Jumat, 13 November 2009

MANAJEMEN KEBIDANAN IBU BERSALIN PADA Ny. X DENGAN PENYULIT KETUBAN PECAH DINI

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kematian ibu memang menjadi perhatian dunia internasional. Organisasi Kesehaatan Dunia (WHO) memperkirakan diseluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Sebuah kematian yang seharusnya tidak perlu terjadi sesungguhnya dapat dihindari(1).
Di Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) tahun 2009 Angka Kematian Ibu ( AKI ) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurut survei kesehatan daerah Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 adalah 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup 24.176 orang. Penyebab kematian ibu terbesar ( 58,1 %) adalah karena perdarahan dan eklamsi. Kedua sebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-45 tahun melakukan ANC minimal 1 kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut survei hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan. Persalinan oleh tenaga kesehatan masih sangat rendah, sebesaar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun(1).
Angka kematian ibu di Indonesia masih tetap tinggi, bahkan jumlahnya meningkat. Hal ini merupakan cerminan keterpurukan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan, sekitar 25-50% kematian perempuan usia subur disebabkan oleh masalah yang terkait dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Ibu hamil yang tidak beresiko, ternyata pada saat persalinan tidak berlangsung normal, sehingga semua kehamilan dianggap berisiko, oleh karena itu ibu hamil harus mendapatkan pelayanan dan pengawasan yang intensif selama periode kamilan, persalinan, dan nifas.(2)
Salah satu contoh kasus komplikasi obstetri adalah ketuban pecah dini, dimana merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Ketuban pecah dini (KPD) sering kali menimbulkan konsekuensi yang berimbas pada morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama pada kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena pertus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus ketuban pecah dini terutama pada pengelolaan konservatif.(2)
Hasil penelitian melaporkan bahwa insidensi KPD berkisar antara 8-10% dari semua kehamilan. Dan dilaporkan bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan cukup bulan dari pada kurang bulan, yaitu sekitar 95%, sedangkan pada kehamilan kurang bulan sekitar 34%.(2,3)
Angka kejadian persalinan dengan KPD di RSUP Dr Kariadi ruang B3 Obstetri pada tahun 2007 sebesar 19,7% dari 90 persalinan normal, sedangkan pada tahun 2008 adalah sebesar 17,3% dari 100 persalinan normal. Dari data di atas menunjukkan bahwa persalinan dengan KPD pada tahun 2007 – 2008 mengalami penurunan. Walaupun angka kejadian tersebut mengalami penurunan namun tetap perlu adanya penatalaksanaan yang tepat sehingga AKI dan AKB (Angka Kematian Bayi) dapat diturunkan.
Berdasarkan masalah diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul Manajemen Kebidanan ibu Bersalin dengan Penyulit Ketuban Pecah Dini. Mengingat komplikasi yang timbul akan mempengaruhi morbiditas dan mortalitas bagi ibu maupun janinnya. Sehingga membutuhkan penanganan yang tepat, dan pada akhirnya Angka Kematian Ibu dan Bayi dapat diturunkan, sesuai dengan visi Indonesia sehat 2010.
............... MAU LEBIH LENGKAP ( BAB 1,2,3,4,5) KTI DENGAN JUDUL INI HUB : ASTRIANI 081901440318 KAMI JUGA MENYEDIAKAN BANYAK KTI KEBIDANAN





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar