Jumat, 27 November 2009

ASUHAN KEBIDANAN TELUARGA PADA Tn. R DENGAN MASALAH UTAMA IMUNISASI TIDAK LENGKAP PADA An. A

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Dewasa ini angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak balita cukup tinggi hal ini disebabkan berbagai faktor dimana salah satu penyebabnya adalah penyakit menular. Padalah penyakit ini sebagian dapat dicegah dengan pemberian kekebalan terhadap bayi dan anak balita (imunisasi). Usaha untuk membantu menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian pada bayi dan balita dengan cara pemberian imunisasi pada bayi 0-11 bulan. Pelaksanaan pemberian imunisasi dapat melalui posyandu pos pelayanan terpadu (posyandu) sebagai upaya peningkatan peran masyarakat serta menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan khususnya imunisasi dimasyarakat.
Sejak pelita II jenis cukupan imunisasi terus ditingkatkan sehingga pada pelita III mulai dilaksanakan pemberian imunisasi lengkap yang meliputi BCG, DPT, Polio, campak, imunisasi untuk mencegah tetanus pada wanita usia subur, calon pengantin dan ibu hamil dan DT pada anak sekolah.
(AH Markum, 1999)
Pada pengkajian yang dilakukan pada tanggal 9 februari – 21 februari 2009 (2 minggu) di kelurahan Tandang kecamatan Tembalang kabupaten Semarang khususnya pada Rt 3 Rw XIV ditemukan masih banyak anak – anak balita yang memperoleh imunisasi belum lengkap, yaitu sekitar 5 balita dari 15 anak.Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk membuat judul “Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. L dengan An.R Belum Mendapatkan Imunisasi Lengkap”.

Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan studi kasus ini, penulis hanya membuat batasan masalah mengenai :
1. Kesehatan keluarga Tn.L
2. Imunisasi pada An.R

Tujuan Penulisan
3. Tujuan Umum
Untuk menerapkan teori kebidanan komunitas yang penulis peroleh selama mengikuti prodi kebidanan STIKES Karya Husada Semarang di RW XIV Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang.

4. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui masalah kesehatan yang ada pada keluarga Tn. L
b. Melakukan intervensi terhadap masalah kesehatan keluarga dengan menetapkan asuhan kebidanan pada keluarga Tn. L.
c. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang masalah kesehatan terutama tentang imunisasi
d. Meningkatkan peran serta keluarga, kader, petugas puskesmas, mengatasi masalah kesehatan yang ada.
Metode dan Teknik Penulisan
Dalam menyusun laporan kebidanan komunitas, penulis menggunakan metode diskriptif (Notoatmodjo, 1999) yaitu gambaran suatu keadaan secara obyektif untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada keluarga Tn. L di RT 3 RW XIV Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang.
Pengumpulan data dilakukan melalui cara :
5. Wawancara atau Interview
Penulis melakukan Tanya jawab dengan pihak yang bisa dijadikan sumber data.
6. Observasi
Penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian yaitu keluarga dan lingkungan.
7. Pemeriksaan fisik
Penulis melakukan pemeriksaan pada pasien, keluarga, dan mengumpulkan data-data hasil pemeriksaan tersebut.
8. Studi dokumentasi
Penulis mengumpulkan data dari catatan medik yang berhubungan dengan pasien.
9. Studi kepustakaan
Penulis mempelajari buku-buku, literature – literature, diklat sebagai pedoman teoritis tentang rumusan dalam pengamatan.

Sistematika Penulisan
Dalam penyusun studi kasus menggambarkan sistematika penyusunan yang telah ditentukan, adapun penyusunannya adalah sebagai berikut :
BAB I : Berisi pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang, masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II : Berisi tentang kerangka konsep mengenai prinsip kebidanan komunitas, keperawatan kesehatan masyarakat pada tingkat keluarga,PHC (Primary Health Care).
BAB III : Berisi tinjauan kasus yang mencakup pengkajian, interpretasi data, identifikasi diagnosa atau masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, internensi, implementasi, dan evaluasi.
BAB IV : Berisi pembahasan yang berorientasi pada problem dengan argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
BAB V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
BAB II
KERANGKA KONSEP
TINJAUAN TEORI

Prinsip Kebidanan Pada Komunitas
1. Konsep kebidanan komunitas
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu (Syahlan).
Komunitas adalah kelompok orang yang berada disuatu lokasi tertentu, kebidanan komunitasi dapat juga merupakan bagian atau lanjutan pelayanan kebidanan di poli kesehatan (Syahlan).
Pelayanan kebidanan komunitas pada hakikatnya adalah upaya yang dilakukan oleh bidan untuk pemecahan masalah kesehatan ibu dan anak balita didalam keluarga dan masyarakat (Syahlan, 1998).

2. Manajemen kebidanan komunitas
Penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang secara berurutan yaitu identifikasi masalah, rencana pelaksanaan, tindakan pelayanan dan evaluasi hasil tindakan.
Berikut ini penerapan manajemen kebidanan yang dijelaskan.
a. Pengkajian
Pada langkah criteria ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang diperlukan untuk mengenalkan keadaan klien secara lengkap, diperoleh melalui.
1. Data Subyektif
Data subyektif diperoleh dari informasi langsung yang diterima dari pasien (masyarakat) yang dilakukan dengan wawancara.(Syahlan, 1998)
2. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh dari hasil observasi pemeriksaan dan penelaahan catatan keluarga diperlukan untuk pengumpulan data obyektif kesehatan keluarga dibuat lembar pengisian yang berisikan berbagai hal yang perlu diobservasi dan pemeriksaan.
b. Interpretasi data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesifik.
c. Identifikasi diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasikan.
d. Identifikasi kebutuhan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera yang harus dilakukan berdasarkan masalah atau diagnosa potensial yang timbul.
e. Merencanakan asuhan
Pada langkah ini dilakukan rencana asuhan yang akan diberikan berdasarkan hasil pengkajian secara keseluruhan.
f. Melaksanakan perencanaan
Langkah keenam ini merupakan pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dibuat dari hasil pengkajian secara keseluruhan.
g. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketetapan atau kesempurnaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang ditetapkan, suatu kegiatan dinyatakan berhasil bila hasil evaluasi menunjukkan data yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, bila tujuan tidak tercapai maka dikaji penyebabnya.





Keperawatan Kesehatan Masyarakat pada tingkat keluarga
3. Konsep Keluarga
Keluarga adalah unit kecil masyarakat, terdiri atas 2 orang atau lebih, adalnya ikatan perkawinan dan perlatihan hidup dalam 1 rumah tangga. (Depkes RI, 1998)
Tipe / bentuk keluarga menurut Drs. Nasrul Effendi 1998 yaitu keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga anak (extended family) yaitu keluarga inti ditambah sanak saudara.
Keluarga berantai (serial family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari 1 x dan merupakan satu kelurga inti. Single family yaitu keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian. Composite adalah keluarga yang perkawinannya poligami dan hidup secara bersama.
Pemegang kekuasaan dalam keluarga ada 3 yaitu : Patriakal pemegang kekuasaan ayah, Matriakal pemegang kekuasaan ibu, dan Equalitirain pemegang kekuasaan adalah ayah dan ibu. (Nasrul Effendi, 1999).
4. Perawatan Kesehatan Keluarga
a. Pengertian
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan pada keluarga.
b. Tujuan
1. Tujuan Umum
Perawatan kesehatan menurut Effendy 2000 untuk mengingatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga.
2. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan.
Meningkatkan kemampuan keluarganya dalam menaggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarganya.



3. Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga yang mempunyai masalah kesehatan akibat ketidaktahuan, ketidakmauan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.
(Deprtemen Kesehatan RI 2001)

PHC (Primary Health Care – Upaya Kesehatan Dasar)
Menurut Effendy 1999, PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat.
Tujuan umum dari PHC menurut Effendy 1999 adalah mencoba menemukan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang diselenggarakan, sehingga akan tercapai tingkat kepuasan pada masyarakat yang menerima pelayanan. Tujuan kusus dari PHC adalah pelayanan harus mencapai keseluruhan penduduk yang dilayani, berdasarkan kebutuhan medis dan populasi yang dilayani dan secara maksimum.
Fungsi PHC hendaknya memenuhi fungsi-fungsi pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pemberian pengobatan, pelayanan tidak lanjut, peningkatan kesehatan dan pemulihan kesehatan. Tiga unsur utama PHC adalah mencakup upaya-upaya dasar kesehatan, melibatkan peran serta masyarakat dan melibatkan kerjasama lintas sektoral.
Ciri-ciri perawatan kesehatan masyarakat, pelayanan yang :
Utama dan intim dengan masyarakat.
Menyeluruh
Terorganisasi
Mementingkan kesehatan individu maupun masyarakat.
Berkesinambungan
Progresif
Berorientasi pada keluarga
Tidak berpandangan pada salah satu aspek saja

Kesehatan Lingkungan
Pengertian kesehatan lingkungan menurut Soekidjo Notoatmodjo 2000 adalah suatu kondisi atau keadaan yang lingkungannya yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula.
1. Rumah dan Rumah Sehat
Rumah adalah tempat tinggal manusia dan rumah sehat adalah tempat bernaung tempat beristirahat. Rumah yang sehat harus mempunyai fsilitas-fasilitas sebagai berikut :penyediaan air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan air limbah (air kotor), pembuangan sampah, dapur, ruang berkumpul keluarga, ventilasi, cahaya (Notoatmodjo, 1999).
2. Pembuangan kotoran manusia (tinja)
Pembuangan kotoran manusia yang dimaksud hanya tempat pembuangan tinja dan urine yang pada umumnya disebut jamban atau kakus.
3. Sampah dan Pengelolaann
Para ahli kesehatan masyarakat Ameika yang dikutip oleh Notoatmodjo 1999, sampah yang dimaksud adalah sesuatu yang tidak digunakan atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia. Jenis sampah ada 3 macam : sampah padat, sampah cair dan sampah dalam bentuk gas. Pengelolaan sampah meliputi : cara pengelolaan sampah antara lain sampah dikumpulkan ditempat tertutup kemudian diangkut ketempat penampungan sementara (TPS) maupun tempat penampungan akhir (TPA) kemudian dimusnahkan. Pemusnahan sampah dilakukan tanam paksa lubang kemudian ditimbun dengan tanah dan jalan membakar dalam tempat pembakaran dan dapat juga dijadikan pupuk (Composhing).
4. Penyediaan air bersih
Menurut Notoatmodjo 1999, air sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia akan air antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Syarat fisik untuk air minum adalah bening, tidak berasa. Syarat bakteriologis air untuk minum harus bebas dari bakteri teutama bakteri pathogen.
5. Ventilasi
Fungsi pertama ventilasi untuk menjaga agar aliran udara dalam rumah tersebut tetap segar, kedua untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri karena terjadi aliran udara terus-menerus.
Ventilasi ada dua macam yakni ilmiah dan buatan. Ventilasi alamiah terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin. Ventilasi buatan yaitu dengan menggunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara tersebut misalnya kipas angin, mesin penghisap udara (Notoatmodjo, 1999).
6. Cahaya
Menurut Notoatmodjo 1999, rumah sehat memerlukan cahaya yang cukup, kurangnya cahaya yang masuk kedalam rumah terutama cahaya matahari disamping kurangnya juga merupakan media atau tempat yang baik berkembangnya bibi-bibit penyakit, sebaiknya terlalu banyak cahaya yang masuk dalam rumah menyebabkan silau dapat merusak mata.
7. Air limbah dan pengelolaannya
Air limbah atau air buangan adalah air sisa yang dibuang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup (Notoatmodjo, 1999).
Untuk mengurangi akibat-akibat buruk tersebut diatas diupayakan sedemikian rupa sehingga air limbah tersebut tidak mengakibatkan pencemaran air untuk mandi, tidak dihinggapi serangga dan tikus serta menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit, tidak terbuka kena udara luar, serta tidak dapat dicapai oleh anak-anak, baunya tidak mengganggu.
E. Teori Medis Imunisasi
Pengertian
1. Imunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. (Syahlan, 1999).
2. Imunisasi adalah upaya menimbulkan kekebalan seseorang dengan cara memberikan vaksin tertentu (Susanto YC.2001)
3. Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu (Depkes RI, 2001)
Tujuan Imunisasi
Antara lain menurunkan angka kesakitan, menghindari kecacatan serta mencegah suatu penyakit tertentu (AH Markum, 1999).
Manfaat Imunisasi
Untuk anak dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh kemungkinan cacat atau kematian. Sedangkan untuk keluarga dapat menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit, tanpa disadari imunisasi untuk Negara akan memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara, memperbaiki taraf hidup bangsa Indonesia diantara bangsa di dunia (J. Biddulp dan J. Stace, 2000).
Macam Imunisasi
Dalam anak tumbuh berkat imunisasi tahun 1999, macam imunisasi terbagi menjadi imunisasi aktif dan pasif. Adapun imunisasi aktif yaitu tubuh akan secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh misalnya polio, campak. Sedangkan imunisasi pasif yaitu pemberian zat anti bodi meningkat dalam tubuh anak bukan hasil produksi tubuh sendiri tetapi secara aktif diperoleh suntikan atau pemberian dari luar misalnya pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).
Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD31)
Difteri
Penyebab difteri adalah corynobacterium type grafis, mitis dan intermedius, difteri menular melalui partikel yang tercemar. Difteri pada kulit ditemukan terutama pada anak-anak. Imunisasi yang dilakukan adalah pemberian DPT (Difteri Pertusis Tetanus) diberikan pada anak SD kelas I.
Pertusis
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Bordetella pertusis. Gejala awal berupa pilek dan batuk, kemudian berlangsung dengan batuk panjang. Penderita kadang-kadang batuk sampai muntah. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian akibat komplikasi pneumonia, kematian sering terjadi pada anak dibawah umur 1 tahun.
Penularan biasanya melalui kontak erat. Insiden pertusis pada bayi dibawah umur 6 bulan cukup tinggi, imunisasi dilakukan dengan pemberian DPT dan DT.
Tetanus
Dalam petunjuk reaksi samping imunisasi, kuman penyebab penyakit ini adalah clostridium Tetani, infeksi terjadi melalui luka. Tetanus neonatorum terjadi akibat infeksi pada luka bekas potongan tali pusat. Gejala khas adalah kejang-kejang, wajah menyeriangi, mulut terkancing. Angka kematian kasus ini antara 30% sampai 90%. Kekebalan terhadap tetanus diperoleh melalui vaksinasi lengkap.
Poliomyelitis
Penyebab penyakit ini adalah virus polio. Gejala awal tidak spesifik yaitu batuk dan demam ringan. Kelumpuhan terjadi biasanya tidak simetris pada anggota gerak badan tanpa mengganggu sensibilitas kelumpuhan otot pernafasan dan otot menelan. Sekitar 15 % penderita dapat sembuh dalam waktu 6 minggu, sedangkan sisanya menetap meninggalkan atrophy otot.

Tuberkolusis
Penyakit ini disebabkan oleh mycobacterium tuberculosa, penyakit ini sering pada masyarakat golongan ekonomi rendah. Beberapa organ tubuh terserang penyakit ini seperti paru-paru, kulit, tulang dan sendi, selaput otak, usus serta ginjal. Cara penularan melalui droplet, terutama didaerah padat penduduk, resiko penderita ini tinggi pada usia dibawah 3 tahun. Vaksin pencegah penyakit ini adalah BCG (Bacille Calmette Guerin).
Campak
Penyebab penyakit ini adalah selesma disertai konjungtivitis. Tanda khas adalah berupa bercak merah pada kulit dimulai dari dahi dan belakang telinga, kemudian ke muka, badan dan anggota badan. Setelah sampai 3-4 hari rash (bercak merah kulit) menghilang meninggalkan bercak hiperpigmentasi sampai 1-2 minggu, diakhiri dengan kulit mengelupas. Pemberian vaksin campak satu kali dapat memberi kekebalan lebih dari 14 kali.
Hepatitis B
Penyebab penyakit hepatitis B menurut Depkes RI 1999 adalah virus hepatitis B. gejalanya tidak khas seperti anorexia, nausea, kadang-kadang timbul ikterus. Kelompok resiko tinggi adalah bayi dari ibu pengidap hepatitis B (70-90 %), pecandu narkotika, tenaga medis dan para medis. Pencegahan yang paling efektif adalah imunisasi hepatitis B terutama pada neunatus.
Sasaran dan jadwal pemberian imunisasi
Sasaran imunisasi meliputi bayi umur 0-11 bulan, ibu hamil 0-9 bulan, calon pengantin wanita, anak SD kelas 1, anak SD kelas 6.

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI PADA BAYI

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA PADA Tn. B DENGAN MASALAH
UTAMA IMUNISASI TIDAK LENGKAP PADA An. H

Pengkajian
Hari /tanggal : Selasa 10 Februari 2009
Waktu : 16.00 WIB
Tempat : Rumah Klien

Data Subyektif
Struktur dan Sifat Keluarga
Struktur Keluaga
Nama K K : Tn. L
Umur : 26 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Suku : Jawa
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Alamat :
Daftar Anggota Keluarga

No Nama Hub. dlm Kel. JK Umur (th) Tgl lhr Penddkan Pekerjaan ket
1 Tn. L KK L 26 20-7-83 SLTA Swasta Sehat
2 Ny. S Istri P 23 27-11-86 SLTP IRT Sehat
3 An. R Anak L 10 bl 28-4-08 - - Sehat

Genogram
Keterangan :
Sifat keluarga
Anggota keluarga yang menonjol dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami
Kebiasaan tidur dan istirahat
Tn. L
Nutrisi : makan 3 kali sehari (porsi banyak, nasi, sayur, lauk, ikan, tempe). Minum air putih 7 - 8 gelas /hari.
Eliminasi : BAB ± 1 x /hari, BAK 5-6 x /hari
Istirahat : tidur siang tidak pernah, malam 8 jam/hari
Kebersihan diri : Mandi : 2 x /hari Gosok gigi : 3 x /hari, ganti baju: 2 x/hari, keramas : 3 x/minggu


Ny. S
Nutrisi : makan 3 kali sehari (porsi sedang, nasi, sayur, lauk, ikan, tempe). Minum air putih 7 - 8 gelas /hari.
Eliminasi : BAB ± 1 x /hari, konsistens lembek, BAK 6 x /hari warna kuning.
Istirahat : tidur siang 2 jam /hari, malam 8 jam/hari
Kebersihan diri : Mandi : 2 x /hari Gosok gigi : 2 x /hari, ganti baju : 2 x/hari, keramas : 3 x/minggu
An. R
Nutrisi : makan bubur, minum ASI+susu formula
Eliminasi : BAB ± 1-2 x /hari konsistensi lunak, BAK 5 x /hari, warna kuning.
Istirahat : tidur siang 2 jam /hari, malam 9 jam/hari
Faktor Sosio, Ekonomi dan Budaya
Penghasilan dan Pengeluaran
Pekerjaan : Karyawan swasta
Jam kerja : 07.00 – 17.00 WIB
Besar uang yang dihasilkan / bulan : Rp. 900.000,-
Pemenuhan kebutuhan : untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Simpanan keuangan : disimpan sendiri
Penentuan keuangan : Tn. L
Suku dan Agama
Suku : Jawa
Agama : Islam

Peranan anggota dalam keluarga
Ayah (Tn. L ) : sebagai kepala keluarga yang member nafkah
Ibu (Ny. S ) : sebagai pedagang yang membantu mencari nafkah sekaligus merawat dan mendidik anak.
Anak (An. R ) : sebagai kakak
d. Hubungan keluarga dan masyarakat
Hubungan keluarga Tn. L dalam masyarakat baik
Faktor Lingkungan
Perumahan (Lingkungan fisik/ sarana sanitasi)
Pembuangan kotoran
Pengbuangan kotoran menggunakan jamban
Penyediaan air bersih
Penyediaan air bersih dari PDAM
Pembuangan sampah
Pembuangan sampah ditempat sampah terbuka
Jendela dan kelembaban
Baik, udara dapat keluar masuk melalui jendela.
Lingkungan rumah
Cukup bersih
Fasilitas hiburan
TV, radio
Fasilitas sosial dan kesehatan yang ada
Bila ada yang sakit dibawa ke puskesmas
Denah rumah

Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan keluarga
Didalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit menular seperti : hepatitis, TBC
Dalam keluarga ada yang menderita penyakit batuk pilek
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat cacat bawaan/cacat sejak lahir.
Riwayat keluarga berencana
Istri menggunakan alat kontrasepsi suntik depo ( 3 bulan )
c. Riwayat imunisasi keluarga
Anak R belum imunisasi campak karena pada saat jadwal imunisasi sakit,dan setelah sembuh ibunya lupa.
Psikososial
Status emosi
Keadaan emosional keluarga baik dan terkendali dan anggota keluarga merasa senang hidup bersama.
Konsep diri
Ayah (Tn. L) : disiplin dan bijaksana
Ibu (Ny. S) : sabar
Anak (An.R) : Lebih dekat sama ibu
Pola interaksi
Baik ada hubungan timbal balik antara anggota keluarga dan masyarakat
Pola pertahanan keluarga
Baik, setiap anggota keluarga saling menjaga
Pengetahuan keluarga tentang tumbuh kembang keluarga
Pertumbuhan dan perkembangan kesehatan berjalan dengan baik atau normal dan tidak ada kelainan
Orang tua mengetahui perkembangan tentang tumbuh kembang kesehatan anak H
5 bulan tengkurap
6 bulan anak mulai bisa meraih benda yang ada didekatnya
9 bulan anak bisa merangkak

Data Obyektif
Pengkajian atau pemeriksaan fisik
Ayah (Tn. L)
KU : baik
Kesadaran : Composmentis
TTV
TD : 120/80 mmHg Suhu : 370C
Nadi : 80 x/menit Pernafasan : 20 x/ menit

Antropometri :
BB : 66 kg
TB : 167 cm
Status present
Kepala : Rambut ikal, kepala mesochepal
Mata : Sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat
Hidung : Bersih, tidak ada discharge
Mulut : Bersih, gigi tidak caries, rongga mulut bersih
Telinga : Bersih, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
Dada : Simetris
Abdomen : Tidak ada nyeri tekan pada hepar dan lien
Anus : Tidak dilakukan
Ekstremitas : Kuku bersih, simetris, pergerakan terkoordinasi
Turgor : Baik

Ibu (Ny. S)
KU : baik
Kesadaran : composmetris
TTV
Tensi : 110/70 mmHg Suhu : 370C
Nadi : 80 x/menit Pernafasan ; 20x/menit
Antropometri :
BB : 55 kg
TB :156 cm
Status present
Kepala : Mesochepal, rambur gelombang
Mata : Sklera tidak ikteri, konjungtiva tidak pucat.
Hidung : Bersih, tidak ada discharge
Mulut : Bersih, gigi tidak caries, rongga mulut bersih
Telinga : Bersih, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
Dada : Simetris
Abdomen : Tidak ada nyeri tekan dapa hepar dan lien
Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : kuku bersih, simetris, pergerakan terkoordinasi
Turgor : baik
Anak (An. I)
KU : baik
Kesadaran :composmentis
TTV
Suhu : 36,90C
Pernafasan ; 24x/menit
Antropologi :
BB : 9,5 kg
TB : 80 cm
Status present
Kepala : Mesochepal, rambur gelombang
Mata : Sklera tidak ikteri, konjungtiva tidak pucat.
Hidung : Bersih, tidak ada discharge
Mulut : Bersih, gigi tidak caries, rongga mulut bersih
Telinga : Bersih, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
Dada : Simetris
Abdomen : Tidak ada nyeri tekan dapa hepar dan lien
Anus : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : kuku bersih, simetris, pergerakan terkoordinasi
Turgor : baik
INTERPRETASI DATA
Diagnosa :
An. R, Usia 10 bulan dengan imunisasi tidak lengkap
Dasar :
Ibu menyetakan anaknya bernama An. R
Ibu menyatakan anaknya barumur 10 bulan
Ibu menyatakan anaknya belum diimunsasi campak saat berusia 9 bulan


IDENTIFIKASI DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL
Tidak muncul

ANTISIPASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
Tidak dilakukan

INTERVENSI
Beri pendidikan kesehatan kepada ibu tentang manfaat imunisasi
Berikan penyuluhan kepada keluarga tentang bahaya tidak diimunisasi.
Beritahu ibu akan pentingnya imunisasi.
Ajurkan ibu agar tidak melupakan jadwal imunisasi.

IMPLEMENTASI
Dilaksanakan pada tanggal : 10 Februari 2009 Jam16.15 WIB
Memberi pandidikan kesehan kepada ibu tentang manfaat imunisasi. Imunisasi bermanfaat untuk mencegah penyakit maupun cedera dan keracunan yang meliputi seluruh masa kehidupan dan juga bermanfaat dalam tubuh untuk menghindari terjadinya sakit atau cedera dan cacat.
Memberikan penyuluhan pada keluarga tentang bahaya tidak diimunisasi. Apabila tidak diimunisasi dengan lengkap kemungkinan resiko untuk terkena penyakit hepatitis, meningitis, polio dan cacar.
Memberitahu ibu dan keluarga akan pentingnya imunisasi.
Menganjurkan ibu untuk tidak melupakan jadwal imunisasi.
EVALUASI
Dilakukan pada tanggal 10 Februari 2009 jam 17.10 WIB.
Ibu sudah mengerti dengan semua penjelasan yang telah diberikan dan ibu brsedia untuk selalu mengingat jadwal imunisasi. Dan ibu juga bersedia untuk mengimunisasikan anaknya ke puskesmas atau pada saat posyandu.


PENGKAJIAN HARI KE-2
Dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2009, Jam : 16.00 WIB
Data Subyektif : Ibu mengatakan pileknya sudah berkurang
Data Obyektif :
KU : Baik
kesadaran : composmentis
TTV :
Suhu : 36,50C
Nadi : 100x/menit
RR : 40 x /menit

INTERPRETASI DATA
Diagnosa : An. R, usia 10 bulan dengan Imunisasi belum lengkap
Dasar : - Ibu Menyatakan anaknya bernama An. R
Ibu menyatakan anaknya berusia 10 bulan
- Ibu menyatakan anaknya belum diimunisasi campak.

IDENTIFIKASI DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL
Tidak muncul

IDENTIFIKASI ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Tidak dilakukan

INTERVENSI
Pantau KU anak dan TTV
Beritahu ibu untuk selalu menjaga kesehatan anaknya
Anjurkan ibu untuk memperhatikan pola makan dan istirahat anaknya.





IMPLEMENTASI
Dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2009 jam : 16.30 WIB
Memantau KU anak dan TTV
Memberitahu ibu untuk selalu menjaga kesehatan anaknya dengan cara memandikan anaknya 2x/hari, ganti baju 2x/hari dan mengajarkan pada anaknya untuk menggosok gigi dengan benar.
Manganjurkan pada ibu untuk memperhatikan pola makan dan istirahat anaknya

EVALUASI
Dilakukan pada tanggal 19 Februari 2009 jam 16.40 WIB.
KU : Baik
TTV :
Suhu : 36,30C
Nadi : 100 x/menit
RR : 40 x/menit
Ibu mengerti dan paham tentang penjelasan yang diberikan dan mau melaksanakannya
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Data subyektif
Berdasarkan anamnesa dari seluruh keluarga Tn. L diketahui bahwa ada salah satu anggota keluarga yaitu An. R belum mendapatkan imunisasi lengkap karena setiap anak akan diimunisasi selalu panas.
Data Obyektif
Pemeriksaan yang dilakukan pada keluarga Tn. L meliputi pemeriksaan fisik sesuai dengan teori yang telah dilakukan tidak ada yang perlu dikawatirkan hanya pada salah satu keluarga yaitu An. L dari KMS nya diketahui bahwa belum mendapat imunisasi secara lengkap.
Sesuai dengan toeri bahwa anak balita harus mendapatkan imunisasi secara lengkap sebelum berumur 1 tahun.
B. Interpretasi Data
Dalam melakukan pengkajian dari data subyektif dan obyektif didapatkan keluarga Tn. L ada salah satu anggota keluarga yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap yaitu An. R belum mendapat vaksin campak karena selalu panas bila akan diimunisasi. Maka penulis dapat menentuka diagnosa yaitu An. R umur 10 bulan dengan kebutuhan imunisasi campak.
C. Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Dari pengkajian yang dilakukan pada keluarga Tn. L tidak ditemukan masalah potensial hal ini karena kebutuhan imunisasi tidak membutuhkan penanganan secepat mungkin karena tidak lengkapnya imunisasi tidak langsung menimbulkan penyakit yang fatal.
D. Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
Dari pengkajian tidak ditemukan masalah potensial maka pada langkah inipun juga tidak dilakukan tindakan segera.


E. Intervensi
Karena pada pengkajian tidak ditemukan salah satu anggota keluarga Tn. L yang belum mendapat imunisasi secara lengkap maka penulis merencanakan kebutuhan apa yang diperlukan An. R yaitu :
1. Anjurkan ibu untuk mengimunisasikan anaknya ditempat-tempat pelayanan imunisasi.
2. Anjurkan ibu untuk selalu memantau tumbuh kembang anaknya setiap bulan.
3. Anjurkan ibu untuk memberikan makanan tambahan kepada keluarga.
F. Implementasi
Apa yang diintervensikan sudah dilaksanakan semua implementasi berjalan tanggal 10 Februari 2009 jam 16.15 WIB. Setelah dilakukan implementasi ibu menjadi mengerti tentang imunisasi, jadwal pemberian imunisasi dan ibu bersedia untuk segera mengimunisasikan anaknya.
G. Evaluasi
Setelah penulis melakukan implementasi tanggal 10 Februari 2009 jam 16.15 WIB dapat langsung dievaluasi pada tanggal 10 Februari 2009 jam 17.10 WIB. Hasil evaluasi menunjukkan respon positif dari ibu An. R dengan menanyakan kepada bidan terdekat atau dipuskesmas besok tentang jadwal imunisasi.


BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
Pengkajian dalam asuhan kebidanan keluarga pada Tn. L dengan masalah imunisasi tidak lengkap pada An. R disebabkan karena pada waktu anak seharusnya diiminusasi, anak mengalami batuk, pilek dan panas.
Pada interpretasi data didapatkan diagnosa bahwa anak belum diimunisasi secara lengkap.
Identifikasi diagnose pada An. R tidak muncul karena pada pengkajian tidak didapatkan adanya tanda-tanda yang mengarah pada kegawat daruratan.
Antisipasi kebutuhan segera tidak dilakukan karena diagnosa potensial tidak muncul.
Penulis memberikan interfensi yaitu : berikan penyuluhan kepada keluarga tentang masa imunisasi dan bahaya tidak diimunisasi.
Implementasi dilaksanakan secara menyeluruh sehingg tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori.
Evaluasi yang dilakukan pada asuhan kebidanan keluarga pada Tn. L didapatkan hasil bahwa An. R belum diimunisasi secara lengkap.
Evaluasi hasil akhir yang didapat yaitu : An. R sudah diimunisasi dengan lengkap yaiu imunisasi campak pada hari : sabtu, 14 februari 2009.
Saran
Bagi Keluarga / Masyarakat.
Bagi keluarga Tn. L hendaknya bila kurang tahu tentang imunisasi bertanya lebih jelas kepada petugas kesehatan, bila perlu diberi penjelasan secara khusus.
Bagi Tenaga Kesehatan.
Bagi tenaga kesehatan didalam memberi penyuluhan hendaknya menjelaskan secara detail dan terperinci dengan melihat tingkat pendidikan dan pemahaman klien.
Bagi Instansi Pendidikan Kesehatan
Diharapkan dapat menambah karya-karya ilmiah tentang imunisasi, sehingga dapat menambah wawasan tentang imunisasi.
Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Perlu ditingkatkan kerjasama antara masyarakat, tokoh masyarakat, kader kesehatan, petugas kesehatan, kelurahan, kecamatan dalam upaya penyuluhan tentang imunisasi.

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN KESEHATAN

Pokok Bahasan : Imunisasi
Sub Pokok Bahasan : Imunisasi pada bayi
Waktu : 20 menit
Sasaran : oranag tua balita
Tempat : RT III / RW XIV Kelurahan Tandang

Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan orang tua dari balita tersebut dapat mengetahui dan memahami tentang imunisasi bagi bayi.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan ibu yang mempunyai bayi mengetahui tentang :
Pengertian imunisasi
Tujuan imunisasi
Manfaat imunisasi
Macam imunisasi
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
Sasaran dan jadwal pemberian imunisasi
Kegiatan Pendidikan Kesehatan

Tinjauan Pustaka
AH Markum (1999), Imunisasi. Fakultas Kedokteran UI Jakarta
Susanto YC (1999). Imunisasi. Fakultas Undip
Departemen Kesehatan RI (2000). Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia. Dirjen PPM dan penyehatan lingkungan.
Lampiran
Teori Medis Imunisasi
Pengertian
4. Imunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. (Syahlan, 1999).
5. Imunisasi adalah upaya menimbulkan kekebalan seseorang dengan cara memberikan vaksin tertentu (Susanto YC.2001)
6. Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu (Depkes RI, 2001)
Tujuan Imunisasi
Antara lain menurunkan angka kesakitan, menghindari kecacatan serta mencegah suatu penyakit tertentu (AH Markum, 1999).
Manfaat Imunisasi
Untuk anak dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh kemungkinan cacat atau kematian. Sedangkan untuk keluarga dapat menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit, tanpa disadari imunisasi untuk Negara akan memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara, memperbaiki taraf hidup bangsa Indonesia diantara bangsa di dunia (J. Biddulp dan J. Stace, 2000).
Macam Imunisasi
Dalam anak tumbuh berkat imunisasi tahun 1999, macam imunisasi terbagi menjadi imunisasi aktif dan pasif. Adapun imunisasi aktif yaitu tubuh akan secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh misalnya polio, campak. Sedangkan imunisasi pasif yaitu pemberian zat anti bodi meningkat dalam tubuh anak bukan hasil produksi tubuh sendiri tetapi secara aktif diperoleh suntikan atau pemberian dari luar misalnya pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD31)
Difteri
Penyebab difteri adalah corynobacterium type grafis, mitis dan intermedius, difteri menular melalui partikel yang tercemar. Difteri pada kulit ditemukan terutama pada anak-anak. Imunisasi yang dilakukan adalah pemberian DPT (Difteri Pertusis Tetanus) diberikan pada anak SD kelas I.
Pertusis
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Bordetella pertusis. Gejala awal berupa pilek dan batuk, kemudian berlangsung dengan batuk panjang. Penderita kadang-kadang batuk sampai muntah. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian akibat komplikasi pneumonia, kematian sering terjadi pada anak dibawah umur 1 tahun.
Penularan biasanya melalui kontak erat. Insiden pertusis pada bayi dibawah umur 6 bulan cukup tinggi, imunisasi dilakukan dengan pemberian DPT dan DT.
Tetanus
Dalam petunjuk reaksi samping imunisasi, kuman penyebab penyakit ini adalah clostridium Tetani, infeksi terjadi melalui luka. Tetanus neonatorum terjadi akibat infeksi pada luka bekas potongan tali pusat. Gejala khas adalah kejang-kejang, wajah menyeriangi, mulut terkancing. Angka kematian kasus ini antara 30% sampai 90%. Kekebalan terhadap tetanus diperoleh melalui vaksinasi lengkap.
Poliomyelitis
Penyebab penyakit ini adalah virus polio. Gejala awal tidak spesifik yaitu batuk dan demam ringan. Kelumpuhan terjadi biasanya tidak simetris pada anggota gerak badan tanpa mengganggu sensibilitas kelumpuhan otot pernafasan dan otot menelan. Sekitar 15 % penderita dapat sembuh dalam waktu 6 minggu, sedangkan sisanya menetap meninggalkan atrophy otot.

Tuberkolusis
Penyakit ini disebabkan oleh mycobacterium tuberculosa, penyakit ini sering pada masyarakat golongan ekonomi rendah. Beberapa organ tubuh terserang penyakit ini seperti paru-paru, kulit, tulang dan sendi, selaput otak, usus serta ginjal. Cara penularan melalui droplet, terutama didaerah padat penduduk, resiko penderita ini tinggi pada usia dibawah 3 tahun. Vaksin pencegah penyakit ini adalah BCG (Bacille Calmette Guerin).
Campak
Penyebab penyakit ini adalah selesma disertai konjungtivitis. Tanda khas adalah berupa bercak merah pada kulit dimulai dari dahi dan belakang telinga, kemudian ke muka, badan dan anggota badan. Setelah sampai 3-4 hari rash (bercak merah kulit) menghilang meninggalkan bercak hiperpigmentasi sampai 1-2 minggu, diakhiri dengan kulit mengelupas. Pemberian vaksin campak satu kali dapat memberi kekebalan lebih dari 14 kali.
Hepatitis B
Penyebab penyakit hepatitis B menurut Depkes RI 1999 adalah virus hepatitis B. gejalanya tidak khas seperti anorexia, nausea, kadang-kadang timbul ikterus. Kelompok resiko tinggi adalah bayi dari ibu pengidap hepatitis B (70-90 %), pecandu narkotika, tenaga medis dan para medis. Pencegahan yang paling efektif adalah imunisasi hepatitis B terutama pada neunatus.
Sasaran dan jadwal pemberian imunisasi
Sasaran imunisasi meliputi bayi umur 0-11 bulan, ibu hamil 0-9 bulan, calon pengantin wanita, anak SD kelas 1, anak SD kelas 6.

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI PADA BAYI



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar