Jumat, 06 November 2009

KB LENDIR SERVIKS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metode Lendir Serviks atau lebih dikenal sebagai Metode Ovulasi Billings/MOB atau metode dua hari mukosa serviks dan metode Simtomtermal adalah yang paling efektif. Cara yang kurang efektif misalnya Sistem Kalender atau pantang berkala dan Metode Suhu Basal yang sudah tidak diajarkan lagi oleh pengajar KBA. Hal ini disebabkan oleh kegagalan yang cukup tinggi (>20%) dan waktu pantang yang lebih lama. Lagi pula sudah ada cara lain yang lebih efektif dan masa pantang lebih singkat. Di Indonesia dengan surat dari BKKBN Pusat kepada BKKBN Provinsi dengan SK 6668/K.S. 002/E2/90. Tanggal 28 Desember 1990, Metode Ovulasi Billings (MOB) sudah diterima sebagai salah satu Metode KB (Mandiri).
(Bari Saifuddin, Abdul. 2006)

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami pelayanan KB dengan metode lendir serviks.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa mampu memahami tentang pelayanan KB dengan Metode Lendir Serviks secara menyeluruh.
b. Agar mahasiswa mampu mengerti tentang keuntungan pada pelayanan KB dengan Lendir Serviks.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar
Perubahan siklis dari lendir serviks yang terjadi kerena perubahan kadar estrogen.

B. Peranan Lendir Serviks
Lendir serviks yang diatur oleh hormon estrogen dan progesterone ikut berperan dalam reproduksi.
Pada tiap siklus haid di produksi 2 macam lendir serviks oleh sel-sel serviks, yaitu :
1. Lendir Tipe-E (Estrogenik)
a. Di produksi pada fase akhir pra-ovulasi dan fase ovulasi.
b. Sifat-sifat:
- Banyak, tipis, seperti air (jernih) dan viskositas rendah.
- Spinnbarkeit (elastisitas) besar. Spinnbarkeit : sampai seberapa jauh lendir dapat diregangkan sebelum putus.
- Bila dikeringkan terjadi bentuk seperti daun pakis (fernlike patterns, ferning, arborization).
c. Spermatozoa dapat “menembus” lendir ini.
2. Lendir Type-G (Gestagenik)
a. Diproduksi pada fase awal pra-ovulasi dan setelah ovulasi.
b. Sifat-sifat
- Kental
- Viskositas tinggi
- Keruh (opaque).
c. Dibuat karena peningkatan kadar progesterone.
d. Spermatozoa tidak dapat menembus lendir ini. (Depkes, 2004)

C. Ciri-ciri Lendir Serviks pada berbagai fase dari siklus haid (30 hari)
a. Fase 1 :
- Haid
- Hari 1-5
- Lendir dapat ada atau tidak, dan “tertutup” oleh darah haid.
- Perasaan wanita : basah dan licin (lubrikatif).
b. Fase 2 :
- Pasca haid
- Hari 6-10
- Tidak ada lendir atau hanya sedikit sekali
- Perasaan wanita : kering.
c. Fase 3 :
- Awal pra-ovulasi.
- Hari 11-13
- Lendir keruh, kuning atau putih, dan liat.
- Perasaan wanita : liat dan / atau lembab.
d. Fase 4 :
- Segera sebelum, pada saat dan sesudah ovulasi.
- Hari 14-17.
- Lendir bersifat jernih, licin, basah, dapat diregangkan.
- Dengan konsistensi seperti putih telur.
- Hari terakhir dari fase ini dikenal sebagai “gejala-puncak” (peak symptom).
- Perasaan wanita : lubrikatif dan atau basah.
e. Fase 5 :
- Pasca-ovulasi.
- Hari 18-21.
- Lendir sedikit, keruh, dan liat.
- Perasaan wanita : liat / atau lembab.


f. Fase 6 :
- Akhir pasca-ovulasi atau segera pra-haid.
- Hari 27-30.
- Lendir jernih dan seperti air.
- Perasaan wanita : liat dan / atau lembab dan/atau basah.
D. Teknik Metode Lendir Serviks
a. Abstinens dimulai pada hari pertama diketahui adanya lendir setelah haid dan berlanjut sampai dengan hari ke-empat setelah gejala puncak (peak symptom).

E. Penyulit-penyulit Metode Lendir Serviks
a. Keadaan fisiologis : sekresi vagina karena rangsangan seksual.
b. Keadaan patologis : infeksi vagina, serviks, penyakit-penyakit, pemakaian obat-obat.
c. Keadaan psikologis : stress (fisik dan emosional).


F. Efektivitas Metode Lendir Serviks
a. Angka kegagalan : 0,4-39.7 kehamilan pada 100 wanita pertahun.
b. Disamping abstinens pada saat yang diperlukan, masih ada 3 sebab lain terjadinya kegagalan / kehamilan :
- Pengeluaran lendir mulainya terlambat.
- Gejala puncak (peak symptom) timbul terlalu awal/dini.
- Lendir tidak dirasakan oleh si wanita atau dinilai/interpretasi salah. (Hartanto, Hanafi,1994).

G. Yang Dapat Menggunakan Metode Lendir Serviks
 Untuk Kontrasepsi
• Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause.
• Semua perempuan dengan paritas berapa pun termasuk nulipara.
• Perempuan kurus atau gemuk.
• Perempuan yang merokok.
• Perempaun dengan alasan kesehatan tertentu a.1. hipertensi sedang, varises, dismenorea, sakit kepala sedang atau hebat, mioma uteri, endometritis, kista ovarii, anemia defisiensi besi, hepatitis virus, malaria, trombosis vena dalam, atau emboli paru.
• Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan metode lain.
• Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain.
• Pasangan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu pada setiap siklus haid.
• Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat, dan menilai tanda dan gejala kesuburan.
 Untuk Konsepsi
• Pasangan yang ingin mencapai kehamilan, senggama dilakukan pada masa subur untuk mencapai kehamilan.

H. Yang Seharusnya Tidak Menggunakan Metode Lendir Serviks
1. Perempuan yang daris egi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan menjadi suatu kondisi risiko tinggi.
2. Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah abortus), kecuali MOB.
3. Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur, kecuali MOB
4. Perempuan yang pasangannya tidak mau bekerjasama (berpantang) selama waktu tertentu dalam siklus haid.
5. Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalianya.

I. Keadaan Yang memerlukan perhatian
Keadaan Anjuran
Pengeluaran cairan vagina secara menetap Jelaskan kepada klien bahwa akan menjadi lebih sulit untuk memprediksi kesuburan dengan menggunakan lendir serviks. Jika dia kehendaki, bantu dia memilih metode lain
. pada Metode Ovulasi Billings (MOB) klien harus belajar benar-benar untuk mengenal pola dasar ke tidak suburban.
Menyusui Jelaskan kepada klien bahwa akan menjadi lebih sulit untuk mempredikasi kesuburan dengan menggunakan lendir serviks. Jika dia kehendaki, bantu dia memilih metode lain. Pada Metode Ovulasi Bilings (MOB) klien harus belajar benar-benar untuk mengenal pola dasar ke tidak suburan.


J. Aturan senggama adalah sebagai berikut
a. Tidak dilakukan pada hari yang berurutan selama periode pra-ovulasi pasca haid agar cairan semen tidak mengaburkan perubahan mukus serviks yang diamati.
b. Pemantangan jika mukus menjadi lengket dan lembab.
c. Senggama diperbolehkan mulai hari ke 4 setelah hari terakir mukus yang lengket dan basah. (Darney Philip dkk. 2005. Pedoman Klinis Kontasepsi: Jakarta, Indonesia).

K. Instruksi kepada Klien
• Metode Lendir Serviks Billings/Metode Ovulasi Billings (MOB)
Anda dapat mengenali masa subur dengan memantau lendir serviks yang keluar dari vagina, pengamatan sepanjang hari dan ambil kesimpulan pada malam hari. Periksa lendir dengan jari tangan atau tisu dikuar vagina dan perhatikan perubahan perasaan kering basah. Tidak dianjurkan untuk periksa kedalam vagina.
• Untuk menggunakan Metode Ovulasi Billings (MOB) ini, seorang perempuan harus belajar mengenali Pola Kesuburan dan pola dasar ketidak suburannya. Untuk menghindari kekeliruan dan untuk menjamin keberhasilan pada awal masa belajar, pasangan diminta secara penuh tidak bersenggama pada satu siklus haid, untuk mengenali pola kesuburan dan pola ketidak suburan.
• Pola kesuburan adalah pola yang terus berubah, dan pola dasar ketidak suburan adalah pola yang sama sekali tidak berubah dari hari ke hari. Kedua pola ini mengikuti kegiatan hormon-hormon (khususnya estrogen dan progesteron) yang mengontrol daya tahan hidup sperma dan pembuahan. Oleh karena itu, dapat memberi informasi yang dapat diandalkan untuk mendapatkan atau menunda kehamilan.
• Suatu catatan yang sederhana dan tepat adalah kunci untuk keberhasilan. Suatu rangkaian kode digunakan untuk melengkapi catatan. Kode ini harus cocok dengan budaya lokal dan dapat digunakan oleh pengguna KBA secara luas. Di beberapa tempat dipakai tempelan / stiker atau tinta berwarna, ditempat lain lebih praktis membuat kode yang dapat ditulis dengan tangan; ada juga yang mengkombinasikan keduanya yaitu kode yang ditulis tangan dengan menggunakan pensil berwarna. Contoh berikut adalah tabel pencatatan kode untuk siklus normal (teratur) biasa, berkisar antara 28 hari dan siklus normal (teratur) pendek, berkisar antara 20-25 hari. (Darney, Philip.2005)

L. Metode Lendir Serviks
Metode lendir serviks dilakukan dengan wanita mengamati lendir serviksnya setiap hari. Lendir bervariasi selama siklus. Setelah menstruasi, ada sedikit lendir serviks dan ini sering kali disebut sebagai “kering”. Kadar hormon estrogen dan progesteron rendah dan lendir tersebut dikenal sebagai lendir tidak subur. Mungkin tidak ada lendir serviks atau mungkin terlihat lengket dan jika direntangkan diantara dua jari, akan putus. Ketika ovum mulai matang, jumlah estrogen yang dihasilkan meningkat, yang menyebabkan peningkatan lendir serviks. Hal ini menandai permulaan fase subur. Kadar estrogen terus naik sebelum terjadi ovulasi dan jumlah lendir serviks meningkat, menjadi jernih dan melar apabila dipegang diantara dua jari, lendir dapat diregangkan dengan mudah tanpa terputus. Lendir ini digambarkan terlihat seperti putih telur mentah dan disebut lendir subur. Hari terakhir lendir jenis ini disebut hari puncak lendir, yang hanya dapat diidentifikasi secara retrospektif. Empat hari setelah hari puncak lendir, lendir tersebut menjadi kental, lengket, dan keruh dan disebut sebagai lendir tidak subur. Perubahan lendir ini terajdi karena ovum telah dilepaskan dan kadar estrogen telah turun.
Wanita diajar mengamati dan mencatat lendir serviknya beberapa kali dalam sehari, baik dengan mengumpulkannya pada kertas toilet ataupun dengan memasukkan jari tangannya kedalam vaginanya untuk memeriksa konsistensi dan tampilannya. Ia juga didorong untuk mengenali perubahan sensasi lendir serviknya. Uji coba terakhir (Indian Council of Medical Research Task Force on Natural Family Planning, 1996) yang meneliti metode lendir serviks.  



2 komentar: