Minggu, 22 Agustus 2010

KTI KEBIDANAN : PENGARUH PENDIDIKAN, USIA, PEKERJAAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI BAYI 0-11 BULAN SESUAI UMUR DI POSYANDU

Butuh KTI KEBIDANAN : BAB 1,2,3,4,5 lengkap dengan olah datanya MURAH Hub segera YUYUN : Hp. 081228101101 atau 081225300100
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Dewasa ini angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak balita tinggi, hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang salah satu penyebabnya adalah penyakit menular. Padahal penyakit ini sebagian dapat dicegah dengan pemberian kekebalan terhadap bayi dan anak. Dengan demikian sebagai petugas kesehatan dalam usaha menurunkan angka kesakitan, kematian tersebut sangat perlu mengetahui dan terampil dalam pemberian imunisasi dalam upaya mencegah suatu penyakit tertentu (Depkes RI, 1992:48).
Pada tahun 1972 Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar dan pada April 1974 resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Pada tahun 1976 pelaksanaan vaksinasi gabungan BCG, DPT, TT di Puskesmas berhasil dengan baik. Tahun 1979-1984 pelaksanaan imunisasi secara nasional telah dimulai. Angka pencakupan imunisasi untuk anak di bawah 15 bulan 58% pada tahun 1981 meningkatkan menjadi 80% pada tahun 2000 (Suryanah, 1996:88). Di Puskesmas Plaosan data presentasi cakupan imunisasi bayi : BCG : 86,17% ; DPT 3 : 71,22%, ; Polio : 59,97% ; Campak : 77,81% ; Hb 3 : 74,76%. Di Desa Pacalan cakupan imunisasi BCG : 102% ; DPT 1 : 58% ; DPT 2 : 55% ; DPT 3 : 42% ; Polio 1 : 100% ; Polio 2 : 100% ; Polio 3 : 102% ; Polio 4 : 104% ; Hb 1 : 98% ; Hb 2 : 58% ; Hb 3 : 56% ; Campak : 104%. (Dinkes Magetan tahun 2005). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa cakupan kelengkapan imunisasinya bervariasi. Ada yang sesuai target cakupan tetapi ada juga yang belum memenuhi target cakupan imunisasi.


Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada anak sehingga bila anak itu mendapatkan infeksi tidak akan meninggal atau menderita cacat. Imunitas ada dua yaitu pasif dan aktif. Pasif ialah bila tubuh anak tidak dapat membentuk kekebalan, tetapi hanya menerimanya saja, sedangkan aktif ialah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan terbentuknya imunitas (FKUI, 1985:2). Imunisasi sudah harus lengkap pada usia kurang dari 18 bulan. Bila pada usia <18 bulan belum vaksinasi lengkap maka anak tersebut dianggap drop out. Pencegahan drop out adalah suatu usaha untuk melaksanakan vaksinasi. Pada usia kurang dari 12 bulan pelaksanaannya disesuaikan dengan hasil pemantauan setempat (Suryanah, 1996:90). Sedikitnya 70% dari penduduk suatu daerah atau negeri harus mendapat imunisasi. Manfaat imunisasi ialah untuk menurunkan mortalitas dan cacat serta bila mungkin didapatkan eradikasi sesuatu penyakit dari suatu daerah atau negeri (FKUI, 1985:2).Dampak yang ditimbulkan bila tidak diimunisasi: kemungkinan akan rentan terjangkit penyakit infeksi, menimbulkan cacat bila penyakit menjadi parah, akibat fatal menimbulkan kematian.
Kelengkapan imunisasi pada bayi menandakan keberhasilan program imunisasi yang diantaranya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia, jenis pekerjaan ibu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup (Kuntjoroningrat, 1997). Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat fakta, simbol, prosedur, teknik dan teori (Notoatmojo, 1996:127). Usia mempengaruhi ibu dalam mengimunisasikan bayinya secara aktif. Menurut Latipun (2001) remaja lebih fleksibel dalam mengubah sikap dan tingkah lakunya dibanding dengan orang yang sudah dewasa. Demikian pula dangan jenis pekerjaan ibu. Menurut Markum (1991) dalam Nursalam (2001) mengatakan bahwa bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi ibu-ibu dan akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan berkeluarga, termasuk dalam hal keaktifan ibu dalam mengimunisasikan bayinya sehingga akan mempengaruhi kelengkapan imunisasi bayi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian untuk mempelajari pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu: 1). Perilaku terhadap imunisasi ; 2). Tingkat pendidikan formal; 3). Usia ibu; 4). Jenis pekerjaan; 5) Perilaku petugas kesehatan; 6). Tingkat pengetahuan tentang imunisasi ;7 ). Motivasi dari pemimpin, teman, keluarga; 8). Sosial ekonomi ; 9). Sarana dan fasilitas ; 10). Sosial budaya ; 11). Letak geografis (Notoatmodjo, 2003). Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.
1.3 Rumusan masalah
Rumusan masalah yang kami susun adalah : apakah ada pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur?
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan ibu .
2. Mengidentifikasi usia ibu
3. Mengidentifikasi jenis pekerjaan ibu.
4. Mengidentifikasi kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.
5. Menganalisa pengaruh pendidikan, usia, pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi bayi 0-11 bulan sesuai umur.
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi institusi
Penelitian ini dimaksudkan untuk bahan bacaan khususnya dalam bidang perpustakaan yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, usia, pekerjaan dan kelengkapan imunisasi bayi.
1.4.2 Bagi ibu
Sebagai bahan masukan yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu bahwa imunisasi sangat penting bagi bayi untuk mencegah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.
1.4.3 Bagi peneliti
Dengan diadakannya penelitian secara tepat maka dapat diketahui hasil yang relevan sehingga dapat dijadikan masukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
1.4.4 Bagi peneliti lain
Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain tentang hasil penelitian lainnya yang dirasa sangat perlu untuk penelitian selanjutnya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendidikan
2.1.1 Pengertian
Menurut UU No. 20 tahun 2003 BAB I pasal 1(Hamid, 2003:2) menyebutkan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya misalnya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlaq bangsa dan negara”
2.1.2 Jalur, jenjang dan jenis pendidikan
2.1.2.1 Jalur pendidikan terdiri atas: 1) Pendidikan formal, 2)Pendidikan non formal, 3) Pendidikan informal (pasal 13 ayat 1).
2.1.2.2. Jenjang pendidikan
1. Pendidikan dasar
Merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau berbentuk lain yang sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau madrasah Tsanawiyah (MTs) atau berbentuk lain yang sederajat (pasal 17 ayat 122).





2. Pendidikan menengah
Merupakan lanjutan pendidikan dasar terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah berbentuk (SMA), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat (pasal 18 ayat 1, 2, 3).
3. Pendidikan tinggi
Merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan dokter yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka (pasal 19 ayat 1,2). Pendidikan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, dan institusi/universitas, (pasal 20 ayat 1) (Hamid, 2003:11).
22. Usia
Usia adalah umur individu yang dihitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth..B.H, 1995). Struktur umur penduduk berhubungan dengan tingkat kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk. Umur dianggap perlu dalam hal imunisasi.
Menurut Wolf (1984) pertumbuhan dan perkembangan psikososial manusia permulaan masa dewasa adalah:
2.2.1 Umur < 20 tahun.
Merupakan tahun perpindahan dari masa anak ke masa remaja, ketika perkembangan agak tegas dan perubahan-perubahan terjadi setapak demi setapak. Pada usia ini nilai etis, moral, ideologi menjadi bersatu padu, saat membuat pilihan untuk teman hidup, mempunyai anak, berkarir dan belajar untuk menerima yang baik disamping yang buruk.
2.2.2 Umur 20-30 tahun.
Secara fisiologis dan intelektual dikatakan mencapai kedewasaan maksimum. Secara psikososial mulai membina rumah tangga. Mereka mengambil langkah yamg besar sekali menuju masa dewasa yang masih asing dimana tiba-tiba ia diharapkan dapat bertindak efisien dan bersikap menurut peraturan masyarakat orang dewasa.
2.2.3 Umur >30 tahun.
Pada usia ini pria sibuk dengan karir mereka dan tekanan- tekanan untuk sukses dan maju, sedang wanita sibuk dengan mengasuh anak dan sebagai ibu rumah tangga. Masalah yang timbul pada beberapa pasangan adalah perasaan gelisah. Wanita mulai bertanya- tanya apakah hidup ini hanya mengasuh anak dan menjadi ibu rumah tangga dan berpikir apakah mereka dapat bekerja secara maksimal.
Bila usia dihubungkan dengan kemampuan individu untuk mangambil keputusan dalam menentukan perilaku kesehatan, Widayatun (1999) mengatakan bahwa
“individu akan berperilaku atau beraktifitas berdasarkan hasil gabungan antara pembawaan lingkungan dan kematangan usia. Yang dimaksud disini semakin bertambah umur seseorang maka kemampuan seseorang untuk menganalisa masalah semakin tinggi karena dipengaruhi oleh pengalaman. Selain itu bila seseorang lebih dewasa maka ia akan lebih matang dalam proses berpikir. Semakin dewasa umur seseorang maka akan lebih konstruktif pula dalam menggunakan kopingnya terhadap masalah ataupun sesuatu hal yang baru yang sedang dihadapinya”.

2.3 Jenis pekerjaan
Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak bertentangan (Erich, 1996). Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan berkeluarga (Markum, 1991)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar