Jumat, 15 Oktober 2010

MAKALAH KEBIDANAN : ASUHAH NEONATUS DENGAN KELAINAN BAWAAN

Lebih Lengkap 23 Halaman HUb. 081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada bayi pada saat ini masih sangat tinggi pada bayi yang mengalami penyakit bawaan. Salah satu sebab morbiditas pada bayi adalah atresia duedoni esophagus, meningokel eosephalokel, hidrosephalus, fimosis, hipospadia dan kelainan metabolik dan endokrin. Sebagian besar penyakit bawaan pada bayi disebabkan oleh kelainan genetik dan kebiasaan ibu pada saat hamil mengkonsumsi alkohol, rokok dan narkotika.
Dari uraian diatas diharapkan seorang bidan dapat melakukan penanganan secara terpadu. Dari masalah yang ada diatas setidaknya dapat memberikan pertolongan pertama dengan dapat untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, tetapi jika kondisi lebih parah kita harus melakukan rujukan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui tentang mekanisme rujukan pada penyakit bawaan pada bayi (Atresia duedoni esophagus, meningokel ensephalokel, hidrocephalus, fimosis, hipospadia dan kelainan metabolik dan endokrin).

2. Tujuan Khusus
- Mahasiswa Akbid mampu melakukan penatalaksanaan pada penyakit bawaan pada bayi.
- Mahasiswa Akbid mampu melakukan system rujukan jika kondisi bayi tidak memungkinkan ditolong oleh bidan.


BAB II
PEMBAHASAN


Atesia Esofagus
Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trokeoesofagus
Atesia esophagus sering disertai kelainan bawaan lain biasanya kelainan jantung kelainan gastrointestinal (atesia duodeni, atesia ani), kelainan tulang (pemivetebra).
Akibat atresia, salvia akan terkumpul diujung bagian yang buntu yang akan mengalir keluar /masuk kedalam trakea (bila trapt fistula).
Lebih berbahaya bila melalui fistula trakeo esophagus cairan lambung mengalir kedalam paru.

Diagnosis
1. Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi yang lahir prematur, sebaiknya bila dan anamnesis didapatkan keterngan bahwa kehamilan ibu disertai hidramnion, hendaknya dilakukan kateterisasi esophagus dengan kateter no 6 – 10 f bila keteter tertentu pada jarak kurang dari 10 cm, maka harus diduga terdapat atresia esophagus.
2. Bila pada bayi baru lahir timbul sesak nafas yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, harus dicurigai terdapat atresia esophagus.
3. Segera setelah diberi minum bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam nafas.
4. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan foto toraks yang akan menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat atresia. Pemberian kontas ke dalam esophagus dapat memberi gambaran yang lebih pasti tetapi cara ini tidak dianjurkan.
5. Perlu dibedakan pada pemeriksaan fisis apakah lambung terisi udara/kosong untuk menunjang /menyingkirkan terdapatnya fistula trakeo – esophagus hal ini dapat dilihat pada foto abdomen.
Tindakan
1. Pada anak segera dipasang segera kateter kedalam esophagus dan bila mungkin dilakukan pengisapan ters menerus.
2. Posisi anak tidur tergantung kepada ada tidaknya fistula karena aspirasi cairan lambung lebih berbahaya dari salvia anak dengan fistula trakeo – esophagus ditidurkan setengah duduk. Anak tanpa fistel diletakkan dengan kepala lebih rendah. (posisi trendelenburg).
3. Anak dipastikan untuk operasi segera apakah dapat dilakukan penutupan fistula dengan segera/hanya dilakukan gastrostomi tergantung pada jenis kelainan dan keadaan umum anak pada saat itu.
(hal : 201) IKA II (Fakultas Kedokteran nUI, Jakarta : 1985).

Atresia Duodeni
Biasanya terjadi dibawah ampula yateri, muntah terjadi beberapa jam sesudah lahir perut dibagian epigastrium tampak membuncit sesaat sebelum muntah-muntah mungkin proyektil dan berwarna hijau.
Foto abdomen dalam posisi tegak akan memperlihatkan pelebaran lambung dan bagian proksimal duodenum tanpa adanya udara dibagian lain usus (doble buble appearance).
Pengobatannya ialah dengan operasi sebelum operasi dilakukan hendaknya lambung dikosongkan dan diberikan cairan intravena untuk memperbaiki gangguan air dan elektrolit yang telah terjadi.
(Ilmu Kesehatan Anak hal : 1134).

Meningokel, meningomrelokel dan ensefalokel
Angka kejadiannya ialah 3 diantara 1000 kelahiran. Terjadi karena adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang tidak normal korda spinalis /penutupnya.
Biasanya terletak digaris tengah, meningokel biasanya terdapat didaerah servikal atau daerah torakal sebelah atas, kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan korda tetap dalam korda spinalis (dalam durameter tidak terdapat saraf) tidak terdapat gangguan sensorik motorik bayi akan menjadi normal sesudah operasi.
Sebelum operasi bayi dimasukkan dalam inkubator tanpa baju, tidur dalam posisi tengkurap atau tidur pada salah satu sisi, bila kantongnya besar untuk mencegah infeksi, pola pengobatannya harus ada kerjasama yang baik, baik antara dokter anak dengan bedah saraf. Dokter anak memberi nasehat pada orang tua mengenai perawatan dan pendidikan khusus pada bayi tersebut. Sesudah operasi perlu pengamatan yang teliti terhadap tanda-tanda timbulnya hidrosefalus (dengan mengukur lingkar kepala setiap hari) atau meningitis (lemah, tidak mau minum, mudah terangsang, kejang, ubun-ubun besar. Perlu diperhatikan pula banyak tidaknya gerakan tungkai dan kaki “Glibbed feet”, retensi urin dan kerusakan kulit akibat iritasi urin dan feses.
Ensefalokel lebih jarang daripada meningokel. Biasanya terdapat didaerah oksipital, kantong berisi cairan, jaringan saraf atau sebagian dari otak. Ensetalokel di daerah oksipital ini sering berhubungan dengan kelainan mental yang berat dan mikrosefal.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar