Selasa, 07 Juli 2015

KTI - SKRIPSI KEBIDANAN : HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BAYI DENGAN PELAKSANAAN PIJAT BAYI DI KELURAHAN

MURAH DAN LENGKAB Rp. 20.000 BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pijat bayi merupakan salah satu bentuk fisioterapi yang berpengaruh positif terhadap proses tumbuh kembang balita selain pemberian makanan tambahan (Roesli, 2001). Pengaruh positif pijat atau sentuhan pada proses tumbuh kembang bayi dan anak telah lama dikenal oleh manusia. Pijat bayi bisa dimulai setelah bayi dilahirkan, sudah barang tentu bayi yang masih merah ini tidak boleh dipijat seperti pada balita. Sentuhan dan pijatan pada bayi dilakukan dengan pelan dan lembut sehingga bayi merasa nyaman dan membuat nafsu makan menjadi besar (Gatot, 2005). Menurut Roesli (2001) dalam Prasetyono (2009) pijat bayi adalah terapi sentuh tertua yang dikenal manusia yang paling populer. Pijat bayi telah lama dilakukan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan diwariskan secara turun temurun. Sentuhan dan pijat pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Menurut Sari (2004) dalam Prasetyo (2009) di Indonesia pelaksanaan pijat bayi di masyarakat desa masih dipegang oleh dukun bayi. Selama ini pemijatan tidak hanya dilakukan bila bayi sehat, tetapi juga pada bayi sakit atau rewel dan sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir. Pijat bayi merupakan usaha yang positif untuk memperoleh kondisi optimal pada masa bayi tersebut karena merangsang semua kerja sistem sensorik dan motorik. Manfaat dari pijat bayi adalah dapat meningkatkan berat badan, meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi, membuat bayi tidur lebih lelap, membina ikatan kasih sayang antara ibu dan anak, dan meningkatkan produksi ASI. Pijat bayi sebagai salah satu bentuk bahasa sentuhan ternyata memiliki efek yang positif untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sentuhan bagi bayi merupakan sentuhan menyakitkan atau sentuhan negatif sehingga ia takut untuk disentuh. Padahal, sentuhan merupakan kebutuhan dasar manusia. Dengan demikian, sangat perlu memperkenalkan sentuhan yang positif, yaitu pijat bayi pada bayi sedini mungkin (Roesli, 2001). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para pakar telah membuktikan bahwa terapi sentuh dan pijat menghasilkan perubahan psikologi yang menguntungkan berupa peningkatan pertumbuhan, peningkatan daya tahan tubuh, dan kecerdasan emosi yang lebih baik (Roesli, 2001 dalam Prasetyo, 2009). Ilmu kesehatan modern telah membuktikan secara ilmiah bahwa terapi sentuh dan pijat pada bayi mempunyai banyak manfaat terutama bila dilakukan sendiri oleh orang tua bayi. (Dasuki, 2003, dalam Prasetyo, 2009). Namun Dalam ilmu kesehatan tentang pijat bayi ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, dikarenakan masyarakat masih mempercayakan pijat bayi kepada dukun bayi dan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk melakukan pijat bayi pada tenaga kesehatan terutama bidan. Faktor lain yang menyebabkan masyarakat lebih memilih pijat bayi kepada dukun bayi adalah faktor adat istiadat yang masih dipegang teguh dan berkembang secara turun temurun. Serta, adanya keyakinan bahwa dukun bayi dianggap lebih mengerti dan mahir dalam melakukan pijat bayi yang sudah dipraktikkan sejak berabad-abad silam (Roesli, 2010). Di Indonesia pelaksanaan pijat bayi banyak dilakukan oleh masyarakah pedesaan yang masih dipegang peranannya oleh dukun bayi. Selama ini, pemijatan hanya dilakukan bila bayi sedang sakit, namun bayi sehat juga bisa dipijat karena sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir (Sari, 2004). Di masyarakat, dukun bayi masih memegang peranan penting dalam pemijatan bayi. Seperti halnya di Dukuh Cemetuk, Lorog, Tawangsari, Sukoharjo kebiasaan memijatkan bayi pada dukun bayi masih dilaksanakan oleh hampir semua orang tua yang memiliki bayi dan balita. Informasi dari desa tersebut, terdapat 35 bayi dari 103 Kepala Keluarga dan 4 orang dukun bayi yang belum mendapatkan pelatihan. Dari data tersebut, hampir semua bayi dan balita yang ada pernah mendapat pemijatan oleh dukun bayi. Pijat bayi dapat meningkatkan tumbuh kembang, hal ini didukung oleh penelitian Florentina dan Aldy (dalam Subakti dan Deri, 2008) yang menemukan bahwa pijat bayi mempersingkat masa tinggal bayi di rumah sakit (setelah dilahirkan) dengan pengurangan tiga hingga enam hari lebih cepat pulang dibandingkan dengan bayi-bayi tanpa pemijatan. Pijatan lembut pada tubuh bayi memberikan pengalaman positif yang luar biasa antara bayi dengan orangtuanya, meningkatkan fungsi motorik (memperkuat jalinan otot bayi yang mengalami down syndrome atau gangguan perkembangan mental). Menurut penelitian Field dan Scafidi (Roesli, 2008) menunjukkan bahwa pada 20 bayi prematur (berat badan 1.280 g dan 1.176 g), yang dipijat tiga kali sehari selama 15 menit dalam waktu 10 hari, terjadi kenaikan berat badan 20%-47% lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak dipijat. Penelitian Dasuki (2007) tentang pengaruh pijat bayi terhadap kenaikan berat badan bayi memperoleh hasil bahwa pada kelompok kontrol, kenaikan berat badan sebesar 6,16%, sedangkan pada kelompok yang dipijat kenaikan berat badan 9,44%. Berdasarkan survei pendahuluan yang peneliti lakukan di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx diperoleh hasil penelitian pendahuluan dengan mengajukan pertanyaan terbuka kepada 10 ibu balita, dari 10 ibu balita didapatkan fakta 5orang ibu balita mempunyai pengetahuan cukup tentang pijat bayi dan bersikap mendukung terhadap pelaksanaan pijat bayi, karena ibu balita merasakan manfaat nyata dari pelaksanaan pijat bayi tersebut, sedangkan 3 ibu balita mempunyai pengetahuan yang baik dan bersikap mendukung tentang pijat bayi. Sedangkan 2 ibu balita mempunyai pengetahuan kurang tentang pijat bayi dan tidak mendukung pelaksanaan pijat bayi dengan alasan bahwa bayinya masih terlalu kecil takut terjadi masalah yang serius dengan pijat bayi tersebut, disamping itu ibu bayi tersebut juga merasa tidak tega bila melihat bayinya menangis keras saat dipijat. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang peneliti uraikan sebelumnya maka rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BAYI DENGAN PELAKSANAAN PIJAT BAYI DI KELURAHAN Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pelaksanaan pijat bayi di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan karakteristik ibu bayi yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. b. Mendeskripsikan pengetahuan ibu bayi tentang pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. c. Mendeskripsikan sikap ibu bayi tentang pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx d. Mendeskripsikan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx e. Menganalisis hubungan pengetahuan ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. f. Menganalisis hubungan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengetahuan dan sikap dengan pelaksanaan pijat bayi di wilayah Sawah Besar kelurahan Kaligawe Xxx . 2. Manfaat Praktis a. Bagi Praktik Kebidanan Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi kebidanan yang efektif untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi. b. Bagi Pendidikan DIII Kebidanan Sebagai informasi bagi pendidikan kebidanan khususnya pada bayi bahwa ada hasil “evidence based” tentang salah satu intervensi kebidanan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan pijat bayi. c. Bagi Penelitian Kebidanan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber data atau informasi bagi pengembangan penelitian kebidanan berikutnya terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan pijat bayi yang efektif. E. Keaslian Penelitian Hasil penelusuran penelitian, terdapat penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini, diantaranya : Tabel 1.1 keaslian penelitian No Nama Judul Variabel penelitian Hasil Perbedaan 1 Rini Astariningsih, (2007) Hubungan antara pijat bayi dengan tumbuh kembang pada anak usia 0 – 3 tahun di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal Variabel bebas pijat bayi variabel terikat tumbuh kembang anak 0 – 3 tahun Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan cross sectional dianalisis dengan rumus korelasi product moment (p. value) 0,006.. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pijat bayi dengan tumbuh kembang pada anak usia 0 -3 tahun di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal Variabel penelitian pijat bayi sebagai variabel bebas dan dalam penelitian ini menjadi variabel terikat 2 Nurul Indah Sari (2010) Efektifitas pijat bayi terhadap peningkatan berat badan bayi premature di RSUD Kota Xxx Variabel bebas : pijat bayi Variabel terikat : Peningkatan berat badan bayi Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji chisquare dengan α = 0,005. Hasil penelitian ini adalah ada hubungan antara pijat bayi dengan peningkatan berat badan bayi di RSUD Kota Xxx Variabel penelitian yang diteliti pijat bayi dan peningkatan BB sedangkan dalam penelitian ini variabel yang dipakai pengetahuan dan sikap ibu dalam pelaksanaan \pijat bayi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan ini terjadi melalui pengindraan manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005:39). b. Pentingnya pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakaan domaian yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang didasari pengetahuaan akan lama dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi prilaku baru dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni: 1) Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus. 2) Interest (tertarik),dimana orang mulai tertarik dengan stimulus. 3) Evaluation (mengevaluasi),menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik. 4) Trial (mencoba), dimana subyek milai mencoba melakukan sesuatudengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. 5) Adoption (penerimaan), subyek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapmya terhadap stimulus Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa mengadopsi prilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka prilaku tersebut akan bersifat lama, namun sebaliknya jika prilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,2003:121-122). c. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan mempunyai 6 tingkatan: 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2) Memahami (comprehention) Memahami artinya sebagai suatu komponen untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana menginterpretasikan secara benar. 3) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi sebenarnya (riil). 4) Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu obyekke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan kepada suatu komponen untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk yang baru. 6) Evaliasi (evaliation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu obyek (Wawan dan Dewi M, 2010:12-14). d. Cara Memperoleh Pengetahuan Cara memperoleh pengetahuan menurut (Notoatmodjo,2003:11) adalah sebagai berikut : 1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan a) Cara coba salah (trial and error) Cara coba salah ini dilakuakan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka akan dicoba dengan kemungkina lain. b) Cara kekuasaan atau otoritas Prinsip dari cara ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasar fakta empiris maupun penalaran sendiri. c) Berdasarkan pengalaman sendiri Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman ynag pernah diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. 2) Cara modern Cara baru atau cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini di sebut metode penelitian ilmiah (Notoatmodjo, 2005:18). Pengukuran pengetahuan dapat di lakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari obyek penelitian atau responden. Data yang bersifat kualitatif di gambarkan dengan kata-kata, sedangkan data yang bersifat kuantitatif berwujud angka-angka, hasil penghitungan atau pengukuran, dapat diproses dengan cara di jumlahkan, di bandingkan dengan jumlah yang di harapkan dan di peroleh prosentase, setelah di prosentasikan lalu di tafsirkan ke dalam kalimat yang bersifat kualitatif sebagai berikut (Arikunto,2006:344) 1) Kategori baik yaitu menjawab benar > 75% dari yang di harapkan. 2) Kategori cukup yaitu menjawab benar 60% - 75% dari yang di harapkan. 3) Kategori kurang yaitu menjawab benar < 60% dari yang di harapkan. e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Sukmadinata (2003:89) pengetahuan yang di miliki oleh seseorang di pengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : a. Faktor internal 1) Jasmani Faktor jasmani di antaranya adalah keadaan indra seseorang. 2) Rohani Faktor rohani di antaranya adalah kesehatan psikis, intelektual, psikomotor serta kondisi efektif dan kognitif individu. 3) Umur Mengingat seseorang salah satunya adalah dipengaruhi oleh umur. Bertambahnya umur seseorang dapat dipengaruhi pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan mengingaat pengetahuan akan semakin berkurang b. Faktor Eksternal 1) Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam member respon yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. 2) Paparan media massa Melalui berbagai media cetak maupun elektronik, berbagai informasi dapat di terima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa (Tv, radio, majalah, dan lain-lain) akan memperoleh informasi media ini, berarti paparan media massa mempunyai tingkat pengetahuan yang di miliki seseorang. 3) Ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder, keluarga dengan status ekonomi lebih baik mudah tercukupi di banding keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informasi yang termasuk kebutuhan sekunder. 4) Pengalaman Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal bisa di peroleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, missal sering mengikuti kegiatan yang mendidik, misalnya seminar. Organisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan tersebut informasi tentang satu hal dapat di peroleh. 5) Budaya Tingkah laku manusia atau sekelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputu sikap dan kepercayaan. 2. Sikap a. Pengertian Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi predisposisi tindakan suatu perilaku. (Notoatmodjo,2007:142) b. Komponen Sikap Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu : 1) Kognitif (cognitive). Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. Selengkapnya...

Senin, 06 Juli 2015

KTI DIV KEBIDANAN 2015 : HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH BIOSTATISTIK PADA MAHASISWA D IV KEBIDANAN STIKES

MURAH DAN LENGKAB UNTUK REFERENSI BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + OLAH DATA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Perkembangan yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan.Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-Undang RI nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi). Menurut Auliyawati (2008), pendidikan pada tiap tingkatan mempunyai tujuan agar mempersiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan dalam melanjutkan tingkat pendidikan ketingkat selanjutnya. Salah satu usaha untuk mewujudkan kemampuan mahasiswa tersebut adalah dengan penguasaan mereka terhadap setiap materi yang diberikan. Berkaitan dengan kegiatan belajar, motivasi sangat penting peranannya.Motivasi dikatakan penting tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga bagi pendidik, dosen, maupun karyawan sekolah, karyawan perusahaan (Prawira, 2012). Motivasi sebagai motor penggerak dalam diri seseorang atau kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan. Sedangkan motivasi belajar merupakan keseluruhan penggerak dalam diri anak yang mampu menimbulkan kesemangatan atau kegairahan dalam belajar. Mahasiswa yang tidak memiliki motivasi belajar tidak mungkin melakukan aktivitas belajar, dan perbuatan belajar akan terwujud apabila ada motivasi belajar dari dalam diri mahasiswa. Selain motivasi dari dalam diri mahasiswa, motivasi diluar diri mahasiswa juga perlu dibangkitkan oleh dosen dengan cara menginformasikan tujuan pembelajaran, memberi dorongan, memberi rangsangan, mengevaluasi dan umpan balik, selain itu juga mampu membangkitkan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuanmahasiswa terhadap materi yang telah diajarkan. Motivasi penting dalam menentukan seberapa banyak mahasiswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Mahasiswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga mahasiswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan.Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan (B. Uno,2011). Menurut Maslow (dalam Syaiful, 2008),Tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik.Kebutuhan-kebutuhan inilah yang mampu memotivasi tingkah laku individu.Seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi instrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar.mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan.Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi instrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar. Pengukuran keberhasilan belajar mahasiswa dapat ditentukan dengan mengukur ranah mahasiswa itu sendiri, baik dari ranah cipta, ranah rasa, ranah karsa, yang biasa dikenal dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.Prestasi belajar dapat ditunjukkan pada mahasiswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya, bila mahasiswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting dan bila mahasiswa melihat bahwa hasil dan pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya (Slameto, 2003). Menurut Wlodkowsky (dalam Sugihartono dkk, 2007), Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut.Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan.Adapun ciri-ciri mahasiswa yang termotivasi belajar untuk berprestasi antara lain tekun, ulet menghadapi kesulitan, menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja sendiri, cepat bosan dengan tugas, dapat mempertahankan pendapat, senang mencari dan memecahkan masalah. Biostatistik merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan pada mahasiswa DIV Kebidanan .Dari nilai yang didapatkan oleh seluruh mahasiswa DIV Kebidanan , biostatistik adalah mata kuliah yang mendapatkan peringkat tertinggi mahasiswa melakukan remedial dibandingkan beberapa mata kuliah lainnya.Hal ini dikarenakan terdapat hambatan-hambatan selama pembelajaran, salah satunya adalah motivasi mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut.Motivasi mahasiswa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti mahasiswa kesulitan dalam menangkap pemahaman tentang materi-materi yang diajarkan dosen, mahasiswa pada dasarnya tidak menyukai perhitungan, dan mahasiswa merasa malas untuk mengikuti perkuliahan. Berdasarkan dari hasil wawancara yang peneliti lakukan kepada 10 mahasiswa, 4 dari 10 (40%) mahasiswa mengatakan termotivasi dalam mengikuti perkuliahan biostatistik dengan alasan bahwa biostatistik merupakan mata perkuliahan yang menyenangkan karena dari awal mereka menyukai matematika dan mereka mudah menangkap materi yang diajarkan, dan 6 dari 10 (60%) mahasiswa mengatakan kurang termotivasi dalam mengikuti perkuliahan biostatistik dengan alasan mereka merasa kesulitan dalam mempelajari biostatistik dan diantaranya merasa malas.Dengan jumlah kehadiran saat perkuliahan dari masing-masing mahasiswa diatas 75% dari total kehadiran. Hasil prestasi belajar mahasiswa D IV Kebidanan pada mata kuliah biostatistik dengan jumlah total 84 mahasiswa yang mendapatkan nilai A sebanyak 6 mahasiswa, yang mendapatkan nilai B sebanyak13mahasiswa, dan yang mendapatkan nilai C sebanyak 65mahasiswa. Hasil ujian akhir semester I mata kuliah biostatistik yang telah dilakukan, mahasiswa dengan jumlah 65mahasiswa mengikuti perbaikan atau remedial dan dari mata kuliah yang lainnya biostatistik merupakan mata kuliah yang paling banyak mahasiswa yang mengikuti remedial. Berdasarkan uraian tersebut diatas, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH BIOSTATISTIK PADA MAHASISWA D IV KEBIDANAN STIKES.” B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKESNgudi Waluyo Ungaran”. C. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui adanya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKESNgudi Waluyo Ungaran. 2. Tujuan khusus a. Mendiskripsikan motivasi mahasiswa D IV Kebidanan STIKES terhadap mata kuliah biostatistik. b. Mendiskripsikan prestasi belajar mahasiswa D IV Kebidanan STIKES terhadap mata kuliah biostatistik. c. Menganalisa hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKES. D. Manfaat penelitian 1. Bagi dosen Memberikan gambaran tentang motivasi mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah tersebut, sehingga dapat mengetahui permasalahan yang ada dan dapat memberikan solusi untuk mengatasinya, agar mahasiswa tertarik dengan cara mengajar dosen sehingga meningkatkan motivasi dalam mata kuliah tersebut yang akan berpengaruh pada prestasi belajar. 2. Bagi institusi pendidikan Memberikan masukan data sehingga dapat diketahui permasalahan yang ada mengenai motivasi belajar mahasiswa terhadap prestasi belajarnya, sehingga dapat ditemukan penyelesaiannya untuk memperbaiki pada angkatan mahasiswa berikutnya. 3. Bagi mahasiswa Memberikan gambaran pada mahasiswa tentang motivasi mahasiswa agar dapat lebih mempersiapkan diri dan meningkatkan minat dan motivasinya dalam mata kuliah tersebut, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar yang diperolehnya. 4. Bagi peneliti Mampu menyusun sebuah karya ilmiah dan menerapkan apa yang telah diperoleh di bangku kuliah dalam kehidupan nyata sehingga pemahaman materi kuliah akan semakin baik. 5. Bagi pembaca Memberikan gambaran secara umum mengenai motivasi mahasiswa terhadap prestasi belajar sehingga akan menambah wawasan dan pengetahuan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Belajar a. Definisi Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami mahasiswa, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungannya sendiri. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik (Syah, 2010). Slameto (2010), mengatakan belajar secara psikologi merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam segala aspek tingkah laku, sehingga dapat disimpulkan definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan sebagainya (Sardiman, 2011). Winkel (2004), merumuskan belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. b. Tujuan belajar Jika ditinjau secara umum, maka tujuan belajar terdiri atas tiga jenis, antara lain adalah 1) Untuk mendapatkan pengetahuan Hal ini ditandai dengan kemampuan berfikir. Pemikiran, pengetahuan dan kemampuan berfikir sebagai bagian yang tidak bida dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan ini lah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan belajar. Adapun jenis interaksi atau cara yang digunakan untuk kepentingan pada umumnya dengan model kuliah (presentasi), pemberian tugas-tugas sehingga dengan cara demikian diharapkan akan menambah pengetahuannya dan sekaligus akan mencarinya sendiri untuk mengembangkan cara berfikir dalam rangka memperkaya pengetahuan. 2) Perumusan konsep dan keterampilan Merumuskan konsep juga merupakan suatu keterampilan. Keterampilan memang dapat dididik, yaitu dengan banyak melatih kemampuan. Demikian juga mengungkapkan perasaan melalui bahasa tulis atau lisan, bukan soal kosa kata atau tata bahasa, semua memerlukan banyak latihan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian keterampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya menghafal atau meniru. Cara berinteraksi, misalnya dengan metode role playing. 3) Pembentukan sifat Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak didik, peran tenaga pendidik sangat penting. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berfikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi tenaga pendidik sebagai contoh atau model (Sardiman, 2011). c. Prinsip belajar Prinsip belajar menurut teori Gastalk dalam psikologi belajar (Djamarah, 2008), yaitu : 1) Belajar berdasarkan keseluruhan 2) Belajar adalah suatu proses perkembangan 3) Anak didik sebagai organism 4) Terjadi transfer 5) Belajar harus dengan insight 6) Belajar adalah reorganisasi pengalaman Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009), prinsip belajar adalah 1) Perhatian dan motivasi 2) Keaktifan 3) Keterlibatan langsung atau pengalaman 4) Pengulangan belajar 5) Balikan dan penguatan belajar 6) Perbedaan individu dalam perilaku belajar d. Jenis-jenis belajar Slameto (2010), menerangkan jenis-jenis belajar antara lain : 1) Belajar bagian (part learning, fractioned learning) 2) Belajar dengan wawasan (learning by insight) 3) Belajar diskriminatif (discriminative learning) 4) Belajar global/keseluruhan (global whole learning) 5) Belajar incidental (incidental learning) 6) Belajar instrument (instrumental learning) 7) Belajar intensional (intentional learning) 8) Belajar laten (latent learning) 9) Belajar mental (mental learning) 10) Belajar produktif (productive learning) 11) Belajar verbal (verbal learning) e. Faktor yang mempengaruhi belajar Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku sehingga banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Syah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu : 1) Faktor yang berasal dari dalam individu a) Faktor fisiologis merupakan kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. b) Faktor psikologi merupakan faktor-faktor rohaniah individu yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi individu. 2) Faktor yang berasal dari luar invidu a) Faktor sosial Lingkungan sekolah seperti guru, staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar mahasiswa. b) Faktor non sosial Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar. 2. Prestasi Belajar a. Definisi Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana dinyatakan dalam bentuk nilai. Prestasi ini merupakan suatu keberhasilan dari mahasiswa atau kemampuan seseorang dalam melakukan kegiatan belajarnya. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar (Slameto, 2010). Winkel (2004) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Nasution (1996) prestasi adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Azwar (2006), mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai baha-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Hasil dari tes dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar mahasiswa. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Pengertian prestasi belajar menurut para ahli tidak selalu berputar pada aspek kecerdasan dan bakat, namun demikian tidak juga meninggalkan kedua aspek tersebut. kecerdasan dan bakat memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar namun tidak mutlak. Dalam beberapa kasus besarnya kecerdasan dan bakat tidak berbanding lurus dengan prestasi belajar karena prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak mahasiswa. Syah (2010), mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu sebagai berikut : 1) Faktor internal Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam individu itu sendiri, adapun yang tergolong kedalam faktor internal yaitu : a) Kecerdasan/intelegensi Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi, intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya, sehingga seseorang pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar. Kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seseorang mempunyai tingkat kecerdasan normal atau diatas normal maka secara potensial dapat mencapai prestasi yang tinggi. b) Bakat Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Dari pendapat tersebut jelas bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubung dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. c) Minat Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (2004), minat merupakan kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Berdasarkan pendapat tersebut, jelas bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau suatu kegiatan. Bahkan pelajaran yang mempengaruhi minat seseorang lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Minat belajar yang telah dimiliki seseorang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap suatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sesuatu sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya. Selengkapnya...

KTI DIV KEBIDANAN TERBARU : STUDI FENOMENOLOGIS PERSEPSI MAHASISWA D-IV KEBIDANAN PENDIDIK STIKES TENTANG S2 KEBIDANAN TAHUN 2015

LENGKAB BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + OLAH DATA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Sejarah / perkembangan pelayanan pendidikan kebidanan setiap waktu mengalami perkembangan.Perkembangan pendidikan bidan berjalan seiring dengan perkembangan pelayanan kebidanan untuk menjawab tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan pelayanan kebidanan (Hidayat, 2009). Sekian lama bidan memberikan pelayanan pada masyarakat kini mulai mengarah pada bentuk studi lanjutan yang lebih professional dalammemberikandan mengarahkan pelayanan asuhan kebidanan (Dosen) yang disebut DIV Kebidanan / bidan pendidik. Program inimulaidibukatahun 2000 di Yogyakarta diikutiBandung, Semarang dsb. Dosenadalahpendidik professional danilmuwandengantugasutamamentransformasikanmengembangkandanmenyebarluaskanilmupengetahuan, teknologidansenimelaluipendidikan, penelitiandanpengabdiankepadamasyarakat (UU RI No 14,2005). Dosenterutama DIV pendidikdiharapkandapatmenumbuhkan rasa kompetetifbelajar, membinasikapsertaketrampilan professional pesertadidik.Dari pengertian di atassebagaiseorangdosendituntutmempunyaikompetensi, sertifikasidankualifikasi.MenurutUndang – UndangNomor 14 tahun 2005 tentang Guru danDosen (Pasal 46 ayat 2) danperaturanMenteriPendidikanNomor 42 Tahun 2007 tentangSertifikasiDosenmempertegashaltersebut. Undang – Undang guru dandosen No 14 Tahun 2005 menetapkankualifikasidosenkhususnyauntuk program D-III harus S2 dibidangnya. DilainpihakSuratKepmendiknas No. 234/U/2000 tentangpendidikanperguruantinggi, memberikanarahbahwadosentetappadaperguruantinggi yang barudidirikanuntuksetiap program studisekurang-kurangnya 6 (enam) orang denganlatarbelakangpendidikan yang sama/sesuaidengan program studi yang diselenggarakandandengankualifikasi yang memenuhisyarat. Kondisisaatinipendidikanbidan di Indonesiabarusampaijenjang D-III, sehinggauntukmemenuhikebutuhandosen D-III belumdapatmemenuhikebutuhankriteriaseperti yang dipersyaratkandalamundang – undang no 14 tahun 2005 tentang guru dandosen.Berdasarkanperaturanperundangantersebut, makadosenharusmemiliki strata pendidikan minimal satutingkatlebihtinggidariparamahasiswa yang diajarnya, dengandemikiandosen program diploma atausarjanawajibmemilikikualifikasiakademik minimum Magister, sedangkandosen program pascasarjanawajibmemilikikualifikasiakademikDoktor.Berkaitandengankualifiakasiakademikundang – undangtersebutmenegaskanbahwakualifikasiakademikdosendiperolehmelaluipendidikantinggi program pascasarjana yang terakreditasisesuaidenganbidangkeahlian. Dengandemikianperguruantinggi yang dipilihsebagaitempatpendidikanlanjutanjugaharusterakreditasidanbidang yang dipilihjugaharus linier dengankeahlian.Untukmenjabatjabatanfungsionaltenagapengajar (Dosen) disyaratkanpendidikandengandisiplinilmu yang linier antarajenjang S-1 ke S-2 teruske S-3 (Muchdi,2010). Denganmelihat UU tersebutmakamulaiadaperkembangan/fenomenabarudalampendidikankebidanandengan di buka Program Studi Magister Kebidanan.Melihat Program Studi Magister Kebidananmemberikankesempatankepadapeserta program sehinggalulusanmenguasaikemampuandalammelaksanakanpekerjaan yang kompleksdengandasarpelayanankebidanan yang professional, termasukketrampilanmerencanakan, melaksanakankegiatan, memecahkanmasalahdengantanggungjawab yang mandiripadatingkattertentu, memilikiketrampilandalampenelitiandanmanajerialsertamampumengikutiperkembanganpengetahuandanteknologi di dalambidangkeahliannya (Bidan Shop,2008) Menurutpendiri S2 Kebidanan di Indonesia, standartprofesikebidananmenggariskanbahwaperan, fungsidankompentesibidanharusmeliputi :peransebagaipelaksana, sebagaipengelola, sebagaipendidikdansebagaipeneliti. Di lapangan ,perandanfungsitersebutmasihbelumdapatdilaksanakansesuai harapan. Sampaisaatinibidanmasihlebihbanyakmenjalankanperandanfungsisebagaipengelola, pendidikdanapalagisebagaipeneliti, untukdapatmenjalankanperandanfungsibidanpendidiksebagaipengelola, pendidikdanpenelitisangatdiperlukanjenjangpendidikan yang memadai.Ditinjaudarikebutuhannyadalampengelolaanpelayanankepadamasyarakat.DepKes RI sampaitahun 2010 membutuhkan 379 orang tenagamanajerialsetingkat Magister. Di sisilainparabidanberkeinginanuntukmelanjutkanstudinyake S2. Sebelumadaprogram magister kebidanan, program DIV kebidananpendidikdirasasudahcukupsehinggabanyakmotivasipositifdanmotivasidarimahasiswa D-III kebidananuntukmelanjutkan D-IV kebidananpendidik.Namunsekarangdenganmelihatperkembanganpendidikankebidanan yang sudahterdapat program S2 makasecaratidaklangsungkualifikasisangatperlu di jalankan, walaupunbanyak DIV pendidik yang belummengetahuiadanya S2 kebidanan di Indonesia. Berdasarkanstudipendahuluan yang telahdilakukandi STIKES xxxxxxx, diperoleh data darihasilwawancarapada 10 mahasiswa DIV pendidikbahwa 6 dari10 mahasiswabelummengetahuisecarajelasinformasitentang S2 kebidanan. Motivasiberagam yang didapatcenderungmahasiswalebihmengetahuitentangstudilanjutanlaindibanding S2 kebidanan, karenakebanyakandarimerekakurangtertarikataupunkurangmempunyaiminatterhadap S2 kebidanankarenadianggapmasihjarang. S2 Kebidananmasihterdengarsedikitasingwalaupunterkadangmenjadibahanpembicaraannamunternyatahanyasebutannama, informasimengenaitempatpendidikanyang didapatkanbelumbegitujelasdanperaturanperundangantentangkualifikasiakademikdosen yang disyaratkanpendidikandisiplinilmu yang linier. Darifenomenatersebutdapatdiketahuibagaimanamotivasimahasiswa DIV BidanPendidik STIKES xxxxx tentang S2 kebidanan, denganharapanhasilpenelitianinidapatdigunakansebagaipenambahpengetahuandanwawasanmahasiswa DIV BidanPendidik STIKES KaryaHusada Semarang tentangpendidikan S2 Kebidanan. B. PerumusanMasalah Berdasarkanuraianlatarbelakang di atas, makapermasalahan yang adaditelitidandirumuskandalampenelitianiniadalah :Bagaimanakahpersepsimahasiswa DIV bidanpendidik STIKES xxxxxxxxxx tentang S2 Kebidanan. C. TujuanPenelitian 1. TujuanUmum Penelitianinibertujuanuntukmengeksplorasi secara mendalam tentang gambaranpersepsimahasiswa DIV bidanpendidik STIKES xxxxxxxxxxx tentang S2 Kebidanan. 2. TujuanKhusus a. Menjelaskan /eksplanasipersepsimahasiswa D-IV Kebidananpendidiktentang studi S2 Kebidanan b. Mengeksplorasipersepsimahasiswa D-IV Kebidananpendidiktentangtujuan program studi S2 Kebidanan. c. Menjelaskan / eksplanasipersepsitentangpentingnya S2 Kebidananbagipengembanganprofesi. D. ManfaatPenelitian 1. BagiMahasiswa D-IV Kebidanan Memberikangambarantentang S2 Kebidanan, sehinggaMahasiswa DIV Bidanpendidikdapatmelanjutkanstudi S2 Kebidanansebagaikualifikasipendidikandosen. 2. Bagi Profesi ( Bidan ) Memberikan gambaran tentang studi S2 Kebidanan, diharapkan tenaga kesehatan (bidan), yang telah menempuh jenjang DIV / S1 agar melanjutkan kembali studi S2 Kebidanan untuk bisa memenuhi kualifikasi pendidikan. 3. BagiPeneliti Memberikanpengalamannyatadalammelaksanakanpenelitiansederhanasecarailmiahdalamrangkamengembangkandiridanmelaksanakanfungsibidansebagaipeneliti. 4. BagiInstansiPendidikanKesehatan Memberikangambarantentangstudi S2 Kebidanan, sehinggainstansikesehatandiharapkanmengirimkantenagakesehatan (bidan), yang telahmenempuhjenjang DIV / S1 agar melanjutkankembalistudi S2 Kebidananuntukbisamemenuhikualifikasipendidikan. 5. Peneliti lain Diharapakandenganadanya S2 Kebidanan di Indonesia, peneliti lain dapatmelanjutkanpenelitianinidenganmemenuhidanmemperbaikikekurangan yang adadalamisipenelitian Selengkapnya...

Minggu, 05 Juli 2015

KTI KEBIDANAN 2015 : GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI IBU HAMIL PADA IBU HAMIL KEK

SKRIPSI KEBIDANAN MURAH Rp. 25.000 LENGKAP BAB 12345+ daftar pustaka + kuesioner berminat Hub : 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Status gizi ibu hamil adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh ibu hamil sebagai akibat pemasukan konsumsi makanan dan penggunaan zat, zat gizi yang digunakan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup dalam mempertahankan fungsi-fungsi organ tubuh (Supariasa, 2001). Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan, apabila status gizi ibu buruk, baik sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR). Disamping itu akan mengakibatkan terlambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi ban lahir, bayi baru lahir mudah terinfeksi, abortus dan sebagainya. Kondisi anak yang terlahir dari ibu yang kekurangan gizi dan hidup dalam lingkungan yang miskin akan menghasilkan generasi kekurangan gizi dan mudah terkena penyakit infeksi. Keadaan ini biasanya ditandai dengan berat dan tinggi badan yang kurang optimal (Supariasa, 2001). Menurut Pudjiati (2005 dalam buku Sulistyoningsih, 2011), selama kehamilan ibu akan mengalami penambahan berat badan sekitar 10-12 kg, sedangkan ibu hamil dengan tinggi badan kurang dari 150 cm cukup sekitar 8,8-13,6 kg. Pada trimester II dan III pertambahan berat badan sekitar 0,34-0,5 kg tiap minggu. Ibu yang sebelum hamil memiliki berat normal kemungkinan tidak memiliki masalah dalam konsumsi makan setiap hari, namun penambahan berat badannya harus dipantau agar selama hamil tidak mengalami kekurangan atau sebaliknya kelebihan (Sulistyoningsih, 2011). Masalah gizi dalam kehamilan yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah KEK pada ibu hamil, dimana hal ini disebabkan oleh pengetahuan gizi terhadap ibu hamil yang kurang, ketidakmampuan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi dan kurangnya kesadaran pada ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandung (Waryono, 2010,hal.45). Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai resiko kematian mendadak pada masa perinatal atau resiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kematian saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Waryono, 2010,hal.46). Kekurangan Energi Kronik adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu (Depkes, 2007).Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalian, perdarahan pasca persalianan dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Depkes, 2007). Organisasi kesehatan dunia WHO, melaporkan bahwa prevelensi anemia pada kehamilan secara global 55%. Kebanyakan dan kasus tersebut karena ibu Kekurangan Energi Kronik (KEK) yang menyebabkan status gizinya berkurang (WHO,2005). Prevalensi kurang energi kronik (KEK) untuk Negara-negara berkembang berkisar 15%-47%. Secara nasional kejadian KEK di Indonesia sekitar 17,2%. Sedangkan tingkat provinsi Jawa Tengah 12,7% (Riskedas,2010). Puskesmas Guntur 2 pada tahun 2011 terdapat ibu hamil dengan KEK sebanyak 65 orang dari 695 ibu hamil, dan pada tahun 2012 ibu hamil dengan KEK mengalami peningkatan menjadi 75 orang dari 720 ibu hamil.Berdasarkan penjabaran diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul "Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pada Ibu Hamil KEK di Puskesmas Guntur 2 Kabupaten Demak”. Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin. Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu. Kekurangan gizi pada janin dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan kegururan, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Berdasarkan penelitian (Kristiyanasari, 2010), faktor-faktor yang mempengaruhi KEK yaitu usia, pekerjaan, pendapatan, pola makan, dan pengetahuan. Berdasarkan penjabaran diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul "Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pada Ibu Hamil KEK di Puskesmas xxxxxx". B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang, maka perumusan masalahnya adalah "Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan gizi ibu hamil pada ibu hamil KEK di Puskesmas xxxxx?" C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan gizi ibu hamil pada ibu hamil KEK di Puskesmas Guntur 2 Kabupaten Demak. 2. Tujuan khusus a. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang gizi ibu hamil pada ibu hamil KEK. b. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang pengertian gizi ibu hamil. c. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang kebutuhan gizi ibu hamil. d. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang kebutuhan gizi sesuai usia ibu hamil. e. Menggambarkan pengertian KEK pada ibu hamil. f. Menggambarkan faktor penyebab KEK pada ibu hamil. g. Menggambarkan pengaruh KEK pada ibu hamil. h. Menggambarkan cara mengukur KEK padaibu hamil. i. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan data awal penyusunan untuk perencanaan kegiatan atau pelaksanaan upaya perbaikan gizi di wilayah kerja Puskesmas Guntur 2 Kabupaten Demak. 2. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi untuk menambah wawasan bagi para pembaca serta dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya terutama permasalahan KEK pada ibu hamil. 3. Bagi Peneliti Diharapkan dapat menmbah wawasan bahan masukan dan pengetahuan bagi peneliti tentang kejadian KEK khususnya yang berhubungan dengan usia, paritas pendapatan dan tingkat pengetahuan dan menerapkan ilmu yang sudah didapat. 4. Bagi Masyarakat Diharapkan dapat digunakan sebagai informasi yang penting terutama bagi ibu-ibu hamil akan pentingnya gizi dalam kehamilan.   E. Keaslian Penelitian Nama Peneliti Judul Variabel penelitian Jenis dan rancangan penelitian Hasil penelitian Perbedaan Ulya Ulfiana (2009) Hubungan status ekonomi keluarga dengankejadian kurang energi kronik pada ibu hamil di Puskesmas Kedung I Kabupaten Jepara Tahun 2009 1. Status ekonomi 2. Kejadian KEK pada ibu hamil Analisis korelasi dengan pendekatan cross sectional Ada hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian KEK (p=0,029) a. Judul penelitian b. Jumlah variable c. Waktu dan tempat Karsanah (2011) Gambaran tingkat pengetahuan dan status gizi ibu hamil di Puskesmas Bonang I Kecamatan Bonang Kabupaten Demak a. Tingkat Pengtahuan b. Status Gizi Ibu Hami Deskriptif kuantitatif Menggambarkan tingkat pengetahuan dan status gizi ibu hamil di puskesmas I Kecamatan xxxxxxx Penelitian gambaran tingkat pengetahuan dan perilaku ibu hamil tentang kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Waktu dan tempat penelitian dilaksanakan pada bulan Februari- Mei 2013 di BPS xxxxxxx. Variabelpada penelitianini adalah tingkat pengetahuan dan perilaku. Jenis analisa yang digunakan deskripti kuantitatif. Dina Ratna M (2012) Gambaran karakteristik dan tingkat pengetaghuan tentang gizi Karakteristik Tingkat pengetahuan Deskriptif kuantitatif Menggambarkan karakteristik dan tingkat pengetahuan tentang gizi ibu hamil Penelitian gambaran tingkat pengetahuan dan perilaku ibu hamil tentang kebutuhan nutrisi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Kehamilan a. Pengertian Kehamilan adalah suatu proses alami yang terjadi dalam rahim wanita. Diawalin dengan pertemuan sel telur dan sperma. Kemudian tumbuh dan berkembang organ demi organ lengkap dengan segala fungsi masing-masing, dan siap dilahirkan pada minggu ke-40 (Lutfiatus Solihah 2008:50). Kehamilan ada sebuah anugrah tak ternilai bagi seorang ibu yang dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan kelahiran seorang anak yang sangat membahagiakan bagi keluarga (Kusumawati 2008:9). Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut lahir (Helen Varney 2006 : 501). Kehamilan adalah anugerah untuk pasangan suami istri. Pola dan gaya hidup tepat dapat membantu kehamilan aman dan berkualitas, juga dapat mencegah komplikasi yang dapat menyebabkan kematian ibu maupun bayi (Nadesul, 2001). Kesehatan sangatlah penting bagi ibu hamil, kesehatan tersebut dapat diperoleh salah satunya dengan pola hidup sehat diantaranya adalah pemenuhan gizi pada kehamilan, menurut Terish Booth (dalam, artikel Aninda, 2007) tujuan dari Pola Hidup Sehat selama hamil adalah : 1) Ibu dapat tidur dengan nyenyak 2) Dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik 3) Berfikiran positif dan sehat 4) Ibu dapat merasa damai dan tentram 5) Ibu memiliki penampilan yang sehat dan percaya diri 6) Mendapat kehidupan dan interaksi sosial yang baik 7) Menghemat pengeluaran untuk biaya kesehatan dan terhindar dari Penyakit b. Pemeriksaan Kehamilan Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal 4 kali selama kehamilan yaitu trisementer pertama (<14 minggu) 1 kali kunjungan, trisemester dua (14-28 minggu) 1 kali kunjungan dan trimester tiga (28-36 minggu) 2 kunjungan (Sahnah, 2006). Walaupun demikian disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dengan jadwal sebagai berikut, sampai dengan kehamilan 28 minggu periksa 4 minggu sekalli, kehamilan 28-36 minggu periksa 2 minggu sekali, kehamilan 36-38 minggu 1 minggu sekali (Salmah, 2006) 2. Gizi Ibu Hamil a. Pengertian Gizi Gizi (Nutrition) adalah suatu proses organisme menggunakan makan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan, untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi, normal dari organ – organ, serta menghasilkan energi (Hariyani,2011:2). Gizi merupakan faktor penentu yang penting dari respon kekebalan tubuh. Kekurangan zat gizi mikroseperti seng, selenium, besi,tembaga, vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin B-6, dan asam folat akan mempengaruhi respon kekebalan. (Hariyani,2011:9) Gizi adalah suatu proses organism menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat gizi yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Dewa Nyoman, dkk,2001:18). Saat hamil seseorang wanita memerlukan asupan gizi lebih banyak. Mengingat selain kebutuhan gizi tubuh, wanita hamil harus memberikan nutrisi yang cukup untuk sang janin masa kehamilan menjadi saat yang dinanti dan membahagiakan. Untuk menjaga kondisi tubuh tetap sahat dan buah hati berkembang normal, wanita hamil harus memiliki pola hidup yang sehat. Seperti makan makanan yang bergizi, cukup olahraga, istirahat, serta menghindari alkohol dan tidak merokok.Tentu dengan harapan janin dapat berkembang dengan normal dan terlahir dengan selamat dan sehat.Selain untuk mencukupi kebutuhan tubuh, ibu hamil juga harus mencukupi berbagai nutrisi dengan janin.Karenanya wanita hamil memerlukan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak sedang hamil. Kekurangan gizi selama kehamilan bias menyebabkan anemia gizi,anemi besi bayi lahir dengan berat hb rendah, bahkan bisa menyebabkan bayi lahir cacat dan KEK (Waryana,2010:37). b. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Pemenuhan gizi selama hamil sangat diperlukan oleh ibu hamil, ada beberapa kebutuhan ibu hamil yaitu : 1) Kebutuhan energi Selama hamil ibu membutuhkan tambahan energy/kalori untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, plasenta, jaringan payudara, dan cadangan lemak.Kebutuhan kalori kira-kira sekitar15% dari kalori normal. Tambahan energi yang diperlukan selama hamil yaitu 27.000-80.000 Kkal atau 100 Kkal/hari. Sedangkan energi yang dibutuhkan oleh janin sendiri untuk tumbuh dan berkembang adalah 50-95 Kkal/kg/hari atau sekitar 175-350 Kkal/hari pada janin dengan BB 3,5 kg. Pada awal kehamilan trimester pertama masih sedikit dan terjadi sedikit peningkatan pada trimester dua. Sumber energi bisa didapat dengan mengkonsumsi beras, jagung, gandum, kentang, ubi jalar, ubi kayu, dan sagu (Weni,2010:26-27). 2) Karbohidrat Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, ibu hamil membutuhkan karbohidrat sekitar 1.500 kalori. Bahan makanan yang merupakan sumber kabohidrat adalah serelia (padi-padian) dan produk olahanya, juga kentang, umbi dan jagung. Namun tidak semua karbohidrat baik, maka ibu hamil harus bisa memilih yang tepat. Karbohidrat yang sebaiknya dikonsumsi adalah karbohidrat kompleks padi-padian yang tidak digiling. 3) Protein dan asam amino Protein digunakan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan janin, protein memiliki peranan penting. Selama kehamilan terjadi peningkatan protein yang signifikan yaitu 68%. Peran protein selama proses kehamilan diantaranya yatu selain untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga untuk pembentukan plasenta dan cairan amnion, pertumbuhan jaringan maternal seperti pertumbuhan mammae ibu dan jaringan uterus, dan penambahan volume darah. Kebutuhan akan protein selama kehamilan tergantung pada usia kehamilan. Total protein protein fetal yang diperlukan selama masa gestasi berkisar antara 350-450 gram. Pada trimester pertama kurang dari 6 gram tiap hari sampai trimester kedua, protein yang diperlukan dan asam amino yang esensial sangat diperlukan pada trimester awal ini. Pada usia 20 minggu, fetus mulai menerima asam amino esensial dari ibu, namun asam amino non esensial (arginin dan kristinin) tidak dapat disintesis oleh fetus. Menurut WHO tambahan protein untuk ibu hamil adalah 0,7 gram/kg berat badan secara keseluruhan jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil yaitu kurang lebih 60-76 gram setiap hari atau sekitar 925 gram dari total protein yang dibutuhkan selama kehamilan. 4) Lemak Asam lemak Eicosapentanoic Acid (EPA) dan Docosa hexanoik Acid (DHA) memainkan peranan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fetus, khususnya untuk mata dan otak. Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak sebagai sumber kalori utama.Lemak merupakan sumber tenaga yang vital dan untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah akan meningkat pada akhir trimester III. Tubuh wanita hamil juga menyimpan lemak yang akan mendukung persiapan untuk menyusui setelah bayi lahir. Lemak dibutuhkan tubuh terutama untuk membentuk energi dan serat perkembangan system syaraf janin. Oleh karena itu, ibu hamil tidak boleh sampai kurang mengonsumsi lemak tubuh. Sebaliknya, bila asupanya berlebih dikhawatirkan berat badan ibu hamil akan meningkat tajam. Keadaan ini akan menyulitkan ibu hamil sendiri dalam menjalani kehamilan dan pasca persalinan. Karena itu ibu hamil dianjurkan makan makanan yang mengandung lemak tidak lebih dari 25% dari seluruh kalori yang dikonsumsi sehari (Weni,2010:31). 5) Vitamin dan mineral Diperlukan Vitamin dan mineral yang merupakan zat gizi penting selama hamil. Vitamin A dalam jumlah optimal diperlukan untuk pertumbuhan janin. Tidak kalah penting vitamin B dan B2 serta niasin yang diperlukan dalam proses metabolisme tubuh. Sedangkan vitamin B6 dan B12 berguna untuk Mengatur penggunaan protein oleh tubuh.Vitamin C penting untuk membantu penyerapan zat besi selama hamil untuk mencegah anemi. Untuk pembentukan tulang serta persendian janin diperlukan vitamin D yang membantu penyerapan kalsium. Kalsium penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin. Zat kapur ini banyak terdapat pada susu dan olahanya serta kacang-kacangan. Sementara itu vitamin E diperlukan untuk pembentukan sel-sel darah merah serta melindungi lemak dari kerusakan. Asam folat dan seng penting untuk pertumbuhan saraf pusat sehingga konsumsi makanan yang banyak mengandung asam folat dapat mengurangi resiko kelainan susunan saraf pusat dan otak janin. Makanan yang kaya akan asam folat misalnya jeruk, pisang, brokoli, wortel, dan tomat. c. Kebutuhan Gizi Sesuai Usia Ibu Hamil Semakin muda dan semakin tua umur seorang ibu yang sedang hamil, akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur muda perlu tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri juga harus berbagi dengan janin yang sedang dikandung.Sedangkan untuk umur yang tua perlu energi yang besar juga karena fungsi organ yang makin melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal maka memerlukan tambahan energy yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang berlangsung (Atikah,2009:53). Ibu hamil terlalu muda yaitu kurang dari 16 tahun dimana organ reproduksi belum siap untuk terjadinya pembuahan.Ibu hamil di atas 35 tahun. Faktor ini juga menjadi masalah karena dengan bertambahnya umur maka akan terjadi penurunan fungsi dari organ yaitu melalui proses penuaan. Adanya kehamilan membuat seorang ibu memerlukan ekstra energi untuk kehidupannya dan juga kehidupan janin yang sedang dikandungnya. Selain itu juga pada proses kelahiran dibutuhkan tenaga yang lebih besar lagi ditambah lagi kelenturan dan jalan lahir dengan bertambahnya umur keelastisannya juga semakin berkurang. Itulah mengapa ibu dengan umur yang tua sangat beresiko apabila ia hamil. d. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Gizi Ibu Hamil Beberapa faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil yaitu : 1) Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan. Wanita yang sedang hamil dan telah berkeluarga biasanya lebih memperhatikan akan gizi dari anggota keluarga yang lain. Padahal sebenarnya dirinya yang memerlukan perhatian yang serius mengenai penambahan gizi.Ibu harus teratur dalam mengonsumsi makanan yang bergizi demi pertumbuhan dan perkembangan. 2) Setatus ekonomi Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari-harinya. Seorang yang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi dengan adanya pemeriksaan membuat gizi ibu semakin terpantau. 3) Pengetahuan zat gizi dalam makanan Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang ibu akan mengetahui dalam pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan gizi yang baik, kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya. Hal ini terlebih lagi kalau seseorang ibu tersebut memasuki masa ngidam, dimana perut rasanya tidak mau diisi, mual dan rasa yang tidak karuan. Walaupun dalam kondisi yang demikian jika seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka ia akan berupaya untuk mengetahui kebutuhan gizinya dan juga bayinya. 4) Setatus kesehatan Setatus kesehatan seseorang kemungkinan sangat berpengaruh terhadap nafsu makannya. Seorang ibu dalam keadaan sakit otomatis akan memiliki nafsu makan yang berbeda dengan ibu yang dalam keadaan sehat. Namun ibu harus tetap ingat, bahwa gizi yang ia dapat akan dipakai untuk dua kehidupan yaitu bayi dan untuk dirinya sendiri. 5) Berat badan Berat badan seseorang ibu yang sedang hamil akan menentukan zat makanan yang diberikan agar kehamilannya dapat berjalan dengan lancar. 6) Umur Semakin muda dan semakin tua umur seorang ibu yang sedang hamil, akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur muda perlu tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri juga harus berbagi dengan janin yang sedang dikandung. Sedangkan untuk umur yang tua perlu energi yang besar juga karena fungsi organ yang makin melemah maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang berlangsung (Weni,2010:51). 7) Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi wanita hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA), dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10-12 kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dan 1 kg, trimester II sekitar 3 kg dan trimester III sekitar 6kg. Pertambahan berat badan ini sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin. Pengukuran LILA dimaksut untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi (Waryana, 2010: 47). Pemilaian status gizi dapat dikelompokan sebagai berikut : a) Secara langsung Anthopometri Dari sudut pandang gizi, Anthopometri berhubungan dengan pengukuran demensi dan komposisi tubuh pada berbagai tingkat umur. Digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi yang terlihat.Pada pola penampilan fisik seperti lemak dan otot. Macam-macam anthonometri : i. Berat badan Pengukuran anthonometri yang paling sering digunakan meskipun sering terjadi kesalahan dalam pengukuran. Berat badan yang lebih ataupun kurang dan pada berat badan rata-rata untuk umur tertentu merupakan faktor untuk menentukan jumlah zat makanan yang hams diberikan agar kehamilannya berjalan dengan lancar. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 12-14 kg jika kurang dan itu kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Erna, 2004). ii. Tinggi badan Pengukuran berat badan seseorang pada prinsipnya adalah mengukur jaringan tulang skeletal yang terdiri dan kaki, panggul, tulang belakang dan tulang tengkorak. Tinggi badan yang dihubungkan dengan umur dapat digunakan sebagai indikator status gizi masa lalu. iii. Lingkar lengan Mencerminkan cadangan energi sehingga pengukuran ini dapat mencerminkan status kekurangan energi kronis untuk mendeteksi resiko terjadinya kejadian bayi dengan BBLR, untuk resiko Kurang Energi Kronik adalah < 23,5 cm. b) Secara tidak langsung i. Survey konsumsi Merupakan penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan macam zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan pada masyarakat, keluarga melalui gambaran, konsumsi zat gizi yang dapat mengindentifikasikan lebih atau kurang zat gizi. ii. Statistik vital Menganalisa beberapa data statistik kesehatan seperti angka kesakitan dan kematian karena penyakit tertentu, angka kematian berdasarkan umur atau data lain yang berhubungan dengan gizi: iii. Faktor ekologi Pengukuran faktor ekologi penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi, keadaan, malnutrisi merupakan hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologi, dan lingkungan budaya.Bahan makanan yang tersedia tergantung pada keadaan ekologi seperti tanah, iklim dan pengairan. 3. Kurang Energi Kronis (KEK) a. Pengertian Kurang Energi Kronik Kurang Energi Kronik adalah keadaan dirnana ibu menderitakeadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun(kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu (Depkes, 2007). b. Faktor Penyebab Kurang Energi Kronik 1) Penyakit Wanita berpenyakit kronis memerlukan bukan hanya zat gizi untuk mengatasi penyakitnya, tetapi juga untuk kehamilan yang sedang dijalani (Arisman, 2007). Status gizi kurang akan meningkatkan kepekaan ibu terhadap resiko terjadinya infeksi, dan sebaliknya infeksi meningkat resiko kurang gizi (Depkes, 2007). 2) Usia Usia diperlukan untuk menentukan besaran kalori serta zat gizi yang akan diberikan (Arisman, 2007). Hal penting yang berkaitan dengan status gizi scorang ibu adalah kehamilan pada usia muda (<20 tahun). Lebih muda seorang wanita yang hamil, lebih banyak energi yang diperlukan, serta usia yang terlalu tua (>35 tahun) (Depkes, 2007). 3) Berat badan Berat badan yang lebih ataupun kurang dari pada berat badan rata-rata untuk umur tertentu merupakan faktor untuk menentukan jumlah zat makanan yang harus diberikan agar kehamilannya berjalan dengan lancar. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 12-14 kg jika kurang dari itu kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Erna, 2004) . Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2015 : HUBUNGAN PELAYANAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) TERHADAP TINGKAT KEPUASAN IBU DI PUSKESMAS

KTI KEBIDANAN TERBARU MURAH LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA HUB HP: 081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Peningkatkan kualitas dan akses pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir dan bayi serta anak balita maka kegiatan yang dilakukan adalah melalui penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu program intervensi berisi penjelasan secara rinci penanganan penyakit pada balita. Proses manajemen kasus MTBS dilaksanakan pada anak umur 2 bulan sampai 5 tahun pada balita yang sakit dan pedoman ini telah diperluas mencakup manajemen terpadu bayi muda (MTBM) bagi bayi umur 1 hari sampai 2 bulan baik dalam keadaan sehat maupun sakit (Depkes RI, 2006). Mutu pelayanan kesehatan adalah faktor yang dapat meningkatkan kepuasan pasien. Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi ketanggapan untuk memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi petugas dengan pasien, perhatian dan keramah-tamahan petugas dalam melayani pasien serta kesembuhan pasien oleh penderitanya. Pelayanan kesehatan yang bermutu akan tergantung pada proses pelaksanaan kegiatan itu sendiri, sumber daya yang diberikan oleh kesehatan pelayanan, faktor lingkungan yang mempengaruhi serta manajemen kesehatan (Wijono, 2006). Sebagai indikatornya adalah terus membaik dan meningkatkan mutu pelayanan dengan harapan pasien, sehingga pelayanan nantinya membuat pasien akan terlihat puas atas pelayanan yang menyenangkan sesuai harapan. Penanganan balita ini menggunakan suatu bagan yang memperlihatkan langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanannya, sehingga dapat mengklasifikasikan penyakit yang dialami oleh balita, melakukan rujukan secara cepat apabila diperlukan, melakukan penilaian status gizi dan memberikan imunisasi kepada balita yang membutuhkan. Selain itu ibu balita juga diberi konseling tatacara memberi obat di rumah, pemberian nasihat mengenai makanan yang seharusnya diberikan dan memberitahu kapan harus kembali (kunjungan ulang) atau segera kembali untuk mendapatkan pelayanan tindak lanjut (Depkes RI, 2006). Pelaksanaan program MTBS ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan terutama bagi penanganan terhadap balita yang sakit. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya sangat diperlukan dengan berorientasi pada kebutuhan pasien, artinya jasa yang diberikan sesuai dengan harapan dan kebutuhan pasien. Penentuan kebutuhan pasien terhadap mutu pelayanan ini dapat didasarkan pada dimensi mutu pelayanan yang meliputi daya tanggap (responsiveness), kehandalan (reliability), jaminan (assurance), empati (emphaty), bukti langsung terutama sarana dan fasilitas fisik (tangibles) (Kotler, 2004). Pemenuhan kebutuhan pasien melalui manajemen mutu ini akan berpengaruh terhadap terciptanya kepuasan pasien. Kepuasan pasien ini dapat ditentukan oleh kualitas layanan yang dikehendaki, sehingga jaminan kualitas menjadi kualitas utama bagi suatu penyedia jasa pelayanan. Berkaitan dengan kepuasan pasien terhadap layanan, ada dua hal pokok yang saling berkaitan erat yaitu harapan pelanggan terhadap kualitas layanan (expected quality) dan presepsi konsumen terhadap kualitas layanan (perceived qulity). Pasien atau pelanggan selalu menilai suatu layanan yang diterima dibandingkan dengan apa yang diharapkan atau diinginkan (Kotler, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Utari (2009) tentang hubungan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Oleh Petugas Kesehatan Dengan Kepuasan Ibu Balita Sakit Di Puskesmas Parit Rantang Kota Payakumbuh dihasilkan terdapat hubungan yang bermakna pelaksanaan MTBS oleh petugas kesehatan dengan kepuasan ibu balita sakit di puskesmas parit Rantan. Penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2008) yang meneliti tentang analisis manajemen mutu MTBS yang terkait dengan mutu penerapan kegiatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Puskesmas di Kabupaten Brebes diketahui bahwa terdapat kelemahan pada proses manajerial penerapan proses manajemen kasus MTBS, kelemahan pada proses manajerial kepala Puskesmas dalam menetapkan sasaran, merencanakan, menghimpun sumber daya, melaksanakan dan mengawasi penerapan MTBS Puskesmas, dan lemahnya manajemen implementasi dan koordinasi lintas program serta lemahnya manajemen mutu pada aspek kepemimpinan, ketidaksamaan kultur, kurangnya ketrampilan analitis dan orang, dan lemahnya kinerja organisasi MTBS di Puskesmas. Data dari puskesmas xxx kota xxx pada tahun 2012 ditemukan sebanyak 7.133 balita yang berkunjung ke Puskesmas. Jumlah ini merupakan terbesar ketiga di Kota Xxx setelah Puskesmas Bandarharjo dan Gunung pati. Jumlah balita yang mendapatkan penanganan MTBS di Puskesmas Xxx mencapai 6.691 balita (Dinkes, 2012) dengan riancian perbulannya yaitu : Bulan Januari 783, Februari 990, Maret 1140, April 999, Mei 880, Juni 1134, Juli 765. Tingginya jumlah pasien balita dan sekaligus melalui penanganan MTBS ini menjadi pekerjaan yang berat bagi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan dengan mutu yang prima (Buku Laporan Puskesmas Xxx Kota Xxx, 2012). Data lain di Puskesmas Xxx Xxx, dalam kegiatan MTBS yaitu semua petugas yang diamati menyatakan masih banyak petugas yang belum dilatih, petugas yang telah lama dilatih tidak diberi penyegaran tentang perkembangan terbaru, petugas merasa kurang bimbingan dan pembinaan, sarana dan formulir kurang, tidak disediakan pojok oralit ataupun ruang konsultasi gizi khusus, serta tidak ada alur khusus untuk kunjungan ulang, dan menyatakan bahwa ruang MTBS ada tetapi alur pelayanan digabung dengan pelayanan ibu. Untuk kelengkapan pengisian formulir MTBS, petugas mengisi formulir dengan tidak lengkap, petugas tidak menyiapkan buku bagan sebagai penuntun dan sebagian besar mengutamakan buku bantu sebagai sarana pencatatan serta ditemukan satu puskesmas tidak melayani dengan MTBS saat petugas terlatih tidak datang. Data awal diatas menunjukkan bahwa sumber daya dan proses pelayanan yang berhubungan dengan MTBS belum sesuai dengan kaidah pelayanan prima (Laporan Puskesmas). Hasil wawancara dengan 10 orang ibu yang memeriksakan balitanya di Puskesmas Xxx didapatkan bahwa 6 diantaranya menyatakan kurang mendapatkan pelayanan yang baik dimana waktu tunggu yang terlalu lama, serta petugas yang terkesan tidak ramah terhadap pasien. Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Terhadap Tingkat Kepuasan Ibu di Puskesmas Xxx Xxx” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah Hubungan Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Terhadap Tingkat Kepuasan Ibu Di Puskesmas Xxx Kota Xxx?” C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui adanya hubungan pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) terhadap tingkat kepuasan ibu di Puskesmas Xxx kota Xxx. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan tingkat kepuasan ibu balita di Puskesmas Xxx kota Xxx b. Mendeskripsikan pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit di Puskesmas Xxx Xxx. c. Menganalisis hubungan pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit terhadap tingkat kepuasan ibu di Puskesmas Xxx Xxx D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Dinas Kesehatan Mendapatkan masukan dan mengetahui unsur unsur manajemen mutu MTBS yang ada yang dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan mutu penerapan kegiatan MTBS Puskesmas dan agar dapat dijadikan bahan masukan untuk memperbaiki unsur–unsur manajemen mutu di tingkat pengambil keputusan yang masih kurang. 2. Bagi Institusi Keperawatan Sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam manajemen kebijakan program kesehatan anak dan hasil penelitian ini dapat dikembangkan oleh peneliti lain dari berbagai konsentrasi keilmuan. 3. Bagi Peneliti Memperluas pengetahuan dan pengalaman serta menerapkannya dalam tugas keperawatan. E. Bidang Ilmu Penelitian ini berhubungan dengan ilmu keperawatan khususnya manajemen keperawatan. F. Keaslian Penelitian Judul Nama Desain Hasil Hubungan kepatuhan petugas puskesmas dan kepuasan ibu balita yang mendapat pelayanan kesehatan dengan tatalaksana manajemen terpadu balita sakit (MTBS) di kabupaten sidoarjo jawa timur tahun 2002 Asteria unik prawati (2002) Cross sectional dengan Pendekatan kuantitatif dan kualitatif Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada tingkat kepatuhan petugas dengan menggunakan cut off point 90 dalam nilai kisaran kepatuhan tertinggi 100 dan terendah 83,32% maka sebanyak 65,80% petugas patuh dalam melakukan penilaian dan klasifikasi, 9,70% petugas patuh dalam menentukan tindakan dan 66,70% petugas patuh dalam memberikan konseling. Untuk tingkat kepuasan ibu balita, dengan cut off point 29 dari total score 40, maka secara umum ibu balita menyatakan puas mendapatkan pelayanan dengan tatalaksana MTBS, tetapi masih ada 8,34% ibu balita yang tidak puas dalam hal keinginananya untuk kembali. Dengan uji statistic, pada p~, 43 terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan petugas dalam penilaian dan klasifikasi penyakit dengan kepuasan ibu balita dalam hal keinginannya untuk kembali membawa anaknya berobat ke puskesmas. Analisis Manajemen Mutu MTBS yang terkait dengan Mutu Penerapan kegiatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Puskesmas di Kabupaten Brebes Suparto Hary Wibowo (2008) Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap kepala Puskesmas tentang manajemen mutu MTBS di kabupaten Brebes masih kurang pada pengetahuan pengelolaan sasaran mutu dan pada pelayanan yang berfokus pada pelanggan. Dari analisis kualitatif disimpulkan bahwa terdapat kelemahan pada proses manajerial penerapan proses manajemen kasus MTBS, kelemahan pada proses manajerial kepala Puskesmas dalam menetapkan sasaran, merencanakan, menghimpun sumber daya, melaksanakan dan mengawasi penerapan MTBS Puskesmas, dan lemahnya manajemen implementasi dan koordinasi lintas program serta lemahnya manajemen mutu pada aspek kepemimpinan, ketidaksamaan kultur, kurangnya ketrampilan analitis dan orang, dan lemahnya kinerja organisasi MTBS di Puskesmas. Hubungan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Oleh Petugas Kesehatan Dengan Kepuasan Ibu Balita Sakit Di Puskesmas Parit Rantang Kota Payakumbuh Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi kerja petugas pelaksana MTBS di puskesmas kota surabaya Christya Wardani Utari (2009) Faridah (2009) Kuantitatif dengan pendekatan cros sectional Observasional dengan metode survey dengan pendekatan cross sectional Hasil penelitian menemukan hubungan yang bermakna pelaksanaan MTBS oleh petugas kesehatan dengan kepuasan ibu balita sakit di puskesmas parit Rantan. Hasil penelitian menunjukkan persepsi kompensasi kurang baik (54,8%), persepsi kondisi kerja kurang baik (47,6%), persepsi kebijaksanaan kurang baik (50%), persepsi supervisi kurang baik (42,9%), persepsi pekerjaan itu sendiri kurang baik (33,3%) dan persepsi motivasi kerja kurang baik (54,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kondisi kerja, persepsi kebijaksanaan dan persepsi supervisi pelaksanaan program MTBS dengan motivasi kerja petugas pelaksana MTBS di puskesmas kota surabaya (p < 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya pengaruh bersama-sama variabel persepsi kondisi kerja (p-value =0,034 dan nilai Exp B: 5.500) dan persepsi kebijaksanaan pelaksanaan program MTBS (p-value = 0,003 dan nilai Exp B: 11.000 ) terhadap motivasi kerja petugas pelaksana MTBS di Puskesmas Kota Surabaya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah lokasi, waktu, variabel bebasnya yang meliputi manajemen mutu Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) oleh petugas kesehatan, kepatuhan petugas puskesmas dan kepuasan ibu yang mendapat pelayanan kesehatan, Analisis faktor-faktor yang berpengaruh dan variabel terikatnya mutu penerapan kegiatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), kepuasan ibu balita sakit, tatalaksana Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), dan motivasi kerja petugas pelaksana Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). perbedaan lain bila penelitian sebelumnya menggunakan cross sectional dengan pendekatan kualitatif, kuantitatif dan kuantitatif dan kualitatif, observasional dengan metode survey dengan pendekatan cross sectional maka penelitian yang saya gunakan ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Hal yang terpenting dalam penelitian ini adalah bahwa saya akan melakukan penelitian “Hubungan Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Terhadap Tingkat Kepuasan Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Xxx Xxx” dengan variabel penelitian kuantitatif dan pendekatan cross sectional. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tingkat Kepuasan Ibu 1. Pengertian Kepuasan Menurut Imbalo, S. Pohan. (2007, dalam Wikipedia.com) Pasien baru akan merasa puas apabila kinerja layanan dari kesehatan yang diperolehnya sama atau melebihi harapannya dan sebaliknya, ketidakpuasan atau perasaan kecewa terhadap pasien akan muncul apabila kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya itu tidak sesuai dengan harapan yang diberikan. Berdasarkan apa yang disebutkan di atas, pengertian kepuasan pasien dapat dijabarkan sebagai berikut : Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien atau seseorang yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkan dari pasien. Dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien adalah keluaran (outcome) layanan kesehatan. Dengan demikian, kepuasan pasien merupakan salah satu tujuan dari peningkatan mutu layanan kesehatan yang diharapkan. Menurut Kotler (2005), kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa terhadap pelanggan berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk atau jasa atau pengalamannya dan harapan-harapannya. Jika kinerja tersebut berada di bawah harapan pelanggan, maka pelanggan tersebut merasa dikecewakan dan tidak puas; jika memenuhi harapan, pelanggan akan merasa sangat puas dan menyenangkan. Rangkuti (2006) mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan respon pelanggan terhadap kesesuaian harapan antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang dirasakan setelah pemakaian. Dari beberapa pendapat diatas disimpulan bahwa, Kepuasan pelanggan ditentukan oleh berbagai jenis pelayanan yang didapatkan ataupun pengalaman oleh pelanggan selama menggunakan beberapa tahapan pelayanan kesehatan tersebut. Ketidakpuasan yang diperoleh pelanggan pada tahap awal pelayanan menimbulkan persepsi berupa kualitas pelayanan yang buruk pada tahap selanjutnya, sehingga pelanggan merasa kurang puas atau tidak puas dengan pelayanan secara keseluruhan. 2. Faktor-Faktor Pendorong Kepuasan Pelanggan Menurut Irawan (2007), terdapat lima komponen yang dapat mendorong kepuasan pelanggan, yaitu : a. Kualitas produk Kualitas produk mencakup enam elemen, yaitu performance, durability, feature, reliability, consistency, dan design. Setelah membeli dan menggunakan suatu produk, pembeli akan merasa puas bila ternyata kualitas produknya baik atau berkualitas. b. Kualitas pelayanan Salah satu konsep service quality adalah ServiQual sangat tergantung dari tiga faktor, yaitu : 1) Sistem 2) Teknologi 3) Manusia. Berdasarkan konsep ServiQual, komponen ini mempunyai 5 dimensi, yaitu : reliability (Keandalan) , responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), empathy, dan tangible (bukti fisik). c. Faktor emosional Kepuasan konsumen yang diperoleh pada saat menggunakan suatu produk yang berhubungan dengan gaya hidup. Kepuasan pelanggan didasari atas rasa bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, dan sebagainya. d. Harga Komponen harga sangat penting karena dinilai mampu memberikan kepuasan yang relatif besar dalam industri ritel. Harga yang murah akan memberikan kepuasan bagi pelanggan yang sensitif terhadap harga karena mereka akan mendapatkan value for money yang tinggi. e. Kemudahan Komponen ini berhubungan dengan biaya untuk memperoleh produk atau jasa. Pelanggan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan. Pelayanan yang baik menurut Sugiarto dalam Lupiyoadi (2006) akan dapat menciptakan loyalitas pelanggan yang semakin melekat erat dan pelanggan tidak berpaling pada perusahaan lain. Ikatan emosional tersebut merupakan wujud dari loyalitas yang ditunjukan konsumen kepada perusahaan sebagai bukti atas kepuasan atas kinerja produk yang diterimanya. Penyedia jasa pelayanan perlu menguasai unsur-unsur : a. Kecepatan Kecepatan adalah waktu yang digunakan dalam melayani konsumen atau pelanggan minimal sama dengan batas waktu standar pelayanan yang ditentukan oleh perusahaan. b. Ketepatan Kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan para pelanggan. Oleh karena itu, ketepatan sangatlah penting dalam pelayanan. c. Keamanan Dalam melayani para konsumen diharapkan perusahaan dapat memberikan perasaan aman untuk menggunakan produk atau jasa. d. Keramah tamahan Dalam melayani pelanggan, karyawan perusahaan dituntut untuk mempunyai sikap sopan dan ramah. Oleh karena itu, keramah tamahan sangat penting apalagi pada perusahaan yang bergerak pada bidang jasa. e. Kenyamanan Rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. Dengan demikian perusahaan harus dapat memberikan rasa nyaman pada konsumen. 3. Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan Metode penelitian yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan metode survey. Pengukurannya dilakukan dengan cara berikut : a. Pengukuran dilakukan secara langsung melalui interview dengan menggunakan kuesioner kepada pasien. b. Kuesioner berisikan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan skala ordinal mengenai harapan dan kinerja yang terkait dengan atribut yang ada. Untuk tingkat harapan terdiri dari ”sangat tidak penting”, ”tidak penting”, ”penting”, dan ”sangat penting”. Untuk tingkat kenyataan (kinerja) terdiri dari ”sangat tidak baik”, ”tidak baik”, ”baik”, dan ”sangat baik”. c. Responden diminta menilai seberapa besar harapan mereka terhadap suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang mereka rasakan terhadap atribut atau pelayanan tersebut. Selengkapnya...

Minggu, 31 Mei 2015

KTI KEBIDANAN BARU 2015 : HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN POLA MENSTRUASI PADA MAHASISW D3 KEBIDANAN TINGKAT 3

MAU KTI LENGKAP BAB 12345+Daftar Pustaka HUb : 081225300100 Pin :527B6FC1
BAB I Mbr>PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pubertas merupakan periode kehidupan saat organ reproduksi berkembang pesat dan mencapai maturitas. Tanda-tanda awal pubertas adalah tumbuhnya payudara dan rambut pubis. Tubuh tumbuh dengan pesat dan memberi bentuk tubuh wanita. Pubertas mencapai puncak pada awitan menstruasi, periode menstruasi pertama disebut menarche (Fraser, 2009). Siklus menstruasi merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulanya untuk kehamilan. Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi (atau mens, atau haid), (Saryono, 2009). Siklus menstruasi biasanya dimulai pada wanita muda umur 12-15 tahun (menarche) yang terus berlanjut sampai umur 40-50 tahun (menopause) tergantung pada berbagai factor, termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat badan tubuh relative terhadap tinggi tubuh. Pada umumnya siklus menstruasi berlangsung 28 hari, siklus normal 21-35 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita. Selama siklus menstruasi, ovarium menghasilkan hormone estrogen dan progesterone (Saryono, 2009). Siklus menstruasi meliputi perubahan siklus didalam endokrin, ovarium, dan uterus. Baik factor fisiologis individu maupun lingkungan dapat mempengaruhi perubahan siklus ini (Walsh, 2008). Hipotalamus adalah sumber utama kontrol hipotalamus dan mengatur kelenjer hipofisis anterior melelui jalur hormonal. Sebaliknya, kelanjar hipofisis anterior mengatur ovarium dengan hormon. Akhirnya, ovarium menghasilkan hormone yang mengendalikan perubahan yang terjadi simultan dan selaras. Mood wanita dapat berubah sejalan dengan siklus tersebut karena adanya hubungan yang erat antara hipotalamus dan korteks serebri (Franser, 2009). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi dalam Hestiantoro (2009) adalah: Fungsi hormon terganggu, kelainan sistemik, cemas, kelenjar gondok, hormon prolactin berlebihan, kelainan fisik (alat reproduksi) seperti: gangguan kesuburan, abortus berulang, dan keganasan pada organ reproduksi. Gejala kecemasan sangat mempengaruhi pola menstruasi pada wanita, karena pesan sepanjang saraf di dalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh (Saryono, 2009). Adanya rangsangan stressor psikososial mengakibatkan jaringan neuro di otak ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya. Otak dapat secara konstan mengirimi pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera (Nevid, 2005). Berdasarkan data National Institute of Mental Healt (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. Di Indonesia jumlah remaja putri yang mengalami gangguan emosional sebesar 20% (Putri, 2007). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Desi nur isnaeni (2010), menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami siklus menstruasi normal (58,90%) dan mengalami stress ringan (84,93%). Uji utami (2009), menunjukan bahwa mahasiswa semester VI A Akbid Mitra Husada Karanganyar mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi (66,7%), tidak cemas saat menghadapi ujian OSCA (57,8%). Sesuai dengan teori kecemasan Mansjoer (2005), mengatakan kecemasan yaitu perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan manifestasi dari factor psikologi dan fisiologi. Dampak dari kecemasan antara lain : berdebar dengan diiringi dengan detak jantung yang cepat, rasa sakit atau nyeri pada dada, sesak nafas, berkeringat berlebihan, kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual, gangguan tidur, tubuh gemetar, anggota tubuh dingin, ingin bunuh diri, dan Migrain (Putri, 2007). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 10 mahasiswa D3 kebidanan tingkat 3 di universitas xxx xxx, didapatkan 6 mahasiswa atau 60% diantaranya menyatakan pola menstruasinya tidak teratur (mundur lebih dari dua minggu dari pola atau menstruasinya lebih awal satu minggu) disebabkan kecemsaan Karena kegiatan perkuliahan yang padat, persiapan menghadapi serangkaian ujian serta kegiatan penyusuna KTI, sedangkan 4 mahasiswa atau 40% mahasiswa lainya menyatakan pola menstruasinya normal pada saat mahasiswa ada kegiatan yang padat. Hal tersebut terkait dengan cemas yang dialami mahasiswa karena aktivitas padat yang banyak menyita waktu, tenaga dan biaya serta permasalahan yang sedang dihadapinya. Hal ini berakibat akan mempengaruhi kondisi fisik dan mental emosional misalnya mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, daya konsentrasi dan daya ingat menurun serta menjadi pemarah, pemurung, dan merasa cemas. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Tingkat kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasisw D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “Adakah hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa D3 kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012”?. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa D3 kebidanan Tingka 3 Universitas Muhammadiya Xxx tahun 2012. 2. Tujuan khusus a. Mendeskripsikan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa D3 kebidanan Tingkat 3 universitas Xxx Xxx Tahun 2012. b. Mendeskripsikan Pola Menstruasi pada mahasiswa D3 tingkat 3 universitas Xxx Xxx Tahun 2012. c. Menganalisa hubungan Antara Tingkat kecemasan dengan Pola Menstruasi pada Mahasiswa D3 Kebidanan tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Mahasiswa Sebagai masukan dan pengetahuan bagi mahasiswa tentang tingkat kecemasan dan pola menstruasi. 2. Bagi institusi Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran dan menganalisa mengenai tingkat kecemasan dan pola menstruasi sehingga dapat digunakan sebagai refrensi bagi penelitian selanjutnya. 3. Bagi peneliti Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam penelitian terutama metodologi penelitian tentang hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola menstruasi pada mahasiswa. E. Keaslian Penelitian Tabel 1.1.Keaslian Penelitian No Pengarang Judul Metode Hasil 1 Desty nur isnaeni, Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) fakultas kedokteran Tahun 2010 Hubungan Antara Stres dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa Kebidanan jalur Reguler Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun 2010 Penelitian Observasional analitik, pendekatan Crosscetional, Metode total Sampling: Cara Pengumpulan Data : Kuesioner DASS 42, Analisa dengan menggunakan uji sperman rank correlation dengan taraf signifikan (α) 0,05 atau tingkat kepercayaan 95% Nilai korelasi spearman = 0,282 dan nilai p= 0,016. Hal ini menunjukan ada hubungan antara sters dengan pola menstruasi, semakin berat tingkat stersnya maka semakin berpengaruh terhadap pola menstruasi. 2 Uji Utami Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Fakultas Kedokteran Tahun 2009 Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Obyektif Structural Clinical Assesment pada Mahasiswa Semester VI A Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar Penelitian analitik observasional secara cross sectional Metode Sampling : Total Sampling cara pengumpulan Data : Kuesioner, Analisa dengan Uji chi square pada taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (d.k) P value = X2 lebih besar dari Xtabel (30,789 > 3,844) dapat dambil kesimpulan ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecemasan menghadapi ujian OSCA pada mahasiswa semester VI A Akbid Mitra Husada Karanganyar 3 Tri Suwarni Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Fakultas kedokteran Tahun 2009 Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Siklus Haid Pada Remaja Putri Kelas 2 SMA Negeri 1 Karanganyar Observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional,pengambilan data menggunakan kuesioner kemudian dilakukan pengolahan data dengan uji statistic chi square. Hasil penelitianmenunjukkan X2 hitung = 15,267 ( > X2 tabel = 5,991), nilai probabilitas 0,000 (< 0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan yang sangat signifikan. Dalam penelitian ini penulis mengambil judul “ Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012. Yang membedakan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah dari judul, sampel yang diteliti dari penelitian Desi nur isnaeni berjumlah 73 orang dan tempat penelitian di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Uji utami berjumlah 45 orang dan tempat penelitian di Akademi Kebidanan Mitra Husada karanganyar. BAB II TINJAUAN TEORI A. Tinjauan Teori 1. Pola Menstruasi a. Pengertian Menstruasi Haid atau menstruasi adalah salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses dekuamasi atau meluruhnya dinding Rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui vagina (Prawirohardjo, 2008). Pada umumnya siklus menstruasi berlangsung 28 hari.Siklus normal berlangsung 21-35 hari. Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hamper 90% wnita memiliki siklus 25-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur. Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu 1 hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai (Saryono, 2009). Pola menstruasi merupakan serangkaian proses menstruasi yang meliputi siklus menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan dismenorea. Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya menstruasi periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8 hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5 kali. Panjangnya siklus menstruasi ini dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik, tingkat stres, genetik dan gizi (Wiknjosastro;2005, Octaria;2009). b. Pola Menstruasi Pola menstruasi normal yaitu siklusnya berlangsung selama 21-35 hari, lamanya adalah 2-8 hari dan jumlah darah yang dikeluarkan kira-kira 20-80 ml per hari. Pola menstruasi yang tidak normal atau disebut juga gangguan menstruasi yaitu apabila menstruasi yang siklus, lama dan jumlah darahnya kurang atau lebih dari yang diuraikan diatas (Anonim,2009). Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium. Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun (Heffner; 2008). c. Gambaran Klinis Franser (2009) mengatakan terdapat tiga fase utama yang mempengaruhi struktur jaringan endometrium dan dikendalikan oleh hormone ovarium. Fase tersebut antara lain : 1) Fase menstruasi Fase ini ditandai dengan perdarahan vagina, selama 3-5 hari.Fase ini adalah fase akhir siklus menstruasi, yaitu saat endometrium luruh ke lapisan basal bersama darah dari kapiler dan ovum yang tidak mengalami fertilisasi. 2) Fase proliferative. Fase ini terjadi setelah menstruasi dan berlangsung ovulasi.Terkadang beberapa hari pertama saraf endometrium dibentuk kembali disebut fase regenerative. Fase ini dikendalikan oleh estrogen dan terdiri atas pertumbuhan kembali dan penebalan endometrium. Pada fase ini endometrium terdiri atas tiga lapisan: a) Lapisan basal terletak tepat diatas myometrium, memiliki ketebalan sekitar 1 mm. lapisan ini tidak pernah mengalami perubahan selama siklus menstruasi. Lapisan basal ini terdiri atas struktur rudimenter yang penting bagi pembentukan endometrium baru. b) Lapisan fungsional yang terdiri atas kelenjar tubular dan memiliki ketebalan 2,5 mm. lapisan ini terus mengalami perubahan sesuai pengaruh hormonal ovarium. c) Lapisan epitelium kuboid bersilia menutupi lapisan fungsional. Lapisan ini masuk ke dalam untuk melapisi kelenjar tubular. 3) Fase sekretori. Fase ini terjadi setelah ovulasi di bawah pengaruh progesteron dan estrogen dari korpus luteum. Lapisan fungsional menebal sampai 3,5 mm dan menjadi tampak berongga Karena kelenjar ini lebih berliku-liku. d. Gangguan atau Kelainan Siklus Haid. Gangguan siklus haid disebabkan ketidakseimbangan FSH atau LH sehingga kadar estrogen dan progesteron tidak normal. Biasanya gangguan menstruasi yang sering terjadi adalah siklus menstruasi tidak teratur atau jarang dan perdarahan yang lama atau abnormal, termasuk akibat sampingan yang ditimbulkannya, seperti nyeri perut, pusing, mual atau muntah (Prawirohardjo, 2008). 1) Menurut Jumlah Perdarahan a) Hipomenorea Perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih sedikit dari biasanya. b) Hipermenorea Perdarahan menstruasi yang lebih lama atau lebih banyak dari biasanya (lebih dari 8 hari). 2) Menurut Siklus atau Durasi Perdarahan. a) Polimenore Siklus menstruasi tidak normal, lebih pendek dari biasanya atau kurang dari 21 hari. b) Oligomenorea Siklus menstruasi lebih panjang atau lebih dari 35 hari. c) Amenorea Amenorea adalah keadaan tidak ada menstruasi untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. 3) Gangguan lain yang berhubungan dengan menstruasi, diantaranya: a) Premenstrual tension Gangguan ini berupa ketegangan emosional sebelum haid, seperti gangguan tidur, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala. b) Mastadinia. Nyeri pada payudara dan pembesaran payudara sebelum menstruasi. c) Mittelschmerz Rasa nyeri saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de Graff dapat juga disertai dengan perdarahan/ bercak. d) Dismenorea. Rasa nyeri saat menstruasi yang berupa kram ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. e. Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan pola menstruasi Beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi dalam Hestiantoro (2009) adalah: 1) Fungsi hormon terganggu. Menstruasi terkait erat dengan system hormone yang diatur di otak, tepatnya di kelenjar hipofisis. System hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu otomatis siklus menstruasi pun akan terganggu. 2) Kelainan sistemik. Wanita yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus bisa mempengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolism didalam tubuh tidak bekerja dengan baik. Wanita penderita penyakit diabetes juga akan mempengaruhi sistem metabolismenya sehingga siklus menstruasinya tidak teratur. 3) Cemas. Cemas juga dapat mengganggu sistem metabolisme didalam tubuh, bisa saja karena stress/ cemas wanita jadi mulai lelah, berat badan turun drastis, sakit-sakitan, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolismenya terganggu, siklus menstruasinya pun ikut terganggu. 4) Kelenjar gondok. Terganggu fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa menjadi penyebab tidak teraturnya siklus mentruasi. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid), pasalnya sistem hormonal tubuh terganggu. 5) Hormon prolaktin berlebihan. Pada wanita menyusui produksi hormon prolaktin cukup tinggi. Hormon prolaktin ini sering kali membuat wanita tak kunjung menstruasi karena memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada kasus ini tidak masalah, justru sangat baik untuk memberikan kesempatan guna memelihara organ reproduksinya. Sebaliknya, tidak sedang menyusui, hormon prolaktin juga bisa tinggi. Biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala. 6) Kelainan fisik (alat reproduksi) Kelainan fisik yang dapat menyebabkan tidak mengalami menstruasi (aminorea primer) pada wanita adalah: a) Selaput dara tertutup sehingga perlu operasi untuk membuka selaput dara. b) Indung telur tidak memproduksi ovum. c) Tidak mempunyai ovarium. f. Dampak gangguan menstruasi Gangguan siklus menstrusi dapat mengakibatkan : 1) Gangguan kesuburan 2) Abortus berulang 3) Keganasan pada organ reproduksi 2. Kecemasan a. Pengertian kecemasan atau ansietas Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya (Nanda, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005). Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor psikologi dan fisiologi (Mansjoer, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2007). b. Gambaran Klinis Kecemasan (ansietas) Seseorang yang mengalami gangguan hidup tiap hari dalam ketegangan yang tinggal secara samar-samar merasa takut atau cemas pada hampir sebagian besar waktunya dan cenderung bereaksi secara berlebihan terhadap stress yang ringan pun. Tidak mampu santai, mengalami gangguan tidur, kelelahan, nyeri kepala, pening, dan jantung berdebar-debar adalah keluahn fisik yang paling sering ditemukan (Zuyina, 2010). Aspek-aspek biologis dari gangguan obsesif-komplusif dapat melibatkan keterangsangan yang meninggi dari apa yang disebut sebagai sirkuit cemas yaitu suatu jaringan neuro diotak yang ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya. Otak dapat secara konstan mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera, hal ini membawa kepada pikiran-pikiran kecemasan obsessional dan tingkah laku komplusif representative. Sirkuit cemas ini menginkorporsi bagian-bagian dari sistem limbik yang memegang peranan dalam respons emosional (Nevid, 2005). c. Faktor-faktor Penyebab / Pencetus Kecamasan (ansietas) Berdasarkan Stuart (2007), kecemasan dapat dieskspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan. Faktor-faktor penyebabnya yaitu: 1) Psikoanalitis Kecemasan yang timbul id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan implus primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. Ego atau aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan. 2) Interpersonal Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. 3) Perilaku Adanya hubungan timbal balik antara konflik dan kecemasan : konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan. 4) Keluarga Gangguan kecemasaan biasanya terjadi dalam keluarga.Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dengan depresi. 5) Biologis Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan pebting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan.Selain itu, kesehatan umum individu dan riwayat kecemasan pada keluarga memiliki efek nyata sebagai predisposisi kecemasan.Kecemasan disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stresor. d. Tingkat kecemasan(Anxiety) Stuart (2007), mengatakan bahwa tingkat kecemasan dibagi menjadi : 1) Ansietas ringan, berhubungan dengan ketegangan dalam kehiduan sehari-hari. Ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. 2) Ansietas sedang, memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya. 3) Ansietas berat, sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus pada suatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. 4) Tingkat panic dari ansientas, berhubungandengan terpengaruh, ketakutan, dan treor. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panic tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panic mencakup kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motoric, menurunya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika berlangsungterus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian. e. Penatalaksanaan Kecemasan. Nevid (2005) mengatakan, untuk mengatasi konflik-konflik atau gangguan-gangguan kecemasan antara lain : 1) Pendekatan psikodinamika yang modern yaitu lebih berfokus pada gangguan-gangguan relasi yang ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk lebih mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. 2) Terapi humanistika yaitu berfokus pada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan dengan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan. 3) Terapi obat atau farmakoterapi yaitu berfokus pada penggunaan benzodiazepine dan obat-obat antidepresan. 4) Pendekatan-pendekatan dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan melibatkan berbagai teknikbehavioral, termasuk teori pemaparan dan pencegahan responden, serta pelatihan ketrampilan relaksasi. 5) Psikoterapi : lamanya terapi minimal dilakukan adalah selama 12 minggu, biasanya dipilih group terapi dengan kondisi anggota group adalah sama dengan pasien dianggap lebih efektif dalam penyembuhan. Latihan pernafasan dan teknik relaksasi ketika menghadapi kecemasan, dalam terapi ini terapis berusaha membantu pasien menemukan ketenangan dengan menciptakan rileks dalam diri individu, bersamaan dengan itu pasien juga diberikan sugesti bahwa kecemasan-kecemasan yang muncul itu tidak realitis. 6) Pendekatan agama. Pendekatan agam akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan terhadap tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan positif. 7) Pendekatan keluarga Dukungan (supportif) keluarga efektif mengurangi kecemasan. 8) Olahraga Olahraga tidak hanya baikuntuk kesehatan. Olahraga akan menyalurkan tumpukan stres secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan memberikan rasa nyaman. f. Upaya Mencegah Kemunculan Gangguan Kecemasan. 1) Kontrol pernafasan yang baik. 2) Melakukan relaksasi. 3) Olahraga. 4) Bermain dengan benda kesayangan. 5) Dekat air atau menyentuh air. 6) Mengkonsumsi makanan dan minuman kesukaan. 7) Berdoa. 8) Senyum. 9) Makan coklat. 10) Hindari kopi. 11) Curhat ke orang-orang yang dipercaya. 12) Tuliskan pikiran-pikiran pada catatan harian. 13) Membaca. 14) Melakukan kegiatan amal. 15) Aromaterapi. 16) Jalan-jalan. 17) Dipijat. 18) Bersyukur. 19) Merendam kaki dengan air hangat. 20) Nonton film komedi. 21) Mendengarkan music. 22) Minum teh hijau. (Putri, 2007). g. Dampak Kecemasan Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap cemas tergantung pada kondisi masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat menggangu. Diantaranya yaitu: 1) Berdebar dengan diiringi dengan detak jantung yang cepat. Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami gangguan kecemasan kotinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang normal. 2) Rasa sakit atau nyeri pada dada Kecemasan meningkat tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda serangan rasa panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya. 3) Rasa sesak napas Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti kesulitan bernafas karena kehilangan udara. 4) Berkeringat secara berlebihan Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang muncul disebabkan oleh otak mempersiapkan perencanaan fight or flight terhadap stressor. 5) Kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual. 6) Gangguan tidur 7) Tubuh gemetar Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan, rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain. 8) Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan berkeringat 9) Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri 10) Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain) (Putri, 2007). h. Cara Mengukur Kecemasan Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, tau berat sekali orang menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A). alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala dengan masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 0-3 dengan penilaian sebagai berikut : Nilai 0 : tidak ada gejala (tidak ada gejala sama sekali). Nilai 1 : gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). Nilai 2 : gejala sedang (separuh dari gejala yang ada). Nilai 3 : gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada). Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu angka (score) < 6 = tidak ada kecemasan, 7-14 = kecemasan ringan, 15-27 =kecemasan sedang, ≥ 27 = kecemasan berat. (Nursalam, 2008). 3. Hubungan Kecemasan Dengan Pola Menstruasi. Fraser (2009) mengatakan hipotalamus adalah sumber utama control hipotalamus dan mengatur kelenjar hipofisis anterior melalui jalur hormonal. Sebaliknya, kelenjar hipofisis anterior mengatur ovarium dengan hormon.Akhirnya, ovarium menghasilkan hormone yang mengendalikan perubahan yang terjadi simultan dan selaras.Mood wanita dapat berubah sejalan dengan siklus tersebut karena adanya hubungan yang erat antara hipotalamus dan korteks serebri. Saryono (2009) mengatakan gejala kecemasan sangat mempengaruhi pola menstruasi pada wanita, karena pesan sepanjang saraf di dalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh. Nevid (2005) mengatakan adanya rangsangan stressor psikososial mengakibatkan jaringan neuron di otak ikut serta dalam memberikan sinyal bahaya.Otak dapat secara konstan mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan memerlukan perhatian segera, hal ini membawa kepada pikiran-pikiran kecemasan obsessional dan tingkah laku komplusif representative yang kemudian menginkorpusi bagian-bagian dari system limbik yang memegang peranan dalam respons emosional. Prawirohardjo (2008) mengatakan gangguan emosiaonal sebagai rangsangan melalui system saraf diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu bagian otak yang disebut limbic system melalui tranmisi saraf, selanjutnya melalui saraf autonomy (simpatis atau parasimpatis) akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar hormonal (endokrin) hingga mengeluarkan secret (cairan) neurohormonal menuju hipofisis melalui system prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH (Follikel Stimulazing hormone) dan LH (Leutinizing Hormone). Produksi kedua hormon ini adalah dibawah pengaruh RH (Realizing Hormone) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Pengeluaran Rh sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus juga pengaruh luar cahaya, bau-bauan dan hal-hal psikologik hingga selanjutnya mempengaruhi terjadinya proses menstruasi atau haid. B. Kerangka Teori Mengacu pada tinjauan teori yang telah dipaparkan pada kerangka teoti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Gambar. 2.1. Kerangka Teori Keterangan : : diteliti : tidak diteliti Sumber : Nursalam (2008), Saryono (2010) C. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui proses penelitian yang akan dilakukan.(Notoatmodjo, 2005) Dalam penelitian ini konsep-konsep yang ingin diamati adalah : tingkat kecemasan dengan pola menstruasi mahasiswa. Variable independen variable dependen Gambar 2.1 : Kerangka konsep D. Hipotesis Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul, Arikunto (2006) : “Ada Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D3 Kebidanan Tingkat 3 Universitas Xxx Xxx Tahun 2012” . Selengkapnya...