Kamis, 10 Januari 2013

KTI KEBIDANAN 2013 :HUBUNGAN POLA NUTRISI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL PADA TRIMESTER II DAN TRIMESTER III DI WILAYAH PUSKESMAS

TERSEDIA LENGKAP BAB 12345 + DAFTAR PUSTAKA MURAH HUB : 081 225 300 100
BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nutrisi yang bagus menyiapkan tubuhnya untuk menjadi seorang ibu, karena proses kompleks yang terjadi selama kehamilan membutuhkan banyak suplai protein, vitamin, dan mineral untuk ibu dan bayi. Jika tubuh sudah mempunyai simpanan nutrisi, kebutuhan nutrisi dapat di tutupi dengan pola makan yang sederhana tetapi jika simpanan nutrisi lebih rendah pada masa kehamilan, maka ibu hamil mempunyai resiko yang cukup besar menyertai kehamilanya seperti terjadi penurunan kadar Hb atau Anemia dan kesulitan kehamilan (1). Pola nutrisi dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, kebiasaan, kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi dan alam. Sehingga, faktor – faktor yang mempengaruhi pola nutrisi ibu hamil tersebut dapat berpengaruh terhadap status gizi ibu (2). Asupan gizi pada saat hamil berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan zat besi, terutama terjadi pada trimester II dan III karena terjadi peningkatan ekspansi massa sel darah merah, maka kebutuhan akan zat besi bertambah, sedangkan ibu hamil tidak menyadari hal ini akan berdampak pada terjadinya anemia (3). Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Disamping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inersia, atonia uteri, dan partus lama), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres , produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR (berat badan lahir rendah), kematian perinatal (4). Penyebab anemia umumnya adalah malnutrisi, kurangnya asupan zat besi, gangguan zat besi dalam usus, perdarahan dan penyakit kronis seperti TBC, cacing usus, dan malaria. Disamping penyebab medis, faktor umur, pendidikan, sosial ekonomi, sosial budaya,paritas dan frekuensi kunjungan antenatal care juga merupakan faktor terjadinya anemia defisiensi gizi yang penting di negara berkembang seperti Indonesia saat ini. Dengan ANC keadaan anemia ibu hamil akan lebih dini terdeteksi karena dengan periksa Hb anemia akan kelihatan, sebab tahap awal anemia pada ibu hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna. Keluhan timbul setelah anemia sudah ketahap yang lanjut (5). Anemia lebih sering di jumpai pada kehamilan. Hal itu, di sebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi perubahan-perubahan dalam darah dan sum-sum tulang darah bertambah banyak dalam kehamilan, akan tetapi tidak diimbangi dengan penambahan plasma sehingga terjadi pengenceran atau penurunan kadar Hemoglobin (6). Hemoglobin merupakan zat yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh termasuk ke tubuh janin yang di kandung oleh ibu, sehingga jika terjadi anemia pada ibu hamil, maka proses pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh tersebut akan mengalami gangguan. Kekurangan zat besi di dalam tubuh di sebabkan oleh kekurangan konsumsi zat besi yang berasal dari makanan atau rendahnya absorpsi zat besi yang ada di dalam makanan (7). Pada kehamilan di anjurkan banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat, juga vitamin B seperti hati, daging, kuning telur, ikan, susu, kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai. Serta sayuran berwarna hijau tua seperti bayam dan daun katuk. Selain itu, konsumsi juga jenis makanan yang memudahkan penyerapan zat besi, misalnya makanan yang mengandung banyak vitamin C. Ibu hamil di anjurkan untuk menghindari makanan / minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, misal kopi & teh atau susu kalsium (8). Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu 51,8% pada tahun 2003 mengalami penurunan sebesar 24,8% pada tahun 2005 serta pada tahun 2007 sebesar 24,5%. Di Jawa Tengah angka kejadian anemia kehamilan semakin tinggi yaitu terlihat tahun 2007 sekitar 20,85% (5967 ibu hamil); pada tahun 2008 sebesar 56,15% (361110 ibu hamil); dan pada tahun 2009 sebesar 57,7% (9). Berdasarkan data dari Dinas kesehatan kota semarang tahun 2009 – 2011 (10). Gambar 1.1 Data anemia Kota Semarang Data paling tertinggi di puskesmas bandarharjo,pada tahun 2009 dari 98 yang di ukur, yang menderita anemia 92 (93,88 %) dan pada tahun 2010 dari 132 yang di ukur, dan yang menderita anemia 108 ibu hamil (81,82 %). Pada tahun 2011 dari 136 ibu hamil yang di ukur, yang menderita anemia 52 ibu hamil (38,24 %) (10). Berdasarkan Hasil Studi Pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 22 Februari 2012, di dapatkan hasil dengan pemeriksaan kadar Hb terhadap 10 orang ibu hamil pada Trimester II dan III di Puskesmas Bandarharjo kota Semarang, meliputi: 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 8,4gr% tergolong Anemia sedang dengan menu nasi, tempe, tahu, sayur kadang-kadang. Sehingga, pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu kurang seimbang untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Sedangkan 4 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 9,6 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu nasi, sayur, tempe, tahu, ikan kadang-kadang. Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah cukup baik, akan tetapi kurang bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung didalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Pada 3 ibu hamil dengan kadar Hemoglobin 10,5gr% dan 10 gr% tergolong Anemia ringan dengan menu variasi, seperti nasi, ikan, daging, telur, tempe ,tahu dan buah. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu sudah baik, dan bervariasi untuk meningkatkan kebutuhan zat besi yang terkandung dalam makanan yang ibu konsumsi setiap hari. Oleh karena itu, peneliti tertarik ingin mengetahui hubungan antara pola nutrisi dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester II dan III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota semarang. B. Rumusan Masalah Berdasarkan Latar Belakang dan Study pendahuluan yg telah di kemukakan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui “Apakah ada Hubungan Pola Nutrisi dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil pada trimester II dan trimester III di wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang”. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan pola nutrisi dengan kadar Hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pola nutrisi pada ibu hamil di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. b. Mengetahui kadar hemoglobin pada ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. c. Mengetahui hubungan pola nutrisi ibu hamil dengan Kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat terutama ibu hamil Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada ibu hamil bahwa salah satu penyebab terjadinya kenaikan dan penurunan kadar hemoglobin adalah pola nutrisi yang tidak sehat pada ibu hamil dan dengan pola makan yang baik akan meningkatkan kadar hemoglobin yang normal. 2. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan sikap dan peran serta ibu dalam menangani anemia atau penurunan kadar hemoglobin ibu hamil. 3. Bagi Institusi Pendidikan Menambah sumber kepustakaan dan dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian. 4. Bagi Pembaca Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tambahan referensi khususnya mengenai hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. 5. Bagi Peneliti Mendapat pengalaman langsung dalam melakukan penelitian ilmiah tentang “Hubungan pola nutrisi dengan kadar hemoglobin ibu hamil pada trimester II dan trimester III. E. Keaslian Penelitian Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain : Table. 1.1. Keaslian Penelitian No Peneliti ( tahun ) Judul penelitian Variabel Sampel Desain penelitian Hasil 1 Risnawati 2006 Pengetahuan tentang gizi dan Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Variabel dalam penelitian ini adalah Karakteristik ibu Hamil yang meliputi umur, pendidikan. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 341 populasi ibu hamil, di ambil 30 sampel dengan hasil ibu hamil mempunyai tingkat pengetahuan tentang gizi dan anemia pada ibu hamil dalam kategori baik. 2 Renny Febriyanti 2009 Hubungan Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi dengan Kadar hemoglobin Ibu hamil trimester III Di BPS Isti Majid Semarang Variabel Bebas: Kepatuhan mengkonsumsi tablet Besi (Fe). Variabel Terikat : Kadar Hemoglobin ibu hamil trimester III. Ibu Hamil Trimester III Jenis penelitian merupakan study korelasi dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 30 responsden yang di teliti, Didapatkan hasil kepatuhan ibu hamil dalam Mengkonsumsi Tablet besi. Sehingga, disimpulkan bahwa terdapat hubungan kepatuhan tablet besi dengan Kadar Hb ibu hamil trimester III 3 Devi Witri Herdiyani 2011 Hubungan antara pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Tempat penelitian di Puskesmas Demak I Kabupaten Demak Variabel Bebas : Pola makan Variabel Terikat : Anemia pada ibu hamil. Semua Ibu Hamil Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Dari 50 responden yang di teliti, di dapatkan hasil terdapat Hubungan pola makan ibu hamil dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Perbedaan dengan penelitian ini adalah Variabel Terikat, Sampel, dan Tempat Penelitian. Variabel penelitian ini adalah Kadar Hemoglobin ibu Hamil trimester II dan III. Sampel penelitian ini adalah Ibu hamil trimester II dan III. Tempat penelitian ini adalah di Puskesmas Bandarharjo, Kota Semarang.   BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anemia Dalam Kehamilan 1. Pengertian a. Anemia 1) Anemia adalah turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12.0 gr% pada wanita yang tidak hamil dan kurang dari 10.0 gr% darah pada wanita hamil (11). 2) Anemia adalah suatu kadar hemoglobin dengan sahli,hasilnya kurang dari 11gr% (5). 3) Menurut WHO, anemia didefinisikan sebagai Hb (Hemoglobin) kurang 13gr% untuk laki – laki dan kurang 12gr% untuk wanita. Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi Ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11gr% terutama pada trimester I dan trimester III atau kadar hemoglobin <10,5g% pada trimester II. b. Anemia dalam kehamilan Anemia dalam kehamilan merupakan kondisi ibu dengan kadar Hb dibawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10.5 gr% pada trimester II (12). Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi terutama pada terimester II. Anemia dalam kandungan adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (6). 2. Patofisiologi Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain (6) : a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin. b. Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter. c. Hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat, sehingga akibat faktor itu dijumpai perubahan peredaran darah. d. Volume darah semakin meningkat dimana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah ( Hemodilusi ). e. Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah. Sehingga, terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat mencapai jumlah sebesar 10.000/ml, protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglubin dapat menurun trimester pertama sedangkan fibrinogen meningkat. Sirkulasi darah ibu juga dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh- pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan alat vital yang lainnya yang berfungsi berlebihan dalam kehamilan sehingga volume darah ibu dalam kehamilan bertambah (hipervolemia) secara fisiologik dengan adanya pancaran darah yang disebut hidremia. Akan tetapi bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah (6). Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologik dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama- tama pengenceran meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih cepat dalam masa hamil. Karena sebagai akibat hidremiacardic output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyak unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu kental (6). Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 23-36 minggu. Setelah pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma karena proses inhibisi cairan dari ekstravaskuler kedalam pembuluh darah yang kemudian akan di ikuti oleh periode diuresis pasca persalinan merupakan periode penyesuaian untuk kembali ke nilai volume plasma sebelum hamil (6). 3. Etiologi Secara umum ada 3 penyebab anemia defisi



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar