Jumat, 27 November 2009

KARYA TULIS ILMIAH : PENGARUH STATUS GIZI TERHADAP PERKEMBANGAN BICARA ANAK USIA 1-3 TAHUN

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Seluruh generasi penerus bangsa terutama anak-anak diharapkan dapat berkembang secara optimal dan menjadi sumber daya yang produktif dan berkualitas. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya (Soetjiningsih, 1995: 29).
Sebagian besar ketidakberdayaan bayi baru lahir berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka dalam bentuk yang dapat dipahami orang lain. Kemampuan berbicara memenuhi kebutuhan penting lainnya dalam kehidupan anak yaitu kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial. Sebagaimana halnya dalam bidang perkembangan lainnya, tahun-tahun awal kehidupan sangat penting bagi perkembangan bicara anak (Hurlock, 2001: 176). Juga merupakan periode kritis yang berhubungan dengan proses pembelahan otak kiri (logika, analisis, dan kemampuan berbahasa) dan otak kanan (fungsi sosial) saat proses inilah, menurut pakar anatomi bahasa, masa peka bahasa berlangsung. Menurut Stephen Krashen, proses pembelahan berakhir pada usia 5 tahun (http://www.E-smartschool.com). Sehingga setiap penyimpangan sekecil apapun jika tidak segera ditangani dengan baik akan mengurangi kualitas Sumber Daya Manusia.
DAPETIN KTI KEBIDANAN BAB 1,2,3,4,5 + OLAH DATA LENGKAP HANYA Rp. 50.000 CEPETAN Kirim SMS Ke. 081228101101

Dari data yang diperoleh di Kabupaten cianjur masih terjadi masalah gizi terutama pada balita. Hasil survei pemantauan status gizi (PSG) tahun 2004 menunjukkan angka sebagai berikut: dari jumlah balita yang diukur sebanyak 350 anak, 5 diantaranya mengalami gizi buruk (1,4%), 38 anak mengalami gizi kurang (10,9%), 298 anak berstatus gizi baik (85,1%) dan sisanya 9 anak mengalami gizi lebih (2,6%). Sedangkan dari survei pendahuluan yang dilakukan peneliti dilapangan didapatkan 18,75% anak usia 1-3 tahun mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara.
Perkembangan merupakan sederetan perubahan fungsi organ tubuh yang berkelanjutan, teratur dan saling berkait seperti pertumbuhan, perkembanganpun mempunyai ciri-ciri tertentu sebagai suatu pola yang tetap walaupun variasinya sangat luas. Perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan. Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, antara lain meliputi perkembangan sistem neuromuskuler, bicara, emosi dan sosial. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh (Narendra dkk, 2002: 7).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ada 2 yaitu faktor internal (perbedaan ras/bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, kelainan kromosom) dan faktor eksternal/lingkungan (gizi, infeksi, toksin, psikologi ibu, lingkungan fisis dan kimia, sosio ekonomi, stimulasi dan obat-obatan). Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah nutrisi (status gizi). Gizi merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Pada anak dengan status gizi buruk cenderung mengalami gangguan maupun keterlambatan dalam perkembangannya. Karena dalam perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya secara normal. Sedangkan menurut profil Dinkes Magetan 2004, gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi kurang tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan kematian, tapi juga menurunkan produktivitas.
Salah satu artikel dalam koran Jawa Pos Tahun 2005 menyebutkan bahwa keberhasilan perkembangan anak ditentukan oleh keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan otak dipengaruhi oleh nutrisi sehingga untuk mencapai perkembangan yang optimal, pemenuhan nutrisi anak khususnya pada tahun-tahun pertama anak harus sesuai dan seimbang. Makanan bisa mencapai otak melalui berbagai saluran, mulai alat cerna, kemudian ikut sirkulasi darah, menuju hati dan akhirnya menuju sawar dari otak. Disinilah semua nutrisi yang ikut sirkulasi darah dimanfaatkan untuk pembentukan otak.
Dari laporan tahunan program gizi Dinkes CIanjur Tahun 2004 dapat diketahui bahwa untuk penanganan balita gizi kurang telah dilakukan kegiatan intervensi melalui pemberian makanan tambahan (PMT) bagi 75 anak balita yang tersebar di 21 puskesmas wilayah Kabupaten Cianjur. Jenis intervensi yang diberikan kepada balita merupakan bantuan dari sumber dana APBD I berupa paket entrasol untuk 25 anak. Sedangkan 50 anak mendapat bantuan dari dana APBD II dengan unit cost Rp.3000,-/ hari. Masing-masing anak memperoleh 90 Hari Makan Anak (HMA).
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti pengaruh status gizi terhadap perkembangan bicara pada balita usia 1-3 tahun di Desa .
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas, penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : “Adakah pengaruh status gizi terhadap perkembangan bicara anak usia 1-3 tahun



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar