Minggu, 31 Mei 2015

KTI KEBIDANAN BARU 2015 : HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN POLA MENSTRUASI PADA MAHASISW D3 KEBIDANAN TINGKAT 3

MAU KTI LENGKAP BAB 12345+Daftar Pustaka HUb : 081225300100 Pin :527B6FC1
BAB I Mbr>PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pubertas merupakan periode kehidupan saat organ reproduksi berkembang pesat dan mencapai maturitas. Tanda-tanda awal pubertas adalah tumbuhnya payudara dan rambut pubis. Tubuh tumbuh dengan pesat dan memberi bentuk tubuh wanita. Pubertas mencapai puncak pada awitan menstruasi, periode menstruasi pertama disebut menarche (Fraser, 2009). Siklus menstruasi merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulanya untuk kehamilan. Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi (atau mens, atau haid), (Saryono, 2009). Siklus menstruasi biasanya dimulai pada wanita muda umur 12-15 tahun (menarche) yang terus berlanjut sampai umur 40-50 tahun (menopause) tergantung pada berbagai factor, termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat badan tubuh relative terhadap tinggi tubuh. Pada umumnya siklus menstruasi berlangsung 28 hari, siklus normal 21-35 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita. Selama siklus menstruasi, ovarium menghasilkan hormone estrogen dan progesterone (Saryono, 2009). Siklus menstruasi meliputi perubahan siklus didalam endokrin, ovarium, dan uterus. Baik factor fisiologis individu maupun lingkungan dapat mempengaruhi perubahan siklus ini (Walsh, 2008). Hipotalamus adalah sumber utama kontrol hipotalamus dan mengatur kelenjer hipofisis anterior melelui jalur hormonal. Sebaliknya, kelanjar hipofisis anterior mengatur ovarium dengan hormon. Akhirnya, ovarium menghasilkan hormone yang mengendalikan perubahan yang terjadi simultan dan selaras. Mood wanita dapat berubah sejalan dengan siklus tersebut karena adanya hubungan yang erat antara hipotalamus dan korteks serebri (Franser, 2009). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi dalam Hestiantoro (2009) adalah: Fungsi hormon terganggu, kelainan sistemik, cemas, kelenjar gondok, hormon prolactin berlebihan, kelainan fisik (alat reproduksi) seperti: gangguan kesuburan, abortus berulang, dan keganasan pada organ reproduksi. Gejala kecemasan sangat mempengaruhi pola menstruasi pada wanita, karena pesan sepanjang saraf di dalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh (Saryono, 2009). Adanya rangsangan stressor psikososial mengakibatkan jaringan neuro di otak ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya. Otak dapat secara konstan mengirimi pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera (Nevid, 2005). Berdasarkan data National Institute of Mental Healt (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. Di Indonesia jumlah remaja putri yang mengalami gangguan emosional sebesar 20% (Putri, 2007). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Desi nur isnaeni (2010), menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami siklus menstruasi normal (58,90%) dan mengalami stress ringan (84,93%). Uji utami (2009), menunjukan bahwa mahasiswa semester VI A Akbid Mitra Husada Karanganyar mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi (66,7%), tidak cemas saat menghadapi ujian OSCA (57,8%). Sesuai dengan teori kecemasan Mansjoer (2005), mengatakan kecemasan yaitu perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan manifestasi dari factor psikologi dan fisiologi. Dampak dari kecemasan antara lain : berdebar dengan diiringi dengan detak jantung yang cepat, rasa sakit atau nyeri pada dada, sesak nafas, berkeringat berlebihan, kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual, gangguan tidur, tubuh gemetar, anggota tubuh dingin, ingin bunuh diri, dan Migrain (Putri, 2007). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 10 mahasiswa D3 kebidanan tingkat 3 di universitas xxx xxx, didapatkan 6 mahasiswa atau 60% diantaranya menyatakan pola menstruasinya tidak teratur (mundur lebih dari dua minggu dari pola atau menstruasinya lebih awal satu minggu) disebabkan kecemsaan Karena kegiatan perkuliahan yang padat, persiapan menghadapi serangkaian ujian serta kegiatan penyusuna KTI, sedangkan 4 mahasiswa atau 40% mahasiswa lainya menyatakan pola menstruasinya normal pada saat mahasiswa ada kegiatan yang padat. Hal tersebut terkait dengan cemas yang dialami mahasiswa karena aktivitas padat yang banyak menyita waktu, tenaga dan biaya serta permasalahan yang sedang dihadapinya. Hal ini berakibat akan mempengaruhi kondisi fisik dan mental emosional misalnya mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, daya konsentrasi dan daya ingat menurun serta menjadi pemarah, pemurung, dan merasa cemas. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Tingkat kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasisw D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “Adakah hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa D3 kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012”?. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa D3 kebidanan Tingka 3 Universitas Muhammadiya Xxx tahun 2012. 2. Tujuan khusus a. Mendeskripsikan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa D3 kebidanan Tingkat 3 universitas Xxx Xxx Tahun 2012. b. Mendeskripsikan Pola Menstruasi pada mahasiswa D3 tingkat 3 universitas Xxx Xxx Tahun 2012. c. Menganalisa hubungan Antara Tingkat kecemasan dengan Pola Menstruasi pada Mahasiswa D3 Kebidanan tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Mahasiswa Sebagai masukan dan pengetahuan bagi mahasiswa tentang tingkat kecemasan dan pola menstruasi. 2. Bagi institusi Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran dan menganalisa mengenai tingkat kecemasan dan pola menstruasi sehingga dapat digunakan sebagai refrensi bagi penelitian selanjutnya. 3. Bagi peneliti Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam penelitian terutama metodologi penelitian tentang hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa. E. Keaslian Penelitian Tabel 1.1.Keaslian Penelitian No Pengarang Judul Metode Hasil 1 Desty nur isnaeni, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) fakultas kedokteran Tahun 2010 Hubungan Antara Stres dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa Kebidanan jalur Reguler Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun 2010 Penelitian Observasional analitik, pendekatan Crosscetional, Metode total Sampling: Cara Pengumpulan Data : Kuesioner DASS 42, Analisa dengan menggunakan uji sperman rank correlation dengan taraf signifikan (α) 0,05 atau tingkat kepercayaan 95% Nilai korelasi spearman = 0,282 dan nilai p= 0,016. Hal ini menunjukan ada hubungan antara sters dengan pola menstruasi, semakin berat tingkat stersnya maka semakin berpengaruh terhadap pola menstruasi. 2 Uji Utami Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Fakultas Kedokteran Tahun 2009 Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Obyektif Structural Clinical Assesment pada Mahasiswa Semester VI A Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar Penelitian analitik observasional secara cross sectional Metode Sampling : Total Sampling cara pengumpulan Data : Kuesioner, Analisa dengan Uji chi square pada taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (d.k) P value = X2 lebih besar dari Xtabel (30,789 > 3,844) dapat dambil kesimpulan ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecemasan menghadapi ujian OSCA pada mahasiswa semester VI A Akbid Mitra Husada Karanganyar 3 Tri Suwarni Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Fakultas kedokteran Tahun 2009 Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Siklus Haid Pada Remaja Putri Kelas 2 SMA Negeri 1 Karanganyar Observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional,pengambilan data menggunakan kuesioner kemudian dilakukan pengolahan data dengan uji statistic chi square. Hasil penelitianmenunjukkan X2 hitung = 15,267 ( > X2 tabel = 5,991), nilai probabilitas 0,000 (< 0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan yang sangat signifikan. Dalam penelitian ini penulis mengambil judul “ Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012. Yang membedakan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dari judul, sampel yang diteliti dari penelitian Desi nur isnaeni berjumlah 73 orang dan tempat penelitian di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Uji utami berjumlah 45 orang dan tempat penelitian di Akademi Kebidanan Mitra Husada karanganyar. BAB II TINJAUAN TEORI A. Tinjauan Teori 1. Pola Menstruasi a. Pengertian Menstruasi Haid atau menstruasi adalah salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses dekuamasi atau meluruhnya dinding Rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui vagina (Prawirohardjo, 2008). Pada umumnya siklus menstruasi berlangsung 28 hari.Siklus normal berlangsung 21-35 hari. Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hamper 90% wnita memiliki siklus 25-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur. Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu 1 hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai (Saryono, 2009). Pola menstruasi merupakan serangkaian proses menstruasi yang meliputi siklus menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan dismenorea. Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya menstruasi periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8 hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5 kali. Panjangnya siklus menstruasi ini dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik, tingkat stres, genetik dan gizi (Wiknjosastro;2005, Octaria;2009). b. Pola Menstruasi Pola menstruasi normal yaitu siklusnya berlangsung selama 21-35 hari, lamanya adalah 2-8 hari dan jumlah darah yang dikeluarkan kira-kira 20-80 ml per hari. Pola menstruasi yang tidak normal atau disebut juga gangguan menstruasi yaitu apabila menstruasi yang siklus, lama dan jumlah darahnya kurang atau lebih dari yang diuraikan diatas (Anonim,2009). Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium. Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun (Heffner; 2008). c. Gambaran Klinis Franser (2009) mengatakan terdapat tiga fase utama yang mempengaruhi struktur jaringan endometrium dan dikendalikan oleh hormone ovarium. Fase tersebut antara lain : 1) Fase menstruasi Fase ini ditandai dengan perdarahan vagina, selama 3-5 hari.Fase ini adalah fase akhir siklus menstruasi, yaitu saat endometrium luruh ke lapisan basal bersama darah dari kapiler dan ovum yang tidak mengalami fertilisasi. 2) Fase proliferative. Fase ini terjadi setelah menstruasi dan berlangsung ovulasi.Terkadang beberapa hari pertama saraf endometrium dibentuk kembali disebut fase regenerative. Fase ini dikendalikan oleh estrogen dan terdiri atas pertumbuhan kembali dan penebalan endometrium. Pada fase ini endometrium terdiri atas tiga lapisan: a) Lapisan basal terletak tepat diatas myometrium, memiliki ketebalan sekitar 1 mm. lapisan ini tidak pernah mengalami perubahan selama siklus menstruasi. Lapisan basal ini terdiri atas struktur rudimenter yang penting bagi pembentukan endometrium baru. b) Lapisan fungsional yang terdiri atas kelenjar tubular dan memiliki ketebalan 2,5 mm. lapisan ini terus mengalami perubahan sesuai pengaruh hormonal ovarium. c) Lapisan epitelium kuboid bersilia menutupi lapisan fungsional. Lapisan ini masuk ke dalam untuk melapisi kelenjar tubular. 3) Fase sekretori. Fase ini terjadi setelah ovulasi di bawah pengaruh progesteron dan estrogen dari korpus luteum. Lapisan fungsional menebal sampai 3,5 mm dan menjadi tampak berongga Karena kelenjar ini lebih berliku-liku. d. Gangguan atau Kelainan Siklus Haid. Gangguan siklus haid disebabkan ketidakseimbangan FSH atau LH sehingga kadar estrogen dan progesteron tidak normal. Biasanya gangguan menstruasi yang sering terjadi adalah siklus menstruasi tidak teratur atau jarang dan perdarahan yang lama atau abnormal, termasuk akibat sampingan yang ditimbulkannya, seperti nyeri perut, pusing, mual atau muntah (Prawirohardjo, 2008). 1) Menurut Jumlah Perdarahan a) Hipomenorea Perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih sedikit dari biasanya. b) Hipermenorea Perdarahan menstruasi yang lebih lama atau lebih banyak dari biasanya (lebih dari 8 hari). 2) Menurut Siklus atau Durasi Perdarahan. a) Polimenore Siklus menstruasi tidak normal, lebih pendek dari biasanya atau kurang dari 21 hari. b) Oligomenorea Siklus menstruasi lebih panjang atau lebih dari 35 hari. c) Amenorea Amenorea adalah keadaan tidak ada menstruasi untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. 3) Gangguan lain yang berhubungan dengan menstruasi, diantaranya: a) Premenstrual tension Gangguan ini berupa ketegangan emosional sebelum haid, seperti gangguan tidur, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala. b) Mastadinia. Nyeri pada payudara dan pembesaran payudara sebelum menstruasi. c) Mittelschmerz Rasa nyeri saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de Graff dapat juga disertai dengan perdarahan/ bercak. d) Dismenorea. Rasa nyeri saat menstruasi yang berupa kram ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. e. Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan pola menstruasi Beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi dalam Hestiantoro (2009) adalah: 1) Fungsi hormon terganggu. Menstruasi terkait erat dengan system hormone yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisis. System hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu otomatis siklus menstruasi pun akan terganggu. 2) Kelainan sistemik. Wanita yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus bisa mempengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolism didalam tubuh tidak bekerja dengan baik. Wanita penderita penyakit diabetes juga akan mempengaruhi sistem metabolismenya sehingga siklus menstruasinya tidak teratur. 3) Cemas. Cemas juga dapat mengganggu sistem metabolisme didalam tubuh, bisa saja karena stress/ cemas wanita jadi mulai lelah, berat badan turun drastis, sakit-sakitan, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolismenya terganggu, siklus menstruasinya pun ikut terganggu. 4) Kelenjar gondok. Terganggu fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa menjadi penyebab tidak teraturnya siklus mentruasi. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid), pasalnya sistem hormonal tubuh terganggu. 5) Hormon prolaktin berlebihan. Pada wanita menyusui produksi hormon prolaktin cukup tinggi. Hormon prolaktin ini sering kali membuat wanita tak kunjung menstruasi karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada kasus ini tidak masalah, justru sangat baik untuk memberikan kesempatan guna memelihara organ reproduksinya. Sebaliknya, tidak sedang menyusui, hormon prolaktin juga bisa tinggi. Biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala. 6) Kelainan fisik (alat reproduksi) Kelainan fisik yang dapat menyebabkan tidak mengalami menstruasi (aminorea primer) pada wanita adalah: a) Selaput dara tertutup sehingga perlu operasi untuk membuka selaput dara. b) Indung telur tidak memproduksi ovum. c) Tidak mempunyai ovarium. f. Dampak gangguan menstruasi Gangguan siklus menstrusi dapat mengakibatkan : 1) Gangguan kesuburan 2) Abortus berulang 3) Keganasan pada organ reproduksi 2. Kecemasan a. Pengertian kecemasan atau ansietas Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya (Nanda, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005). Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor psikologi dan fisiologi (Mansjoer, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2007). b. Gambaran Klinis Kecemasan (ansietas) Seseorang yang mengalami gangguan hidup tiap hari dalam ketegangan yang tinggal secara samar-samar merasa takut atau cemas pada hampir sebagian besar waktunya dan cenderung bereaksi secara berlebihan terhadap stress yang ringan pun. Tidak mampu santai, mengalami gangguan tidur, kelelahan, nyeri kepala, pening, dan jantung berdebar-debar adalah keluahn fisik yang paling sering ditemukan (Zuyina, 2010). Aspek-aspek biologis dari gangguan obsesif-komplusif dapat melibatkan keterangsangan yang meninggi dari apa yang disebut sebagai sirkuit cemas yaitu suatu jaringan neuro diotak yang ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya. Otak dapat secara konstan mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera, hal ini membawa kepada pikiran-pikiran kecemasan obsessional dan tingkah laku komplusif representative. Sirkuit cemas ini menginkorporsi bagian-bagian dari sistem limbik yang memegang peranan dalam respons emosional (Nevid, 2005). c. Faktor-faktor Penyebab / Pencetus Kecamasan (ansietas) Berdasarkan Stuart (2007), kecemasan dapat dieskspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan. Faktor-faktor penyebabnya yaitu: 1) Psikoanalitis Kecemasan yang timbul id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan implus primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. Ego atau aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan. 2) Interpersonal Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. 3) Perilaku Adanya hubungan timbal balik antara konflik dan kecemasan : konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan. 4) Keluarga Gangguan kecemasaan biasanya terjadi dalam keluarga.Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dengan depresi. 5) Biologis Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan pebting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan.Selain itu, kesehatan umum individu dan riwayat kecemasan pada keluarga memiliki efek nyata sebagai predisposisi kecemasan.Kecemasan disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stresor. d. Tingkat kecemasan(Anxiety) Stuart (2007), mengatakan bahwa tingkat kecemasan dibagi menjadi : 1) Ansietas ringan, berhubungan dengan ketegangan dalam kehiduan sehari-hari. Ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. 2) Ansietas sedang, memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya. 3) Ansietas berat, sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. 4) Tingkat panic dari ansientas, berhubungandengan terpengaruh, ketakutan, dan treor. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panic tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panic mencakup kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motoric, menurunya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika berlangsungterus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian. e. Penatalaksanaan Kecemasan. Nevid (2005) mengatakan, untuk mengatasi konflik-konflik atau gangguan-gangguan kecemasan antara lain : 1) Pendekatan psikodinamika yang modern yaitu lebih berfokus pada gangguan-gangguan relasi yang ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk lebih mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. 2) Terapi humanistika yaitu berfokus pada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan dengan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan. 3) Terapi obat atau farmakoterapi yaitu berfokus pada penggunaan benzodiazepine dan obat-obat antidepresan. 4) Pendekatan-pendekatan dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan melibatkan berbagai teknikbehavioral, termasuk teori pemaparan dan pencegahan responden, serta pelatihan ketrampilan relaksasi. 5) Psikoterapi : lamanya terapi minimal dilakukan adalah selama 12 minggu, biasanya dipilih group terapi dengan kondisi anggota group adalah sama dengan pasien dianggap lebih efektif dalam penyembuhan. Latihan pernafasan dan teknik relaksasi ketika menghadapi kecemasan, dalam terapi ini terapis berusaha membantu pasien menemukan ketenangan dengan menciptakan rileks dalam diri individu, bersamaan dengan itu pasien juga diberikan sugesti bahwa kecemasan-kecemasan yang muncul itu tidak realitis. 6) Pendekatan agama. Pendekatan agam akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan positif. 7) Pendekatan keluarga Dukungan (supportif) keluarga efektif mengurangi kecemasan. 8) Olahraga Olahraga tidak hanya baikuntuk kesehatan. Olahraga akan menyalurkan tumpukan stres secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan memberikan rasa nyaman. f. Upaya Mencegah Kemunculan Gangguan Kecemasan. 1) Kontrol pernafasan yang baik. 2) Melakukan relaksasi. 3) Olahraga. 4) Bermain dengan benda kesayangan. 5) Dekat air atau menyentuh air. 6) Mengkonsumsi makanan dan minuman kesukaan. 7) Berdoa. 8) Senyum. 9) Makan coklat. 10) Hindari kopi. 11) Curhat ke orang-orang yang dipercaya. 12) Tuliskan pikiran-pikiran pada catatan harian. 13) Membaca. 14) Melakukan kegiatan amal. 15) Aromaterapi. 16) Jalan-jalan. 17) Dipijat. 18) Bersyukur. 19) Merendam kaki dengan air hangat. 20) Nonton film komedi. 21) Mendengarkan music. 22) Minum teh hijau. (Putri, 2007). g. Dampak Kecemasan Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap cemas tergantung pada kondisi masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat menggangu. Diantaranya yaitu: 1) Berdebar dengan diiringi dengan detak jantung yang cepat. Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami gangguan kecemasan kotinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang normal. 2) Rasa sakit atau nyeri pada dada Kecemasan meningkat tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda serangan rasa panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya. 3) Rasa sesak napas Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti kesulitan bernafas karena kehilangan udara. 4) Berkeringat secara berlebihan Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang muncul disebabkan oleh otak mempersiapkan perencanaan fight or flight terhadap stressor. 5) Kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual. 6) Gangguan tidur 7) Tubuh gemetar Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan, rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain. 8) Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan berkeringat 9) Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri 10) Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain) (Putri, 2007). h. Cara Mengukur Kecemasan Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, tau berat sekali orang menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A). alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala dengan masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 0-3 dengan penilaian sebagai berikut : Nilai 0 : tidak ada gejala (tidak ada gejala sama sekali). Nilai 1 : gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). Nilai 2 : gejala sedang (separuh dari gejala yang ada). Nilai 3 : gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada). Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu angka (score) < 6 = tidak ada kecemasan, 7-14 = kecemasan ringan, 15-27 =kecemasan sedang, ≥ 27 = kecemasan berat. (Nursalam, 2008). 3. Hubungan Kecemasan Dengan Pola Menstruasi. Fraser (2009) mengatakan hipotalamus adalah sumber utama control hipotalamus dan mengatur kelenjar hipofisis anterior melalui jalur hormonal. Sebaliknya, kelenjar hipofisis anterior mengatur ovarium dengan hormon.Akhirnya, ovarium menghasilkan hormone yang mengendalikan perubahan yang terjadi simultan dan selaras.Mood wanita dapat berubah sejalan dengan siklus tersebut karena adanya hubungan yang erat antara hipotalamus dan korteks serebri. Saryono (2009) mengatakan gejala kecemasan sangat mempengaruhi pola menstruasi pada wanita, karena pesan sepanjang saraf di dalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh. Nevid (2005) mengatakan adanya rangsangan stressor psikososial mengakibatkan jaringan neuron di otak ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya.Otak dapat secara konstan mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera, hal ini membawa kepada pikiran-pikiran kecemasan obsessional dan tingkah laku komplusif representative yang kemudian menginkorpusi bagian-bagian dari system limbik yang memegang peranan dalam respons emosional. Prawirohardjo (2008) mengatakan gangguan emosiaonal sebagai rangsangan melalui system saraf diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu bagian otak yang disebut limbic system melalui tranmisi saraf, selanjutnya melalui saraf autonomy (simpatis atau parasimpatis) akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar hormonal (endokrin) hingga mengeluarkan secret (cairan) neurohormonal menuju hipofisis melalui system prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH (Follikel Stimulazing hormone) dan LH (Leutinizing Hormone). Produksi kedua hormon ini adalah dibawah pengaruh RH (Realizing Hormone) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Pengeluaran Rh sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus juga pengaruh luar cahaya, bau-bauan dan hal-hal psikologik hingga selanjutnya mempengaruhi terjadinya proses menstruasi atau haid. B. Kerangka Teori Mengacu pada tinjauan teori yang telah dipaparkan pada kerangka teoti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Gambar. 2.1. Kerangka Teori Keterangan : : diteliti : tidak diteliti Sumber : Nursalam (2008), Saryono (2010) C. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui proses penelitian yang akan dilakukan.(Notoatmodjo, 2005) Dalam penelitian ini konsep-konsep yang ingin diamati adalah : tingkat kecemasan dengan pola menstruasi mahasiswa. Variable independen variable dependen Gambar 2.1 : Kerangka konsep D. Hipotesis Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul, Arikunto (2006) : “Ada Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012” . Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN TERBARU 2015 : GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG BAHAYA 4T PADA KEHAMILAN

MAU LEBIH LENGKAP BAB 12345 + daftar pustaka + Olah Data Hub : 081 225 300 100 atau pin : 527B6FC1 Murah Rp. 25.000
BAB IV
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah hubungan-hubungan antara konsep yang satu dengan yang lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada tinjauan pustaka. Oleh karena konsep tidak dapat diukur harus dijabarkan ke dalam variabel. Dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo, 2010) Bagan 2 : Kerangka Konsep Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi tititk perhatian suatu penelitian (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini hanya terdapat variabel tunggal. Variabel tunggal adalah variabel yang berdiri sendiri, tidak ada variabel yang mendampingi. Variabel tunggal dalam penelitian ini yaitu tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur tentang bahaya 4T pada kehamilan. Definisi Operasional Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Arikunto, 2010). Table 3.1. Definisi Operasional Variable penelitian Definisi operasional Cara dan alat ukur Hasil Skala pengukuran Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang bahaya 4T pada kehamilan Kemampuan responden dalam menjawab tentang Bahaya 4T Pada kehamilan Kuesioner tertutup, skala Guttman, 20 pertanyaan positif nilai benar=1 Salah=0 sedangkan untuk pertanyaan negatif benar = 0 dan salah = 1 Baik >76% Cukup 60%-75% Kurang baik <60% Ordinal   BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian Tempat dan Waktu Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bidan / Desa .................................... Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada ............................... 2015 Rancangan Penelitian Jenis / Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan survey deskriptif yang bertujuan membuat gambaran tentang suatu keadaan yang terjadi secara objektif (Notoatmodjo, 2010). Sedangkan metode pendekatan yang digunakan adalah dengan pendekatan survey yaitu metode pengumpulan data dimana sebuah instrument digunakan untuk meminta tanggapan dari sampel responden Populasi , Sampel, dan Teknik sampling Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah 178 Wanita Usia Subur. Sampel Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Menurut rumus slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Pengambilan sampel dengan rumus : n=N/(1+N∝^2 ) Keterangan : n : Sampel minimal N : Populasi α² : Taraf Signifikansi Sampel minimal dalam penelitian ini adalah : n = 178/(1+178 (〖0,1〗^2)) = 178/(1+178 (0,01)) = 178/2,78 = 64,02 = 64 responden Dari perhitungan di atas didapat jumlah sampel minimal 64 Wanita Usia Subur. Dengan menggunakan rumus diatas maka dari jumlah populasi 178 dapat diambil sampel sebanyak 64 Wanita Usia Subur di Desa ......................................... Kriteria Inklusi dan Eksklusi : Kriteria inklusi Merupakan karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah: Semua Wanita Usia Subur di Desa ....................... Wanita Usia Subur yang sehat Wanita Usia Subur yang bersedia menjadi responden Kriteria eksklusi Merupakan menghilangkan / mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab yang menjadi kriteria eksklusi dalam penelitan ini adalah : Wanita Usia Subur yang menolak sebagai responden.. Tekhnik Sampling Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Simple Random Sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara acak sederhana (Notoatmodjo, 2010). Pengambilan sampel secara random sederhana dilakukan dengan pengundian dengan mengundi nama-nama dari seluruh populasi. Cara ini diawali dengan membuat daftar nama dari seluruh populasi, dari nama-nama tersebut kemudian diundi untuk diambil sampel sebanyak yang diperlukan. Pengundiaan ini dilakukan dengan menuliskan nama-nama subjek satu persatu, kertas gulung yang ditempatkan dalam sebuah kotak dan gulungan nama tadi diambil satu persatu tanpa memilih (Alimul, 2007). Cara pengumpulan data Data Primer Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung dari responden. Data primer dalam penelitian ini dengan cara memberikan kuesioner kepada responden, dimana responden tinggal memberikan jawaban dengan mengisi tanda chek (√). Data primer dalam penelitian ini yaitu pengetahuan Wanita Usia Subur tentang bahaya 4T pada kehamilan. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari berbagai catatan atau informasi yang telah ada. Data sekunder dapat berasal dari catatan medis, buku regristasi dan informasi lain yang relevan. Dalam hal ini peneliti juga menggunakan data sekunder yaitu pengambilan data populasi yang diperoleh dari Puskesmas Desa ............................................ Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan tahap-tahap sebagai berikut: Sebelum melakukan penelitian, peneliti meminta surat pengantar untuk pengambilan data yang diperoleh dari institusi, dan yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Surat pengantar tersebut ditujukan kepada Kantor Kepala Desa ...................... Kemudian dari Kantor Kepala Desa ............................... memberikan surat rekomendasi kepada peneliti untuk melakukan penelitian dan pengembilan sampel serta penyebaran kuesioner. Peneliti dalam melakukan penelitin dibantu oleh 2 Anumerator yaitu mahasiswa tingkat III Akademi Kebidanan ..................... Peneliti melakukan pendekatan pada responden untuk menjelaskan maksud, tujuan dan manfaat penelitian serta membuat kesepakatan bahwa responden bersedia dan menandatangani surat ketersediaan menjadi responden. Setelah responden bersedia dan menandatangani surat ketersediaan menjadi responden peneliti membagikan kuesioner. Setelah responden selesai mengisi kuesioner peneliti memeriksa kelengkapan jawaban kuesioner. Kemudian peneliti melakukan pengolahan data setelah jawaban kuesioner lengkap. Instrumen Penelitian Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang pengetahuan Wanita Usia Subur tentang bahaya 4T pada kehamilan di Desa ........................... Metode kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala Guttman. Kuesioner yang digunakan adalah pertanyaan terhadap alternative jawaban benar/salah. Untuk pertanyaan favourable (positif) score benar adalah 1 dan score salah 0 sedangkan untuk pertanyaan unfavourable (negatif) score benar 0 dan salah 1 total score merupakan tingkat pengetahuan responden jumlah soal 20. Untuk mendapatkan instrumen yang valid maka perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Kuesioner ini untuk mengukur tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur di Desa ................. tentang bahaya 4T pada kehamilan. Kuesioner ini berjumlah 20 item pertanyaan, masing-masing pertanyaan diberi pilihan benar atau salah. Kuesioner ini disusun oleh peneliti dan belum pernah digunakan pada penelitian sebelumnya. Untuk mengetahui valid atau tidak maka perlu dilakukan uji validitas kepada wanita usia subur yang mempunyai karakteristik sama dengan responden yang akan diteliti. Pengetahuan tentang bahaya 4T pada kehamilan yang diukur dengan kuesioner. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Uji Validitas Untuk mengetahui apakah kuesioner yang peneliti susun tersebut valid atau tidak valid, maka peneliti menguji kuesioner dengan uji korelasi antara skor tiap item (pernyataan) dengan skor total kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2010). Dalam perhitungan Uji validitas penelitian ini menggunakan program SPSS versi 16, dengan perhitungan korelasi antara masing-masing pernyataan dengan menggunakan korelasi “product moment” sebagai berikut: Keterangan : N : Jumlah responden R : Koefisisen X : Pertanyaan no X Y : Skor total XY : Skor pertanyaan No. X kali skor total Hasil perhitungan tiap-tiap item perhitungan dibandingkan dengan tabel nilai product moment untuk menilai pertanyaan kuesioner valid atau tidak tergantung dari taraf signifikasi ( r tabel). Bila r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel) maka dikatakan butir soal itu valid. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel (r hitung < r tabel) maka dikatakan pernyataan tersebut tidak valid. Uji validitas yang dilakukan pada 20 orang Wanita Usia Subur di Desa .................... diperoleh hasil 20 item pertanyaan tentang pengetahuan bahaya 4T pada kehamilan memenuhi kriteria valid dengan rentang nilai 0,485 – 0,725 (r hitung) > 0,444 (r tabel). Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2015 : TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG SEKS PRANIKAH DI SMK VISI MEDIA INDONESIA UNGARAN

MURAH 20 rb KTI LENGKAP BAB 12345 + Daftar Pustaka + kuesioner Hub Segera : 081225300100 pin : 527B6FC1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masa remaja merupakan suatu fase pertumbuhan dan perkembangan antara masa anak dan masa dewasa. Dalam periode ini terjadi perubahan yang sangat pesat dalam dimensi fisik, mental dan sosial. Masa ini juga merupakan periode pencarian identitas diri, sehingga remaja sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Umumnya proses pematangan fisik lebih cepat dari pematangan psikososial karena itu seringkali terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan remaja sangat sensitif dan rawan terhadap stres. Perkembangan fisik dan kematangan seksualnya mengalami perubahan yang sangat pesat, keadaan ini merupakan salah satu penyebab atau alasan bagi remaja untuk mencoba bereksperimen dengan aktivitas seksual yang tidak aman.(1) Masalah seksualitas selalu menjadi topik menarik dikalangan remaja, hal ini terkait adanya perubahan yang besifat revolusioner (perubahan / atau putaran) melihat perilaku seksual yang dialami oleh remaja masa kini. Hasil polling media masa menunjukkan adanya kecenderungan sifat permisif (memperbolehkan) remaja terhadap perilaku seksual bebas atau perilaku seksual diluar nikah. Menurut dr. Boyke kehidupan seks bebas dikalangan remaja, itu semata-mata karena faktor ketagihan, terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan seks sudah biasa. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi yang sehat.(2) Kesehatan reproduksi bagi remaja sangat penting, oleh karena itu para remaja perlu ditingkatkan pengetahuannya agar nantinya dapat mewujudkan suatu keluarga yang berkualitas. Kesehatan reproduksi remaja merupakan kondisi kesehatan pada remaja khususnya yang menyangkut masalah reproduksi manusia dan kesiapannya sudah dimulai sejak masa remaja dengan ditandai datangnya haid pertama pada remaja perempuan dan mimpi basah pada laki-laki.(3) Hambatan utama yang dialami remaja untuk memperoleh informasi kesehatan reproduksi dan seksual secara benar dan bertanggung jawab yaitu dikalangan sekolah dan masyarakat, faktor sosial budaya dan agama masih menempatkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual sebagai hal yang ditabukan. Faktor penyebab lain yang membuka peluang bagi remaja untuk terjebak pada tindakan yang merugikan kesehatan reproduksi adalah tekanan ekonomi, hukum dan kebijakan yang tidak memihak pada remaja. Dengan demikian maka remaja perlu diberikan pendidikan seks sejak dini, agar mereka mendapatkan informasi yang benar.(4) Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontoversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah. Dampak yang bisa terjadi antara lain memilih tontonan TV yang mengandung unsur pornografi yang digambarkan dalam film maupun video.(5) Survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah pada tahun 2012 yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman dan perilaku seks kalangan pelajar di Semarang dengan melibatkan 1.355 responden yang terdiri dari siswa siswi SMA dan SMK di Semarang, menunjukkan hasil sekitar 29% siswa SMA dan SMK setuju hubungan seks pranikah. Dari survei itu juga terungkap bahwa gaya berpacaran 170 (12,54%) siswa kurang baik. Di dalam menjalani hubungan, ada tindakan melecehkan pasangan, kekerasan fisik atau psikis, serta tidak menghormati pasangan.(6) Survei tersebut yang dilakukan terhadap remaja berusia 18-24 tahun juga mengungkap bahwa 1.624 (75,2%) remaja dari 2.159 responden memiliki perilaku seks berisiko, pacaran yang mereka lakukan disertai ciuman, petting (menyentuh dan memijit daerah rangsangan seksual), bahkan sudah melakukan hubungan seks di luar nikah. Sisanya, menggambarkan hubungan pacaran yang tidak berisiko.(6) Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan tahun 2009 oleh Irmawanti Cahya Dewi (7) dengan judul Studi Deskriptif Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Tentang Hubungan Seksual Pranikah pada Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Ngawen Blora di peroleh hasil 2% siswa sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah dan 83% siswa mempunyai tingkat pengetahuan baik tentang seks pranikah.(7) Bardasakan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di SMK Visi Media Indonesia Ungaran Desember 2013, dari 15 siswa yang peneliti wawancarai tentang tingkat pengetahuan remaja tentang seks pranikah hanya 5 orang dari mereka yang mengetahui tentang seks pranikah secara umum yaitu seks pranikah tidak diperbolehkan dan mereka mengetahui dampak dari perilaku seks pranikah. Informasi tentang seks pranikah yang didapat dari siswa hanya dari internet, mengingat letak SMK Visi Media Indonesia Ungaran yang strategis yaitu dikota Ungaran, sehingga para remaja mudah menyerap dan menerima budaya-budaya baru yang menjadi trend dikalangan anak remaja yaitu budaya pacaran dan melakukan hubungan seksual pranikah. Disamping itu, didalam kurikulum pelajaran kejuruan di SMK Visi Media Indonesia tidak memuat /membahas tentang pendidikan seks. SMK Visi Media Indonesia Ungaran baru berdiri selama 3 tahun dan menurut pernyataan kepala sekolah, SMK Visi Media Indonesia sebelumnya belum pernah diadakan penelitian kesehatan reproduksi tentang seks pranikah. Untuk itu peneliti tertarik mengadakan penelitian mengenai “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Siswa Kelas X dan XI Tentang Seks Pranikah di SMK ” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : “Adakah Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Siswa Kelas X dan XI Tentang Seks Pranikah di SMK ?” C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa Kelas X Dan XI Tentang Seks Pranikah di SMK Visi Media Indonesia Ungaran” 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik responden yang meliputi umur, jenis kelamin di kelas X dan XI SMK Visi Media Indonesia Ungaran b. Mengetahui tingkat pengetahuan siswa kelas X dan XI tentang seks pranikah sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi di SMK c. Mengetahui tingkat pengetahuan siswa kelas X dan XI tentang seks pranikah sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi di SMK Visi Media Indonesia Ungaran d. Mengetahui sikap siswa kelas X dan XI tentang seks pranikah sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi di SMK e. Mengetahui sikap siswa kelas X dan XI tentang seks pranikah sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi di SMK f. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi tentang seks pranikah terhadap perubahan pengetahuan siswa kelas X dan XI SMK g. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi tentang seks pranikah terhadap perubahan sikap siswa kelas X dan XI SMK D. Manfaat 1. Bagi Peneliti Mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja tentang seks pranikah dan dapat dijadikan dasar untuk melakukan rencana tindak lanjut dari hasil penelitian berupa memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada remaja 2. Bagi Institusi Kesehatan Mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja tentang seks pranikah dan dapat dijadikan dasar untuk melakukan rencana tindak lanjut dari hasil penelitian berupa memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada remaja, ke sekolah-sekolah (SMP, SMA) dan dapat dijadikan sebagai program rutin yang dilakukan oleh institusi kesehatan. 3. Bagi Remaja dan Masyarakat Remaja dapat menambahkan pengetahuannya tentang pendidikan kesehatan reproduksi seks pranikah serta mengerti dan memahami akan resiko dari penyimpangan seks pranikah. E. Keaslian Penelitian Penelitian ini adalah benar-benar penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan metode kuantitatif. Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian sejenis yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : No. Judul NamaPeneliti Metode yang digunakan Tujuan Hasil 1 2 3 4 6 1. Tingkat PengetahuanRemaja Tentang Seks Pranikah di SMA Nadlatul Ulama I Kendal Akhadiyah Nuyani (2009) Deskriptif Untuk mengetahui bagaimana cara siswa kelas X memperoleh informasi mengenai seks pranikah dan tingkat pengetahuan siswa kelas X mengenai seks pranikah di SMA Nadlatul Ulama I Kendal Tingkat pengetahuanremaja tentang seks pranikah berdasarkan tingkat umur adalah siswa yang sudah berumur 16 tahun yaitu 82,1% dan berdasarkan jenis kelamin yang tingkat pengetahuannya lebih tinggi adalah siswa perempuan. 2. Studi Deskriptif Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Tentang Hubungan Seksual Pranikah Pada Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Ngawen Blora Irmawanti Cahya Dewi (2009) Deskriptif Mendiskripsikan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja tentang hubungan seksual pranikah pada siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Ngawen Blora Dari 150 responden terdapat 128 orang (85,3%) yang mempunya tingkat pengetahuanbaik tentang hubungan seksual pranikah. Perbedaan penelitian yang lalu dengan yang dilakukan peneliti saat ini adalah peneliti menggunakan metode kuantitatif. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian one group pretest-posttest design, dimana dalam design penelitian ini responden sebelumnya diberikan pretest kemudian diberi perlakuan berupa pendidikan kesehatan dan setelah adanya perlakuan responden diberikan posttest. Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2015 BARU : PERSEPSI TENAGA KESEHATAN TERHADAP PELAYANAN PENDERITA HIV/AIDS DI PUSKESMAS

KTI LENGKAP BAB 12345 + Daftar Pustaka Murah Rp. 20.000 cocok untuk referensi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Prinsip pembangunan nasional Indonesia adalah peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan. Prinsip ini berarti membangun fisik dan psikis manusia serta sumber daya yang terkandung didalamnya. Jika setiap manusia secara individual memiliki kesempurnaan sebagai hasil pembangunan, maka masyarakat yang merupakan kumpulan manusia-manusia dengan sendirinya juga akan memiliki kesempurnaan (DKK Kota Salatiga, 2013). Prinsip pembangunan tersebut juga berarti upaya mencegah dan menanggulangi manusia dari berbagai faktor kendala yang menyebabkan ketidaktahuan manusia, baik fisik maupun psikis (DKK Kota Salatiga, 2013). Faktor kendala yang cukup potensial adalah penyalahgunaan narkotika dan psikotropika serta penularan HIV (Human Imunodefiency Virus)/AIDS (Acquired Imunodeficency Syndrome) (Sekretariat Penerangan Narkotika Direktorat Jenderal Penerangan Umum Departemen Penerangan RI, 2002). Sejak ditemukannya infeksi HIV pada tahun 1982, penelitian semakin banyak dilakukan dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan dunia. Data epidemi AIDS di Indonesia menunjukkan kecenderungan persebaran dan jumlah kasus AIDS yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Secara kumulatif jumlah penderita HIV/AIDS dari 1 januari 1987 sampai dengan 30 juni 2013 terdapat 108.600 kasus HIV dan 43.667 kasus AIDS. Provinsi Jawa Tengah sampai dengan juni 2013 terdapat 5.406 kasus HIV dan 2.990 kasus AIDS (Ditjen PP & PL Kemens RI, 2013). Sedangkan di Kota Salatiga sampai dengan bulan Maret 2013 tercatat sebanyak 153 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dengan rincian 64 orang penderita HIV dan 89 orang penderita AIDS (DKK Kota Salatiga, 2013) . Terdapat sekitar empat jenis HIV dengan bentuk infeksi terakhir disebut AIDS yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan, kemunduran kemampuan intelektual dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, protozoa, jamur, serta terjadi degenerasi ganas (Manuaba dkk, 2009). Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan penyakit parah bahkan kematian. Secara kumulatif dari tahun 2008 sampai dengan Maret 2013 di Kota Salatiga sebanyak 48 kasus HIV dan AIDS meninggal dunia (DKK Kota Salatiga, 2013). Hampir setengah dari penyebaran virus HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual. Berdasarkan faktor resiko tercatat sebanyak 78 kasus HIV/AIDS disebabkan perilaku heteroseksual dan sebanyak 10 kasus disebabkan perilaku homoseksual. Disamping itu resiko penularan memalui jarum suntik yang terjadi oleh pengguna narkoba, terdapat 60 kasus dari jumlah total kasus penderita yang ada (DKK Kota Salatiga, 2013). Upaya menghambat laju penyebaran dan peningkatan ODHA, berbagai usaha perlu ditempuh. Walaupun telah dimulai ditemukan obat yang dapat mengatasi penyakit ini, tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Belum pula didapati vaksin yang efektif sehingga untuk sementara upaya pencegahan menjadi tumpuan (Hanafiah & Amir, 2009). Upaya mempercepat penanggulangan AIDS yang selama ini dilakukan baik oleh pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) masih berputar pada persoalan pencegahan dan penanggulangan secara medis terhadap kasus-kasus HIV dan AIDS yang terjadi. Yang ada dan muncul dalam setiap penggalian masalah HIV dan AIDS tidak lepas dari persoalan medis kurang menyentuh faktor-faktor sosial kemasyarakatan yang ada sehingga berakibat pada kurang terlibatnya masyarakat secara sistemik dan terencana. Maka sangatlah wajar jika kemudian stigma yang muncul di masyarakat sangat menghambat upaya mencegah dan menanggulangi masalah HIV dan AIDS di Indonesia (KPA Nasional, 2008). Menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia No 36 tahun 2009 Bab 2 Pasal 3 disebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan dan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Untuk mewujudkan derajat kesehatan setinggi-tingginya pada setiap orang sesuai dengan UU No 36 tahun 2009 muncullah gagasan Komitmen Sentani untuk pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) (KPA Nasional, 2008). Sejauh ini kenyataannya stigma dan diskriminasi masih dijumpai terutama dari kalangan medis sendiri. Hal ini yang kemudian memberatkan posisi ODHA di masyarakat. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih tetap merupakan tantangan yang bila tidak teratasi, potensial untuk menjadi penghambat upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Pencegahan dan penghapusan diskriminasi yang dialami ODHA baik pada unit pelayanan kesehatan, tempat kerja, di tempat pelayanan publik seperti hotel, lingkungan keluarga maupun di masyarakat umum haruslah tetap menjadi prioritas dan menjadi bagian intregral dari upaya penanggulangan HIV dan AIDS (KPA Nasional, 2008). Keterlibatan berbagai pihak diharapkan untuk mengatasi masalah sosial ini. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan konseling dan pendampingan (tidak hanya psikoterapi tetapi juga psikoreligi), edukasi yang benar tentang HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan masyarakat. Adanya dukungan dari berbagai pihak dapat menghilangkan berbagai stresor dan dapat membantu penderita meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat terhindar dari stress, depresi, kecemasan serta perasaan dikucilkan (Susiloningsih, 2008). Peran tenaga kesehatan dalam mengurangi beban psikis penderita AIDS sangatlah besar. Pendampingan dan mempertahankan hubungan dengan pasien sehinggan pasien tidak merasa sendiri dan ditelantarkan. Menunjukkan rasa menghargai dan menerima. Tenaga kesehatan juga dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan memberi rujukan untuk konseling psikiatri. Konseling yang dapat diberikan adalah konseling pra-nikah, konseling pre dan pascates HIV, konseling KB dan perubahan prilaku. Konseling sebelum tes HIV penting untuk mengurangi beban psikis (Susiloningsih, 2008). Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga merupakan satu-satunya pusat pelayanan kesehatan tingkat dasar di Kota Salatiga yang melayani pelayanan kesehatan terhadap HIV/AIDS. Pelayanan kesehatan meliputi tes dan konseling HIV terintregasi atau Provider Initiated HIV Testing and Counseling (PITC). Dari total 153 kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Salatiga sebanyak rata-rata 10 orang (6,5 %) per bulan penderita yang aktif melakukan kunjungan pemeriksaan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada seorang informan pada tanggal 25 Juli 2013 di Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga mengatakan bahwa apabila ada pasien ingin melakukan pemeriksaan tes dan PITC dengan keluhan yang menjurus ke HIV/AIDS walaupun secara pemeriksaan belum dinyatakan positif HIV/AIDS mereka dalam hal ini tenaga kesehatan terlihat merasa khawatir dan takut melakukan kontak langsung dalam waktu lama karena takut tertular, mereka dengan cepat-cepat melayani untuk menyudahi kontak. Berdasarkan fenomena tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “PERSEPSI TENAGA KESEHATAN TERHADAP PELAYANAN PENDERITA HIV/AIDS DI PUSKESMAS”. B. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada penggalian persepsi tenaga kesehatan tentang pengertian HIV/AIDS, gejala mayor dan minor HIV/AIDS, cara penularan HIV/AIDS, dan cara melindungi diri saat melakukan kontak langsung dengan ODHA. C. Perumusan Masalah “Bagaimana Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Pelayanan Penderita HIV/AIDS di Puskesmas Sidorejo Lor Kota Salatiga?” D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Pelayanan Penderita HIV/AIDS di Puskesmas Sidorejo Lor Kota Salatiga. 2. Tujuan Khusus a. Mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan tentang pengertian HIV/AIDS. b. Mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan tentang gejala mayor dan minor HIV/AIDS. c. Mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan tentang cara penularan HIV/AIDS d. Mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan tentang cara melindungi diri pada saat melakukan kontak dengan ODHA. E. Manfaat Penelitian 1. Lembaga Pendidikan Sumber informasi aplikatif yang dapat dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan dan dipergunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut. 2. Manfaat Praktis a. Bagi tenaga kesehatan Memberikan sumber informasi tentang persepsi tenaga kesehatan terhadap apa yang dilakukan pada saat melakukan kontak dengan ODHA dalam pelayanan kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan dalm memberikan pelayanan kesehatan terhadap ODHA. b. Bagi Peneliti Menambah keilmuan, pengetahuan dan pengalaman penelitian tentang cara, kegiatan dalam melakukan penelitian serta mengaplikasikan berbagai konsep dan teori. F. Originalitas Penelitian Penelitian sejenis yang mendukung penelitian ini yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : Tabel 1.1 Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitia Sekarang Nama Peneliti /Tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian Perbedaan 1. Suhesti, Windi Tahun 2012 Persepsi terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan bagi Pengidap HIV dan AIDS di RSU Tangerang. Walaupun secara umum pelayanan kesehatan di RSUD Tangerang telah berjalan baik namun beberapa hal terkait pelayanan masih perlu diperbaiki. Informasi yang tepat dan benar menjadi kunci dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Bahwa perlindungan terhadap resiko pekerjaan kepada petugas belum mendapat perhatian sehingga wajib menjadi prioritas. a. Variabel penelitian : Penelitian terdahulu menggunakan variable Persepsi terhadap kualitas pelayanan kesehatan bagi pengidap HIV/AIDS. Sedangkan variabel penelitian sekarang adalah persepsi tenaga kesehatan terhadap pelayanan penderita HIV/AIDS b. Rancangan Penelitian : penelitian terdahulu menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei dengan melakukan penggalian informasi dan mendiskripsikan semua data yang ditemukan di wilayah penelitian. Sedangkan peneitian sekarang menggunakan metode menggunakan deskriptif kualitatif. c. Populasi dan Sampel : penelitian terdahulu populasi seluruh petugas kesehatan yang mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus menangani pasien dengan HIV dan AIDS, pasien HIV dan AIDS dewasa yang menggunakan fasilitas layanan di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang sejumlah 788 pasien dengan sampel sejumlah 200 orang yang diambil menggunakan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Sedangkan populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan yang memberikan yang memberikan pelayanan terhadap pasien di Puskesmas Sidorejo Lor Kota Salatiga 24 orang dengan teknik sampling purposive sampling. d. Instrument penelitian : penelitan terdahulu menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam sebagai instrument penelitian, sedangkan penelitian sekarang menggunakan instrumen peneliti sendiri dengan wawancara. 2. Rostini, Tahun 2010 Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Sikap Petugas Puskesmas Terhadap ODHA Dalam Pelayanan Kesehatan HIV-AIDS Di Kota Bandung Hasil penelitian didapatkan hasil 59,6 % petugas puskesmas bersikap positif terhadap ODHA. Faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap ODHA adalah pengalaman menolong ODHA dengan nilia p = 0.016 a. Variable penelitian : faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap ODHA dalam pelayanan kesehatn HIV/AIDS b. Rancangan penelitian : jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan melakukan penggalian informasi dan mendiskripsikan semua data yang ditemukan di wilayah penelitian. c. Popuasi dan sampel : Pada pendekatan kuantitatif : populasi yang merupakan menjasi sampel adalah semua petugas kesehatan 4 puskesmas di Kota Bandung merupakan tim pelayanan kesehatan HIV/AIDS sebanyak 55 orang. Metode sampling yang digunakan adalah total sampling. Analisis data univariat mendeskripsika masing-masing variable penelitian, analisis bivariat menggunakan uji chi square dan analisis multivariate menggunakan regresi logistik ganda. Pada pendekatan kualitatif : sampel penelitian adalah petugas puskesmas dalam pelayanan kesehatan HIV/AIDS sebanyak 7 orang. Teknik pengambilan sampel dengan pusposive sampling didasarkan prinsip kesesuaian dan kecukupan. Selengkapnya...

Sabtu, 07 September 2013

KTI/SKRIPSI KEBIDANAN 2013: FAKTOR - FAKTOR KEIKUTSERTAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA PADA IBU PESERTA JAMKESMAS PELAYANAN PERTOLONGAN PERSALINAN DI RS

MURAH FILE WORD SEGERA HUB: 081225300100 LENGKAP BAB 12345+DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Masalah kependudukan di Indonesia dewasa ini merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius dari kita, masyarakat dan pemerintah. Menurut laporan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia melebihi angka proyeksi nasional sebesar 236,7 juta dengan tingkat laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,49 persen. Indonesia merupakan Negara berpenduduk tinggi ke 4 di dunia dan diprediksi akan terus meningkat pada tahun 2060 menjadi 475 sampai 500 juta atau meningkat dua kali lipat dari kondisi penduduk yang ada pada saat ini bila tidak berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk, masalah kepedudukan akan berdampak pula pada masalah kesehatan di masyarakat(1). Pembangunan kesehatan saat ini telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Pada periode 2004 sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka kematian Bayi (AKB) dari 35 per 1000 kelahiran hidup menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup. Kesepakatan global Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11%(2). Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan faktor risiko tidak langsung berupa keterlambatan (Tiga Terlambat), yaitu terlambat mengambil keputusan dan mengenali tanda bahaya, terlambat dirujuk, dan terlambat mendapat penanganan medis. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintil 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Keadaan seperti ini banyak terjadi disebabkan kendala biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal) yang telah terintegrasi dengan pelayanan keluarga berencana. Dengan adanya kebijakan yang terintegrasi tersebut, pelayanan KB lebih di arahkan kepada Kontrasepsi Jangka Panjang ( MKJP ) IUD, AKBK, MOP, dan MOW. Dimana Kebijakan Jampersal tersebut diambil atas dasar tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya yaitu AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global ( Millenium Development Globals/ MDGs 2000 ) angka kematian ibu diharapkan menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.00 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 menjadi 23 per 1000 KH(3). Program jampersal merupakan upaya menjamin dan melindungi proses kehamilan, persalinan, pascapersalinan, pelayanan keluarga berencana (KB), hingga pelayanan bayi baru lahir. Jampersal ini merupakan perluasan kepesertaan jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin. Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian, kehadiran Jampersal diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs, khususnya MDGs 4 ( Mengurangi angka kematian anak ) dan 5 (Meningkatkan kesehatan ibu) (2). Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang- Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan, ditetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pemerintah membuat kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan masyarakat miskin dengan program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) program ini bertujuan untuk memberi akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sangat miskin, miskin dan mendekati miskin berjumlah 76,4 juta jiwa(4). Cakupan peserta program Jamkesmas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 92,27%, yang berarti masih terdapat masyarakat miskin dan tidak mampu yang tidak tercakup Jamkesmas sebesar 7,73%. Cakupan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2009 (90,55%). Meskipun demikian angka tersebut masih belum mencapai target SPM (Standar Pelayanan Minimal) sebesar 100% (5). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan jumlah peserta Jamkesmas yang ada 542,210 yang dicakup Jamkesmas hanya 85,68%. Khususnya untuk data Jamkesmas dengan Pertolongan Persalinan Normal sebanyak 5733 ibu bersalin, sedangkan untuk persalinan tak maju sebanyak 139 ibu bersalin, Menurut data dari RS. PKU Muhammadiyah Gubug untuk jumlah total peserta jamkesmas dari tahun ke tahun semakin menurun karena sulitnya persyaratan yang harus dipenuhi. Khususnya pada pasien Jamkesmas pertolongan persalinan pada tahun 2010 prosentase yang didapat 57,92 % dan pada tahun 2011 didapat prosentase yang menurun yaitu 44,07%(6). Menurut data dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah untuk Cakupan peserta KB aktif provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 75,57%, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 (78,37%). Angka ini sudah mencapai target tahun 2010 (70%). Cakupan tertinggi di Kabupaten Boyolali (83,26%) dan terendah di kota Salatiga (71,74%). Jumlah Peserta KB aktif di Kabupaten Grobogan pada tahun 2010 untuk KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang meliputi IUD 4,58%, MOP/MOW 5,13% dan implant 6,35% , untuk KB non MKJP meliputi Suntik 65,69% ,Pil 17,39% , dan Kondom 0,84%(5). Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003), Faktor- faktor yang melatarbelakangi perilaku kesehatan dibagi menjadi 3, yaitu predisposising factors, enabling factors, dan reinforching factors : a. Faktor predisposisi : pengetahuan , pendidikan, ekonomi, umur, paritas, kepercayaan , nilai dan sikap b. Faktor pendukung / pemungkin Informasi media masa dan jarak ketempat pelayanan c. Faktor penguat Dukungan suami dan keluarga(7). Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan peneliti untuk mengetahui keikutsertaan KB pada ibu peserta Jamkesmas untuk pertolongan persalinan dilakukan wawancara kepada 5 orang ibu post partum peserta Jamkesmas didapatkan informasi bahwa ada 3 ibu tidak merencanakan KB pasca persalinan, 2 diantaranya dikarenakan untuk biaya yang harus dikeluarkan mahal dan ibu tidak mendapatkan informasi tentang pelayanan KB yang juga termasuk program yang digratiskan. Satu ibu menyatakan tidak berencana untuk melakukan KB pasca persalinan dikarenakan ibu tidak diperbolehkan KB oleh suaminya karena ibu baru mempunyai anak satu dan alasan yang diungkapkan ibu merasa takut untuk pemasangan KB. Sedangkan 2 ibu yang merencanakan untuk melakukan KB pasca persalinan, diantarannya 1 ibu menginginkan KB pasca persalinan secara gratis dengan memanfaatkan fasilitas oleh BKKBN kepada peserta Jamkesmas yang dilayani di Puskesmas ataupun di PKD. Satu ibu diantarannya berencana untuk melakukan KB pasca persalinan di Bidan Praktek Swasta dengan biaya sendiri. Sedangkan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug menyatakan tentang program KB pasca persalinan yang dilayani lebih difokuskan untuk KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang sifatnya mengakhiri yaitu MOW atau yang sering disebut sterilisasi dengan syarat ketentuan MOW dengan persalinan seperti halnya ibu multigravida yang telah dilakukan sectio caesaria kemudian menginginkan untuk MOW. Untuk jenis KB MKJP maupun non MKJP lainnya keikutsertaannya sangat sedikit sekali karena mereka lebih menginginkan untuk melaksanakan di pelayanan kesehatan lain seperti di Puskesmas, PKD, BPS maupun Dokter praktek. Sejak adannya fasilitas yang disediakan pemerintah untuk pertolongan persalinan secara gratis pada peserta Jamkesmas mengakibatkan peningkatan pasien bersalin, namun di RS. PKU Muhammadiyah pelayanan untuk KB hanya difokuskan untuk KB yang bersifat mengakhiri yaitu MOW sehingga kurang memperhatikan untuk jenis pelayanan KB lainnya. Kendala yang terjadi yaitu sulit memonitoring keikutsertaan KB yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam kesediaan untuk melakukan KB. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti Faktor- faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug. B. Perumusan Masalah Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu di Indonesia masih cukup tinggi, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2009 menjadi 102 per 1000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per KH. Angka kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 berdasarkan laporan dari Kabupaten/kota sebesar 104,97/100.000 kelahiran hidup. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB di Indonesia diharapkan dilakukan secara komprehensif, dimana tidak hanya melakukan tindakan persalinan gratis tapi juga bagaimana upaya untuk menekan AKI dengan membatasi persalinan dengan mengikuti KB. Secara umum jumlah pasien yang mendapatkan pertolongan persalinan dengan memanfaatkan program Jamkesmas mengalami peningkatan, sedangkan di RS. PKU Muhammadiyah untuk pelayanan KB lebih difokuskan untuk KB yang sifatnya mengakhiri yaitu MOW, sedangkan untuk macam-macam KB yang lain bisa dilaksanakan di puskesmas maupun di Bidan Praktek Swasta. Dalam pelayanan persalinan yang diberikan secara gratis yang seharusnya dilakukan secara komprehensif, namun untuk pelaksanaannya menurut survey yang dilakukan belum sesuai dengan program yang di tentukan, karena dalam pelaksanaan pelayanan program KB yang juga bertujuan untuk menekan AKI dan AKB dalam membatasi jumlah persalinan dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu kurangnya informasi yang mereka dapat mengenai ketersediaan fasilitas pelayanan KB dari petugas kesehatan yang mempengaruhi keikutsertaan program KB pada ibu peserta Jamkesmas di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. Untuk itu penulis merumuskan masalah penelitian Apakah “Faktor -faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug?”. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor keikutsertaan program pelayanan Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui karateristik ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug berdasarkan umur, paritas, tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. b. Untuk mengetahui keikutsertaan program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. c. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan tingkat pengetahuan program KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. d. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan sikap terhadap KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. e. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan dukungan suami terhadap KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. f. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan keterjangkauan pelayanan kesehatan pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. D. Manfaat 1. Bagi Pemerintah Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengambil kebijakan pemerintah yang khususnya dalam lingkup kesehatan. 2. Bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk BKKBN dalam meningkatkan pelayanan program KB pada peserta Jamkesmas. 3. Bagi Institusi Pendidikan AKademi Kebidanan Karsa Mulia Semarang Menambah kepustakaan sehingga dapat bermanfaat bagi mahasiswa. 4. Bagi RSU. PKU Muhammadiyah Gubug Penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang khususnya mengenai pelaksanaan Program KB. 5. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan) Penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan kepada tenaga kesehatan untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat mengenai program KB pada peserta Jamkesmas 6. Bagi Masyarakat Dapat dijadikan Informasi bagi pasangan usia subur (PUS) mengenai Program Jaminan Kesehatan Masyarakat pelayanan pertolongan persalinan yang juga memberikan pelayanan gratis mengenai KB. 7. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung dalam melakukan Penelitian iImiah tentang “Faktor–faktor Keikutsertaan program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas untuk pertolongan persalinan“, serta menambah wawasan baru bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat peneliti dibangku kuliah sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya. E. Keaslian Penelitian Sejauh pengetahuan peneliti hingga saat ini belum ada penelitian mengenai Faktor–faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug, hanya terdapat beberapa penelitian yang menjadi acuan peneliti yaitu : Tabel. 1.1. keaslian Penelitian Nama Peneliti Judul Populasi Sampel Hasil Laksmi Indira Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan pada keluarga miskin Semua Ibu dalam keluarga miskin 78 Responden Hasil penelitian menunjukkan faktor- faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dengan pemilihan jenis kontrasepsi yang dugunakan pada keluarga miskin adalah keikutsertaan Jamkesmas (p = 0,22) dan dukungan pasangan (p=0,032). Faktor – faktor yang tidak memiliki hubungan yang signifikan adalah : umur istri (p= 0,109), jumlah anak (p= 0,251), tingkat pendidikan akseptor KB (p= 0,427), tingkat pengetahuan (p=0,234), pengaruh agama (p=0,411) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Program JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) a. Pengertian Jamkesmas Jamkesmas adalah kebijakan yang sangat efektif untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan yang tersedia. Jamkesmas diharapkan dapat mempercepat pencapaian sasaran pembangunan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan yang optimal (8). Sasaran Jamkesmas adalah seluruh masyarakat miskin, sangat miskin, dan mendekati miskin yang diperkirakan jumlahnya mencapai 76,4 juta (Depkes, 2008). Sumber dana Jamkesmas adalah APBN Depkes. Dengan adanya Jamkesmas, keluarga miskin akan mendapatkan pelayanan KB secara cuma-cuma baik obat maupun alat kontrasepsi. Program ini dimaksudkan agar keluarga miskin tidak kesulitan dalam mengakses program KB, karena bila pertambahan penduduk tidak dapat dikendalikan, maka beban pembangunan akan bertambah. Pelayanan yang diberikan Jamkesmas bersifat komprehensif berjenjang. Komprehensif artinya meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Berjenjang artinya pelayanan diberikan dengan sistem rujukan mulai dari tingkat pelayanan kesehatan yang paling rendah yakni Puskesmas sampai ke pelayanan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit Umum. Pelayanan KB gratis termasuk dalam pelayanan yang diberikan di tingkat Puskesmas kecuali untuk jenis MOW dan MOP yang harus dirujuk ke rumah sakit. b. Tujuan Jamkesmas Tujuan dari Jamkesmas dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Tujuan umum yaitu : a) Terselenggaranya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. b) Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan sehinga tercapai derajat c) kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien bagi seluruh peserta Jamkesmas 2) Tujuan khususnya yaitu : a) Memberikan kemudahan dan askes pelayanan kesehatan kepada peserta di seluruh jaringan PPK Jamkesmas b) Mendorong peningkatan pelayanan kesehatan yang terstandar bagi peserta, tidak berlebihan sehingga terkendali mutu dan biayanya c) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel d) meningkatkan cakupan masyarakat dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit e) serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin(8). c. Kepesertaan Jamkesmas 1) Peserta jaminan kesehatan adalah setiap orang yang membayar iuran atau iuarannya dibayar oleh Pemerintah. 2) Peserta Program Jamkesmas adalah fakir miskin dan orang yang tidak mampu dan peserta lainnya yang iurannya dibayar oleh Pemerintah sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari data makro Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2006. 3) Peserta yang dijamin dalam program Jamkesmas tersebut meliputi : a) Masyarakat miskin dan tidak mampu yang telah ditetapkan oleh Surat Keputusan (SK) Bupati/Walikota Tahun 2008 berdasarkan pada kuota Kabupaten/ Kota (BPS) yang dijadikan database nasional. b) Gelandangan, pengemis, anak dan orang terlantar, masyarakat miskin yang tidak memiliki identitas. c) Semua Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah memiliki atau mempunyai kartu Jamkesmas. d) Masyarakat miskin yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1185/Menkes/SK/XII/2009 tentang Peningkatan Kepesertaan Jamkesmas bagi Panti Sosial, Penghuni Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara serta Korban Bencana. e) Apabila masih terdapat masyarakat miskin dan tidak mampu, tidak termasuk dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota maka Jaminan Kesehatannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Cara penyelenggaraan jaminan kesehatan daerah seyogyanya mengikuti kaidah-kaidah pelaksanaan Jamkesmas(8). d. Verifikasi Kepesertaan PT. Askes (Persero) bertugas melaksanakan verifikasi kepesertaan dengan mencocokkan kartu Jamkesmas dari peserta yang berobat dengan database kepesertaan untuk selanjutnya diterbitkan SKP. Verifikasi kepesertaan dilengkapi dengan dokumen berupa Kartu Keluarga (KK) / Kartu Tanda Penduduk (KTP) / identitas lainnya untuk pembuktian kebenarannya. Bagi gelandangan, pengemis, anak dan orang terlantar yang tidak punya identitas cukup dengan surat keterangan/rekomendasi dari Dinas/Instansi Sosial setempat. Khusus untuk penghuni lapas dan rutan, cukup dengan surat rekomendasi dari Kepala Lapas/Kepala Rutan setempat. Verifikasi kepesertaan oleh Rumah sakit untuk diterbitkan SJP dilakukan terhadap ibu hamil dan melahirkan dengan menunjukkan KTP dan buku KIA(8). e. Prosedur Pelayanan Jamkesmas Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut: 1) Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya. 2) Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat. Penggunaan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya. 3) Apabila peserta JAMKESMAS memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus emergenci. 4) Pelayanan rujukan sebagaimana butir ke-3 (tiga) diatas meliputi : (a) Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di Rumah Sakit, BKMM(Bantuan Khusus Murid Miskin)/BBKPM(Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat)/BP4(Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan)/BKIM(Balai Kesehatan Indera Masyarakat). (b) Pelayanan rawat jalan lanjutan yang dilakukan pada balkesmas bersifat pasif (dalam gedung) sebagai FASKES penerima rujukan. Pelayanan balkesmas yang ditanggung oleh program Jamkesmas adalah Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dalam gedung. (c) Pelayanan Rawat Inap kelas III di Rumah Sakit (d) Pelayanan obat-obatan (e) Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostic 5) Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan kesehatan. 6) Untuk memperoleh pelayanan rawat inap di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan SKP dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan rawat inap. Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2013 : KTI HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR IUD TENTANG EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI IUD DENGAN KELANGSUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IUD DIPUSKESMAS

TERSEDIA LENGKAP BAB 12345+DAFTARPUSTAKA+KUESIONER HARGA MURAH HUB : 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Menurut sensus penduduk tahun 2011, jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta jiwa. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah yaitu jumlah ledakan penduduk yang tinggi. Keadaan penduduk ini telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat(1) Melihat fenomena ini pemerintah dan masyarakat menyadari perlunya dilakukan program kependudukan dan Keluarga Berencana (KB). Untuk melaksanakan kebijakan kependudukan pemerintah telah merencanakan berbagai program dan KB merupakan bagian terpenting(2) Kebijakan penduduk yang diambil pemerintah tidak hanya berhasil menurunkan angka fertilitas menjadi setengah dari keadaan pada waktu program dimulai tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Faktor lain yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah jumlah PUS (pasangan usia subur) yang tinggi. Dalam masyarakat umur perkawinan pertama rendah, wanita cenderung menikah dan mempunyai anak pada umur yang rendah, dan mempunyai fertilitas yang tinggi(2) Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu. Paritas mempunyai kecenderungan kesehatan yaitu ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi. Persalinan yang biasanya paling aman untuk ibu yaitu persalinan yang kedua dan ketiga karena pada persalinan keempat dan kelima secara dramatis akan meningkatkan angka kematian ibu(2) Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan, agar dapat mencapai hal tersebut, maka cara atau alternative untuk mencegah ataupun menunda kehamilan. Cara–cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga(3) Berdasarkan paradigma baru visi program keluarga berencana nasional mewujudkan keluarga yang berkualitas tahun 2015. Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan adalah dengan cara penggunaan alat kontrasepsi. Metode kontrasepsi yang direncanakan efektif terdiri dari IUD, pil, suntik, dan implant. Metode sederhana terdiri dari kondom, spermasid, senggama terputus dan pantang berkala. Kontrasepsi mantap yang terdiri dari kontap wanita dan kontap pria(4) Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang mejadi pilihan dan merupakan salah satu bagian dari program KB nasional saat ini adalah KB IUD. Syarat–syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik adalah aman, dapat diandalkan, dan dapat diterima oleh orang banyak. Akseptor KB IUD juga dapat mengalami efek samping antara lain tidak ada haid (amenorhea), kejang, perdarahan yang berlebihan saat menstruasi (spotting), benang hilang (ekspulsi), perporasi, keluar cairan dari vagina dan keputihan. Untuk itu peserta KB IUD membutuhkan pembinaan secara rutin berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi(5) Mengingat metode KB IUD merupakan salah satu KB yang efektif , terpilih dan banyak pengguna, namun masih banyak didapatkan akseptor IUD yang mengalami efek samping. Efek samping IUD merupakan masalah bagi seorang akseptor yang mengalami karena merupakan beban kejiwaan yang harus ditanggungnya, yang berakhir pada adanya kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan, bahkan ketakutan terhadap efek samping. Masalah kesehatan yang dialami oleh sebagian akseptor IUD yang dikarenakan efek samping dari kontrasepsi tersebut dan kurangnya komunikasi informasi edukasi (KIE) tentang efek samping, maka besar kemungkinan seorang akseptor akan mengalami kejadian drop out atau putus pakai. Sehingga sebaiknya sebelum menggunakan telah tahu dan memahami tentang KB IUD serta efek samping yang ditumbulkannya(2) Pengetahuan adalah berasal dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dengan bertambah banyaknya penyuluhan maka akan bertambah pula pengetahuan tentang kesehatan, maka kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan dapat meningkat. Seseorang yang mempunyai tingkat pengetahuan yang luas khususnya tentang kesehatan maka seseorang itu akan cenderung dan senantiasa meningkatkan kesehatan diri, keluarga serta lingkungannya(9) Data program Keluarga Berencana, peserta aktif di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 5.285.530 atau sebesar (79,32%) dari jumlah PUS yang ada sebanyak 6.663.396. Peserta Keluarga Berencana aktif tersebut mempergunakan KB IUD 439.687 (8,32%)(6). Sedangkan data program Keluarga Berencana, peserta aktif di Kabupaten Demak tahun 2011 sebanyak 194.756 (75,09%) dari jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 259.365, yang menggunakan KB IUD sebanyak 8.191 (4,21%) dan yang mengalami efek samping sebanyak 54 (0,66%) akseptor, meliputi 40 akseptor mengalami gangguan siklus haid, 7 akseptor yang mengalami perdarahan yang berlebihan saat menstruasi, 6 akseptor yang mengalami keputihan, 1 akseptor yang mengalami ekspulsi(7) Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Gajah peserta KB aktif tahun 2012 sebanyak 8.646 jiwa dan yang memilih KB IUD 196 orang (2,2%), yang mengalami efek samping sebanyak 30 akseptor (15,3%), perdarahan yang berlebihan saat menstruasi 10 akseptor, gangguan siklus haid 13 akseptor, dan keputihan 7 akseptor(8) Berdasarkan uraian data diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD” B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang didapatkan keluhan dari 30 akseptor (15,3%) IUD yang mengalami efek samping. Maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu bagaimana hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD di Kecamatan Gajah Kabupaten Demak tahun 2012 2. Tujuan khusus a. Untuk mendiskripsikan karakteristik responden yang meliputi umur, pendidikan dan paritas. b. Untuk mengetahui efek samping akseptor IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak 2012. c. Untuk mendeskripsikan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping di Puskesmas Gajah, Kabupaten Demak tahun 2012. d. Untuk mendeskripsikan kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak tahun 2012 e. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Memberikan pengalaman langsung kepada penulis dalam melaksanakan penelitian serta mengaplikasikan berbagai teori dan konsep yang telah didapat dari bangku kuliah dalam bentuk penelitian 2. Bagi institusi pendidikan Sebagai wahana ilmiah dan bahan referensi untuk penelitian hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD 3. Bagi akseptor IUD Dapat memberikan informasi dan mengajak pada akseptor IUD dalam kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD sehingga akseptor dapat secara mantap menggunakan alat kontrasepsi AKDR seperti IUD ini tanpa perlu merasa takut akan efek samping yang ada. 4. Bagi tenaga kesehatan Bidan agar meningkatkan komunikasi informasi edukasi (KIE) melalui penyuluhan tentang efek samping kontrasepsi IUD dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kontrasepsi IUD.   E. Keaslian Penelitian No. Peneliti Judul Sasaran Metode Variable Hasil penelitian 1 2. Eka Tutik (2010) Agustina Putri Wijayanti (2005) Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang kontrasepsi IUD terhadap pemilihan kontrasepsi IUD di Puskesmas Tambak Aji Kota Semarang Hubungan Tingkat Kecemasan Akseptor AKDR dengan Efek Samping Penggunaan Alat Kontrasepsi AKDR di Desa Sarirejo Kecamatan Ngaringan Kab, Grobogan 52 responden 72 responden Metode penelitian corelatif Metode penelitian corelatif Pengetahuan dan sikap ibu tentang kontrasepsi IUD terhadap pemilihan kontrasepsi IUD Kecemasan Akseptor AKDR dengan Efek Samping Penggunaan Alat Kontrasepsi AKDR Hasil penelitian didapatkan pengetahuan kurang dengan tidak memilih sebanyak 13 responden (25,0%), pengetahuan cukup yang tidak memilih sebanyak 13 responden (25,0%) dan pengetahuan baik yang memilih sebanyak 10 responden (34,8%) Hasil penelitian didapatkan Akseptor AKDR yang terkena efek samping berat sebesar 23 responden (50,0%), yang mengalami kecemasan ringan sebesar 1 responden (2,6%) dan yang mengalami kecemasan sedang dan berat sebesar 18 responden (47,4%). BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengar (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda(9) b. Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan menurut Notoadmojo (2007) yakni : 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2) Memahami (comprehension). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). 4) Analisis Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek(10) c. Sumber Pengetahuan Nursalam (2008) menyatakan bahwa sumber pengetahuan manusia dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :   1) Tradisi Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan dimana setiap orang tidak dianjurkan untuk memulai mencoba memecahkan masalah. 2) Autoritas Ketergantungan terhadap suatu autoritas tidak dapat dihindarkan karena kita tidak dapat secara otomatis menjadi seorang ahli dalam mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. 3) Pengalaman seseorang Setiap pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid tentang situasi dan pengalaman seseorang diwarnai dengan penilaian yang bersifat subjektif. 4) Trial dan Error Dalam menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita dalam menggunakan alternatif pemecahan melalui “coba dan salah”. 5) Alasan yang logis Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah, akan tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas alasan dedukatif tergantung dari informasi. 6) Metode Ilmiah Pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis(11)   d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoadmojo (2005). 1) Pendidikan Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain dibagi individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan. Pendidikan dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: a) Pendidikan dasar Terdiri dari tidak sekolah, tidak SD maupun tamat SD. b) Pendidikan menengah Terdiri dari tamat SLTP wajib sekolah 9 tahun, sekolah menengah umum dan sekolah menengah kejuruan seperti SLTA dan SMK. c) Pendidikan tinggi Termasuk yang tamat akademi maupun perguruan tinggi. Pendidikan secara umum pendidikan diartikan sebagai upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi usia baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. seseorang yang berpendidikan mempunyai pengertian lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah diajarkan di sekolah. Tingkat pendidikan seseorang dapat mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang dan taraf pendidikan yang rendah selalu bergandengan dengan informasi dan pengetahuan yang terbatas. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula pemahaman seseorang terhadap informasi yang didapat dan pengetahuannya akan semakin tinggi. 2) Umur Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang baik fisik, psikis, maupun sosial sehingga membantu seseorang dalam pengetahuanya. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa dipercaya dibandingkan dengan orang yang belum tinggi kedewasaannya Umur yang dimaksud disini adalah umur responden. a) Kelompok usia kurang dari 20 tahun b) Kelompok usia 20-35 tahun c) Kelompok usia lebih dari 35 tahun 3) Paritas Adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Kategori paritas dapat dikelompok menjadi 2 yaitu a) primipara : ibu yang hamil pertama b) multipara : ibu yang hamil lebih dari 2   4) Pengalaman Suatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal. 5) Informasi Seseorang yang memiliki sumber informasi yang banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas(12) e. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur yang dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan(13) Sebagian besar penelitian umumya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrument pengumpulan data. Untuk memperoleh kuesioner dengan hasil yang mantap adalah dengan uji coba. Dalam uji coba responden diberi kesempatan untuk memeperbaiki saran-saran perbaikan bagi kuesioner yang diuji cobakan itu(13) Menurut Notoadmojo (2003) tingkat pengetahuan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu: a. Pengetahuan Baik : 76-100% b. Pengetahuan Cukup : 56-75% c. Pengetahuan Kurang : 55%   2. Kontrasepsi a. Pengertian Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang artinya mencegah dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan dengan cara mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma(14) Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya tersebut dapat bersifat sementara atau dapat bersifat permanen. Kontrasepsi merupakan salah satu variable yang memepengaruhi fertilitas(15) Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan, upaya ini dapat bersifat sementara, dapat pula juga bersifat permanen(16) b. Daya guna Menurut Wikjasastro (2007) daya guna kontrasepsi adalah sebagai berikut : 1) Daya guna teoretis (theorical effectiveness) Kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, apabila cara tersebut digunakan terus-menerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. 2) Daya guna pemakaian (Use effectiveness) Adalah perlindungan terhadap kontrasepsi yang ternyata pada keadaan sehari-hari yang dipengaruhi oleh faktor ketidak hati-hatian, tidak taat azas, motifasi, keadaan sosial ekonomi-budaya, pendidikan dan lain-lain(17) c. Syarat Kontrasepsi Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik ialah menurut Hartanto (2004). 1) Aman/tidak berbahaya. 2) Dapat diandalkan 3) Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter. 4) Murah 5) Dapat diterima oleh orang banyak. 6) Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi)(18) d. Sasaran Kontrasepsi Sasaran kontrasepsi menurut Glesier (2005). 1) Pasangan usia subur dan ibu yang sudah mempunyai anak 2) Ibu yang mempunyai resiko tinggi terhadap kehamilan(4) e. Tujuan kontrasepsi Menurut BKKBN (2011) tujuan kontrasepsi ada 3 yaitu: 1) Masa menunda kehamilan/kesuburan bagi PUS dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Pada masa ini, alat kontrasepsi yang dapat digunakan meliputi pil KB, AKDR dan kontrasepsi sederhana. 2) Masa mengatur kehamilan/kesuburan dengan PUS dengan berusia antara 20-30 tahun, dengan jarak kelahiran 3-4 tahun, meliputi: a) PUS berusia 20-30 tahun kontrasepsi yang efektif digunakan adalah pil KB, AKDR dan kontrasepsi sederhana. b) PUS berusia 30-35 tahun dapat menggunakan kontrsepsi AKDR, KB suntik, implant, pil KB dan kontrasepsi sederhana. 3) Masa mengakhiri kesuburan PUS dengan istri berusia 35 tahun lebih. Adapun pada masa ini alat kontrasepsi yang palng efektif adalah kontap (MOP dan MOW), implant, KB suntik dan kontrasepsi sederhana(6) f. Metode kontrasepsi Metode kontrasepsi menurut Sulistyawati (2011). 1) Metode sederhana tanpa alat : a) Kalender b) Pantang berkala c) Suhu basal d) Lendir serviks e) Sitomtermal f) Koitus interuptus 2) Metode sederhana dengan alat : a) Barier b) Kondom c) Barier intravagina d) Kimiawi e) spermisida 3) Metode modern hormonal : a) Kontrasepsi oral: b) Suntik c) Implant d) Intra uterin device (IUD) 4) Metode operasi: a) Metode operatif wanita (MOW) b) Metode operatif pria ( MOP )(3) 3. Kontrasepsi IUD ( Intra Uterine Device ) a. Pengertian IUD adalah alat kontrasepsi yang disisipkan ke dalam rahim, terbuat dari bahan semacam plastik, ada pula yang dililit tembaga, dan bentuknya bermacam-macam. Bentuk yang umum dan mungkin banyak dikenal oleh masyarakat adalah bentuk spiral. Spiral tersebut dimasukkan ke dalam rahim oleh tenaga kesehatan (dokter/bidan terlatih). Sebelum spiral dipasang, kesehatan ibu harus diperiksa dahulu untuk memastikan kecocokannya. Sebaiknya IUD ini dipasang pada saat haid atau segera 40 hari setelah melahirkan(19) b. Sasaran IUD 1. Pasangan usia subur yang ingin mengatur kehamilan/kesuburan 2. Pasangan usia subur yang tidak menginginkan menggunakan kontrasepsi hormonal 3. Ibu yang menderita hipertensi(19) c. Jenis AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) / IUD Menurut Handayani (2011). 1) AKDR non hormonal a) Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi 2   (1) Bentuk terbuka ( oven devace ) Seperti : LippesLoop, Cu-7. Marguiles, spring coil, Multiolad, Nova T (2) Bentuk tertutup (closed device) Seperti : ota-ring , atigon , dan graten Berg Ring b) Menurut tambahan atau metal (1) Medicated IUD Seperti : Cu T 200 (daya kerja 3 tahun), Cu T 220 (daya kerja 3 tahun), CuT 300 ( daya kerja 3 tahun, CuT 380 A (daya kerja 8 tahun), Cu-7, Nova T (daya kerja 5 tahun), ML –Cu 375 (daya kerja 3 tahun) Pada jenis medical IUD angka yang tertera dibelakang IUD menunjukkan luasnya kawat halus tembaga yang ditambahkan, seperti Cu T 220 berarti tembaga adalah 200 mm2 (2) Un medicated IUD Seperti ; Lippes Loop, Marguiles, saf-T coil, antigon. Lippes Loop dapat dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya sampai menopause, sepanjang tidak ada keluhan dan atau persoalan bagi akseptornya. IUD yang banyak dipakai di Indonesia dewasa ini dari jenis Un medicated yaitu Lippes Loop dan yang dari jenis medicated CuT , Cu-7, multiload dan Nova-T   2) IUD yang mengandung hormonal a) Progestasert-T = Alza T (1) Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam (2) Mengandung 38 mg progesterone dan barium sulfat, melepas 65 mcg progesteron per hari (3) tabung insersinya bentuk lengkung (4) Daya kerja : 18 bulan (5) Teknik insersi plunging b) LNG- 20 (1) Mengandung 46-60 mg levonorgestrel, dengan pelepasan 20 mcg per hari (2) Sedang diteliti di Finlandia (3) Angka kegagalan/ kehamilan angka terendah : < 0,5 per 100 wanita per tahun (4) Penghentian pemakaian oleh karena persoalan-persoalan perdarahan ternyata lebih tinggi dibandingkan IUD lainnya, karena 25 % mengalami amenorrhea atau perdarahan haid yang sangat sedikit(20) d. Cara kerja Cara kerja IUD menurut Syaifudin (2006). 1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii 2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri 3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi 4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur daam uterus(21) e. Efektifitas Efektifitas IUD menurut Hartanto (2004). Efektifitas alat kotrasepsi IUD cukup tinggi yaitu 0,6 sampai 0,8 pada tahun pertama pemasangan. Ini berarti drai 1.000 orang yang menggunakan IUD hanya 8 orang yang mengalami kegagalan atau dari 100 orang yang menggunakan alat kontrasepsi IUD kurang dari 1 orang yang mengalami kegagalan (18) f. Indikasi Indikasi IUD menurut Handayani (2010). 1) Usia reproduksi 2) Keadaan nulipara 3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang 4) Perempuan menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi 5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya 6) Setelah abortus dan tidak terlihat adanya infeksi 7) Perempuan dengan resiko rendah dari IMS 8) Tidak menghendaki metode hormonal 9) Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari 10) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama(20)   g. Kontraindikasi Kontraindikasi IUD menurut Handayani (2010). 1) Sedang hamil 2) Perdarahan vagina yang tidak di ketahui 3) Sedang menderita infeksi alat genetalia 4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering, menderita PRP (penyakit radang panggul ), atau abortus septic 5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri 6) Penyakit trofoblas yang ganas 7) Diketahui menderita TBC pelvic 8) Kanker alat genital 9) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm(20) h. Keuntungan Keuntungan IUD menurut Handayani (2010). 1) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan 2) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti) 3) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat 4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual 5) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil 6) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT- 380A) 7) Tidak mempengaruhi kualitas ASI 8) Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau setelah abortus (apabila tidak terjadi infeksi) 9) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir) 10) Tidak ada interaksi dengan obat-obat 11) Membantu mencegah kehamilan ektopik(20) i. Kerugian Kerugian IUD menurut Handayani (2010). 1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 8 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan) 2) Haid lebih lama dan banyak 3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi 4) Saat haid lebih sakit 5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS 6) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang berganti pasangan 7) Penyakit radang panggul terjadi. Seorang perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas 8) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelviks diperlukan dalam pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan 9) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasa menghilang dalam 1-2 hari 10) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melakukan 11) Mungkin AKDR keluar lagi dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR di pasang sesudah melahirkan). 12) Tidak mencegah terjadi kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal 13) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu, untuk melakukan ini perempuan harus bisa memasukkan jarinya kedalam vagina. Sebagian perempuan ini tidak mau melakukannya(9) j. Cara pemasangan kontrasepsi IUD Cara pemasangan IUD menurut Sulistyawati (2011). 1) Pemeriksaan sebelum pemasangan AKDR Tanyakan kepada calon akseptor mengenai hal-hal sebagai berikut a) Tanggal hari pertama haid terakhir atau tanggal kelahiran anaknya yang terakhir atau tanggal keguguran yang terakhir b) Lamanya haid dan banyaknya darah yang keluar, serta apakah ada rasa sakit atau tidak c) Apakah baru sembuh dari penyakit infeksi pinggul, misal rasa sakit di perut bagian bawah dengan kenaikan suhu badan dan mengeluarkan cairan bernanah atau berbau busuk, terutama sesudah melahirkan atau keguguran d) Periksalah apakah rahim dapat diraba di atas simfisis pubis (berarti ada kehamilan ) dan ada rasa sakit ( berarti ada infeksi panggul)(3) Selengkapnya...