Senin, 11 Oktober 2010

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG DISMENORHEA DAN TINDAKAN DALAM MENGATASI DISMENORHEA DI KELAS X SMA N XXX

KTI KEBIDANAN LENGKAP BAB 1-5, OLAH DATA, KUESIONER HUB. YUNI Hp.081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keadaan normal menstruasi tidak didapatkan gangguan saat menstruasi antara lain nyeri perut bagian bawah, terkadang menjalar ke pinggang dan kaki. Keadaan menstruasi yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, terkadang menjalar sampai ke pinggang dan kaki, ini disebut dismenorhea (Arifin, 2008).
Dismenorhea artinya nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Nyeri haid ini timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri yang ringan sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada sisi medial paha. Istilah dismenorhea hanya dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat sampai menyebabkan penderita terpaksa mencari pertolongan dokter atau pengobatan sendiri dengan analgesik.Yang dimaksud dismenorhea berat adalah nyeri haid yang disertai mual, muntah, diare, pusing, nyeri kepala, dan bahkan kadang- kadang sampai pingsan (Baziad, 2003).
Secara ilmiah, penyebab nyeri haid bermacam- macam, dari meningkatnya hormon prostaglandin sampai dengan perubahan hormonal ketika mulai haid, dan bahkan kecemasan yang berlebihan. Bila dilihat dari faktor penyebabnya, dismenorhea dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu dismenorhea primer dan dismenorhea sekunder (Wiknjosastro, 2005).
Dismenorhea primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat- alat genital yang nyata. Dismenorhea primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2- 3 tahun setelah menstruasi pertama. Penyebab dari dismenorhea primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviks-nya sempit. Pada dismenorhea sekunder, gangguan haid disebabkan adanya gejala penyakit yang berhubungan dengan kandungan, misalnya, endometriosis, infeksi rahim, kista/polip, tumor di sekitar kandungan, kelainan kedudukan rahim yang dapat mengganggu organ, dan jaringan di sekitarnya. Dismenorhea sekunder lebih jarang ditemukan. Hanya sekitar 25% wanita yang mengalaminya dan banyak ditemukan pada wanita usia 20 tahunan (Kasdu, 2005).


Menurut Okparasta (2003), ditinjau dari berat ringannya rasa nyeri, dismenorhea dibagi menjadi:
1. Dismenorhea ringan, yaitu dismenorhea dengan rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat sehingga perlu istirahat sejenak untuk menghilangkan nyeri, tanpa disertai pemakaian obat.
2. Dismenorhea sedang, yaitu dismenorhea yang memerlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri, tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.
3. Dismenorhea berat, yaitu dismenorhea yang memerlukan istirahat sedemikian lama dengan akibat meninggalkan aktivitas sehari-hari selama 1 hari atau lebih.
Tingkatan dismenorhea antara wanita yang satu dengan wanita yang lain berbeda sehingga cara menanggulanginya pun berbeda. Mereka mencoba mencari sendiri upaya untuk mengatasinya, diantaranya mencari pertolongan dokter dan pengobatan sendiri. Dismenorhea dapat mengganggu pekerjaan atau aktifitas sehari-hari, dismenorhea juga bisa menyebabkan seorang pelajar kurang dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran sehingga dapat menurunkan nilai prestasi belajarnya (Anurogo, 2008).
Di Indonesia, angka kejadian nyeri haid 64,25% terdiri dari 54,89% nyeri haid primer dan 9,36% nyeri haid sekunder. Biasanya gejala tersebut terjadi pada wanita usia reproduktif, 3-5 tahun setelah mengalami haid pertama, dan pada wanita yang belum pernah hamil. Rangsangan nyeri yang berlebihan umumnya terjadi pada mereka yang bekerja di pabrik dan faktor militer (Boy, 2007).
Pada awal tahun 2002 telah dilakukan penelitian di 4 SLTP di Jakarta untuk mencari angka kejadian nyeri haid primer. Dari 733 orang subyek penelitian, 543 orang mengalami nyeri haid dari derajat ringan sampai berat (74,1%), sedangkan sebanyak 190 orang (25,9%) tidak mengalami nyeri haid. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nyeri haid paling sering muncul pada usia 12 tahun (46,7%). Pada 43,4% siswi awitan nyeri haid tidak menentu, dimana 23,6% terjadi bersamaan dengan datangnya haid, 13,6% terjadi sebelum datangnya haid dan pada 6,2% terjadi setelah datangnya haid. Puncak nyeri haid pada sebagian besar (55,3%) responden tidak menentu. Sebagian besar (89,7%) rasa nyeri berlokasi di perut bagian bawah, sedangkan 5,3% pada sisi dalam paha dan 4,4% pada bokong. Keluhan lain yang menyertai nyeri haid berupa pusing sebanyak 37,4%, sakit kepala 16,6% dan mual 10,7%. Rasa muntah, diare, pingsan dan lain-lain jarang terjadi. Nyeri haid pada sebagian besar subyek penelitian tersebut (64,3%) tidak menyebabkan gangguan aktivitas dan tidak perlu obat, 27,6% memerlukan obat dan 8,3% dengan aktivitas sangat terganggu meskipun dengan obat-obatan. Dari hasil penelitian tersebut terlihat juga bahwa sebanyak 76,6% siswi tidak masuk sekolah karena nyeri haid yang dialami (Baziad, 2003).
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten XXX menyebutkan bahwa permasalahan remaja pada saat ini adalah semakin meningkatnya jumlah kejadian dismenorhea pada remaja putri dengan perbandingan dari bulan kebulan berikutnya semakin meningkat. Dilihat dari data Dinas Kesehatan Kabupaten XXX tahun 2009 menyebutkan bahwa penderita dismenorhea pada bulan Mei- juli mengalami peningkatan 82, 177, 261 orang, kemudian pada bulan agustus mengalami penurunan menjdi 170 orang, namun pada bulan september sampai november terus meningkat dari 180, 202, 245 penderita dismenorhea (Dinkes Kabupaten XXX, 2009).
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
1. Istirahat yang cukup.
2. Olah raga yang teratur (terutama berjalan).
3. Pemijatan.
4. Yoga.
5. Menjaga pola hidup sehat dengan asupan vitamin dan gizi seimbang.
6. Kompres hangat di daerah perut.
Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur (Zahra, 2009).
Penanganan dismenorhea sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kejadian dismenorhea. Di Jakarta yang sering dilakukan remaja untuk mengatasi dismenorhea adalah dengan mengkonsumsi obat. Obat yang paling banyak digunakan siswi-siswi adalah feminax (53,4%). Obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter dan cepat menghilangkan nyeri haid (Baziad, 2003). Di Jawa Tengah dilakukan pendataan oleh Harun Riyanto, terdapat 1,07%-1,31% dari jumlah penderita nyeri haid yang datang ke bidan (Yastroki, 2001).
Berdasarkan hasil survey yang penulis lakukan di SMA N 1 XXX XXX pada tanggal 4 januari 2010, di kelas X didapatkan jumlah siswa 373 yang dibagi dalam 9 kelas, yang terdiri dari 221 siswa perempuan dan 152 siswa laki-laki. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan terdapat 8 dari 10 siswi (80%) yang masih belum mengetahui tentang dismenorhea, dan tindakan yang bisa dilakukan siswi adalah hanya didiamkan saja, menahan sakit setelah berupaya untuk minum teh hangat dan istirahat namun tak kunjung sembuh. Ada 2 siswi (20%) diantaranya yang memilih pergi ke bidan untuk mendapatkan penerangan dan pengobatan (DATA TU SMA N 1 XXX XXX, 2009).
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “ STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG DISMENORHEA DAN TINDAKAN DALAM MENGATASI DISMENORHEA DI KELAS X SMA N 1 XXX”.

B. Perumusan Masalah
Seorang wanita yang normal setiap bulannya akan mengalami peristiwa reproduksi yaitu menstruasi. Pada wanita yang sedang mengalami menstruasi kadang ditemukan adanya rasa nyeri pada perut yang disebut dengan dismenorhea. Dari hasil survey di SMA N 1 XXX XXX didapatkan 80% siswi yang masih belum mengetahui tentang dismenorhea dan tindakan yang bisa dilakukan siswi adalah hanya didiamkan saja, menahan sakit setelah berupaya untuk minum teh hangat dan istirahat namun tak kunjung sembuh. Dengan adanya hal tersebut maka peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang “Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dan tindakan dalam mengatasi dismenorhea di SMA N 1 XXX XXX” ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dan tindakan dalam mengatasi dismenorhea di SMA N 1 XXX XXX.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang dismenorhea di SMA N 1 XXX XXX.
b. Menggambarkan tindakan remaja putri dalam mengatasi dismenorhea di SMA N 1 XXX XXX.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Memperoleh pengalaman yang baru dan sebagai pembelajaran untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan reproduksi khususnya tentang dismenorhea.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Memberi asuhan yang tepat pada remaja yang mengalami dismenorhea dan penatalaksanaannya.
3. Bagi Profesi Bidan
Menambah pengetahuan bidan tentang asuhan kebidanan pada remaja dengan dismenorhea dan penatalaksanaannya.

E. Keaslian Penelitian

No Nama Peneliti Tahun Judul Metode Hasil
1. Sri Lestari 2007 Hubungan tingkat pengetahuan tentang menstruasi dengan upaya penanganan kejadian dismenorhea pada siswi kelas X di SMA N 1 Pagerbarang Kabupaten Tegal - Jenis penelitian: Analitik dengan pendekatan cross sectional.
- Tujuan penelitian : mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang menstruasi dengan upaya penanganan kejadian dismenorhea.
- Populasi: siswi kelas X SMA N 1 Pagerbarang Kab. Tegal.
- Tekhnik pengambilan sampel stratified random sampling.
- Cara pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup dan dokumentasi.
- Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi square. - Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 27 (42,19 %) siswi mempunyai pengetahuan baik tentang menstruasi, 43 (67,20 %) siswi melakukan upaya penanganan dismenorhea yang tepat.
- Hasil analisis menggunakan chi square menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan siswi tentang menstruasi dengan upaya penanganan dismenorhea pada siswi kelas X SMA N 1Pagerbarang, dengan nilai X2 = 6,384 dan P = 0,041

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti lakukan sekarang adalah untuk mengetahui gambaran bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dan tindakan dalam mengatasi dismenorhea. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif (menggambarkan) tidak mencari korelasi (hubungan).
Sepengetahuan penulis belum pernah ada yang melakukan penelitian tentang studi deskriptif tingkat pengetahuan remaja putri tentang dismenorhea dan tindakan dalam mengatasi dismenorhea di SMA N 1 XXX Kabupaten XXX, baik pada skripsi maupun pada tesis yang terdahulu.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Pengetahuan ( knowledge )
a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil ‘’tahu’’ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengikat sesuai materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu dalam hal ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh: dapat menjelaskan pengertian dismenorhea, macam-macam dismenorhea, serta cara penanganannya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar, tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek, atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang telah dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan, mengapa dismenorhea perlu adanya penanganan.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.


4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasinya dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. Misalnya seseorang dapat membedakan antara dismenorhea ringan, sedang, berat dan cara penanganannya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat membandingkan antara orang yang mengalami dismenorhea dengan orang yang tidak mengalami dismenorhea.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang termasuk pengetahuan mengenai kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi :
1) Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam pemberian respon terhadap sesuatu yang datangnya dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang akan mereka dapatkan, dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang memungkinkan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Misalnya orang yang berpendidikan rendah dengan orang yang berpendidikan tinggi, maka pola pikir dan tingkat pengetahuannyapun berbeda, khususnya tentang dismenorhea dan penanganannya.
2) Paparan media massa (akses informasi)
Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar informasi media massa akan memperoleh informasi yang cukup banyak dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi media massa. Misalnya sekarang ini sudah banyak info di internet tentang menstruasi, dismenorhea dan penangananya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar