Sabtu, 07 September 2013

KTI/SKRIPSI KEBIDANAN 2013: FAKTOR - FAKTOR KEIKUTSERTAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA PADA IBU PESERTA JAMKESMAS PELAYANAN PERTOLONGAN PERSALINAN DI RS

MURAH FILE WORD SEGERA HUB: 081225300100 LENGKAP BAB 12345+DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Masalah kependudukan di Indonesia dewasa ini merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius dari kita, masyarakat dan pemerintah. Menurut laporan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia melebihi angka proyeksi nasional sebesar 236,7 juta dengan tingkat laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,49 persen. Indonesia merupakan Negara berpenduduk tinggi ke 4 di dunia dan diprediksi akan terus meningkat pada tahun 2060 menjadi 475 sampai 500 juta atau meningkat dua kali lipat dari kondisi penduduk yang ada pada saat ini bila tidak berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk, masalah kepedudukan akan berdampak pula pada masalah kesehatan di masyarakat(1). Pembangunan kesehatan saat ini telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Pada periode 2004 sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka kematian Bayi (AKB) dari 35 per 1000 kelahiran hidup menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup. Kesepakatan global Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11%(2). Kematian ibu juga masih banyak diakibatkan faktor risiko tidak langsung berupa keterlambatan (Tiga Terlambat), yaitu terlambat mengambil keputusan dan mengenali tanda bahaya, terlambat dirujuk, dan terlambat mendapat penanganan medis. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintil 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Keadaan seperti ini banyak terjadi disebabkan kendala biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal) yang telah terintegrasi dengan pelayanan keluarga berencana. Dengan adanya kebijakan yang terintegrasi tersebut, pelayanan KB lebih di arahkan kepada Kontrasepsi Jangka Panjang ( MKJP ) IUD, AKBK, MOP, dan MOW. Dimana Kebijakan Jampersal tersebut diambil atas dasar tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya yaitu AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global ( Millenium Development Globals/ MDGs 2000 ) angka kematian ibu diharapkan menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.00 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 menjadi 23 per 1000 KH(3). Program jampersal merupakan upaya menjamin dan melindungi proses kehamilan, persalinan, pascapersalinan, pelayanan keluarga berencana (KB), hingga pelayanan bayi baru lahir. Jampersal ini merupakan perluasan kepesertaan jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin. Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian, kehadiran Jampersal diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs, khususnya MDGs 4 ( Mengurangi angka kematian anak ) dan 5 (Meningkatkan kesehatan ibu) (2). Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang- Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan, ditetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pemerintah membuat kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan masyarakat miskin dengan program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) program ini bertujuan untuk memberi akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sangat miskin, miskin dan mendekati miskin berjumlah 76,4 juta jiwa(4). Cakupan peserta program Jamkesmas di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 92,27%, yang berarti masih terdapat masyarakat miskin dan tidak mampu yang tidak tercakup Jamkesmas sebesar 7,73%. Cakupan tersebut meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2009 (90,55%). Meskipun demikian angka tersebut masih belum mencapai target SPM (Standar Pelayanan Minimal) sebesar 100% (5). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan jumlah peserta Jamkesmas yang ada 542,210 yang dicakup Jamkesmas hanya 85,68%. Khususnya untuk data Jamkesmas dengan Pertolongan Persalinan Normal sebanyak 5733 ibu bersalin, sedangkan untuk persalinan tak maju sebanyak 139 ibu bersalin, Menurut data dari RS. PKU Muhammadiyah Gubug untuk jumlah total peserta jamkesmas dari tahun ke tahun semakin menurun karena sulitnya persyaratan yang harus dipenuhi. Khususnya pada pasien Jamkesmas pertolongan persalinan pada tahun 2010 prosentase yang didapat 57,92 % dan pada tahun 2011 didapat prosentase yang menurun yaitu 44,07%(6). Menurut data dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah untuk Cakupan peserta KB aktif provinsi Jawa Tengah tahun 2010 sebesar 75,57%, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 (78,37%). Angka ini sudah mencapai target tahun 2010 (70%). Cakupan tertinggi di Kabupaten Boyolali (83,26%) dan terendah di kota Salatiga (71,74%). Jumlah Peserta KB aktif di Kabupaten Grobogan pada tahun 2010 untuk KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang meliputi IUD 4,58%, MOP/MOW 5,13% dan implant 6,35% , untuk KB non MKJP meliputi Suntik 65,69% ,Pil 17,39% , dan Kondom 0,84%(5). Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003), Faktor- faktor yang melatarbelakangi perilaku kesehatan dibagi menjadi 3, yaitu predisposising factors, enabling factors, dan reinforching factors : a. Faktor predisposisi : pengetahuan , pendidikan, ekonomi, umur, paritas, kepercayaan , nilai dan sikap b. Faktor pendukung / pemungkin Informasi media masa dan jarak ketempat pelayanan c. Faktor penguat Dukungan suami dan keluarga(7). Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan peneliti untuk mengetahui keikutsertaan KB pada ibu peserta Jamkesmas untuk pertolongan persalinan dilakukan wawancara kepada 5 orang ibu post partum peserta Jamkesmas didapatkan informasi bahwa ada 3 ibu tidak merencanakan KB pasca persalinan, 2 diantaranya dikarenakan untuk biaya yang harus dikeluarkan mahal dan ibu tidak mendapatkan informasi tentang pelayanan KB yang juga termasuk program yang digratiskan. Satu ibu menyatakan tidak berencana untuk melakukan KB pasca persalinan dikarenakan ibu tidak diperbolehkan KB oleh suaminya karena ibu baru mempunyai anak satu dan alasan yang diungkapkan ibu merasa takut untuk pemasangan KB. Sedangkan 2 ibu yang merencanakan untuk melakukan KB pasca persalinan, diantarannya 1 ibu menginginkan KB pasca persalinan secara gratis dengan memanfaatkan fasilitas oleh BKKBN kepada peserta Jamkesmas yang dilayani di Puskesmas ataupun di PKD. Satu ibu diantarannya berencana untuk melakukan KB pasca persalinan di Bidan Praktek Swasta dengan biaya sendiri. Sedangkan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug menyatakan tentang program KB pasca persalinan yang dilayani lebih difokuskan untuk KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang sifatnya mengakhiri yaitu MOW atau yang sering disebut sterilisasi dengan syarat ketentuan MOW dengan persalinan seperti halnya ibu multigravida yang telah dilakukan sectio caesaria kemudian menginginkan untuk MOW. Untuk jenis KB MKJP maupun non MKJP lainnya keikutsertaannya sangat sedikit sekali karena mereka lebih menginginkan untuk melaksanakan di pelayanan kesehatan lain seperti di Puskesmas, PKD, BPS maupun Dokter praktek. Sejak adannya fasilitas yang disediakan pemerintah untuk pertolongan persalinan secara gratis pada peserta Jamkesmas mengakibatkan peningkatan pasien bersalin, namun di RS. PKU Muhammadiyah pelayanan untuk KB hanya difokuskan untuk KB yang bersifat mengakhiri yaitu MOW sehingga kurang memperhatikan untuk jenis pelayanan KB lainnya. Kendala yang terjadi yaitu sulit memonitoring keikutsertaan KB yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam kesediaan untuk melakukan KB. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti Faktor- faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug. B. Perumusan Masalah Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu di Indonesia masih cukup tinggi, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2009 menjadi 102 per 1000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per KH. Angka kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010 berdasarkan laporan dari Kabupaten/kota sebesar 104,97/100.000 kelahiran hidup. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB di Indonesia diharapkan dilakukan secara komprehensif, dimana tidak hanya melakukan tindakan persalinan gratis tapi juga bagaimana upaya untuk menekan AKI dengan membatasi persalinan dengan mengikuti KB. Secara umum jumlah pasien yang mendapatkan pertolongan persalinan dengan memanfaatkan program Jamkesmas mengalami peningkatan, sedangkan di RS. PKU Muhammadiyah untuk pelayanan KB lebih difokuskan untuk KB yang sifatnya mengakhiri yaitu MOW, sedangkan untuk macam-macam KB yang lain bisa dilaksanakan di puskesmas maupun di Bidan Praktek Swasta. Dalam pelayanan persalinan yang diberikan secara gratis yang seharusnya dilakukan secara komprehensif, namun untuk pelaksanaannya menurut survey yang dilakukan belum sesuai dengan program yang di tentukan, karena dalam pelaksanaan pelayanan program KB yang juga bertujuan untuk menekan AKI dan AKB dalam membatasi jumlah persalinan dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu kurangnya informasi yang mereka dapat mengenai ketersediaan fasilitas pelayanan KB dari petugas kesehatan yang mempengaruhi keikutsertaan program KB pada ibu peserta Jamkesmas di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. Untuk itu penulis merumuskan masalah penelitian Apakah “Faktor -faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug?”. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor keikutsertaan program pelayanan Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui karateristik ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug berdasarkan umur, paritas, tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. b. Untuk mengetahui keikutsertaan program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. c. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan tingkat pengetahuan program KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. d. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan sikap terhadap KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. e. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan dukungan suami terhadap KB pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. f. Untuk mengetahui alasan keikutsertaan KB berdasarkan keterjangkauan pelayanan kesehatan pada ibu peserta Jamkesmas pelayanan pertolongan persalinan di RS. PKU Muhammadiyah Gubug. D. Manfaat 1. Bagi Pemerintah Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengambil kebijakan pemerintah yang khususnya dalam lingkup kesehatan. 2. Bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk BKKBN dalam meningkatkan pelayanan program KB pada peserta Jamkesmas. 3. Bagi Institusi Pendidikan AKademi Kebidanan Karsa Mulia Semarang Menambah kepustakaan sehingga dapat bermanfaat bagi mahasiswa. 4. Bagi RSU. PKU Muhammadiyah Gubug Penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang khususnya mengenai pelaksanaan Program KB. 5. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan) Penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan kepada tenaga kesehatan untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat mengenai program KB pada peserta Jamkesmas 6. Bagi Masyarakat Dapat dijadikan Informasi bagi pasangan usia subur (PUS) mengenai Program Jaminan Kesehatan Masyarakat pelayanan pertolongan persalinan yang juga memberikan pelayanan gratis mengenai KB. 7. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung dalam melakukan Penelitian iImiah tentang “Faktor–faktor Keikutsertaan program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas untuk pertolongan persalinan“, serta menambah wawasan baru bagi peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat peneliti dibangku kuliah sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya. E. Keaslian Penelitian Sejauh pengetahuan peneliti hingga saat ini belum ada penelitian mengenai Faktor–faktor Keikutsertaan Program Keluarga Berencana pada ibu peserta Jamkesmas pertolongan persalinan di RSU. PKU Muhammadiyah Gubug, hanya terdapat beberapa penelitian yang menjadi acuan peneliti yaitu : Tabel. 1.1. keaslian Penelitian Nama Peneliti Judul Populasi Sampel Hasil Laksmi Indira Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi yang digunakan pada keluarga miskin Semua Ibu dalam keluarga miskin 78 Responden Hasil penelitian menunjukkan faktor- faktor yang memiliki hubungan yang signifikan dengan pemilihan jenis kontrasepsi yang dugunakan pada keluarga miskin adalah keikutsertaan Jamkesmas (p = 0,22) dan dukungan pasangan (p=0,032). Faktor – faktor yang tidak memiliki hubungan yang signifikan adalah : umur istri (p= 0,109), jumlah anak (p= 0,251), tingkat pendidikan akseptor KB (p= 0,427), tingkat pengetahuan (p=0,234), pengaruh agama (p=0,411) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Program JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) a. Pengertian Jamkesmas Jamkesmas adalah kebijakan yang sangat efektif untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan yang tersedia. Jamkesmas diharapkan dapat mempercepat pencapaian sasaran pembangunan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan yang optimal (8). Sasaran Jamkesmas adalah seluruh masyarakat miskin, sangat miskin, dan mendekati miskin yang diperkirakan jumlahnya mencapai 76,4 juta (Depkes, 2008). Sumber dana Jamkesmas adalah APBN Depkes. Dengan adanya Jamkesmas, keluarga miskin akan mendapatkan pelayanan KB secara cuma-cuma baik obat maupun alat kontrasepsi. Program ini dimaksudkan agar keluarga miskin tidak kesulitan dalam mengakses program KB, karena bila pertambahan penduduk tidak dapat dikendalikan, maka beban pembangunan akan bertambah. Pelayanan yang diberikan Jamkesmas bersifat komprehensif berjenjang. Komprehensif artinya meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Berjenjang artinya pelayanan diberikan dengan sistem rujukan mulai dari tingkat pelayanan kesehatan yang paling rendah yakni Puskesmas sampai ke pelayanan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit Umum. Pelayanan KB gratis termasuk dalam pelayanan yang diberikan di tingkat Puskesmas kecuali untuk jenis MOW dan MOP yang harus dirujuk ke rumah sakit. b. Tujuan Jamkesmas Tujuan dari Jamkesmas dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Tujuan umum yaitu : a) Terselenggaranya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. b) Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan sehinga tercapai derajat c) kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien bagi seluruh peserta Jamkesmas 2) Tujuan khususnya yaitu : a) Memberikan kemudahan dan askes pelayanan kesehatan kepada peserta di seluruh jaringan PPK Jamkesmas b) Mendorong peningkatan pelayanan kesehatan yang terstandar bagi peserta, tidak berlebihan sehingga terkendali mutu dan biayanya c) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel d) meningkatkan cakupan masyarakat dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit e) serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin(8). c. Kepesertaan Jamkesmas 1) Peserta jaminan kesehatan adalah setiap orang yang membayar iuran atau iuarannya dibayar oleh Pemerintah. 2) Peserta Program Jamkesmas adalah fakir miskin dan orang yang tidak mampu dan peserta lainnya yang iurannya dibayar oleh Pemerintah sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari data makro Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2006. 3) Peserta yang dijamin dalam program Jamkesmas tersebut meliputi : a) Masyarakat miskin dan tidak mampu yang telah ditetapkan oleh Surat Keputusan (SK) Bupati/Walikota Tahun 2008 berdasarkan pada kuota Kabupaten/ Kota (BPS) yang dijadikan database nasional. b) Gelandangan, pengemis, anak dan orang terlantar, masyarakat miskin yang tidak memiliki identitas. c) Semua Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah memiliki atau mempunyai kartu Jamkesmas. d) Masyarakat miskin yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1185/Menkes/SK/XII/2009 tentang Peningkatan Kepesertaan Jamkesmas bagi Panti Sosial, Penghuni Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara serta Korban Bencana. e) Apabila masih terdapat masyarakat miskin dan tidak mampu, tidak termasuk dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota maka Jaminan Kesehatannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Cara penyelenggaraan jaminan kesehatan daerah seyogyanya mengikuti kaidah-kaidah pelaksanaan Jamkesmas(8). d. Verifikasi Kepesertaan PT. Askes (Persero) bertugas melaksanakan verifikasi kepesertaan dengan mencocokkan kartu Jamkesmas dari peserta yang berobat dengan database kepesertaan untuk selanjutnya diterbitkan SKP. Verifikasi kepesertaan dilengkapi dengan dokumen berupa Kartu Keluarga (KK) / Kartu Tanda Penduduk (KTP) / identitas lainnya untuk pembuktian kebenarannya. Bagi gelandangan, pengemis, anak dan orang terlantar yang tidak punya identitas cukup dengan surat keterangan/rekomendasi dari Dinas/Instansi Sosial setempat. Khusus untuk penghuni lapas dan rutan, cukup dengan surat rekomendasi dari Kepala Lapas/Kepala Rutan setempat. Verifikasi kepesertaan oleh Rumah sakit untuk diterbitkan SJP dilakukan terhadap ibu hamil dan melahirkan dengan menunjukkan KTP dan buku KIA(8). e. Prosedur Pelayanan Jamkesmas Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut: 1) Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya. 2) Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat. Penggunaan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya. 3) Apabila peserta JAMKESMAS memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus emergenci. 4) Pelayanan rujukan sebagaimana butir ke-3 (tiga) diatas meliputi : (a) Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di Rumah Sakit, BKMM(Bantuan Khusus Murid Miskin)/BBKPM(Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat)/BP4(Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan)/BKIM(Balai Kesehatan Indera Masyarakat). (b) Pelayanan rawat jalan lanjutan yang dilakukan pada balkesmas bersifat pasif (dalam gedung) sebagai FASKES penerima rujukan. Pelayanan balkesmas yang ditanggung oleh program Jamkesmas adalah Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dalam gedung. (c) Pelayanan Rawat Inap kelas III di Rumah Sakit (d) Pelayanan obat-obatan (e) Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostic 5) Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan kesehatan. 6) Untuk memperoleh pelayanan rawat inap di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan Rumah Sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan SKP dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan rawat inap. Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2013 : KTI HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR IUD TENTANG EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI IUD DENGAN KELANGSUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IUD DIPUSKESMAS

TERSEDIA LENGKAP BAB 12345+DAFTARPUSTAKA+KUESIONER HARGA MURAH HUB : 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Menurut sensus penduduk tahun 2011, jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta jiwa. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah yaitu jumlah ledakan penduduk yang tinggi. Keadaan penduduk ini telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat(1) Melihat fenomena ini pemerintah dan masyarakat menyadari perlunya dilakukan program kependudukan dan Keluarga Berencana (KB). Untuk melaksanakan kebijakan kependudukan pemerintah telah merencanakan berbagai program dan KB merupakan bagian terpenting(2) Kebijakan penduduk yang diambil pemerintah tidak hanya berhasil menurunkan angka fertilitas menjadi setengah dari keadaan pada waktu program dimulai tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Faktor lain yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah jumlah PUS (pasangan usia subur) yang tinggi. Dalam masyarakat umur perkawinan pertama rendah, wanita cenderung menikah dan mempunyai anak pada umur yang rendah, dan mempunyai fertilitas yang tinggi(2) Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu. Paritas mempunyai kecenderungan kesehatan yaitu ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi. Persalinan yang biasanya paling aman untuk ibu yaitu persalinan yang kedua dan ketiga karena pada persalinan keempat dan kelima secara dramatis akan meningkatkan angka kematian ibu(2) Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan, agar dapat mencapai hal tersebut, maka cara atau alternative untuk mencegah ataupun menunda kehamilan. Cara–cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga(3) Berdasarkan paradigma baru visi program keluarga berencana nasional mewujudkan keluarga yang berkualitas tahun 2015. Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan adalah dengan cara penggunaan alat kontrasepsi. Metode kontrasepsi yang direncanakan efektif terdiri dari IUD, pil, suntik, dan implant. Metode sederhana terdiri dari kondom, spermasid, senggama terputus dan pantang berkala. Kontrasepsi mantap yang terdiri dari kontap wanita dan kontap pria(4) Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang mejadi pilihan dan merupakan salah satu bagian dari program KB nasional saat ini adalah KB IUD. Syarat–syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik adalah aman, dapat diandalkan, dan dapat diterima oleh orang banyak. Akseptor KB IUD juga dapat mengalami efek samping antara lain tidak ada haid (amenorhea), kejang, perdarahan yang berlebihan saat menstruasi (spotting), benang hilang (ekspulsi), perporasi, keluar cairan dari vagina dan keputihan. Untuk itu peserta KB IUD membutuhkan pembinaan secara rutin berkelanjutan untuk menjaga kelangsungan pemakaian kontrasepsi(5) Mengingat metode KB IUD merupakan salah satu KB yang efektif , terpilih dan banyak pengguna, namun masih banyak didapatkan akseptor IUD yang mengalami efek samping. Efek samping IUD merupakan masalah bagi seorang akseptor yang mengalami karena merupakan beban kejiwaan yang harus ditanggungnya, yang berakhir pada adanya kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan, bahkan ketakutan terhadap efek samping. Masalah kesehatan yang dialami oleh sebagian akseptor IUD yang dikarenakan efek samping dari kontrasepsi tersebut dan kurangnya komunikasi informasi edukasi (KIE) tentang efek samping, maka besar kemungkinan seorang akseptor akan mengalami kejadian drop out atau putus pakai. Sehingga sebaiknya sebelum menggunakan telah tahu dan memahami tentang KB IUD serta efek samping yang ditumbulkannya(2) Pengetahuan adalah berasal dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dengan bertambah banyaknya penyuluhan maka akan bertambah pula pengetahuan tentang kesehatan, maka kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan dapat meningkat. Seseorang yang mempunyai tingkat pengetahuan yang luas khususnya tentang kesehatan maka seseorang itu akan cenderung dan senantiasa meningkatkan kesehatan diri, keluarga serta lingkungannya(9) Data program Keluarga Berencana, peserta aktif di Jawa Tengah tahun 2011 sebanyak 5.285.530 atau sebesar (79,32%) dari jumlah PUS yang ada sebanyak 6.663.396. Peserta Keluarga Berencana aktif tersebut mempergunakan KB IUD 439.687 (8,32%)(6). Sedangkan data program Keluarga Berencana, peserta aktif di Kabupaten Demak tahun 2011 sebanyak 194.756 (75,09%) dari jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 259.365, yang menggunakan KB IUD sebanyak 8.191 (4,21%) dan yang mengalami efek samping sebanyak 54 (0,66%) akseptor, meliputi 40 akseptor mengalami gangguan siklus haid, 7 akseptor yang mengalami perdarahan yang berlebihan saat menstruasi, 6 akseptor yang mengalami keputihan, 1 akseptor yang mengalami ekspulsi(7) Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Gajah peserta KB aktif tahun 2012 sebanyak 8.646 jiwa dan yang memilih KB IUD 196 orang (2,2%), yang mengalami efek samping sebanyak 30 akseptor (15,3%), perdarahan yang berlebihan saat menstruasi 10 akseptor, gangguan siklus haid 13 akseptor, dan keputihan 7 akseptor(8) Berdasarkan uraian data diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD” B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang didapatkan keluhan dari 30 akseptor (15,3%) IUD yang mengalami efek samping. Maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu bagaimana hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD di Kecamatan Gajah Kabupaten Demak tahun 2012 2. Tujuan khusus a. Untuk mendiskripsikan karakteristik responden yang meliputi umur, pendidikan dan paritas. b. Untuk mengetahui efek samping akseptor IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak 2012. c. Untuk mendeskripsikan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping di Puskesmas Gajah, Kabupaten Demak tahun 2012. d. Untuk mendeskripsikan kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak tahun 2012 e. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Gajah Kabupaten Demak D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Memberikan pengalaman langsung kepada penulis dalam melaksanakan penelitian serta mengaplikasikan berbagai teori dan konsep yang telah didapat dari bangku kuliah dalam bentuk penelitian 2. Bagi institusi pendidikan Sebagai wahana ilmiah dan bahan referensi untuk penelitian hubungan pengetahuan akseptor IUD tentang efek samping alat kontrasepsi IUD dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasepsi IUD 3. Bagi akseptor IUD Dapat memberikan informasi dan mengajak pada akseptor IUD dalam kelangsungan penggunaan kontrasepsi IUD sehingga akseptor dapat secara mantap menggunakan alat kontrasepsi AKDR seperti IUD ini tanpa perlu merasa takut akan efek samping yang ada. 4. Bagi tenaga kesehatan Bidan agar meningkatkan komunikasi informasi edukasi (KIE) melalui penyuluhan tentang efek samping kontrasepsi IUD dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kontrasepsi IUD.   E. Keaslian Penelitian No. Peneliti Judul Sasaran Metode Variable Hasil penelitian 1 2. Eka Tutik (2010) Agustina Putri Wijayanti (2005) Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang kontrasepsi IUD terhadap pemilihan kontrasepsi IUD di Puskesmas Tambak Aji Kota Semarang Hubungan Tingkat Kecemasan Akseptor AKDR dengan Efek Samping Penggunaan Alat Kontrasepsi AKDR di Desa Sarirejo Kecamatan Ngaringan Kab, Grobogan 52 responden 72 responden Metode penelitian corelatif Metode penelitian corelatif Pengetahuan dan sikap ibu tentang kontrasepsi IUD terhadap pemilihan kontrasepsi IUD Kecemasan Akseptor AKDR dengan Efek Samping Penggunaan Alat Kontrasepsi AKDR Hasil penelitian didapatkan pengetahuan kurang dengan tidak memilih sebanyak 13 responden (25,0%), pengetahuan cukup yang tidak memilih sebanyak 13 responden (25,0%) dan pengetahuan baik yang memilih sebanyak 10 responden (34,8%) Hasil penelitian didapatkan Akseptor AKDR yang terkena efek samping berat sebesar 23 responden (50,0%), yang mengalami kecemasan ringan sebesar 1 responden (2,6%) dan yang mengalami kecemasan sedang dan berat sebesar 18 responden (47,4%). BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengar (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda(9) b. Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan menurut Notoadmojo (2007) yakni : 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2) Memahami (comprehension). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). 4) Analisis Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek(10) c. Sumber Pengetahuan Nursalam (2008) menyatakan bahwa sumber pengetahuan manusia dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :   1) Tradisi Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan dimana setiap orang tidak dianjurkan untuk memulai mencoba memecahkan masalah. 2) Autoritas Ketergantungan terhadap suatu autoritas tidak dapat dihindarkan karena kita tidak dapat secara otomatis menjadi seorang ahli dalam mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. 3) Pengalaman seseorang Setiap pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid tentang situasi dan pengalaman seseorang diwarnai dengan penilaian yang bersifat subjektif. 4) Trial dan Error Dalam menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita dalam menggunakan alternatif pemecahan melalui “coba dan salah”. 5) Alasan yang logis Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah, akan tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas alasan dedukatif tergantung dari informasi. 6) Metode Ilmiah Pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis(11)   d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoadmojo (2005). 1) Pendidikan Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain dibagi individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan. Pendidikan dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: a) Pendidikan dasar Terdiri dari tidak sekolah, tidak SD maupun tamat SD. b) Pendidikan menengah Terdiri dari tamat SLTP wajib sekolah 9 tahun, sekolah menengah umum dan sekolah menengah kejuruan seperti SLTA dan SMK. c) Pendidikan tinggi Termasuk yang tamat akademi maupun perguruan tinggi. Pendidikan secara umum pendidikan diartikan sebagai upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi usia baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. seseorang yang berpendidikan mempunyai pengertian lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah diajarkan di sekolah. Tingkat pendidikan seseorang dapat mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang dan taraf pendidikan yang rendah selalu bergandengan dengan informasi dan pengetahuan yang terbatas. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula pemahaman seseorang terhadap informasi yang didapat dan pengetahuannya akan semakin tinggi. 2) Umur Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang baik fisik, psikis, maupun sosial sehingga membantu seseorang dalam pengetahuanya. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa dipercaya dibandingkan dengan orang yang belum tinggi kedewasaannya Umur yang dimaksud disini adalah umur responden. a) Kelompok usia kurang dari 20 tahun b) Kelompok usia 20-35 tahun c) Kelompok usia lebih dari 35 tahun 3) Paritas Adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Kategori paritas dapat dikelompok menjadi 2 yaitu a) primipara : ibu yang hamil pertama b) multipara : ibu yang hamil lebih dari 2   4) Pengalaman Suatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal. 5) Informasi Seseorang yang memiliki sumber informasi yang banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas(12) e. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur yang dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan(13) Sebagian besar penelitian umumya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrument pengumpulan data. Untuk memperoleh kuesioner dengan hasil yang mantap adalah dengan uji coba. Dalam uji coba responden diberi kesempatan untuk memeperbaiki saran-saran perbaikan bagi kuesioner yang diuji cobakan itu(13) Menurut Notoadmojo (2003) tingkat pengetahuan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu: a. Pengetahuan Baik : 76-100% b. Pengetahuan Cukup : 56-75% c. Pengetahuan Kurang : 55%   2. Kontrasepsi a. Pengertian Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang artinya mencegah dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan dengan cara mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma(14) Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya tersebut dapat bersifat sementara atau dapat bersifat permanen. Kontrasepsi merupakan salah satu variable yang memepengaruhi fertilitas(15) Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan, upaya ini dapat bersifat sementara, dapat pula juga bersifat permanen(16) b. Daya guna Menurut Wikjasastro (2007) daya guna kontrasepsi adalah sebagai berikut : 1) Daya guna teoretis (theorical effectiveness) Kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, apabila cara tersebut digunakan terus-menerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. 2) Daya guna pemakaian (Use effectiveness) Adalah perlindungan terhadap kontrasepsi yang ternyata pada keadaan sehari-hari yang dipengaruhi oleh faktor ketidak hati-hatian, tidak taat azas, motifasi, keadaan sosial ekonomi-budaya, pendidikan dan lain-lain(17) c. Syarat Kontrasepsi Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik ialah menurut Hartanto (2004). 1) Aman/tidak berbahaya. 2) Dapat diandalkan 3) Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter. 4) Murah 5) Dapat diterima oleh orang banyak. 6) Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi)(18) d. Sasaran Kontrasepsi Sasaran kontrasepsi menurut Glesier (2005). 1) Pasangan usia subur dan ibu yang sudah mempunyai anak 2) Ibu yang mempunyai resiko tinggi terhadap kehamilan(4) e. Tujuan kontrasepsi Menurut BKKBN (2011) tujuan kontrasepsi ada 3 yaitu: 1) Masa menunda kehamilan/kesuburan bagi PUS dengan istri berusia dibawah 20 tahun. Pada masa ini, alat kontrasepsi yang dapat digunakan meliputi pil KB, AKDR dan kontrasepsi sederhana. 2) Masa mengatur kehamilan/kesuburan dengan PUS dengan berusia antara 20-30 tahun, dengan jarak kelahiran 3-4 tahun, meliputi: a) PUS berusia 20-30 tahun kontrasepsi yang efektif digunakan adalah pil KB, AKDR dan kontrasepsi sederhana. b) PUS berusia 30-35 tahun dapat menggunakan kontrsepsi AKDR, KB suntik, implant, pil KB dan kontrasepsi sederhana. 3) Masa mengakhiri kesuburan PUS dengan istri berusia 35 tahun lebih. Adapun pada masa ini alat kontrasepsi yang palng efektif adalah kontap (MOP dan MOW), implant, KB suntik dan kontrasepsi sederhana(6) f. Metode kontrasepsi Metode kontrasepsi menurut Sulistyawati (2011). 1) Metode sederhana tanpa alat : a) Kalender b) Pantang berkala c) Suhu basal d) Lendir serviks e) Sitomtermal f) Koitus interuptus 2) Metode sederhana dengan alat : a) Barier b) Kondom c) Barier intravagina d) Kimiawi e) spermisida 3) Metode modern hormonal : a) Kontrasepsi oral: b) Suntik c) Implant d) Intra uterin device (IUD) 4) Metode operasi: a) Metode operatif wanita (MOW) b) Metode operatif pria ( MOP )(3) 3. Kontrasepsi IUD ( Intra Uterine Device ) a. Pengertian IUD adalah alat kontrasepsi yang disisipkan ke dalam rahim, terbuat dari bahan semacam plastik, ada pula yang dililit tembaga, dan bentuknya bermacam-macam. Bentuk yang umum dan mungkin banyak dikenal oleh masyarakat adalah bentuk spiral. Spiral tersebut dimasukkan ke dalam rahim oleh tenaga kesehatan (dokter/bidan terlatih). Sebelum spiral dipasang, kesehatan ibu harus diperiksa dahulu untuk memastikan kecocokannya. Sebaiknya IUD ini dipasang pada saat haid atau segera 40 hari setelah melahirkan(19) b. Sasaran IUD 1. Pasangan usia subur yang ingin mengatur kehamilan/kesuburan 2. Pasangan usia subur yang tidak menginginkan menggunakan kontrasepsi hormonal 3. Ibu yang menderita hipertensi(19) c. Jenis AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) / IUD Menurut Handayani (2011). 1) AKDR non hormonal a) Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi 2   (1) Bentuk terbuka ( oven devace ) Seperti : LippesLoop, Cu-7. Marguiles, spring coil, Multiolad, Nova T (2) Bentuk tertutup (closed device) Seperti : ota-ring , atigon , dan graten Berg Ring b) Menurut tambahan atau metal (1) Medicated IUD Seperti : Cu T 200 (daya kerja 3 tahun), Cu T 220 (daya kerja 3 tahun), CuT 300 ( daya kerja 3 tahun, CuT 380 A (daya kerja 8 tahun), Cu-7, Nova T (daya kerja 5 tahun), ML –Cu 375 (daya kerja 3 tahun) Pada jenis medical IUD angka yang tertera dibelakang IUD menunjukkan luasnya kawat halus tembaga yang ditambahkan, seperti Cu T 220 berarti tembaga adalah 200 mm2 (2) Un medicated IUD Seperti ; Lippes Loop, Marguiles, saf-T coil, antigon. Lippes Loop dapat dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya sampai menopause, sepanjang tidak ada keluhan dan atau persoalan bagi akseptornya. IUD yang banyak dipakai di Indonesia dewasa ini dari jenis Un medicated yaitu Lippes Loop dan yang dari jenis medicated CuT , Cu-7, multiload dan Nova-T   2) IUD yang mengandung hormonal a) Progestasert-T = Alza T (1) Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam (2) Mengandung 38 mg progesterone dan barium sulfat, melepas 65 mcg progesteron per hari (3) tabung insersinya bentuk lengkung (4) Daya kerja : 18 bulan (5) Teknik insersi plunging b) LNG- 20 (1) Mengandung 46-60 mg levonorgestrel, dengan pelepasan 20 mcg per hari (2) Sedang diteliti di Finlandia (3) Angka kegagalan/ kehamilan angka terendah : < 0,5 per 100 wanita per tahun (4) Penghentian pemakaian oleh karena persoalan-persoalan perdarahan ternyata lebih tinggi dibandingkan IUD lainnya, karena 25 % mengalami amenorrhea atau perdarahan haid yang sangat sedikit(20) d. Cara kerja Cara kerja IUD menurut Syaifudin (2006). 1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii 2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri 3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi 4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur daam uterus(21) e. Efektifitas Efektifitas IUD menurut Hartanto (2004). Efektifitas alat kotrasepsi IUD cukup tinggi yaitu 0,6 sampai 0,8 pada tahun pertama pemasangan. Ini berarti drai 1.000 orang yang menggunakan IUD hanya 8 orang yang mengalami kegagalan atau dari 100 orang yang menggunakan alat kontrasepsi IUD kurang dari 1 orang yang mengalami kegagalan (18) f. Indikasi Indikasi IUD menurut Handayani (2010). 1) Usia reproduksi 2) Keadaan nulipara 3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang 4) Perempuan menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi 5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya 6) Setelah abortus dan tidak terlihat adanya infeksi 7) Perempuan dengan resiko rendah dari IMS 8) Tidak menghendaki metode hormonal 9) Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari 10) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama(20)   g. Kontraindikasi Kontraindikasi IUD menurut Handayani (2010). 1) Sedang hamil 2) Perdarahan vagina yang tidak di ketahui 3) Sedang menderita infeksi alat genetalia 4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering, menderita PRP (penyakit radang panggul ), atau abortus septic 5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri 6) Penyakit trofoblas yang ganas 7) Diketahui menderita TBC pelvic 8) Kanker alat genital 9) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm(20) h. Keuntungan Keuntungan IUD menurut Handayani (2010). 1) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan 2) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti) 3) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat 4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual 5) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil 6) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT- 380A) 7) Tidak mempengaruhi kualitas ASI 8) Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau setelah abortus (apabila tidak terjadi infeksi) 9) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir) 10) Tidak ada interaksi dengan obat-obat 11) Membantu mencegah kehamilan ektopik(20) i. Kerugian Kerugian IUD menurut Handayani (2010). 1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 8 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan) 2) Haid lebih lama dan banyak 3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi 4) Saat haid lebih sakit 5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS 6) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang berganti pasangan 7) Penyakit radang panggul terjadi. Seorang perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas 8) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelviks diperlukan dalam pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan 9) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasa menghilang dalam 1-2 hari 10) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan terlatih yang harus melakukan 11) Mungkin AKDR keluar lagi dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR di pasang sesudah melahirkan). 12) Tidak mencegah terjadi kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal 13) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu, untuk melakukan ini perempuan harus bisa memasukkan jarinya kedalam vagina. Sebagian perempuan ini tidak mau melakukannya(9) j. Cara pemasangan kontrasepsi IUD Cara pemasangan IUD menurut Sulistyawati (2011). 1) Pemeriksaan sebelum pemasangan AKDR Tanyakan kepada calon akseptor mengenai hal-hal sebagai berikut a) Tanggal hari pertama haid terakhir atau tanggal kelahiran anaknya yang terakhir atau tanggal keguguran yang terakhir b) Lamanya haid dan banyaknya darah yang keluar, serta apakah ada rasa sakit atau tidak c) Apakah baru sembuh dari penyakit infeksi pinggul, misal rasa sakit di perut bagian bawah dengan kenaikan suhu badan dan mengeluarkan cairan bernanah atau berbau busuk, terutama sesudah melahirkan atau keguguran d) Periksalah apakah rahim dapat diraba di atas simfisis pubis (berarti ada kehamilan ) dan ada rasa sakit ( berarti ada infeksi panggul)(3) Selengkapnya...

KTI KEBIDANAN 2013 : KTI STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU NIFAS TENTANG TEKNIK KONTRASEPSI METODE AMENOREA LAKTASI (MAL) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

MAU LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA BERMINAT HUBUNGI : 081225300100 MURAH BANGET HANYA 30 Ribu
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga(1). Semakin tinggi pengetahuan ibu nifas tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL), maka akan menerima Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu alat kontrasepsi. Sebaliknya semakin rendah pengetahuan ibu nifas tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL), mereka tidak bisa menerima Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu alat kontrasepsi. Sedangkan sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek(2). Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan selektifitas seseorang terhadap rangsang yang masuk dan diterima, sehingga seseorang mampu untuk mendekati atau menjauhi rangsang tersebut sesuai dengan keuntungan atau kerugian yang mungkin diterima. Sedangkan faktor eksternal meliputi sifat objek yang dijadikan sasaran sikap, kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap tersebut, media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap serta situasi pada saat sikap tersebut dibentuk(3). Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. Menurut teori WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2005), Salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri. Dalam hal ini peran tenaga kesehatan terutama bidan sebagai edukator diharapkan dapat membantu memberikan informasi yaitu dengan melakukan penyuluhan di posyandu atau pada saat warga berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan ibu nifas tentang teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam berKB pada ibu nifas. Penelitian yang dilaksanakan oleh Intan Indah Arba’in dengan judul Gambaran Pengetahuan ibu nifas tentang kontrasepsi metode amenore laktasi (MAL) di wilayah Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes diperoleh hasil sebagai berikut: ibu nifas yang berpengetahuan baik tentang metode Amenore Laktasi yaitu sebanyak 23 orang (47,9 %), berpengetahuan cukup ada 16 orang (33,3%), dan responden yang berpengetahuan kurang baik ada 9 orang (18, 8%). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ibu nifas berpengetahuan baik tentang kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara dapat juga bersifat permanen, penggunaan kontrasepsi ini merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas(15). Metode kontrasepsi sempurna belum dapat diciptakan oleh manusia. Setiap metode kontrasepsi mempunyai keuntungan dan kerugian masing-masing. Terkadang seorang wanita mencoba berbagai macam alat kontrasepsi sebelum menemukan metode kontrasepsi yang cocok dan memuaskan(5). Menurut hasil survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI) 2007-2008 jumlah sebesar 9% dari jumlah total pasangan usia subur mengalami kegagalan kontrasepsi. Adapun uraiannya sebagai berikut 15,6% istri pengguna kontrasepsi pil yang tetap hamil, sedangkan pengguna Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) 8,4% dan untuk pengguna suntik 5,9%(6). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Semarang angka pencapaian ibu nifas tertinggi di kota Semarang adalah di wilayah kerja puskesmas Kedungmundu yaitu mencapai 1.915 ibu nifas pada tahun 2011. Saat ini banyak sekali jenis kontrasepsi yang ditawarkan di Indonesia diantaranya: Implant, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), Pil, Kondom, Keluarga Berencana (KB) suntik dan Metode Amenorea Laktasi (MAL). Pencapaian peserta KB aktif semua metode kontrasepsi pada tahun 2011 di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 5.285.530 yang terdiri atas peserta Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR ) sebanyak 439.687 (8,32%), peserta MOP (Medis Operasi Pria) dan peserta MOW (Medis Operasi Wanita) sebanyak 346.129 (6,55%), peserta implant sebanyak 519.973 (9,84%), peserta suntikan 3.017.353 (57,09%), peserta pil 843.122 (15,95%), peserta kondom sebanyak 119.166 (2,25%). Pencapaian tertinggi pada Keluarga Berencana (KB) suntik (57,09%) dan pencapaian terendah pada kondom (2,25%)(7). Sedangkan pencapaian peserta Keluarga Berencana (KB) aktif semua metode kontrasepsi pada bulan Desember tahun 2011 di Puskesmas Kedungmundu sebanyak 16.138 yang terdiri atas peserta Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR ) sebanyak 1.397 (8,32%), peserta implant sebanyak 913 (9,84%), peserta suntikan 9078 (57,09%), peserta pil 2.898 (15,95%), peserta kondom sebanyak 1.852 (2,25%). Pencapaian tertinggi pada peserta Keluarga Berencana (KB) suntik (57,09%) dan pencapaian terendah pada Implant (2,25%)(8). Berdasarkan hasil studI pendahuluan yang dilakukan oleh penulis kepada 5 BPS yang berada diwilayah kerja puskesmas Kedungmundu pada tanggal 1 Maret 2012 menunjukann masih rendahnya penggunaan teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) yaitu sekitar 20-30% dari ibu nifas yang ada. Banyak perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih alat kontrasepsi yaitu faktor pasangan, faktor kesehatan dan juga faktor dari metode kontrasepsi itu sendiri(9). Metode Amenorea Laktasi (MAL) merupakan salah satu metode dalam mengatur pertumbuhan penduduk. Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan dan minuman apapun lainnya. Metode ini dapat diandalkan sebagai kontrasepsi sepanjang ibu tidak mengalami ovulasi, tetapi kapan ovulasi datang belum dapat ditentukan secara pasti. Menurut World Health Organization (WHO) keefektifan MAL ini 98 % bagi ibu yang menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama pasca persalinan dan sebelum menstruasi setelah melahirkan(4). Untuk menggunakan metode ini, pengeluaran ASI yang dipengaruhi hormon oksitosin haruslah lancar, yang menurut penelitian sebesar 75 % lancarnya pengeluaran ASI dipengaruhi oleh kondisi psikis ibu itu sendiri. MAL kemungkinan digunakan di beberapa negara berkembang jauh sebelum penelitian mengonfirmasi bahwa kehamilan jarang terjadi selama 6 bulan perrtama setelah melahirkan diantara wanita menyusui dan wanita yang memberi ASI ditambah susu botol. Ovulasi dapat dihambat oleh kadar prolaktin yang tinggi. Ringkasan 13 penelitian dari 8 negara telah memunculkan kesimpulan yang dikenal sebagai “Pernyataan Konsensus Bellagio”, bahwa pemberian ASI mencegah kehamilan lebih 98% selama 6 bulan pertama setelah melahirkan bila ibu menyusui atau memberi ASI dan belum pernah mengalami perdarahan pervaginam setelah hari ke-56 pascapartum(10). Makin lama ibu menyusui bayinya, makin sering bayi menghisap ASI, maka makin lama kembalinya haid ibu postpartum. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa laktasi dapat memberikan perlindungan yang bermakna terhadap kahamilannya. Antara lain bahwa hanya 5 % dari ibu – ibu yang menyusui menjadi hamil lagi dalam waktu 9 bulan setelah melahirkan dibandingkan dengan 75 % ibu – ibu yang tidak menyusui(9). B. Rumusan Masalah Tingkat pengetahuan dapat menentukan sikap seseorang, apabila orang tersebut dapat menerima banyak aspek positif dan objek yang diketahui maka akan menimbulkan sikap yang positif terhadap objek tersebut. Seperti halnya pada ibu nifas, mereka akan menerima teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai alat kontrasepsi yang handal pada masa nifas apabila banyak tahu tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL). Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan dan sikap Ibu Nifas Tentang Tehnik Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu, Semarang tahun 2012. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap ibu nifas tentang pelaksanaan teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui tingkat pengetahuan ibu nifas tentang teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). b. Mengetahui gambaran sikap ibu nifas tentang teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai bahan masukan bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 2. Bagi Pendidikan a. Sebagai masukan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dilingkungan Akademi Kebidanan Karsa Mulia mengenai gambaran pengetahuan ibu nifas tentang Metode Amenorea Laktasi ( MAL ). b. Dapat memberikan tambahan atau masukan, referensi mengenai teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ). 3. Bagi Masyarakat a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang teknik kontrasepsi Metode Amenore Laktasi ( MAL ). b. Dapat menjadi bahan acuan dalam menerapkan teknik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ). 4. Bagi tenaga kesehatan a. Memberikan masukan dan informasi bagi tenaga kesehatan khususnya Bidan untuk meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan khususnya tentang teknik Metode Amenorea Laktasi (MAL). b. Dapat membantu menunjang terselenggaranya program Keluarga Berencana (KB). E. Keaslian Penelitian Intan Indah Arba’in meneliti tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi Di Wilayah Kerja Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes Tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan instrument kuesioner. Hasil dari penelitian ini adalah Pengetahuan ibu-ibu nifas tentang kontrasepsi metode amenore laktasi (MAL) di wilayah Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes ibu nifas yang berpengetahuan baik yaitu sebanyak 23 orang (47,9 %), berpengetahuan cukup ada 16 orang (33,3%), dan responden yang berpengetahuan kurang baik ada 9 orang (18, 8%). Dalam penelitian ini penulis akan meneliti tentang tingkat pengetahuan dan sikap ibu nifas tentang teknik metode amenore laktasi (MAL) dan menggunakan tempat, waktu, serta sampel yang berbeda. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya)(1). Pengetahuan mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses sebagai berikut : 1) Awareness (Kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek). Misalnya seseorang mengetahui tehnik-tehnik kontrasepsi tanpa hormonal seperti tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 2) Interest (Merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini sikap obyek mulai timbul. Misalnya seseorang tertarik terhadap tehnik kontrasepsi tanpa hormonal seperti tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini bearti sikap responden sudah lebih baik lagi. Misalnya seseorang mulai memutuskan dengan pasangannya untuk menggunakan tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 4) Trial, dimana subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Seseorang mulai mencoba tehnik kontrasepsi non hormonal seperti Metode Amenorea Laktasi (MAL). 5) Adoption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus. Misal seseorang telah menjjadi akseptor KB non hormonal yaitu Metode Amenorea Laktasi (MAL). Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap diatas(2). b. Tingkat Pengetahuan 1) Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pada tingkatan ini (Recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari yang telah diterima oleh sebab itu tahu adalah pengetahuan paling rendah. Seperti seseorang yang mengingat informasi tentang tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 2) Memahami (Comprehension) Memahami adalah suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasi secara benar. Orang yang telah memahami obyek atau materi harus bisa menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dll. Misalnya seseorang yang dapat memahami apa itu tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) sesuai dengan informasi yang telah didapatkan. 3) Aplikasi (Application) Aplikasi adalah sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi juga bisa diartikan penggunaan hukum-hukum, metode. Misalnya seseorang yang dapat mengaplikasikan tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi yang didapat. 4) Analisis (Analysis) Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau obyek ke dalam komponen, tetapi masih didalam stuktur tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis bisa diartikan kemampuan untuk menyusun formulasi yang baru dari formulasi - formulasi yang ada. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilainan ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. Misalnya seseorang yang menentukan kelebihan atau kekurangan dari tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL)(2). c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu : 1) Umur Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun, semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Semakin cukup umur seseorang maka seseorang tersebut akan banyak tahu tentang tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 2) Pendidikan Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang di perkenalkan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan lebih mudah menerima Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu tehnik kontrasepsi. 3) Intelegensi Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dan cara pengambilan keputusan ibu – ibu atau masyarakat yang intelagensinya tinggi akan banyak berpatisipasi lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan di banding dengan masyarakat yang intelegensinya rendah. Makin tingggi intelegensinya maka akan lebih cepat dan tepat dalam menggambil keputusan untuk menggunakan tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). 4) Sosial ekonomi Mempengaruhi tingkah laku seseorang ibu atau masyarakat yang berasal dari sosial ekonomi tinggi di mungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya, tetapi bagi ibu – ibu atau masyarakat yang sosial ekonominya rendah akan merasa takut untuk mengambil sikap atau tindakan. Sehingga makin tinggi sosial ekonomi seseorang maka akan mudah untuk menerima Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu tehnik kontrasepsi. 5) Sosial budaya Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam penerapan nilai-nilai sosial, keagamaan dalam memperkuat super egonya. Apakah tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) sesuai dengan nilai-nilai sosial, keagamaan yang dianut. 6) Pengalaman Merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar. Sehingga dari pengalaman yang benar diperlukan berfikir yang logis dan kritis. Misalnya seseorang yang sudah pernah menggunakan tehnik kontrasepsi Metode Amenorea (MAL) menyatakan Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai tehnik kontrasepsi maka seseorang tersebut akan menuntun orang lain untuk memahami bahwa MAL adalah salah satu tehnik kontrasepsi. 7) Lingkungan Lingkungan berpikir luas tingkat pengetahuannya lebih baik dari pada orang yang tinggal di lingkungan yang berpikirnya sempit. Apabila lingkungan tersebut berfikir luas tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL) maka tingkat pengetahuan tentang Metode Amenorea Laktasi akan lebih baik(11). d. Cara Memperoleh Pengetahuan(11) Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokan menjadi dua, yakni : 1) Cara Memperoleh Kebenaran Non Ilmiah a) Cara Coba Salah (Trial and Error) Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and error”. Metode ini telah digunakan oleh orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah. Bahkan sampai sekarang pun metode ini masih sering digunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Apakah Metode Amenorea Laktasi (MAL) efektif sebagai salah satu tehnik kontrasepsi. b) Secara Kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan. ibu nifas yang menyusui bayinya secara eksklusif sudah dapat mencegah terjadinya kehamilan secara kebetulan hal ini merupakan prinsip tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL). c) Cara Kekuasaan atau Otoritas Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan -kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintah, tokoh agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan. d) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Seseorang yang pernah menggunakan tehnik kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL) akan dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL). e) Cara Akal Sehat Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti nasihat orang tuanya,atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi teori atau kebenaran, bahwa hukuman adalah merupakan metode (meskipun bukan yang paling baik) bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah dan hukuman (reward and punishment) merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan. Sebagai contohnya yaitu seorang tenaga kesehatan yang memberikan informasi tentang tehnik kontrasepsi kepada kliennya akan memberikan reward berupa pujian kepada klien tersebut karena telah memperhatikan dengan baik, sehingga klien tersebut akan mengingat apa yang telah disampaikan tenaga kesehatan kepadanya. f) Kebenaran secara Intuitif Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia cepat sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang rasional dan yang sisitematis. Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja. Seseorang akan menerima Metode Amenorea Laktasi (MAL) sebagai salah satu tehnik kontrasepsi alami sesuai dengan suara hatinya saja tanpa pengaruh dari orang lain. g) Melalui Jalan Pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. Selengkapnya...

Minggu, 31 Maret 2013

KTI KEBIDANAN 2012 : STUDI RETROSPEKTIF PENYEBAB KEMATIAN IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT

PESAN KTI MURAH INI SECEPATNYA HUB : 081 225 300 100
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Mortalitas dan morbiditas pada ibu hamil dan bersalin adalah masalah terbesar di negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitas. Pada tahun 2003, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) memperkirakan + 13.778 ibu meninggal setiap tahunnya. Bila dikalkulasi dalam hitungan hari, terdapat 38 orang ibu yang meninggal dan bila dalam hitungan jam ada 2 orang ibu yang meninggal setiap jamnya(1). Menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu faktor penurunan angka kematian tersebut adalah penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas(1). Lima penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, eklampsi, partus lama, dan komplikasi abortus. Sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah anemia sebanyak 51% menurut Survei Kesejahteraan Rumah Tangga tahun 1995, Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Kekurangan Energi Kalori (KEK) sebanyak 4,8% menurut sensus tahun 2000(2). Empat terlambat yang dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi yaitu pertama, terlambat deteksi dini adanya risiko tinggi pada ibu hamil di tingkat keluarganya. Kedua, terlambat untuk memutuskan mencari pertolongan pada tenaga kesehatan. Ketiga, terlambat untuk datang di fasilitas pelayanan kesehatan. Keempat, terlambat untuk mendapatkan pertolongan pelayanan kesehatan yang cepat dan berkualitas di fasilitas pelayanan kesehatan(3). Memperhatikan angka kematian ibu dan bayi, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut : sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama sangat dibutuhkan, pengawasan antenatal masih belum memadai sehingga penyulit hamil dan hamil dengan risiko tinggi atau terlambat diketahui, masih banyak di jumpai ibu dengan 4 terlalu (jarak hamil terlalu pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda dan terlalu tua untuk hamil), gerakan keluarga berencana masih dapat di galakkan untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), jumlah anemia pada ibu hamil yang cukup tinggi, pendidikan masyarakat yang rendah cenderung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional dan belum siap menerima pelaksanaan modern(4). Oleh karena itu, pada tahun 1999 WHO meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang di dukung oleh badan-badan international seperti UNFPA, UNICEF, dan World Bank. Pada dasarnya, MPS meminta perhatian pemerintah dan masyarakat di setiap negara mengenai hal-hal sebagai berikut: menempatkan safe motherhood sebagai perioritas utama dalam rencana pembangunan nasional dan international, menyusun acuan nasional dan standar pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, mengembangkan sistem yang menjamin pelaksanaan standar yang telah disusun, memperbaiki akses pelayanan kesehatan (maternal dan neonatal, KB, aborsi illegal, baik publik maupun swasta), meningkatkan upaya kesehatan promotif dalam kesehatan maternal dan neonatal, serta pengendalian fertilitas pada tingkat keluarga dan lingkungannya, dan memperbaiki sistem monitoring pelayanan kesehatan maternal dan neonatal(4). Pada rencana strategi nasional MPS di Indonesia tahun 2001-2010 disebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010. Visi MPS adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat. Sementara itu, Misi MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian maternal juga neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga, dan masyarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta menjamin kesehatan maternal dan neonatal yang dipromosikan dan dilestarikan sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal menjadi 16 per 1.000 k`elahiran hidup(5). Safe motherhood sendiri memiliki empat pilar dimana intervensi strategisnya telah dilakukan assessment oleh Departemen Kesehatan RI dalam bentuk rekomendasi Rencana Kegiatan Lima Tahun dengan bentuk strategi operasional untuk menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1996 menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2000, yaitu sebagai berikut : keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman, pelayanan obstetri esensial(4). Berdasarkan data yang diperoleh dari DKK Demak untuk jumlah penduduk tahun 2011 adalah 1.079.925 jiwa. Jumlah kematian ibu maternal di Kota Demak pada tahun 2011 sebanyak 26 orang dari 21.329 jumlah kelahiran hidup. 26 orang diantaranya adalah pre eklampsi berat 7 orang (26,9%), jantung 7 orang (26,9%), ileus 1 orang (3,8%), hepatitis 1 orang (3,8%), emboli 1 orang (3,8%), ruptur 1 orang (3,8%), perdarahan 2 orang (7,8%), malaria 1 orang (3,8%), ARDS 2 orang (7,8%), dan sepsis 3 orang (11,6%) (6). Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 26 Februari 2012 diperoleh data dari tahun 2008-2011 jumlah kematian ibu bersalin di RS XXXXX adalah 6 orang. Dari data tersebut terbukti bahwa masih terdapat angka kematian ibu bersalin di Rumah Sakit Pelita Anugerah, apabila tidak segera diketahui penyebabnya maka dapat menambah angka kematian ibu bersalin. Sehingga Rumah Sakit harus segera mengetahui penyebab kematian ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu bersalin dan mencegah kematian ibu bersalin di tahun-tahun yang akan datang. Dari uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti dan menganalisa apa penyebab kematian ibu bersalin di RS XXXX. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan :“Apakah penyebab kematian ibu bersalin di RS Pelita Anugerah Demak?”. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin secara “determinan antara” yang meliputi gizi, penyakit ibu, riwayat komplikasi kehamilan sebelumnya, umur dan paritas. b. Untuk mengetahui penyebab kematian ibu bersalin secara “determinan dekat” yang meliputi komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, dan komplikasi nifas. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam penerapan ilmu yang di dapat selama masa pendidikan di Akademi Kebidanan XXXXXXXXXXX. 2. Bagi Institusi kesehatan Diharapkan penelitian ini dapat menambah refrensi bagi dunia pendidikan, digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk penelitian yang lebih lanjut dan sekaligus sebagai dasar perencanaan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan. 3. Bagi Tenaga Kesehatan Diharapkan penelitian ini dapat memberi gambaran mengenai penyebab kematian ibu bersalin. Serta dapat digunakan sebagai pertimbangan dan perencanaan dalam upaya penurunan angka kematian maternal dan peningkatan program kesehatan ibu dan anak. E. Keaslian Penelitian Penelitian – penelitian yang telah dilakukan terkait dengan kematian ibu bersalin adalah sebagai berikut : No. Judul Penelitian Dan Lokasi Penelitian Tahun Desain Variabel Hasil 1. Penyebab Kematian Maternal di Indonesia SKRT 2001, Sarimawar Djaja dkk, Indonesia 2001 Cross Sectional Tempat tinggal, akses ke fasilitas kesehatan, status reproduksi, status kesehatan Proporsi kematian maternal 16% di pedesaan, 5% di perkotaan. Persalinan dengan seksio sesaria 13,5%, 41,7% meninggal di rumah. 2. Kematian maternal di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 1996 – 1998, Wahdi, Praptohardjo U, RSUP Dr. Kariadi Semarang 1999 Cross Sectional Usia, pendidikan, lama perawatan, cara datang pasien, perawatan kehamilan, sebab kematian Penyebab kematian maternal preeklamsia/ eklamsia 48%, perdarahan 24%, infeksi 14% dan penyakit jantung 14%. Multigravida 52,4%, usia 20 – 30 tahun 57%. Beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah : 1. Penelitian mengenai studi retrospektif penyebab kematian ibu bersalin di Rumah Sakit XXXXXpada tahun 2008-2011 dengan dilengkapi kajian kuantitatif dengan instrument checklist. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah total sampling. 2. Variabel dalam penelitian ini adalah penyebab kematian ibu bersalin di Rumah XXXXXXk”. BAB II TINJAUAN KASUS A. Tinjauan Teori 1. Pengertian Kematian Ibu Angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang meninggal pada masa hamil atau dalam 42 hari pertama setelah hamil, akibat beberapa penyebab yang berkaitan dengan atau penyebab yang diperparah oleh kehamilan per 100.000 wanita pada usia reproduktif pada tahun tersebut(7). AKM/AKI/MMR adalah jumlah kematian wanita selama 1 tahun dalam 100.000 kelahiran hidup(8). Kematian maternal didefinisikan oleh International Classification of Diseases, Injuries and Causes of Death-Ninth Revision (ICD9) (ICD9 World Health Organization Geneva 1993) sebagai ” kematian seorang wanita hamil atau dalam 42 hari terminasi kehamilan, akibat penyebab apapun yang berkaitan dengan atau diperburuk oleh kehamilan atau penatalaksanaannya, tetapi bukan karena kecelakaan atau penyebab incidental’’(9). 2. Macam-Macam Kematian Ibu Macam-macam kematian ibu ada 2 yaitu : a. Kematian obstetrik langsung Adalah kematian jenis ini diakibatkan komplikasi kebidanan yang terkait dengan kehamilan (kehamilan, persalinan, dan infeksi puerperium), akibat intervensi, kelalaian, terapi yang tidak tepat, atau salah satu diantaranya(7). Seperti eklamsi/preeklamsi, pendarahan, infeksi, emboli ketuban(8). b. Kematian obstetrik tidak langsung Adalah kematian jenis ini merupakan akibat terdahulu atau penyakit yang berkembang selama masa hamil, dan tidak berkaitan dengan penyebab langsung, tetapi diperparah dengan dampak fisiologi kehamilan(7). Seperti sakit jantung, ginjal, DM, dan lain-lain (8). 3. Faktor Yang Mempengaruhi Kematian Ibu Tinggi rendahnya angka kematian dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah(10) : a. Daya tahan tubuh manusia terhadap penyakit, termasuk status gizi, komposisi demografi, dan sistem kekebalan tubuh. b. Sanitasi lingkungan yang berkaitan dengan sumber infeksi, polusi, dan vektor penyakit. c. Tingkat sosial-ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan daya beli masyarakat untuk membeli makanan, memelihara kesehatan, dan membeli obat jika sakit. d. Tersedianya fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat. Depkes RI membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kematian maternal sebagai berikut : a. Faktor medik 1) Faktor empat terlalu, yaitu : a) Usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun) b) Usia ibu pada waktu hamil terlalu tua (lebih dari 35 tahun) c) Jumlah anak terlalu banyak (lebih dari 4 orang) d) Jarak antar kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) 2) Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang merupakan penyebab langsung kematian maternal, yaitu : a) Perdarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trimester ketiga, persalinan dan pasca persalinan. b) Infeksi. c) Keracunan kehamilan. d) Komplikasi akibat partus lama. e) Trauma persalinan. 3) Beberapa keadaan dan gangguan yang memperburuk derajat kesehatan ibu selama hamil, antara lain : a) Kekurangan gizi dan anemia. b) Bekerja (fisik) berat selama kehamilan. b. Faktor non medik Faktor non medik yang berkaitan dengan ibu, dan menghambat upaya penurunan kesakitan dan kematian maternal adalah : 1) Kurangnya kesadaran ibu untuk mendapatkan pelayanan antenatal. 2) Terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan risiko tinggi. 3) Ketidak berdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan dalam pengambilan keputusan untuk dirujuk. 4) Ketidakmampuan sebagian ibu hamil untuk membayar biaya transport dan perawatan di rumah sakit. c. Faktor pelayanan kesehatan Faktor pelayanan kesehatan yang belum mendukung upaya penurunan kesakitan dan kematian maternal antara lain berkaitan dengan cakupan pelayanan KIA, yaitu : 1) Belum mantapnya jangkauan pelayanan KIA dan penanganan kelompok berisiko. 2) Masih rendahnya (kurang lebih 30%) cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. 3) Masih seringnya (70-80%) pertolongan persalinan yang dilakukan di rumah, oleh dukun bayi yang tidak mengetahui tanda-tanda bahaya. 4. Strategi Dan Kegiatan Dalam Menurunkan AKI Strategi dalam menurunkan AKI adalah peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cost efektif dan didukung oleh(11) : a. Kerjasama lintas sektor program dan lintas sektor terkait, mitra lain, pemerintah dan swasta. b. Pemberdayaan perempuan dan keluarga. c. Pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI yaitu(11) : b. Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, meliputi : 1) Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai latihan bagi petugas. Selengkapnya...

Kamis, 10 Januari 2013

KTI KEBIDANAN 2013 :HUBUNGAN POLA NUTRISI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL PADA TRIMESTER II DAN TRIMESTER III DI WILAYAH PUSKESMAS

TERSEDIA LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA MURAH HUB : 081 225 300 100
BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nutrisi yang bagus menyiapkan tubuhnya untuk menjadi seorang ibu, karena proses kompleks yang terjadi selama kehamilan membutuhkan banyak suplai protein, vitamin, dan mineral untuk ibu dan bayi. Jika tubuh sudah mempunyai simpanan nutrisi, kebutuhan nutrisi dapat di tutupi dengan pola makan yang sederhana tetapi jika simpanan nutrisi lebih rendah pada masa kehamilan, maka ibu hamil mempunyai resiko yang cukup besar menyertai kehamilanya seperti terjadi penurunan kadar Hb atau Anemia dan kesulitan kehamilan (1). Pola nutrisi dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, kebiasaan, kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi dan alam. Sehingga, faktor – faktor yang mempengaruhi pola nutrisi ibu hamil tersebut dapat berpengaruh terhadap status gizi ibu (2). Asupan gizi pada saat hamil berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan zat besi, terutama terjadi pada trimester II dan III karena terjadi peningkatan ekspansi massa sel darah merah, maka kebutuhan akan zat besi bertambah, sedangkan ibu hamil tidak menyadari hal ini akan berdampak pada terjadinya anemia (3). Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Disamping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inersia, atonia uteri, dan partus lama), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres , produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR (berat badan lahir rendah), kematian perinatal (4). Penyebab anemia umumnya adalah malnutrisi, kurangnya asupan zat besi, gangguan zat besi dalam usus, perdarahan dan penyakit kronis seperti TBC, cacing usus, dan malaria. Disamping penyebab medis, faktor umur, pendidikan, sosial ekonomi, sosial budaya,paritas dan frekuensi kunjungan antenatal care juga merupakan faktor terjadinya anemia defisiensi gizi yang penting di negara berkembang seperti Indonesia saat ini. Dengan ANC keadaan anemia ibu hamil akan lebih dini terdeteksi karena dengan periksa Hb anemia akan kelihatan, sebab tahap awal anemia pada ibu hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna. Keluhan timbul setelah anemia sudah ketahap yang lanjut (5). Anemia lebih sering di jumpai pada kehamilan. Hal itu, di sebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi perubahan-perubahan dalam darah dan sum-sum tulang darah bertambah banyak dalam kehamilan, akan tetapi tidak diimbangi dengan penambahan plasma sehingga terjadi pengenceran atau penurunan kadar Hemoglobin (6). Hemoglobin merupakan zat yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh termasuk ke tubuh janin yang di kandung oleh ibu, sehingga jika terjadi anemia pada ibu hamil, maka proses pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh tersebut akan mengalami gangguan. Kekurangan zat besi di dalam tubuh di sebabkan oleh kekurangan konsumsi zat besi yang berasal dari makanan atau rendahnya absorpsi zat besi yang ada di dalam makanan (7). Pada kehamilan di anjurkan banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat, juga vitamin B seperti hati, daging, kuning telur, ikan, susu, kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai. Serta sayuran berwarna hijau tua seperti bayam dan daun katuk. Selain itu, konsumsi juga jenis makanan yang memudahkan penyerapan zat besi, misalnya makanan yang mengandung banyak vitamin C. Ibu hamil di anjurkan untuk menghindari makanan / minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, misal kopi & teh atau susu kalsium (8). Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu 51,8% pada tahun 2003 mengalami penurunan sebesar 24,8% pada tahun 2005 serta pada tahun 2007 sebesar 24,5%. Di Jawa Tengah angka kejadian anemia kehamilan semakin tinggi yaitu terlihat tahun 2007 sekitar 20,85% (5967 ibu hamil); pada tahun 2008 sebesar 56,15% (361110 ibu hamil); dan pada tahun 2009 sebesar 57,7% (9). Berdasarkan data dari Dinas kesehatan kota semarang tahun 2009 – 2011 (10). Gambar 1.1 Data anemia Kota Semarang Data paling tertinggi di puskesmas bandarharjo,pada tahun 2009 dari 98 yang di ukur, yang menderita anemia 92 (93,88 %) dan pada tahun 2010 dari 132 yang di ukur, dan yang menderita anemia 108 ibu hamil (81,82 %). Pada tahun 2011 dari 136 ibu hamil yang di ukur, yang menderita anemia 52 ibu hamil (38,24 %) (10). Berdasarkan Hasil Studi Pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 22 Februari 2012, di dapatkan hasil dengan pemeriksaan kadar Hb terhadap 10 orang ibu hamil pada Trimester II dan III di Puskesmas Bandarharjo kota Semarang, meliputi: 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 8,4gr% tergolong Anemia sedang dengan menu nasi, tempe, tahu, sayur kadang-kadang. Sehingga, pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu kurang seimbang untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Sedangkan 4 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 9,6 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu nasi, sayur, tempe, tahu, ikan kadang-kadang. Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah cukup baik, akan tetapi kurang bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Pada 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 10,5gr% dan 10 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu variasi, seperti nasi, ikan, daging, telur, tempe ,tahu dan buah. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah baik, dan bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung dalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Oleh karena itu, peneliti tertarik ingin mengetahui hubungan antara pola nutrisi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester II dan III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota semarang. B. Rumusan Masalah Berdasarkan Latar Belakang dan Study pendahuluan yg telah di kemukakan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui “Apakah ada Hubungan Pola Nutrisi dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil pada trimester II dan trimester III di wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang”. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan pola nutrisi dengan kadar Hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pola nutrisi pada ibu hamil di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. b. Mengetahui kadar hemoglobin pada ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. c. Mengetahui hubungan pola nutrisi ibu hamil dengan Kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat terutama ibu hamil Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada ibu hamil bahwa salah satu penyebab terjadinya kenaikan dan penurunan kadar hemoglobin adalah pola nutrisi yang tidak sehat pada ibu hamil dan dengan pola makan yang baik akan meningkatkan kadar hemoglobin yang normal. 2. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan sikap dan peran serta ibu dalam menangani anemia atau penurunan kadar hemoglobin ibu hamil. 3. Bagi Institusi Pendidikan Menambah sumber kepustakaan dan dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian. 4. Bagi Pembaca Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tambahan referensi khususnya mengenai hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 5. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung dalam melakukan penelitian ilmiah tentang “Hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. E. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain : Table. 1.1. Keaslian Penelitian No Peneliti ( tahun ) Judul penelitian Variabel Sampel Desain penelitian Hasil 1 Risnawati 2006 Pengetahuan tentang gizi dan Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Variabel dalam penelitian ini adalah Karakteristik ibu Hamil yang meliputi umur, pendidikan. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 341 populasi ibu hamil, di ambil 30 sampel dengan hasil ibu hamil mempunyai tingkat pengetahuan tentang gizi dan anemia pada ibu hamil dalam kategori baik. 2 Renny Febriyanti 2009 Hubungan Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi dengan Kadar hemoglobin Ibu hamil trimester III Di BPS Isti Majid Semarang Variabel Bebas: Kepatuhan mengkonsumsi tablet Besi (Fe). Variabel Terikat : Kadar Hemoglobin ibu hamil trimester III. Ibu Hamil Trimester III Jenis penelitian merupakan study korelasi dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 30 responsden yang di teliti, Didapatkan hasil kepatuhan ibu hamil dalam Mengkonsumsi Tablet besi. Sehingga, disimpulkan bahwa terdapat hubungan kepatuhan tablet besi dengan Kadar Hb ibu hamil trimester III 3 Devi Witri Herdiyani 2011 Hubungan antara pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Tempat penelitian di Puskesmas Demak I Kabupaten Demak Variabel Bebas : Pola makan Variabel Terikat : Anemia pada ibu hamil. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 50 responden yang di teliti, di dapatkan hasil terdapat Hubungan pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Perbedaan dengan penelitian ini adalah Variabel Terikat, Sampel, dan Tempat Penelitian. Variabel penelitian ini adalah Kadar Hemoglobin ibu Hamil trimester II dan III. Sampel penelitian ini adalah Ibu hamil trimester II dan III. Tempat penelitian ini adalah di Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang.   BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anemia Dalam Kehamilan 1. Pengertian a. Anemia 1) Anemia adalah turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12.0 gr% pada wanita yang tidak hamil dan kurang dari 10.0 gr% darah pada wanita hamil (11). 2) Anemia adalah suatu kadar hemoglobin dengan sahli,hasilnya kurang dari 11gr% (5). 3) Menurut WHO, anemia didefinisikan sebagai Hb (Hemoglobin) kurang 13gr% untuk laki – laki dan kurang 12gr% untuk wanita. Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi Ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11gr% terutama pada trimester I dan trimester III atau kadar hemoglobin <10,5g% pada trimester II. b. Anemia dalam kehamilan Anemia dalam kehamilan merupakan kondisi ibu dengan kadar Hb dibawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10.5 gr% pada trimester II (12). Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi terutama pada terimester II. Anemia dalam kandungan adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (6). 2. Patofisiologi Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain (6) : a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin. b. Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter. c. Hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat, sehingga akibat faktor itu dijumpai perubahan peredaran darah. d. Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah ( Hemodilusi ). e. Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah. Sehingga, terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat mencapai jumlah sebesar 10.000/ml, protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglubin dapat menurun trimester pertama sedangkan fibrinogen meningkat. Sirkulasi darah ibu juga dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh- pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan alat vital yang lainnya yang berfungsi berlebihan dalam kehamilan sehingga volume darah ibu dalam kehamilan bertambah (hipervolemia) secara fisiologik dengan adanya pancaran darah yang disebut hidremia. Akan tetapi bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah (6). Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologik dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama- tama pengenceran meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih cepat dalam masa hamil. Karena sebagai akibat hidremiacardic output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyak unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu kental (6). Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 23-36 minggu. Setelah pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma karena proses inhibisi cairan dari ekstravaskuler kedalam pembuluh darah yang kemudian akan di ikuti oleh periode diuresis pasca persalinan merupakan periode penyesuaian untuk kembali ke nilai volume plasma sebelum hamil (6). 3. Etiologi Secara umum ada 3 penyebab anemia defisi Selengkapnya...

Minggu, 30 September 2012

KTI KEBIDANAN SEPT 2012 : GAMBARAN MEKANISME KOPING STRES BIDAN DALAM MENANGANI PERSALINAN DI KECAMATAN ...

LEBIH LENGKAP HUB : 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap individu yang hidup di dunia ini tidak pernah terlepas dari stres. Semua tuntutan yang berlebihan dari orang lain terhadap diri kita, sering membuat ketegangan emosional.1 Stres mempengaruhi kondisi dan respon dari tubuh maupun pikiran. Respon dari tubuh maupun pikiran ini muncul karena adanya stressor. Stressor tersebut dapat muncul dalam bentuk fisik, sosioemosi, ekonomi, atau spiritual.2 Salah satu faktor yang menentukan seorang individu dipengaruhi oleh stres yang dirasakannya adalah dengan bagaimana dia menghadapi peristiwa yang dialaminya dengan mekanisme koping.1 Mekanisme koping yang baik dapat mengurangi dampak psikologis, gangguan fisik atau perilaku, individu dapat beradaptasi serta dapat mengubah stres menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menguasai situasi, sehingga respon terhadap stressor dapat menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu.3 Koping yang efektif menghasilkan adaptasi yang merupakan perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan koping yang tidak efektif akan berakhir dengan mal adaptif. 4 Profesi pekerjaan yang bergerak dalam bidang pelayanan kemasyarakatan sering dihadapkan dengan ketegangan emosional yang terkait dengan pekerjaan yang dijalankan dimana sangat mungkin menimbulkan stres kerja. Salah satu profesi pekerjaan yang bergerak di bidang pelayanan kemasyarakatan adalah bidan. Hal yang paling mendatangkan stres sebagai bidan yaitu saat bidan dihadapkan dengan tanggung jawab dan resiko yang besar dalam proses persalinan karena bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan dua nyawa sekaligus yaitu nyawa ibu dan bayi. Reaksi stres yang muncul pada bidan dapat mempengaruhi perilaku, sikap dan emosi bidan terhadap pasien yang ditangani.5 Meskipun pada saat mengikuti pendidikan formal bidan sudah dibekali dengan ilmu psikologi, coping stres, kegawatdaruratan dalam persalinan tetapi tetap saja kondisi psikososial yang buruk dapat menjadi sumber stres bidan, dan mempengaruhi sikap, perilaku, dan emosi bidan pada saat menangani pasien. Profil kesehatan kota Semarang tahun 2009 menyebutkan terdapat 411 bidan di kota Semarang, yang terdiri dari 3 unit kerja, DKK terdapat 3 bidan, Puskesmas terdapat 135 bidan, dan RSU/RS terdapat 273 bidan, sedangkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang No.15 tahun 1999 terdapat 4 puskesmas di kecamatan Banyumanik yang terdiri dari 18 bidan. Menurut data BAPERMAS tahun 2010 terdapat 28 Bidan Praktek Swasta, termasuk 5 bidan Puskesmas di kecamatan Banyumanik . Sedangkan dari data IBI rating II tahun 2010 jumlah bidan sekecamatan Banyumanik terdapat 41 bidan. Keselamatan jiwa seorang ibu hamil dan bayi lebih banyak berada ditangan bidan, sekitar 80% persalinan ditangani bidan. Selain itu bidan juga memberikan pertolongan pertama ketika terjadi masalah dalam persalinan atau bayi yang mengalami gangguan kesehatan, serta mengidentifikasi apakah ibu hamil tersebut berisiko tinggi untuk melahirkan secara normal. Dalam hal ini maka profesionalisme seorang bidan merupakan salah satu kunci utama dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.6 Kasus kematian ibu dan bayi di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 Angka Kematian Ibu di Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup (KH). Penyebab kematian ibu tertinggi pertama adalah karena perdarahan (28%), tertinggi kedua adalah eklamsia (24%), dan tertinggi ketiga karena infeksi. Berdasarkan sasaran target pembangunan tahun 2009 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang berkompetensi kebidanan sebesar 80%. Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukan AKI tahun 2009 yaitu 112 /100.000 kelahiran hidup. AKI tahun 2010 di kota Semarang sebesar 73,79 / 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan survei pendahuluan dengan menggunakan wawancara pada 6 bidan didapatkan hasil 4 bidan mengalami stres dan 2 bidan tidak mengalami stres. Stres tersebut berkaitan dengan lingkungan psikososial yang kurang mendukung, rasa cemas saat menolong persalinan, perasaan untuk selalu waspada saat menolong persalinan, perasaan jenuh saat menunggu proses persalinan yang begitu lama, perasaan khawatir saat menolong persalinan, hingga memiliki pikiran kematian saat terjadi kegawatan dalam menolong persalinan. Dari 6 bidan tersebut menggunakan mekanisme koping adaptif, cara yang dilakukan bidan dalam mengatasi stres tersebut antara lain meminta bantuan teman , berkumpul mencurahkan perasaan dengan teman sejawat, dan berusaha meningkatkan potensi diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan ini. Peneliti ingin mengetahui gambaran mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. B. Rumusan Masalah Profesi pekerjaan yang bergerak dalam bidang pelayanan kemasyarakatan sering dihadapkan dengan ketegangan emosional yang terkait dengan sifat pekerjaan yang dijalankan, di mana sangat mungkin menimbulkan stres kerja. Salah satu profesi pekerjaan yang bergerak di bidang pelayanan kemasyarakatan adalah bidan. Bidan selalu dihadapkan dengan tanggung jawab dan resiko yang besar dalam proses persalinan karena bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan dua nyawa sekaligus yaitu nyawa ibu dan bayi. Salah satu faktor yang menentukan seorang individu dipengaruhi oleh stres yang dirasakannya adalah dengan bagaimana dia menghadapi peristiwa yang dialaminya dengan mekanisme koping. Berdasarkan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti ”Bagaimana mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan ? ” C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran mekanisme koping stres bidan dalam menangani persalinan. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik sosio demografi bidan meliputi : umur, pendidikan, dan lama bekerja. b. Mengetahui mekanisme koping stres bidan berdasarkan faktor sosio demografi. c. Mengetahui gambaran mekanisme koping bidan dalam menangani stres yang dialami. D. Manfaat 1. Bagi Peneliti Memberikan pengalaman peneliti dalam melaksanakan penelitian. Hasil penelitian ini mengetahui tentang stres maupun stresor pada bidan sehingga bidan dapat melakukan mekanisme penyesuaian yang baik dalam menghadapi stres pada saat membantu proses persalinan. 2. Bagi Instansi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi institusi pendidikan yang menjalankan program kebidanan sebagai informasi dan bahan pustaka pembaca dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta dapat berguna untuk memberikan kontribusi pembendaharaan penelitian tentang stres dan mekanisme koping bidan dalam menangani persalinan. 3. Bagi Bidan Hasil dari penelitian ini akan ditarik kesimpulannya dan diberikan pada Puskesmas di wilayah Kecamatan Banyumanik untuk disebarkan pada bidan di wilayah kerja Kecamatan Banyumanik. Sebagai informasi bagi para bidan tentang gambaran mekanisme koping stres bidan dalam membantu proses persalinan sehingga lebih siap psikis, mental dan dapat melakukan penyesuaian yang baik dalam menghadapi stres.   E. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian yang terkait dengan penelitian ini adalah : Tabel 1.1 Tabel Keaslian Penelitian No Judul / Penyusun Tujuan Desain Penelitian Populasi Sampel Hasil Perbedaan Penelitian 1. Gambaran Mekanisme Koping Perawat dalam Menghadapi Stres Kerja di RSU Aisyah Dr.Soetomo Ponorogo Penyusun : Khrisna Indah M (NIM : 051229) Jenis : Skripsi Mengetahui gambaran mekanisme koping perawat dalam menghadapi stres kerja secara adaptif dan mal adaptif Deskriptif Populasi : seluruh perawat di RSU Aisyah Dr.Soetomo Ponorogo Sampel : 62 responden, dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. 62 responden yang mengalami stres kerja didapatkan hasil 38 responden (61, 29%) menggunakan koping adaptif dan 24 responden (38,71%) menggunakan koping mal adaptif Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden dengan teknik total sampling dan dilaksanakan th 2011 2. Coping stres kerja pada perawat di RSJ Menur Surabaya Penyusun : Rosyidah Alif Jenis : Skripsi Mengetahui gambaran stressor, stres kerja dan koping oleh perawat Deskriptif Populasi : seluruh perawat . Sampel : 55 responden dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Responden melakukan emotion focused coping (pada stressor konflik pada perawatan pasien , dan stressor faktor Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden, teknik total organisasi). Problem focused coping (konflik dengan keluarga pasien) sampling, Hasil dikategorikan menjadi koping adaptif dan mal adaptif dan dilaksanakan th 2011 3. Gambaran Stressor, Stress dan Coping Stres Terhadap Skripsi pada Mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul Penyusun : Desy Puspita Sari Jenis: Skripsi Mengetahui gambaran coping stress terhadap skripsi pada mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul Deskriptif Kualitatif Subjek penelitian : dua mahasiswi dan dua mahasiswa yang masih aktif menyusun skripsi. Metode purposive sampling. Pengumpulan data: wawancara terstruktur (in-dept interview) dan observasi. Keempat subjek mengalami kendala dan hambatan dalam menyusun skripsi yang disadari subjek menjadi stressor dan coping stress yang digunakan gabungan problem focused coping dan emotion focused coping sebagai usaha untuk mengurangi stres. Judul penelitian Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden,teknik total sampling, jenis penelitian kuantitatif deskriptif, hasil dikategorikan menjadi koping adaptif dan mal adaptif dan dilaksnakan th 2011.   4. Tingkat Kecemasan dan Cara Koping Ibu Hamil Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Kecemasan Menjelang Persalinan di BPS Istimajid. Penyusun: Indah Fibriyanti (NIM. P174241061229) Jenis : KTI Mengetahui gambaran tingkat kecemasan dan cara koping ibu hamil dalam menghadapi kecemasan dalam menjelang persalinan. Deskriptif Populasi : seluruh pasien hamil di BPS Istimajid Sample : 30 responden. Teknik purposive sampling. Yang mengalami cemas ringan 16 responden, cemas sedang 7 responden, 7 responden tidak cemas. 26 responden (86,67%) menggunakan koping adaptif dan 4 responden (13,37%) menggunakan koping mal adaptif Judul : Mekanisme Koping Stres Bidan Dalam Menangani Persalinan di Kecamatan Banyumanik Semarang. Jumlah sampel 41 responden dengan teknik total sampling dan dilaksanakan th 2011 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Konsep Koping a. Pengertian Koping adalah proses yang dilalui individu dalam menyelesaikan situasi stressfull. Koping tersebut adalah merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik.4 Konsep koping yaitu bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani emosi yang umumnya negatif yang ditimbulkannya.2 Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respon terhadap situasi yang mengancam. Upaya individu dapat berupa perubahan cara berpikir (kognitif), perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang bertujuan untuk menyelesaikan stres yang dihadapi. Koping yang efektif akan menghasilkan adaptasi.7 Secara alamiah baik disadari atau tidak individu sesungguhnya telah menggunakan strategi koping dalam menghadapi stres. Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk merubah lingkungan atau situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang dirasakan / dihadapi.4 b. Sumber Individu dapat menanggulangi stres dengan menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang diyakini. Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu dapat mengadopsi strategi koping yang efektif.8 Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu : aspek fisiologis, dan aspek psikososial.7 1) Reaksi Fisiologis Tanda dan gejala fisiologis merupakan manifestasi tubuh terhadap stres, dimana pupil menebal, keringat meningkat, mulut kering, peristaltik menurun, pengeluaran urin menurun, kewaspadaan mental meningkat terhadap ancaman serius, ketegangan otot meningkat. Reaksi fisiologis merupakan indikasi klien dalam keadaan stres. 2) Reaksi Psikososial a) Reaksi yang berorientasi pada ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. b) Denial (menyangkal), menghindarkan realitas ketidaksetujuan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengenalinya. c) Projeksi, mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek diluar diri atau melempar kekurangan diri sendiri pada orang lain. d) Menghindarkan stres terhadap karakteristik perilaku dari tahap perkembangan yang lebih awal. e) Displacement (mengisar), mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu kebenda atau orang yang netral atau tidak membahayakan. f) Mencari dukungan sosial, keluarga mencari dukungan atau bantuan dari keluarga, tetangga, teman atau keluarga jauh. g) Reframing, mengkaji ulang kejadian stres agar lebih dapat menanganinya dan menerimanya. h) Mencari dukungan spiritual, mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibadah. i) Menggerakan keluarga untuk dapat menerima bantuan, keluarga berusaha mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan orang lain. j) Reaksi berorientasi pada tugas Menurut Keliat (1998), reaksi berorientasi pada tugas merupakan reaksi yang berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realitis, dapat berupa konstruktif destruktif, misalnya : (1) Perilaku menyerang (agresif), dimana reaksi yang ditampilkan individu dalam mengahadapi masalah dapat konstruktif atau destruktif. Tindakan konstruktif misalnya penyelesaian masalah dengan teknik asertif yaitu tindakan yang dilakukan secara terus terang tentang ketidaksukaan terhadap perlakuan yang dilakukan secara terus terang tentang ketidaksukaan terhadap perlakuan yang tidak menyenangkan baginya, sedangkan tindakan destruktif yaitu individu melakukan tindakan penyerangan terhadap stressor dapat juga merugikan dirinya sendiri, orang lain atau lingkungannya. (2) Perilaku menarik diri, dimana reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari stres, sedangkan reaksi psikologis berupa perilaku apatis, isolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut yang berlebihan. (3) Perilaku kompromi yaitu cara yang digunakan oleh individu dimana dalam menyelesaikan masalahnya individu tersebut melakukan pendekatan negosiasi atau bermusyawarah. Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang.9 Sumber – sumber koping antara lain : 1) Kemampuan personal 2) Dukungan sosial 3) Aset Materi 4) Keyakinan Positif c. Faktor yang mempengaruhi strategi koping Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi.10 1) Kesehatan fisik Kesehatan fisik merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk dapat mengerahkan tenaga yang cukup besar. Usia juga merupakan unsur dari fisik seseorang dimana dalam rentang usia tertentu, individu mempunyai tugas perkembangan yang berbeda sehingga mempengaruhi cara berfikir dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi disekelilingnya. Struktur psikologis individu yang kompleks dan sumber strategi koping yang berubah sesuai tingkat usianya akan menghasilkan reaksi yang berbeda dalam menghadapi situasi yang menekan. Sehingga dapat dipastikan kalau koping individu itu akan berbeda untuk setiap tingkat usia.11 2) Keyakinan atau pandangan positif Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib yang mengarahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan yang akan menurunkan kemampuan strategi koping. 3) Keterampilan Memecahkan Masalah Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat. Pengalaman menjadi faktor utama yang berkaitan dengan keterampilan pemecahan masalah. Pengalaman berhubungan dengan lama bekerja, semakin lama bekerja semakin banyak pengalaman yang diperoleh maka akan semakin banyak kasus yang ditangani sehingga semakin mahir dan terampil dalam penyelesaian suatu pekerjaan.12 4) Keterampilan Sosial Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. 5) Dukungan Sosial Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. 6) Materi Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan termasuk diantaranya pendidikan. Individu yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan lebih tinggi pula perkembangan kognitifnya, sehingga akan mempunyai penilaian yang lebih realistis dan koping mereka akan lebih aktif dibandingkan mereka yang mempunyai pendidikan rendah.12 d. Macam – Macam Koping Macam – macam koping adalah sebagai berikut:4 1) Koping psikologis Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stres psikologis tergantung dari dua faktor : a) Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya. b) Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu artinya dalam menghadapi stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baikdan mejadi suatu pola baru dalam kehidupan tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. 2) Koping psikososial adalah reaksi psikososial terhadap adanya stimulus stres yang diterima atau dihadapi dala menghadapi stres dan kecemasan. e. Mekanisme Koping 1) Pengertian Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. Koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku. 2) Penggolongan mekanisme koping Mekanisme koping berdasakan penggolongannya dibagi menjadi dua , yaitu :9 a) Mekanisme koping adaptif Mekanisme koping adaptif yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah dengan orang lain , memecahkan masalah secara efektif , teknik relaksasi , latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. b) Mekanisme koping mal adaptif Mekanisme koping mal adaptif menghambat fungsi integrasi , memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan , menghindar. Dimensi koping dapat diidentifikasi menjadi dua , yaitu:2 a) Koping yang berfokus pada masalah (problem focused coping) mencakup bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan solusi. b) Koping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping) merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres, contohnya dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dari orang lain 3) Jenis dan strategi koping a) Jenis Koping (1) Koping jangka panjang Cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama, contohnya : (a) Berbicara dengan orang lain “curhat” (curah pendapat dari hati ke hati) dengan teman, keluarga atau profesi tentang masalah yang sedang dihadapi. (b) Mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi. (c) Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural. (d) Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan atau masalah. (e) Membuat berbagai alternatif tindakan untuk mengurangi situasi. (f) Mengambil pelajaran dari peristiwa atau pengalaman masa lalu (2) Koping jangka pendek Cara ini digunakan untuk mengurangi stres / ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif jika digunakan dalam jangka panjang, contohnya adalah: (a) Menggunakan alkohol atau obat-obatan (b) Melamun atau fantasi (c) Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyanangkan (d) Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil (e) Banyak tidur (f) Banyak merokok (g) Menangis (h) Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah. Selengkapnya...