Minggu, 06 Desember 2009

KTI KEBIDANAN :HUBUNGAN FAKTOR BUDAYA, PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN DENGAN LAMA PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA IBU YG MEMPNYAI BYI USIA 6 BLN SMPAI 1 TH

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Menurut Media Indonesia Online (2005), ASI adalah cairan hidup yang dapat terus menyesuaikan kandungan zatnya terhadap kebutuhan bayi. ASI adalah makanan terbaik untuk menjamin kesehatan/pertumbuhan bayi/anak, diberikan pada usia 0-2 tahun (Suryanah, 1996 : 61). ASI sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, ASI juga mengandung zat pelindung (Perinasia, 2004 : 1). Minimnya pengetahuan masyarakat tentang ASI karena perubahan sosial budaya. Karena keinginan mengikuti modernitas, banyak ibu-ibu yang meninggalkan ASI yang dinilai ketinggalan zaman. Sesuai pendapat dari Soetjiningsih (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan ASI antara lain : Perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor kurangnya penerangan tentang manfaat ASI oleh petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI, meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI, penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng (Soetjiningsih, 1997 : 17).
MAU KTI LENGKAP BAB 1,2,3,4,5 HUB. 085727707236

Menurut Media Indonesia Online (2005), hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah usia 2 bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi yakni 46% pada usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5 bulan. Banyak informasi menggambarkan besarnya persentase pemberian ASI eksklusif tetapi belum banyak informasi penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif. Survey awal di BPS Ny.”E“ di desa Plumpung, Plaosan, Magetan diperoleh data, dari 10 bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun yang mendapat ASI eksklusif hanya 2 orang.
Dampak yang ditimbulkan yaitu dengan ASI, anak tidak saja menjadi lebih pandai dan lebih sehat, tapi juga kemampuan spiritualnya lebih bagus. Anak-anak yang diberi ASI akan merasakan 20 kali lebih jarang mencret, 7 kali lebih jarang mengidap radang paru-paru, 4 kali lebih jarang radang otak, bahkan kemungkinan untuk kanker getah bening menurun 6-8 kali. Belum lagi dengan alergi atau infeksi telinga. IQ jelas tapi EQ dan SQ juga lebih bagus. Kemudian perbedaan biaya yang dikeluarkan selama setahun, anak susu formula 16 kali lebih sering dirawat dibandingkan dengan anak yang diberi ASI (www.republika.com. Januari 2005).
Dari kenyataan yang ada diharapkan semua bayi diberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan diharapkan dapat memberi masukan dalam meningkatkan penyuluhan mengenai pemberian ASI eksklusif disamping itu diadakannya rawat gabung, penempatan bidan yang dirasa sangat kekurangan sekali, larangan penayangan iklan-iklan susu formula di stasiun televisi, meningkatkan kesadaran masyarakat, mulai dari ibu, suami, serta keluarganya akan pentingnya ASI. Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis ingin mengetahui hubungan antara faktor budaya, pendidikan dan pengetahuan terhadap lama pemberian ASI eksklusif.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Meskipun kehebatan ASI tak tertandingi, banyak kendala yang dihadapi para ibu dalam memberikan ASI kepada anaknya, terutama ASI eksklusif. Beberapa kendala seperti : 1. Perilaku menyusui yang kurang mendukung misalnya membuang kolostrum karena dianggap tidak bersih dan kotor, pemberian makanan/minuman sebelum ASI keluar; 2. Kurangnya rasa percaya diri bahwa ASI cukup untuk bayinya; 3. Ibu kembali bekerja setelah cuti bersalin yang menyebabkan penggunaan susu botol/susu formula secara dini sehingga menggeser/menggantikan kedudukan ASI; 4. Gencarnya promosi susu formula, baik melalui petugas kesehatan maupun mass media bahkan langsung kepada ibu-ibu; 5. Faktor psikologis; 6. Faktor fisik ibu (ibu sakit, misalnya, mastitis, panas); 7. Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapatkan penerangan/dorongan tentang manfaat pemberian ASI; 8. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan ibu sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “Adakah hubungan faktor budaya, pendidikan dan pengetahuan dengan lama pemberian ASI eksklusif ?”
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara faktor budaya, pendidikan dan pengetahuan dengan lamanya pemberian ASI eksklusif.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi lamanya pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
2. Mengidentifikasi faktor budaya terhadap lamanya pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
3. Mengidentifikasi faktor pendidikan ibu terhadap lamanya pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
4. Mengidentifikasi faktor pengetahuan ibu terhadap lamanya pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
5. Menganalisa hubungan faktor budaya ibu terhadap lama pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
6. Menganalisa hubungan faktor pendidikan ibu terhadap lama pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
7. Menganalisa hubungan faktor pengetahuan ibu terhadap lama pemberian ASI eksklusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
ASI merupakan susu terbaik untuk bayi. Bayi yang diberikan ASI eksklusif akan menjadi anak yang lebih pandai dan lebih sehat, tapi juga kemampuan spiritualnya lebih bagus. Anak-anak yang diberi ASI akan merasakan lebih jarang mencret, lebih jarang mengidap radang paru-paru, lebih jarang radang otak, bahkan kemungkinan untuk kanker getah bening menurun. IQ jelas tapi EQ dan SQ juga lebih bagus dan perbedaan biaya yang dikeluarkan selama setahun, anak susu formula 16 kali lebih sering dirawat dibandingkan dengan anak yang diberi ASI.
1.5.2 Manfaat praktis
1. Bagi Ibu
Dapat digunakan untuk melanjutkan pelaksanaan pemberian ASI eksklusif sehingga dalam pelaksanaannya terutama mengenai pengetahuan dan pemahaman ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Dapat meningkatkan cakupan ASI Eksklusif dengan meningkatkan penyuluhan tentang ASI Eksklusif.
3. Bagi Peneliti Lain
Peneliti selanjutnya dapat melengkapi data-data yang lebih akurat, dilihat dari berbagai karakteristik serta mengembangkan lagi penelitian dengan desain eksperimental yang membandingkan faktor budaya dan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar