Minggu, 05 Februari 2017

SKRIPSI KBIDANAN KEPERAWATAN 2017 : PERSEPSI IBU YANG MEMBERIKAN SUSU FORMULA PADA BAYI USIA SATU BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

LENGKAP BAB 12345+DAFTAR PUSTAKA HUB : HP/WA 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan di suatu negara. Bayi usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga diistilahkan periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mencakup faktor genetik dan eksternal. Faktor genetik atau keturunan berperan pada masa konsepsi (pembentukan janin). Faktor genetik ini bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan dan menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, status fisik dan ras. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu antara lain keluarga, agama, iklim, budaya, komunitas, nutrisi ( Soetjiningsih, 1995; h.6 ) Gizi (nutrition) adalah suatu proses organis menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi. Pemberian nutrisi pada anak harus sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadahi kepada ibu hamil. Bayi menerima makanan dari plasenta selama ibu hamil, setelah lahir makanan bayi hanya didapat dari ibu yaitu Air Susu Ibu (Almatsier. 2009; h.243) Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun bayinya. Bagi bayi, menyusu mempunyai peran penting yang fundamental pada kelangsungan hidup bayi, kolostrum yang kaya zat antibodi, pertumbuhan yang baik, kesehatan dan gizi bayi. Kolostrum merupakan air susu ibu yang keluar pada hari-hari pertama yang berwarna bening atau kekuning-kuningan. Pemberian kolostrum merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kekebalan bayi baru lahir dan mematangkan usus bayi. Namun masyarakat masih ada persepsi dan perilaku yang kurang tepat terhadap kolostrum karena dianggap kotor, basi atau tidak baik untuk bayi (Wirakusumah, 2011; h.50) Di Indonesia, walaupun anjuran untuk ASI eksklusif sampai 6 bulan sudah merupakan program nasional dengan SK MENKES 2004, tetapi berdasarkan data yang diperoleh dari Sistem Survelens Gizi Nasional tahun 2005 ternyata hanya 27-40% bayi berusia kurang dari 2 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, 4-8% bayi-bayi di Indonesia berusia 4-5 bulan yangf mendapatkan ASI eksklusif dan hanya 1% yang diberi ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Di Indonesia, 8% dari bayi yang baru lahir mendapat ASI dalam satu jam pertama setelah dilahirkan dan lebih dari separuh (53%) diberi ASI dalam satu hari pertama. Konsumsi susu formula tampaknya sangat erat berhubungannya dengan tempat melahirkan. Diantara ibu-ibu yang melahirkan dirumah, tidak lebih dari 90% menerima atau membeli sampel susu formula atau menerima informasi mengenai susu formula. Sedangkan ibu-ibu yang melahirkan dirumah bidan, klinik bersalin atau rumah sakit di perkotaan (78%) hampir sepertiganya menerima sampel gratis susus formula, seperempat membeli sampel dan 6% - 8% hanya menerima informasi. Di pedesaan 35% ibu-ibu melahirkan pada fasilitas-fasilitas seperti di atas dan hanya 10% menerima sampel gratis, 25% membeli sampel dan 10% menerima informasi mengenai susu formula. Sedangkan ibu-ibu yang melahirkan di puskesmas ( 11% di perkotaan dan 4% di pedesaan) proporsinya lebih rendah. Cakupan ASI eksklusif berdasarkan data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal tahun 2012 sebesar 68% sedangkan tahun 2013 tercatat sebesar 72%. Dari data Riskesda tahun 2013 cakupan ASI eksklusif 50,3% memberikan ASI Eksklusif pada bayi baru lahir dengan waktu 1-6 jam, sedangkan 49,7% ibu yang memberikan susu formula pada bayi baru lahir. Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dan situasi lingkunganya. Dengan kata lain, tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh persepsinya. Jika persepsi ibu tentang ASI Eksklusif baik maka ibu akan memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya, bukan malah memberikan susu formula (Depdiknas, 2003). Di Puskesmas Kendal I bayi yang diberikan ASI eksklusif tahun 2012 sekitar 48% atau 152 dari 315 bayi, sedangkan tahun 2013 hanya 121 dari 287 bayi atau sekitar 42%, dan sisanya diberi susu formula. Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah kerja Puskesmas kendal I jumlah bayi yang diberikan susu formula lebih banyak daripada yang diberikan ASI eksklusif. Survey pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 orang balita di Desa Sijeruk Kecamatan Kendal Kabupaten Kendal, yang masuk dalam wilayah kerja puskesmas Kendal I, ditemukan 6 orang bayi usia satu bulan yang diberi susu formula. Sedangkan 4 orang bayi lainnya diberi ASI. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 4 orang ibu yang memberikan susu formula, didapatkan data bahwa ibu tersebut kurang memahami akan manfaat ASI bagi bayi mereka. Selain itu beberapa faktor yang mendorong ibu untuk memberikan susu formula antara lain: rendahnya tingkat pendidikan ibu, ibu bekerja diluar rumah dan tidak memungkinkan untuk memberikan ASI eksklusif, tingkat sosial ekonomi ibu tinggi, meniru teman, takut kehilangan daya tarik sebagai wanita, masalah kesehatan yang tidak memungkinkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayi mereka serta peran petugas kesehatan yang kurang dalam sosialisasi ASI eksklusif. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Persepsi ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I” B. Fokus Penelitian Fokus penelitian dalam pnelitian ini adalah persepsi ibu yang memberikan susu formula, di dalamnya mengeksplorasi pemberian susu formula serta persepsi ibu terhadap pemberian susu formula. C. Rumusan Masalah Segmentasi penelitian yang akan dilakukan berfokus pada masalah: “ Bagaimana persepsi ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I? “ D. Tujuan 1. Tujuan Umun Untuk mengetahui persepsi ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I. 2. Tujuan Khusus a. Mengeksplorasi pengetahuan ibu tentang susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I b. Mengeksplorasi alasan ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I c. Mengeksplorasi peran bidan terhadap ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di perkuliahan sehubungan dengan penelitian yang dilakukan khususnya tentang persepsi ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Kendal I 2. Bagi Pengguna a. Bagi Instansi Pendidikan Sebagai informasi dan bahan pustaka bagi pembaca di perpustakaan yang digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan b. Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini dapat menambah khasanah keilmuan bagi penelitian selanjutnya c. Bagi Masyarakat Dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat mengenai baik buruknya susu formula F. Originalitas Penelitian Tabel 1.1 Originalitas Penelitian No Peneliti Judul Hasil Penelitian Perbedaan 1 Ulfah, 2012 Gambaran Karakteristik Ibu yang Memberikan Susu formula pada Bayi Usia 0-6 bulan Dari hasil penelitian rata-rata ibu berusia muda dan tidak bekerja. Perlu adanya dukungan dari keluarga dalam memberikan ASI eksklusif Penelitian ini bersifat deskriptif Sedangkan penelitian yang disusun penulis sekarang bersifat kualitatif 2 Isra Mawadah, 2012 Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan Dari hasil penelitian rata-rata ibu berpengetahuan baik dan dan bekerja. Perlu ada informasi dari tenaga kesehatan untuk mempromosikan ASI Penelitian ini bersifat deskriptif Sedangkan penelitian yang disusun penulis sekarang bersifat kualitatif BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Persepsi a. Pengertian Persepsi Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dan situasi lingkunganya. Dengan kata lain, tingkah laku seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh persepsinya. “Persepsi adalah kesan seseorang terhadap objek persepsi tertentu yang dipengaruhi faktor internal, yakni perilaku yang berada di bawah kendali pribadi dan faktor eksternal, yakni perilaku yang dipengaruhi oleh situasi di luarnya.”(Depdiknas, 2003). Sedangkan menurut Walgito (2002; h.69) “Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera namun proses itu tidak berhenti begitu saja melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi”. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu penilaian atau kesan seseorang terhadap suatu objek yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Seseorang belum tentu mempunyai persepsi yang sama tentang suatu obyek yang sama. Perbedaan ini ditentukan bukan hanya pada stimulusnya sendiri, tetapi juga pada latar belakang keadaan stimulus itu (Mahmud 1990; h.41).Latar belakang yang dimaksud mencakup pengalaman-pengalaman sensoris, perasaan saat terjadinya suatu peristiwa, prasangka, keinginan, sikap, dan tujuan. Arikunto dalam Ali (2004; h.19), menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi faktor-faktor yaitu : 1) Ciri khas objek stimulus yang memberikan nilai bagi orang yang mempersiapkannya dan seberapa jauh objek tertentu dapat menyenangkan bagi seseorang 2) Faktor-faktor pribadi termasuk di dalamnya ciri khas individu, seperti taraf kecerdasan, minat, emosional dan lain sebagainya. 3) Faktor pengaruh kelompok, artinya respon orang lain di lingkungannya dapat memberikan arah kesuatu tingkah laku 4) Faktor perbedaan latar belakang tingkah laku kultural (kebiasaan) Sedangkan menurut Walgito (2002; h.70), faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan adanya beberapa faktor, yaitu : 1) Obyek yang dipersiapkan Obyek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor.Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersiapkannya tetapi juga dapat datang dari dalam individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf yang bekerja sebagai reseptor. 2) Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran 3) Perhatian Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi.Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukkan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.Banyak faktor yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yaitu faktor internal yang berasal dari diri sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari objek yang diperhatikan. Menurut Notoatmodjo (2005; h.54), ada banyak faktor yang akan menyebabkan stimulus masuk dalam rentang perhatian seseorang. Faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada objeknya, sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan stimulus tersebut. 1) Faktor Eksternal a) Kontras Cara termudah dalam menarik perhatian adalah dengan membuat kontras baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan. b) Perubahan Intensitas Suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya yang berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang. c) Pengulangan (repetition) Dengan pengulangan, walaupun pada mulanya stimulus tersebut tidak termasuk dalam rentang perhatian kita, maka akan mendapat perhatian kita. d) Sesuatu yang baru (novelty) Suatu stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian kita daripada sesuatu yang telah kita ketahui. e) Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak Suatu stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik perhatian seseorang. 2) Faktor Internal a) Pengalaman atau pengetahuan Pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang kita peroleh.Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkanterjadinya perbedaan interpretasi. b) Harapan (expectation) Harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap stimulus. c) Kebutuhan Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan stimulus secaraberbeda. Misalnya seseorang yang mendapatkan undian sebesar 25 juta akan merasa banyak sekali jika ia hanya ingin membeli sepeda motor, tetapi ia akanmerasa sangat sedikit ketika ia ingin membeli rumah. d) Motivasi Motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang termotivasiuntuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok sebagai sesuatuyang negatif. e) Emosi Emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yangada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikansemuanya serba indah. f) Budaya Seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan menginterpretasikanorang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akanmempersepsikan orang-orang di luar kelompoknya sebagai sama saja. c. Proses Pembentukan Persepsi Proses pembentukan persepsi disini merupakan hal yang harus dibahas dalam penelitian, karena merupakan langkah pertama untuk menentukan persepsi. Adapun proses pembentukan persepsi menurut Walgito (2002; h.71) diuraikan sebagai berikut: Objek menimbulkan stimulus dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor, perlu dikemukakan antara objek dan stimulus itu menjadi satu misalnya dalam hal tekanan. Benda sebagai objek langsung mengenai kulit sehingga akan terasa tekanan tersebut. Proses stimulus mengenai alat indera ditreuskan oleh syaraf sensoris ke otak proses ini disebut sebagai proses psiologis. Kemudian terjadilah proses diotak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat dan apa yang didengar atau apa yang diraba. Proses yang terjadi diotak atau dalam pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologis. Dengan demikian dapat dikemukakan terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari tentang misalnya : apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang diraba yaitu stimulus yang ditrima oleh alat indera, proses ini merupakan proses terakhir dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembentukan suatu persepsi melewati beberapa proses seperti penglihatan, pendengaran dan perabaan melalui alat indera terhadap objek yang dijadikan perhatian. 2. ASI Esklusif a. Pengertian ASI Esklusif ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai umur 6 bulan, selama itu bayi tidak diharapkan mendapatkan tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, air teh, madu, dan air putih. Bayi juga tidak diberikan makanan tambahan seperti pisang, biskuit, bubur susu, bubur nasi, nasi tim dan sebagainya. ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan, tanpa menambahkan dan / atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. (Peraturan Pemerintah RI Nomor 33, Bab I, Pasal 1, 2012; h. 2). ASI Eksklusif berarti tidak memberi makanan atau minuman lain termasuk air putih selama 6 bulan kecuali obat – obatan dan vitamin, ASI perah juga diperbolehan .(Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 2007; h. 10).Selain memenuhi segala kebutuhan makanan bayi baik gizi, imunologi, atau lainnya, pemberian ASI juga memberikan kesempatan bagi ibu untuk mencurahkan cinta kasih serta perlindungan kepada anaknya. b. Komposisi ASI 1) Karbohidrat Komponen karbohidrat dalam ASI kaya laktosa, yang menyediakan sekitar 40% kebutuhan kalori untuk bayi.Laktosa diubah menjadi galaktosa dan glukosa oleh enzim laktase, dan gula ini memberikan energi untuk pertumbuhan otak yang sangat cepat. 2) Lemak Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak.Sekitar 50% kalori ASI berasal dari lemak.Kadar lemak dalam ASI antara 3.5 – 4.5%. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzimlipase. 3) Vitamin Semua vitamin yang dibutuhkan untuk gizi dan kesehatan yang baik disuplai oleh ASI, dan meskipun jumlah yang ada beragam dari ibu yang satu dengan ibu lainnya, tidak ada variasi normal yang menimbulkan risiko pada bayi. 4) Protein Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI sebesar 0.9%, 60% diantaranya adalah whey, yang lebih mudah dicerna dibanding kasein (protein utama susu sapi).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar