Selasa, 12 Juli 2011

KTI KEBIDANAN BARU : HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG HUBUNGAN SEKS PRANIKAH

LEBIh LENGKAP HUB : 081 225 300 100
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Perubahan tubuh disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder.
Yang dimaksud perubahan seks primer ialah perubahan-perubahan organ seksual yang semakin matang sehingga dapat berfungsi untuk melakukan proses reproduksi, dimana seorang individu dapat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis dan dapat memperoleh keturunan anak. Misalnya testis, kelenjar prostat, penis (remaja laki-laki); vagina, ovarium, uterus (remaja wanita) sedangkan perubahan seks sekunder ialah perubahan tanda-tanda identitas seks seseorang yang diketahui melalui penampakan postur fisik akibat kematangan seks primer. Untuk remaja laki-laki misalnya : jakun, bentuk tubuh (segitiga), suara membesar, kumis, jenggot, sedangkan remaja wanita misalnya : kulit halus, bentuk tubuh (guitar body), suara melengking tinggi dan rambut kemaluan pada vagina (Dariyo, 2004).

World Health Organization mendefinisikan remaja sebagai kriteria biologi dengan ciri individu berkembang mulai saat pertama kali dengan menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai masa kematangan seksual. Kriteria remaja sebagai individu yaitu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Batas usia 10-20 tahun sebagai batas usia remaja, sedangkan sensus penduduk 1980 di Indonesia membatasi kriteria remaja umur 14-24 tahun (Widjanarko, 2009).
Remaja adalah masa yang amat kritis, dimana pada masa ini remaja mudah terpengaruh dengan keadaan sekitar termasuk dalam pergaulan yang bebas. Masa remaja merupakan saat munculnya impuls seksualitas secara nyata dalam bentuk perubahan fisik dan mental serta terjadi ketertarikan lawan jenis. Masa remaja juga merupakan fase kehidupan yang menunjukkan upaya seseorang mencari jati diri secara agresif. Masa remaja, mengalami kehidupan yang amat berisiko dimana tingkah lakunya yang banyak menimbulkan berbagai masalah, secara moral dan etis ditengah keluarga, lingkungan dan masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh remaja salah satunya adalah hubungan seksual pranikah (Mu’tadin, 2002).
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi fungsi serta prosesnya. Program kesehatan reproduksi remaj amerupakan salah satu program pokok pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM 2004-2009. salah satu sasaran strateginya yang harus dic apai pada tahun 2009, diantaranya sasaran strategis yang berkaitan erat dengan program kesehatan reprosuksi remaja yang ditingkatkan melalui PJK-KRR (Pusat informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja). Yang mana program ini bertjuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi. Setiap kecamatan memiliki PIK-KRR yang aktif, dimana saat ini jumlah PIK-KRR yang ada di seluruh Indonesia adalah sebanyak 2.733 PIK-KRR yang didirikan di sekolah-sekolah sebanyak 55% di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 15% dan 35% yang didirikan di Karang Taruna (Muadz, 2008, hlm 9).
Perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun agama & kepercayaan masing-masing individu (Mu’tadin, 2002). Perilaku seksual yang dilakukan remaja berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Perilaku yang muncul pada remaja dapat berupa berpegangan tangan, berpelukan, cium kering, cium basah, meraba bagian tubuh, petting, oral seksual & senggama (Irawati, 2009).
Perilaku hubungan seksual pranikah semakin sering dipraktekkan oleh para remaja. Menurut penelitian Pusat Penelitian Ekonomi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 1990 terhadap siswa-siswa di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi para siswa untuk melakukan senggama adalah membaca buku porno dan menonton film biru (blue film) yaitu sebanyak 54,39% di Jakarta, dan sebesar 49,2% di Yogyakarta. Motivasi utama melakukan senggama adalah suka sama suka yaitu sebesar 76% di Jakarta, dan sebanyak 75,6% di Yogyakarta, kebutuhan biologik sebesar 14-18%, dan merasa kurang taat pada nilai agama sebesar 20-26%. Hasil Penelitian Departemen Kesehatan diperkuat dengan penelitian Sahabat Remaja tentang perilaku seksual di empat kota besar yaitu di Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 8,5% remaja di kota Yogyakarta, 3,6% remaja di kota Medan, 3,4% remaja di kota Surabaya, dan 31,1% remaja di kota Kupang telah terlibat hubungan seks secara aktif (Sugiharta, 2004).
Perilaku hubungan seksual pranikah juga terjadi di ..................... Data yang diperoleh dari Pusat Informasi dan Layanan Remaja (PILAR) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Propinsi ................ dari bulan Januari 2005 hingga bulan April 2009 telah tercatat sebanyak ......... remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah, dimana ........ (........%) remaja putri hingga mengalami hamil pranikah, ...... remaja (..........%) mengalami IMS (Infeksi Menular Seksual), ....... remaja (.......%) mengalami disfungsi seksual, dan ....... remaja putri (.......2%) melakukan aborsi (........, 2010).
Di ..........................., dilakukan penelitian terhadap ..........responden pelajar SMP-SMU dan menemukan bahwa ...........% remaja putra dan ........% remaja putri pernah melakukan hubungan seksual. Pada tahun yang sama terdapat survey .......... remaja yang hamil tanpa dikehendaki. Survey yang dilakukan . juga memaparkan bahwa mayoritas dari mereka berpendidikan SMA keatas, ........% diantaranya berusia 15-20 tahun. Dan .......% berusia 20-25 tahun.
Fenomena tersebut dapat dimengerti karena sekarang ini cara berpacaran remaja tidak cukup hanya bergandengan tangan tetapi sudah jauh dari itu, yaitu melalui perilaku berpelukan, berciuman bahkan sampai melakukan hubungan seksual secara aktif. Hal ini sebagai imbas pola pergaulan yang semakin bebas. Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin yang berbeda dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai akibat dari ketidaktahuan dan kurang luasnya wawasan, orang tua masih menganggap bahwa pendidikan seks sangat tabu dan tidak bisa diberikan secara terbuka kepada anak. Tidak adanya pendidikan seks yang memadai dan pandangan orang tua yang menabukan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan tentang seks membuat anak lebih cenderung terkena imbas seks dari pergaulan bebas baik dari lingkungan masyarakat maupun lingkungan sebaya (Arida, 2005).
Dampak dari hubungan seksual pranikah adalah perasaan bersalah dan berdosa saat kali pertama, ketagihan, kehamilan sehingga terpaksa menikah atau aborsi, kematian & kemandulan akibat aborsi, resiko terkena Penyakit Menular Seksual atau HIV (Human Immunodeficieny Virus), sanksi sosial agama serta moral, hilangnya keperawanan dan keperjakaan, merusak masa depan, nama baik pribadi dan keluarga. Mengingat dampak yang timbul lebih besar dari manfaat yang diperoleh maka perlu diberikan bekal pengetahuan dan agama agar tidak melakukan hubungan seksual pranikah (Irawati, 1999).
Studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal ..................... Maret 2010 di SMA ................... Tanjungpinang Kepri terdapat ........... siswa yang terdiri dari ......... siswa putra dan ........... siswi putri. Jumlah siswa kelas X = laki-laki : ........, perempuan : ......; XI = laki-laki : ........, perempuan : ..........; dan XII = laki-laki : ........., perempuan : ......... Studi pendahuluan dilakukan pada 10 siswi di SMA ..................... Tanjungpinan Kepri mengenai aktivitas pacarannya. Data menunjukan aktivitas pacaran siswi, ............ hanya mengobrol, ........... orang kissing, ........ orang petting, dan 1 orang pernah intercourse. Informasi menurut guru Bimbingan Penyuluhan (BP) terdapat kejadian hamil diluar nikah pada tahun 2008 sampai 2010 sebanyak ........orang dari data-data diatas beberapa siswa telah mengetahui pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan hubungan seks pranikah..
Berdasarkan data tersebut, perlu diidentifikasi bagaimana Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ………………

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 14 Desember 2009 di SMA ........................ Tanjung Pinang Kepri yang dilakukan pada 10 siswi mengenai aktivitas pacarannya. Data menunjukan aktivitas pacaran siswi, ......... hanya mengobrol, ........ orang kissing, ......... orang petting, dan ......... orang pernah intercourse. Informasi menurut guru Bimbingan Penyuluhan (BP) terdapat kejadian hamil diluar nikah pada tahun 2008 sampai 2010 sebanyak ........ orang, maka dapat dirumuskan masalah “Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ……………… Tanjungpinang Kepri ”.




C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan sikap remaja tentang hubungan seks pranikah di ……………….

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pada remaja putri yang meliputi tahu (know) tentang kesehatan Reproduksi di SMA ............................. Tanjungpinang kepri .
b. Mengidentifikasi sikap pada remaja putri tentang seks pranikah di SMA ............................. Tanjungpinang kepri .

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Remaja Putri
Untuk memberi pengetahuan pada remaja putri agar mampu mencegah perilaku seks bebas.
2. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dalam melaksanakan penelitian dan mengembangkan penelitian yang lebih luas di masa yang akan datang.
3. Bagi Instansi Pendidikan SMA 1....................
Mendapatkan masukan dan mengetahui perilaku siswa terhadap kesehatan reproduksi terutama perilaku seksual pranikah sebagai landasan pengambilan kebijakan ataupun dalam pemecahan masalah.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah Hubungan tingkat pengetahuan pada remaja putri yang meliputi tahu (know) tentang kesehatan Reproduksi di SMA .......................... Penelitian dilakukan pada remaja SMA ....... tanjung pinang bulan Mei 2011 dengan menggunakan desain cross sectional



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar