Senin, 27 Juni 2011

KTI KEBIDANAN NEW : HUBUNGAN ANTARA USIA DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI RS xxx

AYO MAU LEBIH LENGKAP HUB : 081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut laporan WHO (1996), sekitar 98-99% kematian maternal terjadi di negara berkembang. Sekitar sepertiga kematian terjadi akibat pertolongan pengguguran kandungan yang tidak aman dan tidak bersih. Penyebab utama masih tetap trias penyebab kematian berupa perdarahan 60 %, infeksi 25 %, dan gestosis 15 %. Penyebab lainnya hanya menimbulkan kematian pada 5 % kematian maternal. )
Kontribusi angka kematian ibu dan anak di Indonesia cukup besar, dimana kematian maternal terjadi setiap 2,0-2,5 menit (Manuaba 2007).
Menurut survei demografis kesehatan Indonesia tahun 2007, angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup (BKKBN 2008). Kematian maternal di Indonesia adalah yang tertinggi di antara negara di ASEAN (Marshall 2006). Menurut WHO, pada tahun 1999 telah mengeluarkan panduan “Making Pregnancy Safer” sebagai prioritas setiap negara dan pada tahun 2000, para negara anggota PBB mengadopsi Milenium Development Declaration yang memberi penekanan pada kesehatan ibu serta kehamilan dan persalinan yang aman dalam perkembangan di setiap negara. Sasarannya ialah mengurangi angka kematian ibu sebesar 75 % antara tahun 1990-2015 (Manuaba 2007).
Penyebab kematian tertinggi yaitu perdarahan (Widyastuti 2003). Perdarahan pada masa kehamilan dapat terjadi pada kehamilan muda maupun kehamilan tua. Diperkirakan seperempat dari jumlah semua wanita hamil sedikit banyak akan mengalami perdarahan melalui vagina dalam masa hamil muda. Perdarahan yang banyak terjadi diawal kehamilan merupakan salah satu sebab utama dari kematian ibu (Rayburn 2001).
Salah satu jenis perdarahan pada kehamilan muda adalah abortus. Tampaknya sekarang ini hampir dapat dipastikan bahwa satu dari setiap lima kehamilan berakhir dengan abortus spontan (Goleman 2000). Abortus didefinisikan sebagai keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas yaitu pada kehamilan kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram. Abortus spontan yang juga sering dikenal dengan istilah “keguguran” terjadi tanpa perlu induksi. Diagnosis abortus spontan terjadi dalam berbagai bentuk diantara yaitu abortus imminen (keguguran mengancam), abortus insipien (keguguran berlangsung), abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap), abortus kompletus (keguguran lengkap), abortus tertunda (missed abortion) dan abortus habitualis (keguguran berulang) (Murphy 2000).
Kejadian abortus spontan secara umum pernah disebutkan sebesar 10 % dari seluruh kehamilan. Lebih dari 80 % abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Kelainan kromosom merupakan penyebab paling sedikit separuh dari kasus abortus dini ini, selain itu banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus antara lain : paritas, umur ibu, umur kehamilan, kehamilan tidak diinginkan, kebiasaan buruk selama hamil, serta riwayat keguguran sebelumnya. Frekuensi abortus yang secara klinis terdeteksi meningkat dari 12 % pada wanita berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26 % pada wanita berumur 40 tahun sehingga kejadian perdarahan spontan lebih berisiko pada ibu dibawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun (Cunningham 2005). Penyebab abortus sendiri bisa berasal dari faktor janin, faktor maternal, maupun faktor eksternal (Krisnadi, dkk 2004).
Hal di atas menunjukkan suatu realita yang harus diketahui oleh wanita hamil bahwa ia bisa terancam keguguran. Pada kenyataannya, data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah angka kejadian komplikasi kebidanan termasuk abortus di dalamnya di Jawa Tengah pada tahun 2009 masih tinggi yaitu sebesar 125.841 atau 20% dari jumlah ibu hamil dan untuk Kota Salatiga yaitu sebesar 799 dari 3429 jumlah ibu hamil. Dari catatan rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga dari bulan November 2010 - Februari 2011 terjadi 48 kasus abortus spontan dari 173 jumlah ibu hamil dengan jumlah abortus imminen 23 (47,91 %), abortus inkomplete 16 (33,35 %), abortus komplet 7 (14,58 %), abortus tertunda 1 (2,08 %) dan abortus insipien 1 (2,08 %).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti HUBUNGAN ANTARA USIA DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI RUMAH SAKIT xxx.


B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu pertanyaan : “Adakah hubungan antara faktor usia dan paritas pada ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga? ”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara faktor usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi jumlah ibu hamil yang mengalami abortus spontan di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011.
b. Mengetahui distribusi ibu hamil yang mengalami abortus spontan berdasarkan usia ibu.
c. Mengetahui distribusi ibu hamil yang mengalami abortus spontan berdasarkan jumlah paritas.
d. Menganalisis hubungan antara usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan.



D. Manfaat Penelitian
Peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan manfaat baik manfaat praktis maupun manfaat teoritis.
1. Manfaat bagi peneliti
Untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam membuat karya tulis dan sebagai salah satu pengalaman belajar di STIKES xxxx.
2. Manfaat bagi tempat penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang kejadian abortus spontan dan rencana tindak lanjut program di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga.
3. Manfaat bagi institusi pendidikan
Dapat dijadikan sebagai perbendaharaan perpustakaan/ referensi penelitian bagi STIKES Karya Husada Semarang.
4. Manfaat bagi masyarakat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan gambaran masyarakat khususnya bagi ibu hamil untuk mengetahui risiko kehamilan pada paritas dan usia tertentu.

E. Keaslian Penelitian
No Nama, Tahun, Judul Variabel Sasaran Jenis Penelitian Hasil
1. Kusniati,
(2007)

Hubungan Beberapa Faktor Ibu dengan Kejadian Abortus Spontan di Rumah Sakit Ibu dan Anak An Ni’mah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Januar-Juni 2007 a. Independen:
Riwayat abortus spontan, usia ibu, urutan kehamilan, jarak kehamilan, dan pemeriksaan kehamilan
b. Dependen :
Kejadian abortus spontan Populasi :
Semua ibu hamil usia kehamilan < 20 minggu dan ibu nifas post abortus

Sampel :
Di ambil secara acak sederhana sebanyak 51 responden dari 138. Metode yang digunakan dengan survei penjelasan dengan pendekatan cross sectional Ada hubungan yang bermakna usia ibu dengan kejadian abortus spontan, dan tidak ada hubungan yang bermakana riwayat abortus spontan, urutan kehamilan, jarak kehamilan, pemeriksaan kehamilan dengan kejadian abortus spontan.
2. Y. Widyastuti
(2008)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian Abortus di Instalasi Rawat Inap Kebidanan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
a.Independen:
Umur, paritas, pendidikan, pendidikan, pekerjaan.
b. Dependen :
Kejadian Abortus Populasi :
Seluruh ibu hamil < 22 minggu yang pernah di rawat di Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Sampel :
Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling yaitu berjumlah 163 orang Penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional Setiap variabel berhubungan dengan kejadian abortus
3 Ema Wahyuningrum
(2004)

Karakteristik Ibu dan Hasil Luaran Janin pada Ibu dengan Riwayat Abortus di Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004 a. Independen:
Karakteristik ibu dengan riwayat abortus ( umur, paritas, jarak persalinan)
b. Dependen:
Hasil luaran janin ibu dengan riwayat abortus (prematur, BBLR, matur, abortus) Populasi : Ibu bersalin yang mempunyai riwayat abortus sebanyak 276 persalinan
Sampel : Diambil secara total sampling dan memenuhi kriteria inklusi yaitu memiliki riwayat abortus terakhir, tanpa memandang paritas, dan memiliki hasil luaran janin prematur, BBLR, matur dan abortus berulang serta memiliki catatan rekam medik yang lengkap yaitu sebanyak 112. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional Karakteristik ibu dan hasil luaran janin pada ibu dengan riwayat abortus spontan dapat disimpulkan bahwa 38,39% ibu dengan riwayat abortus pada umur 25-29 tahun; 46,43% ibu dengan paritas 2-3; 64,29 % ibu dengan jarak persalinan < 24 bulan. Hasil luaran janin adalah matur (75,89%), prematur (11,61%), BBLR (10,71%), dan abortus (1,79%).
Perbedaan dengan rencana penelitian :
Rencana peneliti akan meneliti hubungan antara usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian abortus spontan di RSxxxx. Peneliti akan menggunakan penelitian analitik, menggunakan desain penelitian case control dengan pendekatan retrospektif. Pada penelitian ini terdapat populasi kasus dan populasi kontrol. Populasi kasus adalah semua ibu hamil yang mengalami abortus spontan yaitu sejumlah 48 sedangkan populasi kontrol adalah semua ibu hamil dengan umur kehamilan < 22 minggu yang tidak mengalami abortus yaitu sejumlah 92 periode 1 November 2010 – 28 Februari 2011. Variabel independen yang digunakan adalah usia dan paritas, dan dependen yang digunakan adalah kejadian abortus spontan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Kehamilan normal
a. Definisi kehamilan normal
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Syaifuddin, 2002)
b. Proses terjadinya kehamilan
Proses dalam kehamilan dibagi menjadi :
1) Oogenesis
Mitosis pada wanita menghasilkan sebuah telur atau ovum. Proses ini terjadi di dalam ovarium khususnya pada folikel ovarium. Setiap bulan satu ovum menjadi matur dengan sebuah penjamu mengelilingi sel-sel pendukung. Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba uterina sehingga silia tuba tersebut dapat menangkap ovum dan menggerakannya sepanjang tuba menuju rongga rahim. Ovum tidak dapat berjalan sendiri.
Ada dua lapisan jaringan pelindung yang mengelilingi ovum. Lapisan pertama berupa membran tebal tidak berbentuk yang disebut zona pelusida. Lingkaran luar yang disebut korona radiata terdiri dari sel-sel oval yang dipersatukan oleh asam hialuronat. dianggap subur selama 24 jam setelah ovulasi. Apabila tidak difertilisasi oleh sperma, ovum berdegenerasi dan direabsorpsi.(Bobak, 2004



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar