Selasa, 30 Agustus 2016

SKRIPSI TERBARU 2016: HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN IBU BALITA MELAKSANAKAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DI DESA

LENGKAB BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + KUESIONER MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan anak di dunia, khususnya di negara yang sedang berkembang masih tergolong rendah. 11 juta anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahunnya. Empat juta dari anak ini masih berusia di bawah 1 bulan. Sedang jutaan lainnya hidup dengan gangguan kesehatan seperti menderita penyakit polio, diare, cacat bawaaan dan perkembangan seperti lambat berjalan dan bicara. Kematian anak ini, umumnya dipicu oleh faktor yang masih bisa dicegah, seperti kurang gizi dan infeksi misalnya infeksi saluran Pernafasan dan infeksi saluran pencernaan (Partiwi, 2009). Penetapan the Expanded Program on Immunisation (EPI) oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak, tetanus neonatorum dan pertusis serta 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiap tahunnya.Vaksinasi terhadap 7 penyakit telah direkomendasikan EPI sebagai imunisasi rutin di negara berkembang antara lain BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B (Muhammad, 2008). Angka Kematian Bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. WHO mencatat sebanyak 4,5 juta kematian dari 10,5 juta per tahun terjadi akibat penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi. Seperti pneumococcus (28 %), campak (21 %), tetanus (18%), rotavirus penyebab diare (16%), dan hepatitis B (16%). Dari data WHO ini diperkirakan setidaknya 50% angka kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi dan Indonesia termasuk sepuluh besar negara dengan jumlah terbesar anak tidak tervaksinasi (WHO, 2010). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, di Indonesia cakupan imunisasi BCG sebesar 86,9%, imunisasi campak sebesar 81,6%, imunisasi Polio sebesar 71%, imunisasi DPT sebesar 67,7%, dan imunisasi Hepatitis B sebesar 62,8%, sedangkan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46,2% (Depkes RI, 2013). Di Propinsi Jawa Tengah sendiri pencapaian program imunisasi dasar lengkap sudah cukup tinggi bila dilihat dari cakupan jenis imunisasi di mana 306.221 orang bayi yang menjadi sasaran, diketahui bahwa yang mendapat imunisasi BCG sebesar 286.215 orang (93,47%), imunisasi DPT1+HB1 sebesar 295.499 orang (96,50%), imunisasi DPT3+HB3 sebesar 277.239 orang (90,54%), imunisasi Polio3 sebesar 286.359 orang (93,51%), imunisasi campak sebesar 282.550 orang (92,27%), dan imunisasi hepatitis B3 sebesar 142.235 orang (46,45%) (Dinkes Jateng, 2014). Kabupaten Pemalang pencapaian program imunisasi dasar lengkap dengan cakupan sebesar 14.530 orang bayi, diketahui bahwa yang mendapat imunisasi BCG sebesar 13.320 orang (91,67%), imunisasi DPT1+HB1 sebesar 13.665 orang (94,05%), imunisasi DPT3+HB3 sebesar 13.269 orang (91,32%), imunisasi Polio3 sebesar 13.190 orang (90,78%), imunisasi campak sebesar 12.832 orang (87%), dan imunisasi Hepatitis B3 sebesar 9.835 orang (67,69 %) (Dinkes Kabupaten Pemalang, 2014). Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar membuat antibodi untuk mencegah penyakit tertentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Hepatitis B, Campak dan melalui mulut seperti polio (Hidayat, 2012). Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal pada penyakit tertentu. Kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya terdapat kadar antibodi yang tinggi pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikan, dan waktu antara pemberian imnunisasi. Keefektifan imunisasi tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri anak (Chichie, 2010). Jadwal imunisasi dari Depkes (2009) imunisasi dasar diberikan pada usia 0-9 bulan. Imunisasi BCG diberikan 1 kali pada usia 0-1 bulan, imunisasi Hepatitis B diberikan sebanyak 4 kali pada usia 0-4 bulan. HB0 diberikan pada usia 0-7 hari, HB 1 diberikan pada usia 2bulan, HB 2diberikan pada usia 3 bulan, HB 3 diberikan pada usia 4 bulan Imunisasi Polio diberikan sebanyak 4 kali pada usia 0-4 bulan. Imunisasi Polio 0 diberikan pada usia 0-1 bulan, imunisasi Polio 1 diberikan pada usia 2 bulan, imunisasi Polio 2 diberikan pada usia 3bulan, imunisasi Polio 3 diberikan pada usia 4bulan. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali pada usia 2 – 4bulan. Imunisasi DPT 1 diberikan pada usia 2bulan, imunisasi DPT 2 diberikan pada usia 3bulan, imunisasi DPT 3 diberikan pada usia 4 bulan. Imunisasi campak diberikan 1 kali pada usia 9 bulan (Muhammad,2008). Cakupan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) dalam dua tahun belakangan ini telah meningkat menjadi 72-80,8% 68 kabupaten /kota dan 90% secara nasional, sehingga dampak kematian anak kerena penyakit infeksi telah turun dari 58/1.000 kelahiran menjadi 29/1.000 kelahiran. Indonesia akan ditetapkan sebagai negara bebas polio pada tahun 2010, karena keberhasilan pemerintah mengatasi polio liar beberapa tahun lalu. Namun disamping itu, Indonesia juga telah berhasil mencapai terget MDGs (Millennium Development Goas) karena cakupan Universal Child Immunization (UCI) 90% (IDAI, 2008). Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Capaian indikator ini di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 90,00%. Angka ini telah memenuhi target Renstra pada tahun 2013 yang sebesar 88%. Dengan demikian terdapat 15 provinsi (45,45%) yang telah memenuhi target Renstra tahun 2013. Kesibukan orang tua, kurang sosialisasi dari pemerintah serta budaya setempat yang masih mengandalkan dukun menjadi faktor yang mempengaruhi kepatuhan orang tua untuk memberikan imunisasi pada bayinya. Kepatuhan merupakan suatu permasalahan bagi semua disiplin perawatan kesehatan (Basaria, 2007). Kepatuhan dalam mengimunisasikan anak sangatlah penting untuk kesehatan anak dalam tahap tumbuh kembang (Arifin, 2011) Data yang didapat dari buku laporan Puskesmas Watukumpul tahun 2015 yaitu diperoleh data jumlah bayi yang terdaftar sebanyak 76 balita. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Mei 2016 dengan menggunakan wawancara untuk mengukur perilaku dan kepatuhan ibu melaksanakan imunisasi terhadap 10 ibu dan balitanya, diperoleh 6 ibu tidak patuh melaksanakan imunisasi dasar secara lengkap pada balitanya karena ibu merasa anaknya sehat-sehat saja dan tidak memerlukan imunisasi secara komplit kalau nanti sakit baru dibawa ke rumah sakit. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar ibu tidak melaksanakan imunisasi dengan patuh meskipun bidan desa sudah aktif dalam memberikan informasi jadwal imunisasi bagi anaknya. 4 ibu balita patuh melaksanakan imunisasi balitanya secara lengkap karena ibu mempunyai pandangan bahwa imunisasi adalah hak anak sehingga ibu patuh memenuhi anjuran dari tenaga kesehatan. Sesibuk apapun urusan diluangkan waktu untuk melakukan imunisasi pada anaknya sesuai jadwal imunisasi lengkap. Berdasarkan uraian diatas peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana “HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN IBU BALITA MELAKSANAKAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DI DESA XXXX”. B. Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah “adakah Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Ibu Balita melaksanakan Imunisasi Dasar Lengkap di Desa XXXX?” C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan Pengetahuan dengan kepatuhan ibu balita melaksanakan imunisasi dasar lengkap di Desa XXXX. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan Pengetahuan ibu balita melaksanakan imunisasi dasar lengkap di Desa XXXX b. Mendeskripsikan kepatuhan ibu balita melaksanakan imunisasi dasar lengkap di Desa XXXX c. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan ibu balita melaksanakan imunisasi dasar lengkap di Desa XXXX. D. Manfaat 1. Bagi Ilmu Institusi Pendidikan Menambah wawasan dan informasi bagi mahasiswa dalam ilmu kebidanan khususnya tentang hubungan pengetahuan dengan kepatuhan ibu balita melaksanakan imunisasi dasar lengkap di Desa XXXX 2. Bagi Puskesmas Hasil ini diharapkan dapat memberikan informasi dalamcakupan yang diperoleh pada saat posyandu sehingga dapat ditindaklanjuti dalam upaya peningkatan cakupan pelaksanaan imunisasi dasar lengkap 3. Bagi Masyarakat Masyarakat dapat memproleh tambahan pengetahuan kesehatan yang berguna untuk meningkatkan perilaku kesehatan balita khususnya melaksanakan imunisasi dasar lengkap 4. Bagi Peneliti Menambah pengalaman dalam penelitian serta sebagai bahan untuk penerapan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan. 5. Bagi Peneliti Lain Sebagai masukan bagi penelitian selanjutnya, serta referensi untuk penelitian selanjutnya. E. Originatas Penelitian Tabel 1.1 Originatas Penelitian No. Judul Penelitian Peneliti Desain Penelitian Hasil Perbedaan 1. Hubungan pengetahuan ibu tentang posyandu dengan frekuensi kunjungan ke posyandu di Desa Kertayasa Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara Iskandar Akbar arifin 2010 Kuantitatif, observasional, cross sectional, stratified random sampling Ada hubungan antara pengetahuan ibu balita tentang posyandu dengan frekuensi kunjungan ke posyandu di Desa Kertayasa Kecamatan Mandireja Kabupaten Banjarnegara Pada jumlah variabel 2. Hubungan antara pengetahuan ibu, status tingkat sosial dengan status imunisasi dasar lengkap pada balita di Desa Kalongan Kecamatan Ungaran Delan Astriansyah 2011 Kuantitatif, cross sectional Ada Hubungan antara pengetahuan ibu, status tingkat sosial dengan status imunisasi dasar lengkap pada balita di Desa Kalongan Kecamatan Ungaran Pada variabeldependen kunjungan balita Selengkapnya...

SKRIPSI TERBARU 2016 : EFEKTIFITAS JUS BUAH MENTIMUN DAN JUS BUAH SIRSAK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI

MAU LEBIH LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA BERGUNA UNTUK REFERENSI HUB: 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

F. Latar Belakang

Diera globalisasi ini banyak Perubahan yang menuju ke arah masyarakat industri memberi andil terhadap perubahan pola fertilitas, gaya hidup, dapat memacu meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi (Bustan, 2007). Perubahan dalam pola gaya hidup dari epidemiologi penyakit yang beralih ke peningkatan tekanan darah. Prevalensi penyakit non infeksi atau degeneratif seperti hipertensi, stroke, kanker dan sebagainya, meningkat yang ditunjukkan dengan adanya kecenderungan perubahan pola kesakitan dan pola penyakit utama penyebab kematian, dimana terdapat penurunan prevalensi penyakit infeksi (Bustan, 2007). Tekanan Darah yaitu tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung keseluruhan anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya terdapat dan angka yang akan muncul. Contohnya, 140/90, maka artinya 140/90 mmHg (Corwin, 2009). Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang banyak diderita bukan hanya oleh usia lanjut saja, bahkan saat ini juga menyerang orang dewasa muda (Darmojo, 2001). Hipertensi merupakan penyakit yang paling sering diderita oleh banyak orang khususnya masyarakat. Hipertensi merupakan akibat dari pola hidup yang salah dan beban fikiran yang semakin meningkat. Hipertensi tidak lagi diderita dari kaum lanjut usia, namun juga telah diderita usia dewasa bahkan usia remaja. Dari hasil Riskedas 2013 lebihdari 25% orang Indonesia yang berusia di atas 18 tahun menderita penyakit darah tinggi (hipertensi). Namun, yang mengkhawatirkan, dari jumlah tersebut, yang menyadari menderita hipertensi (melalui diagnosis tenaga kesehatan dan atau meminum obat) tidak sampai 10%. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Propinsi JawaTengah, tahun 2014 sebesar 1,96% menurun bila dibanding dengan tahun 2015 sebesar 2,00%. Penderita hipertensi kebanyakan itu berada di daerah pedesaan dibandingkan daerah perkotaan dengan prevelensi 31% vs 23,75, kenaikan prevelensi tersebut mungkin disebabkan kurangnya kesadaran, pengetahuan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan prilaku hidup yang tidak sehat.Jumlah penderita hipertensi diseluruh dunia mencapai 972 juta jiwa pada tahun 2011. Sebanyak 330 juta, sisanya kurang dari 600 juta berada di Negara yang sedang berkembang termasik Indonesia. Data WHO dalam 2010 dari 50% penderita hipertensi yang diketahui hanya 225 mendapatkan pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik. Tahun 2011 di Indonesia banyaknya penderita hipertensi 15 juta orang dewasa dan lansia, tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Kerusakan yang disebabkan dari hipertensi dapat berakibat fatal yang menimbulkan kompikasi berupa serangan jantung, stroke, perdarahan dan gangguan ginjal. Prevelensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-21%. Data secara nasional yang belum lengkap , sebagian besar pendererita hipertensi di Indonesia yang belum terdeteksi, sementara mereka tidak terdeteksi umunmnya tidak menyadari kondisi penyakitnya ( Depkes RI, 2007 ). Penyakit hipertensi terjadi penurunan dari 31,7persentahun 2007 menjadi 25,8 persentahun 2013. Asumsi terjadi penurunan bisa bermacam-macam mulai dari alat penguku rtensi yang berbeda sampai pada kemungkinan masyarakat sudah mulai datang berobat kefasilitas kesehatan. Terjadi peningkatan prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara (apakah pernah di diagnosisnakes dan minum obat hipertensi) dari 7,6persentahun 2007 menjadi 9,5 persentahun 2013. Berdasarkan hasil (90%) kasus hipertensi merupakan hipertensi primer, yang tidak diketahui penyebabnya Akibat dari hal tersebut tidak semua penderita hipertensi memerlukan obat anti hipertensi. Upaya pengobatan yang lebih penting dilakukan adalah mengeliminasi faktor risiko yang diduga berhubungan dengan kejadian hipertensi tersebut. prinsipnya ada dua macam terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit hipertensi, yaitu terapi farmakologi dengan menggunakan obat, dan terapi nonfarmakologi yaitu dengan modifikasi pola hidup sehari-haridan kembali keproduk alami(back to nature). Mengacu pada konsep back to nature yaitu dengan menggunakan bahan lokal yang banyak terdapat di masyarakat, karena bahan tersebut kaya akan antioksidan dan kalium dalam bentuk jus buah sebagai upaya menurunkan tekanan darah penderita hipertensi yang ditunjukkan dengan grafik penurunan tekanan darah (Bangun,2003). Ramuan tradisional yang sangat popular dimasyarakat Indonesia sangat banyak. Masing-masing daerah memiliki ramuan-ramuan khusus untuk pengobatan tradisional, sesuai dengan lingkungan alamnya yang memiliki berbagia kekayaan alam yang sangat melimpah. Salah satu produk alami tersebut adalah buah sirsak dan mentimun yang banyak terdapat di masyarakat. mentimun sudah sejak dulu digunakan sebagai obat tradisional yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Buah ini mengandung kadar kalium tinggi dan natrium rendah, sehingga sesuai dikonsumsi oleh penderitahi pertensi ( Wulandari 2012 ). Pengobatan hipertensi ada dua jenis yaitu non farmokologi dan farmokologi, salah satu pengobatan non farmokologi yaitu jus buah sirsak dan jus mentimun. Sirsak adalah buah yang memiliki banyak sekali kandungan penting di dalamnya. Buah sirsak terdiri dari 67,5 persen daging buah, 20 persen kulit buah, 8,5 persen biji buah , dan empat persen inti buah. Ia juga mengandung gizi yang tinggi,annonaine,serta asimilobine. Sirsak terbukti mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Mentimun ( Cucumis sativus) sejak dulu di kenal oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap bahan makanan yang berupa; lalapan, campuran pecel, bahan acar, ataupun juga diolah menjadi minuman segar. Kadungan mentimun adalah; protein, lemak, karbohidrat. Buah tanaman merambat ini juga mengandung kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C. Biji timun sendiri mengandung racun alkoloid jenis hipoxanti, yang berfungsi untuk mengobati cacingan. Mentimun dapat bermanfaat bagi kesehatan yang penggunaannya bisa dariluar maupun dari dalam dimakan atau diminum (Kholis, 2011). Dari hasil data dipuskesmas kedung mundu kelurahan sambiroto didapatkan jumlah penderita hipertensi pada bulan Januari 2013 sampai Mei 2014 adalah laki – laki dan perempuan jumlah total 585 orang yang menderita hiperteni. Peneliti akan mengambil responden dari RT 07 RW 02 sejumlah 30 responden. Melihat potensi dari kalangan masyarakat umum, buah sirsak dan buah mentimun sudah lazim dikomsumsi untuk sekedar pelengkap hidangan dan dimanfaatkan untuk pengobatan alternative pengobatan penurunan darah. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas pemberian jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap penurunan tekanan darah. G. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan efektifitas antara jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi H. TujuanPenelitian 1. TujuanUmum Mengetahui Efektifitas jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. 2. TujuanKhusus a. Mendiskripsikan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus buah mentimun pada pasien hipertensi di kelurahan sambiroto RT 07 RW 02 Semarang. b. Mendiskripsikan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus buah sirsak pada pasien hipertensi di kelurahan sambiroto RT 07 RW 02 Semarang. c. Menganalisis perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus buah mentimun pada pasien hipertensi di kelurahan sambiroto RT 07 RW 02 Semarang. d. Menganalisis perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus buah Sirsak pada pasien hipertensi di kelurahan sambiroto RT 07 RW 02 Semarang. e. Menganalisis perbedaan tekanan darah antara pemberian jus buah mentimun dan jus buah sirsak pada pasien hipertensi di kelurahan sambirotoRT 07 RW 02 Semarang. f. Menganalisis efektifitas tekanan darah antara pemberian jus buah mentimun dan jus buah Sirsak pada pasien hipertensi di kelurahan sambirotoRT 07 RW 02 Semarang. I. Manfaat Penelitian Diharapkan hasil penelitian ini memberikan manfaat pada : 1. Bagi Tenaga kesehatan Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan Terapi Herbal bagi tenaga kesehatan tentang efektifitas jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. 2. Bagi peneliti Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan pengalaman yang berharga bagi peneliti terutama efektifitas jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. 3. Bagi penelitian berikutnya Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan referensi atau informasi bagi peneliti berikutnya yang terkait dengan efektifitas jus buah mentimun dan jus buah sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. J. Originalitas Penelitian Tabel 1.1 Originalitas penelitian NO Nama peneliti Judul peneliti Metode Hasil Perbedaan 1 Chandrawijaya, (2010) Pengaruh jus buahsirsak terhadap penurunan tekanan darah tinggi Penelitian ini menggunakan prospektif eksperimental Menggunakan randomized pretest-posttest control group design Ada perbedaan Setelah minum jus sirsak menunjukkanhasil rerata sebesar 109,31/71,46 mmhg, lebih rendah di bandingkan sebelum minum jus sirsak sebesar 116,65/77,00 mmHg Variable dulu : Pengaruh jus buah sirsak terhadap penurunan tekanan darah tinggi Variable sekarang : Efektifitas jus siirsak dan jus mentimun terhadap tekanan darah Teknik sampling : Menggunakan purposesive sampling 2 Lailatul muniroh (2005) Pengaruhpemberian jus buah belimbing dan mentimunterhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolic penderita hipertensi Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental Menggunakan randomized pretest-posttest control group design Ada perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolic awala ntara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol Variabel dulu : Pengaruh pemberian jus buah belimbing dan mentimun terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolic penderita hipertensi Variable sekarang : Efektifitas jus siirsak dan jus mentimun terhadap tekanan darah Teknik sampling : Teknik acak sederhana 3 4 Zauhani kusnul (2011) Dendy Kharisna ( 2012 ) Efek pemberian jus mentimun terhadap penurunan darah tinggi Efektifitas komsumsi jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental Menggunakan randomized pretest-posttest control group design Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy eksperiment dengan rancangan Non-equivalent control group” Penelitian ini menunjukkanada pengaruh bermakna dari pemberian jus mentimun terhadap penurunan darah, Hal ini menunjukkan terjadi penurunan tekanan darah setelah diberikan intervensi, Variabel dulu : Efek pemberian jus mentimun terhadap penurunan darah tinggi Variable sekarang : Efektifitas jus siirsak dan jus mentimun terhadap tekanan darah Teknik sampling : Menggunakan purposive sampling Variabel dulu : Efektifitas komsumsi jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi Variable sekarang : Efektifitas jus siirsak dan jus mentimun terhadap tekanan darah Teknik sampling : Menggunakan purposive sampling   BAB II TINJAUAN PUSTAKA F. Tinjauan Teori 1. Hipertensi a. Pengertian Hipertensi didefinisikan sebagai TD persisten diaman tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2011). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg (Brunner & suddarth, 2005).Seseorang dikatakan terkena hipertensi mempunyai tekanan dara sistolik ≥140mmHg dan tekanan darah diastoltik ≥90mmHg. Seseorang dikatakan terkena hipertensi tidak hanya dengan 1 kali pengukuran, tetapi 2 kali atau lebih pada waktu yang berbeda. Waktu yang paling baik saat melakukan tekanan darah adalah saat istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring. b. Klasifikasihipertensi 1) Klasifikasi berdasarkan etiologi a) Hipertensi Esensial ( primer ) Merupakan 90% dari kasus penderita hipertensi. dimana sampai saat ini belum diketahui penyebabnya secara pasti. Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu: faktor genetic, stress dan psikologis,serta factor lingkungan dan diet. b) Hipertensi sekunder Pada hipertensi sekunder, penyebab dan patofisiologi dapat diketahui dengan jelas sehingga lebih mudah untuj dikendalikan dengan obat-obatan.penyebab hipertensi sekunder diantaranya berupa kelainan ginjal seperti tumor, diabetes, kelainan adrenal, kelaianan aorta, kelaianan endokrin lainnya seperti obesitas. 2) Klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi a) Berdasarkan JNC VII Derajat Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Normal <120 <80 Pre-hipertensi 120-139 80-89 Hipertensi derajat I 140-159 90-99 Hipertensi derajat II >160 >100 Tabel 2.2 klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi ((sumber : JNI VII, 2003) b) Menurut European society of cardiology Tabel 2.3 Klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi menurut European society of cardiology Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Optimal <120 Dan <80 Normal 120-129 dan/atau 80-84 Normal tinggi 130-139 dan/atau 85-89 Hipertensi derajat I 140-159 dan/atau 90-99 Hipertensi derajat II 160-179 dan/atau 100-109 Hipertensi derajat III >180 dan/atau >110 Hipertensi sistolik terisolasi >190 Dan <90 ( sumber: ESC, 2007 ) c. Gejala hipertensi Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala. Meskipun demikian secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan hipertensi (padahal sebenarnya tidak). Gejala yang di maksud adalah sakit kepala,pendarahan dari hidung,pusing,wajah kemerahan dan kelelahan. Menurut William, 2009 Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati bisa timbul gejala berikut : a. Kelelahan b. Keturunan c. Stress d. Proses penuaan e. Diet yang tidak seimbang f. Sosial budaya d. Faktor Resiko Faktor resiko adalah sesuatu yang dapat meningkatkan peluang terjadinya hipertensi. menurut (Casey & Benson, 2012)faktor resiko tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu: 1) Faktor risiko yang tidak dapat diubah a) Genetik (Riwayat keluarga) Hipertensi merupakan salah satu penyakit keturunan, jika orang tua atau saudara kandung kita ada yang menderita hipertensi maka ada kemungkinan besar kita akan menderita hipertensi juga. Pada penelitian menunjukkan 25% dari kasus hipertensi esensial dalam keluarga mempunyai dasar genetis. Namun hal ini bukan merupakan hal yang pasti, terkadang ada orang tua yang memiliki riwayat hipertensi namun anaknya tidak menderita hipertensi. Beberapa kesamaan yang tampak pada banyak keluaraga justru mungkin merupakan dampak pengaruh lingkungan, pola makan anak, mekanisme koping seseorang dalam menghadapi masalah dan kebiasaan sehat maupun tidak sehat sering dibentuk oleh perilaku orang tua mereka dan iklim sosial tempat mereka dibesarkan. b) Usia Walaupun penuaan tidak selalu memicu hipertensi, namun pada umumnya hipertensi terjadi pada usia lebih tua. Karena pada usia 30 dan 60 tahun terjadi peningkatan tekanan sistolik, meningkat rata-rata sebanyak 20 mm/Hg dan terus meningkat pada usia 70 tahun. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. c) Jenis kelamin Pada dasarnya wanita memang mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan hormon kedua jenis kelamin. Produksi hormon estrogen menurun saat menopause, wanita kehilangan efek menguntungkannya sehingga tekanan darah meningkat. d) Ras Orang Afrika-Amerika menunjukkan tingkat hipertensi lebih tinggi dibanding populasi lain, dan cenderung berkembang lebih awal dan agresif. Mereka memiliki peluang hampir dua kali lebih besar untuk mengalami stroke fatal, satu setengah kali lebih mungkin untuk mengalami gagal ginjal dibandingkan dengan ras Kaukasia. 2) Faktor risiko yang dapat diubah a) Merokok Disebabkan karena kandungan nikotin dalam rokok yang dapat membuat penyempitan pembuluh darah sehingga memaksa jantung untuk bekerja lebih keras. Sebagai hasilnya, kecepatan jantung dan tekan darah meningkat. b) Obesitas Kelebihan berat badan dan hipertensi sering berjalan beriringan, karena tambahan berat badan beberapa kilogram membuat jantung anda bekerja lebih keras, sehingga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. c) Gaya hidup malas (kurang gerak) Dibandingkan dengan mereka yang aktif secara fisik, orang yang sering duduk secara signifikan lebih mungkin mengalami hipertensi dan serangan jantung.seperti otot yang lain, jantung anda akan semakin kuat dengan berolahraga. Jantung yang kuat akan memompa darah lebih efesien Selengkapnya...

SKRIPSI BARU 2016 : FAKTOR - FAKTOR RISIKO TERJADINYA ABORTUS DI RUMAH SAKIT UMUM

MURAH HUBUNGI SEGERA HP. 081225300100 LENGKAP BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + KUESIONER

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu melahirkan di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan penelitian Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), Angka Kematian Ibu melahirkan pada tahun 2012 mencapai 359 per 100.000 penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan kondisi tahun 2007, yang hanya sebesar 228 per 100.000 penduduk. Di Indonesia, saat ini terdapat 13 provinsi yang Angka Kematian Ibu melahirkannya tinggi (Wardah, 2011). Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Tengah, masih cukup tinggi mencapai 116,34 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) mencapai 10,75 per 100.000 angka kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama, dan komplikasi abortus (Kusumo, 2011). Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu. Ada dua macam abortus (keguguran kandungan) yakni abortus spontan dan abortus buatan. abortus spontan adalah abortus yang berlangsung tanpa tindakan apapun. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi. Lain halnya dengan abortus buatan, abortus buatan adalah suatu upaya yang disengaja untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu (Prawirohardjo, 2009). Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Tidak ada data yang pasti tentang berapa besarnya dampak abortus terhadap kesehatan ibu. World Health Organization/WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahun dilakukan 20 juta unsafe abortion, 70.000 wanita meninggal akibat unsafe abortion, dan 1 di antara 8 kematian ibu disebabkan unsafe abortion (Azhari, 2002). Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan dimana “ unsafe abortion” menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Menurut World Health Organization/WHO diperkirakan terjadi 4,2 jurta abortus setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian 1,3 juta di Vietnam dan singapura, antara 750.000 sampai 1,5 juta di indonesia, antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina, antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand (Azhari, 2002). Frekuensi abortus sukar untuk ditentukan karena kerjadian abortus banyak tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Diperkirakan frekuensi abortus berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari, sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah hamil. Diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan demikian setiap tahun 500.000-750.000 terjadi abortus di indonesia (Azhari, 2002). Ada beberapa faktor yang merupakan predisposisi terjadinya abortus antara lain faktor paritas dan usia ibu. Risiko abortus semakin tinggi dengan bertambahnya usia ibu. Usia kehamilan saat terjadinya abortus dapat memberi gambaran tentang penyebab dari abortus tersebut. Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenetik. Riwayat abortus pada penderita abortus nampaknya juga merupakan predisposisi terrjadinya abortus berulang. Kejadiannya sekitar 3-5%. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah satu kali abortus, pasangan punya resiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah 30-45% (Prawirohardjo, 2009). Selain beberapa faktor tersebut, penyakit ibu seperti pneumonia, typhus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat meyebabkan abortus. Begitu pula dengan penyakit-penyakit infeksi lain juga memperbesar peluang terjadinya abortus. Resiko terjadinya abortus meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah pekerjaan, jarak kehamilan, paritas, usia ibu, dan riwayat abortus. Pekerjaan yang dapat menyebabkan abortus atau mengganggu kehamilan seperti pabrik rokok, dan pabrik-pabrik lainnya yang dapat mempengaruhi janin. Pekerjaan sebagai radiology karena radiasi dapat menyebabkan abortus (Saifuddin, 2002). Jarak kehamilan yang terlalu dekat yaitu kurang dari 24 bulan setelah melahirkan bayi aterm akan meningkatkan insiden abortus. Jarak minimal kelahiran anak dengan kehamilan berikutnya adalah 3 bulan. Waktu ini diperlukan untuk memberi kesempatan yang cukup agar rahim kembali ke bentuk semula. Sesudah itu ibu dapat mempertimbangkan untuk hamil lagi, karena rahim sudah siap untuk menampung pertumbuhan hasil konsepsi (Prawirohardjo, 2009). Salah satu risiko terjadinya abortus dikarenakan oleh jumlah paritas yang meningkat (Cunningham, 2005). Sedangkan menurut Llewellyn dan Jones (2001), frekuensi terjadinya abortus meningkat bersama dengan meningkatnya angka graviditas, 6% kehamilan pertama atau kedua berakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ketiga dan seterusnya. Uterus yang meregang adalah etiologi dari abortus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paritas yang meningkat menjadi salah satu faktor risiko ibu untuk terjadi abortus (Sastrawinata, 2004). Menutur Musbikin (2008), masa emas usia reproduktif wanita terbatas, batasan ini terkait dengan faktor reproduksi wanita yang berada pada kondisi yang optimal pada usia 20-35 tahun. Kehamilan yang terjadi pada usia <20 tahun mempunyai risiko. Antara lain disebabkan karena panggul yang masih sempit, otot rahim belum terbentuk sempurna, pembuluh darah yang mensuplai endometrium belum banyak terbentuk. Hal ini disebabkan karena masih dalam masa pertumbuhan (Llewellyn dan Jones, 2001). Seorang wanita yang mengalami dua kali keguguran spontan berturut-turut, dan tidak dapat mempertahankan kehamilannya hingga cukup bulan, memiliki 35% kemungkinan untuk mengalami keguguran kembali pada kehamilan berikutnya (Hefther dan Schust, 2006). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salatiga merupakan rumah sakit rujukan di kota Salatiga . Hasil survey awal di mana data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah angka kejadian komplikasi kebidanan termasuk abortus di dalamnya di Jawa Tengah pada tahun 2009 masih tinggi yaitu sebesar 125.841 atau 20% dari jumlah ibu hamil dan untuk Kota Salatiga yaitu sebesar 799 dari 3429 jumlah ibu hamil. Dari catatan rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga dari bulan November 2010 - Februari 2011 terjadi 48 kasus abortus spontan dari 173 jumlah ibu hamil dengan jumlah abortus imminen 23 (47,91 %), abortus inkomplete 16 (33,35 %), abortus komplet 7 (14,58 %), abortus tertunda 1 (2,08 %) dan abortus insipien 1 (2,08 %). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik dan ingin mengetahui serta melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor Risiko Terjadinya Abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga”. B. Perumusan Masalah Berdasarkan data kasus yang tertera pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apa saja Faktor- Faktor Risiko Terjadinya Abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga?” C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor risiko terjadinya abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui umur ibu yang abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. b. Untuk mengetahui pekerjaan ibu yang abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. c. Untuk mengetahui paritas ibu yang abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. d. Untuk mengetahui riwayat abortus pada ibu yang abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Peneliti a. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang gambaran kejadian abortus. b. Sebagai wujud atau aplikasi dari ilmu yang di dapat dalam perkuliahan. 2. Bagi Institusi Pelayanan Sebagai bahan masukan atau informasi bagi pelayanan kebidanan dalam rangka meningkatkan pelayanan kebidanan di rumah sakit. 3. Bagi Pendidikan a. Sebagai bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi peserta didik. b. Sebagai bahan acuan untuk penulisan selanjutnya yang berkaitan dengan kehamilan abortus sehingga dapat memperbaiki mutu pembelajaran. BAB II TINJAUAN TEORI A. Kehamilan 1. Pengertian Kehamilan Periode perinatal adalah kurun waktu terhitung sejak Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) hingga kelahiran bayi yang menandai awal periode pascanatal. Kahamilan (fertilisasi) adalah terjadinya pertemuan dan persenyawaan antara sel mani dan sel telur, fertilisasi ini terjadi di ampula tuba. Syarat dari setiap kehamilan adalah harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi hasil konsepsi (Kusmiyati, dkk, 2008). Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis yang normal, tetapi yakin bahwa ini merupakan peristiwa dimana terjadi perubahan-perubahan adaptif yang besar sekali, yang penting dan esensial untuk mengoptimalkan keberhasilan kehamilan. Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan bila lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur (Cunningham, 2005). 2. Tanda dan Gejala Kehamilan Tanda dan gejala kehamilan adalah : a. Tanda kehamilan tidak pasti 1) Pigmentasi kulit, terjadi kira-kira minggu ke-12 atau lebih 2) Leukore, secret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormone progesterone 3) Epulsi (hipertrofipapilla gingival) 4) Perubahan payudara menjadi tegang dan membesar 5) Pembesaran abdomen 6) Suhu basal meningkat terus antara 37,2-37,8 7) Perubahan organ dalam pelvic a) Tanda Chadwick b) Tanda hegar c) Tanda piscaseck d) Tanda Braxton-hicks 8) Tes kahamilan b. Tanda pasti kehamilan 1) Palpasi dirasakan ballotemen dan bagian janin serta gerak janin 2) Auskultasi terdengar DJJ. Dengan Laennec pada umur kehamilan 18-20 minggu, denagn dopier pada umur kehamilan 12 minggu. 3) Dengan ultrasonografi (USG) dapat dilihat gambar janin 4) Pada pemeriksaan sinar-x tampak kerangka janin. c. Gejala kehamilan tidak pasti 1) Amenore 2) Nausea (enek) dengan atau tanpa vomitus (muntah) 3) Mengidam 4) Konstipasi atau obstipasi 5) Sering kencing 6) Pingsan dan mudah lelah 7) Anoreksia (tidak ada nafsu makan) 3. Komplikasi Kehamilan a. Hiperemesis Gravidarum 1) Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I. kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu (Mansjoer, 2001). 2) Gejala biasanya mulai pada kehamilan minggu ke-6 dan berhenti sebelum minggu ke-12, meskipun dapat berlanjut sepanjang kehamilan. Gejala ini tampaknya disebabkan oleh efek peninggian kadar estrogen atau kadar human chorionic gonadotrophin yang bekerja pada chemoreseptor trigger zone di otak tengah. Kalau tubuh sudah terbiasa dengan lingkungan hormone yang baru terbiasa, mual dan muntah akan berhenti pada kebanyakan wanita. Disamping itu, faktor psikologik mungkin bekerja pada pusat muntah di korteks serebri (Llewellyn dan Jones, 2001). b. Kehamilan Ektopik 1) Kehamilan ektopik terjadi setiap saat kita penanaman blastosit berlangsung dimanapun, kecuali di endometrium yang melapisi rongga uterus. Tempat yang mungkin untuk kehamilan ektopik adalah serviks, tuba fallopi, ovarium, dan abdomen. Faktor-faktor predisposisi kehamilan ektopik meliputi infeksi pelvis, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), riwayat kehamilan ektopik, dan riwayat pembedahan tuba. 2) Gejala awal kehamilan ektopik adalah perdarahan pervaginam dan bercak darah, dan kadang-kadang nyeri panggul. Karena kadar BhCG lebih rendah dan peningkatan lebih lambat, tanda dugaan kehamilan yang dialami pada seorang wanita lebih sedikit (Varney, 2006). c. Mola Hidatidosa 1) Hamil mola adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili koreales disertai degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang lenih cepat dari usia gestasi normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti buah anggur (Saifuddin, 2002). 2) Tanda dan gejala kehamilan mola adalah mual muantah yang menetap dan sering kali menjadi parah, perdarahan uterus yang terlihat pada minggu ke-12, ukuran uterus besar untuk usia kehamilan,sesak nafas, ovarium biasanya nyeri tekan dan membesar, tidak Selengkapnya...

SKRIPSI TERBARU 2016 : HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA DI RSUD

MURAH HUBUNGI SEGERA HP. 081225300100 LENGKAP BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + KUESIONER

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Di dalam tubuh kita terdapat banyak sel yang membentuk jaringan. Sel mempunyai dua tugas utama, yaitu bekerja dan berkembang biak. Sel yang terkena kanker akan berubah sifat, sebagian besar dipakai untuk berkembang biak, bukan untuk bekerja. Oleh karna itu, kanker dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kalau tidak segera diketahui dan tidak dapat dicegah pertumbuhannya, bisa menyebabkan kematian (Purwoastuti, 2012:7). Saat ini, kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua akibat kanker pada wanita, setelah kanker rahim, dan merupakan kanker yang paling banyak ditemui diantara wanita. Jumlah penderita kanker payudara diseluruh dunia terus mengalami peningkatan, baik pada daerah dengan insiden tinggi di negara-negara barat, maupun pada insiden rendah seperti dibanyak daerah di Asia. Angka insiden tertinggi dapat ditemukan pada daerah di Amerika Serikat (mencapai di atas 100/100.000; berarti ditemukan lebih 100 penderita / 100.000 orang). Kemudian diikuti dengan beberapa negara di Eropa Barat (tertinggi Swiss, 73,5/100.000). Untuk Asia, masih berkisar antara 10-20/100.000). Yang menarik angka ini akan berubah bila populasi dari daerah dengan insiden rendah melakukan migrasi ke daerah dengan insiden yang lebih tinggi, suatu bukti bahwa faktor lingkungan juga berperan pada proses terjadinya kanker (Purwoastuti,2012:14). Di negara berkembang setiap tahunnya lebih dari 580.000 kasus kanker payudara ditemukan. Kurang lebih 372.000 pasien meninggal karena penyakit ini. Data WHO menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita usia 50 tahun ke atas. Sedangkan 6%-nya pada usia kurang dari 40 tahun. Tidak heran kanker ini juga masuk dalam catatan Word Health Organization (WHO) dimasukkan kedalam International classification of diseases (ICD) dengan kode nomor 17 (Suryaningsih,2009:7) Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007, kejadian kanker payudara di Indonesia sebanyak 8.227 kasus atau 16,85% dan pada tahun 2008, 12 juta pasien yang baru terdiagnosis Kanker dan lebih dari 7 juta pasien meninggal akibat Kanker. Pada tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus Kanker sebanyak 20 hingga 26 juta pasien dan 13 hingga 17 juta pasien mininggal akibat Kanker. Peningkatan angka kejadian kanker diperkirakan sebesar 1% / tahun (Damiri, 2007). Kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Dapat terjadi pada usia kapan saja, biasanya menyerang wanita umur 40-50 tahun, tapi saat ini sudah mulai ditemukan pada usia 18 tahun. Kanker sering ditemukan pada stadium lanjut, sehingga proses penyembuhan sulit. Kanker payudara menimbulkan berbagai ketakutan yang berhubungan dengan kehilangan gambaran tubuh, operasi, dan kematian. Yang termasuk faktor resiko kanker payudra yaitu umur, status perkawinan, paritas, berat badan,merokok, konsumsi alkohol, pemakaian hormon, riwayat keluarga, radiasi menyusui, periode menstruasi. Namun penyebab yang pasti kanker payudara belum diketahui dengan jelas. Sejumlah studi yang merperlihatkan bahwa deteksi dini kanker payudara yang diikuti dengan terapi dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih baik pada pasien. Setiap wanita beresiko mengalami kanker payudara. (Mawardi,2009:23). Wewenang bidan dalam penatalaksanaan pasien dengan kanker payudara hanya berbatas pada tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan KIE pada remaja putri dan wanita usia subur tentang SADARI, informasi tentang faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya kanker payudara (Sukaca,2008:54). Sedangkan di Jawa Tengah khususnya Kota Semarang terlihat pada tahun 2013 terdapat 1.205 kasus kanker payudara dan tahun 2014 terdapat 4.306 kasus kanker payudara. Pada tahun 2015 berjumlah 897 kasus kanker payudara yang terdiri dari kriteria remaja berumur 11 – 24 tahun ada 28 orang, sedangkan pada usia 25 – 44 tahun berjumlah 400 orang dan pada usia 45 tahun ke atas terdpat 451 orang yang menderita kanker payudara. Dari angka kejadian kanker payudara pada tahun 2013 ke 2014 melonjak drastis yaitu bertambah 3.101 kasus, sedangkan pada tahun 2015 penderita kanker payudara mengalami penurunan hampir 4 kali lipatnya atau 3.409 kasus kanker payudara. Walaupun kanker payudara jumlah penderitanya menurun namun usia wanita yang menderita kanker ini semakin muda hal ini dapat dikarenakan banyak faktor yang belum diketahui dengan pasti sebagai penyebab terjadinya kanker payudara ini (Dinkes XXXXX,2015). Efek dari jumlah paritas terhadap resiko kanker payudara telah lama diteliti. Dalam suatu studi metaanalisis, dilaporkan bahwa wanita primipara mempunyai resiko 30 % untuk berkembang menjadi kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang multipara (Imam,2009:57). Prasurvey yang dilakukan oleh peneliti di RSUD Kota Semarang pada tanggal 13 Januari 2010 didapat hasil bahwa pasien penderita kanker payudara pada tahun 2009-2010 berjumlah 25 orang, 15 diantaranya adalah primipara atau sebanyak 60 % pasien dengan kanker payudara yang pernah melahirkan 1 kali. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Paritas Dengan Kejadian Kanker Payudara Di RSUD Tahun 2014-2015” B. Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian ini adalah : “Apakah ada hubungan antara Paritas dengan kejadian kanker payudara diRSUD Tahun 2014-2015? ” C. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan Paritas dengan kejadian kanker payudara di RSUD pada Tahun 2014-2015 2. Tujuan khusus a. Mendistribusikan karakteristik responden yang mengeluh ada benjolan di payudaranya di RSUD Kota Semarang Tahun 2014-2015 b. Mengetahui distribusi frekuensi paritas pasien yang mengeluh ada benjolan di payudaranya di RSUD Kota Semarang Tahun 2014-2015 c. Mengetahui distribusi frekuensi kanker payudara pasien yang mengeluh ada benjolan di payudaranya diRSUD Kota Semarang tahun 2014-2015 d.Menganalisa hubungan Paritas dengan kejadian kanker payudara di RSUD Kota Semarang Tahun 2014-2015. D. Manfaat penelitian 1. Bagi Rumah Sakit Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan yang terkait dengan angka kejadian kanker untuk melakukan penyuluhan, pencegahan dan penanganan Kanker payudara 2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai tambahan bahan referensi bagi institusi pendidikan tentang kanker payudara dalam melaksanakan pengajaran pada institusi pendidikan. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Data hasil penelitian dapat dijadikan sumber penelitian lain yang terkait 4. Bagi Masyarakat Menambah pengetahuan dan memberikan informasi pada masyarakat mengenai kanker payudara sehingga dapat melakukan deteksi dini secara mandiri dengan melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). E. Keaslian Penelitian Tabel 1. NO Peneliti / publikasi Judul Hasil penelitian Gusrika Rambe/ perpustakaan Akbid ADILA Bandar Lampung Gambaran Kejadian Kanker Payudara Di RS Detasemen Kesehatan Wilayah 02.04.03 Bandar Lampung Tahun 2010 Umur >50 tahun :51,36% Sudah menikah :81,08% Berat badan >50kg :70,27% Multipara :78,38% Septi Ristiyana/ perpustakaan Akbid ADILA Bandar Lampung Gambaran Pengetahuan Siswi Kelas XII Tentang Kanker Payudara Di SMAN 6 Bandar Lampung Tahun 2009 Pengetahuan rendah : 60,04% Pengetahuan sedang : 20,06% Pengetahuan baik : 19,90% Perbedaan penelitian yang dahulu dengan sekarang : 1. Penelitian terdahulu hanya meneliti tentang gambaran kejadian penyebab kanker payudara, dan faktor-faktor nya adalah umur, status perkawinan, paritas, dan berat badan. Sedangkan penelitian ini meneliti tentang hubungan keduanya dan faktor yang diteliti adalah status paritas. 2. Pada penelitian terdahulu meneliti tentang gambaran pengetahuan yang mempengaruhi kejadian kanker payudara dan faktor yang diteliti adalah pengetahuan, dengan menggunakan data primer. Sedangkan pada penelitian ini faktor yang akan diteliti yaitu paritas dan menggunakan data sekunder. Selengkapnya...

SKRIPSI / KTI baru 2016 : PERSEPSI DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS

LENGKAP BAB 12345+DAFTAR PUSTAKA BUAT REFERENSI MURAH HUBUNGI:081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pemberian ASI eksklusif merupakan investasi terbaik bagi kesehatan dan kecerdasan anak (Depkes, 2007). Manfaat pemberian ASI eksklusif sesuai dengan salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs) yaitu mengurangi tingkat kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. WHO (2009) menyatakan sekitar 15% dari total kasus kematian anak di bawah usia lima tahun di negara berkembang disebabkan oleh pemberian ASI tidak Eksklusif. Berbagai masalah gizi kurang maupun gizi lebih juga timbul akibat dari pemberian makanan sebelum bayi berusia 6 bulan. Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya, upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif berfluktuasi selama 3 tahun terakhir. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2009 menjadi 24,3 % tahun 2010 dan naik lagi menjadi 34,3 % pada tahun 2011. Namun tahun 2013 mengalami penuruanan kembali menjadi 30,2%. Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 menunjukkan cakupan pemberian ASI Eksklusif sekitar 45,18% , kemudian 2012 meningkat menjadi 49,46 % dan di tahun 2013 mengalami peningkatan kembali menjadi 57,67%. Cakupan ASI Eksklusif di Jawa Tengah dari tahun 2011 – 2013 mengalami peningkatan terus menerus namun masih di dibawah target yaitu 80%. Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dan situasi lingkunganya. Dengan kata lain, tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh persepsinya. Jika persepsi suami tetang ASI Eksklusif baik maka suami akan memberikan dukungan yang seimbang kepada ibu sehingga program ASI Eksklusif dapat berjalan dengan lanjar. Banyaknya bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif di Indonesia di sebabkan oleh bebagai faktor, diantaranya dukungan dari berbagai pihak yang masih kurang, salah satunya dukungan suami. Keberhasilan ASI eksklusif akan lebih mudah bila dukungan dari suami turut berperan. Memnyusui memerlukan kondisi emosional yang stabil, mengingat factor psikologi ibu sangat mempengaruhi produksi ASI, suami dan istri harus saling memahami betapa pentingnya dukungan terhadap ibu yang sedang menyusui (Tasya,2008). Roesli (2007) juga mengatakan bahwa, masih popular pendapat yang mengatakan bahwa menyusui hanya urusan ibu saja, tidak ada kaitannya dengan ayah. Pendapat lain juga dikatakan oleh Paramita (2007) minimnya dukungan ayah dalam praktek pemberian ASI, akibat faktor kebiasaan budaya salah satunya karena secara kultural adanya fungsi dan pembagian peran, dimana ayah hanya berperan dan berkewajiban sebagai pencari nafkah dan urusan rumah tangga semuanya diurus oleh istri termasuk urusan menyusui. Menyusui sebenarnya bukan hanya sebuah proses antara ibu dan bayi saja tetapi ayahpun harus ikut terlibat. Pada saat bayi mulai mengisap putting ibu, maka akan terjadi dua reflex yang menyebabkan agar ASI bias keluar yaitu reflex produksi ASI/ reflex prolaktin dan reflex pengaliran ASI / letdown reflex / reflex oxytocin. Pada reflex oxytocin dan reflex prolaktin inilah peran suami diperlukan karena reflex ini sangat dipengaruhi oleh keadaan emosional atau perasaan ibu, kadar oxytocin pada setiap ibu berbeda, 75% pengaruh emosional yang tidak stabil bisa menghambat dan mempengaruhi jumlah pengeluaran ASI. Sehingga jelaslah bahwa kelancaran menyusui memerlukan kondisi kesetaraan antara suami dan istri tetapi kenyataannya hingga saat ini masih sangat sedikit keinginan suami untuk ikut berperan serta dalam perawatan anaknya termasuk mendukung aktivitas menyusui (Roesli,2008). Dukungan bisa di peroleh ibu dari tiga pihak, yaitu suami, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tetapi pengaruh dukungan yang paling besar adalah dukungan dari suami. Hal ini dikarenakan suami merupakan keluarga inti dan orang yang paling dekat dengan ibu, sehingga dukungan suami saat ini menjadi hal yang sangat perlu di lakukan. Cakupan ASI Eksklusif tahun 2012 , dari 19 Kecamatan di Grobogan, ternyata di Kecamatan XXXX tingkat pencapaian ASI Eksklusifnya adalah 46,4 %, sedangkan tahun 2013 kurang dari 60%. Angka ini jauh dari target 80 % cakupan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Fenomena ini diperkuat dengan hasil survey awal yang telah dilakukan pada bulan Februari 2014 berdasarkan data KIA yaitu kurang dari 472 ibu yang memberikan ASI esklusif dari 787 jumlah kelahiran. Tanggal 25 Mei 2014 dilakukan kembali survey di salah satu desa wilayah kerja Puskesmas XXXX , di dapatkan dari 10 ibu menyusui 6 ibu memberikan ASI Eksklusif dan 4 ibu tidak memberikan ASI Eksklusif dengan alasan 2 orang air susunya keluar sedikit, 1 orang putting susunya tidak menonjol dan 1 orang bekerja. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 6 ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif didapatkan data bahwa suami memberikan dukungan penuh secara emosional dan spiritual pada ibu untuk membangun kepercayaan ibu selama menyusui. Mendukung ibu dalam pengambilan keputusan untuk memberikan ASI Eksklusif serta berpartisipasi aktif membantu ibu selama menyusui. Hal ini ditunjukkan dengan cara membuatkan makanan, membantu pekerjaan ibu serta turut menjaga bayi saat ibu tidur. Hasil wawancara pada 4 ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif didapatkan data bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka memilki bayi pertama cenderung membuat mereka mendengarkan nasihat dari keluarga terdekat terutama pengalaman ibu mereka terdahulu saat menyususi. Ibu lebih menuruti perkataan orangtuanya dan mempercayai nasihat bahkan seringkali mitos negatif tentang menyusui. Tidak sedikit ibu yang baru menyusui berhenti memberikan ASI karena dipercaya ASI menjadikan anak diare dan tubuhnya menjadi bau amis. Seringkali ibu mendengar kata ‘ASI jahat’ karena ASI yang dihisap bayi baru lahir jika tidak segera dibersihkan mulut bayinya bisa menyebabkan kulit bayi menjadi bercak-bercak putih. Masih banyak pula ibu yang khawatir payudaranya akan berubah bentuk menjadi tidak menarik lagi jika memberikan ASI pada buah hati mereka. Kesalahpahaman ini yang menyebabkan pada akhirnya ibu memilih memberikan makanan selain ASI walaupun usia bayi belum genap 6 bulan. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Persepsi dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas .” B. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini adalah persepsi dukungan suami dalam pemberian ASI Eksklusif didalamnya mengeksplorasi pengetahuan suami tentang ASI Eksklusif (pengertian, manfaat, kandungan, cara memerah atau memompa ASI), bentuk dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif ( psikologi, sosial, informasi, lingkungan), hambatan yang dialami dan cara mengatasi hambatan tersebut. C. Rumusan Masalah Segmentasi penelitian yang akan dilakukan berfokus pada masalah “Bagaimana persepsi dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas ?” D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang persepsi dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas XXXX. 2. Tujuan Khusus a. Mengeksplorasi pengetahuan suami tentang ASI Eksklusif b. Mengeksplorasi bentuk dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas XXXX c. Mengeksplorasi hambatan dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas XXXX d. Mengeksplorasi upaya untuk mengatasi hambatan dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas XXXX. E. Manfaat Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat : 1. Bagi institusi pendidikan Penelitian ini bermanfaat sebagai referensi atau sebagai bahan pembelajaran baru diperpustakaan STIKES XXXX tentang persepsi dukungan suami dengan pemberian ASI Eksklusif. 2. Bagi Ibu Menyusui Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan informasi dan pembelajaran kepada keluarga tentang pentingnya dukungan suami sebagai salah satu faktor pendorong kepada ibu untuk tetap memberikan ASI saja kepada bayinya selama 6 bulan. 3. Bagi peneliti Penelitian ini bermanfaat sebagai penambah pengetahuan tentang persepsi dukungan suami terhadap pemberian ASI Eksklusif dan sebagai pengalaman dalam melakukan penelitian lebih baik untuk selanjutnya. F. Originalitas Penelitian Tabel 1.1 Originalitas Penelitian No Peneliti Judul Hasil Penelitian Perbedaan 1. Maulita, 2014 Pengaruh Dukungan Suami Dan Persepsi Ibu Terhadap Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Ada pengaruh dukungan suami terhadap perilaku pemberian ASI Eksklusif Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik. Sedangkan penelitian yang disusun sekarang adalah penelitian kualitatif 2. Ira Puspita Pratiwi, (2013) Hubungan Persepsi Dukungan Suami Dengan Pemberian ASI Eksklusif hipotesa alternative diterima atau terdapat hubungan antara persepsi dukungan suami dengan pemberian ASI Eksklusif. Penelitian ini adalah analitik Sedangkan penelitan yang disusun penulis sekarang bersifat kualitatif. 3. Dyan Wahyuningsih, (2012) Dukungan Suami Dalam Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Susukan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang Tidak ada hubungan antara karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan) ibu dan dukungan (informasional, penilaian, instrumental dan emosional ) suami dengan pemberian ASI Eksklusif. Penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Persepsi a. Pengertian Persepsi Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu obyek dan situasi lingkunganya, jadi tingkah laku seseorang terhadap suatu obyek dipengaruhi oleh persepsinya. “Persepsi adalah kesan seseorang terhadap obyek tertentu yang dipengaruhi faktor internal, yakni perilaku yang berada di bawah kendali pribadi dan faktor eksternal, yakni perilaku yang dipengaruhi oleh situasi di luarnya.” (Depdiknas, 2003). Sedangkan menurut Walgito (2002:69) “Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera namun proses itu tidak berhenti begitu saja melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi”. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu penilaian atau kesan seseorang terhadap suatu obyek yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Selengkapnya...

Selasa, 07 Juli 2015

KTI - SKRIPSI KEBIDANAN : HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BAYI DENGAN PELAKSANAAN PIJAT BAYI DI KELURAHAN

MURAH DAN LENGKAB Rp. 20.000 BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pijat bayi merupakan salah satu bentuk fisioterapi yang berpengaruh positif terhadap proses tumbuh kembang balita selain pemberian makanan tambahan (Roesli, 2001). Pengaruh positif pijat atau sentuhan pada proses tumbuh kembang bayi dan anak telah lama dikenal oleh manusia. Pijat bayi bisa dimulai setelah bayi dilahirkan, sudah barang tentu bayi yang masih merah ini tidak boleh dipijat seperti pada balita. Sentuhan dan pijatan pada bayi dilakukan dengan pelan dan lembut sehingga bayi merasa nyaman dan membuat nafsu makan menjadi besar (Gatot, 2005). Menurut Roesli (2001) dalam Prasetyono (2009) pijat bayi adalah terapi sentuh tertua yang dikenal manusia yang paling populer. Pijat bayi telah lama dilakukan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan diwariskan secara turun temurun. Sentuhan dan pijat pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Menurut Sari (2004) dalam Prasetyo (2009) di Indonesia pelaksanaan pijat bayi di masyarakat desa masih dipegang oleh dukun bayi. Selama ini pemijatan tidak hanya dilakukan bila bayi sehat, tetapi juga pada bayi sakit atau rewel dan sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir. Pijat bayi merupakan usaha yang positif untuk memperoleh kondisi optimal pada masa bayi tersebut karena merangsang semua kerja sistem sensorik dan motorik. Manfaat dari pijat bayi adalah dapat meningkatkan berat badan, meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi, membuat bayi tidur lebih lelap, membina ikatan kasih sayang antara ibu dan anak, dan meningkatkan produksi ASI. Pijat bayi sebagai salah satu bentuk bahasa sentuhan ternyata memiliki efek yang positif untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sentuhan bagi bayi merupakan sentuhan menyakitkan atau sentuhan negatif sehingga ia takut untuk disentuh. Padahal, sentuhan merupakan kebutuhan dasar manusia. Dengan demikian, sangat perlu memperkenalkan sentuhan yang positif, yaitu pijat bayi pada bayi sedini mungkin (Roesli, 2001). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para pakar telah membuktikan bahwa terapi sentuh dan pijat menghasilkan perubahan psikologi yang menguntungkan berupa peningkatan pertumbuhan, peningkatan daya tahan tubuh, dan kecerdasan emosi yang lebih baik (Roesli, 2001 dalam Prasetyo, 2009). Ilmu kesehatan modern telah membuktikan secara ilmiah bahwa terapi sentuh dan pijat pada bayi mempunyai banyak manfaat terutama bila dilakukan sendiri oleh orang tua bayi. (Dasuki, 2003, dalam Prasetyo, 2009). Namun Dalam ilmu kesehatan tentang pijat bayi ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat, dikarenakan masyarakat masih mempercayakan pijat bayi kepada dukun bayi dan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk melakukan pijat bayi pada tenaga kesehatan terutama bidan. Faktor lain yang menyebabkan masyarakat lebih memilih pijat bayi kepada dukun bayi adalah faktor adat istiadat yang masih dipegang teguh dan berkembang secara turun temurun. Serta, adanya keyakinan bahwa dukun bayi dianggap lebih mengerti dan mahir dalam melakukan pijat bayi yang sudah dipraktikkan sejak berabad-abad silam (Roesli, 2010). Di Indonesia pelaksanaan pijat bayi banyak dilakukan oleh masyarakah pedesaan yang masih dipegang peranannya oleh dukun bayi. Selama ini, pemijatan hanya dilakukan bila bayi sedang sakit, namun bayi sehat juga bisa dipijat karena sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir (Sari, 2004). Di masyarakat, dukun bayi masih memegang peranan penting dalam pemijatan bayi. Seperti halnya di Dukuh Cemetuk, Lorog, Tawangsari, Sukoharjo kebiasaan memijatkan bayi pada dukun bayi masih dilaksanakan oleh hampir semua orang tua yang memiliki bayi dan balita. Informasi dari desa tersebut, terdapat 35 bayi dari 103 Kepala Keluarga dan 4 orang dukun bayi yang belum mendapatkan pelatihan. Dari data tersebut, hampir semua bayi dan balita yang ada pernah mendapat pemijatan oleh dukun bayi. Pijat bayi dapat meningkatkan tumbuh kembang, hal ini didukung oleh penelitian Florentina dan Aldy (dalam Subakti dan Deri, 2008) yang menemukan bahwa pijat bayi mempersingkat masa tinggal bayi di rumah sakit (setelah dilahirkan) dengan pengurangan tiga hingga enam hari lebih cepat pulang dibandingkan dengan bayi-bayi tanpa pemijatan. Pijatan lembut pada tubuh bayi memberikan pengalaman positif yang luar biasa antara bayi dengan orangtuanya, meningkatkan fungsi motorik (memperkuat jalinan otot bayi yang mengalami down syndrome atau gangguan perkembangan mental). Menurut penelitian Field dan Scafidi (Roesli, 2008) menunjukkan bahwa pada 20 bayi prematur (berat badan 1.280 g dan 1.176 g), yang dipijat tiga kali sehari selama 15 menit dalam waktu 10 hari, terjadi kenaikan berat badan 20%-47% lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak dipijat. Penelitian Dasuki (2007) tentang pengaruh pijat bayi terhadap kenaikan berat badan bayi memperoleh hasil bahwa pada kelompok kontrol, kenaikan berat badan sebesar 6,16%, sedangkan pada kelompok yang dipijat kenaikan berat badan 9,44%. Berdasarkan survei pendahuluan yang peneliti lakukan di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx diperoleh hasil penelitian pendahuluan dengan mengajukan pertanyaan terbuka kepada 10 ibu balita, dari 10 ibu balita didapatkan fakta 5orang ibu balita mempunyai pengetahuan cukup tentang pijat bayi dan bersikap mendukung terhadap pelaksanaan pijat bayi, karena ibu balita merasakan manfaat nyata dari pelaksanaan pijat bayi tersebut, sedangkan 3 ibu balita mempunyai pengetahuan yang baik dan bersikap mendukung tentang pijat bayi. Sedangkan 2 ibu balita mempunyai pengetahuan kurang tentang pijat bayi dan tidak mendukung pelaksanaan pijat bayi dengan alasan bahwa bayinya masih terlalu kecil takut terjadi masalah yang serius dengan pijat bayi tersebut, disamping itu ibu bayi tersebut juga merasa tidak tega bila melihat bayinya menangis keras saat dipijat. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang peneliti uraikan sebelumnya maka rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BAYI DENGAN PELAKSANAAN PIJAT BAYI DI KELURAHAN Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pelaksanaan pijat bayi di Kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx tahun 2013. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan karakteristik ibu bayi yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. b. Mendeskripsikan pengetahuan ibu bayi tentang pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. c. Mendeskripsikan sikap ibu bayi tentang pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx d. Mendeskripsikan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx e. Menganalisis hubungan pengetahuan ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx. f. Menganalisis hubungan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi di kelurahan Sawah Besar Kaligawe Xxx Kota Xxx D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengetahuan dan sikap dengan pelaksanaan pijat bayi di wilayah Sawah Besar kelurahan Kaligawe Xxx . 2. Manfaat Praktis a. Bagi Praktik Kebidanan Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi kebidanan yang efektif untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan pelaksanaan pijat bayi. b. Bagi Pendidikan DIII Kebidanan Sebagai informasi bagi pendidikan kebidanan khususnya pada bayi bahwa ada hasil “evidence based” tentang salah satu intervensi kebidanan yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan pijat bayi. c. Bagi Penelitian Kebidanan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber data atau informasi bagi pengembangan penelitian kebidanan berikutnya terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan pijat bayi yang efektif. E. Keaslian Penelitian Hasil penelusuran penelitian, terdapat penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini, diantaranya : Tabel 1.1 keaslian penelitian No Nama Judul Variabel penelitian Hasil Perbedaan 1 Rini Astariningsih, (2007) Hubungan antara pijat bayi dengan tumbuh kembang pada anak usia 0 – 3 tahun di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal Variabel bebas pijat bayi variabel terikat tumbuh kembang anak 0 – 3 tahun Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan cross sectional dianalisis dengan rumus korelasi product moment (p. value) 0,006.. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pijat bayi dengan tumbuh kembang pada anak usia 0 -3 tahun di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal Variabel penelitian pijat bayi sebagai variabel bebas dan dalam penelitian ini menjadi variabel terikat 2 Nurul Indah Sari (2010) Efektifitas pijat bayi terhadap peningkatan berat badan bayi premature di RSUD Kota Xxx Variabel bebas : pijat bayi Variabel terikat : Peningkatan berat badan bayi Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji chisquare dengan α = 0,005. Hasil penelitian ini adalah ada hubungan antara pijat bayi dengan peningkatan berat badan bayi di RSUD Kota Xxx Variabel penelitian yang diteliti pijat bayi dan peningkatan BB sedangkan dalam penelitian ini variabel yang dipakai pengetahuan dan sikap ibu dalam pelaksanaan \pijat bayi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan ini terjadi melalui pengindraan manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005:39). b. Pentingnya pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakaan domaian yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang didasari pengetahuaan akan lama dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi prilaku baru dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni: 1) Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus. 2) Interest (tertarik),dimana orang mulai tertarik dengan stimulus. 3) Evaluation (mengevaluasi),menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik. 4) Trial (mencoba), dimana subyek milai mencoba melakukan sesuatudengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. 5) Adoption (penerimaan), subyek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapmya terhadap stimulus Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa mengadopsi prilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka prilaku tersebut akan bersifat lama, namun sebaliknya jika prilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,2003:121-122). c. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan mempunyai 6 tingkatan: 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2) Memahami (comprehention) Memahami artinya sebagai suatu komponen untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana menginterpretasikan secara benar. 3) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi sebenarnya (riil). 4) Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu obyekke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan kepada suatu komponen untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk yang baru. 6) Evaliasi (evaliation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu obyek (Wawan dan Dewi M, 2010:12-14). d. Cara Memperoleh Pengetahuan Cara memperoleh pengetahuan menurut (Notoatmodjo,2003:11) adalah sebagai berikut : 1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan a) Cara coba salah (trial and error) Cara coba salah ini dilakuakan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka akan dicoba dengan kemungkina lain. b) Cara kekuasaan atau otoritas Prinsip dari cara ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasar fakta empiris maupun penalaran sendiri. c) Berdasarkan pengalaman sendiri Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman ynag pernah diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. 2) Cara modern Cara baru atau cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini di sebut metode penelitian ilmiah (Notoatmodjo, 2005:18). Pengukuran pengetahuan dapat di lakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari obyek penelitian atau responden. Data yang bersifat kualitatif di gambarkan dengan kata-kata, sedangkan data yang bersifat kuantitatif berwujud angka-angka, hasil penghitungan atau pengukuran, dapat diproses dengan cara di jumlahkan, di bandingkan dengan jumlah yang di harapkan dan di peroleh prosentase, setelah di prosentasikan lalu di tafsirkan ke dalam kalimat yang bersifat kualitatif sebagai berikut (Arikunto,2006:344) 1) Kategori baik yaitu menjawab benar > 75% dari yang di harapkan. 2) Kategori cukup yaitu menjawab benar 60% - 75% dari yang di harapkan. 3) Kategori kurang yaitu menjawab benar < 60% dari yang di harapkan. e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Sukmadinata (2003:89) pengetahuan yang di miliki oleh seseorang di pengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : a. Faktor internal 1) Jasmani Faktor jasmani di antaranya adalah keadaan indra seseorang. 2) Rohani Faktor rohani di antaranya adalah kesehatan psikis, intelektual, psikomotor serta kondisi efektif dan kognitif individu. 3) Umur Mengingat seseorang salah satunya adalah dipengaruhi oleh umur. Bertambahnya umur seseorang dapat dipengaruhi pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan mengingaat pengetahuan akan semakin berkurang b. Faktor Eksternal 1) Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam member respon yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. 2) Paparan media massa Melalui berbagai media cetak maupun elektronik, berbagai informasi dapat di terima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa (Tv, radio, majalah, dan lain-lain) akan memperoleh informasi media ini, berarti paparan media massa mempunyai tingkat pengetahuan yang di miliki seseorang. 3) Ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder, keluarga dengan status ekonomi lebih baik mudah tercukupi di banding keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informasi yang termasuk kebutuhan sekunder. 4) Pengalaman Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal bisa di peroleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, missal sering mengikuti kegiatan yang mendidik, misalnya seminar. Organisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan tersebut informasi tentang satu hal dapat di peroleh. 5) Budaya Tingkah laku manusia atau sekelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputu sikap dan kepercayaan. 2. Sikap a. Pengertian Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi predisposisi tindakan suatu perilaku. (Notoatmodjo,2007:142) b. Komponen Sikap Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu : 1) Kognitif (cognitive). Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. Selengkapnya...

Senin, 06 Juli 2015

KTI DIV KEBIDANAN 2015 : HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH BIOSTATISTIK PADA MAHASISWA D IV KEBIDANAN STIKES

MURAH DAN LENGKAB UNTUK REFERENSI BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + OLAH DATA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Perkembangan yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan.Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-Undang RI nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi). Menurut Auliyawati (2008), pendidikan pada tiap tingkatan mempunyai tujuan agar mempersiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan dalam melanjutkan tingkat pendidikan ketingkat selanjutnya. Salah satu usaha untuk mewujudkan kemampuan mahasiswa tersebut adalah dengan penguasaan mereka terhadap setiap materi yang diberikan. Berkaitan dengan kegiatan belajar, motivasi sangat penting peranannya.Motivasi dikatakan penting tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga bagi pendidik, dosen, maupun karyawan sekolah, karyawan perusahaan (Prawira, 2012). Motivasi sebagai motor penggerak dalam diri seseorang atau kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan. Sedangkan motivasi belajar merupakan keseluruhan penggerak dalam diri anak yang mampu menimbulkan kesemangatan atau kegairahan dalam belajar. Mahasiswa yang tidak memiliki motivasi belajar tidak mungkin melakukan aktivitas belajar, dan perbuatan belajar akan terwujud apabila ada motivasi belajar dari dalam diri mahasiswa. Selain motivasi dari dalam diri mahasiswa, motivasi diluar diri mahasiswa juga perlu dibangkitkan oleh dosen dengan cara menginformasikan tujuan pembelajaran, memberi dorongan, memberi rangsangan, mengevaluasi dan umpan balik, selain itu juga mampu membangkitkan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuanmahasiswa terhadap materi yang telah diajarkan. Motivasi penting dalam menentukan seberapa banyak mahasiswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Mahasiswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga mahasiswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan.Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan (B. Uno,2011). Menurut Maslow (dalam Syaiful, 2008),Tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik.Kebutuhan-kebutuhan inilah yang mampu memotivasi tingkah laku individu.Seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi instrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar.mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan.Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi instrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar. Pengukuran keberhasilan belajar mahasiswa dapat ditentukan dengan mengukur ranah mahasiswa itu sendiri, baik dari ranah cipta, ranah rasa, ranah karsa, yang biasa dikenal dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.Prestasi belajar dapat ditunjukkan pada mahasiswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya, bila mahasiswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting dan bila mahasiswa melihat bahwa hasil dan pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya (Slameto, 2003). Menurut Wlodkowsky (dalam Sugihartono dkk, 2007), Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut.Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan.Adapun ciri-ciri mahasiswa yang termotivasi belajar untuk berprestasi antara lain tekun, ulet menghadapi kesulitan, menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja sendiri, cepat bosan dengan tugas, dapat mempertahankan pendapat, senang mencari dan memecahkan masalah. Biostatistik merupakan salah satu mata kuliah yang diajarkan pada mahasiswa DIV Kebidanan .Dari nilai yang didapatkan oleh seluruh mahasiswa DIV Kebidanan , biostatistik adalah mata kuliah yang mendapatkan peringkat tertinggi mahasiswa melakukan remedial dibandingkan beberapa mata kuliah lainnya.Hal ini dikarenakan terdapat hambatan-hambatan selama pembelajaran, salah satunya adalah motivasi mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut.Motivasi mahasiswa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti mahasiswa kesulitan dalam menangkap pemahaman tentang materi-materi yang diajarkan dosen, mahasiswa pada dasarnya tidak menyukai perhitungan, dan mahasiswa merasa malas untuk mengikuti perkuliahan. Berdasarkan dari hasil wawancara yang peneliti lakukan kepada 10 mahasiswa, 4 dari 10 (40%) mahasiswa mengatakan termotivasi dalam mengikuti perkuliahan biostatistik dengan alasan bahwa biostatistik merupakan mata perkuliahan yang menyenangkan karena dari awal mereka menyukai matematika dan mereka mudah menangkap materi yang diajarkan, dan 6 dari 10 (60%) mahasiswa mengatakan kurang termotivasi dalam mengikuti perkuliahan biostatistik dengan alasan mereka merasa kesulitan dalam mempelajari biostatistik dan diantaranya merasa malas.Dengan jumlah kehadiran saat perkuliahan dari masing-masing mahasiswa diatas 75% dari total kehadiran. Hasil prestasi belajar mahasiswa D IV Kebidanan pada mata kuliah biostatistik dengan jumlah total 84 mahasiswa yang mendapatkan nilai A sebanyak 6 mahasiswa, yang mendapatkan nilai B sebanyak13mahasiswa, dan yang mendapatkan nilai C sebanyak 65mahasiswa. Hasil ujian akhir semester I mata kuliah biostatistik yang telah dilakukan, mahasiswa dengan jumlah 65mahasiswa mengikuti perbaikan atau remedial dan dari mata kuliah yang lainnya biostatistik merupakan mata kuliah yang paling banyak mahasiswa yang mengikuti remedial. Berdasarkan uraian tersebut diatas, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH BIOSTATISTIK PADA MAHASISWA D IV KEBIDANAN STIKES.” B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKESNgudi Waluyo Ungaran”. C. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui adanya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKESNgudi Waluyo Ungaran. 2. Tujuan khusus a. Mendiskripsikan motivasi mahasiswa D IV Kebidanan STIKES terhadap mata kuliah biostatistik. b. Mendiskripsikan prestasi belajar mahasiswa D IV Kebidanan STIKES terhadap mata kuliah biostatistik. c. Menganalisa hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar mata kuliah biostatistik pada mahasiswa D IV Kebidanan STIKES. D. Manfaat penelitian 1. Bagi dosen Memberikan gambaran tentang motivasi mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah tersebut, sehingga dapat mengetahui permasalahan yang ada dan dapat memberikan solusi untuk mengatasinya, agar mahasiswa tertarik dengan cara mengajar dosen sehingga meningkatkan motivasi dalam mata kuliah tersebut yang akan berpengaruh pada prestasi belajar. 2. Bagi institusi pendidikan Memberikan masukan data sehingga dapat diketahui permasalahan yang ada mengenai motivasi belajar mahasiswa terhadap prestasi belajarnya, sehingga dapat ditemukan penyelesaiannya untuk memperbaiki pada angkatan mahasiswa berikutnya. 3. Bagi mahasiswa Memberikan gambaran pada mahasiswa tentang motivasi mahasiswa agar dapat lebih mempersiapkan diri dan meningkatkan minat dan motivasinya dalam mata kuliah tersebut, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar yang diperolehnya. 4. Bagi peneliti Mampu menyusun sebuah karya ilmiah dan menerapkan apa yang telah diperoleh di bangku kuliah dalam kehidupan nyata sehingga pemahaman materi kuliah akan semakin baik. 5. Bagi pembaca Memberikan gambaran secara umum mengenai motivasi mahasiswa terhadap prestasi belajar sehingga akan menambah wawasan dan pengetahuan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Belajar a. Definisi Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami mahasiswa, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungannya sendiri. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik (Syah, 2010). Slameto (2010), mengatakan belajar secara psikologi merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam segala aspek tingkah laku, sehingga dapat disimpulkan definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan sebagainya (Sardiman, 2011). Winkel (2004), merumuskan belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. b. Tujuan belajar Jika ditinjau secara umum, maka tujuan belajar terdiri atas tiga jenis, antara lain adalah 1) Untuk mendapatkan pengetahuan Hal ini ditandai dengan kemampuan berfikir. Pemikiran, pengetahuan dan kemampuan berfikir sebagai bagian yang tidak bida dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan ini lah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan belajar. Adapun jenis interaksi atau cara yang digunakan untuk kepentingan pada umumnya dengan model kuliah (presentasi), pemberian tugas-tugas sehingga dengan cara demikian diharapkan akan menambah pengetahuannya dan sekaligus akan mencarinya sendiri untuk mengembangkan cara berfikir dalam rangka memperkaya pengetahuan. 2) Perumusan konsep dan keterampilan Merumuskan konsep juga merupakan suatu keterampilan. Keterampilan memang dapat dididik, yaitu dengan banyak melatih kemampuan. Demikian juga mengungkapkan perasaan melalui bahasa tulis atau lisan, bukan soal kosa kata atau tata bahasa, semua memerlukan banyak latihan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian keterampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya menghafal atau meniru. Cara berinteraksi, misalnya dengan metode role playing. 3) Pembentukan sifat Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak didik, peran tenaga pendidik sangat penting. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berfikir dengan tidak lupa menggunakan pribadi tenaga pendidik sebagai contoh atau model (Sardiman, 2011). c. Prinsip belajar Prinsip belajar menurut teori Gastalk dalam psikologi belajar (Djamarah, 2008), yaitu : 1) Belajar berdasarkan keseluruhan 2) Belajar adalah suatu proses perkembangan 3) Anak didik sebagai organism 4) Terjadi transfer 5) Belajar harus dengan insight 6) Belajar adalah reorganisasi pengalaman Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009), prinsip belajar adalah 1) Perhatian dan motivasi 2) Keaktifan 3) Keterlibatan langsung atau pengalaman 4) Pengulangan belajar 5) Balikan dan penguatan belajar 6) Perbedaan individu dalam perilaku belajar d. Jenis-jenis belajar Slameto (2010), menerangkan jenis-jenis belajar antara lain : 1) Belajar bagian (part learning, fractioned learning) 2) Belajar dengan wawasan (learning by insight) 3) Belajar diskriminatif (discriminative learning) 4) Belajar global/keseluruhan (global whole learning) 5) Belajar incidental (incidental learning) 6) Belajar instrument (instrumental learning) 7) Belajar intensional (intentional learning) 8) Belajar laten (latent learning) 9) Belajar mental (mental learning) 10) Belajar produktif (productive learning) 11) Belajar verbal (verbal learning) e. Faktor yang mempengaruhi belajar Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku sehingga banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Syah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu : 1) Faktor yang berasal dari dalam individu a) Faktor fisiologis merupakan kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. b) Faktor psikologi merupakan faktor-faktor rohaniah individu yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi individu. 2) Faktor yang berasal dari luar invidu a) Faktor sosial Lingkungan sekolah seperti guru, staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar mahasiswa. b) Faktor non sosial Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar. 2. Prestasi Belajar a. Definisi Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana dinyatakan dalam bentuk nilai. Prestasi ini merupakan suatu keberhasilan dari mahasiswa atau kemampuan seseorang dalam melakukan kegiatan belajarnya. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar (Slameto, 2010). Winkel (2004) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Nasution (1996) prestasi adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Azwar (2006), mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai baha-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Hasil dari tes dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar mahasiswa. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Pengertian prestasi belajar menurut para ahli tidak selalu berputar pada aspek kecerdasan dan bakat, namun demikian tidak juga meninggalkan kedua aspek tersebut. kecerdasan dan bakat memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar namun tidak mutlak. Dalam beberapa kasus besarnya kecerdasan dan bakat tidak berbanding lurus dengan prestasi belajar karena prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak mahasiswa. Syah (2010), mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu sebagai berikut : 1) Faktor internal Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam individu itu sendiri, adapun yang tergolong kedalam faktor internal yaitu : a) Kecerdasan/intelegensi Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi, intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya, sehingga seseorang pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar. Kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seseorang mempunyai tingkat kecerdasan normal atau diatas normal maka secara potensial dapat mencapai prestasi yang tinggi. b) Bakat Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Dari pendapat tersebut jelas bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubung dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. c) Minat Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (2004), minat merupakan kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Berdasarkan pendapat tersebut, jelas bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau suatu kegiatan. Bahkan pelajaran yang mempengaruhi minat seseorang lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Minat belajar yang telah dimiliki seseorang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap suatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sesuatu sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya. Selengkapnya...

KTI DIV KEBIDANAN TERBARU : STUDI FENOMENOLOGIS PERSEPSI MAHASISWA D-IV KEBIDANAN PENDIDIK STIKES TENTANG S2 KEBIDANAN TAHUN 2015

LENGKAB BAB 12345+ DAFTAR PUSTAKA + OLAH DATA MURAH HUB : Nurul Hp. 081225300100

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Sejarah / perkembangan pelayanan pendidikan kebidanan setiap waktu mengalami perkembangan.Perkembangan pendidikan bidan berjalan seiring dengan perkembangan pelayanan kebidanan untuk menjawab tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan pelayanan kebidanan (Hidayat, 2009). Sekian lama bidan memberikan pelayanan pada masyarakat kini mulai mengarah pada bentuk studi lanjutan yang lebih professional dalammemberikandan mengarahkan pelayanan asuhan kebidanan (Dosen) yang disebut DIV Kebidanan / bidan pendidik. Program inimulaidibukatahun 2000 di Yogyakarta diikutiBandung, Semarang dsb. Dosenadalahpendidik professional danilmuwandengantugasutamamentransformasikanmengembangkandanmenyebarluaskanilmupengetahuan, teknologidansenimelaluipendidikan, penelitiandanpengabdiankepadamasyarakat (UU RI No 14,2005). Dosenterutama DIV pendidikdiharapkandapatmenumbuhkan rasa kompetetifbelajar, membinasikapsertaketrampilan professional pesertadidik.Dari pengertian di atassebagaiseorangdosendituntutmempunyaikompetensi, sertifikasidankualifikasi.MenurutUndang – UndangNomor 14 tahun 2005 tentang Guru danDosen (Pasal 46 ayat 2) danperaturanMenteriPendidikanNomor 42 Tahun 2007 tentangSertifikasiDosenmempertegashaltersebut. Undang – Undang guru dandosen No 14 Tahun 2005 menetapkankualifikasidosenkhususnyauntuk program D-III harus S2 dibidangnya. DilainpihakSuratKepmendiknas No. 234/U/2000 tentangpendidikanperguruantinggi, memberikanarahbahwadosentetappadaperguruantinggi yang barudidirikanuntuksetiap program studisekurang-kurangnya 6 (enam) orang denganlatarbelakangpendidikan yang sama/sesuaidengan program studi yang diselenggarakandandengankualifikasi yang memenuhisyarat. Kondisisaatinipendidikanbidan di Indonesiabarusampaijenjang D-III, sehinggauntukmemenuhikebutuhandosen D-III belumdapatmemenuhikebutuhankriteriaseperti yang dipersyaratkandalamundang – undang no 14 tahun 2005 tentang guru dandosen.Berdasarkanperaturanperundangantersebut, makadosenharusmemiliki strata pendidikan minimal satutingkatlebihtinggidariparamahasiswa yang diajarnya, dengandemikiandosen program diploma atausarjanawajibmemilikikualifikasiakademik minimum Magister, sedangkandosen program pascasarjanawajibmemilikikualifikasiakademikDoktor.Berkaitandengankualifiakasiakademikundang – undangtersebutmenegaskanbahwakualifikasiakademikdosendiperolehmelaluipendidikantinggi program pascasarjana yang terakreditasisesuaidenganbidangkeahlian. Dengandemikianperguruantinggi yang dipilihsebagaitempatpendidikanlanjutanjugaharusterakreditasidanbidang yang dipilihjugaharus linier dengankeahlian.Untukmenjabatjabatanfungsionaltenagapengajar (Dosen) disyaratkanpendidikandengandisiplinilmu yang linier antarajenjang S-1 ke S-2 teruske S-3 (Muchdi,2010). Denganmelihat UU tersebutmakamulaiadaperkembangan/fenomenabarudalampendidikankebidanandengan di buka Program Studi Magister Kebidanan.Melihat Program Studi Magister Kebidananmemberikankesempatankepadapeserta program sehinggalulusanmenguasaikemampuandalammelaksanakanpekerjaan yang kompleksdengandasarpelayanankebidanan yang professional, termasukketrampilanmerencanakan, melaksanakankegiatan, memecahkanmasalahdengantanggungjawab yang mandiripadatingkattertentu, memilikiketrampilandalampenelitiandanmanajerialsertamampumengikutiperkembanganpengetahuandanteknologi di dalambidangkeahliannya (Bidan Shop,2008) Menurutpendiri S2 Kebidanan di Indonesia, standartprofesikebidananmenggariskanbahwaperan, fungsidankompentesibidanharusmeliputi :peransebagaipelaksana, sebagaipengelola, sebagaipendidikdansebagaipeneliti. Di lapangan ,perandanfungsitersebutmasihbelumdapatdilaksanakansesuai harapan. Sampaisaatinibidanmasihlebihbanyakmenjalankanperandanfungsisebagaipengelola, pendidikdanapalagisebagaipeneliti, untukdapatmenjalankanperandanfungsibidanpendidiksebagaipengelola, pendidikdanpenelitisangatdiperlukanjenjangpendidikan yang memadai.Ditinjaudarikebutuhannyadalampengelolaanpelayanankepadamasyarakat.DepKes RI sampaitahun 2010 membutuhkan 379 orang tenagamanajerialsetingkat Magister. Di sisilainparabidanberkeinginanuntukmelanjutkanstudinyake S2. Sebelumadaprogram magister kebidanan, program DIV kebidananpendidikdirasasudahcukupsehinggabanyakmotivasipositifdanmotivasidarimahasiswa D-III kebidananuntukmelanjutkan D-IV kebidananpendidik.Namunsekarangdenganmelihatperkembanganpendidikankebidanan yang sudahterdapat program S2 makasecaratidaklangsungkualifikasisangatperlu di jalankan, walaupunbanyak DIV pendidik yang belummengetahuiadanya S2 kebidanan di Indonesia. Berdasarkanstudipendahuluan yang telahdilakukandi STIKES xxxxxxx, diperoleh data darihasilwawancarapada 10 mahasiswa DIV pendidikbahwa 6 dari10 mahasiswabelummengetahuisecarajelasinformasitentang S2 kebidanan. Motivasiberagam yang didapatcenderungmahasiswalebihmengetahuitentangstudilanjutanlaindibanding S2 kebidanan, karenakebanyakandarimerekakurangtertarikataupunkurangmempunyaiminatterhadap S2 kebidanankarenadianggapmasihjarang. S2 Kebidananmasihterdengarsedikitasingwalaupunterkadangmenjadibahanpembicaraannamunternyatahanyasebutannama, informasimengenaitempatpendidikanyang didapatkanbelumbegitujelasdanperaturanperundangantentangkualifikasiakademikdosen yang disyaratkanpendidikandisiplinilmu yang linier. Darifenomenatersebutdapatdiketahuibagaimanamotivasimahasiswa DIV BidanPendidik STIKES xxxxx tentang S2 kebidanan, denganharapanhasilpenelitianinidapatdigunakansebagaipenambahpengetahuandanwawasanmahasiswa DIV BidanPendidik STIKES KaryaHusada Semarang tentangpendidikan S2 Kebidanan. B. PerumusanMasalah Berdasarkanuraianlatarbelakang di atas, makapermasalahan yang adaditelitidandirumuskandalampenelitianiniadalah :Bagaimanakahpersepsimahasiswa DIV bidanpendidik STIKES xxxxxxxxxx tentang S2 Kebidanan. C. TujuanPenelitian 1. TujuanUmum Penelitianinibertujuanuntukmengeksplorasi secara mendalam tentang gambaranpersepsimahasiswa DIV bidanpendidik STIKES xxxxxxxxxxx tentang S2 Kebidanan. 2. TujuanKhusus a. Menjelaskan /eksplanasipersepsimahasiswa D-IV Kebidananpendidiktentang studi S2 Kebidanan b. Mengeksplorasipersepsimahasiswa D-IV Kebidananpendidiktentangtujuan program studi S2 Kebidanan. c. Menjelaskan / eksplanasipersepsitentangpentingnya S2 Kebidananbagipengembanganprofesi. D. ManfaatPenelitian 1. BagiMahasiswa D-IV Kebidanan Memberikangambarantentang S2 Kebidanan, sehinggaMahasiswa DIV Bidanpendidikdapatmelanjutkanstudi S2 Kebidanansebagaikualifikasipendidikandosen. 2. Bagi Profesi ( Bidan ) Memberikan gambaran tentang studi S2 Kebidanan, diharapkan tenaga kesehatan (bidan), yang telah menempuh jenjang DIV / S1 agar melanjutkan kembali studi S2 Kebidanan untuk bisa memenuhi kualifikasi pendidikan. 3. BagiPeneliti Memberikanpengalamannyatadalammelaksanakanpenelitiansederhanasecarailmiahdalamrangkamengembangkandiridanmelaksanakanfungsibidansebagaipeneliti. 4. BagiInstansiPendidikanKesehatan Memberikangambarantentangstudi S2 Kebidanan, sehinggainstansikesehatandiharapkanmengirimkantenagakesehatan (bidan), yang telahmenempuhjenjang DIV / S1 agar melanjutkankembalistudi S2 Kebidananuntukbisamemenuhikualifikasipendidikan. 5. Peneliti lain Diharapakandenganadanya S2 Kebidanan di Indonesia, peneliti lain dapatmelanjutkanpenelitianinidenganmemenuhidanmemperbaikikekurangan yang adadalamisipenelitian Selengkapnya...