Rabu, 28 Desember 2011

KTI KEBIDANAN 2012 : HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI DESA

UNTUK LEBIH LENGKApP BAB I-V MURAH : HUB HP : 081 225 300 100

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Kehamilan, persalinan dan melahirkan merupakan suatu proses yang akan dilalui oleh setiap wanita. Dalam kehamilan seorang wanita akan mengalami perubahan-perubahan, salah satunya adalah perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis tersebut terjadi pada awal kehamilan sampai berakhirnya trimester ke tiga. Perubahan fisiologis tersebut akan mempengaruhi kondisi psikologis ibu. Sebagian ibu akan menyambut kehamilannya dengan perasaan bahagia, di sisi lain ibu juga merasakan kecemasan dan ketakutan akan perubahan fisik dan kondisi janinnya, terutama pada saat akan memasuki proses persalinan. Proses persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu (Prawirohardjo, 2005; h. 180). Perasaan bahagia akan dirasakan oleh ibu saat melihat bayinya lahir dengan keadaan normal dan sehat. Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Sebelum wanita hamil memasuki proses persalinan atau saat memasuki kehamilan trimester tiga, hendaknya sudah memikirkan tentang pemilihan tenaga penolong persalinan. Seorang wanita hamil dalam memilih tenaga penolong persalinan akan mempertimbangkan beberapa aspek, salah satunya dipengaruhi oleh kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat. Menurut beberapa penelitian menunjukkan masih tingginya persalinan dengan bantuan dukun disebabkan rendahnya pendidikan dan pengetahuan ibu maupun keluarga, rendahnya pendapatan, jarak yang sulit terjangkau, sulitnya birokrasi dan administrasi serta mahalnya biaya persalinan. Maka dari itu, sejak awal kehamilan perlu dipertimbangkan pemilihan tenaga penolong persalinan. Setiap wanita berhak untuk menentukan kapan ia akan melahirkan, berapa jumlah anak dan jarak anak yang dilahirkan. Maka dari itu perlu diperhatikan tentang kesehatan reproduksi. Kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya sangatlah penting, sehingga dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko. WHO memperkirakan kesehatan reproduksi yang buruk berjumlah 33% dari jumlah total beban penyakit pada wanita dibanding dengan pria pada usia yang sama yang hanya 12,3%. Setiap tahunnya sekitar 4.500.000 wanita melahirkan di Indonesia dan sekitar 15.000 mengalami komplikasi yang menyebabkan kematian. Menurut data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), pada tahun 2003 AKI sebanyak 307/100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007 AKI menjadi 228/100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2008 sekitar 4.692 ibu meninggal pada masa kehamilan, persalinan dan nifas. Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa AKI mengalami penurunan. Dewasa ini Indonesia telah ikut menyepakati sasaran-sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Salah satu sasaran MDGs adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Salah satu yang menjadi penyebab kematian ibu adalah terjadinya perdarahan karena pertolongan yang salah. Untuk itu analisis terhadap penolong persalinan penting karena salah satu indikator dalam program safe motherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya oleh tenaga kesehatan. Semakin tinggi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan semakin rendah risiko terjadinya kematian. Fakta di lapangan juga menunjukkan masih banyak persalinan khususnya di pedesaan masih ditangani oleh penolong persalinan tidak terdidik, seperti dukun bayi. Berdasarkan Profil Kesehatan RI 2000 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hanya 4 propinsi yang telah mencapai sasaran ≥ 75%, yaitu Propinsi Bali (94,9%), D.I. Yogyakarta (84,9%), Jawa Timur (80,1%), dan Sulawesi Tenggara (75,1%). Pada tahun 2003 Propinsi Jawa Tengah, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 64,6 %, sedangkan pada tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 73,06%, namun hal ini masih jauh dari target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 80%. Target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan untuk Kabupaten Semarang adalah 90%, sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Renstra Depkes 2005-2009 dan Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu sebesar 90%. Dari data yang telah dilaporkan, pada tahun 2005 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Semarang sebesar 81,36%, dan ditolong oleh dukun terlatih sebesar 18,64%, sedangkan pada tahun 2007 cakupan petolongan persalinan untuk Kabupaten Semarang sebesar 87,64% (Henry Sofyan. Suaramerdeka.com//Senin; 28 Februari 2011). Penyebab kematian ibu diantaranya adalah perdarahan 45%, infeksi 15%, dan eklamsia 13%. Penyebab lain komplikasi aborsi 11%, partus lama 9%, anemia 15%, Kurang Energi Kronis (KEK) 30% . Komplikasi kehamilan dan persalinan sebagai penyebab kematian ibu dialami sekitar 15-20% dari seluruh kehamilan, hal tersebut dikarenakan kurangnya deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan dan komplikasi dalam persalinan yang tidak ditangani dengan tepat (Depkes RI, 2003). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Borangan Kelurahan Pringapus Kecamatan Candirejo pada tahun 2010 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih relatif rendah dibandingkan dengan target cakupan persalinan di Kabupaten Semarang yaitu sebesar 74,50% dan sebanyak 25,50% ditolong oleh tenaga non kesehatan (dukun bayi). Persalinan yang dilakukan dengan cara tidak aman yaitu oleh tenaga non kesehatan dapat menyebabkan komplikasi selama persalinan. Dari data persalinan yang mengalami masalah selama tahun 2010 ditemukan beberapa kasus, diantaranya : 2 kasus perdarahan, 1 kasus kematian bayi dalam kandungan dan 4 kasus partus lama. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui tentang HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN DI DESA Borangan. B. Rumusan masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di Desa Borangan?”. C. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di Desa Borangan. 2. Tujuan khusus a Untuk mengetahui distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden b Untuk mengetahui distribusi frekuensi pemilihan tenaga penolong persalinan c Untuk menganalisis tingkat pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Memberikan pengalaman dan pengetahuan baru tentang penelitian ini serta dapat mengaplikasikan ilmu yang di peroleh selama perkuliahan. 2. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dalam pemilihan tenaga penolong persalinan yang aman. 3. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan kajian pustaka bagi kemajuan ilmu pengetahuan. 4. Bagi Masyarakat Untuk memberikan informasi kepada responden tentang persalinan dan pemilihan tenaga penolong persalinan. E. Keaslian penelitian Penulis mencatat terdapat penelitian serupa terkait dengan penelitian yang sedang penulis lakukan, yaitu : 1. Endang Rahmawati, (2009) dengan judul “Hubungan tingkat sosial ekonomi dengan persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan di Desa Sekuro kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara”. Metode yang di gunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross secsional, variabel indepandent adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan variabel dependent adalah sosial ekonomi data di ambil dengan metode kuesioner. Hasilnya tidak ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi responden dengan persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan. Sehingga perbedaan antara penelitian Endang Rahmawati dengan penelitian ini adalah pada subjek penelitian, lokasi, waktu dan metode penelitian. Sedangkan persamaan penelitian Endang Rahmawati dengan penelitian ini adalah pada desain penelitian, yaitu menggunakan cross sectional. 2. Anik Dwi Jayanti, (2010) dengan judul “Gambaran karakteristik ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan di Desa Sitirejo Kecamatan Tunjungan Blora”. Dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, variabel dalam penelitian adalah karakteristik ibu yang melahirkan dengan tenaga kesehatan dengan sub variabel pada penelitian meliputi : usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dan tingkat pengetahuan. Sehingga perbedaan antara penelitian Anik Dwi Jayanti dengan penelitian ini adalah pada subjek penelitian, lokasi, waktu dan metode. Sedangkan persamaan penelitian Anik Dwi Jayanti dengan penelitian ini adalah pada desain penelitian, yaitu menggunakan cross sectional. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Konsep Dasar Persalinan 1. Pengertian persalinan Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Prawirohardjo, 2005; h. 180). Persalinan dan kelahiran adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Syaifuddin, 2006; h. 100). Persalinan normal adalah proses lahirnya janin dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayinya yang pada umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Ujiningtyas, 2009; h. 1). Menurut Mutayan, (2009; h. 62) Intranatal adalah suatu proses terjadinya pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar