Sabtu, 26 Juni 2010

KTI KEBIDANAN : GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN METODE KONTRASEPSI NON IMPLAN DI BPS

KTI KEBIDANAN LENGKAP BAB 1,2,3,4,5 hanya Rp. 100.000 Hub. YUNI Hp. 081 228 300 100 / Hp. 081 228 101 101
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Gerakan Keluarga Berencana Nasional Indonesia telah berumur panjang (sejak 1970) dan masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran sangat bermakna. Masyarakat dapat menerima hampir semua metode medis teknik Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah (Manuaba, 1998 : 437). Kontrasepsi adalah upaya mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas (Sarwono, 1999 : 905).

Kita ketahui bahwa sampai saat ini belumlah tersedia satu metode kontrasepsi yang benar-benar 100% ideal/sempurna. Pengalaman menunjukkan bahwa saat ini pilihan metode kontrasepsi umumnya masih dalam bentuk cafetaria atau supermaket, yaitu calon akseptor memilih sendiri metode kontrasepsi yang diinginkannya. Namun dalam memilih metode kontrasepsi hendaknya mempertimbangkan dua aspek yaitu aspek calon akseptor dan aspek medis, agar metode yang dipakai baik dan aman (Hartanto, 1996 : 36-37).
Menurut SDKI 2002/2003, 60% perempuan kawin saat ini menggunakan kontrasepsi, dibandingkan dengan 57% pada 1997. Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah kontrasepsi suntik (28%), pil (13%), dan IUD (6%). Lebih dari 65% perempuan kawin menggunakan kontrasepsi di Jawa Timur (Martaadisoebrata, 2005 : 228). Sedangkan pada tahun 1997, dua per tiga (66,5%) perempuan menikah di Indonesia menggunakan kontrasepsi modern suntik (35,6%), pil (28.2%), IUD (14,8%) (Gulardi, 2003 : 22 ). Hal tersebut menunjukkan perubahan jumlah peserta KB.
Laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan bulan Januari sampai Desember 2005 bahwa di wilayah Magetan terdapat wanita usia subur sejumlah 73.408 orang, dengan peserta KB suntik 36.776 orang, peserta KB IUD 22.128 orang, peserta KB pil 5.689 orang dan peserta KB implan 2.353 orang. Dari laporan tersebut di wilayah Puskesmas Bendo terdapat wanita usia subur sejumlah 6.579 orang, dengan peserta KB IUD 3.161 orang, peserta KB suntik 2.045 orang, peserta KB pil 214 orang dan peserta KB implan 539 orang. Sedangkan data survei awal di BPS Kleco terdapat peserta KB suntik 120 orang, peserta KB IUD 11 orang, peserta KB pil 12 orang dan peserta KB implan 8 orang.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa peserta KB memakai alat kontasepsi sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi berbagai faktor, yaitu faktor internal seperti kegagalan (3%), ingin hamil (6%) mengalami efek samping atau kesehatan (10 %) dan 6 % karena alasan lain seperti harga mahal, jarang kumpul, atau kesulitan mendapatkan alat yang diinginkan (Anonim, 2005 : 9), dan faktor eksternal seperti paritas, usia, agama, pendidikan, pekerjaan, KIE, konseling, dan tindakan pemasangan. Dari uraian tersebut diatas, maka peneliti ingin mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan di BPS Sri Iswahyuni Bendo Magetan.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Dalam pemilihan alat kontrasepsi tertentu banyak hal yang perlu diperhatikan, misalnya efektivitas, keuntungan dan kerugian, indikasi dan kontraindikasi serta efek samping. Juga banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan suatu alat kontrasepsi tertentu termasuk faktor internal yaitu : minat dan motivasi dan faktor eksternal yaitu paritas, umur, pendidikan, pekerjaan, KIE dan tindakan pemasangan. Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah karakteristik peserta KB suntik, pil dan IUD di BPS Sri Iswahyuni Bendo Magetan.
1.3 Rumusan masalah
Adapun perumusan masalah penelitian adalah “Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan di BPS Sri Iswahyuni Bendo Magetan ?”
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN METODE KONTRASEPSI NON IMPLAN DI BPS Sri Iswahyuni Bendo Magetan ?”
1.4.2 Tujuan khusus
Mengidentifikasi karakteristik peserta KB suntik, Pil dan IUD berdasarkan paritas, umur, pendidikan dan pekerjaan.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Bagi instansi
Dapat memberikan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan yang selanjutnya dijadikan pedoman dan acuan dalam rangka menggalakkan metode kontrasepsi tersebut.


1.5.2 Bagi peserta KB
Dapat mengetahui informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan.
1.5.3 Bagi peneliti
Memperoleh informasi dan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan.
1.5.4 Bagi bidan di desa
Memperoleh informasi dan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan guna meningkatkan cakupan, pembinaan dan mutu pelayanan kontrasepsi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini secara garis besar akan diuraikan tentang konsep dasar jenis metode kontrasepsi dan faktor yang mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi non implan.
2.1 Jenis metode kontrasepsi
2.1.1 Suntikan progestin
Suntikan progestin merupakan kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin yaitu : 1) depo medroksiprogesteron acetat (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular (di daerah bokong), 2) depo noretisteron enantat (depo noristerat) yang mengandung 200 mg noretindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular. Keuntungan metode suntik adalah : sangat efektif, pencegahan kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah, tidak memiliki pengaruh terhadap ASI, sedikit efek samping, klien tidak perlu menyimpan obat suntik, membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik, mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul. Keterbatasan metode suntik adalah : sering ditemukan gangguan haid, permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering, tidak menjamin perlindungan terhadap penularan IMS, Hepatitis B, atau infeksi virus HIV, terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian, pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat, tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut. Cara kerja dari metode suntik adalah : mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi, menghambat transportasi gamet oleh tuba. Indikasi dari metode suntik adalah : usia reproduksi, nullipara dan yang telah memiliki anak, menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi, menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai, setelah melahirkan dan tidak menyusui, setelah abortus atau keguguran, telah banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi, perokok, tekanan darah <180/110 mmHg, menggunakan obat untuk epilepsi, atau tuberkulosis, tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen, sering lupa menggunakan pil kontrasepsi kombinasi. Kontraindikasi dari metode suntik : hamil atau dicurigai hamil, perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya, tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea, menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara, Diabetes Mellitus disertai komplikasi. Efek samping dari metode suntik adalah : amenorhea (tidak terjadi perdarahan atau spotting), perdarahan/perdarahan bercak (spotting), meningkatnya/menurunnya berat badan (Saifuddin, 2003 : MK-40).
2.1.2 Pil Kombinasi
Pil kombinasi merupakan metode kontrasepsi hormonal yang berupa pil sejumlah 28 buah, yang efektif dan reversible dan harus di minum setiap hari. Keuntungan dari pil kombinasi adalah : memiliki efektifitas yang tinggi, bila digunakan tiap hari, resiko terhadap kesehatan relatif kecil, tidak mengganggu hubungan seksual, siklus haid teratur, mudah di hentikan setiap saat, kesuburan segera kembali bila penggunaan pil dihentikan dan dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat. Keterbatasan pil kombinasi adalah : mahal dan membosankan karena harus menggunakan tiap hari, mual terutama pada 3 bulan pertama, perdarahan bercak atau perdarahan sela terutama 3 bulan pertama, pusing, nyeri payudara, berat badan naik sedikit, berhenti haid (amenorhea), mengurangi ASI dan tidak mencegah IMS (Saifuddin, 2003 : MK-28).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar