Jumat, 26 Agustus 2011

KTI KEBIDANAN : “HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA MENJELANG PERSALINAN DI RUANG BERSALIN RSUD "

HUB SEGERA Hp. 081225300100
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Menurut Saifuddin (2005) di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun pada saat hamil atau bersalin. Hal ini berarti bahwa setiap satu menit ada satu perempuan yang meninggal, padahal lebih dari 50 % kematian ibu bisa dicegah dengan teknologi yang ada dengan biaya relatif rendah sedangkan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator kesehatan yang menggambarkan tingkat kesejahteraan ibu dan anak.
Banyak faktor penyebab tingginya AKI. Salah satunya adalah kondisi emosi ibu hamil selama kehamilan hingga kelahiran bayi. Selama kehamilan, ibu mengalami perubahan fisik dan psikis yang terjadi akibat perubahan hormon. Perubahan ini akan mempermudah janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat dilahirkan. Adapun pada trimester ketiga (27-40 minggu), kecemasan menjelang persalinan ibu hamil pertama akan muncul. Pertanyaan dan bayangan apakah dapat melahirkan normal, cara mengejan, apakah akan terjadi sesuatu saat melahirkan, atau apakah bayi lahir selamat, akan semakin sering muncul dalam benak ibu hamil (Wulandari, 2006). Hal senada juga diungkap Kartono dan Kalil, dkk (1995) dalam Wulandari (2006), bahwa pada usia kandungan tujuh bulan ke atas, tingkat kecemasan ibu hamil semakin akut dan intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi pertamanya. Di samping itu, trimester ini merupakan masa riskan terjadinya kelahiran bayi prematur sehingga menyebabkan tingginya kecemasan pada ibu hamil.
Ibu primigravida tidak jarang memiliki pikiran yang mengganggu, sebagai pengembangan reaksi kecemasan terhadap cerita yang diperolehnya. Menurut Kuswandi (2006) dalam Wulandari (2006). Semua orang selalu mengatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali. Oleh karena itu, muncul ketakutan-ketakutan pada ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman bersalin. Adanya pikiran-pikiran seperti melahirkan yang akan selalu diikuti dengan nyeri kemudian akan menyebabkan peningkatan kerja sistem syaraf simpatetik. Dampak dari proses fisiologis ini dapat timbul pada perilaku sehari-hari. Ibu hamil menjadi mudah marah atau tersinggung, gelisah, tidak mampu memusatkan perhatian, ragu-ragu, bahkan kemungkinan ingin lari dari kenyataan hidup. Pada gilirannya, kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan dan ketegangan lebih lanjut sehingga membentuk suatu siklus umpan balik yang dapat meningkatkan intensitas emosional secara keseluruhan (Wulandari, 2006).
Kestabilan emosi sangat penting dalam mengendalikan kecemasan untuk menghadapi kelahiran terutama untuk kelahiran anak pertama. Dengan kestabilan emosi calon ibu akan mempunyai kemampuan untuk memberikan respon yang baik dan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga akan mengurangi kecemasan (Wahyuningsih, 2007)
Untuk menghadapi kecemasan semacam ini, tidak ada jalan lain kecuali usaha untuk menenangkan diri serta menghilangkan sumber kecemasan satu persatu sehingga kepercayaan diri semakin meningkat. Timbulkan kepercayaan diri bahwa anda sudah melakukan hal terbaik untuk calon bayi, dan selanjutnya serahkan sepenuhnya kepada dokter serta Tuhan YME. Apabila ada hal-hal yang menjadi pertanyaan atau keraguan, jangan ragu untuk segera menanyakannya kepada dokter saat melakukan kontrol rutin. Selain itu membina komunikasi dengan suami, orang-tua, sanam saudara ataupun sesama calon ibu juga sangat membantu (Pdpersi, 2002).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulistyorini (2007), menunjukan bahwa 52,5 % ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama berada pada kategori kecemasan rendah, 60% subjek menilai bahwa dukungan yang diperoleh dari keluarganya sangat tinggi. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi tidak akan mudah menilai situasi dengan kecemasan, karena wanita hamil dengan kondisi demikian tahu bahwa akan ada keluarganya yang membantu. Wanita hamil dengan dukungan keluarga yang tinggi akan mengubah respon terhadap sumber kecemasan dan pergi kepada keluarganya untuk mencurahkan isi hatinya. Pada penelitian ini juga didapatkan sumbangan dukungan suami terhadap kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga yaitu sebesar15,4%. Hal ini menunjukan terdapat 84,6% variabel lain yang mempengaruhi timbulnya kecemasan menghadapi persalinan pada ibu primigravida.
Berdasarkan Studi Pendahuluan pada bulan Oktober – November 2010 di ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan, didapatkan jumlah ibu yang melahirkan sebanyak 54 orang. Tiga puluh enam orang merupakan ibu primigravida, 18 ibu merupakan multigravida. Dari 36 ibu primigravida sebagian besar ibu primigravida mempunyai pengetahuan yang cukup, tetapi pada saat persalinan tingkat kecemasannya tinggi.
Partisipasi menghadapi persalinan oleh suami masih banyak dipertentangkan, ada pendapat juga yang mengatakan bahwa kehadiran suami tersebut tidak membantu, terutama bila terdapat ketegangan diantara mereka (Depkes, 2007). Menurut Gracia dan Carfort, 1999) sebagian ibu menginginkan kehadiran suami (90%), 5% yang tidak menginginkan dan 5% ragu-ragu. Oleh karena sedikit penelitian yang meneliti tingkat pengetahuan suami tentang partisipasi persalinan.
Pada tahun 2010, pihak rumah RSUD Kraton Pekalongan membuat kebijakan tentang standar operasioanl (SOP) yang melarang pendampingan pada ibu melahirkan oleh keluarga dan suami. Sehingga setiap ibu melahirkan berada dalam satu ruangan bersalin atau ruang operasi caesar tanpa ada pendampingan dari pihak keluarga karena dikawatirkan akan mengganggu kinerja tenaga kesehatan yang menangani persalinan tesebut. Namun sejalan dengan program akreditasi RSUD Kraton Pekalongan meluncurkan program sayang ibu sayang anak, maka pihak manajemen merevisi SOP tersebut, sehingga mulai tahun 2011, setiap persalinan dapat ditunggu oleh salah satu anggota keluarga atau suami, dengan harapan pendampingan tersebut dapat mengurangi tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan, karena ibu akan mengalami penurunan kecemasan yang signifikan apabila didampingi oleh suami ataupun anggota keluarga yang lain. Karena ibu yang menhadapi persalinan dengan perasaan cemas akan menimbulkan beberapa kendala seperti, partus yang lama karena kurang tenangnya ibu selama menghadapi persalinan, partus macet dan akibat – akibat lain yang ditimbulkan karena kecemasan seorang ibu yang tengah menghadapi persalinan.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut diatas, maka perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap “Hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Pekalongan.”

Masalah penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti akan merumuskan masalah penelitian: Apakah ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.

Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton kab. Pekalongan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran dukungan keluarga terhadap ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton kab. Pekalongan.
b. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.
c. Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang persalinan di ruang bersalin RSUD. Kraton Kab. Pekalongan.

Manfaat Penelitian
3. Bagi RSUD
Sebagai data awal menyusun rencana kegiatan mengatasi masalah kecemasan ibu menjelang persalinan di RSUD.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bisa memberi manfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca serta dapat di kembangkan pada penelitian selanjutnya.
5. Bagi Peneliti
Menambah wawasan, bahan masukan dan pengetahuan bagi peneliti.
Keaslian penelitian
1. Indah Ria Sulistyorini (2007), dengan judul hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan usia kandungan tujuh sampai sembilan bulan yang mengandung anak pertama dan memiliki suami. Teknik pengambilan subjek yang digunakan adalah metode purposive.Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi untuk menguji apakah terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil mengahadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Korelasi product moment dari Pearson menunjukan korelasi sebesar r = -0, 392 dengan p = 0, 006 yang artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama pada masa triwulan ketiga. Jadi hipotesis penelitian diterima.
2. Ditha Arindra (2008), dengan judul kecemasan menghadapi persalinan anak pertama pada ibu dewasa awal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui bagaimana kecemasan pada ibu dewasa awal dalam menghadapi persalinan anak pertama. Dalam peneitian ini, peneliti menggunakan wawancara mendalam karena wawancara tersebut lebih seperti percakapan sehari-hari dibandingkan dengan wawancara terstruktur, dan teknik yang akan digunakan adalah teknik observasi non-partisipan karena didalam penelitian, peneliti tidak berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan orang yang diobservasi.Dalam penelitian ini, subjek berjumlah tiga orang, dengan karakteristik wanita berusia dewasa awal (20 sampai 25 tahun) dan yang akan menghadapi persalinan anak pertama dengan usia kehamilam 8-9 bulan. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang dialami berbeda-beda untuk masing-masing subjek.
3. Yuli Wahyuningsih (2007), dengan judul hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita hamil yang memasuki tri wulan ketiga dan merupakan kehamilan anak pertama. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive non random sampling. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan skala kestabilan emosi dan skala kecemasan. Berdasarkan hasil analisis product moment diperoleh nilai koefisien korelasi rxy sebesar -0,418 dengan p < 0,05 ini berarti ada hubungan negatif yang cukup signifikan antara variabel kestabilan emosi dengan kecemasan menghadapi kelahiran anak pertama, yang berarti hipotesis di terima.
Tabel 1.1.
Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teori
1. Konsep Keluarga
Definisi Keluarga
Menurut Depkes RI (1998) dalam Mubarak (2006) keluarga dalam unit terkecil dan masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul yang tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan suatu ketergantungan.
Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006) keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mepertahankan kebudayaan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mempunyai hubungan sarat satu sama lain dan mereka hidup dalam satu rumah tangga dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Tipe keluarga
Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006) type keluarga terdiri dari :
Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak
Keluarga besar (extended family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti
Keluarga duda / janda (single family), adalah kelaurga yang terjadi karena perceraian atau kematian
Keluarga komposisi (composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama
Keluarga kabitas (cohabitation), adalah dua orang menjadi I tanpa pernikahan terapi membentuk suatu keluarga
Peran Keluarga
Menurut Effendy (1998) dalam Mubarak (2006) berbagai perasaan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
Peran ayah, ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, pendidik, perlindungan dan pemberi rasa aman dan sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
Peranan ibu sbagai istri dan ibu dari anak-anaknya ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,juga sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga
Peranan anak : anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
Fungsi keluarga
Secara umum fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Suprajitno (2004) adalah sebagi berikut :
Fungsi efektif (the affective function) adalah faktor keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga
Fungsi sosialisasi dan tempat sosialisasi (sosialization and social placement fungtion) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah
Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga
Fungsi ekonomi (the economy funcional) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
Fungsi perawatan/pemeliharaaan kesehatan (the health care function), yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memilki produktivitas tinggi fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar