Rabu, 28 Desember 2011

KTI-SKRIPSI KEBIDANAN : HUBUNGAN ANTARA KEAKTIFAN KADER DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN BALITA KE POSYANDU BALAI DESA

BUTUH KTI LENGKAP Hub : 081 225 300 100

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Di Indonesia, pada tahun 2007 terdapat sekitar 240.000 posyandu. Dengan jumlah kader sekitar ± 1.200.000 kader dan kunjungan balita ke posyandu pada tahun 2007 meningkat dari 43% menjadi 75%. Di Jawa tengah, pada tahun 2006 tercatat 46.388 posyandu dengan jumlah kader pada tahun 2010 yaitu 275.555 kader terdiri kader aktif 82%, sedangkan kader pasif 18,1% dan kunjungan balita ke posyandu tahun 2008 yaitu dari 38,98% menjadi 44,76%. Sedangkan di Demak, pada tahun 2010 terdapat 1212 posyandu dan 6060 jumlah kader (kader aktif 80% dan kader pasif 20% ) dengan kunjungan balita ke posyandu pada tahun 2009 yaitu dari 32,27% menjadi 59,63%. (1,2,3,4,5,6) Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Karena kesehatan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, namun merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta. (7) Masyarakat yang mandiri dan berkeadilan merupakan visi rencana strategis Departemen Kesehatan tahun 2010 – 2014 dalam program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu periode kedua. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi pembangunan kesehatan antara lain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas, merupakan modal utama dalam pembangunan kesehatan. (1) Keberhasilan pembangunan kesehatan Indonesia tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. Salah satu peran aktif masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat yang diwujudkan melalui berbagai upaya yang dimana dimulai dari diri sendiri, keluarga sampai dengan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat (UKBM). Upaya kesehatan yang bersumber masyarakat inilah yang telah dikembangkan. Salah satunya adalah posyandu. (7) Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. (8) Keberhasilan kegiatan posyandu sangat bergantung pada partisipasi secara aktif dari kader yang bertugas di posyandu dengan sukarela mengelola posyandu di wilayahnya masing – masing. Kurangnya pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan keterampilan yang memadai bagi kader menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap tugas kader, lemahnya informasi serta kurangnya koordinasi antara petugas puskesmas dengan kader dalam pelaksananan kegiatan posyandu sebagai penyelenggara pelayanan professional untuk membimbing kader agar mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara optimal. (7) Permasalahan yang sering muncul adalah kegiatan posyandu sebagai kegiatan yang rutinitas penimbang balita, pemberian imunisasi sementara, kunjungan kerumah hampir tidak ada, komunikasi hanya terbatas antara kader dengan ketua tim penggerak PKK atau antara para ibu dengan petugas kesehatandan ketidak aktifan kader dalam kegiatan posyandu. (9) Sesuai dengan fakta yang ada di Demak pada tahun 2009 yang dimana lebih banyak posyandu pratama 36,00% dari pada posyandu mandiri 3,02%. Belum tercapainya posyandu mandiri disebabkan karena beberapa faktor diantaranya sumber daya masyarakat yang masih sangat rendah, banyak kader posyandu yang masih drop out, sarana dan prasarana yang belum memadai, belum adanya penghargaan bagi kader yang berprestasi dan belum optimalnya kegiatan UKBM di tingkat desa termasuk krisis ekonomi yang berkepanjangan yang tak kunjung usai. (6) Dampak dari kurang aktifnya kader adalah jumlah kunjungan balita yang sangat rendah, karena masyarakat memandang posyandu sebagai suatu rutinitas biasa yang kalau dijalankan tergantung waktu luang karena tidak memberikan sebuah pengaruh yang signifikan jumlah kader yang bertugas di posyandu ada 5 orang tetapi dengan 1 orang setiap meja. (9) Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi dampak krisis ekonomi terhadap penurunan status gizi kesehatan ibu dan anak, yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi kerja dan kinerja posyandu. Pelaksanaannya diselenggarakan dengan dukungan Lembaga Kesehatan Masyarakat Desa, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta sektor swasta . (7) Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan setiap keluarga dalam memaksimalkan potensi pengembangan kualitas sumber daya manusia diperlukan dalam upaya revitalisasi posyandu sebagai unit pelayanan kesehatan dasar masyarakat yang langsung dapat dimanfaatkan untuk melayani pemenuhan kebutuhan dasar, pengembangan kualitas manusia sekaligus sebagai satu komponen perwujudan kesejahteraan keluarga. (7) Kunjungan balita ke posyandu adalah datangnya balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperti penimbangan, imunisasi, penyuluhan gizi. Kunjungan balita yang paling baik adalah secara teratur setiap bulan. Dalam hal ini kunjungan balita sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur balita, jumlah anak dalam keluarga, status pekerjaan ibu. (7) Sehingga dapat diidentifikasikan bahwa balita yang berumur 12- 35 bulan sangat berpengaruh terhadap kunjungan, kesenjangannya walaupun balita berumur 12 – 35 bulan ada juga yang tidak datang ke posyandu. Semakin besar jumlah anak dalam keluarga semakin sulit ibu mengatur waktu untuk hadir ke posyandu, kesenjangannya walaupun anaknya banyak tetapi ibu tetap akan hadir ke posyandu. Pada ibu yang bekerja maka waktu untuk berpartisipasi ke posyandu kurang, kesenjangannya walaupun ibu masih bekerja tetapi ibu tetap akan meluangkan waktunya untuk ke posyandu. Semakin rendah penghasilan seseorang maka akan menjadi penghambat batas seseorang untuk mengubah perilakunya. (7,10,11) Kader posyandu bekerja di tempat pelayanan kesehatan yang dimana memiliki kegiatan baik di dalam maupun di luar posyandu. Kegiatan di dalam posyandu yaitu mempersiapkan alat dan bahan, mengundang dan menggerakkan masyarakat, yaitu memberitahu ibu – ibu untuk datang ke posyandu; menghubungi pokja (kelompok kerja) posyandu, yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa; serta melaksanakan pembagian tugas, yaitu menentukan pembagian tugas diantara kader posyandu baik untuk persiapan maupun untuk pelaksanaan kegiatan. Sedangkan kegiatan kader diluar posyandu yaitu melaksanakan kunjungan rumah, menggerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan posyandu dan membantu petugas kesehatan dalam penyuluhan dan berbagai usaha kesehatan masyarakat. (12,13) Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak pada bulan April tahun 2011 terdapat 4 Posyandu, dengan jumlah kader 20 orang (10 kader yang aktif dan 10 kader yang tidak aktif) sedangkan jumlah balita 237 balita. Dari 4 posyandu tersebut terdapat satu posyandu yaitu posyandu Balai Desa hanya 1 kader yang aktif dari 5 kader yang ada. Pada tahun 2009 bulan Mei – Desember, semua kader aktif dalam kegiatan posyandu dengan jumlah balita yang terdapat di posyandu Balai desa 54 balita dan kunjungan balita 81%. Pada tahun 2010 bulan Januari – Agustus, kader yang aktif 3 orang dengan jumlah balita 50 balita dan kunjungan balita 76%. Dan pada tahun 2010 bulan September – tahun 2011 bulan April, kader yang aktif 1 orang dengan jumlah balita 57 balita dan kujungan balita 71%. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak”. B. PERUMUSAN MASALAH Dari 4 posyandu yang ada di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung kabupaten Demak terdapat satu posyandu yaitu posyandu Balai Desa hanya 1 kader yang aktif dari 5 kader yang ada. Pada tahun 2009 bulan Mei – Desember, semua kader aktif dalam kegiatan posyandu dengan jumlah balita yang terdapat di posyandu Balai desa 54 balita dan balita yang aktif 80%. Pada tahun 2010 bulan Januari – Agustus, kader yang aktif 3 orang dengan jumlah balita 50 balita dan balita yang aktif 76%. Dan pada tahun 2010 bulan September – tahun 2011 bulan April, kader yang aktif 1 orang dengan jumlah balita 46 balita dan balita yang aktif 71%. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti merumuskan masalah “ Adakah hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak?” C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui keaktifan kader posyandu di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. b. Mengetahui frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. c. Mengetahui hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa Pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. D. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Kader Meningkatkan wawasan kader tentang posyandu sehingga diharapkan dapat meningkatkan motivasi kader untuk aktif dalam kegiatan posyandu. 2. Bagi Puskesmas Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menemukan masalah yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu sehingga pelaksanaan posyandu dapat dilaksanakan secara optimal. 3. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan kunjungan balita ke posyandu serta menambah wawasan tentang pemanfaatan posyandu dan memotivasi masyarakat untuk dapat memanfaatkan posyandu. 4. Bagi Peneliti a. Penelitian ini dapat menerapkan ilmu dan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan. b. Memperoleh tambahan wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman belajar yang nyata dalam melakukan penelitian dibidang kebidanan khususnya tentang hubungan antara keaktifan kader dengan kunjungan balita ke posyandu. 5. Bagi Institusi Pendidikan a. Memperkaya teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan khususnya yang terkait dengan posyandu. b. Sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu. E. KEASLIAN PENELITIAN Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian lain yang terkait dengan Keaktifan kader dan Kunjungan balita sebagai berikut : Tabel 1.1 keaslian Penelitian 1. Betrix Evi Trianes Judul : Studi deskriptif tentang faktor – faktor yang mempengaruhi terhadap kunjungan balita ke posyandu di Dusun Rejosari Desa Cukil. Metode studi kuantitatif bersifat deskriptif, dengan metode purposive sampling dengan menggunakan Kuesioner. Jumlah responden 51 orang. Hasil penelitian ini yang mempengaruhi kunjungan balita adalah tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan, sikap, keterjangkauan jarak posyandu. 2. Wahyu Eka P Judul : Hubungan antara ibu balita dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu di kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunung pati Semarang. Metode studi korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Dengan total sampling dan menggunakuan kuesioner. Jumlah responden 67 orang. Hasil penelitian ini mencakup peran kader meja 1, 2, 3, 4 dan 5. 3. Rosita Candra Dewi Judul : Study kualitatif ketidakaktifan kader posyandu balita di Desa Jlamprang Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo. Metode studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan kuesioner. Jumlah responden 5 orang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan yang tidak aktif dan pernah aktif menjadi kader lebih dari 1 tahun di Posyandu di Desa Jlamprang Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo. Hasil penelitian ini yang mempengaruhi ketidakaktifan kader meliputi pengetahuan, kurangnya motivasi, cara pemilihan, kurangnya peran serta masyarakat, faktor umur, pekerjaan, kesibukan dan kejenuhan menjadi kader. 4. Afni Sundari (2011) Judul : Hubungan antara keaktifan kader dengan frekuensi kunjungan balita ke posyandu Balai Desa di Desa pilangsari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak tahun 2011. Metode studi Study Korelasi dengan pendekatan cross sectional, dengan menggunakan kuesioner. Jumlah responden 36 balita. Hasil penelitian ini mencakup keaktifan kader dalam kegiatan posyandu baik di dalam maupun diluar yang dimana keaktifan kader mempengaruhi kunjungan balita ke posyandu. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terletak pada metode, waktu, tempat , subyek penelitian, dan jumlah responden. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP DASAR 1. Kader Posyandu a. Pengertian Kader Posyandu Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditunjuk oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela. Kader posyandu adalah seorang tenaga sukarela yang dipilih dari, oleh dan untuk masyarakat yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin di posyandu. Seorang kader posyandu harus mau bekerja secara sukarela, ikhlas dan sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan dan mengikuti kegiatan posyandu. (13,14) b. Kriteria kader posyandu



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar