Kamis, 29 Oktober 2009

DEPO MEDROXYPROGESTERON ASETAT (DMPA)

a) Definisi
Kontrasepsi suntik yang hanya berisi hormon progesterone dan tidak mengandung estrogen. Daya kerja kontrasepsi DMPA adalah 150 mg setiap 3 bulan dan merupakan dosis yang tinggi. Setelah suntikan 150 mg DMPA, ovulasi tidak akan terjadi untuk minimal 14 minggu. Depo Medroxyprogesteron Asetat (DMPA) diberikan dengan cara disuntikkan secara intra muskuler (Hartanto, 2003).
b) Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja pada pemakaian DMPA yaitu mencegah ovulasi dengan cara lendir serviks menjadi kental dan sedikit sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa, membuat endometrium menjadi kurang baik atau layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi dan mungkin mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopii (Hartanto, 2003).
c) Indikasi dan Kontra Indikasi
Indikasi dalam pemakaian suntik DMPA diantaranya adalah menginginkan penjarangan kehamilan untuk paling sedikitnya satu tahun, kontrasepsi kerja lama yang sangat efektif dan tidak terkait dengan sanggama, menyusui, penyakit sel sabit atau thalasemia dan gangguan kejang. Adapun kontra indikasi dalam pemakaian suntik DMPA yaitu kehamilan, perdarahan, penyakit hati, kanker payudara, penyakit kardiovaskuler yang berat, menginginkan kembalinya kesuburan dengan cepat dan depresi berat (Speroff & Philip, 2005).
d) Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan dari suntik DMPA yaitu sangat efektif (99,6%), tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, tidak dibutuhkan pemeriksaan awal, tidak mempengaruhi produksi ASI, dapat digunakan oleh wanita tua ( di atas 35 tahun), mencegah kehamilan ektopik, dapat digunakan untuk jangka panjang dan sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi tetapi belum bersedia untuk mengikuti sterilisasi (Depkes RI, 2009).
Kerugian suntik DMPA yaitu terlambatnya pemulihan kesuburan setelah berhenti pemakaian, tidak dapat dihentikan sewaktu – waktu sebelum suntikan berikutnya, tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular seksual dan hepatitis B atau infeksi HIV (Depkes RI, 2001).
Angka kegagalan yang pernah dilaporkan di berbagai komunitas yang memakai suntik DMPA yaitu di bawah 0,5 per 100 wanita (Glasier, 2006).

e) Tanda – tanda yang harus diwaspadai
Tanda – tanda yang harus diwaspadai dalam pemakaian DMPA adalah perdarahan berat yang dua kali lebih panjang dari masa haid atau dua kali lebih banyak dalam satu periode masa haid, sakit kepala yang berulang dan berat atau kaburnya penglihatan, nyeri abdomen sebelah bawah yang berat dan buang air kecil yang berulang kali (Depkes RI, 2001). Abses atau perdarahan tempat injeksi dan kanker merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada akseptor KB suntik DMPA (Varney, 2007).
f) Waktu Pemberian Suntikan DMPA
Waktu pemberian suntik DMPA dibagi menjadi empat, yaitu setelah menstruasi dalam lima hari atau setiap waktu selama siklus wanita, setelah aborsi dalam waktu lima hari setelah dilakukan aborsi, setelah melahirkan (tidak menyusui) dilakukan setelah melahirkan atau tiga minggu pasca partum kecuali pada wanita yang memiliki riwayat pasca partum, setelah melahirkan (menyusui) dilakukan segera atau setelah melahirkan atau enam minggu pasca persalinan (Varney, 2007).


g) Efek Samping
Efek samping suntik DMPA adalah sebagai berikut :
(1) Gangguan Haid
Gejala dan keluhan dalam gangguan pola haid yaitu Amenorrea adalah tidak datangnya haid selama akseptor mengikuti suntikan KB selama tiga bulan bertutut – turut, Spotting adalah bercak – bercak perdarahan di luar haid yang terjadi selama akseptor mengikuti KB suntik, Metroraghia adalah perdarahan yang berlebihan di luar siklus haid, Menorraghia adalah datangnya darah haid yang berlebihan jumlahnya tetapi masih dalam siklus haid (Suratun, 2008).
Gangguan pola haid amenorrea disebabkan karena terjadinya atrofi endometrium yaitu kadar estrogen turun dan progesteron meningkat sehingga tidak menimbulkan efek yang berlekuk – lekuk di endometrium (Wiknjosastro, 2005), gangguan pola haid spotting disebabkan karena menurunnya hormon estrogen dan kelainan atau terjadinya gangguan hormon (Hartanto, 2003), gangguan pola haid metroraghia disebabkan oleh kadar hormon estrogen dan progesteron yang tidak sesuai dengan kondisi dinding uterus (endometrium) untuk mengatur volume darah menstruasi dan dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genetalia atau kelainan fungsional (Depkes RI, 1999), gangguan pola haid menorragia disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron sehingga menimbulkan endometrium menghasilkan volume yang lebih banyak (Depkes RI, 1999).
Penanggulangan dalam gangguan pola haid dapat dilakukan dengan cara :
(a) Pelayanan Konseling
Memberikan penjelasan kepada calon akseptor suntik bahwa pemakaian suntikan dapat menyebabkan gejala – gejala di atas. Biasanya gejala – gejala perdarahan tidak berlangsung lama.
(b) Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat estrogen misalnya Lynoral 2X1 sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah perdarahan berhenti, dapat dilakukan ”tapering off” (1X1 tablet) selama beberapa hari (Suratun, 2008).
(2) Perubahan Berat Badan (BB)
Gejala dan keluhan dalam perubahan BB yaitu BB bertambah dengan kenaikan rata-rata untuk setiap tahun antara 2,3 – 2,9 Kg. BB berkurang dengan penurunan rata-rata setiap tahun antara 1,6 – 1,9 Kg (Depkes, 1999).
Perubahan BB kemungkinan disebabkan karena hormon progesteron mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak, sehingga lemak banyak yang bertumpuk di bawah kulit dan bukan merupakan karena retensi (penimbunan) cairan tubuh, selain itu juga DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang dapat menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Akibatnya pemakaian suntikan dapat menyebabkan berat badan bertambah (Hanafi, 2003).
Penanggulangan dalam mengatasi perubahan BB yaitu dengan cara :
(a) Jelaskan pada akseptor suntik bahwa kenaikan dan penurunan berat badan adalah salah satu efek samping dari pemakaian suntikan, akan tetapi tidak selalu perubahan berat badan tersebut diakibatkan dari pemakaian suntik KB. Kenaikan dapat disebabkan oleh hal – hal lain, namun dapat pula terjadi penurunan berat badan. Hal inipun tidak selalu disebabkan oleh suntik KB.
(b) Pengaturan diet merupakan pilihan yang utama. Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori disertai olahraga teratur dan sebagainya. Bila terlalu kurus dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila berhasil dianjurkan untuk ganti cara ke kontrasepsi non hormonal (Suratun, 2008).
(3) Sakit kepala
Gejala dan keluhan dalam sakit kepala yaitu rasa berputar atau sakit di kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi atau kedua sisi atau seluruh bagian kepala. Biasanya bersifat sementara.
Pusing dan sakit kepala disebabkan karena reaksi tubuh terhadap progestreon sehingga hormon estrogen fluktuatif (mengalami penekanan) dan progesteron dapat mengikat air sehingga sel – sel di dalam tubuh mengalami perubahan sehingga terjadi penekanan pada syaraf otak ( Depkes, 1999).
Penanggulangan yang dilakukan dalam menghadapi sakit kepala yaitu :
(a) Jelaskan secara jujur kepada calon akseptor bahwa kemungkinan tersebut mungkin ada, tetapi jarang terjadi dan biasanya bersifat sementara.
(b) Pemberian anti prostaglandin atau obat mengurangi keluhan, misalnya asetosal 500mg 3 X 1 tablet/hari atau paracetamol 3 X 1 tablet/hari (Suratun, 2008).


(4) Keputihan
Gejala dan keluhan dalam keputihan yaitu adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari liang sanggama dan terasa mengganggu. Keputihan disebabkan karena adanya infeksi, jamur atau kandida (Suratun, 2008).
Penanggulangan yang dilakukan dalam menghadapi keputihan, yaitu :
(a) Jelaskanlah bahwa peserta suntik jarang terjadi keputihan. Apabila hal ini terjadi juga harus dicari penyebabnya dan diberikan pengobatannya. Konseling sebaiknya dilakukan sebelum peserta ikut KB suntik.
(b) Anjurkan untuk menjaga kebersihan alat genetalia dan pakaian dalam agar tetap bersih dan kering.
(c) Bila keputihan sangat mengganggu sebaiknya dirujuk untuk mendapatkan pengobatan yang tepat (Suratun, 2008).
(5) Jerawat
Gejala dan keluhan dalam timbulnya jerawat yaitu timbulnya jerawat di wajah atau badan yang dapat disertai infeksi atau tidak (Suratun, 2008).
Penanggulangan yang dilakukan dalam menghadapi timbulnya jerawat yaitu pemberian vitamin A dn vitamin E dosis tinggi. Bila disertai infeksi dapat diberikan preparat tetracycline 250mg 2 X 1 kapsul selama 1 atau 2 minggu (Suratun, 2008)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar