyek penelitian, dan jumlah responden.BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. KONSEP DASAR1. Kader Posyandu a. Pengertian Kader PosyanduKader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditunjuk oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela. Kader posyandu adalah seorang tenaga sukarela yang dipilih dari, oleh dan untuk masyarakat yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin di posyandu. Seorang kader posyandu harus mau bekerja secara sukarela, ikhlas dan sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan dan mengikuti kegiatan posyandu. (13,14)b. Kriteria kader posyandu    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5337959338917514219?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5337959338917514219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/12/kti-skripsi-kebidanan-hubungan-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5337959338917514219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5337959338917514219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/12/kti-skripsi-kebidanan-hubungan-antara.html' title='KTI-SKRIPSI KEBIDANAN : HUBUNGAN ANTARA KEAKTIFAN KADER DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN  BALITA KE POSYANDU BALAI DESA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5715225834247497106</id><published>2011-11-03T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T00:16:35.275-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : TINGKAT KESIAPAN IBU PRIMIGRAVIDA DALAM INISIASI MENYUSU DINI DI BPS ...</title><content type='html'>&lt;b&gt;MURAH DAN LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang Peran Millenium Devolepment Goals (MDGs) dalam pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yaitu Inisiasi Menyusu Dini dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan lama menyusu, maka akan membantu mengurangi kemiskinan, membantu mengurangi kelaparan karena ASI dapat memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai usia dua tahun, membantu mengurangi angka kematian anak balita. &lt;span class="fullpost"&gt;Pemberian ASI dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh paling kuat terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak  . Kemajuan suatu bangsa dimulai dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, Untuk menciptakannya harus dimulai sejak dini atau bayi. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah pemberian ASI pada satu jam pertama kelahiran atau sering disebut dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)  .  Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human Development Report 2010, AKB di Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran.  Angka itu 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia, dan juga 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand. Menurut Human Development Report 2010, sejumlah 31 bayi meninggal dalam setiap 1.000 kelahiran hidup. Data ini menjadikan Indonesia dengan AKB tertinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN  . Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2009 menyatakan bahwa jumlah bayi berumur 0-6 bulan sebanyak 12,731 bayi. Didapatkan bayi yang diberikan ASI eksklusif sebanyak 1,737 (24,62%), sedangkan bayi tidak diberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan sebanyak 8,263 (75,38%).  Pernyataan tersebut didukung oleh Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007, dengan data yaitu hanya 10% bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan sebanyak 73%, dan yang diberikan ASI 2 sampai 3 bulan sebanyak 53%, serta yang diberikan ASI 4 sampai 5 bulan sebanyak 20% dan Menyusu eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 49%” . Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses satu jam pertama pasca bayi lahir, melatih bayi untuk secara naluriah menemukan sendiri putting susu ibunya. Tindakan IMD membantu bayi memperoleh air susu ibu (ASI) pertamanya dan dapat meningkatkan produksi ASI serta membangun ikatan kasih antara ibu dan bayi. IMD juga terbukti dapat mencegah 22 % resiko kematian pada bayi baru lahir   . IMD sangat penting, karena dengan sentuhan dan isapan bayi pada puting susu ibu, dapat merangsang keluarnya hormon oksitosin yang menyebabkan kontraksi rahim sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan. Selain itu sentuhan antara kulit bayi dan ibu menimbulkan kedekatan serta perasaan hangat bagi keduanya. Ibu melahirkan yang melakukan IMD lebih jarang menemui kesukaran dalam menyusu. Perasaan sang ibu juga lebih tenang, rileks, dan lebih mencintai bayinya  . Jika IMD tidak dilakukan dapat meningkatkan kejadian AKB, menunda Inisiasi Menyusu Dini akan meningkatkan kematian bayi. Seperti mamalia lain, yang akan mati saat tidak langsung Menyusu pada induknya setelah lahir. Faktanya, bayi sudah siap Menyusu 30-40 menit setelah lahir”  . Kehamilan pada seorang wanita merupakan suatu proses yang alamiah. Agar proses kehamilan dapat berjalan lancar dan tidak berkembang pada keadaan yang patologis, serta diperoleh ibu dan bayi yang sehat optimal, untuk itu diperlukan upaya sejak pencegahan sejak dini yaitu semenjak ibu hamil. Persiapan tidak datang begitu saja, tetapi memerlukan beberapa persiapan, antara lain persiapan fisik dan mental yang cukup agar kelahiran bayi dapat berjalan lancar, menghasilkan ibu dan bayi yang sehat optimal  . Pada saat hamil, ibu harus menjaga kondisi janin. Salah satu caranya adalah dengan mengkonsumsi makanan sehat yang kandungan gizinya tinggi, karena selain untuk ibu, nutrisi tersebut juga untuk bayi seperti halnya ketika anak dalam kandungan, hal tersebut juga diperlukan ketika anak pertama kali menghirup udara di dunia. Kebutuhan nutrisi bagi bayi sampai usia 6 bulan dapat dipenuhi hanya dengan memberikan ASI saja atau yang dikenal dengan “ASI eksklusif”. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan lain pada bayi 0-6 bulan. Ibu harus mempersiapkan sedini mungkin sejak awal kehamilan mengenai aspek-aspek menyusu  .  Persiapan menyusui selama kehamilan penting dilakukan. Ibu yang menyiapkan sejak dini akan lebih siap menyusui bayinya terutama adalah persiapan psikologis ibu karena keberhasilan menyusui didukung oleh persiapan psikologis, yang dilakukan sejak masa kehamilan. Persiapan ini sangat berarti karena keputusan atau sikap ibu yang positif terhadap pemberian ASI harus sudah terjadi pada saat kehamilan, atau bahkan jauh sebelumnya. Sikap ibu terhadap pemberian ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain adat, kebiasaan, kepercayaan tentang menyusui didaerah masing-masing. Pengalaman menyusui pada kelahiran anak sebelumnya, kebiasaan menyusui dalam keluarga atau dikalangan kerabat, pengetahuan ibu dan keluarganya tentang manfaat ASI, juga sikap ibu terhadap kehamilannya (diinginkan atau tidak) berpengaruh terhadap keputusan ibu. Dukungan dokter, bidan, atau petugas kesehatan lainnya, teman, kerabat dekat sangat dibutuhkan, terutama untuk ibu yang baru pertama kali hamil    . Kehamilan anak pertama, merupakan tahap dimana terjadi disequilibrium atau ketidakseimbangan dalam kepribadian seorang wanita. Pasalnya pada masa tersebut, seorang perempuan mulai dihadapkan pada tugas dan peran baru sebagai seorang ibu. Kehamilan pertama kali bagi seorang calon ibu merupakan satu perjalanan baru yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan psikis sehingga timbul berbagai masalah psikologis. Peristiwa yang belum pernah dialami sebelumnya akan menimbulkan rasa cemas, takut, gelisah, tegang bercampur was-was   Beberapa pendapat yang menghambat ibu post partum memberikan kolostrum dengan segera, diantaranya takut bayi kedinginan, setelah melahirkan ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya, kolostrum tidak keluar atau jumlah kolostrum tidak memadai, serta kolostrum tidak baik bahkan berbahaya bagi bayi. Hal di atas tidak akan terjadi bila seorang ibu post partum mempunyai pengetahuan yang bagus serta mendapat support dari keluarga   . Rendahnya pelaksanaan IMD, maka peneliti melakukan survey pendahuluan untuk mengetahui  tingkat kesiapan ibu primigravida dalam IMD. Survey pendahuluan di lakukan pada bulan Februari 2011 di BPS Endang Murniati, Jl.Bulu Stalan III B No.339 Semarang. Peneliti mengambil data di BPS tersebut, karena rata-rata pasien ibu primigravida Trimester III tiap bulannya adalah  35 orang. Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti, didapatkan hasil wawancara dari 10 ibu primigravida Trimester III, bahwa 5 diantaranya menyatakan siap dengan IMD, namun 5 lainnya menyatakan belum siap bila harus menunggu bayinya mmenyusu secara mandiri (selama kurang lebih 1 jam) disaat ibu masih dalam proses melahirkan plasenta.      B. Rumusan Masalah Berdasarkan survei pendahuluan dengan metode wawancara yang dilakukan peneliti, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Bagaimana tingkat kesiapan ibu primigravida dalam Inisiasi Menyusu Dini?”C. Tujuan1. Tujuan UmumUntuk mengetahui tingkat kesiapan ibu primigravida dalam Inisiasi Menyusu Dini (IMD)  2. Tujuan Khususa. Untuk mengetahui karakteristik ibu primigravida tentang tingkat kesiapan dalam IMD meliputi pendidikan, dan umur.b. Untuk mengetahui  tingkat kesiapan ibu primigravida dalam IMDD. Manfaat1. Manfaat Bagi Tenaga KesehatanDapat mengidentifikasi seberapa besar tingkat kesiapan ibu primigravida dalam Inisiasi Menyusu Dini    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5715225834247497106?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5715225834247497106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/11/kti-kebidanan-tingkat-kesiapan-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5715225834247497106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5715225834247497106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/11/kti-kebidanan-tingkat-kesiapan-ibu.html' title='KTI KEBIDANAN : TINGKAT KESIAPAN IBU PRIMIGRAVIDA DALAM INISIASI MENYUSU DINI DI BPS ...'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2533929689408829712</id><published>2011-10-10T01:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T01:03:51.257-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN BARU 2011 :  TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI PRIMIPARA TENTANG TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR  DI BPS</title><content type='html'>&lt;b&gt;SEGERA HUBUNGI HP. 081 225 300 100 LENGKAP BAB 1-5 + KUESIONER&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Latar BelakangKesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat, dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI sendiri terhambat oleh beberapa hal yang salah satunya adalah teknik pemberian ASI yang salah, yang bisa mengakibatkan puting lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, mastitis, abses payudara dan bayi enggan menyusu (Dinkes Semarang, 2003).&lt;span class="fullpost"&gt;Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI ) tahun 2003 ada beberapa hal yang menghambat pemberian ASI Ekslusif, diantaranya adalah karena rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar yaitu sebesar 19,07%, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan sebesar 15,23%, persepsi masyarakat yang salah kaprah mengartikan tentang ASI sebesar 20,40%, prilaku bagi para ibu bekerja yang tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 21,12%, dan pemasaran agresif oleh perusahaan-perusahaan pembuat susu bayi yang tidak hanya mempengaruhi para ibu, namun juga para petugas kesehatan sebesar 24,18% (Winoto &amp; Assefa, 2003). Pada tahun 2006 cakupan standar nasional pemberian ASI Eksklusif telah di tetapkan yaitu 80% (Amirudin, 2007). Dari hasil rekap laporan ASI Eksklusif di seluruh Puskesmas Kota Semarang tahun 2006 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif yaitu 40,07%. Dengan teknik menyusui yang benar yang hanya 22% dari ibu yang memberikan ASI eksklusif, Namun pada tahun 2007 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif menurun menjadi 38,44%     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2533929689408829712?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2533929689408829712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-baru-2011-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2533929689408829712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2533929689408829712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-baru-2011-tingkat.html' title='KTI KEBIDANAN BARU 2011 :  TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI PRIMIPARA TENTANG TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR  DI BPS'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4393971878719767893</id><published>2011-10-10T00:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T00:56:49.318-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMSIA BERAT DI RSUD</title><content type='html'>&lt;b&gt;SEGERA HUB Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Landasan TeoriAngka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia terus mengalami penurunan meski secara besaran Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi, walaupun di sisi lain sudah terjadi penurunan dari 307/100.000 kelahiran hidup pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2002/2003. Dan pada tahun 2006 laporan BPS menyebutkan AKI menjadi 255/100.000 kelahiran dan pada tahun 2007 menjadi 228/100.000 kelahiran.&lt;span class="fullpost"&gt;Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 60-70 %, pre eklamsi dan eklamsi 10-20%, Infeksi 10-20% (Manuaba, 2001).Pre eklamsia dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan timbul atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas. Golongan penyakit ini ditandai dengan hipertensi dans erring disertai dengan proteinuria, edema, kejang, atau gejala-gejala yang lain. Penyakit ini cukup sering dijumpai dan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu. (Sastrowinanto, 2005 : 68)Penyebab kematian ibu paling banyak disebabkan karena perdarahan 28%, pre eklamsia 13%, aborsi 11%, sepsis post partum 10% dan penyebab kematian tidak langsung lainnya. (http:id.wikipedia.2006.org/wiki./Indonesia)Di Indonesia pre eklamsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal. Oleh karena itu, diagnosis dini pre-eklamsia serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, karena Angka Kematian Ibu berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas (Wiknjosastro, 2005: 281).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4393971878719767893?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4393971878719767893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-2011-asuhan-kebidanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4393971878719767893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4393971878719767893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-2011-asuhan-kebidanan.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMSIA BERAT DI RSUD'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-8707377642530026504</id><published>2011-10-10T00:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T00:53:13.192-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN TERBARU 2011 : FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA TENAGA KESEHATAN  DALAM  PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS ....</title><content type='html'>&lt;b&gt;HUB SEGERA : 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Latar BelakangPenyakit kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur dan jenis kelamin. Penyakit ini dapat menyerang orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi, maupun orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. &lt;span class="fullpost"&gt;Anak-anak, remaja, dan orang dewasa juga tidak luput dari serangan kanker.1 Berdasarkan data diperkirakan 60% penderita kanker di Indonesia adalah wanita.1 Kanker ganas yang paling banyak menyerang wanita adalah kanker serviks, yang merupakan penyakit keganasan yang menimbulkan masalah kesehatan terutama di negara yang sedang berkembang, termasuk indonesia.2 Saat ini kanker serviks masih menempati urutan pertama penyakit yang paling banyak terjadi pada wanita di Indonesia, di dunia penderita kanker servik terbanyak kedua setelah kanker payudara.1Data Word Health Organization (WHO) tahun 2003 menyebutkan, sekitar 500.000 perempuan setiap tahunnya didiagnosis menderita kanker serviks dan hampir 60 persen di antaranya meninggal dunia.3 Berdasarkan laporan dari American Cancer Society, kematian akibat kanker serviks sekitar 6000-7000 orang/tahun. Indonesia sekitar 90-100 orang/tahun.3 Data dari Yayasan Kanker Indonesia pada tahun 2007 menyebutkan setiap tahun sekitar 500.000 perempuan didiagnosa menderita kanker serviks dan lebih dari 250.000 meninggal dunia.1 Di Indonesia, diperkirakan dalam setiap hari terjadi 41 kasus baru kanker serviks. Dan sekitar 20 orang setiap hari meninggal dunia.1 Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota MAU LEBIH LENGKAP HUB : 081225 300 100    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-8707377642530026504?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/8707377642530026504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-terbaru-2011-faktor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8707377642530026504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8707377642530026504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/10/kti-kebidanan-terbaru-2011-faktor.html' title='KTI KEBIDANAN TERBARU 2011 : FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA TENAGA KESEHATAN  DALAM  PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS ....'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-1734333611676744044</id><published>2011-09-29T02:51:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T02:51:08.348-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN PENYULIT ANEMIA SEDANG PADA NY. N</title><content type='html'>&lt;b&gt;MAU PESAN HUB : Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Latar BelakangGlobal warning (Pemanasan Global) yang melanda dunia termasuk Indonesia membawa dampak negative di berbagai bidang yang salah satunya adalah di bidang kesehatan, masalah kesehatan di Indonesia sangat bervariatif diantaranya saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih sangat tinggi. &lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan SKRT tahun 2002/2003 Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, ada beberapa faktor yang menyebabkan AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi, salah satunya adalah kekurangan gizi. Menurut Lubis (2004)” banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia gizi besi (1). Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (Sanitasi) kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang serta kesehatan dan adanya daerah yang masih kekurangan lodium (2). Anemia defisiensi besi pada wanita hamil bisa menyebabkan kematian dikarenakan abortus, partus prematurus, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, pendarahan antepartum dan mudah terjadi infeksi intrapartum maupun postpartum, pada ibu bersalin dapat menyebabkan terjadinya his lemah dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, sedangkan pada ibu nifas bisa menyebabkan sub involusis uteri menimbulkan perdarahan postpartum, memudahkan puerperalis, pengeluaran ASI berkurang (3).Menurut Depkes RI (2001) anemia dibagi menjadi dua derajat yaitu anemia sedang bila kadar Hb antara 8-11 gr% dan anemia berat bila kadar Hb &lt; 8 gr%.(4) Berdasarkan klasifikasi WHO Hb wanita hamil dibagi menjadi tiga kategori yaitu normal ≥ 11 gr%, anemia ringan 8-11 gr%, anemia berat &lt; 8 gr%. Menurut Kasdu (2005) anemia digolongkan menjadi 3 yaitu 9-10gr% anemia ringan, 7-8 gr% anemia sedang, &lt; 7 gr%anemia berat. (5)Menurut Amirudin (2004) “WHO melaporkan bahwa prevalensi anemia kehamilan secara global 55% demam kejadian tertinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan, angka kejadian anemia kehamilan sebesar 83,6% di Puskesmas Bantimurung (6). Menurut Anonim (2007)” menemukan sekitar 70% atau 7 dari 10  ibu hamil di Indonesia menderita kekurangan gizi.(7)Menurut Riswan (2003) “Di Negara-negara berkembang 40% kematian ibu hamil dengan anemia defisiensi zat besi, sedang di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 63,5% yang dikarenakan kekurangan zat besi (8). Jawa Tengah diperkirakan ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 37,6%. berdasarkan data jumlah ibu hamil selama bulan Januari sampai Maret 2009 ada 393 ibu hamil se-Puskesmas Bangetayu diperoleh hasil yaitu kadar Hb &lt; 11gr% sebanyak 22 ibu hamil anemia. Sedangkan ibu hamil yang mencapai kadar Hb &gt; 11gr % adalah 370 ibu hamil tidak anemia. pada 2009 dari 93 ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan di Bidan Solekhah Sedayu Tugu terdapat 73 ibu hamil tidak anemia dan 20 ibu hamil yang mengalami anemia. Maka dari 20 ibu hamil perlu diperhatikan dan dikelola karena anemia bisa berakibat fatal, pada kehamilan anemia dapat menyebabkan kematian dikarenakan abortus, partus prematurus, pada persalinan dapat menyebabkan terjadinya his lemah dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, nifas bisa menyebabkan sub involusio uteri menimbulkan perdarahan postpartum. Sebagai seorang Bidan memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara konfrehensif diantaranya 7T yaitu timbang berat badan, tekanan darah diukur, tinggi fundus uteri diukur, pemberian imunisasi (tetanus toxoid) TT lengkap, tes terhadap penyakit menular seksual, temu wicara (konseling). (9)Melalui pemantauan Antenatal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan tersebut maka Bidan dapat mengetahui keadaan ibu hamil di wilayahnya dan dapat menemukan sedini mungkin kondisi-kondisi pathologis yang salah satunya anemia.Berdasarkan data-data tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengambil tema Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dengan Anemia Sedang pada Ny “N” di BPS Hj. Nikmah.B.	Pembatasan Masalah1.	Lingkup masalah	Bagaimana penatalaksanaan asuhan kebidanan ibu hamil dengan anemia sedang.2.	Lingkup tempat	Di BPS Hj. Nikmah    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-1734333611676744044?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/1734333611676744044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-asuhan-kebidanan-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1734333611676744044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1734333611676744044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-asuhan-kebidanan-ibu.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN PENYULIT ANEMIA SEDANG PADA NY. N'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-8462369898654114561</id><published>2011-09-24T01:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-24T01:41:46.417-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN BARU : HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA DI RS...........</title><content type='html'>&lt;b&gt;MAU LEBIH LENGKAP HUB : Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA. Latar belakang masalahDi dalam tubuh kita terdapat banyak sel yang membentuk jaringan. Sel mempunyai dua tugas utama, yaitu bekerja dan berkembang biak. Sel yang terkena kanker akan berubah sifat, sebagian besar dipakai untuk berkembang biak, bukan untuk bekerja. &lt;span class="fullpost"&gt;Oleh karna itu, kanker dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kalau tidak segera diketahui dan tidak dapat dicegah pertumbuhannya, bisa menyebabkan kematian (Purwoastuti, 2008:7).Saat ini, kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua akibat kanker pada wanita, setelah kanker rahim, dan merupakan kanker yang paling banyak ditemui diantara wanita. Jumlah penderita kanker payudara diseluruh dunia terus mengalami peningkatan, baik pada daerah dengan insiden tinggi di negara-negara barat, maupun pada insiden rendah seperti dibanyak daerah di Asia. Angka insiden tertinggi dapat ditemukan pada daerah di Amerika Serikat (mencapai di atas 100/100.000; berarti ditemukan lebih 100 penderita / 100.000 orang). Kemudian diikuti dengan beberapa negara di Eropa Barat (tertinggi Swiss, 73,5/100.000). Untuk Asia, masih berkisar antara 10-20/100.000). Yang menarik angka ini akan berubah bila populasi dari daerah dengan insiden rendah melakukan migrasi ke daerah dengan insiden yang lebih tinggi, suatu bukti bahwa faktor lingkungan juga berperan pada proses terjadinya kanker (Purwoastuti,2008:14).Di negara berkembang setiap tahunnya lebih dari 580.000 kasus kanker payudara ditemukan. Kurang lebih 372.000 pasien meninggal karena penyakit ini. Data WHO menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita  usia 50 tahun ke atas. Sedangkan 6%-nya pada usia kurang dari 40 tahun. Tidak heran kanker   ini juga masuk dalam catatan Word Health Organization (WHO) dimasukkan kedalam  International classification of diseases (ICD) dengan kode nomor 17 (Suryaningsih,2009:7)Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007, kejadian kanker payudara di Indonesia sebanyak 8.227 kasus atau 16,85%  dan pada tahun 2008, 12 juta pasien yang baru terdiagnosis Kanker dan lebih dari 7 juta pasien meninggal akibat Kanker. Pada tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus Kanker sebanyak 20 hingga 26 juta pasien dan 13 hingga 17 juta pasien mininggal akibat Kanker. Peningkatan angka kejadian kanker diperkirakan sebesar 1% / tahun (Damiri, 2007).Kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Dapat terjadi pada usia kapan saja, biasanya menyerang wanita umur 40-50 tahun, tapi saat ini sudah mulai ditemukan pada usia 18 tahun. Kanker sering ditemukan pada stadium lanjut, sehingga proses penyembuhan sulit. Kanker payudara menimbulkan berbagai ketakutan yang berhubungan dengan kehilangan gambaran tubuh, operasi, dan kematian. Yang termasuk faktor resiko kanker payudra yaitu umur, status perkawinan, paritas, berat badan,merokok, konsumsi alkohol, pemakaian hormon, riwayat keluarga, radiasi menyusui, periode menstruasi. Namun penyebab yang pasti kanker payudara belum diketahui dengan jelas. Sejumlah studi yang merperlihatkan bahwa deteksi dini kanker payudara yang diikuti dengan terapi dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih baik pada pasien. Setiap wanita beresiko mengalami kanker payudara.  (Mawardi,2009:23).Wewenang bidan dalam penatalaksanaan pasien dengan kanker payudara hanya berbatas pada tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan KIE pada remaja putri dan wanita usia subur tentang SADARI, informasi tentang faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kanker payudara (Sukaca,2008:54).Sedangkan di Jawa Tengah khususnya Kota Semarang terlihat pada tahun 2005 terdapat 1.205 kasus kanker payudara dan tahun 2006 terdapat 4.306 kasus kanker payudara. Pada tahun 2007 berjumlah 897 kasus kanker payudara yang terdiri dari kriteria remaja berumur 11 – 24 tahun ada 28 orang, sedangkan pada usia 25 – 44 tahun berjumlah 400 orang dan pada usia 45 tahun ke atas terdpat 451 orang yang menderita kanker payudara. Dari angka kejadian kanker payudara pada tahun 2005 ke 2006 melonjak drastis yaitu bertambah 3.101 kasus, sedangkan pada tahun 2007 penderita kanker payudara mengalami penurunan hampir 4 kali lipatnya atau 3.409 kasus kanker payudara. Walaupun kanker payudara jumlah penderitanya menurun namun usia wanita yang menderita kanker ini semakin muda hal ini dapat dikarenakan banyak faktor yang belum diketahui dengan pasti sebagai penyebab terjadinya kanker payudara ini  (Dinkes Semarang,2007).Efek dari jumlah paritas terhadap resiko kanker payudara telah lama diteliti. Dalam suatu studi metaanalisis, dilaporkan bahwa wanita primipara mempunyai resiko 30 % untuk berkembang menjadi kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang multipara (Imam,2009:57).Prasurvey yang dilakukan oleh peneliti di RSUD Kota Semarang pada tanggal 13 Januari 2010 didapat hasil bahwa pasien penderita kanker payudara pada tahun 2009-2010 berjumlah 25 orang, 15 diantaranya adalah primipara atau sebanyak 60 % pasien dengan kanker payudara yang pernah melahirkan 1 kali.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA DI RSUD Kota Semarang Tahun 2009-2010”B. Rumusan MasalahRumusan masalah penelitian ini adalah : “Apakah ada hubungan antara Paritas dengan kejadian kanker payudara diRSUD Kota Semarang Tahun 2009-2010? ”C. Tujuan penelitian1. Tujuan umumUntuk mengetahui  hubungan Paritas dengan kejadian kanker payudara di RSUD Kota Semarang pada Tahun 2009-20102. Tujuan khususa. Mendistribusikan karakteristik responden yang mengeluh ada benjolan di payudaranya di RSUD Kota Semarang Tahun 2009-2010b. Mengetahui distribusi frekuensi paritas pasien yang mengeluh ada benjolan di payudaranya di RSUD Kota  Semarang Tahun  2009-2010c. Mengetahui distribusi frekuensi kanker payudara pasien yang mengeluh ada benjolan di payudaranya diRSUD Kota   Semarang tahun 2009-2010d.Menganalisa  hubungan Paritas dengan kejadian kanker payudara di RSUD Kota Semarang Tahun 2009-2010.D. Manfaat penelitian		1. Bagi Rumah SakitHasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan yang terkait dengan angka kejadian kanker untuk melakukan penyuluhan, pencegahan dan penanganan Kanker payudara2. Bagi Institusi PendidikanSebagai tambahan bahan referensi bagi institusi pendidikan tentang kanker payudara dalam melaksanakan pengajaran pada institusi pendidikan.3.  Bagi Peneliti SelanjutnyaData hasil penelitian dapat dijadikan sumber penelitian lain yang terkait4.  Bagi MasyarakatMenambah pengetahuan dan memberikan informasi pada masyarakat mengenai kanker payudara sehingga dapat melakukan deteksi dini secara mandiri dengan melakukan SADARI (periksa payudara sendiri).E. Keaslian PenelitianTabel 1.NOPeneliti / publikasiJudulHasil penelitianGusrika Rambe/ perpustakaan Akbid ADILA Bandar LampungGambaran Kejadian Kanker Payudara Di RS Detasemen Kesehatan Wilayah 02.04.03 Bandar Lampung Tahun 2010Umur &gt;50 tahun :51,36%Sudah menikah :81,08%Berat badan &gt;50kg :70,27%Multipara :78,38%Septi Ristiyana/ perpustakaan Akbid ADILA Bandar LampungGambaran Pengetahuan Siswi Kelas XII Tentang Kanker Payudara Di SMAN 6 Bandar Lampung Tahun 2009Pengetahuan rendah : 60,04%Pengetahuan sedang : 20,06%Pengetahuan baik : 19,90%Perbedaan penelitian yang dahulu dengan sekarang :1. Penelitian terdahulu hanya meneliti tentang gambaran kejadian penyebab kanker payudara, dan faktor-faktor nya adalah umur, status perkawinan, paritas, dan berat badan. Sedangkan penelitian ini meneliti tentang hubungan keduanya dan faktor yang diteliti adalah status paritas.2. Pada penelitian terdahulu meneliti tentang gambaran pengetahuan yang mempengaruhi kejadian kanker payudara dan faktor yang diteliti adalah pengetahuan, dengan menggunakan data primer. Sedangkan pada penelitian ini faktor yang akan diteliti yaitu paritas dan menggunakan data sekunder.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-8462369898654114561?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/8462369898654114561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-baru-hubungan-paritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8462369898654114561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8462369898654114561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-baru-hubungan-paritas.html' title='KTI KEBIDANAN BARU : HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA DI RS...........'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-155832871065718238</id><published>2011-09-09T06:43:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T06:43:30.309-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 :FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA TENAGA KESEHATAN MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS</title><content type='html'>&lt;b&gt;BUTUH KTI INI HUB : Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Latar BelakangPenyakit kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur dan jenis kelamin. Penyakit ini dapat menyerang orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi, maupun orang-orang yang sama sekali tidak berpendidikan. &lt;span class="fullpost"&gt;Anak-anak, remaja, dan orang dewasa juga tidak luput dari serangan kanker.1 Berdasarkan data diperkirakan 60% penderita kanker di Indonesia adalah wanita.1 Kanker ganas yang paling banyak menyerang wanita adalah kanker serviks, yang merupakan penyakit keganasan yang menimbulkan masalah kesehatan terutama di negara yang sedang berkembang, termasuk indonesia.2 Saat ini kanker serviks masih menempati urutan pertama penyakit yang paling banyak terjadi pada wanita di Indonesia, di dunia penderita kanker servik terbanyak kedua setelah kanker payudara.1Data Word Health Organization (WHO) tahun 2003 menyebutkan, sekitar 500.000 perempuan setiap tahunnya didiagnosis menderita kanker serviks dan hampir 60 persen di antaranya meninggal dunia.3 Berdasarkan laporan dari American Cancer Society, kematian akibat kanker serviks sekitar 6000-7000 orang/tahun. Indonesia sekitar 90-100 orang/tahun.3 Data dari Yayasan Kanker Indonesia pada tahun 2007 menyebutkan setiap tahun sekitar 500.000 perempuan didiagnosa menderita kanker serviks dan lebih dari 250.000 meninggal dunia.1 Di Indonesia, diperkirakan dalam setiap hari terjadi 41 kasus baru kanker serviks. Dan sekitar 20 orang setiap hari meninggal dunia.1 Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota Sukabumi kejadian kanker serviks mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 kejadian kanker serviks adalah 5.939 kasus dan pada tahun 2009 mencapai 6.003 kasus.4, 5Salah satu cara untuk menghindari kanker servik adalah melakukan pemeriksaan pap smear. Pap smear merupakan pemeriksaan aman dan murah. Wanita yang sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear adalah mereka yang aktivitas seksualnya tinggi.¹ Kanker serviks ini terjadi pada wanita karena tidak pernah melakukan pemeriksaan sejak dini, terutama bagi mereka yang memiliki resiko tinggi untuk terkena penyakit ini.¹ Penyebab rendahnya kesadaran wanita melakukan deteksi dini adalah rasa takut jika hasil pemeriksaan pap smear menyatakan bahwa mereka menderita kanker serviks sehingga mereka lebih memilih untuk menghindarinya. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengertian, pendidikan atau penerangan mengenai bahaya kanker pada umumnya dan kanker serviks pada khususnya. Selain itu penderita tidak dapat pergi ke dokter karena persoalan biaya, sehingga keterlambatan diagnosa kanker serviks sering terjadi.6 Penyebab lain rendahnya pemeriksaan pap smear adalah perasaan malu, khawatir atau cemas untuk menjalani pemeriksaan pap smear, karena adanya pikiran bahwa ada orang lain selain pasangan yang memasukkan sesuatu ke dalam dirinya, selain itu anggapan dari pasangan yang menyatakan bahwa telah melakukan persetubuhan dengan orang lain, sehingga mempengaruhi wanita tidak melakukan pemeriksaan pap smear.6Data dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi pada bulan April sampai Agustus tahun 2009 tercatat hanya 1.777 (0,69 %) wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear dari 256.446 Pasangan Usia Subur (PUS).5 Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada bulan Februari 2011 di bagian Tata Usaha Puskesmas Cisolok Sukabumi didapatkan hasil jumlah tenaga kesehatan sebanyak 39 orang. Jumlah wanita sebanyak 34 orang dan laki-laki sebanyak 5 orang. Dari jumlah wanita yang ada, 1 wanita belum menikah dan yang sudah melakukan pemeriksaan pap smear rutin sebanyak 3 orang. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap 5 tenaga kesehatan tentang alasan tidak melakukan pap smear, diperoleh penjelasan bahwa 2 orang menyatakan baru menikah dan sedang hamil, 1 orang menyatakan belum menikah, dan 2 orang menyatakan tidak perlu karena beranggapan dirinya sehat. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Tenaga kesehatan merupakan bagian dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat penting perannya dalam perubahan perilaku kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan contoh kepada masyarakat dalam meningkatkan kesadaran diri untuk melakukan pemeriksaan pap smear, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Tenaga Kesehatan Melakukan Pemeriksaan Pap Smear di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu ”.B.	Rumusan MasalahJumlah penderita kanker serviks selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut American Cancer Society, kematian akibat kanker serviks sekitar 6000-7000 orang/tahun. Angka kematian di Indonesia akibat kanker serviks sekitar 90-100 orang/tahun. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi tahun 2009 dari 256.446 PUS, hanya sekitar 0,69% yang bersedia untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Jumlah peningkatan penderita kanker serviks dapat dicegah bila wanita sejak dini melakukan pemeriksaan pap smear. Peran tenaga kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran wanita agar bersedia melakukan pemeriksaan pap smear, karena tenaga kesehatan merupakan role model bagi masyarakat, untuk itu peneliti merumuskan masalah “Faktor-Faktor Apakah yang Mempengaruhi Rendahnya Tenaga Kesehatan Melakukan Pemeriksaan Pap Smear di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu?”  C.	Tujuan1.	Tujuan UmumMengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan pap smear di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.2.	Tujuan Khususa.	Mengetahui frekuensi faktor usia pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.b.	Mengetahui frekuensi faktor pendidikan pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.c.	Mengetahui frekuensi faktor ekonomi pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.d.	Mengetahui frekuensi faktor paritas pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi..e.	Mengetahui frekuensi faktor pengetahuan pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.f.	Mengetahui frekuensi faktor sikap pada tenaga kesehatan wanita yang melakukan pemeriksaan pap smear maupun tidak di Puskesmas Cisolok Kecamatan Pelabuhan ratu Sukabumi.D.	Manfaat 1.	Bagi responden / tenaga kesehatanHasil penelitian ini akan memberikan gambaran nyata tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan pap smear di Puskesmas Cisolok Sukabumi sehingga dapat dijadikan kajian/masukan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melakukan pemeriksaan pap smear secara dini.2.	Bagi tempat penelitianHasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi bagi pengelola Puskesmas Cisolok Sukabumi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan pap smear di Puskesmas Cisolok Sukabumi, sehingga dapat dijadikan bukti dasar dalam memberikan penyuluhan bagi tenaga kesehatan tersebut. 3.	Bagi peneliti berikutnyaHasil penelitian ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk menambah referensi atau kajian untuk peneliti yang akan datang tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan pap smear di Puskesmas Cisolok Sukabumi.E.	Keaslian PenelitianDibawah ini merupakan beberapa penelitian yang terdapat kesamaan dengan penelitian yang peneliti teliti tentang pap smear diantaranya sebagai berikut:Tabel 1.1  Tabel Keaslian PenelitianNo	Peneliti 	Judul 	Sampel 	Hasil 1	Sylvia Yuovelladari Universitas Sumatra Utara	Gambaran pengetahuan ibu tentang pap smear di kelurahan Sei Kera Hilir II medan tahun 2010	97 orangMenggunakan metode penelitian diskriptif dengan pendekatan cross sectional	Pengetahuan ibu di kelurahan Sei Kera Hilir II yang berusia 21-55 tahun tentang pap smear berada pada kategori sedang (83,5%)2	Yayuk Agustin Hapsari dari Universitas Diponegoro	Gambaran karakteristik wanita dan beberapa faktor yang terkait dengan praktik wanita melakukan pemeriksaan pap smear (studi di yayasan kanker Indonesia Jawa Tengah)	50 orangMenggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif	a)	Mayoritas responden berumur 40-50 tahun (52,0%), lulus SMA (62,0%), bekerja (62,0%), penghasilan 2-3 juta per bulan (48%0,) etnis pribumi (80,0%).b)	Motivasi wanita melakukan pap smear karena mendapat informasi (40,0%), penyuluhan tenaga kesehtan (34,0%), gejala (26,0%)c)	Informasi pap smear dari tugas kesehatan (44,0%), tetangga/teman/keluarga (32,0%), televisi (12,0%), buku (12,0%)d)	Responden yang melakukan pap smear rutin 55,6%Adapun perbedaan penelitian diatas dengan proposal yang peneliti teliti adalah peneliti menggunakan pendekatan survey, teknik sampling yang digunakan adalah total sampling, responden yang digunakan adalah tenaga kesehatan, tahun pelaksanaan tahun 2011 dan lokasi penelitian di Puskesmas Cisolok Sukabumi.   BAB IITINJAUAN PUSTAKAA.	Tinjauan Teori1.	Kanker serviksa.	PengertianKanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada serviks, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang.1b.	PenyebabGejala umum kanker serviks timbul dikarenakan adanya pertumbuhan sel yang tidak normal dalam tubuh. Namun sebelum sel-sel tersebut menjadi kanker terjadi perubahan bentuk yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan itu tidak hanya satu atau dua tahun saja. Perubahan itu memakan waktu hingga bertahun-tahun sebelum menjadi kanker. Sebab kanker ini ditularkan melalui Human Pappiloma Virus (HPV). HPV ini mulai menyerang adanya kematangan seksual, mulai anak umur 9 tahun hingga lansia umur 70 tahun.1c.	Faktor risikoFaktor risiko adalah faktor yang mempermudah timbulnya penyakit kanker serviks. Adapun yang menjadi faktor risiko terjadinya kanker serviks antara lain:1)	UmurMenopause akan dialami semua wanita. Pada masa itu sering terjadi perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Pada usia 35-55 tahun memiliki risiko 1-3 kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim (serviks). Semakin tua umur seseorang akan mengalami proses kemunduran itu tidak terjadi pada suatu organ saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak kemungkinan jatuh sakit, atau mudah mengalami infeksi.12)	Pernikahan dan aktivitas seksual pada usia mudaUmur pertama kali hubungan seksual merupakan salah satu faktor yang cukup penting. Makin muda seorang perempuan melakukan hubungan seksual, makin besar risiko yang harus ditanggung untuk mendapatkan kanker serviks dalam kehidupan selanjutnya.9 Hal ini terjadi karena pada saat usia muda, sel-sel rahim masih belum matang. Sel-sel tersebut rentan terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma. Dan segala macam perubahanya. Jika belum matang, bisa saja ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak seimbang dengan sel yang mati. Dengan begitu maka kelebihan sel ini bisa berubah sifat menjadi sel kanker.13)	Pasangan seksual lebih dari satu (multipatner sex)Banyak faktor penyebab perkembangan kanker serviks. Diantaranya adalah perilaku berganti ganti pasangan akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi Human Pailloma Virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks. Risiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai teman seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-¹ dapat menjadi faktor pendamping.1    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-155832871065718238?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/155832871065718238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-faktor-faktor-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/155832871065718238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/155832871065718238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-faktor-faktor-yang.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 :FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA TENAGA KESEHATAN MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-7652995468043896173</id><published>2011-09-09T06:29:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T06:43:30.323-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : PERBEDAAN PRAKTIK IBU DALAM PIJAT BAYI SEBELUM DAN SETELAH PENDIDIKAN KESEHATAN PIJAT BAYI DI BPS ....</title><content type='html'>&lt;b&gt;BUtuh KTI INI HUB SEGERA Hp. 081 225 300 100&lt;/b&gt;BAB IPENDAHULUANA.	Latar BelakangPijat adalah terapi sentuh tertua yang dikenal manusia dan yang paling populer. Sebenarnya, pijat telah dipraktekkan hampir di seluruh dunia sejak dulu kala, termasuk Indonesia. Seni pijat diajarkan secara turun-temurun walaupun tidak diketahui dan sentuhan dapat berpengaruh demikian positif pada tubuh manusia.&lt;span class="fullpost"&gt;(1) Menurut Tiffany Fiel Pendiri They Touch Research Institute, Floride. USA, pijatan yang diberikan pada bayi setiap hari selama 20 menit selama sebulan ternyata tidak hanya membuatnya lebih relaks, tetapi juga dapat membantu menstimulasi saraf otaknya. Selain itu, bayi-bayi yang dipijat selama lima hari saja, daya tahan tubuhnya akan mengalami peningkatan sebesar 40% dibanding bayi-bayi yang tidak dipijat.(2) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan menyebutkan bahwa bidan mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pemantauan dan menstimulasi tumbuh kembang bayi dan anak.(3) Pijat bayi dapat digolongkan sebagai aplikasi stimulasi sentuhan. Ini karena dalam pijat bayi terdapat unsur sentuhan  berupa kasih sayang, perhatian, suara atau gerakan, dan pijatan. Stimulasi ini akan merangsang perkembangan struktur maupun fungsi sel-sel otak.(4) Pijat bayi lebih baik dilakukan oleh orang tua, terutama dalam usia tiga tahun pertama. Sedangkan yang paling bermanfaat adalah pijatan yang pada enam atau tujuh bulan pertama usia bayi. Stimulus sentuhan yang diberikan melalui pijatan itu dapat mempererat ikatan emosi antara orang tua dengan bayinya, membantu orang tua memahami bahasa non verbal bayi dan menimbulkan rasa percaya diri dalam mengasuh anak. Lebih dari itu, pijat bayi juga dapat meningkatkan air susu ibu dan mengurangi kambuhnya penyakit kronis, seperti asma.(2)Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemijatan bayi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pada bayi usia 3 bulan keatas seluruh gerakan dilakukan dengan tekanan dan waktu yang semakin meningkat.(2) Setelah gerak refleks menghilang dan gerak motorik mulai muncul, aktivitas bayi semakin bermacam-macam. Pada usia mulai 4 bulan bayi sudah bisa tengkurap dan terlentang, menumpu badan pada kaki, serta dada terangkat menumpu pada lengan. Pemberian stimulasi yang teratur dan terus menerus akan menciptakan anak yang cerdas, pertumbuhan dan perkembangannya menjadi optimal, mandiri, serta memiliki emosi yang stabil, dan mudah beradaptasi.(9)Dalam hal pemijatan bayi, peran bidan adalah sebagai motivator dan fasilitator dengan melakukan penyuluhan maupun konseling pada ibu  tentang perawatan bayi khususnya pijat pada bayi. Seorang Ibu, mempunyai peran besar di dalam pertumbuhan dan perkembangan bayinya sehingga perawatan pada bayinya lebih diutamakan dilakukan dengan mandiri oleh ibu sehingga tujuan yang diharapkan akan dapat tercapai, termasuk melakukan pemijatan bayi. Dengan bekal ketrampilan pijat bayi oleh ibu disertai pemahaman konseptual tentang pentingnya pijat bayi dengan teknik penyuluhan diharapkan ibu akan tergerak untuk melakukan praktik pijat bayi mandiri.Penelitian ini dilakukan di Bidan Praktek Swasta (BPS) Ny. Ninik Suprapto, SSiT yang merupakan salah satu bidan praktek swasta yang terletak di kelurahan Gebang Kecamatan Surabaya Timur Kota Surabaya. BPS ini dipilih sebagai tempat untuk dilakukan penelitian karena pijat bayi belum menjadi bagian dari pelayanan BPS ini dan belum ada penyuluhan oleh bidan tentang pijat bayi. Pada observasi pendahuluan terdapat 10 responden yang diberi pertanyaan tentang praktik pijat bayi 20% dapat memijat bayinya sendiri dan 80% ibu tidak pernah memijatkan bayinya sendiri dan lebih sering memijatkan bayinya ke dukun bayi.Hal ini perlu dikaji lebih lanjut mengenai sejauh mana perbedaan praktik ibu dalam pijat bayi sebelum dan sesudah mendapat pendidikan kesehatan tentang pijat bayi. Penelitian ini menarik untuk diteliti guna mendapatkan gambaran nyata dari teori tersebut di atas. Maka penulis ingin meneliti sejauh mana pengaruh keduanya. Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik mengambil judul "Perbedaan Praktik Ibu dalam Pijat Bayi Sebelum dan Setelah Pendidikan Kesehatan Pijat Bayi di BPS Ny. Ninik Suprapto, SSiT Gebang Raya Kota Surabaya”.B.	Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dapat diambil suatu rumusan masalah yaitu ”Apakah ada perbedaan praktik ibu dalam pijat bayi sebelum dan setelah Pendidikan Kesehatan di BPS Ny. Ninik Suprapto, SSiT di Gebang Raya Kota Surabaya”.C.	Tujuan1.	Tujuan UmumMengetahui perbedaan ketrampilan Ibu dalam memijat bayi sebelum dan setelah mendapat pendidikan kesehatan tentang pijat bayi di  BPS Ny. Ninik S Gebang Raya Kota Surabaya Tahun 2011.2.	Tujuan Khususa.	Mengetahui praktik ibu dalam pijat bayi sebelum mendapat pendidikan kesehatan pijat bayi di BPS Ny. Ninik Suprapto Gebang Raya, Kota Surabaya Tahun 2011.b.	Mengetahui praktik Ibu dalam pijat bayi setelah mendapat pendidikan kesehatan pijat bayi di BPS Ny. Ninik Suprapto Gebang Raya Kota Surabaya Tahun 2011.c.	Mengetahui perbedaan praktik Ibu dalam pijat bayi sebelum dan setelah mendapat pendidikan kesehatan tentang pijat bayi di BPS Ny. Ninik Suprapto Gebang Raya Kota Surabaya Tahun 2011.D.	Manfaat PenelitianPenelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1.	MasyarakatDiharapkan dapat memberikan informasi tentang teknik pijat bayi yang benar dan dapat melaksanakan pijat bayi secara teratur kepada bayinya.2.	BidanDiharapkan hasil penelitian ini memberikan informasi pada bidan mengenai ketrampilan ibu dalam memijat bayi sebelum dan sesudah mendapat penyuluhan pijat bayi serta untuk lebih meningkatkan Bidan dalam memberikan konseling atau penyuluhan tentang pijat bayi kepada ibu yang memiliki bayi untuk pijat bayi secara mandiri di rumah.3.	InsitusiDiharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan  masukan yang digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya.E.	Keaslian PenelitianPenelitian sejenis pernah dilakukan oleh Diah Sri Wulandari (2009) dengan judul “Motivasi Ibu dalam Melakukan Pijat Bayi sebelum dan sesudah penyuluhan di BPS Ny.Sunarti Kota Surabaya”. Penelitian Diah (2009) menggunakan desain penelitian eksperimen dengan rancangan prepost test design. Analisa data menggunakan kuesioner.(6)Perbedaan penelitian Diah (2009) dengan penelitian ini yaitu terletak pada variable bebas dan variable terikat. Pada penelitian ini menggunakan rancangan One Group Pretest-Postest, dan menggunakan instrument penelitan berupa checklist.BAB IITINJAUAN PUSTAKAA.	Tinjauan Teori1.	Pijat Bayi a.	 PengertianPijat Bayi adalah terapi sentuhan tertua dan terpopuler yang dikenal manusia, yang juga merupakan seni perawatan kesehatan dan pengobatan yang dipraktikan sejak berabad abad silam.(2)Pengaruh positif sentuhan pada proses tumbuh kembang anak telah lama dikenal manusia. Namun, penelitian ilmiah tentang hal ini masih belum banyak dilakukan.Kulit merupakan organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai reseptor terluas yang dimiliki manusia. Sensasi sentuh atau raba adalah indera yang aktif berfungsi sejak dini. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan, janin telah dapat merasakan belaian hangat cairan ketuban.(2)Pengalaman pijat pertama yang dialami setiap manusia terjadi saat berada dalam rahim ibu, didekap oleh air ketuban, dan dibelai oleh air ketuban. Proses kelahiran adalah suatu pengalaman traumatik bagi bayi karena bayi yang harus meninggalkan rahim yang hangat, aman, nyaman, dan dengan keterbatasan ruang gerak menuju ke suatu  dunia dengan kebebasan gerak tanpa batas.(6)Itu sebabnya pada masa seperti ini seorang bayi membutuhkan sentuhan dan pijat setelah dilahirkan agar ibu tetap dapat memelihara kontak tubuh yang dibutuhkan bayi untuk mempertahankan rasa nyaman. Sentuhan merupakan bahasa pertama, komunikasi utama yang sangat berperan dalam membentuk hubungan awal antara orang tua dan bayinya. Pijat bayi dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kasih sayang dan memenuhi kontak fisik antara ibu dan bayi.(7)b.	Mekanisme Dasar Pijat Bayi(1)	Satu hal yang menarik pada penelitian tentang pemijatan adalah penelitian tentang mekanisme dasar pemijatan. Mekanisme dasar dari pijat bayi belum banyak diketahui. Walaupun demikian, saat ini para pakar sudah mempunyai beberapa teori tentang mekanisme ini serta mulai menemukan jawabannya.	Diajukan beberapa mekanisme untuk menerangkan mekanisme dasar pijat bayi, antara lain : pengeluaran beta endorphin, aktivitas nervus vagus, dan produksi serotonin.1)	Beta Endorphin Mempengaruhi Mekanisme PertumbuhanPijatan akan meningkatkan pertumbuhan dari perkembangan anak. Pengurangan sensasi taktil akan meningkatkan pengeluaran suatu neurochemical beta-endorphine, yang akan mengurangi pembentukan hormon pertumbuhan karena menurunnya jumlah dan aktivitas ODC (Ornithine decarboxylase) jaringan.2)	 Aktivitas Nervus Vagus Mempengaruhi Mekanisme Penyerapan Makanan Penelitian Field dan Schanberg (1986) menunjukkan bahwa pada bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus (saraf otak ke-10) yang akan menyebabkan peningkatan kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin. Dengan demikian, penyerapan makanan akan menjadi lebih baik. Itu sebabnya mengapa berat badan bayi yang dipijat meningkat lebih banyak daripada yang tidak dipijat.3)	Aktivitas Nervus Vagus Meningkatkan Volume ASIPenyerapan makanan menjadi lebih baik karena peningkatan aktivitas nervus vagus menyebabkan bayi cepat lapar sehingga akan lebih sering menyusui ibunya. Akibatnya, ASI akan lebih banyak diproduksi. Seperti diketahui, ASI akan semakin banyak diproduksi jika semakin banyak diminta. Selain itu, ibu yang memijat bayinya akan merasa lebih tenang dan hal ini berdampak positif pada peningkatan volume ASI.4)	Produksi Serotonin Meningkatkan Daya Tahan TubuhPemijatan akan meningkatkan aktivitas neurotransmitter serotonin, yaitu meningkatkan kapasitas sel reseptor yang berfungsi mengikat glucocorticoid (adrenalin, suatu hormone stres). Proses ini akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar hormon stress ini akan meningkatkan daya tahan tubuh, terutama IgM dan IgG. 5)	Pijatan dapat Mengubah Gelombang Otak.Pijat bayi akan membuat bayi tidur lebih lelap dan meningkatkan kesiagaan (alertness) atau konsentrasi. Hal ini disebabkan pijatan dapat mengubah gelombang otak. Pengubahan ini terjadi dengan cara menurunkan gelombang alpha dan meningkatkan gelombang beta serta tetha, yang dapat dibuktikan dengan penggunaan EEG (electro enchephalogram).c.	Manfaat Pijat Bayi(1)	Efek biokimia yang positif dari pijat, antara lain:1)	Menurunkan kadar hormon stress (catecholamine), dan2)	Meningkatkan kadar serotonin.Selain efek biokimia, pijatan memberikan efek fisik/klinis sebagai berikut.1)	Meningkatkan jumlah dan sitoksisitas dari system immunitas (sel pembunuh alami).2)	Mengubah gelombang otak secara positif.3)	Memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan.4)	Merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan.5)	Meningkatkan kenaikan berat badan.6)	Mengurangi depresi dan ketegangan.7)	Meningkatkan kesiagaan.8)	Membuat tidur lelap.9)	Mengurangi rasa sakit.10)	Mengurangi kembung atau kolik (sakit perut).11)	Meningkatkan hubungan batin antara orangtua dan bayinya (bonding).12)	Meningkatkan volume air susu ibu.d.	Peran Ayah dan Ibu dalam Pijat Bayi(8)	Ibu adalah orang yang paling dekat dengan bayi, oleh karenanya Ibu harus orang pertama yang mempelopori pemijatan terhadap bayi. Ikatan kasih sayang (bonding) antara Ibu dan bayinya sangat penting untuk diteruskan melalui aktivitas memijat yang ditujukan untuk meningkatkan kesehatan bayi.	Pijatan Ibu kepada bayinya adalah sapuan lembut yang ditujukan untuk kesehatan pengikat jalinan kasih sayang. Kulit ibu adalah kulit yang paling dikenali oleh bayi, tangan ibu adalah tangan yang paling diinginkan oleh bayi. Jadi, Ibu harus dapat memahami keinginan bayinya bahwa ia sangat ingin disentuh oleh orang yang melahirkannya.	Para Ayah yang pernah melakukan pemijatan pada bayinya akan mengingat hal tersebut sebagai pengalaman yang sangat menyenangkan dan membanggakannya. Penelitian di Australia membuktikan bahwa bayi yang dipijat oleh Ayahnya, mempunyai kecenderungan berat badannya naik dan hubungan Ayah menjadi lebih baik, apabila dibandingkan dengan bayi yang tidak dipijat. Bahkan bayi-bayi yang dipijat sejak usia 4 minggu, pada waktu mencapai usia 12 minggu akan lebih responsif, seperti lebih menyapa Ayahnya dengan kontak mata, lebih banyak tersenyu, lebih banyak bersuara, lebih banyak menggapai, lebih cepat mempelajari lingkungan dan lebih tanggap, apabila dibandingkan dengan bayi yang tidak dipijat.e.	Pelaksanaan Pijat Bayi(1) 	Pijat bayi dapat segera dimulai setelah bayi dilahirkan, sesuai keinginan orang tua. Dengan lebih cepat mengawali pemijatan, bayi akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apalagi jika pemijatan dilakukan setiap hari dari sejak kelahiran sampai bayi berusia 6-7 bulan.	Sebelum melakukan pemijatan, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : tangan harus bersih dan hangat, hindari agar kuku dan perhiasan tidak mengakibatkan goresan pada kulit bayi, ruang untuk memijat diupayakan hangat dan tidak pengap, bayi tidak selesai makan atau sedang tidak lapar, secara khusus menyediakan waktu untuk tidak diganggu minimum selama 15 menit  guna melakukan seluruh tahap-tahap pemijatan, duduklah pada posisi yang nyaman dan tenang, baringkan bayi di atas permukaan kain yang lembut, rata, dan bersih, siapkanlah handuk, popok, baju ganti, dan minyak bayi (baby oil / lotion), serta minta izin pada bayi sebelum melakukan pemijatan dengan cara membelai wajah dan kepala bayi sambil mengajaknya bicara.	Sedangkan selama melakukan pemijatan, dianjurkan untuk selalu melakukan hal-hal berikut ini : memandang mata bayi, disertai pancaran kasih sayang selama pemijatan berlangsung, bernyanyi atau putarkan lagu-lagu yang tenang atau lembut, guna membantu menciptakan suasana tenang selama pemijatan berlangsung; awali pemijatan dengan melakukan sentuhan ringan kemudian secara bertahap tambahkan tekanan pada sentuhan yang dilakukan, khususnya apabila sudah merasa yakin bahwa bayi mulai terbiasa dengan pijatan yang sedang dilakukan; sebelum melakukan pijatan, lumurkan baby oil atau lotion yang lembut sesering mungkin; sebaiknya, pemijatan dimulai dari kaki bayi karena umumnya bayi lebih menerima apabila dipijat pada daerah kaki. Dengan demikian, akan memberi kesempatan pada bayi untuk membiasakan dipijat sebelum bagian lain dari tubuhnya disentuh. Karenanya, urutan pemijatan bayi dianjurkan dimulai dari bagian kaki, perut, dada, tangan, muka, dan diakhiri pada bagian punggung; tanggaplah pada isyarat yang diberikan oleh bayi. Jika bayi menangis, cobalah untuk menenangkan sebelum melanjutkan pemijatan. Jika bayi menangis lebih keras, hentikan pemijatan karena mungkin bayi mengharapkan untuk digendong, disusui, atau sudah mengantuk dan sangat ingin tidur; mandikan bayi segera setelah terlumuri minyak bayi (baby oil). Namun, kalau pemijatan dilakukan pada malam hari, bayi cukup diseka dengan air hangat agar bersih dari minyak bayi; lakukan konsultasi pada dokter atau perawat untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang pemijatan bayi, dan hindarkan mata bayi dari baby oil atau lotion.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-7652995468043896173?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/7652995468043896173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-perbedaan-praktik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/7652995468043896173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/7652995468043896173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-kebidanan-2011-perbedaan-praktik.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : PERBEDAAN PRAKTIK IBU DALAM PIJAT BAYI SEBELUM DAN SETELAH PENDIDIKAN KESEHATAN PIJAT BAYI DI BPS ....'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2711564096930190013</id><published>2011-09-04T23:38:00.000-07:00</published><updated>2011-09-04T23:42:29.377-07:00</updated><title type='text'>KTI DIV KEBIDANAN TERBARU AGT 2011 : HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDAPATAN DENGAN  PEMBERIAN IMUNISASI ANJURAN DI BPS NY.......</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU LEBIH LENGKAP BAB 1-6 + SPSS MURAH MERIAH HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Latar Belakang&lt;br /&gt;Program imunisasi di Indonesia semakin penting kedudukannya dalam upaya mencapai Indonesia Sehat 2010. Pencegahan terhadap penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi telah menampakkan hasilnya. Kejadian penyakit poliomielitis, difteria, tetanus neonatorum, pertusis, campak dan hepatitis B berangsur-angsur berkurang. Program imunisasi yang telah lebih dari tiga abad lalu diakui sebagai upaya pencegahan yang penting. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Penurunan insidensi penyakit menular telah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lampau di negara-negara maju yang telah melakukan imunisasi dengan teratur dengan cakupan luas (Ranuh,2005)&lt;br /&gt; Keberhasilan Program imunisasi belum memasyarakatkan secara luas. Cakupan imunisasipun hanya menyentuh golongan masyarakat tertentu. Menurut data yang dilaporkan, diperkirakan hanya sekitar 25 – 30% anak yang terlindung dengan imunisasi. Keadaan serupa ini terdapat pula di Negara yang sedang berkembang lainya. Atas dasar inilah WHO dan UNICEF mencanangkan suatu sasaran imunisasi dasar bagi seluruh anak pada tahun 1990, bagi tercapainya tujuan kesehatan untuk semua pada tahun 2000 (Markum, 2002).&lt;br /&gt;Pengembangan program di Indonesia saat ini , dalam bidang imunisasi departemen kesehatan masih memberikan prioritas utama terhadap tujuh jenis penyakit yang tergabung dalam program pengembangan imunisasi yaitu : Vaksin BCG, DPT, POLIO, CAMPAK DAN Hepatitis B, imunisasi ini diwajibkan sehingga setiap orang tua diharapkan memberikan Imunisasi dasar ini secara lengkap terhadap putra putrinya. Sesuai dengan perkembangan pola hidup masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi akan terjadi bila perubahan dalam pola penyakit , sehingga saat ini ada imunisasi anjuran. Imunisasi anjuran ini meliputi vaksin MMR (Mups Meales Rubella), tipus, radang selsput otak karena Haemopillus Influenza tipe B, Vaksin hepatitis A, cacar air (Varisella) dan Rabies .dari enan jenis imunisasi anjuran , Imunisasi MMR merupakan jenis imunisasi yang paling banyak diberikan kepada anak - anak Indonesia. Vaksin MMR ini masih tergolong mahal dibandingkan dengan vaksin – vaksin yang tergolong dalam imunisasi wajib.   &lt;br /&gt; Di Indonesia saat ini, dalam bidang imunisasi departemen kesehatan masih memberikan prioritas utama terhadap 7 jenis penyakit yang tergabung dalam program pengembangan imunisasi. Sesuai dengan perkembangan pola hidup masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi akan terjadi pula perubahan dalam pola penyakit. Misalnya penyakit campak Jerman (Rubela) yang dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi masalah yang cukup serius, seperti penyakit tifus sebenarnya tidak tergolong ke dalam penyakit yang berat, namun demikian tifus merupakan penyakit endemik yang cukup menggelisahkan masyarakat (Markum, 2002).&lt;br /&gt; Beberapa laporan dari negara, Asia menunjukan bahwa Hib menjadi penyebab utama dan terbanyak yang menimbulkan penyakit manginitis ,Sementara itu di Indonesia Hib menjadi penyebab 33% dari kasus manginitis hasil riset lanjutan melaporkan  bahwa Hib merupakan 30% penyebab manginitis pada bayi dan anak berumur kurang dari 5 tahun. Penyebab adalah bakteri Hib yang ditularkan melalui udara dan kontak langsung dengan penderita&lt;br /&gt;Menurut data yang diperoleh dari BPS NY S, Batu - Malang pada bulan November- Januari 2011  jumlah balita  yang mengikuti imunisasi anjuran sebanyak  32 balita yang terdiri dari MMR 10 balita, HiB 17 balita, Influensa 2 balita, PCV 3 balita. pengetahuan yang luas,maka akan menunjang tumbuh kembang anak terutama bagaimana menjaga kesehatan anaknya. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak, imunisasi berperan penting dalam tumbuh kembang anak, minat keluarga mengimunisasi bayinya berarti bahwa keluarga mempunyai minat yang besar agar perkembangan anaknya baik. Dengan mengacu salah satu indikator kesehatan masyarakat tidak hanya dapat memantau status gizi dan penyakit saja, tetapi juga kualitas lingkungan sosial ekonomi, distribusi pendapatan (Sofyan, 2001).&lt;br /&gt;Berdasarkan data di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan dan pendapatan dengan pemberian imunisasi anjuran (non program).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.	Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah : Adakah ada HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDAPATAN DENGAN  PEMBERIAN IMUNISASI ANJURAN DI BPS NY.S. BATU-MALANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.	Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.	Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan pendapatan keluarga dengan  pemberian imunisasi anjuran di BPS Ny.S. Batu-Malang.&lt;br /&gt;2.	Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a.	Untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga tentang imunisasi anjuran  di BPS Ny.S.Batu-Malang&lt;br /&gt;b.	Untuk mengetahui gambaran pendapatan keluarga dengan pemberian imunisasi anjuran  di BPS Ny.S. Batu-Malang.&lt;br /&gt;c.	Untuk mengetahui gambaran pemberian imunisasi anjuran di BPS Ny .S. Batu - Malang&lt;br /&gt;d.	Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan pendapatan keluarga dengan pemberian imunisasi anjuran  di BPS Ny.S.Batu-Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.	Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1.	Bagi Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;Sebagai masukan bagi tenaga Kesehatan khususnya bidan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan melalui penyuluhan pada keluarga.&lt;br /&gt;2.	Bagi Institusi Pendidikan&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan untuk menghasilkan calon tenaga kesehatan yang profesional.&lt;br /&gt;3.	Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk dilakukan penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;4.	Bagi Masyarakat&lt;br /&gt;Dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang manfaat imunisasi pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.	Keaslian Penelitian&lt;br /&gt;1.	Kamidah (2003) dengan judul “Hubungan antara tingkat pengetahuan imunisasi dengan perilaku ibu terhadap imunisasi bayi di Puskesmas Gondokusuman II Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan non eksperimental dengan pendekatan cross sectional, dengan populasi semua ibu yang berkunjung di puskesmas Gondokusuman untuk imunisasi dengan sampel ibu yang mempunyai bayi usia 0-12 bulan. Analisa data yang digunakan dengan analisa data statistik nonparametrik teknik bivariat dengan uji Malang Tau. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan imunisasi dengan perilaku ibu terhadap imunisasi bayi. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah tujuan yang dicapai yaitu mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan ketepatan pemberian imunisasi di Posyandu Desa Kuwu, Balerejo, Madiun, Jawa Timur. Perbedaan yang lain terletak pada variabel terikatnya yaitu dalam penelitian ini adalah ketepatan imunisasi yang sudah diberikan pada bayi.&lt;br /&gt;2.	Satrinawati.(2002) dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Ibu terhadap Imunisasi di Puskesmas Tegalrejo kota Yogyakarta”. Jenis penelitian ini adalah deskriptif correlation study, dengan subyek penelitiannya adalah ibu yang membawa bayinya untuk diimunisasi di Puskesmas Tegalrejo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara tingkat pengetahuan dengan perilaku ibu terhadap imunisasi bayinya.&lt;br /&gt; BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Tinjauan Teori &lt;br /&gt;1.	Imunisasi  Anjuran&lt;br /&gt;a.	pengertian&lt;br /&gt;Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terkena pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit (Matondang, 2005).&lt;br /&gt;Imunisasi anjuran (non program) adalah Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin kedalam tubuh  membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu .&lt;br /&gt;Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kekebalan di atas ambang perlindungan (Dinkes Prop Jateng, 2005). &lt;br /&gt;b.	Tujuan&lt;br /&gt;Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar (Matondang, 2005)&lt;br /&gt;c.	Manfaat Imunisasi Anjuran&lt;br /&gt;1)	Untuk anak : mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan kecacatan atau kematian. &lt;br /&gt;2)	Untuk keluarga : menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit, mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.&lt;br /&gt;3)	Untuk negara : memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.&lt;br /&gt;(Ranuh, 2005)&lt;br /&gt;d.	Jenis Imunisasi&lt;br /&gt;Ada 7 jenis imunisasi menurut Nakita (2007), yaitu imunisasi yang non PPI (Program Pengembangan Imunisasi) alias dianjurkan meski tak wajib antara lain :&lt;br /&gt;1)	Imunisasi HIB&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Imunisasi HIB bertujuan untuk mencekal kuman HIB (haemophylus influenza type B).&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;HIB mengandung bagian dinding kuman yang telah dipisahkan dan sangat dimurnikan tetapi memakai konjugat berbeda. &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;HIB diberikan pada umur 2 bulan sampai dengan 18 bulan. &lt;br /&gt;d)	Dosis pemberian&lt;br /&gt;Diberikan 2 kali.&lt;br /&gt;e)	Kontraindikasi&lt;br /&gt;(1)	Pada anak yang sakit.&lt;br /&gt;(2)	Sedang menderita demam tinggi.&lt;br /&gt;(3)	Wanita hamil.&lt;br /&gt;f)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Demam ringan kurang dari 380 C.&lt;br /&gt;(2)	Rewel.&lt;br /&gt;(3)	Mengantuk.&lt;br /&gt;(4)	Nafsu makan berkurang.&lt;br /&gt;(5)	Muntah.&lt;br /&gt;(6)	Diare.&lt;br /&gt;g)	Tempat dan cara penyuntikan &lt;br /&gt;HIB disuntikkan secara IM.&lt;br /&gt;2)	Imunisasi PCV&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Imunisasi PCV bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit IPD (Invansive Pneumoccocal Disease).&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Vaksin yang diberikan pneumokokus. &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;Diberikan usia 2 bulan kemudian di usia 4 bulan dan 6 bulan, sedangkan pemberian ke empat bisa dilakukan saat anak berusia 12 sampai 15 bulan atau ketika sudah 2 tahun. &lt;br /&gt;d)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Muncul demam ringan.&lt;br /&gt;(2)	Rewel&lt;br /&gt;(3)	Mengantuk&lt;br /&gt;(4)	Nafsu makan berkurang.&lt;br /&gt;(5)	Muntah.&lt;br /&gt;(6)	Diare.&lt;br /&gt;(7)	Muncul kemerahan dalam kulit.&lt;br /&gt;e)	Tempat dan cara penyuntikan&lt;br /&gt;PCV disuntikkan secara subkutan.&lt;br /&gt;f)	Dosis&lt;br /&gt;PCV diberikan 3 kali dengan dosis 0,5 ml.&lt;br /&gt;3)	Imunisasi MMR (Meales Mumps Rubela)&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Imunisasi MMR bertujuan memberikan kekebalan terhadap serangan MUMPS (gondongan atau parotitis), measles (campak), dan rubella (campak Jerman) terutama buat anak perempuan.&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Vaksin merupakan vaksin kering yang mengandung virus hidup harus disimpan pada temperatur 2 – 80 C atau lebih dingin dan terlindung dari cahaya. &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;MMR diberikan pada umur 15 bulan dan  6 tahun. &lt;br /&gt;d)	Dosis pemberian&lt;br /&gt;Diberikan 2 kali dengan dosis 0,5 ml.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;e)	Kontraindikasi&lt;br /&gt;(1)	Anak dengan alergi berat.&lt;br /&gt;(2)	Anak dengan demam akut.&lt;br /&gt;(3)	Pembengkakan pada mulut dan tenggorokan.&lt;br /&gt;(4)	Sulit bernafas.&lt;br /&gt;f)	Tempat dan cara penyuntikan &lt;br /&gt;MMR disuntikkan secara IM atau subkutan dalam.&lt;br /&gt;g)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Timbul bercak merah.&lt;br /&gt;(2)	Demam.&lt;br /&gt;(3)	Pembengkakan di lokasi penyuntikan.&lt;br /&gt;4)	Influenza&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh kuman haemophylus influenza type B. &lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Mengandung virus yang tidak aktif (inactivated influenza virus). &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;Diberikan pada umur kurang dari 8 tahun. &lt;br /&gt;d)	Kontraindikasi&lt;br /&gt;(1)	Rewel.&lt;br /&gt;(2)	Demam ringan.&lt;br /&gt;(3)	Muntah.&lt;br /&gt;(4)	Muncul kemerahan di kulit.&lt;br /&gt;e)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Muncul demam ringan antara 6 – 24 jam setelah disuntikkan.&lt;br /&gt;(2)	Muncul reaksi kemerahan di lokasi bekas suntikan.&lt;br /&gt;(3)	Dan reaksi tersebut akan menghilang dengan sendirinya. &lt;br /&gt;5)	Imunisasi Typoid&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Imunisasi Typoid bertujuan untuk memperoleh kekebalan aktif terhadap penyakit demam typoid, yang sering dikenal dengan sebagai penyakit typus.&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Vaksin ini dibuat dari kuman sallmonella typhi galur non patogen yang telah dilemahkan. Kuman dalam vaksin ini hanya mengalami sedikit siklus pembelahan dalam usus dan dieliminasi dalam waktu 3 hari setelah pemakaian.. &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;Typoid diberikan pada umur 2 tahun. &lt;br /&gt;d)	Kontraindikasi&lt;br /&gt;Sejauh ini vaksin aman diberikan pada anak yang sehat.&lt;br /&gt;e)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Bengkak.&lt;br /&gt;(2)	Nyeri ruam kulit.&lt;br /&gt;(3)	Kemerahan di tempat penyuntikan.&lt;br /&gt;(4)	Demam.&lt;br /&gt;(5)	Pusing.&lt;br /&gt;(6)	Mual.&lt;br /&gt;f)	Tempat penyuntikan&lt;br /&gt;Typoid disuntikan secara IM.&lt;br /&gt;g)	Dosis pemberian&lt;br /&gt;0,5 ml.&lt;br /&gt;6)	Hepatitis A&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis.&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Dibuat dari virus yang dimatikan yaitu harvix yang mengandung virus hepatitis A. &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;Hepatitis A diberikan pada umur kurang dari 2 tahun, 2 kali dengan interval 6 – 12 bulan. &lt;br /&gt;d)	Tempat&lt;br /&gt;Hepatitis A disuntikkan pada daerah lengan atas secara subkutan.&lt;br /&gt;e)	Efek samping&lt;br /&gt;(1)	Muncul rasa sakit pada daerah subkutan.&lt;br /&gt;(2)	Gatal.&lt;br /&gt;(3)	Kemerahan.&lt;br /&gt;(4)	Demam ringan yang akan menghilang dalam waktu 2 hari.&lt;br /&gt;f)	Dosis pemberian&lt;br /&gt;Diberikan 2 kali dengan dosis 0,5 ml.&lt;br /&gt;7)	Varisela&lt;br /&gt;a)	Tujuan&lt;br /&gt;Memberikan kekebalan terhadap cacar air atau Chicken pax virus yang disebabkan virus varicella zooster.&lt;br /&gt;b)	Vaksin&lt;br /&gt;Vaksin virus hidup varicella zooster (galur OKA) yang dilemahkan terdapat dalam bentuk bubuk kering (lyophilised). &lt;br /&gt;c)	Waktu pemberian&lt;br /&gt;Vaksin varicella diberikan pada waktu usia 10 – 12 tahun. &lt;br /&gt;d)	Dosis pemberian&lt;br /&gt;Diberikan 1 kali dengan dosis 0,5 ml.&lt;br /&gt;e)	Kontraindikasi&lt;br /&gt;(1)	Vaksin tidak dapat diberikan pada keadaan demam tinggi.&lt;br /&gt;(2)	Alergi.&lt;br /&gt;f)	Efek samping&lt;br /&gt;Umumnya tidak terjadi reaksi hanya sekitar 1% yang mengalami demam.&lt;br /&gt;g)	Tempat penyuntikan&lt;br /&gt;Varisela disuntikan secara IM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2711564096930190013?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2711564096930190013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-div-kebidanan-terbaru-agt-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2711564096930190013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2711564096930190013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/09/kti-div-kebidanan-terbaru-agt-2011.html' title='KTI DIV KEBIDANAN TERBARU AGT 2011 : HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDAPATAN DENGAN  PEMBERIAN IMUNISASI ANJURAN DI BPS NY.......'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4008507003323244252</id><published>2011-08-26T21:01:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T21:02:55.668-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap P</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LEBIH LENGKAP HUB SEGERA Hp. 081225300100 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar Belakang  &lt;br /&gt; Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2002 – 2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berdasasarkan hasil Survey Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005, Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 252 per 100.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 23,71 per 1000 kelahiran hidup (Dinkes Jateng,2005)&lt;br /&gt;Paradigma baru program Keluarga Berencana nasional di ubah visinya dari mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) menjadi mewujudkan Keluarga Berkualitas tahun 2015. untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi World Healt Organitation (WHO) merumuskan “Four pillars of safe motherhood” yang terdiri atas Keluarga Berencana, asuhan antenatal care, persalinan yang bersih dan aman, pelayanan obsrvasi  esensial (wiknjosatro, 2002:902)&lt;br /&gt;Progam Keluarga Berencana mempunyai kontribusi penting dalam meningkatkan. upaya pemerintah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi adalah dengan memasyarakatkan progam Keluarga Berencana yang memastikan bahwa setiap orang atau pasangan mempunyai akses informasi dan pelayanan Keluarga Berencana agar dapat mengetahui waktu yang tepat untuk kehamilan, jarak kehamilan dan jumlah anak (Syaiffudin,20003:U-6) &lt;br /&gt;Tujuan utama progam Keluarga Berencana (KB) Nasional adalah untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat  / angka kematian ibu bayi dan anak , serta penanggulangan masalah kesehatan Reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas. &lt;br /&gt;(Arum, 2009: 28-29)&lt;br /&gt;Salah satu masalah dalam pelayanan KB di Indonesia ialah rendahnya kualitas pelayanan terhadap pengunaan  kontrasepsi . Hal ini di tandai dengan masih tingginya angka – angka efek samping , komplikasi dan kegagalan  penggunaan obat dan alat kontrasepsi . Pelayanan yang berkualitas harus mencakup pemberian pelayanan yang dapat melindungi klien dari resiko efek samping dan komplikasi serta meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan pemakaian kontrasepsi (kehamilan). ( BKKBN, 2002)&lt;br /&gt;Pemilihan alat kontrasepsi yang tepat bagi akseptor bukanlah hal yang mudah, karena akseptor harus mempertimbangkan efek samping  dari penggunaan alat kontrasepsi tersebut. Pemberian informasi yang benar dan tepat sangat dibutuhkan oleh akseptor KB supaya mereka yakin dan mantap dengan pilihannya. Dalam memberikan informasi tentang  pelayanan  keluarga berencana, masyarakat yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat berupaya memberikan informasi segala hal yang benar tentang alat kontrasepsi karena hal tersebut akan mempengaruhi pengetahuan dan kepuasan pasien setelah memakai alat kontrasepsi yang dipilih.&lt;br /&gt; Berdasarkan data yang diambil  dari Badan Koordinasi Keluaraga Berencana Nasional (BKKBN) propinsi Jawa Tengah Tahun 2006 prosentase akseptor KB sebanyak 4.960.687 akseptor, yang terdiri dari KB baru sebanyak 161.211 (3.3%) dan KB aktif sebanyak 4.799.476 (96,7%) akseptor. Adapun metode yang dipakai oleh akseptor KB suntik  876.141 (18,24%) akseptor KB Pil 524.703 (10.92%) akseptor implant 490.192 (10,20%), akseptor alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) 293.535 (6,11%) akseptor  Medis Operasi Wanita (MOW) 70.456 (1.47%) akseptor Medis Operasi Pria (MOP) 44.286 (1,02%)(musringah: 2007)&lt;br /&gt;Berdasarkan data diatas terlihat bahwa salah satu jenis kontrasepsi  efektif  yang  menjadi pilihan kaum ibu adalah KB suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat DMPA. Kontrasepsi Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) merupakan kontrasepsi suntik yang hanya berisi hormon progesterone, tidak mengandung estrogen. Diberikan sekali setiap 3 bulan dengan dosis  150 mg. dalam 3 cc larutan air dengan cara disuntikan Intramuskular  (IM). Cara ini mulai disukai masyarakat setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan ( Hartanto,2003:163).&lt;br /&gt;Namun demikian KB suntik DMPA juga mempunyai banyak efek samping seperti tidak mengalami haid (amenorhe), perdarahan berupa tetesan / bercak-bercak (spotting), perdarahan di luar siklus haid (metroragia / breakthrough bleeding), perdarahan haid yang lebih lama dan atau lebih banyak dari ada biasanya (metroragia), pusing, mual, perubahan berat badan, kandungan kering, harus kembali suntik tiap 3 bulan. Hal ini disebabkan  karena adanya ketidak seimbangan hormon sehingga endometrium mengalami perubahan histology, keadaan amenorea disebabkan atrofi endometrium. (Saiffudin 2006: MK-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena cukup banyaknya efek samping yang ditimbulkan karena KB suntik DMPA, maka akseptor KB harus mengetahui lebih dini efek samping DMPA. Dengan pengetahuan yang cukup maka ibu tidak akan khawatir bila efek samping tersebut dialami oleh pengguna kontrasepsi DMPA.&lt;br /&gt;Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di BPS Ny.R Grobogan, data akseptor KB pada periode bulan Januari – Desember 2010 sebanyak  506 akseptor. Adapun metode yang dipakai oleh akseptor Suntik DMPA 237 orang (46,83%), cyclofem 173 orang (34,18%); pil 55 orang (10,86%), kondom 14  orang (2,76%), IUD 8 orang (1,58%), implant 20 orang  (3,95%). Dengan melihat data tersebut, terlihat jelas bahwa akseptor KB suntik, terutama KB suntik DMPA  paling banyak dibandingkan dengan jumlah akseptor KB yang lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada bulan Januari 2011 terhadap 10 akseptor KB suntik DMPA di BPS Ny.R Grobogan 7 (70%) akseptor KB suntik DMPA tidak mengetahui efek samping dari KB suntik DMPA dan 3 akseptor KB (30%) menyatakan mengetahui efek samping KB suntik DMPA. Hal ini mungkin dikarenakan KIE yang kurang maximal yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bersangkutan, hal ini di akui oleh para akseptor karena mereka mengaku menggunakan KB suntik DMPA kebanyakan beralasan mendapat informasi dari orang disekitarnya yang telah menggunakan KB suntik DMPA, murah dan efesiennya KB ini karena bisa dilakukan 3 bulan sekali dengan cara yang mudah hanya dengan di suntik. &lt;br /&gt;Namun dari wawancara ini pula didapatkan hasil bahwa masih banyak akseptor yang menggunakan KB suntik DMPA walaupun sebagian besar dari akseptor mengaku tidak mengetahui apa sebenarnya efek samping dari KB suntik DMPA itu sendiri. &lt;br /&gt;Berdasarkan data diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ” Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Lanjutan Di BPS Ny. R Grobogan Tahun 2011”	&lt;br /&gt;Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, sehingga peneliti merumuskan permasalahan “ Apakah Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Lanjutan Di BPS Ny. R Grobogan Tahun 2011?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui  Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Lanjutan Di BPS Ny. R Grobogan Tahun 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Untuk mengetahui karateristik akseptor KB suntik DMPA berdasarkan tingkat pendidikan, pritas, umur, dan tingkat ekonomi (pendapatan keluarga) di BPS Ny.R  Grobogan tahun 2011.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui tingkat pengetahuan akseptor KB suntik DMPA mengenai efek samping KB suntik DMPA di BPS Ny.R Grobogan tahun 2011&lt;br /&gt;Untuk mengetahui kemauan akseptor KB suntik DMPA dalam memilih alat kontrasepsi lanjutan di BPS Ny.R  Grobogan tahun 2011&lt;br /&gt;Untuk menganalisa Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap Pemilihan Alat Kontrasepsi Lanjutan Di BPS Ny. R Grobogan Tahun 2011&lt;br /&gt;Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Mengaplikasikan teori yang diperoleh yaitu dengan mengidentifikasi dan  menganalisa suatu permasalahan dilapangan serta memperluas penelitian tentang hal – hal yang berkaitan dengan alat kontasepsi khususnnya tentang KB suntik DMPA. &lt;br /&gt;Bagi Intitusi Kesehatan&lt;br /&gt;Hasil penelitian dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan ibu tentang KB suntik DMPA dan pemilihan alat kontrasepsi lanjutan.&lt;br /&gt;Bagi Pembaca&lt;br /&gt;Hasil penelitian dapat digunakan sebagai  referensi bagi penelitian program KB suntik DMPA selanjutnya, khususnya dalam bidang ilmu maternitas.&lt;br /&gt;Bagi Akseptor KB suntik DMPA&lt;br /&gt;Menambah pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan dan efek samping yang terjadi setelah penggunaan KB suntik DMPA.&lt;br /&gt;Bagi Masyarakat&lt;br /&gt;Menambah pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan program&lt;br /&gt;KB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaslian Penelitian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;No	Nama, Tahun, Judul	Variabel	Sasaran	Jenis penelitian	Hasil	   &lt;br /&gt;1.	Elisabet Alyanti (2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor – faktor yang Mempengaruhi Akseptor KB dalam Memilih Kontrasepsi Suntik di Polindes Annisa Singosari Kecamatan Mojosongo Boyolali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Independent:&lt;br /&gt;Faktor – faktor yang mempengaruhi akseptor KB dalam memilih kontrasepsi suntik anatara lain pengetahuan, pendidikan, ekonomi dan sosial budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dependent:&lt;br /&gt;Pemilihan kontrasepsi suntik	Populasi:&lt;br /&gt;Semua akseptor KB  suntik di Polindes Annisa Singosari Kecamatan Mojosongo Boyolali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel:&lt;br /&gt;Tehnik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan pendekatan cross sectional dan metode penelitian yang dipakai adalah survey analitik	Dari penelitian ini didapatkan hasil adanya pengaruh antara pengetahuan, pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya yang dimiliki oleh ibu dalam memilih kontrasepsi suntik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	   &lt;br /&gt;2.	Sulisih&lt;br /&gt;(2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Akseptor KB dan Pendapatan Keluarga Ibu dengan Pengambilan Keputusan KB Suntik di Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara	Independent:&lt;br /&gt;Tingkat pengetahuan akseptor KB dan Pendapatan KeluargaIbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dependent:&lt;br /&gt;Pengambilan Keputusan KB Suntik	Populasi:&lt;br /&gt;Seluruh akseptor KB di Cepogo Kec. Kembamg Kab. Jepara tahun pada bulan Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel:&lt;br /&gt;Pengambilan sampel dengan cara Simple Random Sampel karena respondennya homogen 	Jenis penelitian Diskriftif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional	Dari Penelitian ini didapatkan hasil  Ada  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Akseptor KB dan Pendapatan Keluarga Ibu dengan Pengambilan Keputusan KB Suntik di Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara	 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan : Dari penelitian yang saya lakukan penelitian yang sudah dituliskan diatas mempunyai beberapa kelebihan seperti sampel yang digunakan lebih beragam yaitu dari semua akseptor suntik tidak hanya KB suntik DMPA, dan yang diteliti tidak hanya mencari hubungan dari 2 variabel tapi dari beberapa variabel juga ikut diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Telaah Pustaka&lt;br /&gt;Tingkat Pengetahuan&lt;br /&gt;Definisi pengetahuan&lt;br /&gt;Pengetahuan biasa atau dalam filsafat dikatakan dengan istilah “ common sense “, dan sering di artikan dengan “good sense”. Karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerimanya dengan baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karena memang itu merah, benda panas karena memang dirasakan panas, dan sebagainya. Dengan comon sense, semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari – hari, seperti air dapat untuk menyiram bunga dan lain - lain. ( Salam 2004:6) &lt;br /&gt;Sedangkan menurut Notoadmodjo (2003:121) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.	&lt;br /&gt;Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif&lt;br /&gt;Pengetahuan yang tercakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkatan:&lt;br /&gt;Tahu (know)&lt;br /&gt;Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguruaikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan tanda – tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.&lt;br /&gt;Memahami (comperhension)&lt;br /&gt;Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.&lt;br /&gt; Aplikasi (aplication)&lt;br /&gt;Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real (sebenarnya). Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip – prisip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.&lt;br /&gt; Analisis (analysis)&lt;br /&gt;Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.&lt;br /&gt; Sintesis (synthesis)&lt;br /&gt;Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaiakan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan – rumusan yang telah ada.&lt;br /&gt;Evaluasi (evaluation)   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4008507003323244252?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4008507003323244252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/08/kti-kebidanan-hubungan-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4008507003323244252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4008507003323244252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/08/kti-kebidanan-hubungan-tingkat.html' title='KTI KEBIDANAN : Hubungan Tingkat Pengetahuan Akseptor KB Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Tentang Efek Samping KB Suntik DMPA Terhadap P'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4784829602948009980</id><published>2011-08-26T20:56:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T20:59:57.796-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : “HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN  KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA MENJELANG PERSALINAN DI RUANG BERSALIN RSUD "</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HUB SEGERA Hp. 081225300100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Menurut Saifuddin (2005) di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun pada saat hamil atau bersalin. Hal ini berarti bahwa setiap satu menit ada satu perempuan yang meninggal, padahal lebih dari 50 % kematian ibu bisa dicegah dengan teknologi yang ada dengan biaya relatif rendah sedangkan  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator kesehatan yang menggambarkan tingkat kesejahteraan ibu dan anak.&lt;br /&gt;Banyak faktor penyebab tingginya AKI. Salah satunya adalah kondisi emosi ibu hamil selama kehamilan hingga kelahiran bayi. Selama kehamilan, ibu mengalami perubahan fisik dan psikis yang terjadi akibat perubahan hormon. Perubahan ini akan mempermudah janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat dilahirkan. Adapun pada trimester ketiga (27-40 minggu), kecemasan menjelang persalinan ibu hamil pertama akan muncul. Pertanyaan dan bayangan apakah dapat melahirkan normal, cara mengejan, apakah akan terjadi sesuatu saat melahirkan, atau apakah bayi lahir selamat, akan semakin sering muncul dalam benak ibu hamil (Wulandari, 2006). Hal senada juga diungkap Kartono dan Kalil, dkk (1995) dalam Wulandari (2006), bahwa pada usia kandungan tujuh bulan ke atas, tingkat kecemasan ibu hamil semakin akut dan intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi pertamanya. Di samping itu, trimester ini merupakan masa riskan terjadinya kelahiran bayi prematur sehingga menyebabkan tingginya kecemasan pada ibu hamil.&lt;br /&gt;Ibu primigravida tidak jarang memiliki pikiran yang mengganggu, sebagai pengembangan reaksi kecemasan terhadap cerita yang diperolehnya. Menurut Kuswandi (2006) dalam Wulandari (2006). Semua orang selalu mengatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali. Oleh karena itu, muncul ketakutan-ketakutan pada ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman bersalin. Adanya pikiran-pikiran seperti melahirkan yang akan selalu diikuti dengan nyeri kemudian akan menyebabkan peningkatan kerja sistem syaraf simpatetik. Dampak dari proses fisiologis ini dapat timbul pada perilaku sehari-hari. Ibu hamil menjadi mudah marah atau tersinggung, gelisah, tidak mampu memusatkan perhatian, ragu-ragu, bahkan kemungkinan ingin lari dari kenyataan hidup. Pada gilirannya, kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan dan ketegangan lebih lanjut sehingga membentuk suatu siklus umpan balik yang dapat meningkatkan intensitas emosional secara keseluruhan (Wulandari, 2006). &lt;br /&gt;Kestabilan emosi sangat penting dalam mengendalikan kecemasan untuk menghadapi kelahiran terutama untuk kelahiran anak pertama. Dengan kestabilan emosi calon ibu akan mempunyai kemampuan untuk memberikan respon yang baik dan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga akan mengurangi kecemasan (Wahyuningsih, 2007)&lt;br /&gt;Untuk menghadapi kecemasan semacam ini, tidak ada jalan lain kecuali usaha untuk menenangkan diri serta menghilangkan sumber kecemasan satu persatu sehingga kepercayaan diri semakin meningkat. Timbulkan kepercayaan diri bahwa anda sudah melakukan hal terbaik untuk calon bayi, dan selanjutnya serahkan sepenuhnya kepada dokter serta Tuhan YME. Apabila ada hal-hal yang menjadi pertanyaan atau keraguan, jangan ragu untuk segera menanyakannya kepada dokter saat melakukan kontrol rutin. Selain itu membina komunikasi dengan suami, orang-tua, sanam saudara ataupun sesama calon ibu juga sangat membantu (Pdpersi, 2002). &lt;br /&gt;Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulistyorini (2007), menunjukan bahwa 52,5 % ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama berada pada kategori kecemasan rendah, 60% subjek menilai bahwa dukungan yang diperoleh dari keluarganya sangat tinggi. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi tidak akan mudah menilai situasi dengan kecemasan, karena wanita hamil dengan kondisi demikian tahu bahwa akan ada keluarganya yang membantu. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi akan mengubah respon terhadap sumber kecemasan dan pergi kepada keluarganya untuk mencurahkan isi hatinya. Pada penelitian ini juga didapatkan sumbangan dukungan suami terhadap kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga yaitu sebesar15,4%. Hal ini menunjukan terdapat 84,6% variabel lain yang mempengaruhi timbulnya kecemasan menghadapi persalinan pada ibu primigravida.&lt;br /&gt;Berdasarkan Studi Pendahuluan pada bulan Oktober – November 2010 di  ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan, didapatkan jumlah ibu yang melahirkan sebanyak 54 orang. Tiga puluh enam orang merupakan ibu primigravida, 18 ibu merupakan multigravida. Dari 36 ibu primigravida sebagian besar ibu primigravida mempunyai pengetahuan yang cukup, tetapi pada saat persalinan tingkat kecemasannya tinggi. &lt;br /&gt;Partisipasi menghadapi persalinan oleh suami masih banyak dipertentangkan, ada pendapat juga yang mengatakan bahwa kehadiran suami tersebut tidak membantu, terutama bila terdapat ketegangan diantara mereka (Depkes, 2007). Menurut Gracia dan Carfort, 1999) sebagian ibu menginginkan kehadiran suami (90%), 5% yang tidak menginginkan dan 5% ragu-ragu. Oleh karena sedikit penelitian yang meneliti tingkat pengetahuan suami tentang partisipasi persalinan.&lt;br /&gt;Pada tahun 2010, pihak rumah RSUD Kraton Pekalongan membuat kebijakan tentang  standar operasioanl (SOP) yang melarang pendampingan pada ibu melahirkan oleh keluarga dan suami. Sehingga setiap ibu melahirkan berada dalam satu ruangan bersalin atau ruang operasi caesar tanpa ada pendampingan dari pihak keluarga karena dikawatirkan akan mengganggu kinerja tenaga kesehatan yang menangani persalinan tesebut. Namun sejalan dengan program akreditasi RSUD Kraton Pekalongan meluncurkan program sayang ibu sayang anak, maka pihak manajemen merevisi SOP tersebut, sehingga mulai tahun 2011, setiap persalinan dapat ditunggu oleh salah satu anggota keluarga atau suami, dengan harapan pendampingan tersebut dapat mengurangi tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan, karena  ibu akan mengalami penurunan kecemasan yang signifikan apabila didampingi oleh suami ataupun anggota keluarga yang lain. Karena ibu yang menhadapi persalinan dengan perasaan cemas akan menimbulkan beberapa kendala seperti, partus yang lama karena kurang tenangnya ibu selama menghadapi persalinan, partus macet dan akibat – akibat lain yang ditimbulkan karena kecemasan seorang ibu yang tengah menghadapi persalinan. &lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut diatas, maka perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap “Hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Pekalongan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah penelitian&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti akan merumuskan masalah penelitian: Apakah ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di  ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian&lt;br /&gt;1.	Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu menjelang persalinan di  ruang bersalin RSUD. Kraton kab. Pekalongan.&lt;br /&gt;2.	Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a.	Mengetahui gambaran dukungan keluarga terhadap ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton kab. Pekalongan.  &lt;br /&gt;b.	Mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.&lt;br /&gt;c.	Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di  ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;3.	Bagi RSUD&lt;br /&gt;Sebagai data awal menyusun rencana kegiatan mengatasi masalah kecemasan ibu menjelang persalinan di RSUD.&lt;br /&gt;4.	Bagi Institusi Pendidikan&lt;br /&gt;Diharapkan bisa memberi manfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca serta dapat di kembangkan pada penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;5.	Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Menambah wawasan, bahan masukan dan pengetahuan bagi peneliti.&lt;br /&gt;Keaslian penelitian &lt;br /&gt;1.	Indah Ria Sulistyorini (2007), dengan judul hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan usia kandungan tujuh sampai sembilan bulan yang mengandung anak pertama dan memiliki suami. Teknik pengambilan subjek yang digunakan adalah metode purposive.Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi untuk menguji apakah terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil mengahadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Korelasi product moment dari Pearson menunjukan korelasi sebesar r = -0, 392 dengan p = 0, 006 yang artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Jadi hipotesis penelitian diterima.&lt;br /&gt;2.	Ditha Arindra (2008), dengan judul kecemasan menghadapi persalinan anak pertama pada ibu dewasa awal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui bagaimana kecemasan pada ibu dewasa awal dalam menghadapi persalinan anak pertama. Dalam peneitian ini, peneliti menggunakan wawancara mendalam karena wawancara tersebut lebih seperti percakapan sehari-hari dibandingkan dengan wawancara terstruktur, dan teknik yang akan digunakan adalah teknik observasi non-partisipan karena didalam penelitian, peneliti tidak berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan orang yang diobservasi.Dalam penelitian ini, subjek berjumlah tiga orang, dengan karakteristik wanita berusia dewasa awal (20 sampai 25 tahun) dan yang akan menghadapi persalinan anak pertama dengan usia kehamilam 8-9 bulan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang dialami berbeda-beda untuk masing-masing subjek.&lt;br /&gt;3.	Yuli Wahyuningsih (2007), dengan judul hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita hamil yang memasuki tri wulan ketiga dan merupakan kehamilan anak pertama. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive non random sampling. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan skala kestabilan emosi dan skala kecemasan. Berdasarkan hasil analisis product moment diperoleh nilai koefisien korelasi rxy sebesar -0,418 dengan p &lt; 0,05 ini berarti ada hubungan negatif yang cukup signifikan antara variabel kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama, yang berarti hipotesis di terima.&lt;br /&gt;Tabel 1.1. &lt;br /&gt;Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan Teori &lt;br /&gt;1.	Konsep Keluarga &lt;br /&gt;Definisi Keluarga&lt;br /&gt;Menurut Depkes RI (1998) dalam Mubarak (2006) keluarga dalam unit terkecil dan masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul yang tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan suatu ketergantungan.&lt;br /&gt;Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006) keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mepertahankan kebudayaan.&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mempunyai hubungan sarat satu sama lain dan mereka hidup dalam satu rumah tangga dalam rangka mencapai tujuan tertentu. &lt;br /&gt;Tipe keluarga&lt;br /&gt;Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006) type keluarga terdiri dari :&lt;br /&gt;Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak&lt;br /&gt;Keluarga besar (extended family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.&lt;br /&gt;Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti&lt;br /&gt;Keluarga duda / janda (single family), adalah kelaurga yang terjadi karena perceraian atau kematian&lt;br /&gt;Keluarga komposisi (composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama&lt;br /&gt;Keluarga kabitas (cohabitation), adalah dua orang menjadi I tanpa pernikahan terapi membentuk suatu keluarga&lt;br /&gt;Peran Keluarga&lt;br /&gt;Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006)  berbagai perasaan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Peran ayah, ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, pendidik, perlindungan dan pemberi rasa aman dan sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.&lt;br /&gt;Peranan ibu sbagai istri dan ibu dari anak-anaknya ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,juga sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga&lt;br /&gt;Peranan anak : anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan baik fisik, mental, sosial dan spiritual.&lt;br /&gt;Fungsi keluarga&lt;br /&gt;Secara umum fungsi keluarga menurut Friedman  (1998) dalam Suprajitno (2004) adalah sebagi berikut :&lt;br /&gt;Fungsi efektif (the affective function) adalah faktor keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga&lt;br /&gt;Fungsi sosialisasi dan tempat sosialisasi (sosialization and social placement fungtion) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah&lt;br /&gt;Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga&lt;br /&gt;Fungsi ekonomi (the economy funcional) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga&lt;br /&gt;Fungsi perawatan/pemeliharaaan kesehatan (the health care function), yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memilki produktivitas tinggi fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4784829602948009980?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4784829602948009980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/08/kti-kebidanan-hubungan-dukungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4784829602948009980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4784829602948009980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/08/kti-kebidanan-hubungan-dukungan.html' title='KTI KEBIDANAN : “HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN  KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA MENJELANG PERSALINAN DI RUANG BERSALIN RSUD &quot;'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-6132148336430030517</id><published>2011-07-22T20:52:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T20:55:50.663-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG MENSTRUASI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU LENGKAP HUB : Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Siklus kehidupan setiap wanita tentu mengalami  suatu kejadian dimana wanita dianggap sudah dewasa, yang ditandai dengan terjadinya menstruasi atau haid pada wanita. Siklus haid atau menstruasi yang terjadi pada wanita tidak selamanya teratur. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal ini menunjukkan adanya masalah pada kesehatan reproduksinya. Di Indonesia masalah kesehatan reproduksi masih memerlukan perhatian khusus. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga masih sangat rendah. Kesehatan Reproduksi Menurut data statistik, jumlah penduduk di Jawa Tengah pada tahun 2002 mencapai 31.691.866 jiwa, terdiri atas 15.787.143 (49,81%) laki-laki, dan 15.904.723 (50,19 %) perempuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.019.505.(28,46%) adalah mereka yang berusia anak atau remaja. Jumlah ini relatif cukup besar, karena mereka akan menjadi generasi penerus yang akan menggantikan kita di masa yang mendatang. Status atau keadaan kesehatan mereka saat ini akan sangat menentukan kesehatan mereka di saat dewasa, khususnya bagi perempuan, terutama mereka yang menjadi ibu dan melahirkan(Husni,F, 2010).&lt;br /&gt;Terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh remaja pada area kesehatan reproduksi. Permasalahan tersebut antara lain adalah  rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. &lt;br /&gt;Dari survei yang dilakukan Youth Center Pilar PKBI (Pusat Informasi dan Layanan Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jawa Tengah 2004 di xxxx mengungkapkan bahwa dengan pertayaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi seperti tentang proses terjadinya bayi, Keluarga Berencana, cara-cara pencegahan HIV          (Human Immunodeficiency Virus), anemia, cara-cara merawat organ reproduksi, dan pengetahuan fungsi organ reproduksi, diperoleh informasi bahwa 43,22 % pengetahuannya rendah, 37,28 % pengetahuan cukup sedangkan 19,50 % pengetahuan memadai ( Husni, F, 2010 ).&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan karena penyebaran penduduk yang belum merata, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan belum memadai sehingga pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga belum dikuasai oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama, karena dampaknya menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat ( Manuaba, 1999: 398).&lt;br /&gt;Kesehatan reproduksi remaja khususnya remaja wanita erat kaitannya dengan menstruasi. Dimana tidak setiap wanita mempunyai siklus menstruasi yang teratur. Siklus menstruasi yang tidak teratur ini di pengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah perubahan kadar hormon akibat stres atau dalam keadaan emosi yang kurang stabil. Selain itu perubahan drastis dalam porsi olah raga atau perubahan berat badan yang drastis juga mampu menjadi penyebab ketidak teraturan siklus menstruasi(Nita,2008).&lt;br /&gt;Ketidakteraturan siklus menstruasi seringkali membuat wanita menjadi merasa cemas. Hal ini terjadi karena kecemasan sebagai rangsangan sistem saraf diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu limbic system melalui tranmisi saraf, selanjutnya melalui saraf autonom akan diteruskan ke kelenjar – kelenjar hormonal (endokrin) hingga mengeluarkan secret (cairan) neurohormonal menuju hipofhisis melalui sistem prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH           ( Folikell Stimulazing Hormone ) dan LH ( Leutenizing Hormone ).&lt;br /&gt;Produksi kedua hormon tersebut adalah dipengaruhi oleh RH          (Realizing Hormone) yang di salurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Pengeluaran RH sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus sehingga selanjutnya mempengaruhi proses menstruasi atau haid(Prawirohardjo, 2006 : 4).&lt;br /&gt;Kelainan – kelainan siklus menstruasi dapat berupa siklus menstruasi yang memendek (Polimenorea), siklus menstruasi yang memanjang (Oligomenorea), bahkan tidak datangnya haid selama tiga bulan berturut – turut (Amenorea)  (Manuaba, 1999 : 398 - 399).&lt;br /&gt;Tenaga kesehatan khususnya bidan ikut berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi di masyarakat, bidan dituntut untuk mampu memberi informasi yang benar dan lengkap kepada masyarakat tentang kesehatan reproduksi khususnya bagi para wanita terlebih remaja. Selain itu bidan juga bisa memberikan konseling sesuai dengan wewenangnya kepada wanita khususnya remaja yang mengalami gangguan terhadap kesehatan reproduksinya, seperti ketidakteraturan siklus menstruasi(Arista,D.2010).&lt;br /&gt;Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis, terhadap mahasiswa Tingkat II yang tinggal di asrama STIKES xxxx xxxx xxxx di dapatkan hasil bahwa sebanyak 29 mahasiswa mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Ketidakteraturan siklus ini merupakan akibat yang terjadi karena rasa cemas yang timbul pada diri mereka. Tingkat kecemasan setiap mahasiswapun tentu berbeda – beda. Dari fenomena yang terjadi tersebut, maka penulis ingin mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan akibat perubahan siklus menstruasi?. Oleh karena itu penulis mengambil penelitian dengan judul    “ Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Menstruasi dengan Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx“. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Menstruasi dengan Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx ? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan Umum&lt;br /&gt;Penulis dapat mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Menstruasi dengan Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx.&lt;br /&gt;Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Untuk mendiskripsikan karakteristik responden penelitian.&lt;br /&gt;Untuk mendiskripsikan tingkat pengetahuan tentang menstruasi pada mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx.&lt;br /&gt;Untuk mendiskripkan tingkat kecemasan akibat pada mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx.&lt;br /&gt;Untuk Menganalisis Hubungan Pengetahuan Tentang Menstruasi dengan Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa STIKES xxxx xxxx xxxx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Bagi Penulis&lt;br /&gt;Penulis mampu menambah pengalaman, wawasan penelitian dan memahami ilmu psikologis dalam hal ini adalah rasa cemas, serta mampu meningkatkan ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, khususnya perubahan siklus menstruasi dan tentang ilmu psikologi dalam hal ini rasa cemas.&lt;br /&gt;Bagi Mahasiswa&lt;br /&gt;Penulis dapat memberikan informasi pada mahasiswa tentang ada tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang siklus menstruasi dengan tingkat kecemasan akibat pada mahasiswa di STIKES xxxx xxxx xxxx.&lt;br /&gt;Bagi Institusi&lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam pembelajaran mata kuliah Kesehatan Reproduksi.&lt;br /&gt;Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui masalah psikologis mahasiswanya.&lt;br /&gt;Data hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumber penelitian lain yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaslian Penelitian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;No Peneliti/ Publikasi Judul Hasil Penelitian    &lt;br /&gt;1 Renny Siswanti / Perpustakaan STIKES xxxx xxxx xxxx Hubungan Pengetahuan dan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa D III Kebidanan STIKES xxxx xxxx xxxx dengan Perubahan Siklus Menstruasi Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Dan data diolah dengan menggunakan tehnik chi square. Hasilnya ada hubungan antara Pengetahuan dan Tingkat Kecemasan dengan Perubahan Siklus Menstruasi pada Mahasiswa D III Kebidanan Tingkat III di STIKES xxxx xxxx xxxx    &lt;br /&gt;2 Tri Suwarni / FK UNS Surakarta Hubungan antara Tingkat Kecemasan dengan Siklus Haid pada Remaja Putri Kelas 2 di SMA N 1 Karanganyar Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Dan data di olah dengan tehnik chi square. Hasilnya adalah ada hubungan antara Tingkat Kecemasan dengan Siklus Haid pada Remaja Putri Kelas 2 di SMA N 1 Karanganyar   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu dalam hal :&lt;br /&gt;Penelitian terdahulu meneliti tentang hubungan antara pengetahuan dan kecemasan dengan perubahan siklus menstruasi. Sedangkan penelitian yang sekarang hanya meneliti tentang hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan . Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel penelitian. Yaitu variabel bebas dan variabel terikatnya.&lt;br /&gt;Penelitian terdahulu dengan penelitian yang sekarang sama – sama meneliti tentang tingkat kecemasan. Namun penelitian terdahulu menghubungkan tingkat kecemasan dengan siklus menstruasi. Sedangkan penelitian yang sekarang menghubungkan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel penelitian. Yaitu variabel bebas dan variabel terikatnya. Jadi penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sebelumnya.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-6132148336430030517?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/6132148336430030517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/07/kti-kebidanan-new-hubungan-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6132148336430030517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6132148336430030517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/07/kti-kebidanan-new-hubungan-tingkat.html' title='KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG MENSTRUASI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4003918068434545022</id><published>2011-07-12T23:45:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T23:46:54.744-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN BARU : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG HUBUNGAN SEKS PRANIKAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LEBIh LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Perubahan tubuh disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Yang dimaksud perubahan seks primer ialah perubahan-perubahan organ seksual yang semakin matang sehingga dapat berfungsi untuk melakukan proses reproduksi, dimana seorang individu dapat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis dan dapat memperoleh keturunan anak. Misalnya testis, kelenjar prostat, penis (remaja laki-laki); vagina, ovarium, uterus (remaja wanita) sedangkan perubahan seks sekunder ialah perubahan tanda-tanda identitas seks seseorang yang diketahui melalui penampakan postur fisik akibat kematangan seks primer. Untuk remaja laki-laki misalnya : jakun, bentuk tubuh (segitiga), suara membesar, kumis, jenggot, sedangkan remaja wanita misalnya : kulit halus, bentuk tubuh (guitar body), suara melengking tinggi dan rambut kemaluan pada vagina (Dariyo, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Health Organization mendefinisikan remaja sebagai kriteria biologi dengan ciri individu berkembang mulai saat pertama kali dengan menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai masa kematangan seksual. Kriteria remaja sebagai individu yaitu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Batas usia 10-20 tahun sebagai batas usia remaja, sedangkan sensus penduduk 1980 di Indonesia membatasi kriteria remaja umur 14-24 tahun (Widjanarko, 2009).&lt;br /&gt;Remaja adalah  masa yang amat kritis, dimana pada masa ini remaja mudah terpengaruh dengan keadaan sekitar termasuk dalam pergaulan yang bebas. Masa remaja merupakan saat munculnya impuls seksualitas secara nyata dalam bentuk perubahan fisik dan mental serta terjadi ketertarikan lawan jenis. Masa remaja juga merupakan fase kehidupan yang menunjukkan upaya seseorang mencari jati diri secara agresif. Masa remaja, mengalami kehidupan yang amat berisiko dimana tingkah lakunya yang banyak menimbulkan berbagai masalah, secara moral dan etis ditengah keluarga, lingkungan dan masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh remaja salah satunya adalah hubungan seksual pranikah (Mu’tadin, 2002).&lt;br /&gt;Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi fungsi serta prosesnya.  Program kesehatan reproduksi remaj amerupakan salah satu program pokok pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM 2004-2009.  salah satu sasaran strateginya yang harus dic apai pada tahun 2009, diantaranya sasaran strategis  yang berkaitan erat dengan program kesehatan reprosuksi  remaja yang ditingkatkan melalui PJK-KRR (Pusat informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja).  Yang mana  program ini bertjuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi.  Setiap kecamatan  memiliki PIK-KRR yang aktif, dimana saat ini jumlah PIK-KRR yang ada di seluruh Indonesia adalah sebanyak 2.733 PIK-KRR yang didirikan di sekolah-sekolah sebanyak 55% di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 15% dan 35% yang didirikan di Karang Taruna (Muadz, 2008, hlm 9).&lt;br /&gt;Perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun agama &amp; kepercayaan masing-masing individu (Mu’tadin, 2002). Perilaku seksual yang dilakukan remaja berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Perilaku yang muncul pada remaja dapat berupa berpegangan tangan, berpelukan, cium kering, cium basah, meraba bagian tubuh, petting, oral seksual &amp; senggama (Irawati, 2009). &lt;br /&gt;Perilaku hubungan seksual pranikah semakin sering dipraktekkan oleh para remaja. Menurut penelitian Pusat Penelitian Ekonomi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 1990 terhadap siswa-siswa di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi para siswa untuk melakukan senggama adalah membaca buku porno dan menonton film biru  (blue film) yaitu sebanyak 54,39% di Jakarta, dan sebesar 49,2% di Yogyakarta. Motivasi utama melakukan  senggama adalah suka sama suka yaitu sebesar 76% di Jakarta, dan sebanyak 75,6% di Yogyakarta, kebutuhan biologik sebesar 14-18%, dan merasa kurang taat pada nilai agama sebesar 20-26%. Hasil Penelitian Departemen Kesehatan diperkuat dengan penelitian Sahabat Remaja tentang perilaku seksual di empat kota besar yaitu di Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 8,5% remaja di kota Yogyakarta, 3,6% remaja di kota Medan, 3,4% remaja di kota Surabaya, dan 31,1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif (Sugiharta, 2004).&lt;br /&gt;Perilaku hubungan seksual pranikah juga terjadi di ..................... Data yang diperoleh dari Pusat Informasi dan Layanan Remaja (PILAR) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Propinsi ................ dari bulan Januari 2005 hingga bulan April 2009 telah tercatat sebanyak ......... remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah, dimana ........ (........%) remaja putri hingga mengalami hamil pranikah, ...... remaja (..........%)  mengalami IMS (Infeksi Menular Seksual), ....... remaja (.......%) mengalami disfungsi seksual, dan ....... remaja putri (.......2%) melakukan aborsi (........, 2010).&lt;br /&gt;Di ..........................., dilakukan penelitian terhadap ..........responden pelajar SMP-SMU dan menemukan bahwa ...........% remaja putra dan ........% remaja putri pernah melakukan hubungan seksual. Pada tahun yang sama terdapat survey .......... remaja yang hamil tanpa dikehendaki. Survey yang dilakukan . juga memaparkan bahwa mayoritas dari mereka berpendidikan SMA keatas, ........% diantaranya berusia 15-20 tahun. Dan .......% berusia 20-25 tahun. &lt;br /&gt;Fenomena tersebut dapat dimengerti karena sekarang ini cara berpacaran remaja tidak cukup hanya bergandengan tangan tetapi sudah jauh dari itu, yaitu melalui perilaku berpelukan, berciuman bahkan sampai melakukan hubungan seksual secara aktif. Hal ini sebagai  imbas pola pergaulan yang semakin bebas. Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin yang berbeda dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai akibat dari ketidaktahuan dan kurang luasnya wawasan, orang tua masih menganggap bahwa pendidikan seks sangat tabu dan tidak bisa diberikan secara terbuka kepada anak. Tidak adanya pendidikan seks yang memadai dan pandangan orang tua yang menabukan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan tentang seks membuat anak lebih cenderung terkena imbas seks dari pergaulan bebas baik dari lingkungan masyarakat maupun lingkungan sebaya (Arida, 2005).&lt;br /&gt;Dampak dari hubungan seksual pranikah adalah perasaan bersalah dan berdosa saat kali pertama, ketagihan, kehamilan sehingga terpaksa menikah atau aborsi, kematian &amp; kemandulan akibat aborsi, resiko terkena Penyakit Menular Seksual atau HIV (Human Immunodeficieny Virus), sanksi sosial agama serta moral, hilangnya keperawanan dan keperjakaan, merusak masa depan, nama baik pribadi dan keluarga. Mengingat dampak yang timbul lebih besar dari manfaat yang diperoleh maka perlu diberikan bekal pengetahuan dan agama agar tidak melakukan hubungan seksual pranikah (Irawati, 1999).&lt;br /&gt;Studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal ..................... Maret  2010 di SMA ................... Tanjungpinang Kepri terdapat ........... siswa yang terdiri dari ......... siswa putra dan ........... siswi putri. Jumlah  siswa kelas X = laki-laki : ........, perempuan : ......; XI = laki-laki : ........, perempuan : ..........; dan XII = laki-laki : ........., perempuan : ......... Studi pendahuluan dilakukan pada 10 siswi di SMA ..................... Tanjungpinan Kepri mengenai aktivitas pacarannya. Data menunjukan aktivitas pacaran siswi, ............ hanya mengobrol, ........... orang kissing, ........ orang petting, dan 1 orang pernah intercourse. Informasi menurut guru Bimbingan Penyuluhan (BP) terdapat kejadian hamil diluar nikah pada tahun 2008 sampai 2010 sebanyak ........orang dari data-data diatas beberapa siswa telah mengetahui pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan hubungan seks pranikah..&lt;br /&gt;Berdasarkan data tersebut, perlu diidentifikasi bagaimana Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 14 Desember 2009 di SMA ........................ Tanjung Pinang Kepri yang dilakukan pada 10 siswi mengenai aktivitas pacarannya. Data menunjukan aktivitas pacaran siswi, ......... hanya mengobrol, ........ orang kissing, ......... orang petting, dan ......... orang pernah intercourse. Informasi menurut guru Bimbingan Penyuluhan (BP) terdapat kejadian hamil diluar nikah pada tahun 2008 sampai 2010 sebanyak ........ orang, maka dapat dirumuskan masalah “Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ……………… Tanjungpinang Kepri ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ……………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pada remaja putri yang meliputi tahu (know) tentang  kesehatan Reproduksi di SMA ............................. Tanjungpinang kepri .&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi sikap pada remaja putri tentang seks pranikah di SMA ............................. Tanjungpinang kepri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1. Bagi Remaja Putri &lt;br /&gt;Untuk memberi pengetahuan pada remaja putri agar mampu mencegah perilaku seks bebas.&lt;br /&gt;2. Bagi Peneliti &lt;br /&gt;Untuk menambah wawasan dalam melaksanakan penelitian dan mengembangkan penelitian yang lebih luas di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;3. Bagi Instansi Pendidikan SMA 1....................&lt;br /&gt;Mendapatkan masukan dan mengetahui perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi terutama perilaku seksual pranikah sebagai landasan pengambilan kebijakan ataupun dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Ruang Lingkup Penelitian &lt;br /&gt;Ruang lingkup penelitian ini adalah Hubungan tingkat pengetahuan pada remaja putri yang meliputi tahu (know) tentang  kesehatan Reproduksi di SMA ..........................  Penelitian dilakukan pada remaja  SMA ....... tanjung pinang  bulan Mei 2011 dengan menggunakan desain cross sectional&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4003918068434545022?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4003918068434545022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/07/kti-kebidanan-baru-hubungan-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4003918068434545022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4003918068434545022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/07/kti-kebidanan-baru-hubungan-antara.html' title='KTI KEBIDANAN BARU : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG HUBUNGAN SEKS PRANIKAH'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-428289666943235765</id><published>2011-06-30T18:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T18:38:43.165-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN BARU 2011 : HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN PENYAKIT PNEUMONIA  DI  DESA xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU LENGKAP + KUESIONER HUB : Hp. 081 225 300 100 MURAH MERIAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;br /&gt;ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas (paru) salah satunya adalah pneumonia. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pneumonia merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Pneumonia berbahaya karena dapat menyebabkan kematian, karena paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh (Depkes RI, 2007).&lt;br /&gt;Komitmen global tentang kesehatan anak telah dicanangkan oleh masyarakat dunia, antara lain dalam pertemuan United Nations Spesial Session on Chilren di New York tahun 2002, yang menegaskan kembali tujuan dari dokumen Millennium Development Goals. Dimana dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa salah satu tujuannya adalah menurunkan 2/3 kematian balita pada rentan waktu antara tahun 1990-2015. Tujuan tersebut belum tercapai secara merata khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah menurunkan sepertiga kematian karena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) (Dinkes, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pneumonia telah menjadi masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya yang tinggi. Hal ini tidak saja terjadi dinegara berkembang, namun juga di negara maju. Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 memperkirakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19 persen atau berkisar 1,6 – 2,2 juta. Dimana sekitar 70 persennya terjadi di negara-negara berkembang, terutama Afrika dan Asia Tenggara. World Pneumonia Day (WPD) melaporkan Indonesia menjadi negara dengan kejadian pneumonia urutan ke-6 terbesar di dunia. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Angka kematian pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21%. Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Di Jawa Tengah sendiri cakupan penemuan penderita pneumonia tahun 2009 sebesar 25,9% mengalami peningkatan bila dibanding dengan cakupan tahun 2008 yang mencapai 23,6%. Untuk Kota Xxx kejadian pneumoni diperkirakan berjumlah 31,6% (Unicef, 2006) (Dinkes, 2009).&lt;br /&gt;Dr. I. Boediman, Sp. A (K) dalam seminar World Pneumonia Day 2010 mengungkapkan bahwa Anak yang sehat memiliki sistem pertahanan tubuh yang melindungi paru dari kuman. Anak dengan sistem pertahanan tubuh lemah seperti anak gizi buruk terutama karena tidak mendapat ASI eksklusif, kekurangan vitamin A, danmenderita campak memiliki risiko pneumonia tinggi (Sutriyanto,2011).&lt;br /&gt;Tingginya angka penyakit infeksi saluran pernafasan pada bayi berkaitan dengansanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan yang tidak memadai dandisertai cakupan imunisasi yang masih rendah. Penyakit infeksi saluran pernafasan pada bayi juga dipengaruhi oleh pola pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping ASI. Pada bayiyang telahdiberikan makanan sebelum usia 4-6 bulan atau bahkan beberapa saatsetelah kelahiran dapat menyebabkan bayi mudah terserang penyakit infeksi(LIPI 2004).&lt;br /&gt;======================================================================================================================================(+++++++, 2010).&lt;br /&gt;Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No. 450/Menkes/SK/IV/2004. ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman, kecuali obat dan vitamin. Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu (Dinkes, 2009).&lt;br /&gt;Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, ASI bisa menurunkan kematian hingga 17 persen pada kelahiran baru (neonatal) dan 12 persen pada anak di bawah lima tahun. Angka kematian bayi baru lahir secara nasional adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian anak di bawah lima tahun mencapai 44 anak per 1.000 kelahiran hidup. Namun yang patut disayangkan tingkat pemberian ASI secara eksklusif di tanah air hingga saat ini masih sangat rendah. Baru sekitar 22 persen ibu melahirkan memberikan ASI eksklusif pada bayinya.Hasil riset terakhir peneliti menunjukkan bahwa bayi yang mendapat makanan pendamping sebelum berusia 6 bulan (Non ASI Eksklusif) akan lebih sering terserang diare, sembelit, ISPA (Soraya, 2005)(Suprihadi, 2010).&lt;br /&gt;=======================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================================&lt;br /&gt;Dilihat dari data tersebut ternyata masih banyak ibu menyusui yang memberikan MP-ASI pada bayi berusia 0-6 bulan sehingga bayi tidak memperoleh ASI eksklusif, dan juga masih tingginya kejadianpneumonia. Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian penyakit pneumonia di wilayah Desa xxxx Xxx.&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Masalah dalam penelitian ini adalah “====================================================================================================================================================================================================?”&lt;br /&gt;C. Tujuan&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian penyakit pneumonia di wilayah Desa xxxx Xxx.&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Mendiskripsikan ibu yang memberi ASI Eksklusif di wilayah Desa xxxx Xxx.&lt;br /&gt;b. Mendiskripsikan kejadian penyakit pneumonia di wilayah Desa xxxx Xxx.&lt;br /&gt;c. Menganalisishubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian penyakit pneumonia di wilayah Desa xxxx Xxx.&lt;br /&gt;D. Manfaat penelitian&lt;br /&gt;1. Bagi institusi pendidikan&lt;br /&gt;Dapat dijadikan pedoman bagi mahasiswa dalam memberikan Pendidikan Kesehatan di masyarakat tentang pemberian ASI Eksklusif dan penyakit Pneumonia.&lt;br /&gt;2. Bagi Puskesmas&lt;br /&gt;Sebagai bahan masukan atau bahan pertimbangan bagi Puskesmas guna pengembangan program upaya penurunan pneumonia dan peningkatan ASI eksklusif.&lt;br /&gt;3. Bagi masyarakat&lt;br /&gt;Dapat menerapkan hasil penelitian ini dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga sendiri ataupun dalam memotivasi orang lain.Khususnya ibu yang memiliki balita diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan pneumonia.&lt;br /&gt;4. Bagi peneliti&lt;br /&gt;Dapat benar-benar mengerti hal-hal yang paling berdampak untuk memotivasi ibu agar memberikan ASI Eksklusif, serta sebagai referensi penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Keaslian penelitian&lt;br /&gt;No Nama, Tahun, Judul Variabel Sasaran Jenis Penelitian Hasil&lt;br /&gt;1. Sumari Sasmito,&lt;br /&gt;(2008)&lt;br /&gt;Hubungan pemberian ASI dengan kejadian penyakit ISPA pada bayi di Puskesmas Bandar Agung Kec Sragi Kab Lampung Selatan tahun 2007 a. Independen :&lt;br /&gt;Air Susu Ibu (Eksklusif, Non Eksklusif) dan Pengetahuan.&lt;br /&gt;b. Dependen :&lt;br /&gt;Kejadian penyakit ISPA pada bayi Populasi :&lt;br /&gt;Seluruh ibu yang mempunyai bayi umur 0-11 bulan.&lt;br /&gt;Sampel : &lt;br /&gt;126 ibu yang mempunyai bayi umur 0-11 bulan Rancangan penelitian cross sectional dan metode penelitian diskriptif korelasi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terdapathubungan yang signifikan antara pemberian ASI terhadap kejadian penyakit ISPA pada bayi di PuskesmasBandar Agung Kec Sragi Kab LampungSelatan.&lt;br /&gt;2. Aji Yuwono&lt;br /&gt;(2008)&lt;br /&gt;Faktor-Faktor Lingkungan Fisik Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian&lt;br /&gt;Pneumonia pada Anak Balita di Wilayah kerja Puskesmas Kawunganten&lt;br /&gt;Kabupaten Cilacap&lt;br /&gt; a. Independen :&lt;br /&gt;Lingkungan fisik rumah&lt;br /&gt;b.  Dependen :&lt;br /&gt;Kejadian penyakit pneumonia pada balita Populasi :&lt;br /&gt;Pada Bulan Januari -&lt;br /&gt;Nopember tahun 2007 tercatat sebanyak 325 anak balita Sampel : &lt;br /&gt;Jumlah sampel kasus&lt;br /&gt;sebanyak 66 anak balita penderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas&lt;br /&gt;Kawunganten. Rancangan penelitian case control dan metode penelitian retrospectiv study Jenis lantai, kondisi dinding rumah, luas&lt;br /&gt;ventilasi rumah, tingkat kepadatan hunian, tingkat kelembaban, penggunaan jenis&lt;br /&gt;bahan bakar kayu &amp;kebiasaan anggota keluarga yang merokok mempunyai&lt;br /&gt;hubungan dengan kejadian pneumonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan dengan rencana penelitian :&lt;br /&gt;Rencana peneliti akan menelitihubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian penyakit pneumonia di wilayah Desa xxxx Xxx. Peneliti akan menggunakan metode deskriptif korelasi, dengan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita di wilayah Bangetayu Kulon Kec Genuk Kota Xxx, yang berjumlah 659 orang.Variabel independen yang digunakan adalah pemberian ASI Eksklusif, dan dependen yang digunakan adalah kejadian penyakit pneumonia.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tinjauan Teori &lt;br /&gt;1. Infeksi saluran pernafasan akut ( ISPA)&lt;br /&gt;ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Salah satu yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga sinusitis. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia. (Depkes RI, 2007).&lt;br /&gt;2. Pneumonia&lt;br /&gt;1) Definisi&lt;br /&gt;Suatu peradangan pada jaringan paru (alveoli) atau parenkim paru yang terjadi pada anak. (Suriadi, 2006)&lt;br /&gt;2) Klasifikasi (Depkes RI, 2007)&lt;br /&gt;Dibagi menjadi 2, yaitu :&lt;br /&gt;1) Umur &lt;2 bulan&lt;br /&gt;a) Pneumonia berat&lt;br /&gt;(1) Nafas cepat &gt; 60 x/menit&lt;br /&gt;(2) Tarikan dinding dada bagian bawah kedalaman kuat&lt;br /&gt;b) Bukan pneumonia&lt;br /&gt;(1) Tidak ada nafas cepat&lt;br /&gt;(2) Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah&lt;br /&gt;2) Untuk umur 2 bulan – 5 tahun&lt;br /&gt;a) Pneumonia berat&lt;br /&gt;(1) Tarikan dinding dada bagian bawah kedalam&lt;br /&gt;b) Pneumonia &lt;br /&gt;(1) Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah dalam&lt;br /&gt;(2) Nafas cepat (2 bulan- 1 tahun ≥ 50 x/menit)&lt;br /&gt;(3) Nafas cepat (1 tahun- 5tahun &gt; 40 x/menit)&lt;br /&gt;c) Bukan pneumonia&lt;br /&gt;(1) Tidak ada tarikan dinding dada&lt;br /&gt;3) Etiologi &lt;br /&gt;  Pneumonia disebabkan oleh satu atau lebih agens berikut: virus, bakteri, mikroplasma, dan aspirasi substansi asing. Ciri klinis Pneumonia Bakteri, Virus, dan Mikroplasma(Cecily, 2002).&lt;br /&gt;1) Pneumonia bakteri&lt;br /&gt;Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. &lt;br /&gt;2) Pneumonia virus&lt;br /&gt;Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak, gangguan ini bisa memicu pneumonia.  Sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian. Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan.&lt;br /&gt;Virus penyebabnya adalah  virus influenza, adenovirus, ribela, varisela, sitomegalovirus manusia, dan virus sinsisium pernafasan.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-428289666943235765?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/428289666943235765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-baru-2011-hubungan-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/428289666943235765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/428289666943235765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-baru-2011-hubungan-antara.html' title='KTI KEBIDANAN BARU 2011 : HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN PENYAKIT PNEUMONIA  DI  DESA xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2921445171481556720</id><published>2011-06-30T05:32:00.001-07:00</published><updated>2011-06-30T05:35:01.799-07:00</updated><title type='text'>KTI DIV KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI BPS xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;INI DAH LENGKAP BAB 1-6, KUESIONER + HASIl OLAH DATA MURAH HUB Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kekurangan zat besi sejak sebelum hamil bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Kekurangan zat besi juga mengakibatkan kekurangan hemoglobin (Hb) dimana zat besi sebagai salah satu unsur pembentukannya. (Arifin, 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Prawiroharjo (2002) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992, bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia  gizi. Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20%. (Amiruddin, 2007)&lt;br /&gt;Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Perkiraan prevalensi anemia secara global sekitar 50%. Bandingkan dengan prevalensi untuk anak balita sekitar 43%, anak usia sekolah 37%, lelaki dewasa hanya 18% dan wanita tidak hamil meningkat sampai sebesar 55%. Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat dan atau vitamin B12 yang kesemuanya berakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati rendah (buruk) dan kecacingan masih tinggi. (Arisman, 2004 : 144)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Jawa Tengah ibu hamil pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi anemia adalah 57,7%. Masih lebih tinggi dari angka nasional yakni 50,9% (BPS, 2007 Profil Kesehatan Jawa Tengah). Pada tahun 2008 jumlah ibu hamil di kota Semarang berjumlah 29.261 orang. Ibu hamil yang diukur kadar Hb kurang dari 10 gr% ada 20,79%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008)&lt;br /&gt;Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita, bumil, bufas, remaja putri, dan WUS (Wanita Usia Subur). Hasil survey anemi ibu hamil pada 15 kabupaten/ kota pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi anemia di Jawa Tengah adalah 57,7%, angka ini masih lebih tinggi dari angka nasional yakni 50,9%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008)&lt;br /&gt;Penanggulangan anemia pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar 87,06%, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2007 sebesar 85,91%. Meskipun mengalami peningkatan, angka tersebut masih di bawah target SPM 2010 sebesar 90%. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan yaitu sebesar 98,95% dan yang terendah adalah di Kabupaten Kebumen sebesar 41,89%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008)&lt;br /&gt;Pada tahun 2008 pemberian tablet (Fe)1 28.440 bumil (101,56) dan cakupan (Fe)3 25.801 bumil (92,14). Hal ini menunjukan bahwa penjaringan pertama pada ibu hamil sudah dapat dilaksanakan sesuai target namun untuk penjaringan selanjutnya (Fe)3 90 tablet tidak dapat mencakup jumlah tersebut. Secara keseluruhan angka tersebut telah memenuhi target yang telah ditentukan yaitu untuk  (Fe)1 90% dan untuk Fe2 82%. Keberhasilan pencapaian target dikarenakan persediaan tablet Fe yang mencukupi dan juga pelaksaan kegiataan melalui koordinasi dan kerjasama dengan lintas program dan sektoral yang terkait. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008)&lt;br /&gt;Di semarang, Ibu hamil yang mempunyai tingkat konsumsi Fe kurang yaitu 57,9%, Ibu hamil yang minum tablet besi dengan menggunakan air teh ada 56,9% dan sisanya dengan air putih, air sirup, dan pisang. Jumlah rata-rata tablet besi yang diperoleh responden selama hamil 159,47 tablet. Konsumsi tablet besi yang diperoleh ibu hamil rata-rata 61,11 tablet dengan jumlah terendah 15 tablet dan tertinggi 96 tablet. Presentase tablet besi yang diminum ibu hamil dibandingkan dengan tablet besi yang diperoleh 38,32%. Proporsi kadar Hb ibu hamil Trimester III diperoleh hasil 63,2% memiliki kadar Hb&lt;11 gr%. Melihat tingginya proporsi anemia maka disarankan pada ibu hamil untuk meningkatkan konsumsi protein hewani terutama golongan Meat factor, menghindari konsumsi tablet besi dengan air teh, perlunya sistim pantau konsumsi tablet besi dari pihak puskesmas dan peningkatan konsumsi vitamin C pada ibu hamil terutama dari makanan sehari-hari. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008)&lt;br /&gt;Menurut hasil penelitian dari Amatullah (2009) kurangnya pemanfaatan ANC pada ibu hamil sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia karena ibu hamil tidak terpantau dengan baik status gizinya dan kadar Hbnya. Berdasarkan data DINKES (Dinas Kesehatan) Kabupaten Xxx diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami anemia tahun 2007 berkisar 29,5% dengan menetapkan HB 11 gr % sebagai dasarnya. Pada tahun 2008 angka kejadian anemia pada ibu hamil meningkat yaitu menjadi 33,5% dengan penetapan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. (Dinkes Kabupaten Xxx, 2009)&lt;br /&gt;Dari hasil survey di dapatkan ibu hamil di BPS Ny. Fitri pada tahun 2009 berjumlah 514 orang, dimana ibu hamil yang menderita anemia sebanyak 124 orang (24%) sedangkan pada tahun 2010 berjumlah 483 orang dengan ibu hamil yang menderita anemia sebanyak 130 orang (27%). Dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan ibu hamil yang menderita anemia dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebanyak 3%. Termasuk masih banyak ibu hamil yang menderita anemia setiap tahunnya. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa ibu hamil yang menderita anemia dikarenakan cara mengkonsumsi tablet besi yang salah, seperti waktu dan cara minum tablet besi. Banyak diantara mereka yg tidak rutin mengkonsumsi tablet besi pada malam hari, dan bahkan mengkonsumsi dengan menggunakan air teh. Hal tersebut diatas menggambarkan kurangnya pengetahuan pada ibu hamil. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu“ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Dimana pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.&lt;br /&gt;Berdasarkan dari data diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx Tahun 2011“.&lt;br /&gt;B. Rumusan  Masalah&lt;br /&gt;“Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap Kejadian Anemia Di BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx Tahun 2011?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx tahun 2011.&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx tahun 2011&lt;br /&gt;b. Mendeskripsikan kejadian anemia ibu hamil di BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx tahun 2011&lt;br /&gt;c. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1. Untuk Instansi Kesehatan&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberikan acuhan dan informasi dalam peningkatan program pencapaian target penurunan angka kejadian anemia pada ibu hamil&lt;br /&gt;2. Untuk Instansi Pendidikan&lt;br /&gt;Diharapkan dapat sebagai masukan bagi pengembangan pendidikan kebidanan terutama tentang pengetahuan ibu hamil tentang tablet besi&lt;br /&gt;3. Untuk Masyarakat&lt;br /&gt;Diharapkan dapat sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar mereka lebih memahami tentang kesehatan terutama anemia ibu hamil dan manfaat tablet besi&lt;br /&gt;4. Untuk Peneliti&lt;br /&gt;Diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh dengan mengidentifikasi dan menganalisa suatu permasalahan di lapangan serta memperluas penelitian tentang hal-hal yang berkaitan dengan tablet besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Keaslian Penelitian&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2921445171481556720?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2921445171481556720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-div-kebidanan-new-hubungan-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2921445171481556720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2921445171481556720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-div-kebidanan-new-hubungan-tingkat.html' title='KTI DIV KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI BPS xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4077960081561588959</id><published>2011-06-27T08:00:00.001-07:00</published><updated>2011-06-27T08:03:06.726-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN NEW 2011 : HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN PARITAS DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS XXX KOTA XXX</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEGERA HUBUNGI KAMI HP. 081 225 300 100 untuk dapetin bab 1-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) didefinisikan oleh WHO sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr .Definisi ini berdasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan bahwa bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram mempunyai kontribusi terhadap kesehatan yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurunkan insiden BBLR hingga sepertiganya menjadi salah satu tujuan utama “ A World Fit For Children” hingga tahun 2010 sesuai deklarasi dan rencana kerja United Nations General Assembly Special Session on Children in 2002. Lebih dari 20 juta bayi diseluruh dunia (15,5%) dari seluruh kelahiran, merupakan BBLR di Asia adalah 22% (Rahayu,2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari umur kehamilan 37 minggu sampai dengan umur kehamilan 42 minggu dengan berat badan lahir 2500 gram – 4000 gram (Depkes, 2003). Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499) (Sarwono, 2006). Oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya, makin sulit dan makin banyak persoalan yang akan dihadapi, dan makin tinggi angka kematian peritanal (Rustam, 2008).&lt;br /&gt;Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). (Manuaba, 2008). Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi berumur 0 baru lahir sampai usia empat minggu atau usia satu bulan sesudah lahir (Ramali, 2003). &lt;br /&gt;Pemerintah mengeluarkan kebijakan antara lain dengan adanya program Safe Motherhood yang meliputi : Keluarga Berencana, Asuhan Antenatal, Persalinan Bersih dan Aman, Asuhan Pasca Natal, Asuhan Obstetri Esensial dan Asuhan Pasca Keguguran. Upaya pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi diantaranya dengan asuhan persalinan normal yang mempunyai prinsip persalinan bersih dan aman. Di mana dengan adanya asuhan ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian bayi. (Sarwono, 2002)&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009 Angka Kematian Bayi (AKB) khususnya angka kematian bayi baru lahir tercatat 26 per 1000 kelahiran hidup. Tiga penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia yaitu BBLR sekitar 29% dan Tetanus Neonatorum sekitar 10%. Selebihnya adalah infeksi sebanyak 5%, gangguan hematologi 6%, masalah pemberian makanan 10% serta lain-lain sekitar 13%. (http:www.suaramerdeka.co.id//edisi:5 Januari 2007).&lt;br /&gt;Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah AKB di Jawa Tengah tahun 2006, menurut Survey Kesehatan Daerah 8,3 per 1000 kelahiran hidup atau terjadi penurunan bila dibanding AKB tahun 2005 sebesar 23,71 per 1000 kelahiran hidup dan angka kejadian bayi dengan BBLR terus meningkat dari tahun 2004 sebesar 74,45% menjadi 90,86% pada tahun 2005, menjadi 93,54% pada tahun 2006 dan 96,34% tahun 2007 ( Dinkes Jateng, 2008).&lt;br /&gt;Adapun beberapa penyebab terjadinya bayi lahir dengan berat badan rendah diantaranya kehamilan di bawah umur 20 tahun merupakan kehamilan yang beresiko tinggi. Angka kesakitan dan kematian ibu demikian pula bayi, 2-4 kali dibandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur (Unicef, 2002). Pada umur tersebut fungsi dari alat reproduksi belum siap, sehingga mengakibatkan banyak resiko.&lt;br /&gt;Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim dengan umur kehamilan 28 minggu (Pusdiknakes, 2003). Adapun pembagian paritas yaitu pertama primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali melahirkan dimana janin mencapai usia kehamilan 28 minggu atau lebih (Pusdiknakes, 2003). Yang kedua yaitu multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami hamil dengan usia kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilannya 2 kali atau lebih. (Pusdiknakes, 2003). Yang ketiga yaitu grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami hamil dengan usia kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilannya lebih dari 5 kali. (Wikjosastro, 2002).&lt;br /&gt;Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. (Supariasa, 2002). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah mengindikasikan anemia. (Supariasa dkk, 2002). Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar hemoglobin berada di bawah normal. Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, lebih dikenal dengan anemia gizi besi, yaitu jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah bahkan murah. &lt;br /&gt;Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Xxx, Angka Kematian Bayi pada tahun 2008 sebanyak 94 orang (7,15%), penyebabnya yaitu BBLR : 38 orang (39,17%), asfiksia : 46 orang (47,42%) dan lain-lain : 12 orang (12,37%) ( DinKes Kota Xxx, 2008).&lt;br /&gt;Di wilayah kerja Puskesmas Xxx Bulan Januari sampai dengan Desember 2010 terdapat 615 kelahiran yang melahirkan cukup bulan (&gt;37 minggu) dengan berat badan bayi lahir 2500-4000 gram sebanyak 551 bayi (89,59%), dan berat badan bayi &gt; 4000 gram sebanyak 35 bayi (5,69%), kemudian 29 bayi (4,72%) bayi lahir &lt; 2500 gram atau dengan BBLR. Berdasarkan jumlah 615 kelahiran tahun 2010 jumlah paritas ibu dengan primipara sebanyak 151 ibu (24,55%), ibu dengan multipara sebanyak 397 ibu (64,55%), sedangkan ibu dengan grandemultipara sebanyak 67 ibu (10,89%). &lt;br /&gt;Berdasarkan data diatas, maka peneliti tertarik ingin, meneliti tentang adakah hubungan kadar Hb dan paritas dengan berat badan bayi baru lahir di Puskesmas Xxx Kota Xxx. Oleh karena itu, saya tertarik melakukan penelitian ini yang berjudul “Hubungan Kadar Hb dan Paritas dengan Berat Badan Bayi Baru Lahir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Dari uraian masalah diatas dapat disimpulkan suatu masalah yaitu adakah HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN PARITAS DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS XXX KOTA XXX?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dan paritas dengan berat badan bayi baru lahir di puskesmas xxx kota Xxx&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Mengidentifikasi distribusi frekuensi karakteristik responden di Puskesmas Xxx kota Xxx.&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi kadar Hemoglobin ibu hamil di Puskesmas Xxx kota Xxx.&lt;br /&gt;c. Mengidentifikasi paritas ibu di Puskesmas Xxx kota Xxx.&lt;br /&gt;d. Mengidentifikasi berat badan bayi baru lahir di Puskesmas Xxx kota Xxx.&lt;br /&gt;e. Menganalisa hubungan kadar Hemoglobin dan paritas dengan berat badan bayi baru lahir di Puskesmas Xxx kota Xxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.   Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1. Bagi Ibu&lt;br /&gt;Agar ibu dapat mengetahui tentang berat badan bayi baru lahir dan beberapa faktor yang bisa mempengaruhi berat badan bayi baru lahir sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan bagi keluarga dan generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Bagi Masyarakat &lt;br /&gt;Agar masyarakat dapat ikut mengetahui, memahami tentang berat badan bayi baru lahir, sehingga bisa memberikan wawasan dan suport kepada para ibu untuk memperhatikan kesehatan dan status gizi selama hamil.&lt;br /&gt;3. Bagi Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;Agar dapat memberikan pelayanan, penyuluhan dan perawatan pada ibu baik sebelum, selama dan sesudah kehamilan, sehingga bayi yang dilahirkan dalam kondisi sehat, normal untuk mengurangi angka kesakitan dan angka kematian bayi. &lt;br /&gt;4. Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Peneliti dapat mengaplikasikan mata kuliah Metode Penelitian, Asuhan Kebidanan dan Ilmu Kesehatan Anak serta menambah pengalaman bagi peneliti dalam melakukan penelitian selanjutnya, agar dapat memberikan pelayanan, penyuluhan dan konseling tentang kadar hemoglobin dan paritas yang berhubungan pada berat badan bayi baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Keaslian Penelitian&lt;br /&gt;No Nama Judul Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Variabel Sampel Hasil&lt;br /&gt;1 Puji Hastuti 2010 Hubungan antara karakteristik ibu dengan berat badan bayi baru lahir di RSUD Kudus Kabupaten Kudus Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional  Variabel independen dalam penelitian ini adalah umur, paritas dan pendidikan ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah berat badan bayi baru lahir Sampel dalam penelitian ini yaitu semua bayi baru lahir hidup normal di RSUD Kudus Terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan berat badan bayi baru lahir di RSUD Kudus&lt;br /&gt;2 Mintarti 2009 Hubungan status gizi ibu hamil : indeks massa tubuh dengan berat badan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Sayung I Kabupaten Demak Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional Variabel independen dalam penelitian ini adalah status gizi ibu hamil : IMT. Variabel dependen dalm penelitian ini adalah berat badan bayi baru lahir Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 89 responden Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi ibu hamil : IMT dengan berat badan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Sayung I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan antar penelitian sebelumnya dengan penelitian yang peneliti lakukan saat ini. Perbedaan tersebut terletak pada judul, tahun, variabel, metode penelitian, populasi dan sampel.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4077960081561588959?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4077960081561588959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-new-2011-hubungan-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4077960081561588959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4077960081561588959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-new-2011-hubungan-antara.html' title='KTI KEBIDANAN NEW 2011 : HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN PARITAS DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS XXX KOTA XXX'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-1511534623172006452</id><published>2011-06-27T07:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-27T07:58:47.025-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN ANTARA USIA DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI  RS xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AYO MAU LEBIH LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Menurut laporan WHO (1996), sekitar 98-99% kematian maternal terjadi di negara berkembang. Sekitar sepertiga kematian terjadi akibat pertolongan pengguguran kandungan yang tidak aman dan tidak bersih. Penyebab utama masih tetap trias penyebab kematian berupa perdarahan 60 %, infeksi 25 %, dan gestosis 15 %. Penyebab lainnya hanya menimbulkan kematian pada 5 % kematian maternal. )&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kontribusi angka kematian  ibu dan anak di Indonesia cukup besar, dimana kematian maternal  terjadi setiap 2,0-2,5 menit (Manuaba 2007).&lt;br /&gt;Menurut survei demografis kesehatan Indonesia tahun 2007, angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup (BKKBN 2008). Kematian maternal di Indonesia adalah yang tertinggi di antara negara di ASEAN (Marshall 2006). Menurut WHO, pada tahun 1999 telah mengeluarkan panduan  “Making Pregnancy Safer” sebagai prioritas setiap negara dan pada tahun 2000, para negara anggota PBB mengadopsi Milenium Development Declaration yang memberi penekanan pada kesehatan ibu serta kehamilan dan persalinan yang aman dalam perkembangan di setiap negara. Sasarannya ialah mengurangi angka kematian ibu sebesar 75 % antara tahun 1990-2015 (Manuaba 2007).&lt;br /&gt;Penyebab kematian tertinggi yaitu perdarahan (Widyastuti 2003). Perdarahan pada masa kehamilan dapat terjadi pada kehamilan muda maupun kehamilan tua.  Diperkirakan seperempat dari jumlah semua wanita hamil sedikit banyak akan mengalami perdarahan melalui vagina dalam masa hamil muda. Perdarahan yang banyak terjadi diawal kehamilan merupakan salah satu sebab utama dari kematian ibu (Rayburn 2001).&lt;br /&gt;Salah satu jenis perdarahan pada kehamilan muda adalah abortus. Tampaknya sekarang ini hampir dapat dipastikan bahwa satu dari setiap lima kehamilan berakhir dengan abortus spontan (Goleman 2000). Abortus didefinisikan sebagai keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas yaitu pada kehamilan kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram. Abortus spontan yang juga sering dikenal dengan istilah “keguguran” terjadi tanpa perlu induksi. Diagnosis abortus spontan terjadi dalam berbagai bentuk diantara yaitu abortus imminen (keguguran mengancam), abortus insipien (keguguran berlangsung), abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap), abortus kompletus (keguguran lengkap), abortus tertunda (missed abortion) dan abortus habitualis (keguguran berulang) (Murphy 2000).&lt;br /&gt; Kejadian abortus spontan secara umum pernah disebutkan sebesar 10 % dari seluruh kehamilan. Lebih dari 80 % abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Kelainan kromosom merupakan penyebab paling sedikit separuh dari kasus abortus dini ini, selain itu banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus antara lain : paritas, umur ibu, umur kehamilan, kehamilan tidak diinginkan, kebiasaan buruk selama hamil, serta riwayat keguguran sebelumnya. Frekuensi abortus yang secara klinis terdeteksi meningkat dari 12 % pada wanita berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26 % pada wanita berumur 40 tahun sehingga kejadian perdarahan spontan lebih berisiko pada ibu dibawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun (Cunningham 2005). Penyebab abortus sendiri bisa berasal dari faktor janin, faktor maternal, maupun faktor eksternal (Krisnadi, dkk 2004).&lt;br /&gt;Hal di atas menunjukkan suatu realita yang harus diketahui oleh wanita hamil bahwa ia bisa terancam keguguran. Pada kenyataannya, data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah angka kejadian komplikasi kebidanan termasuk abortus di dalamnya di Jawa Tengah pada tahun 2009 masih tinggi yaitu sebesar 125.841 atau 20% dari jumlah ibu hamil dan untuk Kota Salatiga yaitu sebesar 799 dari 3429 jumlah ibu hamil. Dari catatan rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga dari bulan November 2010 - Februari 2011 terjadi 48 kasus abortus spontan dari 173 jumlah ibu hamil dengan jumlah abortus imminen 23 (47,91 %), abortus inkomplete 16 (33,35 %), abortus komplet 7 (14,58 %), abortus tertunda 1 (2,08 %) dan abortus insipien 1 (2,08 %).&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti HUBUNGAN ANTARA USIA DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI RUMAH SAKIT xxx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu pertanyaan : “Adakah hubungan antara faktor usia dan paritas pada ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui hubungan antara faktor usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011.&lt;br /&gt;2. Tujuan khusus&lt;br /&gt;a. Mengidentifikasi jumlah ibu hamil yang mengalami abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga  periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011.&lt;br /&gt;b. Mengetahui distribusi ibu hamil yang mengalami abortus spontan berdasarkan usia ibu.&lt;br /&gt;c. Mengetahui distribusi ibu hamil yang mengalami abortus spontan berdasarkan jumlah paritas.&lt;br /&gt;d. Menganalisis hubungan antara usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan manfaat baik manfaat praktis maupun manfaat teoritis.&lt;br /&gt;1. Manfaat bagi peneliti&lt;br /&gt;Untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam membuat karya tulis dan sebagai salah satu pengalaman belajar di STIKES xxxx.&lt;br /&gt;2. Manfaat bagi tempat penelitian&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang kejadian abortus spontan dan rencana tindak lanjut program di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga.&lt;br /&gt;3. Manfaat bagi institusi pendidikan&lt;br /&gt;Dapat dijadikan sebagai perbendaharaan perpustakaan/ referensi penelitian bagi STIKES Karya Husada Semarang.&lt;br /&gt;4. Manfaat bagi masyarakat&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran masyarakat khususnya bagi ibu hamil untuk mengetahui risiko kehamilan pada paritas dan usia tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Keaslian Penelitian&lt;br /&gt;No Nama, Tahun, Judul Variabel Sasaran Jenis Penelitian Hasil&lt;br /&gt;1. Kusniati,&lt;br /&gt;(2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Beberapa Faktor Ibu dengan Kejadian Abortus Spontan di Rumah Sakit Ibu dan Anak An Ni’mah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Januar-Juni 2007 a. Independen:&lt;br /&gt;Riwayat abortus spontan, usia ibu, urutan kehamilan, jarak kehamilan, dan pemeriksaan kehamilan&lt;br /&gt;b.  Dependen :&lt;br /&gt;Kejadian abortus spontan Populasi :&lt;br /&gt;Semua ibu hamil usia kehamilan &lt; 20 minggu dan ibu nifas post abortus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel : &lt;br /&gt;Di ambil secara acak sederhana sebanyak 51 responden dari 138. Metode yang digunakan dengan survei penjelasan dengan pendekatan  cross sectional Ada hubungan yang bermakna usia ibu dengan kejadian abortus spontan, dan tidak ada hubungan yang bermakana riwayat abortus spontan, urutan kehamilan, jarak kehamilan, pemeriksaan kehamilan dengan kejadian abortus spontan.&lt;br /&gt;2. Y. Widyastuti &lt;br /&gt;(2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Abortus di Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang  &lt;br /&gt; a.Independen:&lt;br /&gt;Umur, paritas, pendidikan, pendidikan, pekerjaan.&lt;br /&gt;b. Dependen :&lt;br /&gt;Kejadian Abortus Populasi :&lt;br /&gt;Seluruh ibu hamil &lt; 22 minggu yang pernah di rawat di Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Sampel : &lt;br /&gt;Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling yaitu berjumlah 163 orang  Penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional Setiap variabel berhubungan dengan kejadian abortus&lt;br /&gt;3 Ema Wahyuningrum&lt;br /&gt;(2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Ibu dan Hasil Luaran Janin pada Ibu dengan Riwayat Abortus di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004 a. Independen:&lt;br /&gt;Karakteristik ibu dengan riwayat abortus ( umur, paritas, jarak persalinan)&lt;br /&gt;b. Dependen:&lt;br /&gt;Hasil luaran janin ibu dengan riwayat abortus (prematur, BBLR, matur, abortus) Populasi : Ibu bersalin yang mempunyai riwayat abortus sebanyak 276 persalinan&lt;br /&gt;Sampel : Diambil secara total sampling dan memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki riwayat abortus terakhir, tanpa memandang paritas, dan memiliki hasil luaran janin prematur, BBLR, matur dan abortus berulang serta memiliki catatan rekam medik yang lengkap yaitu sebanyak 112. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional Karakteristik ibu dan hasil luaran janin pada ibu dengan riwayat abortus spontan dapat disimpulkan bahwa 38,39% ibu dengan riwayat abortus pada umur 25-29 tahun; 46,43% ibu dengan paritas 2-3; 64,29 % ibu dengan jarak persalinan &lt; 24 bulan. Hasil luaran janin adalah matur (75,89%), prematur (11,61%), BBLR (10,71%), dan abortus (1,79%). &lt;br /&gt;Perbedaan dengan rencana penelitian :&lt;br /&gt;Rencana peneliti akan meneliti hubungan antara usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di RSxxxx. Peneliti akan menggunakan penelitian analitik, menggunakan desain penelitian case control dengan pendekatan retrospektif. Pada penelitian ini terdapat populasi kasus dan populasi kontrol. Populasi kasus adalah semua ibu hamil yang mengalami abortus spontan yaitu sejumlah 48 sedangkan populasi kontrol adalah semua ibu hamil dengan umur kehamilan &lt; 22 minggu yang tidak mengalami abortus yaitu sejumlah 92 periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011. Variabel independen yang digunakan adalah usia dan paritas, dan dependen yang digunakan adalah kejadian abortus spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tinjauan Teori&lt;br /&gt;1. Kehamilan normal &lt;br /&gt;a. Definisi kehamilan normal&lt;br /&gt;Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Syaifuddin, 2002)&lt;br /&gt;b. Proses terjadinya kehamilan&lt;br /&gt;Proses dalam kehamilan dibagi menjadi :&lt;br /&gt;1) Oogenesis&lt;br /&gt;Mitosis pada wanita menghasilkan sebuah telur atau ovum. Proses ini terjadi di dalam ovarium khususnya pada folikel ovarium. Setiap bulan satu ovum menjadi matur dengan sebuah penjamu mengelilingi sel-sel pendukung. Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba uterina sehingga silia tuba tersebut dapat menangkap ovum dan menggerakannya sepanjang tuba menuju rongga rahim. Ovum tidak dapat berjalan sendiri.&lt;br /&gt;Ada dua lapisan jaringan pelindung yang mengelilingi ovum. Lapisan pertama berupa membran tebal tidak berbentuk yang disebut zona pelusida. Lingkaran luar yang disebut korona radiata terdiri dari sel-sel oval yang dipersatukan oleh asam hialuronat.  dianggap subur selama 24 jam setelah ovulasi. Apabila tidak difertilisasi oleh sperma, ovum berdegenerasi dan direabsorpsi.(Bobak, 2004    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-1511534623172006452?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/1511534623172006452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-new-hubungan-antara-usia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1511534623172006452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1511534623172006452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-new-hubungan-antara-usia.html' title='KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN ANTARA USIA DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI  RS xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-9209866810306493772</id><published>2011-06-20T09:41:00.000-07:00</published><updated>2011-06-20T09:43:24.454-07:00</updated><title type='text'>KTI DIV KEBIDANAN : HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN PERILAKU HUBUNGAN SEKSUAL SELAMA KEHAMILAN TRIMESTER III</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TER BARU 2011 Dapatkan MURAH Hub : Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Pasangan yang sebelum masa kehamilan memiliki hubungan yang cukup harmonis, dalam arti bisa mengkomunikasikan semua perasaannya dengan baik, umumnya dapat menikmati kehidupan seksual mereka. Namun keadaan ini juga terkait dengan keluhan kehamilan yang dialami oleh wanita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Wanita yang tidak mengalami keluhan kehamilan yang berat biasanya memang memiliki pola kehidupan seksual yang lebih teratur, sebaliknya wanita dengan keluhan kehamilan yang berat, membuat kondisi fisiknya menjadi lemah sehingga dapat menurunkan keinginannya untuk melakukan hubungan seksual (Indarti, 2004) &lt;br /&gt;Pada wanita keinginan seksual semasa hamil sebagian besar tidak berubah, bahkan sebagian kecil meningkat berkaitan dengan meningkatnya hormon estrogen. Sementara itu pada beberapa pria juga relatif mengalami peningkatan gairah seksual pada wanita hamil (Hamilton, 2007). Meskipun demikian, sebagian besar dari pasangan muda menghindari hubungan seksual karena mereka takut mencederai bayinya.&lt;br /&gt;Kehamilan merupakan proses alami yang dialami oleh wanita dan menjadi suatu peristiwa yang penting dalam kehidupannya (Manuaba, 2007). Setiap wanita membayangkan kehamilan dalam pikiran-pikirannya sendiri tentang seperti apa ibu hamil karena mereka belum pernah mengalaminya. Pemikiran seperti ini mempengaruhi bagaimana ia berespon terhadap kehamilan. Beberapa wanita berpikir kehamilan sebagai penyakit, kejelekan, atau memalukan karena bentuk tubuh yang tidak menarik lagi seperti sebelum hamil, bahkan mereka beranggapan bahwa kehamilan dapat mengganggu hubungan seksual mereka dengan suami (Hamilton, 2007).&lt;br /&gt;Sebagian perempuan merasa takut melakukan hubungan seksual saat hamil. Beberapa merasa gairah seksualnya menurun, karena tubuhnya melakukan banyak penyesuaian terhadap bentuk kehidupan baru yang berkembang di rahim. Hal tersebut biasanya terjadi apabila seorang ibu hamil memasuki trimester III. Pada saat memasuki kehamilan trimester III sebagian besar ibu akan merasakan adanya ketidaknyamanan pada kehamilannya dikarenakan pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual sehingga menyebabkan minat seksual yang menurun. Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. (Mariana, 2009). &lt;br /&gt;Mitos yang berkembang dimasyarakat menyebutkan hubungan seksual saat hamil dapat menyebabkan munculnya bercak-bercak putih di wajah dan tubuh bayi, hubungan seks saat hamil dapat mempengaruhi jenis kelamin bayi (Djuanda, 2005), dan hubungan seks  sewaktu hamil dapat  mengganggu  perkembangan bayi. Mitos-mitos ini  dianggap sebagai  suatu  kebenaran, karena dianggap  benar maka perilaku seksual juga dipengaruhi dan mengikuti informasi yang salah sesuai mitos tersebut. Mereka   mempercayai  mitos  tersebut karena ketidaktahuan akibat kurangnya pemahaman terhadap masalah kehamilan (Pangkahila, 2005).&lt;br /&gt;Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) disebutkan bahwa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi relatif terbatas sebagaimana ditunjukkan oleh 57,89% responden tidak mengetahui pengertian seksualitas. Sikap responden terhadap promosi kesehatan seksualitas berdasarkan mitos dalam masyarakat memberikan indikasi yang relatif baik, namun nuansa keraguan juga relatif terasa. Informasi mengenai seksualitas hanya 58,33% didapat melalui  tenaga kesehatan dan 31,67% didapat melalui sumber lain (BKKBN, 2005)&lt;br /&gt;Pada ibu primigravida, keluhan umum kehamilan seringkali dirasakan sebagai suatu hal yang mengganggu kesehatan, keinginan untuk memperoleh anak yang lahir dengan sehat pun menjadi prioritas seorang ibu primigravida apalagi anak tersebut kehadirannya sangat ditunggu-tunggu. Jadi upaya ibu untuk menjaga keselamatan dan kesehatan janin sangat optimal. Keadaan ini tentu berpengaruh pada kehidupan seksual mereka dengan pasangan dan mereka cenderung untuk membatasi hubungan seksual dengan suami bahkan mereka tidak melakukan hubungan seksual selama hamil. Sayangnya, seringkali para suami tidak mengerti dengan keadaan istrinya sehingga sangat mungkin bagi mereka untuk mencari kepuasan hubungan seksual ditempat lain selama istrinya hamil (Fadjari, 2002). Lain halnya dengan ibu multigravida, dimana keluhan umum pada kehamilan dirasakan sudah tidak terlalu mengganggu lagi, masalah dalam pola kehidupan seksual pun sudah dapat diatasi karena mereka telah memiliki pengalaman pada kehamilan yang terdahulu dan mereka telah mampu beradaptasi dengan kehamilannya (Hamilton, 2001).&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-9209866810306493772?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/9209866810306493772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-div-kebidanan-hubungan-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/9209866810306493772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/9209866810306493772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-div-kebidanan-hubungan-pengetahuan.html' title='KTI DIV KEBIDANAN : HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN PERILAKU HUBUNGAN SEKSUAL SELAMA KEHAMILAN TRIMESTER III'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-117680380308617334</id><published>2011-06-14T17:55:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T18:04:39.960-07:00</updated><title type='text'>KTI  KEBIDANAN 2011 : PENGARUH  KB SUNTIK CYCLOFEM TERHADAP PEMBERIAN ASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNTUk MENDAPATKAN KTI INi HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Angka pemakaian kontrasepsi diIndonesia baru mencapai 54,2% pada tahun 2006.&lt;br /&gt;Angka fertilitas total (Total Fertility Rate)menurun dari 3.02 pada tahun 1991 menjadi 2.97pada tahun 1997. Kemudian angka pertumbuhanpenduduk (Growth Population Rate) yangmenurun drastis dari 2.34% pertahun pada decade1971- 1980 menjadi 1.51% pertahun pada dekadetahun 1990-1998. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;pada tahun 2000 menurunmenjadi 1,5%.&lt;br /&gt;Salah satu masalah terpenting yang dihadapi oleh negara berkembang,&lt;br /&gt;seperti di Indonesia yaitu ledakan penduduk. Ledakan penduduk&lt;br /&gt;mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang pesat hal ini karena&lt;br /&gt;minimnya pengetahuan serta pola budaya pada masyarakat setempat. Untuk&lt;br /&gt;mengatasi permasalahan tersebut pemerintah Indonesia telah menerapkan&lt;br /&gt;program keluarga berencana (KB) yang dimulai sejak tahun 1968 dengan&lt;br /&gt;mendirikan LKBN (Lembaga Keluarga Berencana Nasional) yang kemudian&lt;br /&gt;dalam perkembangannya menjadi BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga&lt;br /&gt;Berencana Nasional). Gerakan Keluarga Berencana Nasional bertujuan untuk&lt;br /&gt;mengontrol laju pertumbuhan penduduk dan juga untuk meningkatkan&lt;br /&gt;kualitas sumber daya manusia (Hartanto, 2004).&lt;br /&gt;Visi Keluarga Berencana Nasional adalah “Keluarga Berkualitas”.&lt;br /&gt;Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju,&lt;br /&gt;mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung&lt;br /&gt;jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misinya&lt;br /&gt;sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi,&lt;br /&gt;sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. (Sarwono,&lt;br /&gt;2006).&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;Permasalahan kesehatan reproduksi masih banyak sekali yang harus&lt;br /&gt;dikaji, tidak hanya tentang organ reproduksi saja tetapi ada beberapa aspek,&lt;br /&gt;salah satunya adalah kontrasepsi. Saat ini tersedia banyak metode atau alat&lt;br /&gt;kontrasepsi meliputi: IUD, suntik, pil, implant, kontap, kondom. (BKKBN,&lt;br /&gt;2004). Salah satu kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah kontrasepsi&lt;br /&gt;suntik. Kontrasepsi suntik yang digunakan adalah Noretisteron Enentat&lt;br /&gt;(NETEN), Depo Medroksi Progesteron Acetat (DMPA) dan Cyclofem.&lt;br /&gt;Pencapaian peserta KB aktif semua metode kontrasepsi pada tahun&lt;br /&gt;2006 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 4.778.608 yang terdiri atas peserta&lt;br /&gt;AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) sebanyak 498.366 (10.4%), peserta&lt;br /&gt;MOP (Medis Operasi Pria) sebanyak 68.473 (1.4%), peserta MOW (Medis&lt;br /&gt;Operasi Wanita) sebanyak 291.035 (6.1%), peserta implant sebanyak 442.778&lt;br /&gt;(9.3%), peserta suntikan 2.560.039 (53.6%), peserta pil 862.307 (18%),&lt;br /&gt;peserta kondom sebanyak 55.610 (1.2%). Pencapaian tertinggi pada suntikan&lt;br /&gt;(53.6%) dan pencapaian terendah pada kondom (1.2%). (BKKBN Jawa&lt;br /&gt;Tengah, 2010)    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-117680380308617334?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/117680380308617334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-2011-pengaruh-kb-suntik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/117680380308617334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/117680380308617334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-2011-pengaruh-kb-suntik.html' title='KTI  KEBIDANAN 2011 : PENGARUH  KB SUNTIK CYCLOFEM TERHADAP PEMBERIAN ASI'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4714197346071397872</id><published>2011-06-07T17:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T17:48:10.598-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU BALITA DALAM PEMANFAATAN POSYANDU DI DESA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU LEBIH LENGKAP HUB Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang &lt;br /&gt;Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2010 Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 34 /1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu (AKI) mencapai kisaran 228/100.0000 kelahiran hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain terdiri dari perdarahan, infeksi dan eklampsia3, data tersebut menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya, serta perilaku (baik yang bersifat preventif maupun kuratif) ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang bersifat negatif bagi perkembangan kehamilan sehat, persalinan yang aman dan perkembangan dini anak 4. &lt;br /&gt;Upaya yang dilakukan baik yang bersifat preventif maupun kuratif adalah posyandu yang merupakan tempat atau media yang paling dekat dengan masyarakat dalam pemantauan gizi pada balita. Masyarakat secara langsung dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan status gizi balitanya. Oleh karena itu dalam rangka menurunkan angka kematian anak adalah pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti pos pelayanan terpadu (posyandu), penanggulangan kurang energi protein, pendidikan gizi, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar, serta pencegahan dan pemberantasan penyakit melalui survilans dan imunisasi. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan Pos pelayanan terpadu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat5. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu merupakan proses keadaan ketika individu, keluarga maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga atau kesehatan masyarakat lingkungannya. Namun berbagai hambatan dalam memelihara kesehatan diri dan keluarganya perlu mendapatkan perhatian 1.&lt;br /&gt;Sebagai indikator pencapaian dalam program Posyandu yang yang kekuatannya terletak pada pelayanan kesehatan dasar, kerjasama lintas sektoral dan peran serta masyarakat. Pada masa krisis ekonomi keberadaanya kurang mengembirakan, hal ini ditandai dengan rendahnya cakupan kegiatan Posyandu. Cakupan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu (D) dibagi dengan jumlah balita yang ada (S) di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai. Cakupan D/S dalam kegiatan Posyandu di Indonesia tahun 2008  85%, Jawa Barat salah satu provinsi yang memiliki cakupan rendah yaitu 79% masih dibawah target Dinas Kesehatan sebesar 90%. 6 &lt;br /&gt;Menurut laporan hasil kegiatan tahunan program KIA-KB kesehatan Puskesmas Singaparna tahun 2009, pencapaian target D/S (jumlah bayi dan anak Balita yang datang dan ditimbang di Posyandu dibanding dengan semua bayi dan anak Balita yang ada) sebesar 67,34%. Adapun cakupan per desa yakni desa Cikunir mencapai 81.93%, Cikadongdong 70,82%, Singasari 45.03%, Singaparna 47,59%, Sukamulya 83.49%, Ciparay 59.70%, Suka asih 93.26 dan Singajaya 63.93%. 7&lt;br /&gt;Kunjungan ibu balita ke Posyandu erat kaitannya dengan perilaku kesehatan, perilaku kesehatan hakikatnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan ibu dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan balitanya. Kesehatan seseorang dipengaruhi atau terbentuk dari beberapa faktor. Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor pendorong (reinforcing factors).7  &lt;br /&gt;Melihat paparan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatkan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan paparan tersebut di atas, penulis mengidentifikasikan rumusan masalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.3.1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;1.3.2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui pengaruh faktor pengetahuan terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui pengaruh faktor sikap terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui pengaruh faktor dukungan suami/keluarga terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui faktor dukungan tenaga kesehatan terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa Xxxx Tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1.4.1. Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;Sebagai sumbang saran bagi pengembangan Ilmu Kebidanan, Ilmu Perilaku dengan titik berat pada kajian tentang peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;1.4.2. Manfaat Praktis&lt;br /&gt;1. Bagi Masyarakat &lt;br /&gt;Penelitian ini dapat menjadi penggerak bagi masyarakat khususnya ibu yang mempunyai balita untuk berperan serta dalam kegiatan Posyandu.&lt;br /&gt;2. Bagi Pukesmas Setempat &lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian dalam peningkatan pelayanan kesehatan melalui pendidikan kesehatan pada kegiatan Posyandu pada ibu balita.&lt;br /&gt;3. Bagi Institusi Pendidikan&lt;br /&gt;Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelitian yang selanjutnya serta dapat dijadikan bahan kepustakaan atau referensi bagi mahasiswa kebidanan.&lt;br /&gt;4. Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengembangan profesi kebidanan sehingga apabila nanti sudah terjun ke lapangan dapat memberikan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Kajian Pustaka&lt;br /&gt;2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Prilaku&lt;br /&gt;Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik, sehingga pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai suatu keadaan jiwa untuk memberikan respon terhadap situasi di luar subjek   tersebut. &lt;br /&gt;Menurut Rogers perubahan perilaku manusia melalui beberapa tahap yang perubahannya merupakan suatu proses kejiwaan yang dialami individu tersebut sejak pertama memperoleh infromasi atau pengetahuan mengenai sesuatu hal yang baru (seperti penimbangan Balita untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan Balita) sampai saat dia memutuskan untuk menerima atau menolak hal baru tersebut.&lt;br /&gt;Terbentuknya suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif, dalam arti subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau subyek sehingga menimbulkan pengetahuan baru dan selanjutnya menimbulkan  respon batin dalam bentuk  sikap terhadap obyek yang diketahuinya. Akhirnya rangsangan yakni obyek yang sudah  diketahui  dan didasari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan (action) terhadap stimulus tadi. Namun kenyataan stimulus yang  diterima oleh subyek dapat langsung menimbulkan  tindakan. Artinya seorang dapat atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4714197346071397872?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4714197346071397872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-gambaran-faktor-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4714197346071397872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4714197346071397872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-gambaran-faktor-yang.html' title='KTI KEBIDANAN : GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU BALITA DALAM PEMANFAATAN POSYANDU DI DESA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-8296303478321451797</id><published>2011-06-07T17:36:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T17:39:10.229-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : PERSEPSI CALON PENGANTIN TENTANG PROSES KEHAMILAN DIKECAMATAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNTUK KTI LEBIH LENGKAP HUB Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Membangun keluarga harmonis, bahagia, sejahtera dan mandiri merupakan keinginan setiap pasangan muda calon pengantin yang membangun kehidupan rumah tangga melalui jenjang pernikahan. Secara operasional program ketahanan keluarga dapat dilakukan melalui pembinaan ketahanan keluarga diantaranya adalah pembinaan calon pengantin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pembinaan calon pengantin dapat dimulai dari pendewasaan usia perkawinan, bagi perempuan 20 tahun dan laki – laki 25 tahun. (buletin informasi BKKBN,2006) . Angka statistik pernikahan dini dengan pengantin berumur dibawah 16 tahun , secara nasional mencapai lebih dari seperempat. Bahkan dibeberapa daerah sepertiga , dari pernikahan yang terjadi, tepatnya di Jawa Timur 39,43%, Kalimantan Selatan 35,48%, Jambi 30,63%, Jawa Barat 36%. Dibanyak daerah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. (Adek Ratna Jameela,2003). &lt;br /&gt;Dengan adanya pendewasan usia perkawinan maka akan membantu dalam kesiapan fisik,mental, dan social dari calon pengantin. Selain pendewasaan usia perkawinan, para calon pengantin yang akan membina keluarga menjadi penting untuk mengetahui kesehatan reproduksi. Namun tidak sedikit dari calon pengantin tersebut memiliki bekal pengetahuan keiapan mental yang memadai  bagaimana kehidupan rumah tangga. Apalagi pengetahuan yang menyangkut kesehatan reproduksi dan keluarga berencana yang menjadi landasan dasar dalam membangun keluarga sejahtera / berkualitas. (BKKBN, 2005). Oleh karena itu calon pengantin juga harus dibekali dengan pegetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi dan hak – hak reproduksi sehingga siap untuk menjadi seorang ibu atau seorang ayah. (BKKBN,2006).&lt;br /&gt;Kesehatan reproduksi yang dimaksud disini adalah bagaimana proses kehamilan terjadi. Sebelumnya, terdapat 3 kesiapan yang menyatakan bahwa para calon pengantin siap untuk menyambut hadirnya kehamilan, yaitu pertama disebut dengan siap fisik yang berarti kesiapan usia reproduksi sehat yaitu 20-30 tahun bagi wanita. Kedua disebut siap sosial dan ekonomi yang berarti mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian, makanan, minuman, tempat tinggal, dan pendidikan. Ketiga disebut siap mental/emosi/psikologis yang berarti kesiapan mental adalah dimana pasanngan calon pengantin ingin mempunyai anak dan sudah siap menjadi orang tua termasuk mengasuh dan mendidiknya.(bulletin kencana,2006). Kehamilan terjadi berawal peristiwa fertilisasi yaitu saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopi,kemudian terjadilah zigot,zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enambelas, dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosel yang berisi cairan yang dikeluarkan oleh tuba fallopi, bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus). Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, balstosit sampai di rongga uterus, hormon progesterone merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan secret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan embrio. Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormone korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara menstimulasi hormon estrogen dan progesterone sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.( Biologi - Kehamilan dan Persalinan, 2006 ). Agar mudah mendapatkan kehamilan maka kedua pasangan harus menjaga kesehatannya dan melakukan hubungan seksual diusahakan disesuaikan dengan masa subur wanita.&lt;br /&gt; Angka statistic menunjukkan lebih dari 75% calon pengantin yang berpersepsi bahwa proses kehamilan akan terjadi saat pria dan wanita melakukan hubungan seksual, ada juga yang mengatakan bahwa proses kehamilan terjadi karena pertemuan antara darah ibu dengan cairan bapak. (Nico Asolokobal,2003). Persepsi diatas timbul karena adanya informasi atau interaksi baik secara verbal maupun non verbal. Tetapi persepsi diatas dapat diubah dengan memberikan informasi kepada seseorang / organisasi yang memiliki persepsi tersebut. (Cah Pacitan,2008).&lt;br /&gt;Dari studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada tanggal 14-15 Januari 2010 dengan cara door to door dan  mewawancarai 10 calon pengantin wanita di wilayah kecamatan Randublatung Kabupaten Blora, didapatkan 8 dari 10 responden  menyatakan tidak pernah diberi pembekalan atau penyuluhan dari pihak manapun mengenai kehamilan atau tentang kesehatan reproduksi pra nikah dan juga tidak mengetahui bagaimanakah kehamilan terjadi serta bagaimana perawatannya saat hamil. Dari keterangan diatas penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana persepsi calon pengantin tentang proses kehamilan di wilayah Kecamatan xxxxxx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas penulis merumuskan permasalahan penelitian ini adalah “ Bagaimana Persepsi Calon Pengantin tentang Proses Kehamilan di Wilayah Kecamatanxxxx”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui persepsi calon pengantin tentang proses kehamilan di wilayah kecamatan xxxx.&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a) Untuk mengetahui tentang pengertian kehamilan&lt;br /&gt;b) Untuk mengetahui tentang tanda – tanda kehamilan&lt;br /&gt;c) Untuk mengetahui tentang proses kehamilan &lt;br /&gt;d) Untuk mengetahui tentang perawatan selama hamil trimester pertama&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;1. Manfaat Teoritis &lt;br /&gt;Dalam ilmu pengetahuan adalah memberi sumbangan dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;2. Manfaat Praktik&lt;br /&gt;a. Bagi wilayah kecamatan Randublatung&lt;br /&gt;Diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk memberi pembekalan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi&lt;br /&gt;b. Bagi peneliti&lt;br /&gt;Menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai kesehatan reproduksi calon pengantin dan dalam rangka memenuhi Tugas Akhir Program Diploma Kebidanan Semarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Bagi Peneliti Selanjutnya&lt;br /&gt;Dapat digunakan data dasar untuk melaksanakan penelitian yang lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Keaslian Penelitian&lt;br /&gt;Dalam penelitian persepsi yang dilakukan oleh Marlina Ayu Wulandari subjek yang diteliti adalah remaja, yang membahas tentang keputihan, menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan wawancara, dan dilakukan pada bulan juli-agustus 2008.&lt;br /&gt;Sedang dalam penelitian yang penulis lakukan, penelitian tentang persepsi, subjek yang diteliti adalah calon pengantin wanita, yang membahas tentang proses kehamilan, menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan cara wawancara dan penelitian dilakukan pada bulan februari-maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;A. Persepsi&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa inggris perception, berasal dari bahasa latin perception ; dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil (Sobur, 2009).&lt;br /&gt;Persepsi (perception) dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara sesseorang melihat sesuatu sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt, 1978, dalam Sobur, 2009).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-8296303478321451797?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/8296303478321451797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-persepsi-calon-pengantin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8296303478321451797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8296303478321451797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/06/kti-kebidanan-persepsi-calon-pengantin.html' title='KTI KEBIDANAN : PERSEPSI CALON PENGANTIN TENTANG PROSES KEHAMILAN DIKECAMATAN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4756044102525557721</id><published>2011-05-21T09:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-21T10:05:23.700-07:00</updated><title type='text'>KTI 2011 NEW :  TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI PRIMIPARA TENTANG TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR  DI  KLINIK BERSALIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU KTI lENGKAP SEGERA HUB 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat, dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemberian ASI sendiri terhambat oleh beberapa hal yang salah satunya adalah teknik pemberian ASI yang salah, yang bisa mengakibatkan puting lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, mastitis, abses payudara dan bayi enggan menyusu (Dinkes Surabaya, 2010).&lt;br /&gt;Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI ) tahun 2009 ada beberapa hal yang menghambat pemberian ASI Ekslusif, diantaranya adalah karena rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar yaitu sebesar 19,07%, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan sebesar 15,23%, persepsi masyarakat yang salah kaprah mengartikan tentang ASI sebesar 20,40%, prilaku bagi para ibu bekerja yang tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 21,12%, dan pemasaran agresif oleh perusahaan-perusahaan pembuat susu bayi yang tidak hanya mempengaruhi para ibu, namun juga para petugas kesehatan sebesar 24,18% (Winoto &amp; Assefa, 2003). Pada tahun 2006 cakupan standar nasional pemberian ASI Eksklusif telah di tetapkan yaitu 80% (Amirudin, 2007). Dari hasil rekap laporan ASI Eksklusif di seluruh Puskesmas Kota Surabaya tahun 2008 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif yaitu 40,07%. Dengan teknik menyusui yang benar yang hanya 22% dari ibu yang memberikan ASI eksklusif, Namun pada tahun 2007 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif menurun menjadi 38,44% (Dinkes Surabaya 2008 – 2009).&lt;br /&gt;Dinas kesehatan Kabupaten Mojokerto tahun 2008 sasaran bayi 0-6 bulan jumlah 12.731 yang diberi ASI hanya 1.732, dengan teknik menyusui yang benar yang hanya 17,2% (Profil Dinkes,2008).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4756044102525557721?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4756044102525557721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-2011-new-tingkat-pengetahuan-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4756044102525557721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4756044102525557721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-2011-new-tingkat-pengetahuan-ibu.html' title='KTI 2011 NEW :  TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI PRIMIPARA TENTANG TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR  DI  KLINIK BERSALIN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-7524814886602172374</id><published>2011-05-21T09:56:00.000-07:00</published><updated>2011-05-21T09:59:40.761-07:00</updated><title type='text'>KTI NEW : ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMSIA BERAT DI RS xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEGERA HUBUNG Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Landasan Teori&lt;br /&gt;Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2002/2003 menyatakan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia terus mengalami penurunan meski secara besaran Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi, walaupun di sisi lain sudah terjadi penurunan dari 307/100.000 kelahiran hidup pada &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan pada tahun 2006 laporan BPS menyebutkan AKI menjadi 255/100.000 kelahiran dan pada tahun 2007 menjadi 228/100.000 kelahiran.&lt;br /&gt; Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 60-70 %, pre eklamsi dan eklamsi 10-20%, Infeksi 10-20% (Manuaba, 2001).&lt;br /&gt;Pre eklamsia dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan timbul atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas. Golongan penyakit ini ditandai dengan hipertensi dans erring disertai dengan proteinuria, edema, kejang, atau gejala-gejala yang lain. Penyakit ini cukup sering dijumpai dan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu. (Sastrowinanto, 2005 : 68)&lt;br /&gt;Penyebab kematian ibu paling banyak disebabkan karena perdarahan 28%, pre eklamsia 13%, aborsi 11%, sepsis post partum 10% dan penyebab kematian tidak langsung lainnya. (http:id.wikipedia.2006.org/wiki./Indonesia)&lt;br /&gt;Di Indonesia pre eklamsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal. Oleh karena itu, diagnosis dini pre-eklamsia serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, karena Angka Kematian Ibu berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas (Wiknjosastro, 2005: 281).&lt;br /&gt;Menurut Hasil Survei Kesehatan Daerah (Jatim), Angka Kematian Ibu 2005 sebesar 262 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2006 sebesar 101 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurut staf ahli menteri kesehatan Rahmi Utoro tahun 2007 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2008 sebesar 390 / 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan menurut penyebabnya kematian ibu yang paling besar adalah perdarahan (28%), keracunan kehamilan atau eklamsi (kaki bengkak dan darah tinggi) sebanyak 24%, dan infeksi sebanyak 11% (Warrow, 2003).&lt;br /&gt;Pre eklamsi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan timbul atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas. Golongan penyakit ini di tandai dengan hipertensi dan sering ditandai dengan proteinuria, edema, kejang, koma atau gejala-gejala lain. Penyakit ini sering dijumpai dan masih merupakan salah satu penyebab kematian ibu (Sastrowinanto, 2005:68).&lt;br /&gt;Angka kejadian pre eklamsia di RSUD Tugurejo pada bulan Januari sampai dengan Desember 2009 adalah 66 orang.Dari kasus tersebut diantaranya hidup dan di nyatakan sembuh sebanyak 60 orang dan 2 orang pre eklamsia dinyatakan meninggal dunia. Kita sebagai seorang tenaga kesehatan khususnya seorang bidan seharusnya dapat mendeteksi lebih dini tanda dan gejala dari pre eklamsia berat sehingga dapat memberikan asuhan atau perawatan lebih dini sehingga dapat meminimalkan angka kejadian pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;Dilihat dari penyebab kematian ibu pre eklamsia merupakan salah satu kasus resiko tinggi, bidan sebagai tenaga kesehatan hendaknya memiliki kompetensi dalam penatalaksanaan ibu dengan pre eklamsia sesuai dengan kewenangan dan tercantum dalam Permenkes RI No.HK.02.02/MENKES/149/1/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan. Berdasarkan data di atas maka, penulis tertarik untuk mengambil tema Asuhan Kebidanan pada Ibu hamil dengan Pre eklamsia Berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perumusan  masalah &lt;br /&gt; Oleh karena itu dalam study kasus ini rumusan masalah yang penyusun ajukan adalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dengan Pre eklamsi Berat di RS xxx”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan penulis &lt;br /&gt;1. Tujuan umum &lt;br /&gt;Penulis dapat mempelajari lebih jauh dan sekaligus melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan Hellen Varney.&lt;br /&gt;2. Tujuan khusus &lt;br /&gt;a. Melaksanakan pengkajian pada ibu hamil dengan Pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;b. Menginterpretasikan data berdasarkan diagnosa atau masalah kebidanan pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;c. Mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;d. Menentukan tindakan segera pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;e. Menentukan rencana tindakan pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;f. Mengimplementasikan manajemen kebidanan pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;g. Melakukan evaluasi manajemen kebidanan pada ibu hamil dengan pre eklamsia berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;1. Metode Penulisan &lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang menggambarkan keadaan secara obyektif.&lt;br /&gt;2. Teknik Pengumpulan Data &lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam melakukan pengkajian yaitu :&lt;br /&gt;a. Wawancara&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dimana penulis mengadakan tanya jawab secara langsung dengan klien serta keluarga.&lt;br /&gt;b. Metode observasi dan pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;Dengan melakukan pengamatan secara langsung pada pasien serta pemeriksaan fisik dilakukan pada pasien mulai dari kepala sampai kaki dengan cara inspeksi, palpasi dan auskultasi.&lt;br /&gt;c. Studi dokumentasi &lt;br /&gt;Mengumpulkan data dari catatan medis pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manfaat&lt;br /&gt;1. Bagi instansi pelayanan kesehatan &lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai tambahan referensi dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil sehingga dapat mengurangi dan mencegah terjadinya Pre eklamsia Berat pada Ibu Hamil.&lt;br /&gt;2. Bagi institusi pendidikan kesehatan &lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Pre eklamsia Berat yang selanjutnya.&lt;br /&gt;3. Bagi masyarakat &lt;br /&gt;Meningkatkan pengetahuan masyarakat khusunya ibu hamil tentang pentingnya pola hidup sehat dan meningkatkan taraf kesehatan khususnya tentang kesehatan pada kehamilan.&lt;br /&gt;4. Bagi penulis &lt;br /&gt;Meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dalam melakukan suhan kebidanan pada ibu hamil serta menambah wawasan dalam pembuatan laporan praktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Teori Medis&lt;br /&gt;1. Teori kehamilan &lt;br /&gt;a. Pengertian &lt;br /&gt;Kehamilan adalah suatu proses alami yang terjadi dalam rahim wanita, diawali dengan pertemuan sel telur dan sperma kemudian tubuh dan berkembang organ demi organ lengkap dengan segala fungsi masing-masing dan siap dilahirkan pada minggu ke-40 (Sholihah, 2008:50).&lt;br /&gt;Kehamilan adalah hasil dari “kencan” sperma dan sel telur. Dalam prosesnya, perjalanan sperma untuk menemui sel telur (ovum) betul-betul penuh perjuangan. Dari sekitar 20-40 juta sperma yang dikeluarkan, hanya sedikit yang survive dan berhasil mencapai tempat sel telur (Maulana Mirza, 2008 : 126).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-7524814886602172374?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/7524814886602172374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-new-asuhan-kebidanan-pada-ibu-hamil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/7524814886602172374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/7524814886602172374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-new-asuhan-kebidanan-pada-ibu-hamil.html' title='KTI NEW : ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMSIA BERAT DI RS xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5701476140792004535</id><published>2011-05-07T08:33:00.000-07:00</published><updated>2011-05-07T08:41:48.027-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA MENJELANG PERSALINAN DI RS. XXX</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mau lebih lengkap hub : 081 225 300 100 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar belakang masalah&lt;br /&gt; Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 2008).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Merupakan kewajiban keluarga untuk memberi dukungan berupa rasa nyaman dan ketenangan pada ibu. Manusia terus berusaha untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri persalinan. Bahkan keluarga bisa memberikan suatu teknik yangtidak lazim seperti mengajak sang calon ibu bernyanyi untuk menenangkan emosi. Nyeri pada persalinan bukan hal baru yang dikenal sekarang tetapi sejak zaman dahulu dan tampaknya rasa nyeri pada persalinan pada zaman dahulu tidak berbeda dengan nyeri yang dialami oleh wanita zaman sekarang. Reaksi terhadap rasa nyeri bersifat subyektif antar individu dan dipengaruhi oleh inten sitas serta lamanya his, besar pembukaan, regangan segmen bawah rahim (SBR), umur pasien, banyaknya persalinan, besar janin dan keadaan umum pasien juga dipengaruhi pula oleh keadaan mental, kebiasaan dan budaya ibu bersalin (Wiknjosastro, 1999:177). Hingga saat ini masih banyak saja yang diliputi oleh macam-macam ketakutan dan tahayul (Kartono, 1992:153).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5701476140792004535?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5701476140792004535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-kebidanan-2011-hubungan-dukungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5701476140792004535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5701476140792004535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/05/kti-kebidanan-2011-hubungan-dukungan.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA MENJELANG PERSALINAN DI RS. XXX'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2364370369584861414</id><published>2011-04-25T01:11:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T01:14:00.977-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : STUDY DESKRIPTIF PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN KUNJUNGAN RUMAH PADA MASA PASCA SALIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNTUK LEBIH LENGKAP HUBUNGI Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar belakang &lt;br /&gt;Di negara sedang berkembang sebagian besar penyebab ini adalah perdarahan, infeksi, gestosis dan abortus. kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit, misalnya hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hepatitis, anemia, malaria, dan lain-lain. (Sarwono, 2005)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab lainnya. Berdasarkan defenisi ini kematian maternal dapat digolongkan pada kematian obstetrik langsung, kematian obstetrik tidak langsung, kematian yang terjadi bersamaan tetapi tidak berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, misalnya kecelakaan. kematian obstetrik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, nifas atau penanganannya.&lt;br /&gt;Kematian maternal dan perinatal merupakan tolak ukur kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara. Di negara ASEAN, Indonesia mempunyai angka kematian tertinggi 330/100.000 persalinan hidup. Angka kematian ibu bervariasi di berbagai daerah dengan rentang 330-700/100.000. Angka kematian perinatal dengan cepat dapat dirasakan penurunannya, tetapi angka kematian ibu belum banyak terjadi penurunan. Memperhatikan kenyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa perjalanan terjadinya angka kematian ibu cukup panjang yang memberi peluang untuk melakukan intervensi pelayanan yang lebih mantap. (Manuaba, 2008) &lt;br /&gt;Persalinan merupakan puncak kulminasi kehamilan yang telah berlangsung 40 minggu. Periode ini dapat memberi rasa gembira bila berlangsung aman serta bayi sesuai dengan harapan. Persalinan juga merupakan keadaan yang kritis bagi ibu dan bayinya bila tidak mendapatkan pertolongan adekuat, bersih dan aman. Perawatan pascapartus memerlukan perhatian karena pada fase ini berlaku konsep “early mobilization” yang merupakan fase spesifik, yang terjadi perubahan hormonal dan persiapan laktasi, memerlukan petunjuk/nasihat khususnya bagi puerperal baru, sehingga ibu bersalin dapat beradaptasi dengan wajar sebagai persiapan untuk kehamilan berikutnya dengan interval optimal. Pada fase ini dapat terjadi komplikasi sampai berakibat fatal. Defenisi menurut WHO, pascapartum/postnatal/ puerperium adalah mulai sejak satu jam setelah plasenta lahir sampai akhir minggu ke-6 atau berlangsung selama 42 hari.(Manuaba, 2008) Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan yang menolong persalinan itu. diantara masalah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang masih luka akibat persalinan. (Manuaba, 1999) &lt;br /&gt;Bidan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsep promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam standar pelayanan kebidanan, bidan memberikan pelayanan bagi ibu pada masa nifas. dimana bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu keenam &lt;br /&gt;setelah persalinan untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, personal hygiene, nutrisi, perawatan bayi baru lahir, pemberian asi, imunisasi, dan KB(Keluarga Berencana).(IBI, 2000) Para bidan harus memastikan bahwa keuntungan perawatan pascanatal terbukti dengan jelas. Di masa yang akan datang, efektifitas input kebidanan pada saat ini akan dinilai dalam hal meningkatkan kepuasan pasien, mengurangi biaya dan membatasi angka morbiditas maternal. Oleh karena itu aktifitas asuhan yang diberikan oleh bidan harus relevan dengan kebutuhan setiap wanita dan keluarganya untuk memastikan bahwa tingkat optimum dari perawatan pascanatal dipertahankan dan wanita mendapat pengalaman orang tua yang memuaskan. ( Handerson, dkk, 2006) Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Pengetahuan bidan dalam pelaksanaan pada masa pasca salin Di Desa Margomulyo  tahun 2010.&lt;br /&gt;B. TUJUAN PENELITIAN. &lt;br /&gt;1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa Pasca salin Desa Margomulyo. &lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus &lt;br /&gt; a. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pertama pada masa pasca salin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah kedua pada masa pasca salin. &lt;br /&gt;c. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah ketiga pada masa pasca salin. &lt;br /&gt;d. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca salin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PERTANYAAN PENELITIAN. B&lt;br /&gt;agaimanakah pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca salin di Desa Margomulyo Tahun 2010 &lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN. &lt;br /&gt;1. Bagi peneliti Sebagai masukan bagi peneliti dalam peningkatan pengetahuan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca salin sebagai upaya dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu. &lt;br /&gt;2. Bagi bidan Sebagai bahan masukan bagi bidan dalam meningkatkan pengetahuan dalam pelaksanaan kunjungan rumah khususnya pada masa pasca salin untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu.&lt;br /&gt; 3. Bagi institusi &lt;br /&gt;Sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian selanjutnya tentang pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca salin. &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2364370369584861414?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2364370369584861414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-study-deskriptif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2364370369584861414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2364370369584861414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-study-deskriptif.html' title='KTI KEBIDANAN : STUDY DESKRIPTIF PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN KUNJUNGAN RUMAH PADA MASA PASCA SALIN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-3350257402055163404</id><published>2011-04-11T22:55:00.001-07:00</published><updated>2011-04-11T23:00:07.248-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN KUNJUNGAN RUMAH PADA MASA PASCA PERSALINAN DI DESA  xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAU  Lebih Lengkap MURAH HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar belakang &lt;br /&gt;Di negara sedang berkembang sebagian besar penyebab kematian maternal  adalah perdarahan, infeksi, gestosis dan abortus. kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit, misalnya hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hepatitis, anemia, malaria, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab lainnya. Berdasarkan defenisi ini kematian maternal dapat digolongkan pada kematian obstetrik langsung, kematian obstetrik tidak langsung, kematian yang terjadi bersamaan tetapi tidak berhubungan dengan kehamilan dan perpersalinanan, misalnya kecelakaan. kematian obstetrik langsung disebabkan oleh komplikasi kehamilan, perpersalinanan, nifas atau penanganannya.&lt;br /&gt;Kematian maternal dan perinatal merupakan tolak ukur kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara. Di negara ASEAN, Indonesia mempunyai angka kematian tertinggi 330/100.000 perpersalinanan hidup. Angka kematian ibu bervariasi di berbagai daerah dengan rentang 330-700/100.000. Angka kematian perinatal dengan cepat dapat dirasakan penurunannya, tetapi angka kematian ibu belum banyak terjadi penurunan. Memperhatikan kenyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa perjalanan terjadinya angka kematian ibu cukup panjang yang memberi peluang untuk melakukan intervensi pelayanan yang lebih mantap. (Manuaba, 2008) &lt;br /&gt;Perpersalinanan merupakan puncak kulminasi kehamilan yang telah berlangsung 40 minggu. Periode ini dapat memberi rasa gembira bila berlangsung aman serta bayi sesuai dengan harapan. Perpersalinanan juga merupakan keadaan yang kritis bagi ibu dan bayinya bila tidak mendapatkan pertolongan adekuat, bersih dan aman. Perawatan pascapartus memerlukan perhatian karena pada fase ini berlaku konsep “early mobilization” yang merupakan fase spesifik, yang terjadi perubahan hormonal dan persiapan laktasi, memerlukan petunjuk/nasihat khususnya bagi puerperal baru, sehingga ibu berpersalinan dapat beradaptasi dengan wajar sebagai persiapan untuk kehamilan berikutnya dengan interval optimal. Pada fase ini dapat terjadi komplikasi sampai berakibat fatal. Defenisi menurut WHO, pascapartum/postnatal/ puerperium adalah mulai sejak satu jam setelah plasenta lahir sampai akhir minggu ke-6 atau berlangsung selama 42 hari.(Manuaba, 2008) Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan yang menolong perpersalinanan itu. diantara masalah penting tersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim yang masih luka akibat perpersalinanan. (Manuaba, 1999) &lt;br /&gt;Bidan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsep promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam standar pelayanan kebidanan, bidan memberikan pelayanan bagi ibu pada masa nifas. dimana bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu keenam &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;setelah perpersalinanan untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, personal hygiene, nutrisi, perawatan bayi baru lahir, pemberian asi, imunisasi, dan KB(Keluarga Berencana).(IBI, 2000) Para bidan harus memastikan bahwa keuntungan perawatan pascanatal terbukti dengan jelas. Di masa yang akan datang, efektifitas input kebidanan pada saat ini akan dinilai dalam hal meningkatkan kepuasan pasien, mengurangi biaya dan membatasi angka morbiditas maternal. Oleh karena itu aktifitas asuhan yang diberikan oleh bidan harus relevan dengan kebutuhan setiap wanita dan keluarganya untuk memastikan bahwa tingkat optimum dari perawatan pascanatal dipertahankan dan wanita mendapat pengalaman orang tua yang memuaskan. ( Handerson, dkk, 2006) Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Pengetahuan bidan dalam pelaksanaan pada masa pasca persalinan Di Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx tahun 2009. &lt;br /&gt;B. TUJUAN PENELITIAN. &lt;br /&gt;1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa Pasca persalinan Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx. &lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus &lt;br /&gt; a. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pertama pada masa pasca persalinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Universitas Sumatera Utara 12 &lt;br /&gt; b. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah kedua pada masa pasca persalinan. &lt;br /&gt; c. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah ketiga pada masa pasca persalinan. &lt;br /&gt; d. Untuk mengetahui pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca persalinan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PERTANYAAN PENELITIAN. &lt;br /&gt;Bagaimanakah pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca persalinan di Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx Tahun 2009 &lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN. &lt;br /&gt;1. Bagi peneliti Sebagai masukan bagi peneliti dalam peningkatan pengetahuan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca persalinan sebagai upaya dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu. &lt;br /&gt;2. Bagi bidan Sebagai bahan masukan bagi bidan dalam meningkatkan pengetahuan dalam pelaksanaan kunjungan rumah khususnya pada masa pasca persalinan untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu. &lt;br /&gt;3. Bagi institusi &lt;br /&gt;Sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian selanjutnya tentang pengetahuan bidan dalam pelaksanaan kunjungan rumah pada masa pasca persalinan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt; A. PENGETAHUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PENGERTIAN PENGETAHUAN Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Berdasatkan pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. ( Notoadmodjo, 2007)    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-3350257402055163404?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/3350257402055163404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-2011-tingkat-pengetahuan_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3350257402055163404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3350257402055163404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-2011-tingkat-pengetahuan_11.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN KUNJUNGAN RUMAH PADA MASA PASCA PERSALINAN DI DESA  xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-6353732101400889802</id><published>2011-04-11T22:50:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T22:52:41.695-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKAN PADA BALITA DI DUSUN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAPATKAN KTI lENGKAP BAB 1 - 5 HUB : Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang &lt;br /&gt;Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tujuan pembangunan kesehatan gizi  masyarakat dalam terwujudnya  anak balita. Sementara itu masalah  keterlantaran yang berhubungan dengan  hambatan untuk hidup wajar sesuai dengan  hak dan kewajibannya sebagai insane dan sumberdaya  manusia yang produktif paling  rawan  dialami oleh balita (Depkes RI, 2003). &lt;br /&gt;Gangguan sulit makan umumnya dialami anak-anak usia 1 – 5 tahun atau  usia pra sekolah. Pada usia ini anak menjadi sulit makan karena semakin bertambahnya aktivitas mereka seperti bermain dan berlari sehingga kadang mereka menjadi malas untuk makan. Selain itu, pola pemberian makan yang tidak sesuai dengan keinginan anak  dapat mempengaruhi anak menjadi sulit makan, karena pada saat pertumbuhan di usia balita  anak akan mengalami masa perubahan  bentuk makanan mulai  dari ASI, makanan bertekstur halus dan sampai akhirnya makanan padat sebagai  asupan utama (Irwanto, 2002). &lt;br /&gt;Jika kondisi sulit makan ini tidak ditelusuri  penyebabnya dan di carikan solusinya, maka akan membuat anak  menolak untuk makan dan membuat anak  jadi kekurangan gizi  karena anak suka pilih-pilih makanan. Selain itu, jika anak selalu menganggap waktu makan sebagai saat yang tidak nyaman, ini akan berdampak buruk  bagi kebiasaanm makan selanjutnya  hingga dewasa, mengingat para orang tua  memiliki konstribusi  yang sangat penting terhadap pola makan anak. Selain itu, hal-hal yang penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam memenuhi gizi anak  agar dapat berkembang optimal dan memiliki kebiasaan makan yang baik sejak kecil (Kurniasih, 2007). &lt;br /&gt;Penyebab kurang gizi tidak sebatas kemiskinan “bisa juga karena problem pencernaan yang tidak  dapat menyerap asupan gizi secara baik”  balita penderita kurang gizi biasanya  disertai penyakit  seperti tuberculosis  (TBC) dan bronchitis. Penyebab lainnya adalah keenganan orang tua  untuk membawa balitanya ke posyandu untuk diperiksa perkembangannya. (Siswono, 2006).&lt;br /&gt;Ketua I Ikatan Dokter  Anak Indonesia (IDAI) Prof. Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan, ada tiga faktor penyebab anak menderita gizi buruk khususnya balita, yakni faktor keluarga miskin, faktor ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak dan faktor  penyakit bawaan pada anak, seperti jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernafasan dan diare (Siswono, 2008).&lt;br /&gt;Menurut Tuti Soenardi dalam seminar mengatasi masalah  makan pada bayi dan balita di Bentara Budaya, Jakarta pada hari minggu tanggal 25 Maret 2009 bahwa kondisi sulit makan ternyata bukan semata-mata kesalahan anak. misalnya, orang tua  tidak memperkenalkan aneka jenis  bahan makanan pada si kecil sejak dini. Menurut Tuti, sejak usia satu anak mestinya sudah diperkenalkan pada makanan keluarga, yaitu makanan yang disiapkan untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga (Wiono, 2009).&lt;br /&gt; Prevalensi gizi kurang yang sangat tinggi mencapai 30% hingga 40% dari populasi balita. Gizi kurang juga masih terjadi di 116 Kabupaten/Kota di tanah air. Sebagai gambaran angka kejadian gizi buruk dan kurang pada balita di Indonesia tahun 2002 masing-masing 8% dan 27,3% pada 2003 masing-masing meningkat menjadi 28,0%. Kondisi etrsebut cukup meprihatinkan, selain berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, kekurangan gizi juga termasuk salah satu penyebab utama kematian balita. Data WHO tahun 2002 menunjukkan 60% kematian terkait dengan kasus gizi kurang, dan masalah kekurangan gizi umumnya ditemukan pada darah rawan pangan, daerah dengan jumlah penduduk miskin tinggi, serta daerah yangbelum mempunyai akses memadai terhadap sarang air bersih dan pelayanan kesehatan (Minarto, 2009).&lt;br /&gt;Sedangkan status gizi balita di Jawa Tengah tahun 2007, dimana didapatkan jumlah balitanya sebesar 2.772.579 balita. balita yang ditimbang sebesar 76,56%, sebanyak 1,52% balita yang dibawah garis merah dan 0,9% balita yang mengalami gizi buruk. (Profil Jawa Tengah, 2007).&lt;br /&gt;Pada tahun 2009 Departemen Kesehatan di Indonesia membuat berbagai program untuk mengatasi masalah gizi kurang pada balita. Seperti, program penanggulangan yang meliputi, pendidikan gizi, pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan keluarga sadar gizi (kadarzi), peningkatan survellans gizi. Semua itu dilakukan dengan tiga strategi utama yakni, pemberdayaan masyarakat, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, monitoring dan informasi kesehatan. (Minarto, 2009).&lt;br /&gt;Peran serta orang tua dalam pemberian gizi yang baik pada balita sangat berpengaruh, karena gizi buruk dan gizi kurang pada balita terjadi melalui proses yang panjang dan utamanya sangat ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan nutrisi pada masa pertumbuhan balita yakni, sejak janin masih dalam kandungan hingga bayi dilahirkan sampai berusia dua tahun (Wijaya, 2006).&lt;br /&gt;Menurut laporan organisasi kesehatan WHO, permasalahan gizi dapat ditunjukkan dengan besarnya angka kejadian gizi buruk yang menunjukkan kesehatan masyarakat Indonesia terendah di ASEAN, dan menduki peringkat ke 142 dari 170 negara. Data WHO menyebutkan angka kejadian gizi buruk pada balita tahun 2002 meningkat menjadi 8,3% dan gizi kurang 27,5%, serta pada tahun 2005 kejadian gizi buruk naik lagi menjadi 8,8% dan gizi kurang 28% (Dina, 2007).&lt;br /&gt;Tahun 2007 lalu tercatat sebanyak 4 juta balita Indonesia mengalami gizi kurang dan 700.000 anak masuk kedalam kategori gizi buruk. Pendapat serupa dikemukakan dari Rachmat sentika, Sp.A, MARS, dari tim Ahli Anak komisi perlindungan Anak Indonesia, Rachmat menilai konduisi Asupan gizi balita di Indonesia memprihatinakn, penyebabnya asupan gizi yang kurang dan perubahan pola asuh yang tidak terpantau baik. Ahli gizi anak dari Istitusi Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan MS dan TIM Ahli anak dari komisi Perlindungan Anak Indonesia tb Rachmat sentika, senin (11/8) di Jakarta. Ali khomsan mengatakan, akar masalah yang menyebabkan tingginya angka anak yang menderita kurang gizi karena anak-anak makan seadanya dan dominan karbohidrat. Dalam koferensi pers yang diselenggarakan oleh kondisi untuk Indonesia sehat mengenai kampanye “Pentingnya Gizi Anak” dr.Dini Latief MSC, dari direktorat jendrl Bina kesehatan masyarakat, Depkeskesos mengatakan, meski pavelensi gizi buruk sudah menurun, dari 8,1&amp; dari 1,7 juta balita yang menderita gizi kurang. Pada tahun 1999 menjadi 7,5% pada tahun 2000 berdasarkan survey sosial ekonomi nasional (Susenas) namun jumlah nominlnya masih terhitung tinggi, yaitu 160.000 balita (Dini, 2007).&lt;br /&gt;Pada balita yang kenaikan  berat badannya  meningkat di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2007 dapat mencapai  76,52%, sedangkan di beberapa  kabupaten dan kota  yang sudah mempunyai target  sebanyak 80%  yaitu, seperti di Kabupaten  Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Pati, Kudus, Brebes, Semarang (Profil Kesehatan Jateng, 2007). &lt;br /&gt;Di Dusun Genuk Sari RW. 09 Kelurahan Tegalsari jumlah balita yang datang  pada posyandu  hari minggu tanggal 19 Agustus  sejumlah 67 balita. Dari 67 balita  tersebut yang mengalami  kenaikan berat badannya 53 balita dan yang tidak mengalami kenaikan  berat badannya ada 14 balita (Posyandu Genuksari, 2010). Dari studi pendahuluan, tidak jarang balita mempunyai berat  badan normal, memiliki keluhan sulit makan dan balita yg tidak naik berat badannya. Dari data ini peneliti ingin mengerti bagaimana  tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian makan pada balita dan bagaimana cara ibu mengatasi balita yang sulit makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan dari uraian  latar belakang di atas di dapatkan rumusan masalah yaitu “Bagaimana tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian makan pada balita di Dusun xxx atas RW. xxx?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan &lt;br /&gt;1. Tujuan umum&lt;br /&gt;Memberikan gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian makan pada balita di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan xxx&lt;br /&gt;2. Tujuan khusus&lt;br /&gt;a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang definisi sulit makan di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatanxxxx&lt;br /&gt;b. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang gejala sulit makan di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan Candisari Semarang&lt;br /&gt;c. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang penyebab sulit makan di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan xxx&lt;br /&gt;d. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang dampak sulit makan di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan xxxx&lt;br /&gt;e. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang cara mengatasi sulit makan di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan xxxx&lt;br /&gt;f. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang cara pemberian makan pada balita di Dusun Genuk Sari Atas Rw 09 Kelurahan Tegalsari Kecamatan xxx&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;1. Bagi Tenaga Kesehatan &lt;br /&gt;Diharapkan dapat digunakan sebagai acuan, masukan dalam pemberian informasi yang efektif di sesuaikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian makan pada balita sehingga bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang pemberian gizi yang baik pada balita.&lt;br /&gt;2. Bagi Masyarakat &lt;br /&gt;Memberikan wawasan baru menyangkut pola pemenuhan makanan  dengan gizi berimbang yang selanjutnya  diharapkan  akan membantu meningkatkan kondisi masyarakat secara umum. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi Peneliti &lt;br /&gt;Mengetahui persepsi orang tua tentang balita sulit makan sehingga dapat memberikan gambaran tentang metode yang tepat dalam pendidikan kesehatan pada ibu balita.&lt;br /&gt;4. Bagi Institusi Pendidikan &lt;br /&gt;Sebagai bahan pustaka yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya dunia ilmu pengetahuan tentang cara pemberian makan pada balita. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengetahuan&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui penginderaan manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).&lt;br /&gt;2. Proses Pengetahuan&lt;br /&gt;Menurut Notoatmodjo (2003) suatu perbuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan orang yang mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Kesadaran (Awareness) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap obyek (stimulus).&lt;br /&gt;b. Merasa tertarik (Interest) terhadap stimulus atau obyek tertentu. Disini sikap subyek sudah mulai timbul.&lt;br /&gt;c. Menimbang-nimbang (evaluation) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah tidak baik lagi.&lt;br /&gt;d. Trial, dimana subyek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.&lt;br /&gt;e. Adopsi (adoption), dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo, 2003).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-6353732101400889802?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/6353732101400889802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-2011-tingkat-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6353732101400889802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6353732101400889802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/04/kti-kebidanan-2011-tingkat-pengetahuan.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKAN PADA BALITA DI DUSUN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-583098764976589225</id><published>2011-03-30T20:27:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T22:53:22.562-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DAMPAK PSIKOLOGI CURETTAGE DI RS xxx</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNTUK KTI INI HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2003 mencatat 307 per 100.000 kelahiran hidup; angka ini tertinggi di ASEAN.2 Di antara penyebab medis tingginya AKI tersebut adalah abortus yang tidak aman 15-30%.3 Karena itu, kelompok pro-choice memandang penting disediakannya aborsi (pengguguran kandungan) yang aman untuk menekan AKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Memang, ada wanita-wanita yang mengalami tindakan aborsi, tetapi tindakan aborsi itu tidak berdampak signifikan terhadap kesehatannya. Namun, secara umum tindakan aborsi berisiko terhadap kesehatan ibu. Risiko tersebut disebabkan karena-di antaranya-adanya komplikasi, sekalipun dilakukan secara aman, dari yang tingkatnya ringan hingga yang mengantarkan pada kematian. Selain itu, aborsi jelas bertentangan dengan hak hidup anak/janin. Lebih dari itu, aborsi bukanlah sebab, tetapi akibat dari kehamilan yang tidak dikehendaki. Ini artinya, persoalan aborsi bukanlah masalah medis semata. Oleh karena itu, melegalkan aborsi sehingga tersedia aborsi yang aman untuk menekan AKI menjadi sangat patut dipertanyakan. &lt;br /&gt;Penyebab utama kematian ibu yaitu abortus (terkomplikasi), eklampsia, partus macet, perdarahan post partum, sepsis puerperalis (Departemen Kesehatan, 1999).Sedangkan penyebab kematian ibu di Indonesia, seperti halnya negara lain yaitu perdarahan 30 – 35%, infeksi 20 – 25%. eklampsia 15 – 17%, dan lain – lain 5% (Manuaba , 1998). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tingkat I Jawa Timur (2010), AKI di Jawa Timur sebesar 1.056 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu di Propinsi Lampung yaitu perdarahan 43,24%, eklampsia 27,03%, infeksi 3,60%, partus lama 7,21%, aborsi 2,70% lain – lain 16,22% (Dinas Kesehatan Tingkat I , 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil data pre survei bulan Januari sampai Desember 2002 di Rumah Sakit Umum ............... terdapat xxx tindakan curettage dimana abortus incomplit yang terbesar sekitar 67% atau 67 orang dari seluruh pasien yang dilakukan curettage Data pasien yang melakukan curettage dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-583098764976589225?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/583098764976589225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/03/kti-kebidanan-gambaran-pengetahuan-ibu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/583098764976589225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/583098764976589225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/03/kti-kebidanan-gambaran-pengetahuan-ibu.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DAMPAK PSIKOLOGI CURETTAGE DI RS xxx'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-1391555091074730513</id><published>2011-03-16T19:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T19:35:08.912-07:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN TERBARU : STUDI DESKRIPTIF KARAKTERISTIK DAN KECEMASAN WANITA DENGAN KANKER SERVIKS  DI RS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BERMINAT HUB. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Hak atas kesehatan reproduksi dijamin melalui serangkaian konvensi internasional yang juga ditandatangani Pemerintah Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hak atas kesehatan reproduksi juga dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen, yang menyebutkan bahwa kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia. Salah satu upaya pembangunan bidang kesehatan tersebut diwujudkan dalam usaha untuk meningkatkan derajad kesehatan para ibu karena banyaknya kasus-kasus penyakit yang terjadi pada wanita, terutama mengenai masalah yang menyangkut organ-organ reproduksi. Salah satu masalah yang sering terjadi pada wanita baik di negara Eropa maupun negara berkembang seperti Indonesia adalah peningkatan penyakit kanker serviks. (Miraz, 2010).&lt;br /&gt;Kejadian kanker leher rahim secara global menduduki urutan kedua setelah kanker payudara, insidensi tiap tahun sekitar 500.000 dan kematian sebanyak 288.000 orang. Di XxxXxx dari tahun ke tahun jumlah penderita karsinoma serviks uteri cenderung meningkat. Kasus terbanyak karsinoma serviks uteri adalah di kota Xxx yaitu sebesar 615 kasus (30,20%) dibandingkan dengan jumlah keseluruhan karsinoma serviks uteri di kabupaten atau di kota lain di XxxXxx (Depkes RI, 2005).&lt;br /&gt;Data yang diperoleh dari RSUP Xxx Xxx yang merupakan tempat rujukan kasus kanker serviks uteri di XxxXxx karena memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menangani kasus kanker serviks uteri dibandingkan rumah sakit lainnya dan merupakan rumah sakit tipe A didapatkan angka kejadian kanker serviks uteri di bangsal ginekologi RSUP Xxx pada tahun 2006 terdapat 416 (27.97%) kasus kanker serviks uteri dari jumlah 1487 kasus ginekologi  dan tahun 2007 terdapat 554 kasus kanker serviks uteri dan menempati urutan pertama dari penyakit keganasan. Data ini menunjukkan bahwa pada tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 25% dari sebelumnya. Jumlah penderita kanker serviks dipoli K.224 RSUP Dr.Xxx pada tahun 2008 adalah 3861 orang, sedangkan pada tahun 2009, jumlah penderita kanker serviks dipoli K.244 RSUP Dr.Xxx Xxx adalah 4827. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan 25% dari tahun 2008 ke 2009. (Laporan tahunan  RSDK, 2009).&lt;br /&gt;    Beberapa faktor yang diduga meningkatkan kejadian kanker leher rahim yaitu faktor sosiodemografis yang meliputi usia, status sosial ekonomi, dan faktor aktifitas seksual yang meliputi usia pertama kali melakukan hubungan seks, pasangan seks yang berganti-ganti, paritas, kurang menjaga kebersihan genital. Sebuah penelitian multisenter oleh IARC mendapatkan paritas lebih atau sama dengan 7 risiko kanker serviks meningkat 4 kali dibandingkan nullipara. Kanker leher rahim meningkat sejak usia 25-34 tahun dan menunjukkan puncaknya pada usia 35-44 tahun ((Diananda, 2007).&lt;br /&gt;Akibat kanker serviks akan menimbulkan masalah, terutama masalah akan timbul pada kesakitan, penderitaan, kematian financial dan ekonomi, masalah pada lingkungan kehidupan dan masalah pada pemerintah. Maka pentingnya penanggulangan kanker serviks secara menyeluruh dan terintegrasi (Faizal Yatim, 2005). Dampak reaksi psikologis yang ditimbulkan dari masalah lingkungan kehidupan menimbulkan reaksi yang sangat beragam, namun ada enam reaksi psikologis yang utama, yaitu kecemasan, depresi, perasaan kehilangan control, gangguan kognitif atau status mental (impairment), gangguan seksual serta penolakan terhadap kenyataan (denial). Gambaran psikologis pasien yang datang pada pemeriksaan medis menunjukan tingginya tingkat kecemasan, rasa marah, dan  keterasingan  (majalah farmasia, 2008).&lt;br /&gt;Gangguan psikologi seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya dan tidak berharga dialami antara 23%-66% pasien kanker. Diperkiraan saat ini ada sekitar 25% pasien kanker yang mengalami depresi berat. Banyak penelitian juga menunjukan pasien kanker mengalami masalah depresi yang berat (Affandi, 2008).&lt;br /&gt;Psikologi yang berkaitan dengan diagnosis kanker sering kali tidak ditegakan oleh petugas medis sampai pada suatu saat mencapai keadaan kritis yang jelas terlihat baru kemudian dilakukan rujukan kepada bagian psikiatri dan keadaan pasien biasanya kritis biasanya sudah menjadi sangat depresif,  cemas dan mungkin juga sampai pada suatu keinginan untuk bunuh diri. Psikologis  yang kompleks dapat menjadi pemicu munculnya kondisi yang menekan atau stres pada diri klien. Penanganan Psikologis (misalnya penanganan stres) sangat baik dilakukan pada masa dini, karena melalui penanganan tersebut diharapkan klien akan cepat merasa tenang, terlepas dari kondisi stress dan perasaan tertekan, sehingga diharapkan klien dapat memperoleh prognosis yang lebih baik (Diar, 2009).&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian terhadap tingkat kecemasan wanita dengan kanker serviks yang dilakukan di RSUP Dr Xxx pada Oktober sampai Desember 2005 oleh Siwi Indriatmi maka didapat hasil bahwa wanita yang menderita kanker serviks yang mengalami cemas ringan 30,30%, cemas sedang 69,69%, cemas berat dan berat sekali 0%. Data yang diperoleh dari 45 respondent didapatkan hasil bahwa wanita yang menderita kanker serviks pada stadium II yang mengalami cemas ringan sejumlah 2 orang (60,60%), pada wanita yang menderita kanker serviks pada stadium III yang mengalami cemas ringan sejumlah 7 orang (21,21%), cemas sedang  sejumlah 34 orang (66 %), sedangkan wanita yang menderita kanker serviks pada stadium IV  yang mengalami cemas ringan sejumlah 1 orang (3,03%), cemas sedang sejumlah 1 orang (3,03%). &lt;br /&gt;Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di RSUP Xxx Xxx, peneliti melakukan wawancara kepada 20 responden. Dengan masing-masing responden memiliki tingkat kecemasan yang berbeda-beda. Didapatkan hasil bahwa, wanita yang menderita kanker serviks yang mengalami cemas ringan sejumlah 11 orang (55%), cemas sedang sejumlah 7 orang (35%), cemas berat sejumlah 2 orang (10%). Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang gambaran kecemasan wanita dengan kanker serviks di RSUP Xxx Xxx.&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Gangguan psikologi yang dialami wanita yang menderita kanker serviks seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya dan tidak berharga dialami antara 23%-66% pasien kanker. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada 20 responden yang menderita kanker serviks dipoli K224 RSUP Dr.Xxx Didapatkan hasil bahwa, wanita yang menderita kanker serviks yang mengalami cemas ringan sejumlah 11 orang (55%), cemas sedang sejumlah 7 orang (35%), cemas berat sejumlah 2 orang (10%). Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran karakteristik dan kecemasan wanita dengan kanker serviks  di RSUP Xxx Xxx ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui gambaran karakteristik dan kecemasan wanita dengan kanker serviks  di RSUP Xxx Xxx.&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Mendeskripsikan karakteristik wanita dengan kanker serviks  yang meliputi umur, paritas, pendidikan dan pekerjaan di RSUP Xxx Xxx&lt;br /&gt;b. Mendeskripsikan kecemasan wanita dengan kanker serviks  di RSUP Xxx Xxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Bagi penderita kanker serviks&lt;br /&gt;Diharapkan dengan penelitian ini, penderita kanker serviks dapat mengurangi tingkat kecemasan yang ada pada dirinya dengan cara tidak membatasi kecacatan dan menimbulkan motivasi untuk hidup yang lebih berguna yang bisa membantu berserah diri pada tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;2. Bagi bidan&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberi penanganan psikologis (misalnya penanganan stres) dilakukan pada masa dini, karena melalui penanganan tersebut diharapkan klien akan cepat merasa tenang,terlepas dari kondisi stress dan perasaan tertekan, sehingga dengan demikian diharapkan klien dapat memperoleh prognosis yang lebih baik.&lt;br /&gt;3. Bagi RSUP Xxx&lt;br /&gt;Sebagai sarana agar penanggulangan kanker serviks dapat dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi bukan hanya dari segi fisik tapi psikologis juga. &lt;br /&gt;4. Bagi peneliti &lt;br /&gt;Dapat menberi sumbangan pemikiran bahwa dalam pengelolaan pasien dengan kanker servik harus dilakukan secara menyeluruh baik secara fisik maupun psikologi,sehingga diharapkan setelah terjun di masyarakat, penanganan ini dapat dilakukan.&lt;br /&gt;5. Bagi peneliti lain&lt;br /&gt;Sebagai sumber referensi dan bahan pembanding untuk penelitian selanjutnya yang berbeda.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-1391555091074730513?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/1391555091074730513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/03/kti-kebidanan-terbaru-studi-deskriptif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1391555091074730513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1391555091074730513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/03/kti-kebidanan-terbaru-studi-deskriptif.html' title='KTI KEBIDANAN TERBARU : STUDI DESKRIPTIF KARAKTERISTIK DAN KECEMASAN WANITA DENGAN KANKER SERVIKS  DI RS'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5633081629574252707</id><published>2011-02-18T22:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T22:10:02.525-08:00</updated><title type='text'>KTI D4 BIDAN PENDIDIK : TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PENYEMBUHAN LUKA  EPISIOTOMI DI RB.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAPATKAN KTI INI SEGERA LENGKAP BAB 1- 5 + KUESIONER HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar Belakang &lt;br /&gt;Masa nifas merupakan masa kritis dalam kehidupan ibu dan bayi karena 60% kematian ibu terjadi segera setelah kelahiran dan kematian tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mencegah kematian tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan, perawatan pada ibu nifas, serta penyuluhan kepada ibu dan keluarganya agar komplikasi nifas tidak terjadi, serta ibu dan bayinya tetap sehat sebagaimana mestinya.  &lt;br /&gt;Ibu lebih rentan terkena infeksi selama masa  postnatal. Ibu yang mengalami episiotomi  pada saat persalinan, luka membutuhkan perawatan untuk penyembuhan, tetapi kadangkala sebagian besar ibu lebih memprioritaskan bayinya dan mengabaikan kesehatannya (Boyle, 2009, hlm. 85). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Masa nifas (puerperium) berlangsung selama 6 minggu,  dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. (Mochtar, 2002, hlm. 115 ). Perawatan masa nifas dimulai sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan  postpartum, perlukaan jalan lahir, atau luka episiotomi.  &lt;br /&gt; Episiotomi  merupakan prosedur umum yang diberikan untuk menghindari perobekan perinium secara alamiah.  Episiotomi  juga diberikan jika kulit tidak cukup meregang sehingga kepala bayi tidak dapat melewati vagina. Proses ini episiotomi akan meninggalkan rasa nyeri sehingga masa pemulihannya biasanya membutuhkan waktu selama seminggu bahkan lebih (Andi, 2007,  http://www.pos  kupang.comTeknologi ini dikembangkan di Inggris pada tahun 1970 dan awal 1980-an, di mana saat itu tindakan episiotomi pada sekitar 50% persalinan dan dianggap perlu ketimbang pembukaan secara alami. Namun setelah itu ada juga periode ketika episiotomi ditinggalkan dan para ibu memilih melahirkan secara natural. Dengan informasi yang cukup dan ahli persalinan yang tepat, sebenarnya episiotomi tidak perlu menjadi momok bagi para ibu (Arya, 2008, hlm. 7)  , diperoleh tanggal 16 Oktober 2009). &lt;br /&gt;Gracia et al, menemukan bahwa dari total 1951 kelahiran spontan pervaginam, 57% ibu mendapat mendapat jahitan (28% karena episiotomi dan 29% karena robekan). Oleh karena itu perawatan  luka ini merupakan bagian umum asuhan postnatal  (Boyle, &lt;br /&gt;2009, hlm. 85).  &lt;br /&gt;Pada survei awal yang dilakukan peneliti pada tgl 26 September 2009 di dapatkan data pada Juli-September 2009 bahwa dari 82 persalinan terdapat 46 (56,1%) &lt;br /&gt;persalinan dengan episiotomi. Pada tanggal 3-10 Oktober 2009 dilakukan wawancara &lt;br /&gt;kepada 7 orang ibu dengan episiotomi, 5 diantaranya tidak tahu cara penyembuhan luka &lt;br /&gt;episiotomi.  Berdasarkan data diatas peneliti  tertarik untuk meneliti Pengetahuan Ibu Nifas &lt;br /&gt;tentang Penyembuhan Luka Episiotomi di Rumah Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010  . &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah &lt;br /&gt;Dari uraian pada latar belakang  tersebut  di atas, perumusan masalah penelitian ini &lt;br /&gt;adalah bagaimanakah Pengetahuan Ibu Nifas tentang Penyembuhan Luka Episiotomi di &lt;br /&gt;Rumah Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt;1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;Untuk mengidentifikasi Pengetahuan Ibu Nifas tentang Penyembuhan Luka Episiotomi di Rumah Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010 .  &lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus  &lt;br /&gt;a.  Untuk mengidentifikasi  Pengetahuan Ibu Nifas tentang Penyembuhan Luka Episiotomi di Rumah Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010 berdasarkan karakteristik (umur , pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, paritas) .  &lt;br /&gt;b.  Untuk mengidentifikasi  Pengetahuan Ibu Nifas tentang Penyembuhan Luka Episiotomi di Rumah Bersalin Xxx Xxx tahun 2010 berdasarkan definisi, tujuan, penyebab, penyembuhan luka, dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; D. Manfaaf Penelitian &lt;br /&gt;1.  Manfaat bagi masyarakat &lt;br /&gt;Sebagai sumber informasi kesehatan khususnya kepada ibu  nifas agar dapat menjaga kesehatan. &lt;br /&gt;2.  Manfaat bagi tempat penelitian &lt;br /&gt;Sebagai masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan asuhan kebidanan kepada masyarakat. &lt;br /&gt;3.  Manfaat bagi inst itusi pendidikan &lt;br /&gt;Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di perpustakaan untuk menambah wawasan. &lt;br /&gt;4.  Manfaat bagi peneliti selanjutnya &lt;br /&gt;Sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. &lt;br /&gt;5.  Manfaat bagi peneliti &lt;br /&gt;Untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam membuat karya tulis dan sebagai salah satu pengalaman belajar di D    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5633081629574252707?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5633081629574252707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-d4-bidan-pendidik-tingkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5633081629574252707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5633081629574252707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-d4-bidan-pendidik-tingkat.html' title='KTI D4 BIDAN PENDIDIK : TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PENYEMBUHAN LUKA  EPISIOTOMI DI RB.'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2819431669970179631</id><published>2011-02-14T19:49:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T19:53:29.099-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : PENGARUH RELAKSASI PERNAPASAN TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I DI KLINIK BERSALIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI INI LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar Belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Persalinan adalah saat yang sangat dinanti-nantikan ibu hamil untuk dapat marasakan kebahagiaan melihat dan memeluk bayinya. Tetapi, persalinan juga disertai rasa nyeri yang membuat kebahagiaan yang didambakan diliputi oleh rasa takut dan cemas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, persalinannya lebih lama dan nyeri, sedangkan masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Nyeri dalam kebidanan adalah sesuatu yang dikatakan oleh pasien, kapan saja adanya nyeri tersebut. Nyeri adalah masalah yang alamiah dalam menghadapi persalinan. Apabila tidak diatasi maka menimbulkan masalah lain yaitu meningkatkan rasa khawatir (Wiknjosastro, 2002). &lt;br /&gt;Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode nonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik. Sedangkan metode nonfarmakologi bersifat murah, simpel, efektif, dan tanpa efek yang merugikan. Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selama persalinan karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya. Relaksasi, teknik pernapasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage, hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur, aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh yang efektif terhadap pengalaman persalinan (Handerson., Jones. 2006). Penatalaksanaan kebidanan terhadap nyeri persalinan digali dengan menggunakan sampel sebanyak 4171 pasien yang mengalami kelahiran di rumah sakit yang ditolong oleh perawat-bidan pada sembilan rumah sakit di Amerika Serikat tahun 1996. Kira-kira 90% dari wanita yang bersalin yang dipilih menggunakan beberapa tipe penatalaksanaan nyeri untuk persalinan. Banyak memilih melalui susunan methode nonfarmakologis dengan atau tanpa farmakologis. Sesuai harapan, metode nonfarmakologis adalah pilihan yang disukai (Patree., Walsh. 2007). Berdasarkan pendapat Steer dikutip dari (Mander, 2003). Relaksasi adalah metode pengendalian nyeri nonfarmakologi yang paling sering digunakan di Inggris. Steer melaporkan bahwa 34 % ibu menggunakan metode relaksasi. Frekuensi ini sedikit ketinggalan dengan penggunaan Etonox (60%). tetapi tidak terlalu jauh berada di belakang metode yang kedua yang paling sering digunakan, yaitu petidin (36,9%). Teknik pengendalian nyeri yang termasuk relaksasi mengajarkan ibu untuk meminimalkan aktivitas simpatis dan sistem saraf otonom. Dengan menekan aktifitas saraf simpatis, ibu mampu memecahkan siklus ketegangan (Mander, 2003). &lt;br /&gt;Nyeri dan ketegangan emosional meningkatkan kadar kortisol dan katekolamin, yang dapat mempengaruhi lama dan intensitas persalinan. Rasa nyeri saat persalinan bisa meningkatkan tekanan darah, denyut jantung janin meningkat dan konsentrasi ibu selama persalinan menjadi terganggu. Semua itu akan berefek buruk terhadap kelancaran persalinan (Indriati, 2009). Ketika ibu sangat takut menghadapi persalinan secara otomatis otak mengatur dan mempersiapkan tubuh untuk merasa sakit, akibatnya rasa sakit saat persalinan semakin terasa akhirnya sakit semakin parah dan akhirnya ibu semakin takut. Metode penghilang rasa sakit persalinan dibutuhkan karena pada dasarnya persalinan bukanlah siksaan, bahkan hukuman dan bukan ajang uji ketakutan atau daya tahan wanita. Persalinan adalah tugas reproduksi untuk melanjutkan kehidupan dimuka bumi ini. Untuk meringankan tugas ini ibu berhak atas upaya untuk mengurangi pederitaan apalagi rasa sakit yang dialami sepanjang persalinan dapat beresiko bagi keselamatan ibu dan janin (Danuatmaja., Meiliasari. 2004). Keterampilan mengatasi rasa nyeri ini dapat digunakan selama persalinan, mengatasi persalinan dengan baik berarti tidak kewalahan atau panik saat menghadapi rangkaian kontraksi. Keterampilan yang paling bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri bersalin mencakup relaksasi pernapasan. Para wanita yang menggunakan keterampilan ini biasanya tidak merasa begitu sakit dibandingkan para wanita yang tidak menggunakannya (Whalley., Simkin., &amp; Keppler. 2008). &lt;br /&gt;Relaksasi merupakan proses mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari segala beban fisik dan kejiwaan, sehingga ibu menjadi lebih tenang. Di samping itu, relaksasi juga membuat sirkulasi darah rahim, plasenta, dan janin menjadi lancar sehingga kebutuhan oksigen dan makanan si kecil terpenuhi. Sirkulasi darah yang lancar juga akan membuat otot-otot yang berhubungan dengan kandungan dan janin seperti otot panggul, punggung dan perut, menjadi lemas dan kedur. Sedang ketika persalinan, relaksasi membuat proses kontraksi berlangusung aman, alami, dan lancar. Di samping menjadi rileks, pengetahuan tentang cara bernapas yang baik juga dapat mengatasi beberapa kesulitan bernapas yang biasa dialami ibu hamil ( Indriati, 2009). Teknik relaksasi merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan masukan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat mencegah kesalahan yang berlebihan pasca-persalinan. Ada pun relaksasi bernapas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem sarap simpatis dalam keadaan homeostatis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, menguragi kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradapatasi dengan nyeri selama proses persalinan ( Mander, 2003). Relaksasi telah terbukti meningkatkan kemampuan individu untuk menoleransi nyeri. Relaksasi dan pernapasan yang terkontrol dapat meningkatkan kemampuan mereka mengatasi kecemasan dan meningkatkan rasa mampu mengendalikan yang menimbulkan stres dan nyeri (Schott., Priest. 2008). Survey pendahuluan peneliti pada tanggal 11 November 2009 di Klinik Bersalin Xxx I dan II Marindal Xxx didapat bahwa belum pernah melakukan relaksasi pernapasan untuk mengurangi nyeri pada ibu bersalin sedang diketahui bahwa peranan relaksasi pernapasan sangat penting saat melahirkan. Berdasarkan data tersebbut, peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I di Klinik Bersalin Xxx I dan II Marindal Xxx &lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah” Adakah PENGARUH RELAKSASI PERNAPASAN TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I DI KLINIK BERSALIN Xxx I dan II Marindal Xxx tahun 2010”. &lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I di Klinik Bersalin Xxx I dan II Marindal Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik responden &lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi intensitas nyeri pada persalinan kala I sebelum dilakukan intervensi. &lt;br /&gt;c. Mengidentifikasi pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I sesudah dilakukan intervensi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Praktek Kebidanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif penurunan rasa nyeri pada persalinan yang dengan mudah dilakukan tanpa efek yang membahayakan dalam memberikan intervensi pada ibu selama persalinan kala I. 2. Bagi pendidikan kebidananan &lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data dasar untuk &lt;br /&gt;penelitian selanjutnya mengenai pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I 3. Bagi Peneliti Hasil ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti tentang pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt;A. Nyeri Persalinan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialami. Berikut ini pengertian nyeri : &lt;br /&gt;1. Wolf Weifsel Feurst (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan. &lt;br /&gt;2. Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional (Musrifatul., Hidayat. 2008).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2819431669970179631?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2819431669970179631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-2011-pengaruh-relaksasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2819431669970179631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2819431669970179631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-2011-pengaruh-relaksasi.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : PENGARUH RELAKSASI PERNAPASAN TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I DI KLINIK BERSALIN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-6320881769256812351</id><published>2011-02-14T19:46:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T19:48:06.318-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN 2011 : STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HIPOTERMI DI BPS</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAPATKAN KTI INI SEGERA HUB Hp : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Pada saat ini Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Perinatal di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (1994) Angka Kematian Ibu adalah 390 per 10.000 kelahiran hidup dann Angka Kematian Perinatal adalah 40 per 1.000 kelahiran hidup (Siafuddin, 2008). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Menurut Dinkes (2010) di Indonesia Angka Kematian Bayi tergolong masih cukup inggi yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) di negara-negara maju telah turun dengan cepat dan sekarang mencapai angka dibawah 20 pada 1.000 kelahiran. Penurunan angka kematian perinatal berlangsung lebih lambat, sebabnya adalah karena kesehatan serta keselamatan janin dalam uterus sangat tergantung dari keadaan dan kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil dari konsepsi hingga janin cukup bulan (Sarwono, 2006). Hal ini disebabkan karena Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), perdarahan, tekanan darah yang tinggi saat hamil, infeksi, persalinan macet dan komplikasi keguguran. Penyebab tidak langusng kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya.&lt;br /&gt;Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut diatas adalah pusat pelayanan kesehatan dan perawatan maupun Puskesmas dapat mengadakan program pada ibu-ibu seperti pengadaan penyuluhan atau konseling dan pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas terutama perawatan pada bayi baru lahir dan khususnya hipotermi. Sehingga nantnya akan dapat menambah pengetahuan ibu tentang bagaimana cara mencegah terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Dari latar belakang diatas maka dapat diangkat permasalahan bagaimana tingkat pengetahuan ibu tentang cara mencegah terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang hipotermi pada bayi baru lahir.&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang cara mencegah terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan yaitu tentang pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir.&lt;br /&gt;2. a. Bagi Institusi Pendidikan&lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya. &lt;br /&gt;b. Bagi Pelayanan Kesehatan&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan informasi dan pemikiran kepada pelayanan kesehatan tentang pentingnya konseling perawatan bayi baru lahir terutama pencegahan hipotermi.&lt;br /&gt;3. Bagi Masyarakat&lt;br /&gt;Hasil dari penelitian ini dapat menjdi support bagi masyarakat untuk mengetahui cara mencegah terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. KEASLIAN PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian serupa yang penulis temukan diantaranya :&lt;br /&gt;1. Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di 2 BPS Wilayah Puskesmas Karangdoro Semarang Periode April 2005. Penelitian ini dilakukan di 2 BPS Wilayah Puskesmas Doro Semarang pada bulan April 2005, oleh Anita Diana Rahmayati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir. Jenis penelitian adalah bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir di 2 BPS Wilayah Puskesmas Karangdoro Semarang periode April 2005 dinyatakan sedang dengan prosentase 78%. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan saat ini adalah variebel dependent, waktu dan tempat.&lt;br /&gt;2. Pengaruh Mandi Rendam Pada Bayi Baru Lahir Terhadap Kejadian Hipotermi di Bidan Didien Godean Sleman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan di Bidan Didien Godean, Sleman, Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan November-Desember 2007. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh Mandi Rendam pada Neonatal terhadap kejadian hipotermi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa ada perbedaan antara kelompok eskperimen dan kelompok kontrol terhadap kejadian hipotermi. Perbedaan yang didapat dengan penelitian yang dilakukan oleh peniliti saat ini adalah variabel independent waktu, tempat dan jenis penelitian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. TINJAUAN TEORI&lt;br /&gt;1. Pengetahuan &lt;br /&gt;a. Pengertian Pengetahuan&lt;br /&gt;Menurut Salam (2008) yang dimaksud dengan pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil daripada kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran.&lt;br /&gt;Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.&lt;br /&gt;Pengetahuan (knowledge) adalah hal-hal yang kita ketahui tentang kebenaran yang ada disekitar kita tanpa harus menguji kebenarannya, didapat melalui pengamatan yang lebih mendalam. Sumber  pengetahuan meliputi tradisi (kebiasaan yang turun-temurun),   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-6320881769256812351?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/6320881769256812351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-2011-studi-deskriptif.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6320881769256812351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/6320881769256812351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-2011-studi-deskriptif.html' title='KTI KEBIDANAN 2011 : STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HIPOTERMI DI BPS'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-8485475196822908476</id><published>2011-02-07T20:32:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T20:35:13.993-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA TERHADAP PELAYANAN   PERSALINAN NORMAL IBU</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KTI KEBIDANAN  SEGERA HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1 &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;1.1.    Latar belakang &lt;br /&gt;Tingginya  Angka  Kematian  Ibu  atau  AKI  di  Indonesia  merupakan  permasalahan penting yang perlu mendapat penanganan serius. AKI merupakan tolak  ukur  keberhasilan  kesehatan  ibu  dan  merupakan  barometer  pelayanan  kesehatan  di  suatu negara, Bila angkanya masih tinggi, berarti pelayanan kesehatan di negara itu  dikategorikan  belum  baik  (Adriaansz,  2007).  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka  salah  satu  upaya  yang  perlu  mendapatkan perhatian dalam menurunkan AKI adalah melalui peningkatan kualitas  pelayanan  persalinan.  Hal  ini  dikarenakan  penyebab  langsung  berkaitan  dengan  kematian  ibu  adalah  komplikasi  pada  kehamilan,  persalinan  dan  nifas  yang  tidak  tertangani dengan baik dan tepat waktu (Azwar, 2009).  &lt;br /&gt;Kehamilan  dan  persalinan  merupakan  hal  yang  wajar  terjadi  pada  seorang perempuan. Persalinan merupakan  suatu proses alami dan peristiwa normal, namun  apabila  tidak  dikelola  dengan  tepat  dapat  menjadi  abnormal  (Soepardan,  2006).  Meskipun  merupakan  suatu  hal  yang  fisiologis,  persalinan  memiliki  banyak  resiko  yang  dapat  membahayakan  nyawa  ibu  dan  janinnya.  Berdasarkan  inilah  bidan  penolong  persalinan  dituntut  untuk  selalu  berusaha  meningkatkan  kemampuan  sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya (IBI, 2005). &lt;br /&gt;Kematian pada  ibu dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa sekitar  persalinan  atau  periode  intrapartum,  yang  menyumbang  80%  dari  total  jumlah  kematian ibu, komplikasi abortus hanya mencakup 12% dari total kematian maternal  dan masa nifas hanya mencakup 8% dari total kematian ibu di Indonesia. Perbaikan  upaya  pertolongan  dan  perluasan  periode  pelayanan  ke  periode  1  minggu  sebelum  dan setelah persalinan akan semakin mempertinggi peluang untuk menurunkan rasio  kematian ibu menjadi 100 per 100.000 kelahiran hidup (Andriaansz, 2007). Sehingga  pemeriksaan  kesehatan  pada  saat  hamil  dan  kehadiran  serta  pertolongan  tenaga  kesehatan yang terampil saat persalinan menjadi sangat penting (Syafrudin, 2008). &lt;br /&gt;Banyak  faktor  penyebab  kematian  ibu  pada  saat  persalinan  baik  karena komplikasi  persalinan  itu  sendiri  maupun  persalinan  yang  dilakukan  oleh  tenaga  kesehatan  yang  tidak  kompeten.  Persalinan  bersih  dan  aman  serta  pencegahan  komplikasi selama dan pasca persalinan terbukti mampu mengurangi kesakitan atau  kematian ibu dan bayi baru lahir (Depkes, 2008). Dan telah disepakati oleh Jaringan  Nasional  Pelatihan  Klinik  Kesehatan  Reproduksi  (JNPK-KR)  dan  Departemen  Kesehatan  RI  bahwa  cakupan  pelayanan  oleh  tenaga  terlatih  adalah  kunci  dari  perbaikan status kesehatan ibu, bayi dan anak serta mencapai target yang diinginkan.  Tenaga kesehatan terampil adalah pelaku yang mampu menjaga dan menyelamatkan  ibu dan bayi baru lahir dari kematian atau kesakitan yang seharusnya dapat dicegah  atau dihindarkan melalui upaya dan pertolongan tepat waktu dan adekuat. &lt;br /&gt;Untuk  tujuan  tersebut  diatas,  salah  satu  upaya  yang  dilakukan  adalah meningkatkan  kompetensi  bidan  yaitu  peningkatan  pengetahuan  dan  keterampilan  perilaku  profesionalisme  bidan  sebagai  petugas  kesehatan  dalam  menolong  persalinan.  Paradigma  menunggu  terjadinya  dan  menangani  komplikasi  menjadi pencegahan  terjadinya  komplikasi  diharapkan  dapat  memberikan  kontribusi  dalam  penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir (Depkes, 2008). &lt;br /&gt;Bidan merupakan tenaga lini terdepan (front line) harus mampu dan terampil dalam  memberikan  pelayanan  kebidanan  kepada  ibu  dan  bayi  baru  lahir  sesuai  dengan asuhan kebidanan yang ditetapkan, mengacu kepada kewenangan dan kode  etik  profesi  serta  ditunjang  dengan  sarana  dan  prasarana  yang  terstandar.  Untuk  mendukung  peningkatan  keterampilan  bidan  dalam  memberikan  pelayanan  yang  berkualitas,  Departemen  kesehatan  telah  menyusun  berbagai  pedoman  dan  standar  asuhan kebidanan sehingga dapat digunakan sebagai acuan. Seiring dengan itu pula  pemerintah  dan  berbagai  pihak  di  Indonesia  terus  mengembangkan  pendidikan  kebidanan  yang  berhubungan  dengan  perkembangan  pelayanan  kebidanan  baik  pendidikan  formal  maupun  non  formal.  Dan  sejak  tahun  2000  telah  dibentuk  tim  pelatihan  Asuhan  Persalinan  Normal  (APN)  yang  dikoordinasi  oleh  Maternal  Neonatal  Health  (MNH)  yang  sampai  saat  ini  telah  melatih  APN  di  beberapa  propinsi/kabupaten di Indonesia guna menjawab kebutuhan/tuntutan masyarakat akan  pelayanan kebidanan yang berkualitas (Depkes, 2005). &lt;br /&gt;Dalam  melaksanakan  tugas  pelayanan  kebidanan,  yang  merupakan  bagian integral  dari  pelayanan  kesehatan,  seorang  bidan  harus  memiliki   kompetensi.   Kompetensi  yang  dimiliki  seorang  bidan  mempunyai  pengaruh  yang  sangat  besar  dalam kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan juga dalam pelayanan  persalinan  normal  ibu.  Menurut  penelitian  Boyatzis  (1982)  dalam  Hutapea  P  dan  Thoha  N  (2008), kompetensi didefenisikan sebagai “kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerja  dalam suatu organisasi sehingga mampu mencapai hasil yang diharapkan”. Demikian  juga  terhadap  seorang  bidan  harus  memiliki  kompetensi  yang  tinggi  agar  mampu  melaksanakan pelayanan kebidanan yang berkualitas (Soepardan, 2002). &lt;br /&gt;Menurut penelitian Lumbantobing (2004), bahwa kemampuan dan ketrampilan bidan  mempunyai  pengaruh  terhadap  keberhasilan  pelayanan  kesehatan  yang  diberikan.  Secara  simultan  dibuktikan  bahwa  kemampuan  dan  ketrampilan  bidan  mempunyai  pengaruh  yang  lebih  besar  terhadap  kinerja  bidan  di  desa  dibanding  supervisi,  imbalan  dan  motivasi.  Namun  secara  keseluruhan  semua  variabel  mempengaruhi kinerja bidan.  &lt;br /&gt;Kompetensi  yang  dimiliki  seorang  bidan  harus  meliputi  pengetahuan, keterampilan,  dan  perilaku  dalam  melaksanakan  pelayanan  kebidanan  secara  aman  dan bertangungjawab dalam berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Kompetensi bidan  tidak terlepas dari wewenang bidan yang telah diatur dalam peraturan Kepmenkes RI  No.  938/  Menkes/  SK/  VIII/  2007,  tentang  Standar  Asuhan  Kebidanan  yang  merupakan landasan hukum dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan. &lt;br /&gt;Beberapa  negara  maju  telah  memperlihatkan  akselerasi  penurunan  rasio kematian maternal secara bermakna melalui asuhan yang memadai selama kehamilan  dengan  pertolongan  persalinan  oleh  tenaga  kesehatan  yang  terampil  di  berbagai  jenjang  pelayanan,  seperti  Amerika  Serikat  mampu  menurunkan  AKI  dari  600  per  100.000 kelahiran hidup pada tahun 1950 menjadi 20-30 per 100.000 kelahiran hidup  pada tahun 1960, Romania 600 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1989 menjadi  83  per  100.000  kelahiran  hidup  pada  tahun  1991.  Beberapa  negara  berkembang  seperti  Thailand  mampu  menurunkan  rasio  AKI   dari  400  per  100.000  kelahiran  hidup  pada  tahun  1960  menjadi  50  per  100.000  kelahiran  hidup  pada  tahun  1984,  Malaysia dan Sri Lanka juga mampu menurunkan rasio AKI lebih dari 50% dalam  periode yang sama (Andriaansz, 2004). &lt;br /&gt;ndonesia  yang  telah  berjuang  selama  hampir  duapuluh  lima  tahun  dalam upaya  menurunkan  AKI  dengan  perubahan  fundamental  dari  sistem  pelayanan  kesehatan dan perbaikan status kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak ternyata belum  sebanding  dengan  pencapaian  penurunan  AKI  tahun  2007  yaitu  sebesar  248  per  100.000 kelahiran hidup. Hasil pencapaian penurunan AKI ini masih menempatkan  posisi  Indonesia  sejajar  dengan  India,  Bangladesh,  Nepal  dan  Myanmar,  yang  merupakan negara – negara di Asia tenggara dengan jumlah AKI tertinggi di dunia  (WHO,  2008).  Bila  dibandingkan  dengan  AKI  Indonesia  tahun  2002  sebesar  307/100.000  kelahiran  hidup,  jumlah  AKI  saat  ini  memang  sudah  jauh  menurun,  namun  masih  jauh  dari  target  Millenium  Development  Goals  (MDGs)  2015  yaitu  menurunkan  AKI  hingga  102/100.000  kelahiran  hidup,  sehingga  masih  sangat  diperlukan kerja keras dari semua komponen untuk mencapai target tersebut. &lt;br /&gt;Berdasarkan  profil  Dinas  Kesehatan  Provinsi  Nanggroe  Aceh  Darussalam (NAD)  tahun 2007 jumlah AKI sebesar 224/100.000 KH, tahun 2008 AKI menurun  menjadi  sebesar  209/100.000  KH.  Penurunan  ini  disebabkan  oleh  adanya  penambahan tenaga bidan di desa sehingga cakupan pelayanan kebidanan meningkat  dari  74,50%  di  tahun  2007  menjadi  88,42%  di  tahun  2008.  Namun  demikian  persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi NAD belumlah sesuai dengan target Nasional untuk jumlah cakupan pelayanan oleh tenaga  kesehatan yaitu sebesar 90 %. Profil  Dinas  Kesehatan  Kabupaten  Xxx  Xxx  tahun  2008,  yang  merupakan salah  satu  kabupaten  yang  ada  di  provinsi  NAD,  juga  mencatat  data  pencapaian  cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih sangat rendah yaitu sebesar 50,07 %,  Hal ini menyebabkan masih tinggi nya AKI di kabupaten xxx Xxx yaitu 3 per 1.000  kelahiran hidup atau setara dengan 300 per 100.000 kelahiran hidup secara nasional.  Dari  wawancara  yang  dilakukan  dengan  kepala  Dinas  Kesahatan  kabupaten  Xxx  Xxx dan survei awal penulis di empat puskesmas yaitu Puskesmas Perawatan Kota  Blangkejeren,  Puskesmas  Cinta  Maju,  Puskesmas  Blang  Jerango,  dan  Puskesmas  Rikit Gaib didapat kesimpulan sementara bahwa masih sangat buruknya pelayanan  kebidanan yang diberikan oleh bidan di desa. &lt;br /&gt;Adanya  program  pemerintah  menempatkan  bidan  di  desa  sebagai  tenaga kesehatan  dalam  rangka  penurunan  angka  kematian  ibu  sangat  berperan.  Karena  sebagian  besar  persalinan  di  Indonesia  terjadi  di  desa  atau  di  fasilitas  pelayanan  kesehatan  dasar  dimana  tingkat  keterampilan  petugas  dan  sarana  kesehatan  sangat  terbatas, oleh karena itu pemerintah berupaya agar semua penolong persalinan dilatih  agar  kompeten  untuk  melakukan  upaya  pencegahan  atau  deteksi  dini  secara  aktif  terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara  adekuat  dan  tepat  waktu,  dan  melakukan  upaya  rujukan  segera  dimana  ibu  masih  dalam  kondisi  yang  optimal  maka  semua  upaya  tersebut  dapat  secara  bermakna  menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir (Depkes,2008). &lt;br /&gt;Hasil  Penelitian  dari  Abbas  dan  Kristiani  (2006)  juga  menyebutkan  Masalah  kesehatan kaum ibu khususnya ibu hamil (Bumil) terutama daerah pedesaan masih  cukup  besar.  Hal  ini  memerlukan  adanya  tenaga  kesehatan  yang  dapat  berperan  dalam mengatasi masalah tersebut, seperti penempatan bidan yang kompeten didesa.  Untuk  meningkatkan  upaya  penurunan  AKI  dan  AKB  dibutuhkan  sumber  daya  manusia yang dapat meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan sesuai  dengan wilayah kerjanya. &lt;br /&gt;Profesi bidan bukanlah profesi yang mengemban tugas ringan, profesionalisme, kerja  keras  dan  kesungguhan  hati  serta  keikhlasan  akan  memberikan  kekuatan  dan  modal utama bagi pengabdian profesi bidan terutama didaerah – daerah yang masih  tergolong terpencil. Pemahaman yang utuh mengenai konsep kebidanan pun sangat  penting dimiliki oleh para bidan karena tuntutan masyarakat dan tantangan terhadap  pelayanan  kebidanan  semakin  meningkat  pula.  Hal  ini  merupakan  tantangan  tersendiri bagi bidan untuk terus meningkatkan kompetensi kebidanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2    Rumusan Permasalahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian  pada  latar  belakang,  dirumuskan  permasalahan  “  Apakah  kompetensi  bidan  yang  meliputi  pengetahuan,  ketrampilan  dan  perilaku  bidan  berpengaruh  terhadap  pelaksanaan  pelayanan  persalinan  normal  ibu  di  Kabupaten  Xxx Xxx”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3    Tujuan Penelitian &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  pengaruh  kompetensi  bidan  yang  meliputi  pengetahuan,  ketrampilan  dan  perilaku  bidan  terhadap  pelaksanaan  pelayanan  persalinan normal ibu di Kabupaten Xxx Xxx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4    Hipotesis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi  bidan  yang  terdiri  dari  pengetahuan,  ketrampilan  dan  perilaku berpengaruh  terhadap  pelaksanaan  pelayanan  persalinan  normal  ibu  di  Kabupaten Xxx Xxx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5     Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Bagi Pemerintah Kabupaten Xxx Xxx &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi evaluasi kerja bidan di desa  dalam  kabupaten  Xxx  Xxx,  serta   menjadi  pertimbangan  rekruitmen  maupun pengembangan karier bidan di desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Bagi Kepala Dinas Kesehatan Kabupten Xxx Xxx &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  penelitian  ini  dapat  diketahui  kompetensi  yang  berpengaruh  terhadap  pelayanan  persalinan  dan  kompetensi  yang  lebih  dominan  mempengaruhi cakupan pertolongan persalinan ibu di Kabupaten Xxx Xxx  dan  sebagai  masukan  dalam  menetapkan  kebijakan  peningkatan  angka  cakupan pertolongan persalinan oleh bidan dalam rangka penurunan AKI di  kabupaten Xxx Xxx. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Bagi Bidan di Desa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi  alat  evaluasi  pribadi  bidan  di  desa  untuk  memperbaiki  dan  mengembangkan diri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.   Manfaat Akademis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil  penelitian  ini  diharapkan  menambah  wawasan  pengembangan  ilmu  manajemen  kesehatan,  khususnya  tentang  pengaruh  kompetensi  bidan  terhadap  cakupan  pertolongan  persalinan  ibu  serta  alternatif  dalam  peningkatan kinerja bidan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.  Pengertian Bidan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bidan  adalah  seorang  yang  telah  menyelesaikan  program  pendidikan  bidan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang  diakui  oleh  negara  tempat  ia  tinggal,  dan  telah  berhasil  menyelesaikan  studi  terkait kebidanan serta memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan/ atau memiliki izin  formal untuk praktik bidan (Soepardan, 2006).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Federation of International Gynaecologist and Obstetritian atau FIGO (1991) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan  World  Health  Organization  atau  WHO  (1992)  menyempurnakan  pengertian  bidan  yaitu  seseorang  yang  telah  menyelesaikan  Program  Pendidikan  Bidan  yang  diakui oleh Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan  praktek kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan  memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan  dan masa pasca persalinan (post partum period), memimpin persalinan atas tanggung  jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk  tindakan  preventif,  pendeteksian  kondisi  abnormal  pada  ibu  dan  bayi,  dan  mengupayakan bantuan media serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat  pada saat tidak hadirnya     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-8485475196822908476?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/8485475196822908476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-pengaruh-kompetensi-bidan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8485475196822908476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8485475196822908476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-pengaruh-kompetensi-bidan.html' title='KTI KEBIDANAN : PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA TERHADAP PELAYANAN   PERSALINAN NORMAL IBU'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-3003934306879883161</id><published>2011-02-07T20:25:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T20:26:48.635-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : GAMBARAN RESPON PSIKOLOGIS WANITA MENOPAUSE DI DESA XXX</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KTI LENGKAP BAB 1-5 Plus KUesioner Hub : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar belakang masalah&lt;br /&gt; Keluarga memberikan wanita arena bermain dan jaminan keamanan untuk melaksanakan fungsi-fungsi kewanitaannya. Semakin mantap wanita itu memainkan berbagai peranan sosial dalam keluarga, semakin positif dan makin produktiflah dirinya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh karena agar wanita mampu melaksanakan macam-macam peranannya itu diperlukan kedewasaan psikis. &lt;br /&gt;             Kedewasaan psikis mengandung pengertian memiliki emosi yang stabil, bisa mandiri menyadari tanggung jawab, mempunyai tujuan dan arah hidup yang jelas serta produktif kreatif. Melalui kedewasaan psikis tersebut akan tercapai kestabilan-keseimbangan jiwa dalam kebahagiaan hidupnya. Kedewasaan psikis diperlukan dalam setiap periode kehidupan wanita terutama pada periode dewasa dan tua karena pada periode ini terjadi perubahan-perubahan yang signifikan baik fisik maupun psikologisnya (Kartono, 1992 : 312). Pada periode ini diharapkan wanita telah mempunyai kedewasaan secara psikis yang mantap dalam arti memiliki respon yang positif dalam menjalani berbagai perannya.&lt;br /&gt; Periode tua atau sering disebut periode terakhir dalam rentang kehidupan merupakan suatu periode di mana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu. Yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock, 1997 : 57). Pada wanita, periode ini disebut periode nenek-nenek yang ditandai dengan regresi-regresi atau kemunduran tertentu baik yang bersifat fisik maupun psikis (Kartono, 1992 : 317). Dari kemunduran-kemunduran ini kemudian timbul masalah kesehatan. Salah satu yang dialami nenek-nenek atau usia lanjut adalah menopause.&lt;br /&gt; Menurut Pittsburg (1996) sebagian besar wanita menopause di dunia tidak mengetahui tentang menopause. Wanita menopause yang tidak mengetahui tentang menopause hampir 80,9%. Sebagian besar dari mereka berespon yang bermacam-macam terhadap datangnya masa ini, yaitu mengalami kecemasan, depresi, stres, mudah marah, daripada wanita yang mengetahui menopause (Wiknjosastro, 1997 :312). Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Desa Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx dari 25 orang  menopause yang ditemui 15 orang diantaranya belum mengetahui tentang menopause. Keadaan ibu-ibu itu dalam kondisi cemas ditandai dengan ibu tampak gelisah, banyak bertanya keadaan dan kekhawatiran akan bahaya yang ditimbulkan menopause.&lt;br /&gt; Fase menopause disebut pula sebagai periode klimakterium (climacter = tahun perubahan, pergantian tahun yang berbahaya). Pada saat ini terjadi banyak perubahan dalam fungsi-fungsi fisik dan diikuti dengan pergeseran dan perubahan psikis pribadi yang bersangkutan yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis antara lain ialah : depresi-depresi (kemurungan), mudah tersinggung dan mudah menjadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur karena sangat bingung atau gelisah (Kartono, 1992:318-319). Setiap wanita memiliki persepsi dan respon yang beragam mengenai menopause. Sebagian berpendapat bahwa menopause awal mengalami kemunduran fungsi kewanitaan secara keseluruhan bahkan ada yang berpendapat bahwa menopause sebagai bencana di usia senja, karena perubahan-perubahan sistem hormonal itu mempengaruhi segenap konstitusi psikosomatis atau rohani dan jasmani sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif menyeluruh dari individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt; Program pemerintah yang terkait dengan masalah ini adalah program posyandu lansia. Dalam pelaksanaannya ibu-ibu menopause diberi penyuluhan tentang menopause oleh tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat sehingga diharapkan ibu-ibu menopause dan pre menopause tidak cemas dalam menghadapi masa menopause (Anonim, 1991: 17). &lt;br /&gt;             Salah satu cara untuk mengatasi gangguan psikologis tentang menopause adalah dengan usaha resignasi  (sumeleh, sumarah, tawakal) tanpa kompensasi untuk menghadapi situasi dan kondisi ketuaan, tanpa rasa kecemasan dan usaha resignasi ini merupakan usaha paling sulit bagi setiap manusia (resignasi = berusten = tawakal = menerima dengan hati sumarah). Selain itu banyak kemajuan di bidang kedokteran di kelak kemudian hari orang bisa mengurangi kesulitan-kesulitan fisik dan psikis periode klimakteris dengan memberikan pengaruh tertentu pada aparat endokrin. Namun untuk saat sekarang ini tidak ada jalan lain kecuali wanita setengah umur ini harus mau dan bisa menerima status quo (keadaan dirinya pada saat itu) yang mulai menjadi tua serta akan sangat bijaksanalah apabila wanita-wanita tersebut mampu melihat segi-segi positif dari pengalaman hidupnya sampai saat itu (Kartono, 1992: 334).&lt;br /&gt; Dari sekilas gambaran pada latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian yaitu untuk mengetahui lebih nyata gambaran respon psikologis pada ibu-ibu menopause di Desa Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx.&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah&lt;br /&gt;      Periode klimakterium atau menopause merupakan periode kritis. Sebabnya ialah perubahan-perubahan dalam sistem hormonal itu mempengaruhi segenap konstitusi psikosomatis (rohani dan jasmani) sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif dan total oleh banyaknya perubahan dan kemunduran tersebut terjadilah krisis dalam kehidupan psikis pribadi yang bersangkutan. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut akan timbul masalah-masalah misal kurangnya pengetahuan dan informasi atau fakta-fakta yang dibutuhkan, kurangnya kemampuan untuk mengambil keputusan bagaimana harus bersikap terhadap perubahan, kekuatiran terhadap resiko yang mungkin ada pada tindakan yang diambil dan yang terakhir adalah kurangnya dukungan sosial ( Dannis dan D “Augelly (1982) dalam Niven (2000 : 150).&lt;br /&gt;          Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya perubahan dalam diri individu tersebut akan muncul macam-macam respon dengan tahapan-tahapannya seperti yang dikemukakan oleh Hopson (1981) dan Hopson dan Scally (1992) dalam Niven (2000) halaman 158 menyatakan bahwa ada tujuh fase yang menyertai terjadinya perubahan. Siklus ini merupakan pola umum dan bukan rangkaian kejadian yang sifatnya kaku. Perjalanan melalui siklus ini tidak mulus dan terus menerus. Beberapa orang dapat terombang-ambing diantara tahap-tahap tersebut, yang lain membutuhkan jumlah waktu yang berbeda untuk menyelesaikan suatu perubahan sedang yang lainnya menjadi “terpaku” pada tahap tertentu dan tidak mampu melanjutkan lebih jauh. Tentunya perubahan suasana hati juga akan bervariasi dari satu keadaaan ke keadaan yang lain.   &lt;br /&gt;1.3 Rumusan masalah&lt;br /&gt; Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti dapat merumuskan masalah yaitu, “ Bagaimanakah gambaran respon psikologis pada wanita menopause di Desa Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx ? ”.&lt;br /&gt;1.4 Tujuan penelitian&lt;br /&gt;1.4.1 Tujuan umum&lt;br /&gt; Diketahuinya gambaran respon psikologis pada wanita menopause di Desa Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx.&lt;br /&gt;1.4.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi karakteristik umur, pendidikan dan pekerjaan responden.&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi gambaran respon psikologis pada wanita menopause di Desa Xxx Kecamatan Xxx Kabupaten Xxx.&lt;br /&gt;1.5 Manfaat penelitian&lt;br /&gt;1.5.1 Manfaat teoritis&lt;br /&gt; Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori yang ada tentang menopause.&lt;br /&gt;1.5.2 Manfaat praktis&lt;br /&gt;1. Bagi peneliti&lt;br /&gt;Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang penelitian. Menambah wawasan peneliti mengenai gambaran psikologis pada wanita menopause.&lt;br /&gt;2. Bagi petugas pelayanan kesehatan&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam memberikan asuhan  pada wanita menopause agar dapat menjalani menopause tanpa ada cemas maupun depresi.&lt;br /&gt;3. Bagi responden/masyarakat&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah pengetahuan tentang menopause.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada bab ini akan diuraikan konsep dasar yang melandasi judul penelitian yaitu tentang menopause dan respon psikologis.&lt;br /&gt;2.1 Konsep dasar menopause&lt;br /&gt;2.1.1 Pengertian menopause&lt;br /&gt;Menopause berasal dari kata meno artinya bulan, pause, pausa, pasico artinya periode atau tanda berhenti. Jadi menopause artinya berhentinya secara degeneratif menstruasi. Menopause adalah berhentinya menstruasi, berhentinya ovulasi dengan disertai penurunan fungsi dari organ reproduksi dan akhirnya bagian-bagian dari tubuh perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda ketuaan (Kartono, 1992: 318). Menopause merupakan periode akhir dari menstruasi (kira-kira 1 tahun) pada wanita yang berumur 45-60 tahun.&lt;br /&gt;International Menopause Society (IMS), pada tahun 1999, menyampaikan rekomendasi berdasarkan definisi WHO (1996). Menopause alamiah (natural menopause) adalah berhentinya menstruasi secara permanen sebagai akibat hilangnya aktivitas ovarium. Menopause alami ini dikenal bila terjadi amenorea selama 12 bulan berturut-turut, tanpa ditemukan penyebab patologi atau fisiologi yang jelas (Martaadisoebrata, 2005 : 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Pembagian masa menopause    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-3003934306879883161?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/3003934306879883161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-gambaran-respon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3003934306879883161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3003934306879883161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-gambaran-respon.html' title='KTI KEBIDANAN : GAMBARAN RESPON PSIKOLOGIS WANITA MENOPAUSE DI DESA XXX'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5415609014450840594</id><published>2011-02-07T20:22:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T20:24:23.534-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : KARAKTERISTIK PESERTA KB METODE KONTRASEPSI EFEKTIF TERPILIH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KTI KEBIDANAN LENGKAP HUB : YUNI Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar belakang masalah&lt;br /&gt; Upaya untuk mengangkat derajat kehidupan bangsa antara lain dengan dilaksanakan pembangunan bidang ekonomi dan Keluarga Berencana (KB) secara bersama. Bila gerakan Keluarga Berencana tidak dilakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi dikhawatirkan hasil pembangunan tidak akan berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jumlah penduduk Indonesia tahun 2003 mencapai 210 juta jiwa, dengan angka pertumbuhan 1,6 %. Untuk mengatasi hal tersebut digalakkan program KB Nasional (Wiknjosastro, 2003). Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi visi untuk mewujudkan “Keluarga Berkualitas Tahun 2015“. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saifudddin, 2003). Menurut SDKI 2002/2003, 60% perempuan kawin saat ini menggunakan kontrasepsi, dibandingkan dengan 57% pada 1997. Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah kontrasepsi suntik (28%), pil (13%), dan AKDR (6%) (Martaadisoebrata, 2005 : 28). Sedangkan pada tahun 1997, dua per tiga (66,5%) perempuan menikah di Indonesia menggunakan kontrasepsi modern suntik (35,6%), pil (28.2%), IUD (14,8%) (Gulardi, 2004 : 22 ). Hal tersebut menunjukkan perubahan jumlah peserta KB. Banyak perempuan mengalami kesulitan di dalam menentuklan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode metode kontrasepsi tersebut. Pelbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma  budaya lingkungan dan orang tua (Saifuddin, 2003).&lt;br /&gt;  Berdasarkan visi dan misi tersebut program Keluarga Berencana Nasional mempunyai kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas penduduk (Saifuddin, 2003). Menurut survei BKKBN pada tahun 2003 jumlah peserta KB di Magetan adalah 153.403 orang, peserta suntik sejumlah 24.223 orang, peserta IUD sebanyak 17.580 orang,  peserta pil sebanyak 4.711 orang, peserta implan sebanyak 2.307 orang. Sedang di wilayah Bendo jumlah peserta KB adalah 16.870 orang, jumlah peserta suntik sebanyak 5.084 orang, peserta KB IUD sebanyak 7.640 orang, peserta KB pil sebanyak 672 orang, peserta implan sejumlah 1.705 orang. Pada tahun 2004 survei BKKBN menunjukkan jumlah peserta KB di Kecamatan Bendo adalah 6.899 orang, peserta IUD sebanyak 3.131 orang, peserta suntik 2.440 orang, peserta KB pil sebanyak 214 orang, dan jumlah peserta KB implan sebanyak 523 orang. Survey di Desa Kleco tahun 2004 menunjukkan bahwa 45,07% peserta memilih kontrasepsi suntik, 1,41% memilih kontrasepsi implan, 38,03% memilih kontrasepsi IUD, 2,82% memilih kontrasepsi pil, dan sebanyak 12,68% memilih kontrasepsi mantap. Hal ini dipengaruhi  berbagai faktor, yaitu faktor internal seperti kegagalan (3%), ingin hamil (6%) mengalami efek samping atau kesehatan (10 %) dan 6 % karena alasan lain seperti harga mahal, jarang kumpul, atau kesulitan mendapatkan alat yang diinginkan (BKKBN, 2003 : 9), dan faktor eksternal seperti paritas, umur, pendidikan, sosial ekonomi, pekerjaan,  KIE dan konseling. &lt;br /&gt; Dari data diatas dapat dilihat bahwa peserta KB yang memilih metode kontrasepsi efektif sangat bervariasi. Hal tersebut bisa berpengaruh pada metode kontrasepsi yang lain semisal metode kontrasepsi sederhana atau metode kontrasepsi mantap. Kenyataan tersebut di atas dapat dijadikan sebagai patokan untuk terus dapat mempertahankan kondisi seperti tersebut di atas. Konseling menjadi sangat penting untuk mewujudkannya. Penyuluhan kepada peserta KB tentang cara kerja, efek samping dan juga cara mengatasinya perlu untuk ditingkatkan.&lt;br /&gt; Dalam pemilihan metode kontrasepsi dipengaruhi oleh berbagai  hal. Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (Saifuddin, 2003 : U-1). Konseling dapat membantu klien untuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan dirinya sehingga klien bisa menjadi peserta yang mantap dari suatu metode kontrasepsi, dan upaya untuk mengatasi fenomena yang terjadi yaitu dengan pemberian konseling tentang metode kontrasepsi, efek samping suatu metode kontrasepsi dan dilakukan sosialisasi kontrasepsi secara luas.&lt;br /&gt; Dari uraian tersebut diatas, maka penulis ingin meneliti tentang pemilihan kontrasepsi dan penulis mengambil judul “Karakteristik peserta KB Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih ”.&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi penyebab masalah&lt;br /&gt; Dalam pemilihan alat kontrasepsi tertentu banyak hal yang perlu diperhatikan, misalnya efektivitas, keuntungan dan kerugian, indikasi dan kontraindikasi serta efek samping. Juga banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan suatu alat kontrasepsi tertentu termasuk faktor internal yaitu : motivasi dan faktor eksternal yaitu paritas, umur, pendidikan, social ekonomi, pekerjaan, KIE/konseling, juga faktor-faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping potensial, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma  budaya lingkungan dan orang tua. Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah karakteristik peserta KB Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih.&lt;br /&gt;1.3 Rumusan masalah&lt;br /&gt; Berdasarkan fenomena permasalahan pada latar belakang, maka dalam penelitian ini perumusan masalahnya adalah bagaimanakah karakteristik peserta Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih?&lt;br /&gt;1.4 Tujuan penelitian&lt;br /&gt;1.4.1 Tujuan umum : &lt;br /&gt; Untuk mengetahui karakteristik peserta KB Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih?&lt;br /&gt;1.4.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi karakteristik peserta KB MKET berdasarkan paritas&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi karakteristik peserta KB MKET berdasarkan umur&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi karakteristik peserta KB MKET berdasarkan pendidikan&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi karakteristik peserta KB MKET berdasarkan sosial ekonomi&lt;br /&gt;5. Mengidentifikasi karakteristik peserta KB MKET berdasarkan pekerjaan &lt;br /&gt;1.5 Manfaat penelitian&lt;br /&gt;1.5.1 Manfaat teoritis&lt;br /&gt; Untuk memperoleh gambaran karakteristik peserta KB tentang pemilihan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih.&lt;br /&gt;1.5.2 Manfaat praktis&lt;br /&gt;1. Bagi penulis&lt;br /&gt;Dapat memperoleh informasi dan gambaran tentang karakteristik peserta KB tentang pemilihan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih yang selanjutnya dijadikan pedoman dan acuan dalam rangka mempertahankan metode kontrasepsi efektif dan menggalakkan metode kontrasepsi yang lain.&lt;br /&gt;2.  Bagi responden atau klien, keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;Dapat memberikan informasi mengenai karakteristik peserta KB pada Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih dan dapat dijadikan sebagai bahan pengetahuan peserta KB tentang KB.&lt;br /&gt;3.  Bagi institusi&lt;br /&gt;Dapat memberikan informasi tentang karakteristik peserta KB tentang pemilihan peserta KB pada Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam peningkatan konseling tentang KB.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih&lt;br /&gt;2.1.1 Pengertian Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET)&lt;br /&gt;Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET) merupakan cara-cara kesehatan menuntut penerimaan yang sungguh-sungguh harus dihayati oleh pasangan suami istri, untuk mengatur agar tidak menambah, mempunyai anak kandung lagi secara wajar atau untuk menjarangkan kehamilan yang efektif untuk jangka waktu yang lama, sekitar lima tahunan, termasuk didalamnya cara kontap (vasektomi, tubektomi), cara implan (BKKBN, 1992 : 57).&lt;br /&gt;2.1.2 Jenis Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih&lt;br /&gt;1. Suntikan progestin&lt;br /&gt; Suntikan progestin merupakan kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin yaitu : 1) depo medroksiprogesteron acetat (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intra muskular (didaerah bokong), 2) depo noretisteron enantat (depo noristerat) yang mengandung 200 mg noretindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular. &lt;br /&gt; Keuntungan metode suntik adalah :  sangat efektif, pencegahan kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah, tidak memiliki pengaruh terhadap ASI, sedikit efek samping, klien tidak perlu menyimpan obat suntik, membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan  ektopik, mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul. Keterbatasan metode suntik adalah : sering ditemukan gangguan haid, permasalahan berat badan merupakan efek  samping tersering, tidak menjamin perlindungan terhadap penularan IMS, Hepatitis B, atau infeksi virus HIV, terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian, pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat, tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5415609014450840594?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5415609014450840594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-karakteristik-peserta-kb.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5415609014450840594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5415609014450840594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-karakteristik-peserta-kb.html' title='KTI KEBIDANAN : KARAKTERISTIK PESERTA KB METODE KONTRASEPSI EFEKTIF TERPILIH'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-369691549609917205</id><published>2011-02-03T19:58:00.000-08:00</published><updated>2011-02-03T20:03:43.279-08:00</updated><title type='text'>KTI D4 KEBIDANAN : PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP PENCEGAHAN HIPOTERMI PADA BAYI BARU LAHIR DI KLINIK BERSALIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BERMINAT HUB : 081 225 300 100 BAB 1-6 Lengkap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiasi Menyusu Dini, merupakan program yang sedang gencar dianjurkan oleh pemerintah. Menyusu dan bukan menyusui merupakan gambaran bahwa inisiasi menyusu dini bukan program ibu menyusui bayi, tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri putting susu ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; .WHO-UNICEF (2008), mengeluarkan protokol baru tentang “ASI segera”, yang harus diketahui dan dijalankan oleh setiap tenaga kesehatan (Wiknojastro, 2008 hal: 196). Sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang penyelenggaraan praktek bidan, sebagai salah satu tenaga kesehatan yang berwenang dalam memantau tumbuh kembang bayi, salah satunya melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang bayi (sofyan, 2006 hal:185)  &lt;br /&gt;Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. Inisiasi menyusu dini harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang, memandikan, mengukur atau pemberian vitamin K dan obat tetes mata. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung secara skin to skin antara bayi dan ibu. Biarkan &lt;br /&gt;bayi di dada ibu salama satu jam bahkan sampai dapat menyusui sendiri. (Wiknjosastro, 2008, hal:198). Manfaat inisiasi menyusu dini pada bayi baru lahir adalah dapat meningkatkan refleks menyusui bayi secara optimal, perkembangan indra (sensory inpuls), menurunkan kejadian hipotermi, menurunkan kejadian asfiksia, menurunkan kejadian hipoglikemi, meningkatkan kekebalan tubuh bayi, menigkatkan pengeluaran hormon oksitosin, memfasilitasi bonding attachment, dan yang paling utamanya adalah dapat meningkatkan keberhasilan ASI Esklusif dan menurunkan angka kematian bayi (http://inanooryati.inisiasi menyusui dini, 5 september 2009). Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO, memperlihatkan bahwa angka kematian bayi sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan fenomena 2/3. fenomena itu terdiri dari, 2/3 kematiam bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang dari satu bulan (neonatal), 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. Menurut data The World Health Report 2005, angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi, yaitu sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup, atau bisa dikatakan 10 bayi meninggal setiap 1 jam setelah dilahirkan (http:// yulianti, gambaran niat ibu hamil dalam penerapan inisiasi menyusu dini.com). Menurut RISKESDAS 2007, penyebab kematian neonatal 0-6 hari adalah gangguan pernafasan (37%), prematurias (34%), sepsis (12%), hipotermi (7%), ikterus (6%) dan kelainan congenital (1%) (http://pwskia.wordpress.com. kamis, 12 november 2009). &lt;br /&gt;Bayi baru lahir sering mengalami hipotermi karena ketidakmampuannya mempertahankan suhu tubuh, lemak subkutans yang belum sempurna, permukaan tubuh yang luas dibandingkan masa tubuh, dan suhu lingkungan yang dingin (http://blogspot/asuhan keperawatan bayi sakit 2009). Bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu normal bayi dan neonatus adalah 36,5°C-37°C (suhu axila). Adapun gejala hipotermi, apabila suhu &lt;36°C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 32-36°C). disebut hipotermia berat bila suhu &lt;32°C (sarwono, 2001 hal:). Hipotermi merupakan salah satu penyebab kematian morbiditas dan mortalitas pada neonatal. Menurut laporan LB3 Dinkes Subdinnindal Yogyakarta 2003, angka kematian bayi hipotermi sebesar 281 dari 23,53/1000 kelahiran hidup (http://skripsistikes,yusna,pengaruh mandi rendam neonatal.com). Menurut data dari hasil studi pendahuluan (Rizki,2009), di Puskesmas Pandanaran Semarang diperoleh data 5 dari 8 orang ibu bersalin yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini, bayinya mengalami hipotermi dengan suhu 35°C sedangkan 3 ibu bersalin yang melakukan inisiasi menyusu dini bayinya tidak mengalami hipotermia dengan rata-rata suhu 36,5ºC. (http:perpusnwu.dikti./biblio.hubunganinisiasimenyusudiniterhadaphipotermi.com). &lt;br /&gt;Maka oleh itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Pencegahan Hipotermi pada Bayi Baru Lahir di Klinik bersalin Xxx Xxx dan di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010” karena di Klinik Xxx dan Klinik Xxx tersebut belum pernah diadakan penelitian &lt;br /&gt;tentang pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap pencegahan hipotermi terhadap bayi baru lahir. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang peneliti uraikan tersebut maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Adakah Pengaruh Inisisai Menyusui Dini Terhadap Pencegahan Hipotermi pada Bayi Baru Lahir di Klinik Bersalin Xxx dan di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010”. C. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt; 1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengidentifikasi Pengaruh Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Pencegahan Hipotermi pada Bayi Baru Lahir di Klinik Bersalin Xxx dan di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt; 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir sebelum dilakukan inisiasi menyusu dini pada kelompok intervensi di Klinik Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt; b. Mengidentifikasi pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir sesudah dilakukan inisiasi menyusu dini pada kelompok intervensi di Klinik Bersalin Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt; c. Mengidentifikasi pencegahan hipotermi bayi baru lahir pada kelompok kontrol di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; d. Mengidentifikasi pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir sebelum dilakukan intervensi antara bayi yang dilakukan inisiasi menyusu dini dan bayi yang tidak dilakukan inisiasi menyusu dini di Klinik Bersalin Xxx dan di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt; e. Mengidentifikasi pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir setelah dilakukan intervensi antara bayi yang dilakukan inisiasi menyusu dini dan bayi yang tidak dilakukan inisiasi menyusu dini di Klinik Bersalin Xxx dan di Klinik Xxx Xxx Tahun 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; D. Manfaat Penelitian &lt;br /&gt; 1. Bagi Praktek Kebidanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi kebidanan yang efektif untuk mencegah terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir. 2. Bagi Pendidikan D IV Kebidanan Sebagai informasi bagi pendidikan kebidanan khususnya pada bayi baru lahir bahwa ada hasil evidence based tentang salah satu intervensi kebidanan yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya hipotermi bayi baru lahir berat melalui tehnik pemberian inisiasi menyusu dini. 3. Bagi Penelitian Kebidanan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber data atau informasi bagi pengembangan penelitian kebidanan berikutnya terutama yang berhubungan dengan pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap pencegahan hipotermi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt;A. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) &lt;br /&gt;1. Definisi Inisiasi Menyusui Dini &lt;br /&gt;Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusui sendiri segara setelah lahir (Ambarwati, 2009,hal: 36). Inisiasi menyusu dini (early inisiation) atau permulaan menyusu dini adalah kemampuan bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir (http://breastcrawl. inisiasi menyusui dini diperoleh 7oktober2009). &lt;br /&gt;Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu bayi dibiarkan setidaknya selama satu jam di dada ibu, sampai dia menyusu sendiri (http://idris,inisiasi menyusu dini,2008). &lt;br /&gt;2. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini bagi bayi &lt;br /&gt; a. Menurunkan kejadian hipotermi, hipoglikemi dan asfiksia 1) Menurunkan kejadian hipotermi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas permukaan tubuh bayi ± 3 kali luas permukaan tubuh orang dewasa. Lapisan insulasi jaringan lemak di bawah kulit tipis, kecepatan kehilangan panas pada tubuh bayi baru lahir ± 4 kali pada orang dewasa. Pada ruang bersalin dengan suhu 20-250 C, suhu kulit bayi akan turun 0,30Celsius, suhu tubuh bagian dalam turun 0,10 C menit. Selama periode dini setelah bayi lahir, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;penelitian selanjutnya mengenai pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I 3. Bagi Peneliti Hasil ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti tentang pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-369691549609917205?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/369691549609917205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-d4-kebidanan-pengaruh-inisiasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/369691549609917205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/369691549609917205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-d4-kebidanan-pengaruh-inisiasi.html' title='KTI D4 KEBIDANAN : PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP PENCEGAHAN HIPOTERMI PADA BAYI BARU LAHIR DI KLINIK BERSALIN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-754435607892262911</id><published>2011-02-03T19:51:00.000-08:00</published><updated>2011-02-03T19:55:50.818-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : PENGARUH RELAKSASI PERNAPASAN TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I DI KLINIK BERSALIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KTI INI HUB : 081 225 300 100 murah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt; A. Latar Belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode nonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik. Sedangkan metode nonfarmakologi bersifat murah, simpel, efektif, dan tanpa efek yang merugikan. &lt;br /&gt;Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selama persalinan karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya. &lt;br /&gt;Persalinan adalah saat yang sangat dinanti-nantikan ibu hamil untuk dapat marasakan kebahagiaan melihat dan memeluk bayinya. Tetapi, persalinan juga disertai rasa nyeri yang membuat kebahagiaan yang didambakan diliputi oleh rasa takut dan cemas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, persalinannya lebih lama dan nyeri, sedangkan masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Nyeri dalam kebidanan adalah sesuatu yang dikatakan oleh pasien, kapan saja adanya nyeri tersebut. Nyeri adalah masalah yang alamiah dalam menghadapi persalinan. Apabila tidak diatasi maka menimbulkan masalah lain yaitu meningkatkan rasa khawatir (Wiknjosastro, 2002). &lt;br /&gt;Relaksasi, teknik pernapasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage, hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur, aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh yang efektif terhadap pengalaman persalinan (Handerson., Jones. 2006). Penatalaksanaan kebidanan terhadap nyeri persalinan digali dengan menggunakan sampel sebanyak 4171 pasien yang mengalami kelahiran di rumah sakit yang ditolong oleh perawat-bidan pada sembilan rumah sakit di Amerika Serikat tahun 1996. Kira-kira 90% dari wanita yang bersalin yang dipilih menggunakan beberapa tipe penatalaksanaan nyeri untuk persalinan. Banyak memilih melalui susunan methode nonfarmakologis dengan atau tanpa farmakologis. Sesuai harapan, metode nonfarmakologis adalah pilihan yang disukai (Patree., Walsh. 2007). Berdasarkan pendapat Steer dikutip dari (Mander, 2003). Relaksasi adalah metode pengendalian nyeri nonfarmakologi yang paling sering digunakan di Inggris. Steer melaporkan bahwa 34 % ibu menggunakan metode relaksasi. Frekuensi ini sedikit ketinggalan dengan penggunaan Etonox (60%). tetapi tidak terlalu jauh berada di belakang metode yang kedua yang paling sering digunakan, yaitu petidin (36,9%). Teknik pengendalian nyeri yang termasuk relaksasi mengajarkan ibu untuk meminimalkan aktivitas simpatis dan sistem saraf otonom. Dengan menekan aktifitas saraf simpatis, ibu mampu memecahkan siklus ketegangan (Mander, 2003). &lt;br /&gt;Nyeri dan ketegangan emosional meningkatkan kadar kortisol dan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;katekolamin, yang dapat mempengaruhi lama dan intensitas persalinan. Rasa nyeri saat persalinan bisa meningkatkan tekanan darah, denyut jantung janin meningkat dan konsentrasi ibu selama persalinan menjadi terganggu. Semua itu akan berefek buruk terhadap kelancaran persalinan (Indriati, 2009). Ketika ibu sangat takut menghadapi persalinan secara otomatis otak mengatur dan mempersiapkan tubuh untuk merasa sakit, akibatnya rasa sakit saat persalinan semakin terasa akhirnya sakit semakin parah dan akhirnya ibu semakin takut. Metode penghilang rasa sakit persalinan dibutuhkan karena pada dasarnya persalinan bukanlah siksaan, bahkan hukuman dan bukan ajang uji ketakutan atau daya tahan wanita. Persalinan adalah tugas reproduksi untuk melanjutkan kehidupan dimuka bumi ini. Untuk meringankan tugas ini ibu berhak atas upaya untuk mengurangi pederitaan apalagi rasa sakit yang dialami sepanjang persalinan dapat beresiko bagi keselamatan ibu dan janin (Danuatmaja., Meiliasari. 2004). Keterampilan mengatasi rasa nyeri ini dapat digunakan selama persalinan, mengatasi persalinan dengan baik berarti tidak kewalahan atau panik saat menghadapi rangkaian kontraksi. Keterampilan yang paling bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri bersalin mencakup relaksasi pernapasan. Para wanita yang menggunakan keterampilan ini biasanya tidak merasa begitu sakit dibandingkan para wanita yang tidak menggunakannya (Whalley., Simkin., &amp; Keppler. 2008). &lt;br /&gt;Relaksasi merupakan proses mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari segala beban fisik dan kejiwaan, sehingga ibu menjadi lebih tenang. Di samping itu, relaksasi juga membuat sirkulasi darah rahim, plasenta, dan janin menjadi lancar sehingga kebutuhan oksigen dan makanan si kecil terpenuhi. Sirkulasi darah yang lancar juga akan membuat otot-otot yang berhubungan dengan kandungan dan janin &lt;br /&gt;seperti otot panggul, punggung dan perut, menjadi lemas dan kedur. Sedang ketika persalinan, relaksasi membuat proses kontraksi berlangusung aman, alami, dan lancar. Di samping menjadi rileks, pengetahuan tentang cara bernapas yang baik juga dapat mengatasi beberapa kesulitan bernapas yang biasa dialami ibu hamil ( Indriati, 2009). Teknik relaksasi merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan masukan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat mencegah kesalahan yang berlebihan pasca-persalinan. Ada pun relaksasi bernapas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem sarap simpatis dalam keadaan homeostatis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, menguragi kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradapatasi dengan nyeri selama proses persalinan ( Mander, 2003). Relaksasi telah terbukti meningkatkan kemampuan individu untuk menoleransi nyeri. Relaksasi dan pernapasan yang terkontrol dapat meningkatkan kemampuan mereka mengatasi kecemasan dan meningkatkan rasa mampu mengendalikan yang menimbulkan stres dan nyeri (Schott., Priest. 2008). Survey pendahuluan peneliti pada tanggal 11 November 2009 di Klinik Bersalin Xxx I dan II Xxx Xxx didapat bahwa belum pernah melakukan relaksasi pernapasan untuk mengurangi nyeri pada ibu bersalin sedang diketahui bahwa peranan relaksasi pernapasan sangat penting saat melahirkan. Berdasarkan data tersebbut, peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I di Klinik Bersalin Xxx I dan II Xxx Xxx &lt;br /&gt;. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; B. RUMUSAN MASALAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah” Adakah pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I di Klinik Bersalin Xxx I dan II Xxx Xxx tahun 2010”. &lt;br /&gt; C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I di Klinik Bersalin Xxx I dan II Xxx Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt; 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik responden &lt;br /&gt; b. Mengidentifikasi intensitas nyeri pada persalinan kala I sebelum dilakukan intervensi. &lt;br /&gt; c. Mengidentifikasi pengaruh relaksasi pernapasan terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I sesudah dilakukan intervensi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; D. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Praktek Kebidanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif penurunan rasa nyeri pada persalinan yang dengan mudah dilakukan tanpa efek yang membahayakan dalam memberikan intervensi pada ibu selama persalinan kala I. 2. Bagi pendidikan kebidananan &lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data dasar untuk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt; A. Nyeri Persalinan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialami. Berikut ini pengertian nyeri : &lt;br /&gt; 1. Wolf Weifsel Feurst (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan. &lt;br /&gt; 2. Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional (Musrifatul., Hidayat. 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nyeri pada persalinan kala I terjadi karena aktivitas besar di dalam tubuh guna mengeluarkan bayi. Persalinan diartikan sebagai peregangan pelebaran mulut rahim. Kejadian itu terjadi ketika otot-otot rahim berkontraksi untuk mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim menegang selama kontraksi. Bersamaan dengan setiap kontraksi, kandung kemih, rektum, tulang belakang, dan tulang pubic menerima tekanan kuat dari rahim. Berat dari kepala bayi ketika bergerak ke bawah saluran lahir juga menyebabkan tekanan. Rasa sakit kontraksi dimulai dari bagian bawah punggung, kemudian menyebar ke bagian bawah perut mugkin juga menyebar ke &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-754435607892262911?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/754435607892262911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-pengaruh-relaksasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/754435607892262911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/754435607892262911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-pengaruh-relaksasi.html' title='KTI KEBIDANAN : PENGARUH RELAKSASI PERNAPASAN TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I DI KLINIK BERSALIN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-1754392945537088428</id><published>2011-02-03T19:17:00.000-08:00</published><updated>2011-02-03T19:19:28.037-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA DI DESA XXX KECAMATAN CIAMIS XXX TAHUN 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNTUK REFERENSI KTI BAB 1-5 LENGKAH HUB: Hp.081 225 300 100 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dijamin Murah&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar Belakang &lt;br /&gt;Angka kematian ibu dalam lima tahun terakhir di Propinsi Jawa Barat, menunjukkan kecenderungan penurunan secara berturut-turut. Pada tahun 2002 terdapat 360/100.000 kelahiran hidup, tahun 2003 sebanyak 343/100.000 kelahiran hidup, tahun 2004 sebanyak 330/100.000 kelahiran hidup, tahun 2005 sebanyak 315/100.000 kelahiran hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Walaupun terjadi penurunan, tetapi angka kematian tersebut masih &lt;br /&gt;lebih tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata nasional yaitu 262/100.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2007). &lt;br /&gt;Angka kematian maternal di negara maju berkisar antara 5-10 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di negara bekembang berkisar antara 750-1000 per 100.000 kelahiran hidup. Tingkat kematian maternal di Indonesia diperkirakan 450 per 100.000 kelahiran hidup (Wiknojosastro,2002). &lt;br /&gt;Di beberapa negara berkembang angka kematian maternal melebihi 1000 wanita dari 100.000 kelahiran hidup dan data WHO menunjukkan bahwa 25% kematian maternal disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan dan diperkirakan 100.000 kematian maternal terjadi tiap tahunnya. Dari seluruh persalinan, angka kejadian perdarahan pascapersalinan berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut, diperoleh etiologi antara lain: atonia uteri (50-60%), sisa plasenta (23-24%), retensio plasenta (16-17%), laserasi jalan lahir (4-5%), kelainan darah (0,5-0,8%) (Admin, 2009) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retensio plasenta terjadi pada 3% kelahiran pervaginam dan 15% kasus retensio plasenta dialami oleh ibu dengan riwayat retensio plasenta pada persalinan sebelumnya (Chapman,2006). Dari penelitian Marhadia (2008), pada tahun 2005-2007 di RSUP H.Xxx Ciamis terdapat 76 (11,5%) kasus retensio plasenta dari 661 persalinan spontan, dan terdapat 82 (7,7%) kasus retensio plasenta dari 1056 persalinan spontan di RSUP Pirngadi Ciamis. &lt;br /&gt;Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam menurunkan AKI dan AKB, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan tanggal 27 Maret 2007 ditetapkan bahwa bidan mempunyai standar kompetensi dalam menangani situasi kegawatdaruratan kebidanan yang salah satunya penanganan terhadap retensio plasenta yaitu dengan melakukan pengeluaran plasenta secara manual (Alhamsyah, 2009). &lt;br /&gt;Profesi bidan mampu mengenali tanda-tanda retensio plasenta dan memberikan pertolongan pertama, termasuk manual plasenta dan penanganan perdarahan sesuai dengan indikasi. Sehingga telah didapati hasilnya berupa penurunan kejadian perdarahan hebat akibat retensio plasenta, ibu dengan retensio plasenta mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat dan penyelamatan ibu dengan kasus retensio plasenta pun meningkat (Ikatan Bidan Indonesia, 2003). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang tersebut, menunjukkan bahwa masih tingginya kejadian retensio plasenta sebagai salah satu penyebab perdarahan pascapersalinan dan pentingnya profesi bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dalam menangani masalah kegawatdaruratan kebidanan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA DI DESA XXX KECAMATAN CIAMIS XXX TAHUN 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, dapat dirumuskan masalah penelitian ini. bagaimanakah sikap dan tindakan bidan terhadap penanganan retensio plasenta di Desa Xxx Kecamatan Ciamis Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt; 1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengidentifikasi sikap dan tindakan bidan terhadap penanganan retensio plasenta di Desa Xxx Kecamatan Ciamis Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt; 2. Tujuan Khusus &lt;br /&gt; a) Mengidentifikasi sikap bidan terhadap penanganan retensio plasenta di Desa Xxx Kecamatan Ciamis Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt; b) Mengidentifikasi tindakan bidan terhadap penanganan retensio plasenta di Desa Xxx Kecamatan Ciamis Xxx tahun 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt;A. Sikap &lt;br /&gt;Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek . Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. &lt;br /&gt;Sikap mempunyai 3 komponen pokok : &lt;br /&gt; 1. Afektif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan aspek emosional dari faktor sosio psikologis atau evaluasi terhadap suatu objek. &lt;br /&gt; 2. Kognitif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan aspek intelektual, kepercayaan, ide dan konsep yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. &lt;br /&gt; 3. Konatif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan aspek fungsional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan untuk bertindak. &lt;br /&gt;Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap secara utuh. Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2007). &lt;br /&gt;Sikap terdiri dari beberapa tingkatan yaitu: &lt;br /&gt; 1. Menerima (receiving) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima berarti mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan. &lt;br /&gt; 2. Merespon (responding) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon berarti memberikan jawaban jika ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. &lt;br /&gt; 3. Menghargai (valuing) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat menghargai, individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. &lt;br /&gt; 4. Bertanggung jawab (responsible) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanggung jawab berarti menerima semua resiko terhadap sesuatu yang telah dipilih. &lt;br /&gt;Sikap memiliki beberapa ciri yaitu: &lt;br /&gt; 1. Sikap tidak dibawa dari lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk melalui pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu. &lt;br /&gt; 2. Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu, sehingga dapat dipelajari. &lt;br /&gt; 3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan objek sikap. &lt;br /&gt; 4. Sikap dapat tertuju pada satu atau banyak objek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Sumatera Utara &lt;br /&gt; 5. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar. &lt;br /&gt; 6. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi, hal ini yang membedakan dengan pengetahuan (Maulana, 2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tindakan &lt;br /&gt;Setelah seseorang mengetahui stimulus, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa telah yang diketahui untuk dilaksanakan atau dipraktekkan. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Agar terwujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung berupa fasilitas dan dukungan dari pihak lain. &lt;br /&gt;Tindakan terdiri dari beberapa tingkatan yaitu: &lt;br /&gt; 1. Persepsi (perception) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme (Mekanism) mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. &lt;br /&gt; 2. Respon terpimpin (guided response) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh. &lt;br /&gt; 3. Mekanisme (Mekanism) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat melakukan sesuatu secara otomatis tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain. &lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-1754392945537088428?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/1754392945537088428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-sikap-dan-tindakan-bidan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1754392945537088428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1754392945537088428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/02/kti-kebidanan-sikap-dan-tindakan-bidan.html' title='KTI KEBIDANAN : SIKAP DAN TINDAKAN BIDAN TERHADAP PENANGANAN RETENSIO PLASENTA DI DESA XXX KECAMATAN CIAMIS XXX TAHUN 2010'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-319946067736950586</id><published>2011-01-19T01:11:00.000-08:00</published><updated>2011-01-19T01:12:53.584-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN BARU 2011 : PENGARUH PENDIDIKAN, USIA, PEKERJAAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI BAYI 0-11 BULAN   SESUAI   UMUR   DI    POSYANDU   DES</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI INI UNTUK REFERENSI BAB 1 - 5 LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar belakang masalah&lt;br /&gt;           Dewasa ini angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak balita tinggi,  hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang salah satu penyebabnya adalah penyakit menular. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal penyakit ini sebagian dapat dicegah dengan pemberian kekebalan terhadap bayi dan anak. Dengan demikian sebagai petugas kesehatan dalam usaha menurunkan angka kesakitan, kematian tersebut sangat perlu mengetahui dan terampil dalam pemberian imunisasi dalam upaya mencegah suatu penyakit tertentu (Depkes RI, 1992:48).&lt;br /&gt;  Pada tahun 1972 Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar dan pada April 1974 resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Pada tahun 1976 pelaksanaan vaksinasi gabungan BCG, DPT, TT di Puskesmas berhasil dengan baik. Tahun 1979-1984 pelaksanaan imunisasi secara nasional telah dimulai. Angka pencakupan imunisasi untuk anak di bawah 15 bulan 58% pada tahun 1981 meningkatkan menjadi 80% pada tahun 2000 (Suryanah, 1996:88). Di Puskesmas  Plaosan data presentasi cakupan imunisasi bayi : BCG : 86,17% ; DPT 3 : 71,22%, ; Polio : 59,97% ; Campak : 77,81% ; Hb 3 : 74,76%. Di Desa Pacalan cakupan imunisasi BCG : 102% ; DPT 1 : 58% ; DPT 2 : 55% ; DPT 3 : 42% ; Polio 1 : 100% ; Polio 2 : 100% ; Polio 3 : 102% ; Polio 4 : 104% ; Hb 1 : 98% ; Hb 2 : 58% ; Hb 3 : 56% ; Campak : 104%. (Dinkes Magetan tahun 2005). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan kelengkapan imunisasinya bervariasi. Ada yang sesuai target cakupan tetapi ada juga yang belum memenuhi target cakupan imunisasi.&lt;br /&gt;          Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada anak sehingga bila anak itu  mendapatkan infeksi tidak akan meninggal atau menderita cacat. Imunitas  ada dua  yaitu pasif dan aktif. Pasif ialah bila tubuh anak tidak dapat membentuk kekebalan, tetapi hanya menerimanya saja, sedangkan aktif ialah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan terbentuknya imunitas (FKUI, 1985:2). Imunisasi sudah harus lengkap pada usia kurang dari 18 bulan. Bila pada usia &lt;18 bulan belum vaksinasi lengkap maka anak tersebut dianggap drop out. Pencegahan drop out adalah suatu usaha untuk melaksanakan vaksinasi. Pada usia kurang dari 12 bulan pelaksanaannya disesuaikan dengan hasil pemantauan setempat (Suryanah, 1996:90). Sedikitnya 70% dari penduduk suatu daerah atau negeri harus mendapat imunisasi. Manfaat imunisasi ialah untuk menurunkan mortalitas dan cacat serta bila mungkin didapatkan eradikasi sesuatu penyakit dari suatu daerah atau negeri (FKUI, 1985:2).Dampak yang ditimbulkan bila tidak diimunisasi: kemungkinan akan rentan terjangkit penyakit infeksi, menimbulkan cacat bila penyakit menjadi parah, akibat fatal menimbulkan kematian.&lt;br /&gt; Kelengkapan imunisasi pada bayi menandakan keberhasilan program imunisasi yang diantaranya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia, jenis pekerjaan ibu. Pendidikan  diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup (Kuntjoroningrat, 1997). Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat fakta, simbol, prosedur, teknik dan teori (Notoatmojo, 1996:127). Usia mempengaruhi ibu dalam mengimunisasikan bayinya secara aktif. Menurut Latipun (2001) remaja lebih fleksibel dalam mengubah sikap dan tingkah lakunya dibanding dengan orang yang sudah dewasa. Demikian pula dangan jenis pekerjaan ibu. Menurut Markum (1991) dalam Nursalam (2001) mengatakan bahwa bekerja umumnya  merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi ibu-ibu dan akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan  berkeluarga, termasuk dalam hal keaktifan ibu dalam mengimunisasikan bayinya sehingga akan mempengaruhi kelengkapan imunisasi bayi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian untuk mempelajari pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi  faktor penyebab masalah&lt;br /&gt;    Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu: 1). Perilaku terhadap imunisasi ; 2). Tingkat pendidikan formal; 3). Usia ibu; 4). Jenis pekerjaan; 5) Perilaku petugas kesehatan; 6). Tingkat pengetahuan tentang imunisasi ;7 ). Motivasi dari pemimpin, teman, keluarga; 8). Sosial ekonomi ; 9). Sarana dan fasilitas ; 10). Sosial budaya ; 11). Letak geografis (Notoatmodjo, 2003). Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.&lt;br /&gt;1.3   Rumusan masalah&lt;br /&gt;   Rumusan masalah yang kami susun adalah : apakah ada pengaruh  pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap  kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur?&lt;br /&gt;1.3  Tujuan penelitian&lt;br /&gt;1.3.1 Tujuan umum&lt;br /&gt;   Mengetahui pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.&lt;br /&gt;1.3.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi  tingkat pendidikan ibu .&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi usia ibu&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi jenis pekerjaan ibu.&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.&lt;br /&gt;5. Menganalisa pengaruh  pendidikan, usia, pekerjaan  ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.&lt;br /&gt;1.4 Manfaat penelitian&lt;br /&gt;1.4.1 Bagi institusi&lt;br /&gt; Penelitian ini dimaksudkan untuk bahan bacaan khususnya dalam bidang perpustakaan yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, usia, pekerjaan dan kelengkapan imunisasi bayi.&lt;br /&gt;1.4.2 Bagi ibu&lt;br /&gt;  Sebagai bahan masukan yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu bahwa imunisasi sangat penting bagi bayi untuk mencegah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.&lt;br /&gt;1.4.3 Bagi peneliti&lt;br /&gt; Dengan diadakannya penelitian secara tepat maka dapat diketahui hasil yang relevan sehingga dapat dijadikan masukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;1.4.4 Bagi peneliti lain&lt;br /&gt;Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain tentang hasil penelitian lainnya yang dirasa sangat perlu untuk penelitian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;2.1 Pendidikan &lt;br /&gt;2.1.1 Pengertian&lt;br /&gt;    Menurut UU No. 20 tahun 2003 BAB I pasal 1(Hamid, 2003:2) menyebutkan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya misalnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlaq bangsa dan negara” &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-319946067736950586?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/319946067736950586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-baru-2011-pengaruh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/319946067736950586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/319946067736950586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-baru-2011-pengaruh.html' title='KTI KEBIDANAN BARU 2011 : PENGARUH PENDIDIKAN, USIA, PEKERJAAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI BAYI 0-11 BULAN   SESUAI   UMUR   DI    POSYANDU   DES'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-4173646449327228042</id><published>2011-01-19T01:04:00.000-08:00</published><updated>2011-01-19T01:08:37.281-08:00</updated><title type='text'>KTI D4 KEBIDANAN : PENGARUH PELATIHAN TERHADAP MOTIVASI, SIKAP, KETRAMPILAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFERENSI INI BISA ANDA DAPATKAN HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1. Latar Belakang&lt;br /&gt;Masalah terbesar yang berkaitan dengan Hak dan Kesehatan Reproduksi di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian Ibu karena kehamilan, melahirkan dan nifas (AKI), bahkan merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Penyebab kematian ibu tersebut antara lain adalah perdarahan (45,2%), eklamsia (12,9%), komplikasi aborsi (11,1), sepsis postpartum (9,6%), persalinan lama (6,5%), anemia (1,6%) dan penyebab tidak langsung (14,1%). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu keberhasilan program kesehatan adalah ditandai dengan adanya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Angka kejadian perdarahan pasca persalinan di Indonesia. diperkirakan sekitar 45% dari seluruh persalinan yang ada. Di Kabupaten Karanganyar selama tahun 2007 angka kematian ibu maternal adalah 6 orang sedangkan tahun 2008 adalah 14 orang. Sedangkan angka kematian bayi tahun 2007 adalah 9,53/1000 kelahiran hidup dan tahun 2008 sebesar 8,43/1000 kelahiran hidup. Angka cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terutama bidan di Kabupaten Karanganyar dalam tiga tahun terakhir menurut data Seksi Keseatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar mengalami penurunan. Tahun 2006 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 13.065 (97,17%) ibu hamil, tahun 2007 sebanyak 12.795 (96,02%) ibu hamil dan tahun 2008 sebanyak 13.042 ( 70,02%) ibu hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini dimaksudkan untuk  menganalisis perbedaan motivasi, sikap dan ketrampilan bidan yang belum mengikuti pelatihan dengan bidan yang sudah mengikuti pelatihan dalam pelaksanaan Asuhan Persalinan Normal.&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;1. Waktu dan Tempat Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober - Desember 2010 dan tempat penelitian adalah wilayah Kabupaten xxx.&lt;br /&gt;2. Jenis dan Rancangan Penelitian&lt;br /&gt;Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimental yang bersifat komparatif. Rancangan dalam penelitian adalah cross sectional.&lt;br /&gt;3. Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan desa, bidan puskesmas maupun bidan praktik swasta, baik yang belum mengikuti pelatihan APN maupun yang sudah mengikuti pelatihan APN yang berada wilayah Kabupaten xxx. Perhitungan besar sample ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin.&lt;br /&gt;4. Variabel Penelitian&lt;br /&gt;Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pelatihan, variabel terikat yaitu motivasi, sikap dan ketrampilan.&lt;br /&gt;5. Definisi Operasional&lt;br /&gt;Motivasi adalah tingkat keinginan atau dorongan bidan dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan pelaksanaan asuhan normal. Dan diukur dengan    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-4173646449327228042?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/4173646449327228042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-d4-kebidanan-pengaruh-pelatihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4173646449327228042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/4173646449327228042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-d4-kebidanan-pengaruh-pelatihan.html' title='KTI D4 KEBIDANAN : PENGARUH PELATIHAN TERHADAP MOTIVASI, SIKAP, KETRAMPILAN BIDAN DALAM PELAKSANAAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5780062612251092490</id><published>2011-01-12T18:42:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T18:43:56.351-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN UMUR DAN LAMA PEMAKAIAN IUD DENGAN RESIKO PID (PELVIC INFLAMMATORY DISEASE)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REFERENSI KTI KEBIDANAN LENGKAP BAB 1 - 5 HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar belakang masalah&lt;br /&gt;Rahim yang terjaga kesehatannya merupakan aset penting dalam kehidupan wanita, karena berkaitan langsung dengan kelangsungan proses reproduksi wanita. Bila rahim tidak dijaga dengan baik oleh pemiliknya, maka sekelompok mikroba akan bersarang disana yang menimbulkan penyakit yang bisa mengancam fungsi rahim dan kesehatan wanita itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Salah satu dari penyakit tersebut adalah radang panggul atau disebut juga pelvic inflammatory disease (PID). Radang panggul/PID adalah infeksi saluran repdoduksi bagian atas yaitu rahim, saluran tuba, ovarium, miometrium (otot rahim), parametrium, dan rongga panggul (Anonim, 2008). Yang termasuk radang panggul PID adalah endometritis, salpingitis salpingo-oophoritis, piosalping, abses tubo-ovarial dan pelvioperitonitis (Moegni, 2001). Menurut Gay Benrunbi, M.D., professor pada Division of Gynegology Oncology, University of Florida di Jacksonville Amerika, satu dari 7 wanita Amerika telah menjalani perawatan karena penyakit ini dan kurang lebih 1 juta kasus baru terjadi setiap tahun. Kurang lebih 150 wanita meninggal per tahun sehingga cukup beralasan untuk memperhatikan gangguan medis ini secara lebih serius (Dynamic, 2008). Penyakit radang panggul/PID disebabkan oleh infeksi bakteri yang juga menyebabkan penyakit menular seksual lainnya, seperti klamidia, gonore, mikoplasma, stafilakokus, serta streptokokus. Bakteri penyebab masuk melalui vagina dan bergerak naik menuju rahim melalui mulut rahim lalu ke tuba falopii dan sekitarnya. Beberapa faktor penyebab dari penyakit ini adalah umur, penderita PMS, penggunaan kontrasepsi IUD, perilaku seksual, personal hygiene, dan riwayat PID sebelumnya. Pada 85% kasus PID disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui hubungan seksual, maupun bakteri servikovagina endogen yang tidak ditularkan melalui hubungan seksual. Sedangkan 15% kasus yang lain terjadi setelah diadakan tindakan kebidanan seperti biopsy endometrium, kuret, dan pemasangan IUD (Anonim, 2008).&lt;br /&gt;Radang panggul (PID) merupakan salah satu efek samping pada penggunaan IUD, selain beberapa efek samping yang lain seperti kejang perut setelah pemasangan, perdarahan haid yang lebih banyak, nyeri saat haid, ekspulsi, dan perforasi (Saifuddin, 2003). Hartanto (2004) menyebutkan resiko mendapatkan infeksi daerah panggul pada pengguna IUD meningkat 2x lebih tinggi dibandingkan non akseptor IUD. Resiko infeksi ini timbul terutama pada 4 bulan pertama setelah insersi, dan meningkat lagi dengan makin lamanya pemakaian, disebutkan pemakaian 5 tahun atau lebih resiko infeksi ini meningkat 5 kali. Glassier (2006) menyebutkan angka kejadian infeksi panggul pada pemakai IUD adalah sekitar 1,4 sampai 1,6 kasus per 100 wanita selama pemakaian. Infeksi terjadi pada saat insersi IUD, ada kuman-kuman yang masuk kemudian mempertahankan diri dalam satu “kepompong” dan pada suatu saat dapat menimbulkan infeksi. Selain itu, kuman dapat naik ke dalam uterus melalui benang ekor IUD dan hal ini ditunjang oleh perdarahan haid yang menjadi lebih banyak (Hartanto, 2004). &lt;br /&gt;Faktor lain yang mempengaruhi kejadian PID pada pengguna IUD adalah umur. Hal ini terkait dengan perilaku seksual.dari wanita pengguna IUD. Wanita umur 20-35 berisiko lebih tinggi karena menurut Zali (2007) pada usia ini wanita lebih sering melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan wanita yang berumur &gt; 35 tahun.kebiasaan berganti-ganti pasangan juga lebih tinggi pada wanita umur 20-35 tahun karena pada usia ini mereka masih suka mencoba-coba dalam kegiatan seksual. Hal ini memperbesar resiko terpapar oleh bakteri penyebab PMS yang bisa berkembang menjadi PID. Di negara berkembang risikonya sama untuk wanita usia muda maupun tua sedangkan di negara maju risiko lebih besar pada wanita kurun reproduksi sehat. &lt;br /&gt;Pada survey awal yang dilakukan peneliti, di RSUD dr. Sayidiman Magetan didapatkan data pada tahun 2008 jumlah kasus radang panggul (PID) sejumlah 77 kasus. Yang merupakan pengguna IUD sejumlah 44 (57,14%) orang, yang hampir 50% lama pemakaiannya lebih dari 5 tahun.dari 77 kasus PID yang berumur 25-35 tahun sebanyak 17 (22,07%) orang, 60 (77,92%) orang lainnya berumur &gt; 35 tahun.&lt;br /&gt;Penyebab PID pada pengguna IUD bermacam-macam, dimulai dari sebelum pemasangan IUD. Skrining yang kurang teliti pada calon akseptor yang sudah mempunyai riwayat infeksi panggul dan penyakit menular seksual mempertinggi resiko infeksi panggul. Insersi IUD yang tidak menjaga sterilitas, perilaku seksual dari pengguna IUD dan pasangannya, lama pemakaian IUD, kurangnya kesadaran untuk kontrol secara rutin pada petugas kesehatan, personal hygiene dan umur dari pengguna IUD juga mempengaruhi terjadinya PID pada pengguna IUD. Dampak dari PID ini umumnya berat, terutama bila tidak mendapat perawatan yang tidak tepat, yaitu dapat menyebabkan sumbatan partial atau pun total pada satu atau kedua tuba falopi, dengan bertambahnya kemungkinan insidens kehamilan ektopik dan infertilitas (Hartanto, 2004). Radang panggul bila sudah parah dapat berkembang menjadi sepsis yang bisa menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;Untuk mencegah terjadinya PID pada pengguna IUD, adalah dengan skrining calon peserta dengan cermat, melakukan pemasangan IUD sesuai standar dan menjaga sterilitas, pemeriksaan rutin kepada petugas kesehatan, menjaga personal hygiene dan berpartner seksual satu saja. Petugas juga perlu memberikan informasi yang jelas tentang efek samping, komplikasi dan tanda bahaya. Hal yang sering tidak diperhatikan adalah jangka waktu pemakaian IUD. Sering IUD tetap dipakai melewati batas waktu pemakaian. Padahal lama pemakaian IUD mempengaruhi insidensi penyakit radang panggul selain ada pengaruh dari faktor umur. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti adanya hubungan antara umur dan lama pemakaian IUD dengan kejadian PID.&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah&lt;br /&gt;PID merupakan efek samping yang berat/komplikasi pemakaian IUD. Yang termasuk radang panggul PID adalah endometritis, salpingitis salpingo-oophoritis, piosalping, abses tubo-ovarial dan pelvioperitonitis (Moegni, 2001). Komplikasi ini disebabkan oleh : skrining calon pengguna IUD kurang seksama, insersi IUD yang tidak steril, perilaku seksual dari wanita pemakai IUD dan pasangannya, dan lama pemakaian IUD (Hartanto, 2004). Sedangkan umur,  terinfeksi PMS, dan personal hygiene dari pengguna merupakan faktor yang juga mempengaruhi terjadinya infeksi pada pengguna IUD (Beus, 2002).&lt;br /&gt;1.3 Pembatasan masalah&lt;br /&gt;Karena banyaknya faktor yang menyebabkan PID pada pengguna IUD maka penelitian ini hanya dibatasi pada umur dan lama pemakaian IUD.&lt;br /&gt;1.4 Rumusan masalah&lt;br /&gt;Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara umur dan lama pemakaian IUD dengan resiko PID?”&lt;br /&gt;1.5 Tujuan penelitian&lt;br /&gt;1.5.1 Tujuan umum&lt;br /&gt;Tujuan umum dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara umur dan lama pemakaian IUD dengan resiko PID.&lt;br /&gt;1.5.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah;&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi umur pengguna KB IUD&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi resiko PID pada pengguna KB IUD&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi lama pemakaian IUD&lt;br /&gt;4. Menganalisis hubungan umur  dengan resiko PID.&lt;br /&gt;5. Menganalisis hubungan lama pemakaian kontrasepsi IUD dengan resiko PID.&lt;br /&gt;1.6 Manfaat penelitian&lt;br /&gt;1.6.1 Manfaat teoritis&lt;br /&gt;Menambah perbendaharaan pengetahuan dalam ilmu kebidanan khususnya dalam KB IUD sebagai metode kontraseptif yang efektif.&lt;br /&gt;1.6.2 Manfaat praktis&lt;br /&gt;1. Bagi tempat pelayanan&lt;br /&gt;Memberi masukan bagi tempat pelayanan kesehatan tentang hubungan umur dan  lama pemakaian IUD dengan resiko PID, sehingga mampu meningkatkan pengetahuan dan mutu pelayanan.&lt;br /&gt;2. Bagi pengguna IUD&lt;br /&gt;Meningkatkan pengetahuan IUD tentang kontrasepsi IUD.&lt;br /&gt;3. Bagi peneliti &lt;br /&gt;Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terjadinya hubungan umur dan lama pemakaian kontrasepsi IUD terhadap resiko radang panggul. &lt;br /&gt;4. Bagi peneliti lain&lt;br /&gt;Sebagai dasar atau rujukan dalam melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan umur dan lama pemakaian IUD dengan resiko PID.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;2.1 Penelitian terdahulu&lt;br /&gt;Menurut penelitian Dinamika C. Bimantara (2003) dengan judul Hubungan infeksi dan displasia serviks uteri dengan pemakaian AKDR Cu T 380 A jangka panjang, jenis penelitian survey analitik , dengan desain penelitan croos sectional. Populasi akseptor IUD dan wanita subur sebagai kontrol di poli KB dan Ginekologi RSUD dr. Pirngadi Medan, jumlah sampel 120 untuk kasus dan 120 kontrol, instrument pengumpulan data kuesioner dan observasi dan analisis data dengan chi-square menunjukkan ada hubungan antara infeksi dan displasia serviks uteri dengan pemakaian IUD jangka panjang, didapatkan angka resiko relative 95 % dibandingkan non akseptor IUD.&lt;br /&gt;2.2 Radang panggul/PID&lt;br /&gt;2.2.1 Pengertian&lt;br /&gt;Penyakit radang panggul adalah suatu istilah umum bagi infeksi genital yang telah menyebar ke dalam bagian-bagian yang lebih dalam dari alat reproduksi wanita, seperti rahim, tubafalopi dan ovarium (Dynamic, 2008). Sedangkan dalam Anonim (2008) menyebutkan yang dimaksud penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas, yang merupakan komplikasi umum dari penyakit menular seksual.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5780062612251092490?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5780062612251092490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-new-hubungan-umur-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5780062612251092490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5780062612251092490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-new-hubungan-umur-dan.html' title='KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN UMUR DAN LAMA PEMAKAIAN IUD DENGAN RESIKO PID (PELVIC INFLAMMATORY DISEASE)'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2213807424464728134</id><published>2011-01-12T18:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T18:42:07.656-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : EFEKTIFITAS PENYULUHAN PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KETERAMPILAN IBU POST PARTUM PRIMIPARA DALAM ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH REFERENSI KTI LENGKAP BAB 1-5 + KUESIONER HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru. Disini ibu sangat memerlukan perhatian dan perawatan yang intensif sehingga terjadi adaptasi yang positif terhadap tiap keadaan dan hal baru yang terjadi (Hamilton, 1995:281).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Perawat/bidan mempunyai kesempatan untuk memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu post partum yang merupakan bagian dari setiap fungsi pemberian asuhan. Dalam memberi penyuluhan, bidan harus mencari saat yang tepat sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik, karena ibu-ibu post partum selain memerlukan dukungan/support mental juga membutuhkan penyembuhan dari persalinan sehingga perawat/bidan juga harus membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat (Hamilton, 1995:294).&lt;br /&gt;Dalam masa  post partum salah satu hal yang harus diperhatikan adalah proses laktasi. Perawatan payudara dalam proses ini mempunyai peran yang sangat penting, sehingga perawatan payudara pada masa post partum sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan perawatan payudara banyak manfaatnya diantaranya untuk memelihara kebersihan payudara, melenturkan dan menguatkan puting susu, mengeluarkan puting susu yang masuk kedalam atau datar dan melancarkan produksi ASI (Dep Kes RI, 1992:29).&lt;br /&gt;Pada kenyataannya ibu post partum terutama primipara jarang sekali melakukan perawatan payudara. Hal ini disebabkan karena  kurangnya  pengetahuan dan rendahnya sikap serta keterampilan  ibu post partum dalam melakukan perawatan payudara. Dalam mendorong dan meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum perlu dilakukan upaya dengan memberikan nasehat atau konseling dan penyuluhan perawatan payudara secara langsung kepada klien. Jika wanita yang datang adalah seorang ibu multipara yang sebelumnya telah berhasil menyusui anaknya serta berasal dari lingkungan masyarakat yang memiliki kebiasaan menyusui dan sudah lingkungan masyarakat yang memiliki kebiasaan menyusui dan sudah berniat untuk menyusui bayinya yang akan lahir, maka petugas kesehatan tidak akan menemui kesukaran dalam melakukan kegiatan peningkatan dan penyuluhan tentang menyusui. Sebaliknya jika yang datang adalah wanita primipara dan berasal dari lingkungan masyarakat yang mempunyai kebiasaan memberi susu botol ke bayi, maka hendaknya petugas kesehatan jangan mengabaikan kesukaran-kesukaran yang akan dihadapi sewaktu melakukan bimbingan dan dukungan sekalipun wanita tersebut telah menyatakan keinginannya untuk menyusui (WHO/UNICEF, 1994:14).&lt;br /&gt; Menurut survey pendahuluan yang telah dilakukan, ibu post partum primipara hampir seluruhnya  tidak  bisa melakukan perawatan payudara secara sempurna,  ibu-ibu post partum tersebut hanya mengetahui apabila akan menyusui payudaranya dibersihkan dengan air matang, serta mengurut payudaranya pada waktu mandi. Selain itu, ibu juga mengatakan  malas   jika harus merawat  payudaranya setiap hari. Padahal kunci keberhasilan menyusui salah satunya adalah dengan melakukan perawatan payudara dan puting susu karena dengan perawatan  payudara akan mamperlancar produksi ASI.  &lt;br /&gt;Dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum primipara tentang perawatan payudara dapat dilakukan promosi kesehatan yang merupakan upaya meningkatkan status kesehatan individu dan komunitas karena proses tersebut membuat orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatannya,  adanya perasaan tersebut diharapkan masyarakat, kelompok dan individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang baik. Salah satu upaya dalam promosi kesehatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan penyuluhan  secara langsung tentang perawatan payudara.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti “Efektivitas penyuluhan perawatan payudara terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Faktor Penyebab Masalah&lt;br /&gt;Perawatan payudara pada masa post partum sangat penting diantaranya untuk memelihara kebersihan payudara, melenturkan dan menguatkan puting susu, pengeluaran puting susu yang masuk/datar dan melancarkan produksi ASI. Namun banyak ibu post partum terutama primipara yang jarang melakukan perawatan diantaranya karena kurangnya pengetahuan, rendahnya minat dan keterampilan tentang perawatan payudara. Menurut teori Bloom pengetahuan ada 6 tingkatan, pada penelitian ini peneliti hanya meneliti tingkat 3 yaitu tahu (Know) memahami (Comprehension), aplikasi (Application). Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum, primipara tersebut perlu diadakan promosi kesehatan salah satunya dengan cara penyuluhan tentang perawatan payudara. Namun demikian, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam melakukan penyuluhan antara lain: 1) Faktor penyuluh yaitu kurang persiapan, kurang menguasai materi, penampilan, bahasa, suara, dan penyampaian materi penyuluhan; 2) Faktor sasaran yaitu tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, kepercayaan dan adat istiadat, serta kondisi lingkungan; 3) Faktor proses dalam penyuluhan yaitu waktu penyuluhan, tempat penyuluhan, jumlah sasaran, alat peraga, serta metode penyuluhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian tersebut yaitu “Apakah penyuluhan perawatan payudara efektif untuk peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.4.1 Tujuan umum&lt;br /&gt;Mengetahui efektifitas penyuluhan perawatan payudara terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara.&lt;br /&gt;1.4.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum primipara tentang perawatan payudara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang perawatan payudara&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi sikap ibu post partum primipara tentang perawatan payudara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang perawatan payudara&lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi keterampilan ibu post partum primipara tentang perawatan payudara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang perawatan payudara&lt;br /&gt;4. Menganalisis pengaruh penyuluhan tentang perawatan payudara terhadap pengetahuan ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara.&lt;br /&gt;5. Menganalisis pengaruh penyuluhan tentang perawatan payudara terhadap sikap ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara.&lt;br /&gt;6. Menganalisis pengaruh penyuluhan tentang perawatan payudara terhadap keterampilan ibu post partum primipara dalam melakukan perawatan payudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5  Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1.5.1 Manfaat teoritis&lt;br /&gt;Dapat dijadikan alternatif dalam promosi kesehatan tentang perawatan payudara pada masa post partum sehingga ibu post partum primipara mampu melakukan perawatan payudara pada masa laktasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Manfaat praktis&lt;br /&gt;1. Bagi masyarakat&lt;br /&gt;Dapat memberikan informasi tentang perawatan payudara pada masa post partum.&lt;br /&gt;2. Bagi peneliti&lt;br /&gt;Dengan diadakan penelitian secara tepat maka dapat diketahui hasil yang relevan sehingga dapat dijadikan masukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya di bidang promosi kesehatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Konsep Penyuluhan Kesehatan&lt;br /&gt;2.1.1 Pengertian&lt;br /&gt;Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan,  menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Effendy, 1998:232). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2003) penyuluhan kesehatan adalah usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan /perilaku mereka, untuk mencapai kesehatan secara optimal.&lt;br /&gt;2.1.2 Tujuan penyuluhan kesehatan&lt;br /&gt;Tujuan pokok penyuluhan kesehatan meliputi: 1) Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal; 2) Terbentuknya perilaku sehat pada individu keluarga, kelompok dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian; 3) Menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk merubah perilaku seseorang dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan (Effendy, 1998:234).   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2213807424464728134?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2213807424464728134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-efektifitas-penyuluhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2213807424464728134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2213807424464728134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2011/01/kti-kebidanan-efektifitas-penyuluhan.html' title='KTI KEBIDANAN : EFEKTIFITAS PENYULUHAN PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KETERAMPILAN IBU POST PARTUM PRIMIPARA DALAM ...'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5909760003188761578</id><published>2010-12-13T20:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T20:57:16.992-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN :  STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP KISTA OVARIUM DI PUSKESMAS XXX</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI INI HUB YUNI Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt; A. LATAR BELAKANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan merupakan masa dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Prawirohardjo, 2008, p. 89). Kehamilan sebagai keadaan fisiologis dapat diikuti proses patologis yang mengancam keadaan ibu dan janin. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tenaga kesehatan harus dapat mengenal perubahan yang mungkin terjadi sehingga kelainan yang ada dapat dikenal lebih dini. Misalnya perubahan yang terjadi adalah edema tungkai bawah pada trimester terakhir dapat merupakan fisiologis. Namun bila disertai edema ditubuh bagian atas seperti muka dan lengan terutama bila diikuti peningkatan tekanan darah dicurigai adanya pre eklamsi. Perdarahan pada trimester pertama dapat merupakan fisiologis dengan adanya tanda Hartman yaitu akibat proses nidasi blastosis ke endometrium yang menyebabkan permukaan perdarahan berlangsung sebentar, sedikit dan tidak membahayakan kehamilan tetapi dapat merupakan hal patologis yaitu abortus, kehamilan ektopik atau mola hidatidosa (Mansjor, dkk, 2001, p. 254). &lt;br /&gt;Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Di Indonesia menurut Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu masih cukup tinggi, yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup.  &lt;br /&gt;2 &lt;br /&gt;Prioritas penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), abortus (5%) dan partus lama (5%). Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu, anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan dan infeksi (Profil Kesehatan Indonesia, 2008). Persentase ibu hamil risiko ditangani di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 sebesar 82,92%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan target Ibu hamil risiko yang ditangani di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 40%. Artinya kejadian kehamilan risiko mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke tahun 2006 (Profil Provinsi Jateng, 2006). ......................... mau lengkap HUb Hp. 081 225 300 100    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5909760003188761578?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5909760003188761578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-studi-deskriptif_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5909760003188761578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5909760003188761578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-studi-deskriptif_13.html' title='KTI KEBIDANAN :  STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP KISTA OVARIUM DI PUSKESMAS XXX'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2346733461948931320</id><published>2010-12-12T19:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T19:14:39.574-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : GAMBARAN  PENGETAHUAN  IBU  HAMIL  TENTANG  KEHAMILAN RISIKO DI PUSKESMAS XXX KECAMATAN XXX KOTA XXX  TAHUN 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEGERA DAPETIN KTI INI HUB YUNI Hp. : 081 225 300 100 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I  &lt;br /&gt;PENDAHULUAN  &lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan  merupakan  masa  dimulainya  konsepsi  sampai  lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)  dihitung  dari  hari  pertama  haid  terakhir.  (Prawirohardjo,  2008,  p.  89).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kehamilan  sebagai  keadaan  fisiologis  dapat  diikuti  proses  patologis  yang  mengancam  keadaan  ibu  dan  janin.  Tenaga  kesehatan  harus  dapat  mengenal  perubahan  yang  mungkin  terjadi  sehingga  kelainan  yang  ada  dapat  dikenal  lebih dini. Misalnya perubahan yang terjadi adalah edema tungkai bawah pada  trimester  terakhir  dapat  merupakan  fisiologis.  Namun  bila  disertai  edema  ditubuh bagian atas seperti muka dan lengan terutama bila diikuti peningkatan  tekanan darah dicurigai adanya pre eklamsi. Perdarahan pada trimester pertama  dapat merupakan fisiologis dengan adanya tanda Hartman yaitu akibat proses  nidasi  blastosis  ke  endometrium  yang  menyebabkan  permukaan  perdarahan  berlangsung sebentar, sedikit dan tidak membahayakan kehamilan tetapi dapat  merupakan hal patologis yaitu abortus, kehamilan ektopik atau mola hidatidosa  (Mansjor, dkk, 2001, p. 254).   &lt;br /&gt;Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan di seluruh dunia  lebih  dari  585.000  ibu  meninggal  tiap  tahun  saat  hamil  atau  bersalin.  Di  Indonesia menurut Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,  angka kematian ibu masih cukup tinggi, yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup.  &lt;br /&gt;Prioritas penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (28%), eklampsia  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(24%),  infeksi  (11%),  abortus  (5%)  dan  partus  lama  (5%).  Pendarahan  menempati  persentase  tertinggi  penyebab  kematian  ibu,  anemia  dan  kekurangan  energi  kronis  (KEK)  pada  ibu  hamil  menjadi  penyebab  utama  terjadinya perdarahan dan infeksi (Profil Kesehatan Indonesia, 2008).  &lt;br /&gt;Persentase ibu hamil risiko ditangani di Provinsi Jawa Timur tahun  2006 sebesar 82,92%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan target Ibu hamil  risiko  yang  ditangani  di  Provinsi  Jawa  Tengah  tahun  2005  sebesar  40%.  Artinya kejadian kehamilan risiko mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke  tahun 2006 (Profil Provinsi Jawa Timur, 2006).  &lt;br /&gt;Kehamilan  risiko  adalah  kehamilan  patologi  yang  dapat  mempengaruhi  keadaan  ibu  dan  janin.  Dengan  demikian,  untuk  menghadapi  kehamilan  risiko  harus  diambil  sikap  proaktif,  berencana  dengan  upaya  promotif dan preventif sampai dengan waktunya harus diambil sikap tegas dan  cepat untuk dapat menyelamatkan ibu dan bayinya (Manuaba, 2007, p. 44).&lt;br /&gt;Penyebab dari kejadian kehamilan risiko pada ibu hamil adalah karena  kurangnya  pengetahuan ibu tentang  kesehatan  reproduksi,  rendahnya  status  sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah. Dengan adanya pengetahuan ibu  tentang  tujuan  atau  manfaat  pemeriksaan  kehamilan  dapat  memotivasinya  untuk  memeriksakan  kehamilan  secara  rutin.  Pengetahuan  tentang  cara  pemeliharaan  kesehatan  dan  hidup  sehat  meliputi  jenis  makanan  bergizi,  menjaga  kebersihan  diri,  serta  pentingnya  istirahat  cukup  sehingga  dapat  mencegah timbulnya komplikasi dan tetap mempertahankan derajat kesehatan  yang sudah ada. Selain itu, ibu dapat meningkatkan pengetahuan tentang tanda  kehamilan  risiko  baik  melalui  tenaga  kesehatan  terutama  bidan,  petugas  Posyandu, media massa (televisi, koran, dll), sehingga dapat mengenal risiko  kehamilan  dan  mengunjugi  bidan  atau  dokter  sedini  mungkin  untuk  mendapatkan asuhan antenatal (Maulana, 2008, p. 183).  &lt;br /&gt;Kasus  kehamilan  risiko  banyak  ditemukan  di  masyarakat,  tetapi  tenaga kesehatan tidak bisa menemukannya satu persatu, karena itu peran serta  bidan  sangat  dibutuhkan  dalam  mendeteksi  ibu  hamil  risiko.  Salah  satu  tindakan bidan yaitu melalui promosi kesehatan dan pencegahan risiko, seperti  pemberian suplemen nutrisi, zat besi, imunisasi tetanus toksoid dan pemberian  konseling  tentang  tanda  bahaya  kehamilan,  dan  keluarga  berencana.  Mendeteksi dan melakukan penatalaksanaan  penyakit hipertensi dan diabetes  mellitus (Muslihatun, 2009, p. 133).  &lt;br /&gt;Berdasarkan  data  yang  diperoleh  dari  Dinas  Kesehatan  Kota  Xxx pada tahun 2009, jumlah ibu hamil sebanyak 25.803 jiwa, ibu hamil  yang mengalami risiko sebanyak 1422 jiwa dan tidak risiko sebanyak 24.381  jiwa  yang  bersumber  dari  37  Puskesmas.  Dari  37  Puskesmas  tersebut,  Puskesmas yang tertinggi jumlah ibu hamil risiko adalah Puskesmas Xxx  sebanyak 132  jiwa dari 1297 ibu  hamil  (Dinas  Kesehatan  Kota  Xxx,  2009).  &lt;br /&gt;Dari  data  PWS-KIA  yang  diperoleh  di  Puskesmas  Xxx  tahun  2009 jumlah ibu hamil sebanyak 809 orang, yang mengalami risiko sebanyak  154 orang yang terdiri dari 6 kelurahan meliputi Kelurahan Xxx Kulon  jumlah  ibu  hamil  sebanyak  153  orang  yang  mengalami risiko  sebanyak  40  (26%)  dan  tidak  risiko  sebanyak  113  (74%)  ibu  hamil,  Xxx  Wetan  jumlah ibu  hamil  160 orang  yang mengalami  risiko sebanyak 57  (36%) dan  tidak risiko sebanyak 103 (64%) ibu hamil, Sembungharjo jumlah ibu hamil  147 orang yang mengalami risiko sebanyak 21 (14%) dan tidak risiko sebanyak  126  (86%)  ibu  hamil,  Penggaron  Lor  jumlah  ibu  hamil  105  orang  yang  mengalami risiko sebanyak 14 (13%) dan tidak risiko sebanyak  91 (87%) ibu  hamil, Kudu jumlah ibu hamil 112 orang yang mengalami risiko sebanyak 9  (8%)  dan  tidak  risiko  sebanyak  103  (92%)  ibu  hamil,  dan  Kelurahan  Karangroto jumlah ibu hamil 132 orang yang mengalami risiko sebanyak 13  (9,8%)  dan  tidak  risiko  sebanyak  119  (90,2%)  ibu  hamil.  Dari  studi  pendahuluan yang  di  laksanakan  pada  tanggal 4  Maret  2010 dengan  metode  wawancara dari 4 orang ibu hamil yang memeriksakan kehamilan, didapatkan  hasil  3  orang  (75%)  berpengetahuan  kurang  baik  dan  1  orang  (25%)  berpengetahuan cukup tentang kehamilan risiko.   &lt;br /&gt;Berdasarkan  latar  belakang  diatas  maka  penulis  tertarik  untuk  melakukan penelitian mengenai “Gambaran  Pengetahuan  Ibu  Hamil  tentang  Kehamilan Risiko di Puskesmas Xxx Kecamatan Xxx Kota Xxx  Tahun 2010”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  latar  belakang  di  atas,  maka  dapat  diambil  rumusan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masalah yaitu: “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil  tentang  Kehamilan Risiko di Puskesmas Xxx Kecamatan Xxx Kota Xxx  Tahun 2010?”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Tujuan Umum  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  mengetahui  gambaran  pengetahuan  ibu  hamil  tentang  kehamilan  risiko di Puskesmas Xxx Kecamatan Xxx Kota Xxx.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Tujuan Khusus  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Mengidentifikasi  karakteristik  ibu  hamil  risiko  meliputi  umur,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Mengidentifikasi  tingkat  pengetahuan  ibu  hamil  risiko  tentang  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengertian, tanda dan macam-macam kehamilan berisiko  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Mengidentifikasi tingkat  pengetahuan  ibu  hamil  risiko  berdasarkan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;umur  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.  Mengidentifikasi  tingkat  pengetahuan  ibu  hamil  risiko  berdasarkan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendidikan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.  Mengidentifikasi  tingkat  pengetahuan  ibu  hamil  risiko  berdasarkan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pekerjaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.  Mengidentifikasi  tingkat  pengetahuan  ibu  hamil  risiko  berdasarkan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendapatan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitiam ini diharapkan dapat memberikan manfaat:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Bagi Peneliti  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti  dapat  mengaplikasikan  ilmu  yang  diperoleh  selama  mengikuti  pembelajaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Bagi Puskesmas Xxx Kecamatan Xxx Kota Xxx  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Sebagai  masukan  bagi  tenaga  kesehatan  serta  bantuan  dalam  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberikan  materi  penyuluhan  mengenai  pengetahuan  ibu  hamil  tentang kehamilan risiko.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Sebagai  bahan  program  selanjutnya  terutama  mengenai  kehamilan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;risiko.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Bagi Institusi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Sebagai referensi, bacaan dan  pengarah bagi penelitian kebidanan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Dapat digunakan sebagai tambahan ilmu dan dasar untuk melakukan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penelitian lebih lanjut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Melalui  kader  kesehatan  diharapkan  hasil  penelitian  ini  dapat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menambah pengetahuan dan pemahaman ibu hamil tentang kehamilan  risiko.     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-2346733461948931320?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/2346733461948931320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-gambaran-pengetahuan-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2346733461948931320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/2346733461948931320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-gambaran-pengetahuan-ibu.html' title='KTI KEBIDANAN : GAMBARAN  PENGETAHUAN  IBU  HAMIL  TENTANG  KEHAMILAN RISIKO DI PUSKESMAS XXX KECAMATAN XXX KOTA XXX  TAHUN 2010'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-1387809563423520570</id><published>2010-12-08T22:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-08T22:55:00.065-08:00</updated><title type='text'>KTI D4 KEBIDANAN : STUDI KORELASI ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN TENTANG ASAM FOLAT DENGAN PRAKTEK SUPLEMENTASI ASAM FOLAT KEPADA IBU HAMIL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI D4 KEBIDANAN INI DBAB 1-5 HUB : YUNI 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Status gizi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan pada masa  kehamilan (Kusmiyati, dkk. 2008), karena status diet dan nutrisi ibu hamil mempunyai dampak langsung pada perjalanan kehamilan dan bayi yang akan dilahirkannya (Paath, dkk. 2005). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dibandingkan ibu yang tidak hamil kebutuhan ibu hamil akan protein meningkat sampai 68%, asam folat 100%, kalsium 50%, dan zat besi 200-300%. Meskipun asam folat dapat dipenuhi oleh nutrisi seharihari, ibu hamil tetap memerlukan tambahan asam folat. Itulah sebabnya suplementasi asam folat dianjurkan meskipun status gizi ibu hamil tersebut berada pada “jalur hijau” KMS (Kartu Menuju Sehat) ibu hamil (Arisman, 2004). Menurut konsep evidence based bahwa pemakaian asam folat pada masa pre dan perikonsepsi menurunkan risiko kerusakan otak, kelainan neural, spina bifida, dan anencepalus, baik pada ibu hamil yang normal maupun yang berisiko. Asam folat juga berguna untuk membantu produksi sel darah merah, sintesis DNA pada janin dan pertumbuhan plasenta (Kusmiyati dkk, 2008). Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan primer kepada masyarakat, yang mempunyai kedudukan yang penting dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu sudah menjadi suatu kewajiban bidan untuk membekali diri dengan pengetahuan dan ketrampilan, memperbaiki diri dan selalu mengembangkan potensi diri (Simatupang, 2008). Dalam memberikan asuhan kepada ibu hamil, bidan harus memberikan pelayanan secara komprehensif, salah satunya pegkajian status nutrisi dan hubungannya dengan pertumbuhan janin. Secara konkrit, pengkajian status nutrisi ini diwujudkan dengan pemberian suplemen tablet besi, asam folat, vitamin sesuai dengan kebutuhan (Kusmiyati dkk, 2008). Salah satu tanggung jawab bidan adalah menjaga dan mengembangkan pengetahuan sesuai dengan ilmu perkembangan dan teknologi (Simatupang, 2008). Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka akan mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang sehingga akan menumbuhkan perilaku positif pula termasuk praktek suplementasi asam folat kepada ibu hamil (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan pada 7 bidan diperoleh gambaran bahwa sebagian besar bidan tersebut belum mengetahui tentang asam folat, kegunaannya, maupun jenis makanan yang mengandung asam folat walaupun obat yang diberikan kepada ibu hamil sudah mengandung asam folat. Bidan-bidan tersebut juga menyangka bahwa suplemen asam folat sama dengan tablet besi. Hal ini akan berbahaya apabila tidak segera ditindaklanjuti.Mengingat pentingnya pengetahuan bidan tentang asam folat dan pemberiansuplemen asam folat kepada ibu hamil maka peneliti tertarik untuk melakukanpenelitian mengenai hubungan antara pengetahuan bidan tentang asam folat&lt;br /&gt;dengan pemberian suplemen asam folat kepada ibu hamil.&lt;br /&gt;B. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: Apakah&lt;br /&gt;terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan bidan tentang asam folat dengan&lt;br /&gt;praktek suplementasi asam folat kepada ibu hamil?&lt;br /&gt;C. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Tujuan umum&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan bidan tentang asam&lt;br /&gt;folat dengan praktek suplementasi asam folat kepada ibu hamil.&lt;br /&gt;2. Tujuan khusus&lt;br /&gt;a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan bidan tentang asam folat&lt;br /&gt;b. Untuk mengetahui praktek suplementasi asam folat kepada ibu&lt;br /&gt;c. Untuk menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan bidan tentang&lt;br /&gt;asam folat dengan praktek suplementasi asam folat kepada ibu hamil&lt;br /&gt;D. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis :&lt;br /&gt;1. Manfaat bagi pemerintah&lt;br /&gt;Memberikan informasi kepada pemerintah tentang hubungan antara&lt;br /&gt;tingkat pengetahuan dengan praktek suplementasi asam folat oleh bidan&lt;br /&gt;dan ada tindak lanjut mengenai hal tersebut.&lt;br /&gt;2. Manfaat bagi bidan&lt;br /&gt;Dapat menambah pengetahuan dan wawasan bidan tentang asam folat.&lt;br /&gt;3. Manfaat bagi peneliti&lt;br /&gt;a. Menambah pengetahuan peneliti tentang asam folat dan memperoleh&lt;br /&gt;informasi tentang hubungan antara pengetahuan bidan tentang asam&lt;br /&gt;folat dengan pemberian suplemen asam folat kepada ibu hamil.&lt;br /&gt;b. Memberikan informasi untuk penelitian lebih lanjut dalam hal praktek&lt;br /&gt;suplementasi pada ibu hamil, khususnya yang dilakukan oleh bidan.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;A. Pengetahuan&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi&lt;br /&gt;setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.&lt;br /&gt;Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan,&lt;br /&gt;pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan&lt;br /&gt;manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif&lt;br /&gt;merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan&lt;br /&gt;seseorang (Notoatmodjo, 2007).&lt;br /&gt;2. Tingkat pengetahuan dalam domain kognitif&lt;br /&gt;Menurut Notoatmodjo (2007), tingkat pengetahuan dalam domain kognitif&lt;br /&gt;dibedakan dalam 6 tingkatan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tahu (know)&lt;br /&gt;Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang sudah dipelajari&lt;br /&gt;sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah&lt;br /&gt;mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari bahan yang&lt;br /&gt;dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Ini merupakan tingkat&lt;br /&gt;pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa&lt;br /&gt;orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan,&lt;br /&gt;menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;b. Memahami (comprehension)&lt;br /&gt;Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar&lt;br /&gt;tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan secara&lt;br /&gt;benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat&lt;br /&gt;menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan&lt;br /&gt;sebagainya tentang obyek yang dipelajari.&lt;br /&gt;c. Aplikasi (application)&lt;br /&gt;Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah&lt;br /&gt;dipelajari pada situasi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan&lt;br /&gt;sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,&lt;br /&gt;prinsip dan sebagainya.&lt;br /&gt;d. Analisis (analysis)&lt;br /&gt;Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau&lt;br /&gt;suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih ada&lt;br /&gt;kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari&lt;br /&gt;penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat&lt;br /&gt;bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan&lt;br /&gt;sebagainya.&lt;br /&gt;e. Sintesis (synthesis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-1387809563423520570?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/1387809563423520570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-d4-kebidanan-studi-korelasi-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1387809563423520570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/1387809563423520570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-d4-kebidanan-studi-korelasi-antara.html' title='KTI D4 KEBIDANAN : STUDI KORELASI ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN TENTANG ASAM FOLAT DENGAN PRAKTEK SUPLEMENTASI ASAM FOLAT KEPADA IBU HAMIL'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5914015675075025473</id><published>2010-12-05T19:59:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T20:03:36.883-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : KOMPETENSI BIDAN PRAKTEK SWASTA DALAM PENANGANAN PERSALINAN BERDASARKAN STANDAR PRAKTEK KEBIDANAN Di KOTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBUTUHKAN KTI INI LENGKAP BAB 1-5 HUB : YUYUN Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar belakang&lt;br /&gt;Proses melahirkan oleh bidan terlatih Skilled Birth Attendant (SBA) disajikan sebagai salah satu indikator kemajuan untuk mengurangi angka kematian maternal dunia – tujuan pembangunan milenium kelima. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pedoman Integrated Management of Pregnancy and Childbirth WHO (IMPAC) digunakan sebagai standar kompetensi. Evaluasi kompetensi biasanya meliputi uji pengetahuan tertulis, studi kasus partograf (digunakan untuk mencatat seluruh observasi wanita melahirkan) dan penilaian prosedur yang mendemonstasikan model anatomi. Angka kematian bayi Kabupaten Xxx Xxx tahun 2005 mencapai 60 per 1.000 kelahiran hidup.Pada tahun 2005 persentase balita yang ditolong oleh bidan sebesar (60,1%), dokter (15,3%), tenaga medis lainnya (1,7%), dukun (19,1%), dan lain-lain (0,88%) (Profil Dinas Kesehatan Xxx Xxx, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pendidikan, pelatihan, umur, lama praktek dan frekwensi kasus per bulan dan kompetensi bidan dengan menggunakan pendekatan materi APN, partograf dan resuscitsai.&lt;br /&gt;Metode: Disain penelitian adalah cross sectional design. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah bidan praktek swasta yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kab. Xxxxxx, berjumlah 169 orang. Selanjutnya diambil sampel 100 orang. &lt;br /&gt;Hasil: Sebagian besar (67%) bidan adalah dengan pendidikan D1, 73% berumur dibawah 40 tahun, sebagian besar (71%) tanpa pengalaman pelatihan, dan sebagian besar (73%) belum lama buka praktek (&lt;10 tahun) dan sebagian besar (75%) dengan frekwensi kasus rendah (&lt;7kasus/bulan).    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5914015675075025473?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5914015675075025473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-kompetensi-bidan-praktek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5914015675075025473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5914015675075025473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-kompetensi-bidan-praktek.html' title='KTI KEBIDANAN : KOMPETENSI BIDAN PRAKTEK SWASTA DALAM PENANGANAN PERSALINAN BERDASARKAN STANDAR PRAKTEK KEBIDANAN Di KOTA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-3582220329870389576</id><published>2010-12-05T19:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T19:57:47.697-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : STUDI KORELASI KOMPETENSI BIDAN DALAM PELAKSANAAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI KBIDANAN JUDUL INI LENGKAP BAB 1-5 HUB  Hp. 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa secara global kehamilan dan persalinan merupakan penyebab utama terhadap masih tinggiunya Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kesakitan pada wanita usia produktif di Negara-negara miskin dan Negara-negar aberkembang dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-3582220329870389576?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/3582220329870389576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-studi-korelasi-kompetensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3582220329870389576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/3582220329870389576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-studi-korelasi-kompetensi.html' title='KTI KEBIDANAN : STUDI KORELASI KOMPETENSI BIDAN DALAM PELAKSANAAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-5669861242378143620</id><published>2010-12-05T19:38:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T19:42:04.728-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : PENGARUH PENYULUHAN PADA PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KELUARGA  BERENCANA DI DESA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KTI LENGKAP BAB 1-5 HUB : 081 225 300 100 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB 1 &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;A. Latar Belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Internasional International Conference on Population and Developmen (ICPD) telah menghasilkan sudut pandang bahwa program keluarga berencana disediakan dalam konteks pelayanan dan perawatan kesehatan reproduksi yang komperehensif, tidak hanya terfokus pada upaya untuk menurunkan angka kelahiran. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kebijakan Keluarga Berencana di Indonesia dimulai dari tahun 1968 dengan didirikannya Lembaga Keluarga Berencanan Nasional (LKBN) dan pada tahun 1970 disempurnakan menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang sampai sekarang tetap berdiri sebagai sebuah lembaga pemerintah yang khusus dalam penanganan Keluarga Berencana (BKKBN Jawa Timur; 2010). &lt;br /&gt;Hasil Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan bahwa angka fertilitas total (TFR) Jawa Timur mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan hasil Survai Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003 yaitu dari 2,1 menjadi 2,3, ini berarti bahwa seorang wanita di Jawa Timur secara rata-rata akan mempunyai 2 sampai 3 anak selama hidupnya. Berdasarkan Survai Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2007 61 % pasangan usia subur (PUS) antara 15-49 tahun yang menikah, menggunakan alat kontrasepsi. Sebagian besar menggunakan metode modern sebanyak 57% sedangkan yang menggunakan metode sederhana sangat sedikit (SDKI, 2007). &lt;br /&gt;Data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi Jawa Timur dari tahun 2002-2006 tentang peserta Keluarga Berencana aktif mengalami kenaikan dan penurunan. Tahun 2002 peserta Keluarga Berencana (KB) aktif 4.460.242 peserta, tahun 2003 sebanyak 4.604.160 peserta, tahun 2004 sebanyak 4.670.378 peserta, tahun 2005 4.779.940 peserta, dan tahun 2006 4.778.608 peserta. Turun naiknya peserta Keluarga Berencana aktif menunjukkan bahwa kesadaran untuk melakukan Keluarga Berencana masih kurang, masih banyak peserta Keluarga Berencana aktif yang drop out, bekurangnya tenaga lapangan yang menyebabkan melemahnya pembinaan peserta keluarga berencana. Untuk mengatasi permasalah-permasalahan tersebut pemerintah telah menempuh banyak cara, antara lain: sosialisai lebih aktif sampai ke pelososok-pelosok desa melalui layanan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional keliling, serta dengan mendapatkan tenaga-tenaga medis seperti bidan desa yang bisa terjangkau sampai ke pelosok-pelosok desa (BKKBN Jawa Timur; 2010)&lt;br /&gt;Studi pendahuluan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten pada sensus tahun 2009 jumlah Pasangan Usia Subur di Kabupaten Xxx mencapai 181.991 jiwa. Jumlah Pasangan Usia Subur di kecamatan Xxx pada bulan Desember tahun 2009 yaitu 11.215 jiwa, sedangkan bulan januari tahun 2010 mengalami penurunan yaitu 11.165 jiwa. Hasil pendataan tahun 2009 jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Xxx sebanyak 1579 jiwa, sedangkan jumlah Pasangan Usia Subur di Kelurahan Xxx bulan Januari tahun 2010 sebanyak 1020 jiwa lebih tinggi dibandingkan kelurahan-kelurahan yang lain. Di dusun Xxx jumlah Pasangan Usia Subur yaitu 428 jiwa lebih tinggi dari dusun-dusun yang lain (Dinkes Xxx, 2010). &lt;br /&gt;Data-data di atas menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya sadar akan Keluarga Berencana walaupun pemerintah telah berusaha dengan berbagai program untuk menarik simpati masyarakat dalam berpartisipasi mensukseskan program keluarga berencana. Padahal 5 tahun terakhir pemerintah telah menempatkan bidan-bidan desa sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar termasuk memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang keluarga berencana. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penyuluhan tentang keluarga berencana pada pasangan usia subur dengan tujuan apakah ada pengaruhnya terhadap pengetahuan mereka tentang keluarga berencana. Dengan pengetahuan yang cukup diharapkan akan mempermudah dan mendukung keberhasilan program keluarga berencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan dalam rumusan masalah penelitian sebagai berikut: ”apakah ada pengaruh penyuluhan keluarga berencana pada pasangan usia subur terhadap tingkat pengetahuan tentang Keluarga Berencana di Desa Xxx Xxx ? ”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt; 1. Tujuan Umum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui pengaruh pemberian penyuluhan Keluarga Berencana pada pasangan usia subur terhadap tingkat pengetahuan tentang keluarga berencana di Desa Xxx Xxx. &lt;br /&gt; 2. Tujuan Khusus &lt;br /&gt; a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang Keluarga Berencana pada pasangan usia subur sebelum diberikan penyuluhan Keluarga Berencana di Desa Xxx Xxx . &lt;br /&gt; b. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang Keluarga Berencana pada pasangan usia subur setelah diberikan penyuluhan Keluarga Berencana di Desa Xxx Xxx. &lt;br /&gt; c. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan tentang Keluarga Berencana pada pasangan usia subur sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan Keluarga Berencana di Desa Xxx Xxx.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; D. Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Manfaat Teoritis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan tambahan teori tentang keefektifan penyuluhan Keluarga Berencana pada masyarakat dalam rangka mensukseskan program Keluarga Berencana untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. &lt;br /&gt; 2. Manfaat Aplikatif &lt;br /&gt; 1. Tenaga Kesehatan (Khususnya bidan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat sebagai gambaran awal dalam memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang Keluarga Berencana ataupun pelayanan dasar Keluarga Berencana. &lt;br /&gt; 2. Bagi Institusi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat sebagai bahan masukan untuk merumuskan strategi yang tepat dalam memberikan penyuluhan tentang Keluarga Berencana. &lt;br /&gt; 3. Masyarakat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat sebagai masukan kepada masyarakat terutama pada pasangan usia subur tentang pentingnya Keluarga Berencana untuk kesejahteraan keluarga. &lt;br /&gt; 4. Penelitian Selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan hasil penelitian ini dapat sebagai pijakan awal dalam melakukan penelitian-penelitian yang lebih lanjut mengenai keluarga berencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;br /&gt;A. Pengetahaun (Knowledge) &lt;br /&gt;1. Pengertian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra pengliatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. &lt;br /&gt; 2. Proses Adopsi Perilaku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rongers (1974) mengungkapkan sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang terjadi proses yang berurutan, yakni :    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-5669861242378143620?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/5669861242378143620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-pengaruh-penyuluhan-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5669861242378143620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/5669861242378143620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-pengaruh-penyuluhan-pada.html' title='KTI KEBIDANAN : PENGARUH PENYULUHAN PADA PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KELUARGA  BERENCANA DI DESA'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-8124504384445394557</id><published>2010-12-02T21:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T21:57:19.502-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : PENGARUH IBU HAMIL PEROKOK PASIF TERHADAP KEJADIAN LAHIR MATI DI KABUPATEN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI LENGKAP HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Salah satu penyebab mortalitas pada masa janin disebabkan karena adanya gangguan oksigenasi (Soetjiningsih, 2002). Menurut Departemen Kesehatan (Depkes, 2006), gangguan oksigenasi pada masa janin akibat dari ibu selama hamil terpapar asap rokok. Wisborg et al. (2001) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dalam penelitiannya tentang nilai paparan (exposure) asap rokok terhadap risiko terjadinya kelahiran bayi mati menunjukkan hasilnya bahwa ibu hamil perokok pasif berisiko 1,6 kali lebih besar mengalami bayi lahir mati daripada ibu hamil bukan perokok pasif. &lt;br /&gt;WHO (2000), bayi lahir mati adalah bayi yang lahir dalam kondisi mati selama masih masa kehamilan. Lahir mati merupakan penyumbang untuk angka kematian bayi di negara maju maupun di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Di Indonesia ancaman terhadap kelangsungan hidup bayi tercermin pada angka kematian bayi (AKB) yang tinggi, yaitu 35 per 1.000 kelahiran hidup, menduduki urutan ke dua dari 10 negara ASEAN. Kelangsungan hidup bayi sangat ditentukan oleh kondisi pertumbuhan janin di dalam uterus (Simbolon, 2006). Pada janin umur kehamilan 9 minggu sampai 40 minggu pertumbuhan janin sangat cepat dan mulai organ-organ tubuh berfungsi.&lt;br /&gt;Rokok merupakan penyebab utama penyakit di seluruh dunia. Bahaya merokok telah banyak diketahui oleh semua orang, tetapi merokok masih menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan (Aditama, 2004). Bahaya rokok tidak hanya mengenai perokok itu sendiri, tetapi juga dapat membahayakan orang-orang di sekitar perokok tersebut yang disebut dengan perokok pasif (Mangoenprasodjo &amp; Hidayati, 2005). 2&lt;br /&gt;Asap rokok mengandung karbon monoksida (CO) yang sifatnya mengikat hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit), menimbulkan desaturasi hemoglobin dan menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh. Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara 0.5-3 μg/m³ diserap oleh yang menghirup.&lt;br /&gt;Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah, sehingga menyumbat pembuluh darah di mana-mana termasuk di tali pusat dan di plasenta (Aditama, 2004; Gordonberg et al., 2004).&lt;br /&gt;Kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan di dalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan berfungsi sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin&lt;br /&gt;atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka janin akan bermasalah (Aditama, 2004; Gordonberg et al., 2004.; Smith et al., 2007).&lt;br /&gt;Prevalensi perokok pasif cenderung mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan prevalensi perokok. Di Indonesia, lebih separuh (57%) rumah tangga mempunyai sedikitnya satu orang perokok, dan hampir semua perokok (91,8%) merokok di rumah. Prevalensi perokok pasif laki-laki di Indonesia 31,8% dan perempuan 66%. Di setiap provinsi di Indonesia perokok pasif pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Prevalensi perokok pasif pada perempuan yang telah kawin mencapai 70,4% (Survei Kesehatan Nasional (Susenas), 2003). Di Kabupaten Xxx, 65% rumah tangga mempunyai 1 orang perokok, dan hampir semua&lt;br /&gt;perokok (90%) merokok di rumah (Dikes Kabupaten Xxx, 2007).   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136790436226631411-8124504384445394557?l=d3kebidanan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/feeds/8124504384445394557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-pengaruh-ibu-hamil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8124504384445394557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136790436226631411/posts/default/8124504384445394557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://d3kebidanan.blogspot.com/2010/12/kti-kebidanan-pengaruh-ibu-hamil.html' title='KTI KEBIDANAN : PENGARUH IBU HAMIL PEROKOK PASIF TERHADAP KEJADIAN LAHIR MATI DI KABUPATEN'/><author><name>GUDANG KTI BIDAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14392101499119797097</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136790436226631411.post-2308136030595700510</id><published>2010-12-01T07:50:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T07:53:23.161-08:00</updated><title type='text'>KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN SIKAP  IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA  KEHAMILAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUTUH KTI LENGKAP BAB 1-5 MURAH HUB : 081 225 300 100&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Latar Belakang&lt;br /&gt;Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir.kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada umumya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan menjadi masalah. (Saifuddin, 2006)&lt;br /&gt;Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan atau periode antenatal apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu. Macam-macam tanda bahaya kehamilan adalah perdarahan pervaginam, sakit kepala yang hebat, masalah penglihatan, bengkak pada muka atau tangan, nyeri abdomen yang hebat, dan bayi kurang bergerak seperti biasa. (Masdanang, 2008).&lt;br /&gt;Tingginya angka kematian itu masih menjadi permasalahan utama terutama di Negara berkembang, seperti kita di Indonesia. Diperkirakan sekitar 500.000 ibu meninggal diseluruh dunia akibat proses reproduksi setiap tahun sedang di Indonesia 30% ibu per 100.000 (sensus kesehatan, 2003). Di kota Semarang kematian ibu  pada tahun 2003 sebesar  121 per 100.000, 26% diantaranya kematian ibu hamil. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan karena hamil dan bersalin termasuk perdarahan, infeksi dan aborsi yang tidak aman serta tekanan darah tinggi. Sebagian besar dari komplikasi-komplikasi tersebut sebenarnya dapat dicegah. Kematian ibu tersebut karena rendahnya pengetahuan dan kurangnya informasi mengenai kehamilan terlambat (Depkes RI, 2001).&lt;br /&gt;Menurut menteri kesehatan, sampai tahun 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) berhasil diturunkan, pada tahun 2004 dari 207 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2005 menjadi 262, tahun 2006 sebesar 255 dan tahun 2007 sebesar 248 (Fadilah, 2008). Sedangkan AKI Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 252 per 100.000 kelahiran hidup. Urutan penyebab kematian ibu dari yang terbanyak  adalah perdarahan, eklamsi, perdarahan sebelum persalinan dan infeksi, kejadian ibu maternal paling banyak adalah waktu bersalin sebesar  49,90%, kemudian disusul waktu nifas  sebesar 30,02% dan pada waktu hamil 20,08% (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2005). &lt;br /&gt;AKI di kota Semarang tahun 2006 sebanyak 15 orang (0,61%) dari 24498 kelahiran hidup, tahun 2007 sebanyak 20 orang (0,81%) dari 24936 kelahiran hidup, tahun 2008 sebanyak 27 orang (0,107%) dari 25160 kelahiran hidup (DKK Kota Semarang, 2008).&lt;br /&gt;Secar
