Selasa, 24 Agustus 2010

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI IBU BALITA TENTANG PERAN KADER DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN BALITA KE POSYANDU

BUTUH REFERENSI LENGKAP (BAB 1,2,3,4,5) HUB YUNI Hp. 081 228 101 101 atau 081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan tujuan bersama, maka jajaran kesehatan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, sektor-sektor terkait dan sektor swasta dan penyelenggaraan pembangunan-pembangunan kesehatan (Castor, 2004). Peran serta atau partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan dalam bentuk nyatanya bisa dengan berbagai cara. Misalnya dari keikutsertaan secara sukarela dalam kegiatan kader kesehatan desa, sampai perilaku membuka suatu Rumah Sakit Swasta dengan fasilitas yang canggih dan modal biaya yang besar (B. Budioro, 2007). Usaha kesejahteraan ibu dan anak yang bergerak dalam pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan umum dari masyarakat. Balai KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) melayani pemeliharaan kesehatan ibu, bayi dan anak sampai umur 5 tahun (Entjang, 2000). Partisipasi masyarakat dalam penimbangan di Posyandu Provinsi Jawa Timur tahun 2007 ditargetkan harus mencapai 80% (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2007).
Haryono (2005) di kutip dalam Sadono (2005) penggagas konsep Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) menyatakan Posyandu memang garda terdepan untuk mendeteksi upaya pembangunan kesejahteraan secara terpadu. Dari apa yang dilaksanakan Posyandu ini bisa dipantau upaya untuk membangun sumber daya manusia, seperti yang diukur oleh UNDP (United Nations for Development Index). Pelaksanaan Posyandu ini menyangkut kesehatann balita, kesehatan ibu, kesehatan lansia, bahkan ditambah dengan kepesertaan dalam KB (Keluarga Berencana) (Sadono, 2005). Hingga saat ini, tercatat sekitar 235.000 Posyandu di seluruh Indonesia. Jumlah Posyandu ini diharapkan akan semakin bertambah banyak, sehingga berbagai program kesehatan yang diselenggarakan pemerintah bisa menjangkau warga masyarakat di desa-desa (Ma’ruf, 2007).
Posyandu adalah akronim yang sudah sangat familiar di telinga masyarakat kita, awalnya adalah sebuah organisasi pelayanan pencegahan penyakit dan keluarga berencana bagi kalangan istri berusia subur dan balita. Posyandu sebenarnya juga merupakan salah satu kegiatan dari lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM). Tapi dalam pelaksanaannya selama ini masih banyak Posyandu yang belum berjalan dengan semestinya, yang berjalan saat ini terbatas pada kegiatan penimbangan bayi dan pengisian KMS, meja komunikasi, dan meja tindakan (Dinkes Bonebolango, 2009).
Permasalahan yang sering muncul adalah kegiatan posyandu terkesan sebagai kegiatan rutinitas penimbangan balita, dan pemberian imuniasi sementara penggerakkan aksi masyarakat dan komunikasi masa / kunjungan ke rumah hampir tidak ada. Kader yang tidak aktif dan apabila aktif selalu berjuang sendiri bersama tim penggerak PKK. Komunikasi hanya terbatas antara kader kesehatan dengan ketua tim penggerak PKK, atau antara para ibu dengan para petugas kesehatan pada tingkat Puskesmas. Dari permasalahan ini dampaknya adalah jumlah kunjungan Posyandu sangat rendah, karena masyarakat memandang Posyandu sebagai sebuah rutinitas biasa yang kalau dijalankan tergantung waktu luang karena tidak memberikan sebuah pengaruh yang signifikan jumlah kader yang bertugas di Posyandu ada lima orang tetap dengan satu orang di setiap meja. Titik terlemah ada di meja ke empat ini memegang fungsi sangat penting. Di sini hasil penimbangan seorang anak dikomunikasikan (Dinkes Bonebolango, 2009).
Di Kelurahan Sukorejo terdapat 11 Posyandu aktif semua, dengan jumlah kader 55 orang dan yang aktif ada 30 orang (54.55 %), sedangkan jumlah balita ada 670 anak dan yang aktif ke Posyandu ada 469 anak (70 %). Hal ini masih di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 80 %. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara Persepsi Ibu Balita tentang Peran Kader dengan Frekuensi Kunjungan Balita ke Posyandu di xxx”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahannya adalah apakah ada hubungan yang signifikan antara persepsi ibu balita tentang peran kader dengan frekuensi kunjungan balita ke Posyandu di xxx ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara persepsi ibu balita tentang peran kader dengan frekuensi kunjungan balita ke Posyandu.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui persepsi ibu balita tentang peran kader dalam Posyandu.
b. Mengetahui frekuensi kunjungan balita ke Posyandu.
c. Mengetahui hubungan antara persepsi ibu balita tentang peran kader dengan frekuensi kunjungan balita ke Posyandu di xxx.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah pengetahuan bagi para mahasiswa tentang Posyandu dan peran kader dalam Posyandu.
2. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dapat digunakan sebagai motivasi untuk melaksanakan program-program Posyandu agar bisa dilaksanakan dengan lebih baik.
3. Bagi Profesi
Dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan kerjasama dengan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan Posyandu.


4. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman dan ikut berperan langsung dalam kegiatan Posyandu untuk meningkatkan kegiatan Posyandu.
5. Bagi Masyarakat
a. Agar masyarakat lebih memahami pentingnya Posyandu bagi perkembangan dan pertumbuhan balita.
b. Agar kegiatan Posyandu lebih maju sesuai Program yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
c. Untuk meningkatkan parisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu.
d. Untuk meningkatkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TEORI
1. Persepsi
a. Pengertian
1). Persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita melihat, mendengar, memberi serta meraba (kerja indra) di sekitar kita (Widayatun, 1999).
2). Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa (Uripni, 2003).
b. Proses Terjadinya Persepsi
Proses terjadinya persepsi adalah karena objek atau stimulus yang merangsang untuk ditangkapnya panca indra (objek tersebut menjadi perhatian panca indra), kemudian stimulus atau objek dari otak terjadinya adanya “kesan” atau jawaban (respon) adanya stimulus, berupa kesan kembali ke indra berupa tanggapan atau persepsi atau hasil kerja berupa pengalaman hasil otak (Widayatun, 1999)



1 komentar:

  1. apakah persepsi itu,bisa dikatakan juga sebagai ilmu psikolog?

    BalasHapus