Minggu, 31 Maret 2013

KTI KEBIDANAN 2012 : STUDI RETROSPEKTIF PENYEBAB KEMATIAN IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT

PESAN KTI MURAH INI SECEPATNYA HUB : 081 225 300 100
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Mortalitas dan morbiditas pada ibu hamil dan bersalin adalah masalah terbesar di negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitas. Pada tahun 2003, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) memperkirakan + 13.778 ibu meninggal setiap tahunnya. Bila dikalkulasi dalam hitungan hari, terdapat 38 orang ibu yang meninggal dan bila dalam hitungan jam ada 2 orang ibu yang meninggal setiap jamnya(1). Menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu faktor penurunan angka kematian tersebut adalah penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas(1). Lima penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, eklampsi, partus lama, dan komplikasi abortus. Sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah anemia sebanyak 51% menurut Survei Kesejahteraan Rumah Tangga tahun 1995, Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Kekurangan Energi Kalori (KEK) sebanyak 4,8% menurut sensus tahun 2000(2). Empat terlambat yang dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi yaitu pertama, terlambat deteksi dini adanya risiko tinggi pada ibu hamil di tingkat keluarganya. Kedua, terlambat untuk memutuskan mencari pertolongan pada tenaga kesehatan. Ketiga, terlambat untuk datang di fasilitas pelayanan kesehatan. Keempat, terlambat untuk mendapatkan pertolongan pelayanan kesehatan yang cepat dan berkualitas di fasilitas pelayanan kesehatan(3). Memperhatikan angka kematian ibu dan bayi, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut : sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama sangat dibutuhkan, pengawasan antenatal masih belum memadai sehingga penyulit hamil dan hamil dengan risiko tinggi atau terlambat diketahui, masih banyak di jumpai ibu dengan 4 terlalu (jarak hamil terlalu pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda dan terlalu tua untuk hamil), gerakan keluarga berencana masih dapat di galakkan untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), jumlah anemia pada ibu hamil yang cukup tinggi, pendidikan masyarakat yang rendah cenderung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional dan belum siap menerima pelaksanaan modern(4). Oleh karena itu, pada tahun 1999 WHO meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang di dukung oleh badan-badan international seperti UNFPA, UNICEF, dan World Bank. Pada dasarnya, MPS meminta perhatian pemerintah dan masyarakat di setiap negara mengenai hal-hal sebagai berikut: menempatkan safe motherhood sebagai perioritas utama dalam rencana pembangunan nasional dan international, menyusun acuan nasional dan standar pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, mengembangkan sistem yang menjamin pelaksanaan standar yang telah disusun, memperbaiki akses pelayanan kesehatan (maternal dan neonatal, KB, aborsi illegal, baik publik maupun swasta), meningkatkan upaya kesehatan promotif dalam kesehatan maternal dan neonatal, serta pengendalian fertilitas pada tingkat keluarga dan lingkungannya, dan memperbaiki sistem monitoring pelayanan kesehatan maternal dan neonatal(4). Pada rencana strategi nasional MPS di Indonesia tahun 2001-2010 disebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010. Visi MPS adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat. Sementara itu, Misi MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian maternal juga neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga, dan masyarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta menjamin kesehatan maternal dan neonatal yang dipromosikan dan dilestarikan sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal menjadi 16 per 1.000 k`elahiran hidup(5). Safe motherhood sendiri memiliki empat pilar dimana intervensi strategisnya telah dilakukan assessment oleh Departemen Kesehatan RI dalam bentuk rekomendasi Rencana Kegiatan Lima Tahun dengan bentuk strategi operasional untuk menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1996 menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2000, yaitu sebagai berikut : keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman, pelayanan obstetri esensial(4). Berdasarkan data yang diperoleh dari DKK Demak untuk jumlah penduduk tahun 2011 adalah 1.079.925 jiwa. Jumlah kematian ibu maternal di Kota Demak pada tahun 2011 sebanyak 26 orang dari 21.329 jumlah kelahiran hidup. 26 orang diantaranya adalah pre eklampsi berat 7 orang (26,9%), jantung 7 orang (26,9%), ileus 1 orang (3,8%), hepatitis 1 orang (3,8%), emboli 1 orang (3,8%), ruptur 1 orang (3,8%), perdarahan 2 orang (7,8%), malaria 1 orang (3,8%), ARDS 2 orang (7,8%), dan sepsis 3 orang (11,6%) (6). Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 26 Februari 2012 diperoleh data dari tahun 2008-2011 jumlah kematian ibu bersalin di RS XXXXX adalah 6 orang. Dari data tersebut terbukti bahwa masih terdapat angka kematian ibu bersalin di Rumah Sakit Pelita Anugerah, apabila tidak segera diketahui penyebabnya maka dapat menambah angka kematian ibu bersalin. Sehingga Rumah Sakit harus segera mengetahui penyebab kematian ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu bersalin dan mencegah kematian ibu bersalin di tahun-tahun yang akan datang. Dari uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti dan menganalisa apa penyebab kematian ibu bersalin di RS XXXX. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan :“Apakah penyebab kematian ibu bersalin di RS Pelita Anugerah Demak?”. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin secara “determinan antara” yang meliputi gizi, penyakit ibu, riwayat komplikasi kehamilan sebelumnya, umur dan paritas. b. Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin secara “determinan dekat” yang meliputi komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, dan komplikasi nifas. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam penerapan ilmu yang di dapat selama masa pendidikan di Akademi Kebidanan XXXXXXXXXXX. 2. Bagi Institusi kesehatan Diharapkan penelitian ini dapat menambah refrensi bagi dunia pendidikan, digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk penelitian yang lebih lanjut dan sekaligus sebagai dasar perencanaan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan. 3. Bagi Tenaga Kesehatan Diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran mengenai penyebab kematian ibu bersalin. Serta dapat digunakan sebagai pertimbangan dan perencanaan dalam upaya penurunan angka kematian maternal dan peningkatan program kesehatan ibu dan anak. E. Keaslian Penelitian Penelitian – penelitian yang telah dilakukan terkait dengan kematian ibu bersalin adalah sebagai berikut : No. Judul Penelitian Dan Lokasi Penelitian Tahun Desain Variabel Hasil 1. Penyebab Kematian Maternal di Indonesia SKRT 2001, Sarimawar Djaja dkk, Indonesia 2001 Cross Sectional Tempat tinggal, akses ke fasilitas kesehatan, status reproduksi, status kesehatan Proporsi kematian maternal 16% di pedesaan, 5% di perkotaan. Persalinan dengan seksio sesaria 13,5%, 41,7% meninggal di rumah. 2. Kematian maternal di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 1996 – 1998, Wahdi, Praptohardjo U, RSUP Dr. Kariadi Semarang 1999 Cross Sectional Usia, pendidikan, lama perawatan, cara datang pasien, perawatan kehamilan, sebab kematian Penyebab kematian maternal preeklamsia/ eklamsia 48%, perdarahan 24%, infeksi 14% dan penyakit jantung 14%. Multigravida 52,4%, usia 20 – 30 tahun 57%. Beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah : 1. Penelitian mengenai studi retrospektif penyebab kematian ibu bersalin di Rumah Sakit XXXXXpada tahun 2008-2011 dengan dilengkapi kajian kuantitatif dengan instrument checklist. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah total sampling. 2. Variabel dalam penelitian ini adalah penyebab kematian ibu bersalin di Rumah XXXXXXk”. BAB II TINJAUAN KASUS A. Tinjauan Teori 1. Pengertian Kematian Ibu Angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang meninggal pada masa hamil atau dalam 42 hari pertama setelah hamil, akibat beberapa penyebab yang berkaitan dengan atau penyebab yang diperparah oleh kehamilan per 100.000 wanita pada usia reproduktif pada tahun tersebut(7). AKM/AKI/MMR adalah jumlah kematian wanita selama 1 tahun dalam 100.000 kelahiran hidup(8). Kematian maternal didefinisikan oleh International Classification of Diseases, Injuries and Causes of Death-Ninth Revision (ICD9) (ICD9 World Health Organization Geneva 1993) sebagai ” kematian seorang wanita hamil atau dalam 42 hari terminasi kehamilan, akibat penyebab apapun yang berkaitan dengan atau diperburuk oleh kehamilan atau penatalaksanaannya, tetapi bukan karena kecelakaan atau penyebab incidental’’(9). 2. Macam-Macam Kematian Ibu Macam-macam kematian ibu ada 2 yaitu : a. Kematian obstetrik langsung Adalah kematian jenis ini diakibatkan komplikasi kebidanan yang terkait dengan kehamilan (kehamilan, persalinan, dan infeksi puerperium), akibat intervensi, kelalaian, terapi yang tidak tepat, atau salah satu diantaranya(7). Seperti eklamsi/preeklamsi, pendarahan, infeksi, emboli ketuban(8). b. Kematian obstetrik tidak langsung Adalah kematian jenis ini merupakan akibat terdahulu atau penyakit yang berkembang selama masa hamil, dan tidak berkaitan dengan penyebab langsung, tetapi diperparah dengan dampak fisiologi kehamilan(7). Seperti sakit jantung, ginjal, DM, dan lain-lain (8). 3. Faktor Yang Mempengaruhi Kematian Ibu Tinggi rendahnya angka kematian dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah(10) : a. Daya tahan tubuh manusia terhadap penyakit, termasuk status gizi, komposisi demografi, dan sistem kekebalan tubuh. b. Sanitasi lingkungan yang berkaitan dengan sumber infeksi, polusi, dan vektor penyakit. c. Tingkat sosial-ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan daya beli masyarakat untuk membeli makanan, memelihara kesehatan, dan membeli obat jika sakit. d. Tersedianya fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat. Depkes RI membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kematian maternal sebagai berikut : a. Faktor medik 1) Faktor empat terlalu, yaitu : a) Usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun) b) Usia ibu pada waktu hamil terlalu tua (lebih dari 35 tahun) c) Jumlah anak terlalu banyak (lebih dari 4 orang) d) Jarak antar kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) 2) Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang merupakan penyebab langsung kematian maternal, yaitu : a) Perdarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trimester ketiga, persalinan dan pasca persalinan. b) Infeksi. c) Keracunan kehamilan. d) Komplikasi akibat partus lama. e) Trauma persalinan. 3) Beberapa keadaan dan gangguan yang memperburuk derajat kesehatan ibu selama hamil, antara lain : a) Kekurangan gizi dan anemia. b) Bekerja (fisik) berat selama kehamilan. b. Faktor non medik Faktor non medik yang berkaitan dengan ibu, dan menghambat upaya penurunan kesakitan dan kematian maternal adalah : 1) Kurangnya kesadaran ibu untuk mendapatkan pelayanan antenatal. 2) Terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan risiko tinggi. 3) Ketidak berdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan dalam pengambilan keputusan untuk dirujuk. 4) Ketidakmampuan sebagian ibu hamil untuk membayar biaya transport dan perawatan di rumah sakit. c. Faktor pelayanan kesehatan Faktor pelayanan kesehatan yang belum mendukung upaya penurunan kesakitan dan kematian maternal antara lain berkaitan dengan cakupan pelayanan KIA, yaitu : 1) Belum mantapnya jangkauan pelayanan KIA dan penanganan kelompok berisiko. 2) Masih rendahnya (kurang lebih 30%) cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. 3) Masih seringnya (70-80%) pertolongan persalinan yang dilakukan di rumah, oleh dukun bayi yang tidak mengetahui tanda-tanda bahaya. 4. Strategi Dan Kegiatan Dalam Menurunkan AKI Strategi dalam menurunkan AKI adalah peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cost efektif dan didukung oleh(11) : a. Kerjasama lintas sektor program dan lintas sektor terkait, mitra lain, pemerintah dan swasta. b. Pemberdayaan perempuan dan keluarga. c. Pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI yaitu(11) : b. Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, meliputi : 1) Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai latihan bagi petugas. Selengkapnya...

Kamis, 10 Januari 2013

KTI KEBIDANAN 2013 :HUBUNGAN POLA NUTRISI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL PADA TRIMESTER II DAN TRIMESTER III DI WILAYAH PUSKESMAS

TERSEDIA LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA MURAH HUB : 081 225 300 100
BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nutrisi yang bagus menyiapkan tubuhnya untuk menjadi seorang ibu, karena proses kompleks yang terjadi selama kehamilan membutuhkan banyak suplai protein, vitamin, dan mineral untuk ibu dan bayi. Jika tubuh sudah mempunyai simpanan nutrisi, kebutuhan nutrisi dapat di tutupi dengan pola makan yang sederhana tetapi jika simpanan nutrisi lebih rendah pada masa kehamilan, maka ibu hamil mempunyai resiko yang cukup besar menyertai kehamilanya seperti terjadi penurunan kadar Hb atau Anemia dan kesulitan kehamilan (1). Pola nutrisi dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, kebiasaan, kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi dan alam. Sehingga, faktor – faktor yang mempengaruhi pola nutrisi ibu hamil tersebut dapat berpengaruh terhadap status gizi ibu (2). Asupan gizi pada saat hamil berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan zat besi, terutama terjadi pada trimester II dan III karena terjadi peningkatan ekspansi massa sel darah merah, maka kebutuhan akan zat besi bertambah, sedangkan ibu hamil tidak menyadari hal ini akan berdampak pada terjadinya anemia (3). Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Disamping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inersia, atonia uteri, dan partus lama), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres , produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR (berat badan lahir rendah), kematian perinatal (4). Penyebab anemia umumnya adalah malnutrisi, kurangnya asupan zat besi, gangguan zat besi dalam usus, perdarahan dan penyakit kronis seperti TBC, cacing usus, dan malaria. Disamping penyebab medis, faktor umur, pendidikan, sosial ekonomi, sosial budaya,paritas dan frekuensi kunjungan antenatal care juga merupakan faktor terjadinya anemia defisiensi gizi yang penting di negara berkembang seperti Indonesia saat ini. Dengan ANC keadaan anemia ibu hamil akan lebih dini terdeteksi karena dengan periksa Hb anemia akan kelihatan, sebab tahap awal anemia pada ibu hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna. Keluhan timbul setelah anemia sudah ketahap yang lanjut (5). Anemia lebih sering di jumpai pada kehamilan. Hal itu, di sebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi perubahan-perubahan dalam darah dan sum-sum tulang darah bertambah banyak dalam kehamilan, akan tetapi tidak diimbangi dengan penambahan plasma sehingga terjadi pengenceran atau penurunan kadar Hemoglobin (6). Hemoglobin merupakan zat yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh termasuk ke tubuh janin yang di kandung oleh ibu, sehingga jika terjadi anemia pada ibu hamil, maka proses pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh tersebut akan mengalami gangguan. Kekurangan zat besi di dalam tubuh di sebabkan oleh kekurangan konsumsi zat besi yang berasal dari makanan atau rendahnya absorpsi zat besi yang ada di dalam makanan (7). Pada kehamilan di anjurkan banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat, juga vitamin B seperti hati, daging, kuning telur, ikan, susu, kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai. Serta sayuran berwarna hijau tua seperti bayam dan daun katuk. Selain itu, konsumsi juga jenis makanan yang memudahkan penyerapan zat besi, misalnya makanan yang mengandung banyak vitamin C. Ibu hamil di anjurkan untuk menghindari makanan / minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, misal kopi & teh atau susu kalsium (8). Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu 51,8% pada tahun 2003 mengalami penurunan sebesar 24,8% pada tahun 2005 serta pada tahun 2007 sebesar 24,5%. Di Jawa Tengah angka kejadian anemia kehamilan semakin tinggi yaitu terlihat tahun 2007 sekitar 20,85% (5967 ibu hamil); pada tahun 2008 sebesar 56,15% (361110 ibu hamil); dan pada tahun 2009 sebesar 57,7% (9). Berdasarkan data dari Dinas kesehatan kota semarang tahun 2009 – 2011 (10). Gambar 1.1 Data anemia Kota Semarang Data paling tertinggi di puskesmas bandarharjo,pada tahun 2009 dari 98 yang di ukur, yang menderita anemia 92 (93,88 %) dan pada tahun 2010 dari 132 yang di ukur, dan yang menderita anemia 108 ibu hamil (81,82 %). Pada tahun 2011 dari 136 ibu hamil yang di ukur, yang menderita anemia 52 ibu hamil (38,24 %) (10). Berdasarkan Hasil Studi Pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 22 Februari 2012, di dapatkan hasil dengan pemeriksaan kadar Hb terhadap 10 orang ibu hamil pada Trimester II dan III di Puskesmas Bandarharjo kota Semarang, meliputi: 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 8,4gr% tergolong Anemia sedang dengan menu nasi, tempe, tahu, sayur kadang-kadang. Sehingga, pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu kurang seimbang untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Sedangkan 4 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 9,6 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu nasi, sayur, tempe, tahu, ikan kadang-kadang. Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah cukup baik, akan tetapi kurang bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Pada 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 10,5gr% dan 10 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu variasi, seperti nasi, ikan, daging, telur, tempe ,tahu dan buah. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah baik, dan bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung dalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Oleh karena itu, peneliti tertarik ingin mengetahui hubungan antara pola nutrisi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester II dan III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota semarang. B. Rumusan Masalah Berdasarkan Latar Belakang dan Study pendahuluan yg telah di kemukakan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui “Apakah ada Hubungan Pola Nutrisi dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil pada trimester II dan trimester III di wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang”. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan pola nutrisi dengan kadar Hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pola nutrisi pada ibu hamil di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. b. Mengetahui kadar hemoglobin pada ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. c. Mengetahui hubungan pola nutrisi ibu hamil dengan Kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat terutama ibu hamil Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada ibu hamil bahwa salah satu penyebab terjadinya kenaikan dan penurunan kadar hemoglobin adalah pola nutrisi yang tidak sehat pada ibu hamil dan dengan pola makan yang baik akan meningkatkan kadar hemoglobin yang normal. 2. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan sikap dan peran serta ibu dalam menangani anemia atau penurunan kadar hemoglobin ibu hamil. 3. Bagi Institusi Pendidikan Menambah sumber kepustakaan dan dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian. 4. Bagi Pembaca Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tambahan referensi khususnya mengenai hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 5. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung dalam melakukan penelitian ilmiah tentang “Hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. E. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain : Table. 1.1. Keaslian Penelitian No Peneliti ( tahun ) Judul penelitian Variabel Sampel Desain penelitian Hasil 1 Risnawati 2006 Pengetahuan tentang gizi dan Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Variabel dalam penelitian ini adalah Karakteristik ibu Hamil yang meliputi umur, pendidikan. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 341 populasi ibu hamil, di ambil 30 sampel dengan hasil ibu hamil mempunyai tingkat pengetahuan tentang gizi dan anemia pada ibu hamil dalam kategori baik. 2 Renny Febriyanti 2009 Hubungan Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi dengan Kadar hemoglobin Ibu hamil trimester III Di BPS Isti Majid Semarang Variabel Bebas: Kepatuhan mengkonsumsi tablet Besi (Fe). Variabel Terikat : Kadar Hemoglobin ibu hamil trimester III. Ibu Hamil Trimester III Jenis penelitian merupakan study korelasi dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 30 responsden yang di teliti, Didapatkan hasil kepatuhan ibu hamil dalam Mengkonsumsi Tablet besi. Sehingga, disimpulkan bahwa terdapat hubungan kepatuhan tablet besi dengan Kadar Hb ibu hamil trimester III 3 Devi Witri Herdiyani 2011 Hubungan antara pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Tempat penelitian di Puskesmas Demak I Kabupaten Demak Variabel Bebas : Pola makan Variabel Terikat : Anemia pada ibu hamil. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 50 responden yang di teliti, di dapatkan hasil terdapat Hubungan pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Perbedaan dengan penelitian ini adalah Variabel Terikat, Sampel, dan Tempat Penelitian. Variabel penelitian ini adalah Kadar Hemoglobin ibu Hamil trimester II dan III. Sampel penelitian ini adalah Ibu hamil trimester II dan III. Tempat penelitian ini adalah di Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang.   BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anemia Dalam Kehamilan 1. Pengertian a. Anemia 1) Anemia adalah turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12.0 gr% pada wanita yang tidak hamil dan kurang dari 10.0 gr% darah pada wanita hamil (11). 2) Anemia adalah suatu kadar hemoglobin dengan sahli,hasilnya kurang dari 11gr% (5). 3) Menurut WHO, anemia didefinisikan sebagai Hb (Hemoglobin) kurang 13gr% untuk laki – laki dan kurang 12gr% untuk wanita. Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi Ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11gr% terutama pada trimester I dan trimester III atau kadar hemoglobin <10,5g% pada trimester II. b. Anemia dalam kehamilan Anemia dalam kehamilan merupakan kondisi ibu dengan kadar Hb dibawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10.5 gr% pada trimester II (12). Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi terutama pada terimester II. Anemia dalam kandungan adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (6). 2. Patofisiologi Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain (6) : a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin. b. Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter. c. Hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat, sehingga akibat faktor itu dijumpai perubahan peredaran darah. d. Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah ( Hemodilusi ). e. Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah. Sehingga, terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat mencapai jumlah sebesar 10.000/ml, protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglubin dapat menurun trimester pertama sedangkan fibrinogen meningkat. Sirkulasi darah ibu juga dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh- pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan alat vital yang lainnya yang berfungsi berlebihan dalam kehamilan sehingga volume darah ibu dalam kehamilan bertambah (hipervolemia) secara fisiologik dengan adanya pancaran darah yang disebut hidremia. Akan tetapi bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah (6). Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologik dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama- tama pengenceran meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih cepat dalam masa hamil. Karena sebagai akibat hidremiacardic output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyak unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu kental (6). Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 23-36 minggu. Setelah pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma karena proses inhibisi cairan dari ekstravaskuler kedalam pembuluh darah yang kemudian akan di ikuti oleh periode diuresis pasca persalinan merupakan periode penyesuaian untuk kembali ke nilai volume plasma sebelum hamil (6). 3. Etiologi Secara umum ada 3 penyebab anemia defisi Selengkapnya...

Minggu, 30 September 2012

KTI KEBIDANAN SEPT 2012 : GAMBARAN MEKANISME KOPING STRES BIDAN DALAM MENANGANI PERSALINAN DI KECAMATAN ...

LEBIH LENGKAP HUB : 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap individu yang hidup di dunia ini tidak pernah terlepas dari stres. Semua tuntutan yang berlebihan dari orang lain terhadap diri kita, sering membuat ketegangan emosional.1 Stres mempengaruhi kondisi dan respon dari tubuh maupun pikiran. Respon dari tubuh maupun pikiran ini muncul karena adanya stressor. Stressor tersebut dapat muncul dalam bentuk fisik, sosioemosi, ekonomi, atau spiritual.2 Salah satu faktor yang menentukan seorang individu dipengaruhi oleh stres yang dirasakannya adalah dengan bagaimana dia menghadapi peristiwa yang dialaminya dengan mekanisme koping.1 Mekanisme koping yang baik dapat mengurangi dampak psikologis, gangguan fisik atau perilaku, individu dapat beradaptasi serta dapat mengubah stres menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menguasai situasi, sehingga respon terhadap stressor dapat menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu.3 Koping yang efektif menghasilkan adaptasi yang merupakan perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan koping yang tidak efektif akan berakhir dengan mal adaptif. 4 Profesi pekerjaan yang bergerak dalam bidang pelayanan kemasyarakatan sering dihadapkan dengan ketegangan emosional yang terkait dengan pekerjaan yang dijalankan dimana sangat mungkin menimbulkan stres kerja. Salah satu profesi pekerjaan yang bergerak di bidang pelayanan kemasyarakatan adalah bidan. Hal yang paling mendatangkan stres sebagai bidan yaitu saat bidan dihadapkan dengan tanggung jawab dan resiko yang besar dalam proses persalinan karena bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan dua nyawa sekaligus yaitu nyawa ibu dan bayi. Reaksi stres yang muncul pada bidan dapat mempengaruhi perilaku, sikap dan emosi bidan terhadap pasien yang ditangani.5 Meskipun pada saat mengikuti pendidikan formal bidan sudah dibekali dengan ilmu psikologi, coping stres, kegawatdaruratan dalam persalinan tetapi tetap saja kondisi psikososial yang buruk dapat menjadi sumber stres bidan, dan mempengaruhi sikap, perilaku, dan emosi bidan pada saat menangani pasien. Profil kesehatan kota Semarang tahun 2009 menyebutkan terdapat 411 bidan di kota Semarang, yang terdiri dari 3 unit kerja, DKK terdapat 3 bidan, Puskesmas terdapat 135 bidan, dan RSU/RS terdapat 273 bidan, sedangkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang No.15 tahun 1999 terdapat 4 puskesmas di kecamatan Banyumanik yang terdiri dari 18 bidan. Menurut data BAPERMAS tahun 2010 terdapat 28 Bidan Praktek Swasta, termasuk 5 bidan Puskesmas di kecamatan Banyumanik . Sedangkan dari data IBI rating II tahun 2010 jumlah bidan sekecamatan Banyumanik terdapat 41 bidan. Keselamatan jiwa seorang ibu hamil dan bayi lebih banyak berada ditangan bidan, sekitar 80% persalinan ditangani bidan. Selain itu bidan juga memberikan pertolongan pertama ketika terjadi masalah dalam persalinan atau bayi yang mengalami gangguan kesehatan, serta mengidentifikasi apakah ibu hamil tersebut berisiko tinggi untuk melahirkan secara normal. Dalam hal ini maka profesionalisme seorang bidan merupakan salah satu kunci utama dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.6 Kasus kematian ibu dan bayi di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 Angka Kematian Ibu di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup (KH). Penyebab kematian ibu tertinggi pertama adalah karena perdarahan (28%), tertinggi kedua adalah eklamsia (24%), dan tertinggi ketiga karena infeksi. Berdasarkan sasaran target pembangunan tahun 2009 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang berkompetensi kebidanan sebesar 80%. Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukan AKI tahun 2009 yaitu 112 /100.000 kelahiran hidup. AKI tahun 2010 di kota Semarang sebesar 73,79 / 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan survei pendahuluan dengan menggunakan wawancara pada 6 bidan didapatkan hasil 4 bidan mengalami stres dan 2 bidan tidak mengalami stres. Stres tersebut berkaitan dengan lingkungan psikososial yang kurang mendukung, rasa cemas saat menolong persalinan, perasaan untuk selalu waspada saat menolong persalinan, perasaan jenuh saat menunggu proses persalinan yang begitu lama, perasaan khawatir saat menolong persalinan, hingga memiliki pikiran kematian saat terjadi kegawatan dalam menolong persalinan. Dari 6 bidan tersebut menggunakan mekanisme koping adaptif, cara yang dilakukan bidan dalam mengatasi stres tersebut antara lain meminta bantuan teman , berkumpul mencurahkan perasaan dengan teman sejawat, dan berusaha meningkatkan potensi diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan ini. Peneliti ingin mengetahui gambaran mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. B. Rumusan Masalah Profesi pekerjaan yang bergerak dalam bidang pelayanan kemasyarakatan sering dihadapkan dengan ketegangan emosional yang terkait dengan sifat pekerjaan yang dijalankan, di mana sangat mungkin menimbulkan stres kerja. Salah satu profesi pekerjaan yang bergerak di bidang pelayanan kemasyarakatan adalah bidan. Bidan selalu dihadapkan dengan tanggung jawab dan resiko yang besar dalam proses persalinan karena bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan dua nyawa sekaligus yaitu nyawa ibu dan bayi. Salah satu faktor yang menentukan seorang individu dipengaruhi oleh stres yang dirasakannya adalah dengan bagaimana dia menghadapi peristiwa yang dialaminya dengan mekanisme koping. Berdasarkan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti ”Bagaimana mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan ? ” C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik sosio demografi bidan meliputi : umur, pendidikan, dan lama bekerja. b. Mengetahui mekanisme koping stres bidan berdasarkan faktor sosio demografi. c. Mengetahui gambaran mekanisme koping bidan dalam menangani stres yang dialami. D. Manfaat 1. Bagi Peneliti Memberikan pengalaman peneliti dalam melaksanakan penelitian. Hasil penelitian ini mengetahui tentang stres maupun stresor pada bidan sehingga bidan dapat melakukan mekanisme penyesuaian yang baik dalam menghadapi stres pada saat membantu proses persalinan. 2. Bagi Instansi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi institusi pendidikan yang menjalankan program kebidanan sebagai informasi dan bahan pustaka pembaca dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta dapat berguna untuk memberikan kontribusi pembendaharaan penelitian tentang stres dan mekanisme koping bidan dalam menangani persalinan. 3. Bagi Bidan Hasil dari penelitian ini akan ditarik kesimpulannya dan diberikan pada Puskesmas di wilayah Kecamatan Banyumanik untuk disebarkan pada bidan di wilayah kerja Kecamatan Banyumanik. Sebagai informasi bagi para bidan tentang gambaran mekanisme koping stres bidan dalam membantu proses persalinan sehingga lebih siap psikis, mental dan dapat melakukan penyesuaian yang baik dalam menghadapi stres.   E. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian yang terkait dengan penelitian ini adalah : Tabel 1.1 Tabel Keaslian Penelitian No Judul / Penyusun Tujuan Desain Penelitian Populasi Sampel Hasil Perbedaan Penelitian 1. Gambaran Mekanisme Koping Perawat dalam Menghadapi Stres Kerja di RSU Aisyah Dr.Soetomo Ponorogo Penyusun : Khrisna Indah M (NIM : 051229) Jenis : Skripsi Mengetahui gambaran mekanisme koping perawat dalam menghadapi stres kerja secara adaptif dan mal adaptif Deskriptif Populasi : seluruh perawat di RSU Aisyah Dr.Soetomo Ponorogo Sampel : 62 responden, dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. 62 responden yang mengalami stres kerja didapatkan hasil 38 responden (61, 29%) menggunakan koping adaptif dan 24 responden (38,71%) menggunakan koping mal adaptif Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden dengan teknik total sampling dan dilaksanakan th 2011 2. Coping stres kerja pada perawat di RSJ Menur Surabaya Penyusun : Rosyidah Alif Jenis : Skripsi Mengetahui gambaran stressor, stres kerja dan koping oleh perawat Deskriptif Populasi : seluruh perawat . Sampel : 55 responden dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Responden melakukan emotion focused coping (pada stressor konflik pada perawatan pasien , dan stressor faktor Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden, teknik total organisasi). Problem focused coping (konflik dengan keluarga pasien) sampling, Hasil dikategorikan menjadi koping adaptif dan mal adaptif dan dilaksanakan th 2011 3. Gambaran Stressor, Stress dan Coping Stres Terhadap Skripsi pada Mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul Penyusun : Desy Puspita Sari Jenis: Skripsi Mengetahui gambaran coping stress terhadap skripsi pada mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul Deskriptif Kualitatif Subjek penelitian : dua mahasiswi dan dua mahasiswa yang masih aktif menyusun skripsi. Metode purposive sampling. Pengumpulan data: wawancara terstruktur (in-dept interview) dan observasi. Keempat subjek mengalami kendala dan hambatan dalam menyusun skripsi yang disadari subjek menjadi stressor dan coping stress yang digunakan gabungan problem focused coping dan emotion focused coping sebagai usaha untuk mengurangi stres. Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden,teknik total sampling, jenis penelitian kuantitatif deskriptif, hasil dikategorikan menjadi koping adaptif dan mal adaptif dan dilaksnakan th 2011.   4. Tingkat Kecemasan dan Cara Koping Ibu Hamil Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Kecemasan Menjelang Persalinan di BPS Istimajid. Penyusun: Indah Fibriyanti (NIM. P174241061229) Jenis : KTI Mengetahui gambaran tingkat kecemasan dan cara koping ibu hamil dalam menghadapi kecemasan dalam menjelang persalinan. Deskriptif Populasi : seluruh pasien hamil di BPS Istimajid Sample : 30 responden. Teknik purposive sampling. Yang mengalami cemas ringan 16 responden, cemas sedang 7 responden, 7 responden tidak cemas. 26 responden (86,67%) menggunakan koping adaptif dan 4 responden (13,37%) menggunakan koping mal adaptif Judul : Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden dengan teknik total sampling dan dilaksanakan th 2011 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Konsep Koping a. Pengertian Koping adalah proses yang dilalui individu dalam menyelesaikan situasi stressfull. Koping tersebut adalah merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik.4 Konsep koping yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya.2 Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respon terhadap situasi yang mengancam. Upaya individu dapat berupa perubahan cara berpikir (kognitif), perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang bertujuan untuk menyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif akan menghasilkan adaptasi.7 Secara alamiah baik disadari atau tidak individu sesungguhnya telah menggunakan strategi koping dalam menghadapi stres. Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk merubah lingkungan atau situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang dirasakan / dihadapi.4 b. Sumber Individu dapat menanggulangi stres dengan menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang diyakini. Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu dapat mengadopsi strategi koping yang efektif.8 Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu : aspek fisiologis, dan aspek psikososial.7 1) Reaksi Fisiologis Tanda dan gejala fisiologis merupakan manifestasi tubuh terhadap stres, dimana pupil menebal, keringat meningkat, mulut kering, peristaltik menurun, pengeluaran urin menurun, kewaspadaan mental meningkat terhadap ancaman serius, ketegangan otot meningkat. Reaksi fisiologis merupakan indikasi klien dalam keadaan stres. 2) Reaksi Psikososial a) Reaksi yang berorientasi pada ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. b) Denial (menyangkal), menghindarkan realitas ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengenalinya. c) Projeksi, mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek diluar diri atau melempar kekurangan diri sendiri pada orang lain. d) Menghindarkan stres terhadap karakteristik perilaku dari tahap perkembangan yang lebih awal. e) Displacement (mengisar), mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu kebenda atau orang yang netral atau tidak membahayakan. f) Mencari dukungan sosial, keluarga mencari dukungan atau bantuan dari keluarga, tetangga, teman atau keluarga jauh. g) Reframing, mengkaji ulang kejadian stres agar lebih dapat menanganinya dan menerimanya. h) Mencari dukungan spiritual, mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibadah. i) Menggerakan keluarga untuk dapat menerima bantuan, keluarga berusaha mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan orang lain. j) Reaksi berorientasi pada tugas Menurut Keliat (1998), reaksi berorientasi pada tugas merupakan reaksi yang berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realitis, dapat berupa konstruktif destruktif, misalnya : (1) Perilaku menyerang (agresif), dimana reaksi yang ditampilkan individu dalam mengahadapi masalah dapat konstruktif atau destruktif. Tindakan konstruktif misalnya penyelesaian masalah dengan teknik asertif yaitu tindakan yang dilakukan secara terus terang tentang ketidaksukaan terhadap perlakuan yang dilakukan secara terus terang tentang ketidaksukaan terhadap perlakuan yang tidak menyenangkan baginya, sedangkan tindakan destruktif yaitu individu melakukan tindakan penyerangan terhadap stressor dapat juga merugikan dirinya sendiri, orang lain atau lingkungannya. (2) Perilaku menarik diri, dimana reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari stres, sedangkan reaksi psikologis berupa perilaku apatis, isolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut yang berlebihan. (3) Perilaku kompromi yaitu cara yang digunakan oleh individu dimana dalam menyelesaikan masalahnya individu tersebut melakukan pendekatan negosiasi atau bermusyawarah. Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang.9 Sumber – sumber koping antara lain : 1) Kemampuan personal 2) Dukungan sosial 3) Aset Materi 4) Keyakinan Positif c. Faktor yang mempengaruhi strategi koping Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi.10 1) Kesehatan fisik Kesehatan fisik merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk dapat mengerahkan tenaga yang cukup besar. Usia juga merupakan unsur dari fisik seseorang dimana dalam rentang usia tertentu, individu mempunyai tugas perkembangan yang berbeda sehingga mempengaruhi cara berfikir dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi disekelilingnya. Struktur psikologis individu yang kompleks dan sumber strategi koping yang berubah sesuai tingkat usianya akan menghasilkan reaksi yang berbeda dalam menghadapi situasi yang menekan. Sehingga dapat dipastikan kalau koping individu itu akan berbeda untuk setiap tingkat usia.11 2) Keyakinan atau pandangan positif Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib yang mengarahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan yang akan menurunkan kemampuan strategi koping. 3) Keterampilan Memecahkan Masalah Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat. Pengalaman menjadi faktor utama yang berkaitan dengan keterampilan pemecahan masalah. Pengalaman berhubungan dengan lama bekerja, semakin lama bekerja semakin banyak pengalaman yang diperoleh maka akan semakin banyak kasus yang ditangani sehingga semakin mahir dan terampil dalam penyelesaian suatu pekerjaan.12 4) Keterampilan Sosial Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. 5) Dukungan Sosial Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. 6) Materi Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan termasuk diantaranya pendidikan. Individu yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan lebih tinggi pula perkembangan kognitifnya, sehingga akan mempunyai penilaian yang lebih realistis dan koping mereka akan lebih aktif dibandingkan mereka yang mempunyai pendidikan rendah.12 d. Macam – Macam Koping Macam – macam koping adalah sebagai berikut:4 1) Koping psikologis Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stres psikologis tergantung dari dua faktor : a) Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya. b) Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu artinya dalam menghadapi stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baikdan mejadi suatu pola baru dalam kehidupan tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. 2) Koping psikososial adalah reaksi psikososial terhadap adanya stimulus stres yang diterima atau dihadapi dala menghadapi stres dan kecemasan. e. Mekanisme Koping 1) Pengertian Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. Koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku. 2) Penggolongan mekanisme koping Mekanisme koping berdasakan penggolongannya dibagi menjadi dua , yaitu :9 a) Mekanisme koping adaptif Mekanisme koping adaptif yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah dengan orang lain , memecahkan masalah secara efektif , teknik relaksasi , latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. b) Mekanisme koping mal adaptif Mekanisme koping mal adaptif menghambat fungsi integrasi , memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan , menghindar. Dimensi koping dapat diidentifikasi menjadi dua , yaitu:2 a) Koping yang berfokus pada masalah (problem focused coping) mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan solusi. b) Koping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping) merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres, contohnya dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dari orang lain 3) Jenis dan strategi koping a) Jenis Koping (1) Koping jangka panjang Cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama, contohnya : (a) Berbicara dengan orang lain “curhat” (curah pendapat dari hati ke hati) dengan teman, keluarga atau profesi tentang masalah yang sedang dihadapi. (b) Mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi. (c) Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural. (d) Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan atau masalah. (e) Membuat berbagai alternatif tindakan untuk mengurangi situasi. (f) Mengambil pelajaran dari peristiwa atau pengalaman masa lalu (2) Koping jangka pendek Cara ini digunakan untuk mengurangi stres / ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif jika digunakan dalam jangka panjang, contohnya adalah: (a) Menggunakan alkohol atau obat-obatan (b) Melamun atau fantasi (c) Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyanangkan (d) Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil (e) Banyak tidur (f) Banyak merokok (g) Menangis (h) Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah. Selengkapnya...

Kamis, 21 Juni 2012

KTI KEBIDANAN 2012 : GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DAN PERILAKU IBU DALAM MENGATASI TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS

MAU LEBIH LENGKAP MURAH HUB : Hp. 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik buruknya keadaan pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu Negara atau daerah ialah kematian maternal (maternal mortality). Menurut definisi WHO ( World Health Organization) “kematian ibu ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan. Angka Kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu diperhitungkan terhadap 100.000 kelahiran hidup (Prawirohardjo, 2009; h. 7). Departemen Kesehatan pada tahun 2000 telah menyusun Rencana Strategi (Renstra) jangka panjang upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan kematian bayi baru lahir. Dalam renstra ini difokuskan pada kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk menjamin pelaksanaan dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang dikenal dengan sebutan “Making Pregnancy Safer (MPS)” melalui tiga pesan kunci yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran (Luhulima. 2007; h. 267-268). Angka kematian yang tinggi umumnya mempunyai tiga sebab pokok yaitu masih kurangnya pengetahuan mengenai sebab akibat dan penanggulangan komplikasi-komplikasi penting dalam kehamilan, persalinan, serta nifas, kurangnya pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, kurang meratanya pelayanan kebidanan yang baik bagi semua ibu hamil (Prawirohardjo, 2009; h. 7). Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya sebuah perilaku. Pengetahuan tentang tanda bahaya pada kehamilan sangat membantu menurunkan AKI, karena dengan mengetahui tanda bahaya pada kehamilan seorang ibu hamil akan lebih cepat mencari tempat pelayanan kesehatan sehingga risiko pada kehamilan akan dapat terdeteksi dan tertangani lebih dini. Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan (Notoatmodjo, 2007; h. 140). Bentuk penyebab langsung kematian ibu disebut dengan trias klasik berupa perdarahan, infeksi, dan gestosis atau keracunan kehamilan. Sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu seperti kehamilan dengan anemia, tindakan yang tidak aman dan tidak bersih pada abortus dan kekurangan gizi pada ibu hamil (Manuaba, 2007; h.6). Di Indonesia, berdasarkan perhitungan oleh Departemen Kesehatan RI diperoleh AKI tahun 2007 sebesar 248/100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002 sebesar 307/100.000 kelahiran hidup, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 (102/100.000 kelahiran hidup) (Efendy, 2009; h. 205). Angka kematian ibu hamil di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 berjumlah 114 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan pada 2009 naik menjadi 117 kematian per 100 ribu kelahiran hidup (Nugroho, 2010). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, diperoleh data AKI pada tahun 2009 adalah 191,61 per 100.000 kelahiran hidup. Dan dari 46 kematian ibu disebabkan karena perdarahan sebanyak 8 orang (17,4%), pre eklamsi berat dan eklamsi 11 orang (23,9%), infeksi 3 orang (6,5%), solusio plasenta 4 orang (8,7%), hipertensi 1 orang (2,2%), dan lain-lain termasuk penyebab tak langsung 19 orang (41,3%). Dimana kasus ini lebih meningkat dibanding tahun 2008 sebesar 86,87 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini menjadikan kabupaten Grobogan peringkat ke-2 setelah kabupaten Pemalang dari seluruh provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, deteksi resiko di Puskesmas Brati tahun 2010 terdapat 315 orang (34,5%) dari 911 ibu hamil. Berdasarkan data laporan ibu hamil Puskesmas Brati terdapat 16 ibu hamil yang termasuk beresiko dari 45 ibu hamil yang periksa di Puskesmas pada bulan Desember, yaitu perdarahan sebanyak 2 orang (12,5%), hiperemesis gravidarum 3 (18,75%), hipertensi 3 (18,75%), pre eklamsi 1 (6,25%), anemia 3 (18,75%), primigravida muda 2 (12,5%),grande multigravida 2 (12,5%). Oleh karena itu saya ingin melakukan penelitian mengenai GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DAN PERILAKU IBU DALAM MENGATASI TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Tanda Bahaya Kehamilan dan Perilaku Ibu dalam Mengatasinya?”. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dan perilaku ibu dalam mengatasinya di Puskesmas .. Tujuan Khusus Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas .. Mengetahui gambaran perilaku ibu hamil dalam mengatasi tanda bahaya kehamilan di Puskesmas .. Manfaat Penelitian Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bacaan dan refrensi bagi mahasiswa di institusi pendidikan tentang tanda bahaya kehamilan. Bagi Profesi (bidan) Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi tambahan bagi tenaga kesehatan khusunya bidan yang ada di wilayah tersebut mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan sehingga dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Bagi Peneliti Menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah serta mampu mengetahui lebih dalam mengenai tanda bahaya kehamilan. Bagi Masyarakat Memberikan pengetahuan khususnya pada ibu hamil tentang tanda-tanda bahaya kehamilan. Sehingga kemungkinan terjadinya resiko dan komplikasi dapat terdeteksi lebih dini dan segera mendapatkan penatalaksanaan awal. Keaslian Penelitian Shinta Kusumaning Pribadi (2008) melakukan penelitian tentang “Hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan melakukan ANC di Puskesmas Ponjong II Gunung Kidul Yogyakarta”. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan ANC di puskesmas Ponjong II Gunung Kidul Yogyakarta. Berdasarkan penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan melakukan ANC di Puskesmas Ponjong II Gunung Kidul Yogyakarta. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang akan dilakukan ini jenis penelitiannya deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dengan variabel penelitiannya tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dan perilaku ibu dalam mengatasinya di Puskesmas .. Ayu Rasita Mayasari (2010) melakukan penelitian tentang “Perbedaan tingkat pengetahuan antara primigravida dan multigravida tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Sibela Surakarta”. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Dan variabel dalam penelitian adalah tingkat pengetahuan antara primigravida dan multigravida tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Sibela Surakarta. Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan tingkat pengetahuan antara primigravida dan multigravida tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Sibela Surakarta. Multigravida memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dari pada primigravida tentang tanda bahaya kehamilan. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Dengan variabel penelitian tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dan perilaku ibu dalam mengatasinya di Puskesmas .. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Telaah Pustaka Kehamilan Pengertian Kehamilan adalah masa dimulai dari konsepsi sampai dengan lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Prawirohardjo, 2006; h. 89). Kehamilan adalah sebuah proses yang diawali dengan keluarnya sel telur yang matang pada saluran telur yang kemudian bertemu dengan sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan bertumbuh (BKKBN, 2004). Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian, masing-masing kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu), triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu), triwulan terakhir (antara 28 sampai 40 minggu) (Prawirohardjo, 2006; h. 124). Untuk melakukan asuhan kehamilan yang baik, diperlukan pengetahuan dan kemampuan untuk mengenali perubahan fisiologik yang terkait dengan proses kehamilan. Pengenalan dan pemahaman tentang perubahan fisiologik tersebut menjadi modal dasar dalam mengenali kondisi patologik yang dapat mengganggu status kesehatan ibu ataupun bayi yang dikandungnya (Prawirohardjo, 2009; h. 213). Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah pembuahan dan terus berlanjut selama kehamilan. Untuk dapat mengerti proses penyakit yang terjadi selama kehamilan dan masa nifas maka harus disertai pemahaman mengenai perubahan anatomi dan fisiologi ini (Prawiroharjo, 2008; h. 174). Perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada ibu hamil adalah sebagai berikut: Sistem Reproduksi Uterus Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan. Pada minggu-minggu pertama kehamilan, uterus masih seperti bentuk aslinya seperti buah avokad. Panjang uterus akan bertambah lebih cepat dibandingkan lebarnya sehingga akan berbentuk oval (Prawiroharjo, 2008; h. 175). Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir bulan. Pada permulaan kehamilan posisi rahim antefleksi atau retrofleksi. Pada 4 bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam rongga pelvis. Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati. Pada ibu hamil, rahim biasanya mobile, lebih mengisi rongga abdomen kanan atau kiri. Serviks uteri bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak. Klenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mukus. Oleh karena bertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya menjadi livid, dan ini disebut dengan tanda Chadwik (Sulistyawati, 2009; h. 60-61). Ovarium Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesteron (Sulistyawati, 2009; h. 60-61). Vagina dan vulva Oleh karena pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisasi pada vagina dan vulva, sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda chadwik (Sulistyawati, 2009; h. 60-61). Sistem Kardiovaskular Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya atau biasa disebut sebagai curah jantung meningkat sampai 30-50%. Peningkatan mulai terjadi pada usia kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada usia kehamilan 16-28 minggu. Oleh karena curah jantung meningkat, maka denyut jantung pada saat istirahat juga meningkat (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90 kali/menit). Setelah mencapai usia kehamilan 30 minggu, curah jantung agak menurun karena pembesaran rahim menekan vena yang membawa darah dari tungkai ke jantung. Janin yang terus tumbuh menyebabkan darah lebih banyak dikirim ke rahim ibu, sehingga curah jantung meningkat (Sulistyawati, 2009; h. 61-62). Sistem Urinaria Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat yang puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat sebelum persalinan. Pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang akibat penekanan rahim yang membesar. Peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi saat wanita hamil tidur miring sehingga menyebabkan ibu hamil sering merasa ingin berkemih ketika berbaring (Sulistyawati, 2009; h. 62-63). Sistem Gastrointestinal Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah, sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit semakin berat karena gerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesteron (Sulistyawati, 2009; h. 63). Sistem Metabolisme Janin membutuhkan kalsium rata-rata 1,5 gram sehari dan 30-40 gram kalsium untuk pembentukan tulang terutama di trimester akhir. Asupan kalsium sangat diperlukan untuk menunjang kebutuhan yang mencapai 70% dari diet biasanya. Fosfor dibutuhkan rata-rata 2gr/hr. Dan pada wanita hamil cenderung mengalami retensi air sehingga kebutuhan cairan meningkat (Sulistyawati, 2009; h. 63-64). Sistem Muskuloskeletal Adanya sakit punggung pada wanita hamil disebabkan oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesaran uterus. Bentuk tubuh selalu berubah menyesuaikan dengan pembesaran uterus ke depan karena tidak adanya otot abdomen. Bagi wanita yang kurus lekukan lumbalnya lebih dari normal dan menyebabkan lordosis dan gaya beratnya berpusat pada kaki bagian belakang yang menyebabkan rasa sakit yang berulang terutama di bagian punggung (Sulistyawati, 2009; h. 64-65). Kulit Topeng kehamilan (chloasma gravidarum) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak dikulit kening dan pipi. Peningkatan pigmentasi juga terjadi disekeliling putting susu. Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya serabut elastik di bawah kulit, sehingga menimbulkan striae gravidarum. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya yang disebut sebagai linea nigra (Sulistyawati, 2009; h. 65). Payudara Untuk proses laktasi, payudara mengalami banyak perubahan. Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat. Dapat teraba nodul-nodul akibat hipertrofi kelenjar alveoli. Bayangan vena-vena lebih membiru. Areola mamae menghitam. Kalau diperas akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning (Sulistyawati, 2009; h. 65). Sistem Endokrin Progesteron dan estrogen merangsang prolifelasi dari desidua (bagian dalam uterus) dalam upaya mempersiapkan implantasi jika kehamilan terjadi. Plasenta yang terbentuk secara sempurna dan berfungsi 10 minggu setelah pembuahan terjadi, akan mengambil alih tugas korpus luteum untuk memproduksi estrogen dan progesteron (Sulistyawati, 2009; h. 66). Sistem Pernafasan Ruang abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan hormon progesteron menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita hamil bernafas lebih capat dan dalam karena memerlukan lebih banyak oksigen untuk janin dan dirinya (Sulistyawati, 2009; h. 69). Tanda Bahaya Kehamilan Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan/periode antenatal, yang apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu (Pusdiknakes, 2003). Tanda-tanda bahaya pada kehamilan adalah tanda-tanda yang terjadi pada seorang Ibu hamil yang merupakan suatu pertanda telah terjadinya suatu masalah yang serius pada Ibu atau janin yang dikandungnya (Ziaetraelmart, 2009). Tanda bahaya kehamilan tersebut adalah sebagai berikut Perdarahan Adalah salah satu komplikasi kehamilan terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya perdarahan. Perdarahan dapat terjadi disetiap usia kehamilan. Pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus, miscarriage, early pregnancy loss. Perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan yang lebih tua terutama setelah melewati trimester III disebut perdarahan antepartum (Prawirohardjo, 2009; h. 459). Perdarahan pada kehamilan tersebut dibagi menjadi 2, meliputi : Perdarahan pada hamil muda Ada beberapa hal yang memungkinkan adanya perdarahan pada kehamilan muda,yaitu Implantasi embrio Perdarahan dalam jumlah yang sangat sedikit / bintik-bintik pada awal kehamilan bisa merupakan hal normal yang disebut implantasi embrio pada dinding rahim yang menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah yang biasanya terjadi sekitar kehamilan minggu ke 7-9 dan hanya terjadi satu atau dua hari saja (Melda, 2009; h. 46). Abortus Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin dari 500 gram (Prawirohardjo, 2009; h. 460). Kehamilan Mola Disebut juga dengan kehamilan anggur, yaitu adanya jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai anggur atau mata ikan. Pada kehamilan jenis ini diantaranya memiliki tanda dan gejala seperti mual muntah yang berlebihan, kadang kala ada toksemia gravidarum (pusing, gangguan penglihatan, tekanan darah tinggi), terdapat perdarahan sedikit atau banyak, pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan (Sulistyawati, 2009; h. 150). Kehamilan Ektopik Kehamilan ektopik atau hamil diluar kandungan terjadi akibat sel telur yang sudah dibuahi tidak masuk dan tertanam dalam rahim, tetapi justru di saluran indung telur atau leher rahim. Gejala-gejala yang biasa ditemui adanya perasaan nyeri dan sakit yang tiba-tiba diperut seperti diiris-iris dengan pisau disertai dengan muntah dan bisa sampai jatuh pingsan (Indiarti, 2007; h. 80). Perdarahan pada hamil tua Plasenta Previa Suatu keadaan dimana plasenta berimplantasi atau menempel pada tempat yang abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Perdarahan kadang terjadi pada bangun tidur di pagi hari, tanpa disadari. Jumlah darah yang keluar biasanya akan bertambah banyak dari jumlah darah yang keluar sebelumnya (Sulistyawati, 2009; h. 155-157). Solusio Plasenta Terlepasnya plasenta yang letaknya normal di fundus/korpus uteri sebelum janin lahir dan biasanya dihitung sejak usia kehamilan lebih dari 28 minggu (Sujiyatini, 2009; h. 51-52). Gejala yang dimunculkan darah yang keluar berwarna merah tua, nyeri perut dan uterus tegang terus-menerus seperti kontraksi (Prawirohardjo, 2009; h. 507) Hiperemesis gravidarum Menurut Huliana (2001) yang dikutip oleh Mayasari (2010), menjelaskan keluhan muntah pada ibu hamil adalah gejala yang wajar dan sering ditemukan pada kehamilan 1-3 bulan. Mual biasanya terjadi pagi hari, gejala ini akan hilang sedikit demi sedikit di akhir trimester pertama. Akan tetapi ada kalanya keluhan ini bertambah berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk, keluhan ini disebut hyperemesis gravidarum. Keadaan mual muntah terus-menerus merupakan keadaan yang berbahaya dalam kehamilan, karena akan mengganggu pertumbuhan janin dan memperburuk keadaan ibu dan janin. Penanganan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah usia kehamilan 4 bulan, menganjurkan makan dalam jumlah porsi kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin (Prawiroharjo, 2006; h. 278). Sakit Kepala Hal ini bisa merupakan indikasi kehamilan yang berbahaya. Biasanya ini terjadi akibat kekurangan darah (anemia) dan hipertensi (Solihah,2008;h.43) Sakit kepala yang menunjukkan masalah serius adalah sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre eklamsi (Sulistyawati, 2009; h. 161). Penglihatan Kabur Oleh karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat berubah selama proses kehamilan. Masalah penglihatan yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan penglihatan yang mendadak, misalnya pandangan yang kabur atau berbayang secara mendadak. Perubahan ini mungkin disertai dengan sakit kepala yang hebat dan mungkin merupakan gejala dari pre eklamsi (Sulistyawati, 2009; h. 161).. Bengkak di Wajah dan Tangan Hampir separuh ibu hamil akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat dengan meninggikan kaki. Bengkak biasanya menunjukkan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat, dan disertai dengan keluhan fisik yang lain. Bengkak diwajah dan tangan dapat merupakan pertanda gagal jantung atau pre-eklamsi (Sulistyawati, 2009; h. 161). Air Ketuban Keluar Sebelum Waktunya Air ketuban keluar sebelum waktunya atau ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan. Air yang keluar berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak / ngepyok. Hati-hati akan adanya persalinan preterm/belum cukup bulan dan komplikasi infeksi (Mansjoer, 2000; h. 310-313). Gerakan Janin Kesejahteraan janin dapat diketahui dari keaktifan gerakannya. Minimal 10 kali dalam 12 jam. Gerakan bayi akan lebih terasa jika ibu dalam kondisi berbaring atau beristirahat. Jika kurang dari 10 kali dalam 12 jam, maka waspada akan adanya gangguan janin dalam rahim sampai kematian janin (Sulistyawati,2009;h.161). Nyeri Perut yang hebat Sebelumnya harus dibedakan nyeri yang dirasakan adalah bukan his atau kontraksi seperti pada persalinan. Pada kehamilan lanjut, jika ibu nyeri yang hebat, tidak berhenti setelah beristirahat, disertai dengan tanda-tanda syok yang membuat keadaan umum ibu makin lama makin memburuk dan disertai perdarahan yang tidak sesuai dengan beratnya syok, maka harus waspada akan kemungkinan terjadinya solusio plasenta (Sulistyawati, 2009; h. 162). Demam Tinggi Ibu menderita demam dengan suhu tubuh >38ºC dalam kehamilan merupakan suatu masalah. Demam tinggi dapat merupakan gejala adanya infeksi dalam kehamilan (Prawirohardjo, 2008; h. 248). Pengetahuan Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviuor) (Notoatmodjo,2007;h. 139-140). Proses Adopsi Perilaku Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pada pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berututan, yakni : Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus Evaluation (menimbang-menimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru Adoption, subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaiknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2007; h. 40). Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu : Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu diri merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan anlisis ini dapat di lihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat di lakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo, 2007; h. 140-142). Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Wawan (2010; h. 14-15). Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip adalah sebagai berikut : Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan Cara coba salah (Trial and Error) Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Cara kekuasaan atau otoritas Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan sebagainya. Prinsip inilah, orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri. Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulangi pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah : Faktor Internal Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Dikutip dari Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Pekerjaan Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Umur Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur undividu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Hurclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa. Faktor Eksternal Faktor Lingkungan Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam (3 lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok). Sosial Budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi (Wawan, 2010; h. 16-18). Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Arikunto (2006) yang dikutip (Wawan, 2010; h. 18) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu : Baik : Hasil presentase 76%-100% Cukup : Hasil presentase 56%-75% Kurang : Hasil presentase < 56% Perilaku Pengertian Perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007; h. 133). Menurut Notoatmodjo (2007; h. 133) dikutip dari Skiner (1938) seorang ahli psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua : Perilaku tertutup (covert behaviour) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Perilaku terbuka (overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo, 2007; h. 134). Perilaku Kesehatan Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007; h. 136), maka perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok. Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance) Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk menyembuhkan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek yaitu: Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseoramg, bahkan dapat mendatangkan penyakit. Hal ini tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri (Notoatmodjo, 2007; h. 136). Perilaku kesehatan lingkungan Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Seorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini. (Notoatmodjo, 2007; h. 138). Perilaku hidup sehat Adalah perilaku-perilaku yang barkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain : Menu seimbang Olahraga teratur Tidak merokok Tidak minum-minuman keras dan narkoba Istirahat yang cukup Mengendalian stress Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan Perilaku sakit (illness behavior) Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya. Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2012 : PENGETAHUAN SISWA MTS N 1 KELAS VIII TENTANG TANDA-TANDA PUBERTAS.

MAU LEBIH LENGKAP MURAH HUB : 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yaitu salah satunya dengan menyiapkan generasi muda yang mumpuni yang merupakan investasi bangsa, (World Health Organization) WHO tahun 1998, menghimbau semua Negara Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi kebutuhan remaja akan informasi, keterampilan, pelayanan dan lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja (Soetjiningsih, 2007, p. 152). Tujuan kesehatan reproduksi remaja adalah menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang tidak aman, menurunkan penularan Inveksi Menular Seksual/Human Imunodeficiency Virus-Aqcuired Immune Deficiency Syndrome (IMS/HIV-AIDS), dengan cara memberikan informasi kontrasepsi dan konseling yang dilakukan oleh tenaga yang berkompeten (Soetjiningsih, 2007, p.152). Remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas, dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal, tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan ciri tersendiri pada setiap remaja (Soetjiningsih, 2007, p.1). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Masa remaja menjadi masa yang begitu khusus dalam hidup manusia karena pada masa itu terjadi proses awal kamatangan organ-organ reproduksi manusia yang disebut masa pubertas. WHO menggolongkan masa remaja menjadi tiga yaitu remaja awal (Early Adolescence) usia 10-14 tahun remaja pertengahan (Middle Adolescence) dan remaja akhir (Late Adolescence) usia 15-20 tahun (Sarwono, 2005, p.127). Dalam kehidupan individu selalu mengalami perubahan baik dari aspek fisik, psikis, maupun psikososialnya pada kehidupan remaja perubahan fisik yang terjadi pada remaja pubertas wanita antara lain dimulai dari menstruasi yang pertama kali (menarche), perkembangan payudara, pinggang menjadi besar, suara menjadi merdu, tumbuhnya rambut pada pubis dan alat kelamin, serta bertambah tinggi badan sedangkan pada laki-laki dimulai dari mimpi basah, tumbuh kumis, jenggot, rambut ketiak, suara menjadi lebih besar dan tingggi badan (Harlock, 2003, p.184). Pada pubertas juga mengalami perkembangan emosi yang terlihat dalam upayanya untuk mencari jati diri dalam pengakuan dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu masa remaja dipandang sebagai suatu proses yang kritis dalam proses perkembangan sebelum menjadi dewasa. Menurut data yang diperoleh di MTS N Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal yang berjumlah 254 siswa yang terdiri dari kelas VIII memiliki 147 siswa, pada tanggal 10 juni 2011 berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru BP dan kepala sekolah belum pernah diadakan penyuluhan tentang tanda-tanda pubertas sebelumnya. Berdasarkan studi pendahuluan dengan wawancara pada 10 siswa, 4 siswa mengetahui tentang tanda-tanda pubertas dan 6 siswa belum mengetahui tentang tanda-tanda pubertas. Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk melakukan identifikasi PENGETAHUAN SISWA MTS N KELAS VIII TENTANG TANDA-TANDA PUBERTAS. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah tersebut diatas, penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut “Bagaimana pengetahuan siswa MTS N kelas VIII tentang tanda-tanda pubertas? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengidentifikasi pengetahuan siswa MTs kelas VIII tentang tanda-tanda pubertas di MTS N. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan pengetahuan tentang tanda-tanda pubertas pada siswa perempuan di MTS N Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal. b. Mendeskripsikan pengetahuan tentang tanda-tanda pubertas pada siswa laki-laki di MTS N Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi masyarakat Sebagai pengetahuan dan wawasan dalam mengenali dan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi terutama tanda-tanda pubertas. 2. Bagi institusi pendidikan kebidanan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber inspirasi maupun referensi untuk penelitian selanjutnya dan dapat menambah bahan kepustakaan di STIKES khususnya Prodi DIII Kebidanan. 3. Bagi peneliti Peneliti dapat menambah wawasan pengetahuan dalam memberikan penyuluhan kesehatan khususnya pada remaja saat memasuki pubertas. 4. Bagi remaja Memberikan informasi dibidang kesehatan reproduksi kepada remaja tentang tanda pubertas khususnya di MTS N meliputi pengetahuan tentang tanda-tanda pubertas E. Keaslian Penelitian Tabel 1.1 Keaslian Penelitian No Judul, nama, tahun Sasaran Variasi yang diteliti Metode Hasil 1 Efektivitas penyuluhan tentang perubahan fisik masa pubertas pada remaja putri di SMP N 37 Semarang, Anggi Eka Puspitasari, 2010 Siswa-siswa SMP Negeri 37 Semarang Penyuluhan tentang perubahan fisik dan pubertas pada remaja putri Penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian pre eksperimental dan pendekatan one group pre test and post test Hasil yang dipeoleh pengetahuan tentang perubahan fisik masa pubertas sebelum penyuluhan adalah cukup yaitu sebanyak 31 orang (79,5%) dan setelah penyuluhan adalah baik yaitu sebanyak 22 orang (56,41%) terjadi peningkatan rata-rata nilai pengetahuan sebelum dengan setelah penyuluhan. Ada perbedaan yang bermakna pada tingkat pengetahuan tentang perubahan fisik masa pubertas pada remaja putri di SMP Negeri 37 Semarang sebelum dan setelah penyuluhan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2003, p.121). b. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo, 2003, p.p 122-123 tingkat pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu : 1) Tahu (Know) Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah dimana tahu berarti mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk menyebutkan, penguraian, mengidentifikasi dan menyatakan sebagai contoh seorang remaja dapat menyebutkan tanda-tanda pubertas setelah diberikan penjelasan. 2) Memahami (Comprehention) Memahami adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan menginterprestasikan materi tersebut secara benar, termasuk menyimpulkan dan meramalkan terhadap obyek yang dipelajari sebagai contoh seorang remaja dapat menjelaskan mengapa remaja melakukan seks bebas. 3) Aplikasi (Application) Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau keadaan sebenarnya. Misalnya remaja dapat menerapkan prinsip pencegahan perilaku seksual remaja terhadap suatu kasus yang diberikan. 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih berkaitan. Misalnya remaja dapat menjelaskan perubahan fisik pubertas dan dapat membedakan antara perubahan laki-laki dan perempuan. 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis adalah kamampuan untuk malakukan dan menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru. Misalnya seorang remaja diberi penjelasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual dan cara mengatasinya selanjutnya dapat menyusun rencana pemecahan masalah perilaku seksual sehingga dapat menyusun, merencanakan, dan menyesuaikan suatu kriteria yang ditentukannya sendiri. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi (penilaian) terhadap suatu materi/obyek. Sebagai contoh seorang remaja telah mendapat penjelasan tentang perilaku seksual, remaja dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. c. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Pengetahuan seseorang termasuk pengetahuan mengenai kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor berdasarkan penelitian yang telah dilakukan (Notoadmodjo, 2003). Secara garis besar faktor-faktor tersebut : 1) Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang akan datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan remaja peroleh. 2) Paparan media masa Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik, berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media masa (TV, radio, majalah, pamphlet, dan lain-lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar media masa. 3) Ekonomi Dalam pemenuhan kebutuhan (pokok) primer maupun kebutuhan sekunder keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan informasi pendidikan yang termasuk kebutuhan sekunder. 4) Hubungan sosial Manusia adalah makhluk sosial dimana didalam kehidupan berinteraksi antara satu dengan yang lain individu dapat berinteraksi secara kontinue akan lebih besar terpapar informasi. 5) Pengalaman Pengalaman individu tentang berbagai hal biasa yang bisa diperoleh dari tingkat kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya mengikuti kegiatan yang sifatnya mendidik seperti seminar. 6) Akses layanan kesehatan Akses layanan kesehatan mudah atau sulit dalam mengakses layanan kesehatan tentunya akan berpengaruh terhadap pengetahuan dalam kesehatan. d. Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan dapat diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu : 1) Baik : hasil presentase 76%-100% 2) Cukup : hasil presentase 56%-75% 3) Kurang : hasil presentase < 55s% e. Cara memperoleh pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2002, pp.11-18), cara memperoleh pengetahuan ada 2 cara yaitu : 1) Cara tradisional atau cara ilmiah untuk memperoleh pengetahuan. Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukanya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi a) Cara coba salah (trial and error) Cara yang paling tradisional pernah digunakan oleh manusia memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba salah atau dengan kata yang lebih dikenal trial and error. Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah, upaya pemecahannya dilakukan dengan coba saja. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan cara tersebut tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain. b) Cara kekuasaan / otoritas Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-menurun dari generasi ke generasi berikutnya. c) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru yang baik, pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. oleh sebab itu pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama orang dapat pula menggunakan cara tersebut. Tetapi bila remaja gagal menggunakan cara tersebut remaja tidak akan mengulangi cara itu dan berusaha untuk mencari cara yang lain sehingga dapat berhasil memecahkannya. d) Melalui jalan pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam me Selengkapnya...

Jumat, 25 Mei 2012

KTI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI BPS

MAU LEBIH LENGKAP HUB : 081225300100 Murah
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Perkiraan prevalensi anemia secara global sekitar 50%. Bandingkan dengan prevalensi untuk anak balita sekitar 43%, anak usia sekolah 37%, lelaki dewasa hanya 18% dan wanita tidak hamil meningkat sampai sebesar 55%. Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat dan atau vitamin B12 yang kesemuanya berakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati rendah (buruk) dan kecacingan masih tinggi. (Arisman, 2004 : 144) Jika ibu kekurangan zat besi selama hamil, maka persediaan zat besi pada bayi saat dilahirkan pun tidak akan memadai, padahal zat besi sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak bayi diawal kelahirannya. Kekurangan zat besi sejak sebelum hamil bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Kekurangan zat besi juga mengakibatkan kekurangan hemoglobin (Hb) dimana zat besi sebagai salah satu unsur pembentukannya. (Arifin, 2010) Menurut Prawiroharjo (2002) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992, bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi. Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20%. (Amiruddin, 2007) Di Jawa Tengah ibu hamil pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi anemia adalah 57,7%. Masih lebih tinggi dari angka nasional yakni 50,9% (BPS, 2007 Profil Kesehatan Jawa Tengah). Pada tahun 2008 jumlah ibu hamil di kota Semarang berjumlah 29.261 orang. Ibu hamil yang diukur kadar Hb kurang dari 10 gr% ada 20,79%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008) Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada balita, bumil, bufas, remaja putri, dan WUS (Wanita Usia Subur). Hasil survey anemi ibu hamil pada 15 kabupaten/ kota pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi anemia di Jawa Tengah adalah 57,7%, angka ini masih lebih tinggi dari angka nasional yakni 50,9%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008) Penanggulangan anemia pada ibu hamil dilaksanakan dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilannya. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar 87,06%, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2007 sebesar 85,91%. Meskipun mengalami peningkatan, angka tersebut masih di bawah target SPM 2010 sebesar 90%. Cakupan tertinggi adalah di Kabupaten Pekalongan yaitu sebesar 98,95% dan yang terendah adalah di Kabupaten Kebumen sebesar 41,89%. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008) Pada tahun 2008 pemberian tablet (Fe)1 28.440 bumil (101,56) dan cakupan (Fe)3 25.801 bumil (92,14). Hal ini menunjukan bahwa penjaringan pertama pada ibu hamil sudah dapat dilaksanakan sesuai target namun untuk penjaringan selanjutnya (Fe)3 90 tablet tidak dapat mencakup jumlah tersebut. Secara keseluruhan angka tersebut telah memenuhi target yang telah ditentukan yaitu untuk (Fe)1 90% dan untuk Fe2 82%. Keberhasilan pencapaian target dikarenakan persediaan tablet Fe yang mencukupi dan juga pelaksaan kegiataan melalui koordinasi dan kerjasama dengan lintas program dan sektoral yang terkait. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008) Di semarang, Ibu hamil yang mempunyai tingkat konsumsi Fe kurang yaitu 57,9%, Ibu hamil yang minum tablet besi dengan menggunakan air teh ada 56,9% dan sisanya dengan air putih, air sirup, dan pisang. Jumlah rata-rata tablet besi yang diperoleh responden selama hamil 159,47 tablet. Konsumsi tablet besi yang diperoleh ibu hamil rata-rata 61,11 tablet dengan jumlah terendah 15 tablet dan tertinggi 96 tablet. Presentase tablet besi yang diminum ibu hamil dibandingkan dengan tablet besi yang diperoleh 38,32%. Proporsi kadar Hb ibu hamil Trimester III diperoleh hasil 63,2% memiliki kadar Hb<11 gr%. Melihat tingginya proporsi anemia maka disarankan pada ibu hamil untuk meningkatkan konsumsi protein hewani terutama golongan Meat factor, menghindari konsumsi tablet besi dengan air teh, perlunya sistim pantau konsumsi tablet besi dari pihak puskesmas dan peningkatan konsumsi vitamin C pada ibu hamil terutama dari makanan sehari-hari. (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2008) Menurut hasil penelitian dari Amatullah (2009) kurangnya pemanfaatan ANC pada ibu hamil sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia karena ibu hamil tidak terpantau dengan baik status gizinya dan kadar Hbnya. Berdasarkan data DINKES (Dinas Kesehatan) Kabupaten Blora diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami anemia tahun 2007 berkisar 29,5% dengan menetapkan HB 11 gr % sebagai dasarnya. Pada tahun 2008 angka kejadian anemia pada ibu hamil meningkat yaitu menjadi 33,5% dengan penetapan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. (Dinkes Kabupaten Blora, 2009) Dari hasil survey di dapatkan ibu hamil di BPS Ny. Fitri pada tahun 2009 berjumlah 514 orang, dimana ibu hamil yang menderita anemia sebanyak 124 orang (24%) sedangkan pada tahun 2010 berjumlah 483 orang dengan ibu hamil yang menderita anemia sebanyak 130 orang (27%). Dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan ibu hamil yang menderita anemia dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebanyak 3%. Termasuk masih banyak ibu hamil yang menderita anemia setiap tahunnya. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa ibu hamil yang menderita anemia dikarenakan cara mengkonsumsi tablet besi yang salah, seperti waktu dan cara minum tablet besi. Banyak diantara mereka yg tidak rutin mengkonsumsi tablet besi pada malam hari, dan bahkan mengkonsumsi dengan menggunakan air teh. Hal tersebut diatas menggambarkan kurangnya pengetahuan pada ibu hamil. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu“ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Dimana pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Berdasarkan dari data diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap Kejadian Anemia Di BPS xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx“. B. Rumusan Masalah “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap Kejadian Anemia Di BPS xxxxxxxxxxxx2011?” C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxxxxtahun 2011. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxxxxtahun 2011 b. Mendeskripsikan kejadian anemia ibu hamil di BPS Xxxxxtahun 2011 c. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kejadian anemia di BPS Xxxxxtahun 2011. D. Manfaat Penelitian 1. Untuk Instansi Kesehatan Diharapkan dapat memberikan acuhan dan informasi dalam peningkatan program pencapaian target penurunan angka kejadian anemia pada ibu hamil 2. Untuk Instansi Pendidikan Diharapkan dapat sebagai masukan bagi pengembangan pendidikan kebidanan terutama tentang pengetahuan ibu hamil tentang tablet besi 3. Untuk Masyarakat Diharapkan dapat sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar mereka lebih memahami tentang kesehatan terutama anemia ibu hamil dan manfaat tablet besi 4. Untuk Peneliti Diharapkan dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh dengan mengidentifikasi dan menganalisa suatu permasalahan di lapangan serta memperluas penelitian tentang hal-hal yang berkaitan dengan tablet besi. E. Keaslian Penelitian No Nama Peneliti/ Judul Variabel yang diteliti Responden Analisa Hasil 1. 2. Sumiyarni (2010) “Hubungan Antara Konsumsi Tablet Besi Dengan Anemia Ibu Hamil Di Puskesmas Karanganyar II Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak Tahun 2010” Masudah (2010) “Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Anemia Ibu Hamil Di Desa Gemiring Kidul Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara” Konsumsi tablet besi dengan anemia ibu hamil Pengetahuan ibu hamil dengan anemia ibu hamil Ibu hamil di Puskesmas Karanganyar II Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak Ibu hamil di Desa Gemiring Kidul Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara Analisis data menggunakan univariat dan bivariat Analisa data dengan menggunakan uji statistik Chi-Square Hubungan antara konsumsi tablet besi dengan anemia ibu hamil dengan kategori hasil : 1. 70 responden (55,6%) mengkonsumsi tablet besi minimal 90 tablet dan 56 responden (44,4%) mengkonsumsi tablet besi kurang dari 90 tablet 2. 73 responden ( 57,9%) mengalami anemia sedang 3. Ada hubungan antara “Konsumsi Tablet Besi Dengan Anemia Ibu Hamil Di Puskesmas Karanganyar II Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak Tahun 2010”, dengan nilai X² hitung = 13,372 > X² tabel = 5,991 dan p value hitung = 0,001 < α = 0,05. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Anemia Ibu Hamil dengan kategori hasil: 1. Terdapat 60% pada kasus dan 0% pada control dengan kategori pengetahuan kurang baik tentang anemia di Desa Gemiring Kidul Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara 2. Ibu hamil dengan anemia di Desa Gemiring Kidul Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara sebanyak 15 orang 3. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu hamil dengan kwjadian anemia pada ibu hamil di Desa Gemiring Kidul Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Anemia Pada Ibu Hamil a. Pengertian Anemia Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl selama masa kehamilan pada trimester 1 dan ke-3 dan kurang dari 10 g/dl selama masa post partum dan trimester 2. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. (Proverawati, 2009 : 76) Anemia dalam kehamilan dapat mengakibatkan dampak yang membahayakan bagi ibu dan janin. Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko terjadinya perdarahan postpartum. Bila anemia terjadi sejak awal kehamilan dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur. (Proverawati, 2009 : 76) b. Etiologi Menurut Proverawati (2009 : 76) anemia dalam kehamilan sama seperti yang terjadi pada wanita yang tidak hamil. Semua anemia yang terdapat pada wanita usia reproduktif dapat menjadi hormon penyulit dalam kehamilan. Penyebabnya antara lain : 1) Makanan yang kurang bergizi 2) Gangguan pencernaan dan malabsorpsi 3) Kurangnya zat besi dalam makanan (kurang zat besi dalam diit) 4) Kebutuhan zat besi yang meningkat 5) Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain 6) Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain. Sedangkan faktor predisposisi terbesar terjadinya anemia adalah status gizi yang buruk dengan defisiensi multivitamin, dimana hal ini masih banyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. c. Klasifikasi Anemia Kehamilan Menurut Proverawati (2009 : 76) secara umum anemia dalam kehamilan diklasifikasikan menjadi : 1) Anemia Defisiensi Besi sebanyak 62,3% Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan. Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan metode sahli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut : a) Hb 11 gr% : Tidak anemia b) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan c) Hb 7-8 gr% : Anemia sedang d) Hb <7 gr% : Anemia berat 2) Anemia Megaloblastik sebanyak 29% Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pterylglutamic acid) dan defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin) walaupun jarang. 3) Anemia Hipoplastik dan Aplastik sebanyak 8% Anemia disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. 4) Anemia Hemolitik sebanyak 0,7% Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pada pembuatannya. Menurut penelitian, ibu hamil dengan anemia paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi (Fe) serta asam folat dan vitamin B12. Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil dengan anemia pada dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak mengandung protein, zat besi (Fe), asam folat, vitamin B12. (Proverawati, 2009 : 76) d. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ibu hamil dengan anemia adalah sebagai berikut : keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal (perlu dicurigai anemia defisiensi), mengalami malnutrisi, cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda (Proverawati, 2009 : 76). e. Akibat Anemia Kehamilan Menurut Proverawati (2009 : 76) akibat yang akan terjadi pada anemia kehamilan adalah : 1) Hamil muda (trimester pertama) : abortus, missed abortus, dan kelainan kongenital 2) Trimester kedua : persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asphixia intrauterin sampai kematian, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah, dekompensatio kordis-kematian ibu 3) Saat inpartu : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah, gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif 4) Pascapartus : ormon uteri menyebabkan perdarahan, retensio ormone (plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta), perlukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris peurperalis, gangguan involusi uteri, kematian ibu tinggi (perdarahan, infeksi peurperalis, gestosis). f. Prinsip Diet Untuk Ibu Dengan Anemia Diet yang dianjurkan adalah diet yang mengandung besi heme sebagai hemoglobin dan mioglobin, banyak ditemukan dalam daging, unggas dan ikan, ataupun diet yang mengandung besi non-heme, garam besi ferro atau ferri, seperti yang ditemukan dalam sumber-sumber non-hewani seperti makanan nabati, suplemen dan fortikan. Diet yang mengandung pemacu penyerapan zat besi seperti asam askorbat, dan hindari diet yang mengandung penghambat penyerapan zat besi seperti phitat, polyphenol. Selain itu juga harus kaya dengan protein yang cukup (bahan pangan hewani : daging, ikan, telur, kacang-kacangan) dan sayuran berwarna hijau yang mengandung mineral dan vitamin. (Proverawati, 2009 : 78-79) Wanita hamil dikatakan mengalami anemia jika kadar Hb kurang dari 10gr%. Pengawasan terhadap ibu hamil harus sudah mulai dilaksanakan pada trimester I dan III, karena pengenceran mencapai puncaknya. (Proverawati, 2009 : 78-79) g. Pengobatan Menurut Proverawati (2009 : 79-80) pengobatan dilakukan sesuai dengan jenis anemianya. Kebanyakan ibu hamil menderita anemia defisiensi besi. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian tablet besi yang dilakukan dengan berbagai cara yaitu : 1) Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat, atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Pemberian terapi zat besi oral tidak boleh dihentikan setelah Hemoglobin mencapai nilai normal, tetapi harus dilanjutkan selama 2-3 bulan lagi untuk memperbaiki cadangan besi. Sebelum dilakukan pengobatan harus dikalkulasikan terlebih dahulu jumlah zat besi yang dibutuhkan. Misalnya Hemoglobin sebelumnya adalah 6 gr/ dl, maka kekurangan Hemoglobin adalah 12 - 6 = 6 gr/ dl, sehingga kebutuhan zat besi adalah : 6 x 200 mg. Kebutuhan besi untuk mengisi cadangan adalah 500 fig, maka dosis Fe secara keseluruhan adalah 1200 + 500 = 1700 mg. Fero sulfat : 3 tablet/ hari, a 300 mg mengandung 60 mg Fe Fero glukonat : 5 tablet/ hari, a 300 mg mengandung 37 Fe Fero fumarat : 3 tablet/ hari, a 200 mg mengandung 67 mg Fe. Efek samping : konstipasi, berak hitam, mual dan muntah. Respon : hasil yang dicapai adalah Hb meningkat 0,3 – 1 gr per-minggu, biasanya dalam 4 – 6 minggu perawatan hematokrit meningkat sampai nilai yang diharapkan, perawatan biasanya dimulai pada minggu ke-2. Peningkatan retikulosit 5- 10 hari setelah pemberian terapi besi bisa memberikan bukti awal untuk peningkatan produksi sel darah merah. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia. 2) Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua. Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20mg) intravena atau 2 x 10 ml/IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr%. Metode sederhana 250 mg besi elemental sebanding dengan 1 gram Hb. Dosis pemberian zat besi parenteral dapat dihitung dengan mudah dengan memakai rumus : Zat besi yang diperlukan (mg) = (15-Hb) x BB x 3. Indikasi : anemia defisiensi berat mempunyai efek samping pada pemberian oral, gangguan absorbsi. Pemberian dapat diberikan secara intra-muskular maupun intra-vena yaitu preparat : iron dextran (imferon), iron sorbitek (jectofer) berisi 50 mg/ml, dosis maksimum 100 mg/ hari. Efek samping : nyeri, inflamasi, ple bitis, demam, atralgia, hipotensi, dan reaksi anafilaktit anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kukurangan vitamin B12. Pengobatannya : asam folik 15-30 mg per hari, vitamin B12 3 x 1 tablet per hari, sulfas ferosus 3 x 1 tablet per hari. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah. 2. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu“ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2003 : 121) Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari Selengkapnya...